Teh Marwa

Jumat, 19 Desember 2025

ROBBANIYAH - 05 BAB 01 - Hadzihi Akhlaquna

 

AKHLAK KITA DALAM KETUHANAN


Pertama: ROBBANIYYAH


كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ


"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-kitab."

كَمْ يَنْشَرِحُ صَدْرُكَ حِينَ تَلْقَى قُوَّةَ الْمُؤْمِنِ وَصَلَابَتَهُ وَعَزِيمَتَهُ وَجِدِّيَّتَهُ.. مَشْفُوعَةً بِسَكِينَةٍ وَإِخْبَاتٍ وَرِقَّةٍ وَصَفَاءٍ

Betapa lapang dada anda ketika bertemu dengan kekuatan, kekerasan, dan kemauan yang kuat seorang mukmin, yang diterima syafaatnya dengan ketenangan, kekhusyuan, belas kasih, dan kemurnian.

وَهُوَ مَا يَتَمَثَّلُ فِي شَخْصِيَّةِ الْمُسْلِمِ بِخُلُقِ الرَّبَّانِيَّةِ

Itulah yang tergambar dalam karakter seorang muslim yang berakhlak dengan akhlak rabbani.

وَوُصِفَ الرَّبَّانِيُّونَ فِي الْقُرْآنِ بِأَوْصَافٍ عَدِيدَةٍ تَتَكَامَلُ بِهَا صِفَاتُهُمْ

Rabbaniyyuun dalam Al-Qur'an banyak digambarkan dengan berbagai macam sifat yang dapat menyempurnakan sifat-sifat mereka.

فَقَدْ وُصِفُوا بِالثَّبَاتِ فِي الْجِهَادِ وَالصَّبْرِ عَلَى الْبَلَاءِ

Salah satunya adalah digambarkan dengan teguh dalam berjihad dan sabar dalam menghadapi cobaan. Shahih al-Bukhari, Kitab ad-Da'awat Bab 66 hadits 6408, al-Fat-h, 11/208

﴿وَكَأَيِّنْ مِنْ نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146﴾ [آل عمران : ١٤٦ ]

Sebagaimana firman Allah, 

"Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali Imran [3]: 146)


وَالرِّبِّيُّونَ بِمَعْنَى الْجَمَاعَاتِ الْكَثِيرَةِ مِنَ الْعِبَادِ وَالْعُلَمَاءِ وَالرَّبَّانِيِّينَ - جَمْعًا بَيْنَ التَّفَاسِيرِ (1)

Ribbiyun adalah jamaah besar yang terdiri dari para hamba, ulama, dan orang-orang rabbani-menurut kategori ahli tafsir. (Orang-orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah swt. atau orang yang berakhlak dengan akhlak Allah. Lihat tafsir al-Qurtubi 4/230 pada tafsir ayat 146 surah Ali Imran)

وَمِنْ عَلَامَاتِ الرَّبَّانِيِّينَ أَنَّهُمْ يَحْرِصُونَ عَلَى تَحْكِيمِ الشَّرِيعَةِ وَإِقَامَةِ الدِّينِ

Di antara tanda-tanda orang-orang rabbani, yaitu mereka selalu menjaga hukum syariat dan menegakkan agama, sesuai dengan firman Allah swt.,

﴿إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ ... ﴾ [المائدة : ٤٤ ]

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka." (al-Maa'idah [5]: 44)

وَفِي مَوْضِعٍ آخَرَ وَصَفَهُمُ اللَّهُ بِأَنَّهُمُ الْمُرَشَّحُونَ لِلْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ

Dalam surah yang lain Allah swt. menggambarkan mereka (rabbaniyun) dengan orang-orang yang dipilih untuk me. merintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar ma'ruf nahi munkar) seperti dalam firman Allah swt.,

﴿لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَن قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ....﴾ [المائدة : ٦٣]

"Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?" (al-Maa'idah [5]: 63)

وَجَعَلَ اللَّهُ الْأَمْرَ بِالِاتِّصَافِ بِالرَّبَّانِيَّةِ عَلَى لِسَانِ مَنْ يُؤْتِيهِمُ اللَّهُ الْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ

Allah memerintahkan mereka untuk bersikap dengan sifat-sifat rabbaniyyah (ketuhanan) kepada seorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian.

وَجَعَلَ اللَّهُ مِيزَةَ الرَّبَّانِيِّينَ فِي قِيَامِهِمْ بِتَعْلِيمِ كِتَابِ رَبِّهِمْ وَحِرْصِهِمْ عَلَى الِاسْتِمْرَارِ فِي التَّعَلُّمِ

Allah swt. menjadikan ciri khusus rabbaniyah dalam melaksanakan dan mengajarkan Kitab Tuhan mereka dan selalu menjaga ke-langsungan pengajarannya itu. Allah swt. berfirman,

﴿مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللَّهِ وَلَكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ﴾ [آل عمران : ٧٩]

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, 'Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah. Akan tetapi, (dia berkata), 'Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (Ali Imran [3]: 79)

فَالرَّبَّانِيُّ يَبْنِي نَفْسَهُ وَيَبْنِي غَيْرَهُ، يَعْمَلُ بِمَا عَلِمَ وَيُعَلِّمُ مَا تَعَلَّمَ

Jadi, arRabbani membangun dirinya dan yang lain, meng-amalkan apa yang telah ia pelajari serta mengajarkan apa yang ia ketahui.

وَقَدْ حَوَتْ كُتُبُ التَّفْسِيرِ وَالسُّنَّةِ كَثِيرًا مِنَ الصِّفَاتِ الْمُمَيِّزَةِ لِلرَّجُلِ الرَّبَّانِيِّ، فَفِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ وَعِنْدَ تَرْجَمَةِ (بَابُ الْعِلْمِ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ)

Kitab-kitab tafsir dan hadits telah membuat kategori sifat-sifat istimewa dari orang-orang rabbani. Dalam shahih Bukhari dalam sebuah uraian (bab ilmu sebelum berkata dan berbuat),

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : كُونُوا رَبَّانِيِّينَ : حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ وَيُقَالُ : الرَّبَّانِيُّ الَّذِي يُرَبِّي النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ (1)

Ibnu Abbas berkata, "Jadilah kalian orang-orang rabbani, yaitu orang-orang yang murah hati, ahli ilmu, dikatakan: ar-Rabbani adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu yang kecil (ringan) sebelum mempelajari ilmu yang besar (berat). " Shahih al-Bukhari, kitab al-ilmu, uraian dari bab 10.

يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ : وَالْمُرَادُ بِصِغَارِ الْعِلْمِ مَا وَضَحَ مِنْ مَسَائِلِهِ، وَبِكِبَارِهِ مَا دَقَّ مِنْهَا

Ibnu Hajar berkata, "Maksud dari ilmu yang kecil adalah ilmu yang permasalahannya jelas, sedangkan ilmu yang besar adalah permasalahannya lebih mendalam dan luas.

وَقِيلَ : يُعَلِّمُهُمْ جُزْئِيَّاتِهِ قَبْلَ كُلِّيَّاتِهِ، أَوْ فُرُوعَهُ قَبْلَ أُصُولِهِ، أَوْ مُقَدِّمَاتِهِ قَبْلَ مَقَاصِدِهِ.. (2)

Dan dikatakan, "Ia (rabbani) yang mengajarkan manusia bagian dari ilmu sebelum keseluruhannya, atau cabang-cabangnya sebelum pokok-pokoknya, atau juga pendahuluannya sebelum pembahasan intinya. " Fat-hu al-Baari, 1/162 dalam syarah bab 10 dari kitab al-ilmu.

فَالرَّبَّانِيُّ صَاحِبُ حِكْمَةٍ وَصَاحِبُ فِقْهٍ

Ar-Rabbani berarti orang yang mempunyai hikmah dan orang alim.

وَمِنْ حِكْمَتِهِ أَنَّهُ يَتَدَرَّجُ بِالْمَدْعُوِّينَ وَيُيَسِّرُ عَلَيْهِمْ عَلَى عِلْمٍ وَبَصِيرَةٍ وَحُسْنِ عَمَلٍ

Dan di antara hikmah-hikmahnya adalah bahwa ia membimbing orang-orang yang ia beri dakwah dan memberikan kemudahan pada mereka tentang ilmu, bashirah (kebijaksanaan) dan perbuatan yang baik.

يَنْقُلُ ابْنُ حَجَرٍ عَنِ ابْنِ الْأَعْرَابِيِّ قَوْلَهُ : "لَا يُقَالُ لِلْعَالِمِ رَبَّانِيٌّ حَتَّى يَكُونَ عَالِمًا مُعَلِّمًا عَامِلًا " (3)

Ibnu Hajar menukil dari perkataan Ibnu Arabi, "Tidak dikatakan orang alim sehingga la menjadi alim, mualim, dan amil (ahli ilmu, yang mengajarkan ilmu, serta mengamalkan ilmunya), "

Fat-hu al-Baari, 1/162 dalam syarah bab 10 dari kitab al-ilmu.


وَأَسَاسُ الرَّبَّانِيَّةِ الْإِخْلَاصُ فِي ابْتِغَاءِ رِضَى الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ الْأَصْمَعِيُّ وَالْإِسْمَاعِيلِيُّ : ( الرَّبَّانِيُّ نِسْبَةٌ إِلَى الرَّبِّ أَيِ الَّذِي يَقْصِدُ مَا أَمَرَهُ الرَّبُّ بِقَصْدِهِ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ ) (1)

Dasar utama dari rabbaniyah adalah ikhlas dalam mengharap ridha Allah swt. Al-Ashma'i dan Isma'ili berkata, "Ar-rabbani adalah penisbatan (menyandarkan) pada ar-rabb, maksudnya sesuatu yang diperintahkan oleh ar-Rabb untuk dilaksanakan, yaitu ilmu dan amal." Fat-hu al-Baari, 1/161 dalam syarah bab 10 dari kitab al-ilmu.

وَقِيلَ إِنَّهُ مَنْسُوبٌ إِلَى التَّرْبِيَةِ وَالتَّرْبِيَةُ أَبْرَزُ مَا فِي حَالِ الرَّبَّانِيِّ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي وَصْفِ الرَّبَّانِيِّينَ قَوْلُهُ : "هُمُ الَّذِينَ يَغْذُونَ النَّاسَ بِالْحِكْمَةِ وَيُرَبُّونَهُمْ عَلَيْهَا " (2)

Dan ada yang berpendapat bahwa ar-rabbani disandarkan pada at-tarbiyah, dan tarbiyah merupakan hal terpenting bagi seorang rabbani. Diriwayatkan dari Ali r.a. berkaitan dengan sifat orang-orang rabbani, ia berkata, "Yaitu orang-orang yang mengasuh dan mendidik dengan penuh hikmah (kebijaksanaan)." Zaad al-Masir fi Ilmi at-tafsir, 1/413 pada tafsir ayat 79 dari surah Ali Imran.

كَمَا قِيلَ إِنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنْ قَوْلِهِمْ : رَبَّهُ يَرُبُّهُ فَهُوَ رَبَّانٌ إِذَا دَبَّرَهُ وَأَصْلَحَهُ. فَمَعْنَاهُ عَلَى هَذَا يُدَبِّرُونَ أُمُورَ النَّاسِ وَيُصْلِحُونَهَا " .(3)

Sebagaimana halnya kata ar-rabbani itu merupakan derivasi dari kata rabbahu-yarubbuhu fahuwa rabbaan yang berarti dabbarahu (mengurusnya) dan ashlihuhu (menjadikan baik). "Berdasarkan hal tersebut, maka maknanya ialah orang rabbani adalah mereka yang mengurus manusia dan membuatnya baik." Tafsir al-Qurtubi 4/122 pada tafsir ayat ke 79 dari surah Ali Imran.

وَفِي تَفْسِيرِ ابْنِ مَسْعُودٍ لِقَوْلِهِ تَعَالَى

Disebutkan dalam tafsir Ibnu Mas'ud berkenaan dengan firman Allah swt., "Akan tetapi (dia berkata),

. وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ

'Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani."

قَالَ : حُكَمَاءُ عُلَمَاءُ

Ibnu Mas'ud berkata, "Para ahli hikmah dan para ahli ilmu."

وَيَقُولُ ابْنُ جُبَيْرٍ : حُكَمَاءُ أَتْقِيَاءُ

Ibnu hajar berkata, "Para ahli hikmah dan orang yang bertakwa."

وَمِنَ اللَّفْتَاتِ الطَّرِيفَةِ فِي وَصْفِ الرَّبَّانِيِّ أَنَّهُ الَّذِي يَجْمَعُ إِلَى الْعِلْمِ الْبَصَرَ بِالسِّيَاسَةِ " (4)

Di antara hal yang menyimpang dari gambaran (sifat) rabbani, yaitu yang menggabungkan antara ilmu kepandaian dan strategi. Tafsir Al-Qurtubi 4/122.

وَهِيَ إِشَارَةٌ طَرِيفَةٌ تَنْفِي التَّصَوُّرَ الْمُتَفَشِّي عَنِ الْعَالِمِ الرَّبَّانِيِّ بِأَنَّهُ بَعِيدٌ عَنْ عَصْرِهِ، مُغَفَّلٌ فِي قَضَايَا الْحُكْمِ وَالسِّيَاسَةِ

Yakni, isyarat yang jarang tersebut menghilangkan gambaran yang lazim berlaku bagi orang alim yang rabbani bahwa ia jauh dari zamannya dan melenceng dari tatanan hukum dan siasat.

وَقَدْ أَكَّدَ هَذِهِ الْمِيزَةَ فِي الرَّبَّانِيِّ أَبُو عُبَيْدَةَ بِقَوْلِهِ

Ciri khusus tentang rabbani ini dikuatkan oleh Abu Ubaidah. Ia berkata,

"سَمِعْتُ عَالِمًا يَقُولُ : الرَّبَّانِيُّ الْعَالِمُ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ وَالْأَمْرِ وَالنَّهْيِ، الْعَارِفُ بِأَنْبَاءِ الْأُمَّةِ وَمَا كَانَ وَمَا يَكُونُ " (5)

"Aku mendengar orang alim berkata, 'Ar-rabbani adalah orang yang mengetahui halal dan haram, serta perintah dan larangan. Orang yang mengetahui nabi-nabi umat dan apa yang telah terjadi dan akan terjadi." Tafsir Al-Qurtubi 4/122.

فَهُوَ مُدْرِكٌ لِتَارِيخِ الْأُمَّةِ مُبْصِرٌ لِسُنَنِ اللَّهِ فِي خَلْقِهِ بَصَرًا يُتِيحُ لَهُ أَنْ يَتَوَقَّعَ مَا يَكُونُ حِينَ تَتَوَفَّرُ أَسْبَابُ مُضَاءِ السُّنَّةِ الْكَوْنِيَّةِ وَالاجْتِمَاعِيَّةِ

Hal itu dapat diketahui dari sejarah umat, dan diketahui melalui berbagai sunnatullah (hukum dan ketetapan Allah) dalam ciptaan-Nya, memberikan kesempatan padanya untuk menunggu beberapa penyebab berlalunya hukum alam dan sosial.

وَيَتَمَيَّزُ (الرَّبَّانِيُّ) بِأَنَّهُ الْكَامِلُ فِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ الشَّدِيدِ التَّمَسُّكِ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَدِينِهِ (1)

Ar-rabbani menjadi istimewa dengan kesempurnaan ilmu dan amal, berpegang teguh pada ketaatan kepada Allah swt. dan agama-Nya. Tafsir Abi as-Su'ud 1/379.

أَمَّا حِينَ يَغْفَلُ الْعُلَمَاءُ عَنْ مُجْتَمَعَاتِهِمْ أَوْ يَسْكُتُونَ عَمَّا يَجْرِي فِيهَا وَيَتَسَاهَلُونَ فَتِلْكَ ظَاهِرَةُ الْفَنَاءِ

Adapun pada saat ulama melalaikan masyarakatnya atau mereka diam tentang apa yang terjadi pada mereka dan menganggap remeh, maka hal tersebut merupakan fenomena kehancuran,

كَمَا يَقُولُ سَيِّدُ قُطْبٍ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تَعَالَى

sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyid Qutub rahimahullah dalam menafsirkan firman Allah swt.,

﴿لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ ...﴾ [المائدة : ٦٣ ]

"Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka..." (al-Maa'idah [5]: 63)

يَقُولُ : "فَهَذِهِ السِّمَةُ سِمَةُ سُكُوتِ الْقَائِمِينَ عَلَى أَمْرِ الشَّرِيعَةِ وَالْعِلْمِ الدِّينِيِّ عَمَّا يَقَعُ فِي الْمُجْتَمَعِ مِنْ إِثْمٍ وَعُدْوَانٍ هِيَ سِمَةُ الْمُجْتَمَعَاتِ الَّتِي فَسَدَتْ وَآذَنَتْ بِالِانْهِيَارِ " (2)

Beliau berkata, "Maka ini merupakan sebuah kepribadian-watak bersikap diam terhadap perkara syariat dan ilmu keagamaan dari sesuatu yang terjadi di masyarakat seperti perbuatan dosa dan permusuhan, yaitu pribadi masyarakat yang rusak dan di ambang kelemahan." Fi Fi Dzilali al-Quran 2/928 dalam menjelaskan ayat 63 dari surah al-Maa'idah.

وَيَتَمَيَّزُ سَيِّدُ قُطْبٍ رَحِمَهُ اللَّهُ غَيْظًا مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ الَّذِينَ انْزَلَقُوا إِلَى مَا وَقَعَ فِيهِ عُلَمَاءُ أَهْلِ الْكِتَابِ حَيْثُ يَقُولُ

Sayyid Qutub menentang ulama dari kaum muslimin yang terjerumus pada apa yang terjadi pada ulama ahli kitab saat ia berkata,

"وَمِثْلُ هَذَا الْفَرِيقِ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَرِيقٌ مِمَّنْ يَدَّعُونَ الْإِسْلَامَ وَيَدَّعُونَ الْعِلْمَ بِالدِّينِ.. وَهُمْ أَوْلَى بِأَنْ يُوَجَّهَ إِلَيْهِمْ

"Perumpamaan golongan orang ahli kitab seperti golongan yang melakukan propaganda Islam dan ilmu dengan agama, dan mereka berhak untuk menghadapkan Qur'an ini daripada mereka

 هَذَا الْقُرْآنُ الْيَوْمَ، وَهُمْ يَلْوُونَ النُّصُوصَ الْقُرْآنِيَّةَ لَيًّا لِإِقَامَةِ أَرْبَابٍ مِنْ دُونِ اللَّهِ فِي شَتَّى الصُّوَرِ

Mereka melunakkan (membelokkan) ayat Qur'an untuk meng-adakan tuhan-tuhan selain Allah dalam berbagai bentuk.

وَهُمْ يَتَصَيَّدُونَ مِنَ النُّصُوصِ مَا يَلْوُونَهُ لِتَمْوِيهِ هَذِهِ الْمُفْتَرَيَاتِ ..... وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

Mereka memburu nash-nash yang mereka belokkan untuk menyembunyikan kebohongan ini. Allah berfirman,

﴿وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾ [آل عمران : ٧٨] (3)

"Dan mereka mengatakan, 'Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui." (Ali Imran [3]: 78)515

فَلَا جِهَادَ بِلَا رَبَّانِيَّةَ، وَلَا رَبَّانِيَّةَ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَعَمَلٍ وَحِكْمَةٍ وَإِخْلَاصٍ وَصَبْرٍ وَتَرْبِيَةٍ وَبَصِيرَةٍ

Dengan demikian, tidak ada mujahid tanpa rabbaniyah, tidak ada rabbaniyah tanpa ilmu, amal, hikmah, ikhlas, sabar, tarbiyah, dan bashirah

وَالَّذِينَ يَتَبَوَّؤُونَ مَرَاكِزَ التَّوْجِيهِ وَيَتَصَدَّرُونَ سَاحَاتِ الْجِهَادِ

Dan orang-orang yang menempatkan posisinya sebagai pusat kontrol dan sumber medan jihad,

لَا بُدَّ أَنْ يَأْخُذُوا أَنْفُسَهُمْ بِالْعَزِيمَةِ لِيُحْسِنُوا أَدَاءَ دَوْرِهِمُ الْقُدْوَةَ

maka mereka harus mempunyai kemauan yang kuat untuk memperbagus dalam menunaikan perannya sebagai "teladan"

وَلِيَسْتَحِقُّوا مِنَ اللَّهِ تَبَوُّأَ "الْعِلِّيِّينَ" وَ "مَقْعَدِ صِدْقٍ" فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ 

dan untuk mewujudkan posisi "illiyyin" dari Allah swt. dan "kursi kejujuran" di alam akhirat,

وَلِيَنَالُوا وِسَامَ (الرَّبَّانِيَّةِ) بِمَا يَتَعَلَّمُونَهُ وَيُعَلِّمُونَهُ

agar mereka memperoleh medali "ar-rabbaniyah" dengan apa yang mereka pelajari dan mereka ajarkan.

خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN

مِنْ صِفَاتِ الرَّبَّانِيَّةِ

Di antara sifat-sifat Ar-rabbaniyah adalah sebagai berikut.

الثَّبَاتُ فِي الْجِهَادِ وَالصَّبْرُ عَلَى الْبَلَاءِ

Teguh dalam berjihad dan sabar dalam menghadapi cobaan.

تَحْكِيمُ الشَّرِيعَةِ وَإِقَامَةُ الدِّينِ

Menegakkan hukum syariat dan agama.

تَعَلُّمُ الْكِتَابِ وَتَعْلِيمُهُ

Pelajarilah Al-Qur'an dan mengajarkannya.

تَعْلِيمُ صِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

Mengajarkan ilmu ringan sebelum yang berat.

الْإِخْلَاصُ وَالْحِكْمَةُ

Ikhlas dan hikmah.

الْعِلْمُ مَعَ الْبَصَرِ بِالسِّيَاسَةِ

Ilmu disertai kepandaian dan strategi.

الْكَمَالُ فِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ

Kesempurnaan ilmu dan amal.

تَفْسُدُ الْمُجْتَمَعَاتُ حِينَ لَا يَقُومُ الرَّبَّانِيُّونَ بِدَوْرِهِمْ

Kerusakan masyarakat ketika orang-orang rabbani tidak melaksanakan sesuai dengan perannya.

إِذَا لَمْ يَتَمَيَّزِ الْعُلَمَاءُ بِالرَّبَّانِيَّةِ لَمْ يُؤْمَنْ عَلَيْهِمْ مِنْ لَيِّ النُّصُوصِ

Jika ulama tidak bertamayyuz (bersikap) dengan ar-rabbaniyyah maka orang yang membelokkan ayat tidak akan mem-percayainya.


📙📙📙📙📙

Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share

Semoga bermanfaat

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar