AKHLAK KITA DALAM KEPEMIMPINAN
اِصْطِفَاءُ الْبِطَانَةِ
Kelima: Memilih Orang-orang Kepercayaan
اَللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا
"Ya Allah, mudahkanlah bagiku bergaul dengan orang-orang, shaleh."
سَوَاءٌ أَكُنْتَ رَئِيسًا أَمْ مَرْؤُوسًا، مَأْمُورًا أَمْ آمِرًا
Baik saat Anda menjadi seorang pemimpin maupun bawahan, orang yang diperintah maupun memerintah,
فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ لَكَ أَصْحَابٌ تُقَرِّبُهُمْ إِلَيْكَ
hendaklah Anda memiliki sahabat yang dapat mendekatkan Anda pada Allah swt.
وَتَسْتَأْنِسُ بِهِمْ وَتُشَاوِرُهُمْ فِي كَثِيرٍ مِنْ أُمُورِكَ
Bersikap lembutlah pada mereka, bermusyawarahlah dengan mereka dalam berbagai permasalahanmu,
وَهَؤُلَاءِ هُمْ بِطَانَتُكَ، وَقَدْ غَلَبَ اسْتِعْمَالُ
karena mereka adalah sahabat karibmu... (orang-orang kepercayaanmu (orang terdekatmu/pendamping setiamu), dan sungguh telah lazim/banyak digunakan istilah ini)"
لَفْظِ (اَلْبِطَانَةِ) مَعَ الْأُمَرَاءِ
Kata "bithanah" banyak dipakai untuk para pemimpin.
وَقَدْ فَسَّرَ اِبْنُ حَجَرٍ اَلْبِطَانَةَ: بِـاَلدُّخَلَاءِ، جَمْعُ دَخِيلٍ
Ibnu Hajar menafsirkan "bithanah" dengan "ad-Dukhala" Para pendobrak, bentuk plural dari "ad-Dakhil".
(وَهُوَ الَّذِي يَدْخُلُ عَلَى الرَّئِيسِ فِي مَكَانِ خَلْوَتِهِ، يُفْضِي إِلَيْهِ بِسِرِّهِ
Yaitu, yang masuk menemui pemimpin pada tempat khalwat, kemudian menyebarkan rahasianya,
وَيُصَدِّقُهُ فِيمَا يُخْبِرُهُ بِهِ مِمَّا يَخْفَى عَلَيْهِ مِنْ أَمْرِ رَعِيَّتِهِ، وَيَعْمَلُ بِمُقْتَضَاهُ) (١)
kemudian mempercayainya akan apa-apa yang dikabarkannya dari sesuatu yang disembunyikan akan hal ihwal rakyatnya, kemudian bekerja sesuai dengan kebutuhan. Thabaqat Ibnu Sa'ad, 3/224, Sunan al-Baihaqi, 8/173.
كَثِيرًا مَا نَرَى مِنْ أَهْلِ الصَّلَاحِ مَنْ يَزِلُّ زَلَّاتٍ
Sebagaimana yang telah kita lihat dari kaum pembaharu yang menghilangkan segala gangguan,
إِنَّمَا اسْتَدْرَجَتْهُ إِلَيْهَا بِطَانَةٌ فَاسِدَةٌ
hal itu terjadi karena perbuatan yang dilakukan oleh "tangari kanan yang jahat,"
زَيَّنَتْ لَهُ الْبَاطِلَ، وَحَجَبَتِ الْحَقَّ عَنْ عَيْنَيْهِ
yang menghiasi pada penguasa akan hal batil dengan sesuatu yang baik, kemudian menutupi kebenaran dari kedua pandangannya.
وَمَسْؤُولِيَّةُ أَحَدِنَا تَبْدَأُ مِنْ حُسْنِ الْاِخْتِيَارِ لِلْأَصْحَابِ
Tanggung jawab setiap diri kita diawali dengan bagaimana kita dalam memilih sahabat,
فَالصَّاحِبُ دَلِيلٌ عَلَى صَاحِبِهِ
karena seorang kawan adalah petunjuk bagi kawannya.
إِذْ أَنَّ النُّفُوسَ الْمُتَمَاثِلَةَ تَتَجَاذَبُ فِيمَا بَيْنَهَا
Dan, karena jiwa-jiwa saling berkaitan satu sama lain,
كَمَا بَيَّنَ رَسُولُ اللَّهِ بِقَوْلِهِ
sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah ﷺ dengan sabdanya,
(اَلْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ)
"Seseorang itu bergantung pada agama sahabatnya. Hendaklah setiap kalian melihat kepada siapa ia bersahabat." Fat-hu al-Baari, 13/190-Kitab al-Ahkam, Bab 42.
لِأَنَّ أَيَّةَ صُحْبَةٍ لَا تَخْلُو مِنْ تَأْثِيرٍ وَتَأَثُّرٍ
Segala bentuk persahabatan takkan lepas dari dampak yang akan ditimbulkannya.
وَقَدْ كَانَ سَلَفُ الْأُمَّةِ يَحْرِصُونَ عَلَى الْأُنْسِ بِالْجَلِيسِ الصَّالِحِ
Adalah umat terdahulu yang sangat teliti dalam memilih orang yang akan diajak bergaul dari kalangan orang saleh,
وَالصَّاحِبِ التَّقِيِّ الَّذِي يُعِينُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُزِيلُ وَحْشَةَ الْغُرْبَةِ
sahabat yang bertakwa, yang menolong dalam melakukan kebaikan, dan menghilangkan pedihnya keterasingan.
وَقَدْ وَرَدَ عَنْ عَلْقَمَةَ أَنَّهُ حِينَ قَدِمَ الشَّامَ غَرِيبًا دَعَا
Telah diriwayatkan dari al-Qamah bahwa saat ia tiba di Syam dengan rasa terasing, ia berujar,
(اَللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا)
"Ya Allah, mudahkanlah aku untuk berjumpa dengan orang-orang saleh." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, isnadnya hasan, Jami al-Ushul, 6/667, hadits 4967.
لِأَنَّ الْجَلِيسَ الصَّالِحَ يُذَكِّرُكَ إِذَا غَفَلْتَ، وَيُعِينُكَ إِذَا تَذَكَّرْتَ
Kawan yang baik akan mengingatkanmu bila engkau lalai, dan akan menolongmu saat engkau ingat.
وَرَسُولُ اللَّهِ بَيَّنَ أَنَّهُ مَا مِنْ نَبِيٍّ وَلَا خَلِيفَةٍ، إِلَّا وَيَقَعُ بَيْنَ دَوَاعِي بِطَانَتَيْنِ
Rasulullah ﷺ menerangkan bahwa tidak ada seorang Nabi pun ataupun khalifah, kecuali ia akan mempunyai dua orang kepercayaan,
(مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ
"Allah swt. tidak akan mengutus seorang Nabi ataupun khalifah kecuali mereka memiliki dua orang kepercayaan:
بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ) (١)
orang kepercayaan yang memerintahkannya pada kebaikan dan orang kepercayaan yang memerintahkannya pada kejahatan." Shahih Bukhari Kitab Keutamaan Sahabat, Bab 20, hadits 3743, al-Fat-h7/91
وَفِي رِوَايَةٍ (وَبِطَانَةٌ لَا تَأْلُوهُ خَبَالًا) (٢)
Dalam riwayat lain "Orang kepercayaan yang suka berbuat kerusakan." Shahih Bukhari, Kitab al-Ahkam Bab 42, hadits 7198, al-Fat-h, 13/189.
وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَحْتَاطَ لِأَمْرِ دِينِكَ
Bila engkau hendak membentengi agamamu,
فَمِنَ الْبِدَايَةِ خُذْ بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ لَهُ بِاِخْتِيَارِ صَالِحِي الْمُؤْمِنِينَ لِبِطَانَتِكَ
maka yáng pertama engkau lakukan adalah hendaknya engkau mengambil wasiat Rasulullah ﷺ dengan memilih orang-orang saleh dari kalangan mukminin sebagai orang-orang kepercayaanmu.
(لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا)
Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah bergaul kecuali dengan orang beriman." Musnad Ahmad 2/237, telah dishahihkan oleh Ahmad Syakir dengan isnadnya (7238).
ثُمَّ لَاحِظْ مَا تَرَاهُ: مِنْ حِرْصِ أَخِيكَ عَلَى جَلْبِ الْخَيْرِ إِلَيْكَ
Kemudian perhatikanlah apa yang diperbuat saudaramu dalam menganjurkan kebaikan kepadamu,
وَعَلَى اِتِّقَاءِ مَسَاءَتِكَ، فَإِنَّ أَفْضَلَهُمْ صُحْبَةً
dan takut akan kejahatanmu. Sesungguhnya, yang terbaik untuk dijadikan sahabat-
كَمَا فِي الْحَدِيثِ أَكْثَرُهُمْ حِرْصًا عَلَى جَلْبِ الْخَيْرِ إِلَيْكَ
sebagaimana yang dikatakan oleh hadits-adalah mereka yang sangat menganjurkan kebaikan pada dirimu.
(خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ)
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah mereka yang baik terhadap sahabatnya." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan isnadnya hasan, Jami al-Ushul, 6/666 hadits 4966.
وَأَوْلَى النَّاسِ بِالتَّقْرِيبِ، هُمْ أَهْلُ الْعِلْمِ وَالصَّلَاحِ
Manusia yang paling utama untuk didekati adalah yang memiliki ilmu dan kebaikan.
وَلِذَلِكَ فَقَدْ كَانَتْ بِطَانَةُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنَ الْقُرَّاءِ
Oleh karena itu, orang-orang kepercayaan Umar bin Khaththab terdiri dari para Qari'.
رَوَى اِبْنُ عَبَّاسٍ أَنَّهُ: (كَانَ الْقُرَّاءُ أَصْحَابَ مَجَالِسِ عُمَرَ وَمُشَاوَرَتِهِ - كُهُولًا كَانُوا أَوْ شُبَّانًا) (٥)
Ibnu Abbas meriwayatkan, "Para Qari menjadi teman musyawarah Umar bin Khaththab r.a., baik yang tua maupun yang muda" Shahih Sunan Turmidzi, karya al-Bani 2/184, al-Hadits 1586 (shahih).
وَكُلَّمَا كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالتَّقْوَى كُنْتَ أَبْعَدَ عَنِ الزَّلَلِ - بِإِذْنِ اللَّهِ
Selama mereka memiliki ilmu dan ketakwaan, mereka jauh dari kesesatan dengan izin Allah swt.
وَقَدْ تَوَّجَ الْبُخَارِيُّ أَحَدَ أَبْوَابِ صَحِيحِهِ بِقَوْلِهِ
Imam Bukhari menuliskan pada salah satu bab dalam kitab Shahihnya dengan ucapannya,
(وَكَانَتِ الْأَئِمَّةُ بَعْدَ النَّبِيِّ يَسْتَشِيرُونَ الْأُمَنَاءَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ..)
"Adalah para penguasa setelah Nabi Muhammad ﷺ bermusyawarah dengan orang-orang tepercaya dari para ulama." Shahih Bukhari Kitab at-Tafsir, Bab 5, hadits 4642, al-Fat-h 8/304.
وَفِي فَاتِحَةِ بَابٍ آخَرَ يَنْقُلُ عَنْ عَلِيٍّ وَشُرَيْحٍ قَوْلَهُمَا فِي الْمَرْأَةِ الَّتِي تَدَّعِي أَنَّهَا حَاضَتْ فِي شَهْرٍ ثَلَاثًا
Pada pembukaan bab lain dinukil dari Ali dan Syuraih, perkataan keduanya tentang wanita yang mengatakan bahwa dirinya haid selama tiga hari tiap bulan,
(إِنْ جَاءَتْ بِبَيِّنَةٍ مِنْ بِطَانَةِ أَهْلِهَا - مِمَّنْ يُرْضَى صَدَقَتْ)
"Bila ada keterangan dari keluarganya yang tepercaya-yang agamanya dapat dipercaya-maka ia dapat dipercaya." Shahih Bukhari Kitab al-Ithisham, dari terjemah bab 28, al-Fat-h, 13/239.
فَالْمِقْيَاسُ صَلَاحُ دِينِ الرَّجُلِ
Yang dijadikan ukuran adalah tingkat keberagamaan seseorang,
وَلَيْسَتْ مَعَايِيرَ الطِّينِ وَالْمَادَّةِ
dan bukannya berdasarkan pada standar pernampilanı, materiil,
وَالذَّوَبَانِ فِي شَخْصِيَّةِ الصَّاحِبِ
ataupun bersifat instan yang berada pada diri seseorang.
وَإِنَّ كِتْمَانَ الْعُيُوبِ عَنِ الصَّاحِبِ خِيَانَةٌ
Sesungguhnya, menyembunyikan aib pada diri seorang sahabat adalah suatu pengkhianatan,
وَالْكَيْدَ لِوَقِيعَةِ مَنِ اِصْطَفَاكَ لِبِطَانَتِهِ جَرِيمَةٌ
kemudian mengabaikan kebajikannya adalah suatu kejahatan.
وَرَسُولُنَا اللَّهِ اِسْتَعَاذَ مِنْ ذَلِكَ
Rasulullah ﷺ berlindung dari hal tersebut dengan doanya,
(.. وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ)
"Saya berlindung kepada-Mu dari sifat khianat karena hal itu seburuk-buruknya orang kepercayaan." Shahih Bukhari Kitab al-Haid, dari terjemahan bab 24, al-Fat-h, 1/424.
وَحِينَ سَأَلَ اِبْنُ مَسْعُودٍ عَنْ أَيَّامِ الْهَرْجِ مَتَى تَكُونُ؟
Saat Ibnu Mas'ud bertanya tentang hari-hari yang mem-bingungkan, kapankah akan terjadi?
أَجَابَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِأَبْرَزِ فِتَنِ هَذِهِ الْأَيَّامِ. فَقَالَ
Rasulullah ﷺ menjawab dengan menjelaskan fitnah terbesar yang terjadi pada hari-hari tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda,
(حِينَ لَا يَأْمَنُ الرَّجُلُ جَلِيسَهُ)
"Saat seseorang tidak percaya lagi pada teman dekatnya." HR Abu Dawud dan an-Nasa'i, Jami al-Ushul 4/357, hadits 2389.
فَهَذَا أَمْرٌ يَحْتَاجُ إِلَى التَّحَرِّي وَالْاِصْطِفَاءِ الْبَعِيدِ عَنِ الْهَوَى؛
Hal ini amat membutuhkan ketelitian dan menjauhkan diri dari hawa nafsu,
حَتَّى يَجِدَ الْمَرْءُ مَنْ يَأْمَنُهُ
sehingga seseorang mendapati orang yang dapat dipercayai,
وَمَنْ يَطْمَئِنُّ لِصُحْبَتِهِ
kemudian bersikap tenteram bersama sahabatnya.
وَمِنْ مَزَايَا الْبِطَانَةِ - إِذَا صَلَحَتْ أَنَّهَا تَحُولُ دُونَ شَرٍّ كَبِيرٍ
Di antara keistimewaan orang kepercayaan apabila ia baik-dia akan membawa pada suatu kebaikan tanpa dampak yang besar.
وَتَحُضُّ عَلَى خَيْرٍ كَثِيرٍ
Juga akan memberikan pada kebaikan yang banyak.
وَمِنْ خُطُورَةِ الْبِطَانَةِ - إِذَا فَسَدَتْ أَنَّهَا قَدْ تُحَسِّنُ الْقَبِيحَ
Di antara bahayanya orang kepercayaan-bila ia jahat-ia akan membaguskan hal yang buruk,
أَوْ تُقَبِّحُ الْحَسَنَ بِالْوَسْوَسَةِ وَالتَّظَاهُرِ بِالْإِخْلَاصِ
ataupun memburukkan yang baik; dengan menimbulkan keresahan dan menampakkan dirinya seolah-olah dia adalah seorang yang ikhlas.
وَقَدْ وَصَفَ أَشْهَبُ بِطَانَةَ الْحَاكِمِ بِقَوْلِهِ
Asyhab, orang kepercayaan al-Hakim al-Ma'mun, berkata,
(وَلْيَكُنْ ثِقَةً مَأْمُونًا فَطِنًا عَاقِلًا
"Hendaklah yang menjadi orang kepercayaan Ma'muri adalah seorang yang berakal,
لِأَنَّ الْمُصِيبَةَ إِنَّمَا تَدْخُلُ عَلَى الْحَاكِمِ الْمَأْمُونِ مِنْ قَبُولِهِ قَوْلَ مَنْ لَا يُوثَقُ بِهِ
karena suatu musibah terjadi pada diri Ma'mun karena ia menerima perkataan orang yang tak dapat dipercaya.
إِذَا كَانَ هُوَ حَسَنَ الظَّنِّ بِهِ فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَثَبَّتَ فِي مِثْلِ ذَلِكَ) (٤)
Bilamana ia (khalifah) berbaik sangka padanya, hendaknya ia bersikap waspada dalam hal tersebut." Musnad Ahmad, 1/448 dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Syarh al-Musnad, 6/143 nomor 4286.
وَقَدْ رَأَيْنَا فِي وَاقِعِنَا أُنَاسًا خَاصَمُوا وَفَجَرُوا وَقَاطَعُوا وَهَجَرُوا
Kita telah melihat dalam realitas kehidupan ini, orang-orang yang bermusuhan kemudian bertengkar lalu memutuskan tali silaturahmi kemudian berhijrah
بِتَحْرِيضِ بِطَانَةٍ حَرَّكَتِ الْغَضَبَ لِلذَّاتِ
karena provokasi yang dilakukan oleh orang-orang yang menyukai kebencian.
وَأَبْدَتِ الْحِرْصَ عَلَى صَاحِبِهَا، وَالْهِيَامَ فِيهِ
Pertama, ia meniupkan api permusuhan tersebut pada kawannya, kemudian mengacaukannya,
أَكْثَرَ مِنْ عَصَبِيَّتِهِ لِنَفْسِهِ
melebihi kecintaan pada dirinya sendiri,
فَاسْتَعْظَمَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ، وَهَوَى فِي شِبَاكِ وَسَاوِسِ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ
sehingga ia merasa dirinya, besar, membuatnya was-was dengan gangguan setan manusia,
فَعَادَى النَّاسَ وَشَاتَمَهُمْ مَعَ مَا يُعْرَفُ مِنْ صَلَاحِهِ الشَّخْصِيِّ
hingga manusia akhirnya memusuhi mereka. Setelah itu, mencacinya sekalipun mereka mengetahui kebaikan pribadinya.
فَالْجَلِيسُ الصَّالِحُ كَحَامِلِ الْمِسْكِ
Sahabat yang baik adalah seperti penjual parfum.
وَقَدْ تَكُونُ الرِّيحُ الطَّيِّبَةُ الَّتِي تَجِدُهَا مِنْهُ كَلِمَةَ حَقٍّ صَرِيحَةٍ
Bau harum semerbak didapatkannya dari kata-kata kebenaran yang meluncur dari mulutnya.
فَيَجِبُ أَنْ تَلْقَى مِنْكَ تَجَاوُبًا وَتَقْدِيرًا لِأَنَّ مَبْعَثَهَا الْإِخْلَاصُ لِلْحَقِّ
Karena itu, engkau harus memberinya jawaban dan penghargaan, karena hal tersebut muncul dari keikhlasan pada kebenaran.
وَمِنْ شَوَاهِدِ ذَلِكَ أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ حَدَّثَ بِحَدِيثٍ اِسْتَنْكَرَهُ مُعَاوِيَةُ؛
Di antara yang dapat dijadikan bukti akan hal itu adalah Ubadah bin Shamit berbicara tentang suatu pembicaraan yang kemudian diingkari oleh Mu'awiyah,
لِأَنَّهُ لَمْ يَسْمَعْهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ عُبَادَةُ
karena ia belum men-dengarnya dari Rasulullah ﷺ Maka, Ubadah berkata,
(لَنُحَدِّثَنَّ بِمَا سَمِعْنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَإِنْ كَرِهَ مُعَاوِيَةُ)
"Kami akan mengatakan apa yang kami dengar dari Rasulullah ﷺ sekalipun tak disukai oleh Mu'awiyah." Fat-hu al-Baari, 13/190-Kitab al-Ahkam dari Syarh, Bab 42.
وَمِنْ ثَمَرَاتِ الْبِطَانَةِ الصَّالِحَةِ
Di antara keuntungan dari memiliki sahabat yang baik adalah
الْمَشُورَةُ بِالرُّشْدِ وَالسَّدَادِ لِلرَّأْيِ
bermusyawarah dengan benar, mendapatkan ide yang cemerlang,
لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي الْمُسْتَشَارِ الْأَمَانَةُ، وَالْإِشَارَةُ بِالْأَصْلَحِ
karena asal dari penasihat adalah sifat amanah, bermusyawarah untuk mencapai yang terbaik,
لِقَوْلِهِ ﷺ: (الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ) (٢)
berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ "Para penasihat adalah orang yang tepercaya." Shahih Muslim, Kitab al-Masaqat, Bab Riba-Hadits 80, Syarh an-Nawawi, 11/14.
وَفِي الْحَدِيثِ: (مَنِ اِسْتَشَارَهُ أَخُوهُ الْمُسْلِمُ فَأَشَارَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ رُشْدٍ فَقَدْ خَانَهُ) (٣)
Dalam suatu hadits disebutkan, "Barangsiapa yang diminta pendapatnya oleh saudaranya, lalu dia memberi petunjuk yang tidak tepat, maka dia telah mengkhianatinya." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, dihasankan oleh al-Arnauth, Jami al-Ushul, 11/562 hadits 9172.
فَانْظُرْ فِيمَنْ وَثِقْتَ وَبِمَنِ اِسْتَرْشَدْتَ، فَكُلُّ اِمْرِئٍ يُحْشَرُ مَعَ بِطَانَتِهِ الْمُخْتَارَةِ، لِأَنَّ (الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ) (٤)
Maka lihatlah siapa yang engkau percayai, dan siapa yang engkau ajak berkonsultasi, karena setiap orang bergantung pada siapa yang ia percayai. Sebab, "Seseorang bersama dengan orang yang dicintainya. Musnad Ahmad, 2/321 lafal tersebut untuknya, diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad yang hasan, Jami al-Ushul, 11/562.
كَمَا أَخْبَرَ ﷺ وَمِنْ بَرَكَةِ الْبِطَانَةِ الصَّالِحَةِ أَنَّهُ تَعُمُّهُمْ الرَّحْمَةُ بَيْنَهُمْ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ بِمَنْزِلَتِهِمْ
Sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ di antara keberkahan memiliki orang kepercayaan yang baik adalah rahmat akan melingkupi mereka semuanya, sekalipun mereka tak pantas untuk mendapatkannya.
فَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ اللَّهَ يُشْهِدُ مَلَائِكَتَهُ بِأَنَّهُ يَغْفِرُ لِقَوْمٍ جَلَسُوا يَذْكُرُونَ اللَّهَ
Telah diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa Allah swt. bersaksi kepada para malaikatnya bahwa la mengampuni suatu kaum yang duduk untuk berzikir kepada Allah swt.
فَيَقُولُ مَلَكٌ: فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ، وَإِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ
Malaikat berkata, "Di antara mereka terdapat seseorang yang tak ikut berzikir bersama mereka, namun ia datang untuk suatu keperluan,
فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: (هُمُ الْجُلَسَاءُ؛ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ) (١)
maka Allah swt. berfirman, 'Mereka adalah teman dekat yang tidak menyakiti perasaan saudaranya. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Jami al-Ushul, 6/558, hadits 4787.
وَتِلْكَ مِنْ بَرَكَاتِ صُحْبَةِ أَهْلِ الْخَيْرِ
Itu adalah salah satu dari keberkahan bergaul dengan orang baik.
فَإِنْ كَانَتْ لَكَ بِطَانَةٌ فَأَحْسِنِ اِخْتِيَارَهَا
Bilamana engkau memiliki orang kepercayaan, maka telitilah dalam memilihnya,
وَاِعْمَلْ بِمَا يُشِيرُونَ عَلَيْكَ مِنَ الْخَيْرِ
kemudian lakukanlah kebaikan yang ditunjuki oleh mereka.
وَإِنْ كُنْتَ بِطَانَةً لِغَيْرِكَ فَكُنْ صَرِيحًا صَادِقًا أَمِينًا، وَأَشِرْ بِكُلِّ خَيْرٍ
Jika engkau adalah seorang kepercayaan bagi sahabatmu, bersikap terbukalah, jujur, dapat dipercaya. Tunjukilah ia pada kebaikan.
وَبِالْتِزَامِ خُلُقِ (اِصْطِفَاءِ الْبِطَانَةِ) تَسْقُطُ الْأَقْنِعَةُ الْكَاذِبَةُ وَتَتَكَشَّفُ الْحَقَائِقُ
Dengan berkomitmen pada nilai-nilai akhlak (kemurnian orang kepercayaan), maka berjatuhanlah topeng-topeng kejahatan, dan tersingkaplah kebenaran.
وَيَتَمَيَّزُ كُلُّ فَرِيقٍ بِأَهْلِ وُدِّهِ وَأَصْحَابِ خُلَّتِهِ، فَانْظُرْ مَنْ تُخَالِلْ
Tiap kelompok memiliki keistimewaan berdasarkan sahabat yang dimilikinya, maka lihatlah kepada siapa engkau bersahabat.
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُه
KESIMPULAN
اَلْبِطَانَةُ تُؤَثِّرُ بِأَفْكَارِهَا وَأَخْبَارِهَا
→ Orang kepercayaan akan memberikan pengaruh pada pemikiran-pemikirannya juga berita-beritanya.
حُسْنُ اِخْتِيَارِ الْبِطَانَةِ يُجَنِّبُ كَثِيرًا مِنَ الْمَفَاسِدِ
* Telitilah dalam memilih orang kepercayaan, karena hal itu akan menghindari banyak kerusakan.
مَنْ أَرَادَ الْاِحْتِيَاطَ لِدِينِهِ يَخْتَارُ الصَّالِحِينَ لِصُحْبَتِهِ
Barangsiapa yang hendak dak membentengi agamanya, hendaklah ia memilih orang-orang saleh sebagai sahabatnya.
أَهْلُ الْعِلْمِ هُمْ أَوْلَى النَّاسِ بِالتَّقْرِيبِ وَالْمَشُورَةِ
Ahli ilmu adalah manusia yang paling utama untuk didekati dan diajak bermusyawarah.
فِي أَيَّامِ الْفِتَنِ لَا يَأْمَنُ الرَّجُلُ جَلِيسَهُ
Pada hari-hari terjadinya fitnah seseorang tak mempercayai kawan bicaranya.
مِنْ خُطُورَةِ الْبِطَانَةِ الْفَاسِدَةِ
→ Di antara bahaya memiliki orang kepercayaan yang merusak adalah:
أَنَّهَا تُحَسِّنُ الْقَبِيحَ
la akan membaguskan yang buruk.
تُسَبِّبُ الْخُصُومَاتِ
Menyebabkan terjadinya permusuhan.
مِنْ ثَمَرَاتِ الْبِطَانَةِ الصَّالِحَةِ
Di antara buah dari memiliki orang kepercayaan yang baik adalah:
حُسْنُ الْمَشُورَةِ.
Bijak dalam bermusyawarah.
عُمُومُ الرَّحْمَةِ.
Memperoleh rahmat.
📙📙📙📙📙
Sumber:
هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan
Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan - share Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar