BAB 01
AKHLAK YANG HARUS DIMILIKI PADA WAKTU BERJUANG
PASAL 02
الِاسْتِعْدَادُ لِلشَّهَادَةِ
Mempersiapkan diri untuk Syahid
فلا جهاد ولا صدقة، فلِمَ تدخُلُ الجنة إذًا؟!
"Apabila tidak ingin berjihad dan bersedekah, maka
mengapa kamu ingin masuk surga?"
المَوْتُ قَدَرٌ مَحْتُومٌ عَلَى كُلِّ مَخْلُوقٍ
Kematian adalah ketetapan yang telah ditentukan
bagi setiap makhluk.
وَالشَّهَادَةُ أَسْمَى صُوَرِ المَوْتِ يَصْطَفِي
اللَّهُ لَهَا مَنْ يَشَاءُ
Mati syahid adalah bentuk kematian yang paling
mulia yang telah dipilihkan Allah bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.
وَالمُؤْمِنُ مَأْمُورٌ عَلَى كُلِّ حَالٍ
بِالِاسْتِعْدَادِ لِلْمَوْتِ
Setiap mukmin telah diperintahkan untuk
bersiap-siap menghadapi kematian.
فَمَنْ كَانَتْ أُمْنِيَّتُهُ الشَّهَادَةَ
Barangsiapa yang mengharapkan mati syahid,
كَانَ أَوْلَى بِالِاسْتِعْدَادِ، وَأَحْرَى
بِالتَّطَلُّعِ لِاصْطِفَاءِ اللَّهِ لَهُ
maka ia harus lebih mempersiapkan diri dan lebih
rajin menyambutnya agar Allah memilihnya sebagai salah satu dari para syuhada.
وَلَقَدْ صَدَقَتْ فِرَاسَةُ كَثِيرِينَ فِي
إِخْوَانٍ لَهُمْ تَوَقَّعُوا لَهُمُ الشَّهَادَةَ
Telah banyak firasat orang-orang tentang
sahabat-sahabatnya. Mereka memperkirakan bahwa sahabatnya itu akan mendapatkan
syahid.
لِمَظَاهِرَ مِنْ سَمْتِ الصَّلَاحِ بَدَتْ
عَلَيْهِمْ
Hal itu terlihat dari tanda-tanda kemuliaan yang
tampak pada diri mereka.
فَقِيلَ فِيهِمْ بِالتَّوَقُّعِ مَا قِيلَ فِي
طَلْحَةَ بِالوَحْيِ الصَّادِقِ
Di antara yang diperkirakan akan mendapat syahid
adalah Thalhah r.a. yang telah dikabarkan oleh wahyu,
«شَهِيدٌ
يَمْشِي عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ»
"Ia adalah seorang syahid yang berjalan di
atas muka bumi."
وَفِي رِوَايَةٍ
Dalam riwayat lain,
هَذَا مِمَّنْ قَضَى نَحْبَهُ
"Inilah orang yang telah menepati janjinya
(gugur/berkorban)." Sunan Ibnu Majah 102 - 103
فَكَيْفَ نَسْتَعِدُّ لِلشَّهَادَةِ وَنَتَهَيَّأُ
لَهَا لِنَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا حَقًّا؟
Bagaimana kita mempersiapkan diri dan bersiaga
untuk kematian tersebut agar kita benar-benar termasuk ahlinya?
لَعَلَّ اللَّهَ يَرْزُقُنَا الشَّهَادَةَ فِي
صُورَةٍ مِنْ صُوَرِهَا
Semoga Allah memberi kita rezeki mati syahid dalam
salah satu bentuknya.
أَوَّلُ العُدَّةِ لِلشَّهَادَةِ : التَّوْبَةُ الصَّادِقَةُ
Persiapan pertama untuk mati syahid adalah tobat
yang benar.
وَقَدْ وَرَدَ فِي الحَدِيثِ
Dalam suatu hadits disebutkan,
«يَضْحَكُ
اللَّهُ إِلَى رَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الآخَرَ يَدْخُلَانِ الجَنَّةَ؛
يُقَاتِلُ هَذَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلُ ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَى
القَاتِلِ فَيُسْتَشْهَدُ»
"Allah tersenyum pada dua orang laki-laki yang
salah satunya telah membunuh lainnya, namun keduanya masuk surga. Yang terbunuh
itu sedang berjuang di jalan Allah kemudian ia terbunuh. Adapun yang lainnya
(si pembunuh), ia telah diampuni oleh Allah (karena bertobat) lalu ia berjuang
dan terbunuh juga." Hr. Imam Bukhari 2827
فَلَيْسَ غَرِيبًا أَنْ يَنَالَ الشَّهَادَةَ
Bukan suatu hal yang aneh apabila seseorang
mendapatkan mati syahid,
مَنْ كَانَ لَهُ مَاضٍ جَاهِلِيٌّ تَابَ مِنْهُ
walau ia mempunyai latar belakang yang (sesat),
namun setelah itu ia bertobat.
وَقَدْ رُؤِيَتْ نَمَاذِجُ مُعَاصِرَةٌ مِنْ صِدْقِ
جِهَادِ حَدِيثِي الهِدَايَةِ
Telah banyak diriwayatkan contoh orang-orang yang
baru masuk Islam dan sungguh-sungguh dalam berjihad.
وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ إِلَى غَزْوَةِ
أُحُدٍ بَعْدَ لَيْلَةٍ مِنْ شُرْبِ الخَمْرِ
Sebagian sahabat ada yang pergi ke medan Perang
Uhud, padahal pada malam harinya mereka minum arak,
«اصْطَبَحَ
نَاسٌ الخَمْرَ يَوْمَ أُحُدٍ ثُمَّ قُتِلُوا شُهَدَاءَ»
"Mereka telah minum arak hingga subuh pada
hari Uhud kemudian mereka terbunuh, mati syahid." Hr. Imam Bukhari 2815
وَذَلِكَ قَبْلَ تَحْرِيمِ الخَمْرِ
Hal itu terjadi sebelum arak diharamkan.
وَحَتَّى الَّذِينَ شَرِبُوهَا بَعْدَ تَحْرِيمِهَا
فِي قُرُونِ الخَيْرِ
Walaupun ada di antara mereka yang masih meminumnya
setelah diharamkannya,
فَإِنَّهَا لَمْ تَكُنْ تَمْنَعُهُمْ مِنَ البَحْثِ
عَنِ الشَّهَادَةِ لَعَلَّهَا تُكَفِّرُ عَنْهُمْ مَا بَدَرَ مِنْهُمْ
tapi hal tersebut tidak menghalangi mereka untuk
mendapatkan syahid, dengan harapan agar dosa-dosa yang telah diperbuatnya dapat
terhapus.
وَلَا بُدَّ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلْمَوْتِ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ أَنْ يَسْتَتْبِعَ التَّوْبَةَ إِصْلَاحُ العَمَلِ
Dalam persiapan menyongsong kematian di jalan
Allah, tobat harus diikuti oleh perbaikan dengan cara beramal.
وَقَدْ كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ
Ibnu Umar r.a. telah berkata,
«إِذَا
أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ
المَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ»
"Apabila sore tiba, janganlah kalian menunggu
pagi, dan apabila pagi tiba, janganlah kalian menunggu sore. Gunakanlah waktu
sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu." Hr. Imam Bukhari
6416
يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ فِي شَرْحِ الحَدِيثِ
Ibnu Hajar berkata dalam menerangkan hadits ini,
«أَيْ: اعْمَلْ مَا تَلْقَى نَفْعَهُ
بَعْدَ مَوْتِكَ
"Lakukanlah suatu perbuatan yang dapat
memberimu manfaat setelah kematianmu.
وَبَادِرْ أَيَّامَ صِحَّتِكَ بِالعَمَلِ الصَّالِحِ
Perbanyaklah waktu sehatmu dengan melakukan amal
baik
فَإِنَّ المَرَضَ قَدْ يَطْرَأُ فَيَمْنَعُ مِنَ
العَمَلِ
karena penyakit akan datang dengan tiba-tiba
sehingga kamu tidak bisa melakukan kebaikan.
فَيُخْشَى عَلَى مَنْ فَرَّطَ فِي ذَلِكَ أَنْ يَصِلَ
إِلَى المَعَادِ بِغَيْرِ زَادٍ»
Karena itu, orang yang lupa akan hal itu
dikhawatirkan akan menghadapi hari Kiamat tanpa bekal kebaikan." Fathul
bari 11/235 Hadist 6416
كَمَا جَاءَ فِي تَعْلِيلِ النَّهْيِ عَنْ تَمَنِّي
المَوْتِ
Juga disebutkan dalam hadits lain yang menerangkan
alasan larangan mengharapkan kematian.
قَوْلُهُ ﷺ
: لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمُ المَوْتَ؛ إِمَّا
مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ يَزْدَادُ، وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ يَسْتَعْتِبُ
Sabdanya, "Janganlah kalian mengharapkan
kematian dalam keadaan baik karena mungkin saja dia akan menambah kebaikannya,
atau dalam kondisi penuh dosa karena mungkin saja dia memohon pada Allah untuk
diangkat dosa-dosanya (isti'tab)." Hr. Imam Bukhari 7235
وَقَوْلُهُ
: يَسْتَعْتِبُ أَيْ
: يَسْتَرْضِي اللَّهَ بِالإِقْلَاعِ وَالِاسْتِغْفَارِ
Kata 'Diangkat dosa-dosanya berarti meminta ridha
Allah dengan berhenti (melakukan dosa) dan memohon ampun (istigfar).
وَالِاسْتِعْتَابُ
: طَلَبُ الإِعْتَابِ، وَالهَمْزَةُ لِلإِزَالَةِ أَيْ: يَطْلُبُ إِزَالَةَ العِتَابِ
Diangkat dosa-dosanya (isti'tab) berarti minta
dihilangkan, karena huruf hamzah (dalam kata isti'tab) adalah untuk
menghilangkan atau minta dihilangkan dosanya.
وَفِي بَيَانِ تَوْفِيقِ اللَّهِ لِلْعَبْدِ إِلَى
حُسْنِ الخَاتِمَةِ
Adapun penjelasan tentang petunjuk Allah yang
diberikan kepada hamba-Nya agar ia mendapatkan husnul khatimah (akhir yang
baik),
يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا
اسْتَعْمَلَهُ
dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda,
"Apabila Allah menginginkan seorang hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka
Allah mem- berikannya."
قَالُوا : وَكَيْفَ
يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ : «يُوَفِّقُهُ
لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ»
Para sahabat bertanya, "Bagaimana Allah mem-
berikannya?" Rasulullah menjawab, "Allah akan memudahkannya untuk
melakukan amal kebaikan sebelum ia mati." Hr. Imam Attirmidzi Jami'ul
Ushul 7588
وَإِنَّ الإِكْثَارَ مِنْ ذِكْرِ المَوْتِ
وَالحِسَابِ لَيُجَدِّدُ الدَّافِعَ لإِصْلَاحِ العَمَلِ
Sesungguhnya, banyak mengingat mati dan hisab (hari
perhitungan) akan memberikan motivasi untuk terus memperbaiki amal.
وَلَعَلَّ اللَّهَ يَسْتَعْمِلُنَا فِي طَاعَتِهِ،
وَيُحْسِنُ خَاتِمَتَنَا
Dan, semoga Allah memberi kita nikmat berada dalam
ketaatan kepada-Nya dan memberi kita hidup dengan akhir yang baik.
لَا يَثْبُتُ لِامْرِئٍ صِدْقُ سَعْيِهِ
لِلشَّهَادَةِ بِغَيْرِ التَّضْحِيَةِ؛
Ketulusan usaha seseorang untuk mendapatkan
syahadah (mati syahid) tidak akan terbukti tanpa ada pengorbanan,
لِأَنَّ الجِهَادَ يَكُونُ بِالنَّفْسِ وَالمَالِ
karena berjihad harus dilakukan dengan jiwa dan
harta.
وَكِلَاهُمَا يَحْتَاجُ إِلَى جُودٍ وَتَضْحِيَةٍ
Keduanya dapat dilakukan dengan mendermakan harta
dan mengorbankan jiwa.
فَمَنْ لَمْ يُعِدَّ نَفْسَهُ لِيُقَدِّمَ وَيُعْطِيَ
فَكَيْفَ يَحْلُمُ بِالجَنَّةِ؟!
Jika tidak siap untuk berkorban dan berderma, maka
bagaimana ia akan mendapatkan surga?
وَرَدَ عَنْ بَشِيرِ بْنِ الخَصَاصِيَةِ أَنَّهُ
جَاءَ لِمُبَايَعَةِ النَّبِيِّ ﷺ
Basyir bin Khashashah telah datang kepada
Rasulullah untuk membaiatnya.
فَأَرَادَ أَنْ يَسْتَعْفِيَ مِنَ الِالْتِزَامِ
بِشَرْطَيْنِ مِنْ شُرُوطِ البَيْعَةِ
Ia minta dibebaskan dari dua kewajiban yang
merupakan syarat baiatnya.
فَقَالَ : أَمَّا
اثْنَتَانِ فَوَاللَّهِ مَا أُطِيقُهُمَا
: الجِهَادُ وَالصَّدَقَةُ
Ia berkata, "Aku tidak mampu memenuhi dua
syarat itu: jihad dan sedekah.
فَإِنَّهُمْ زَعَمُوا أَنَّهُ مَنْ وَلَّى الدُّبُرَ
فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ
Mereka mengatakan bahwa barangsiapa yang melarikan
diri dari medan perang, berarti ia telah membuat Allah marah.
فَأَخَافُ إِنْ حَضَرْتُ تِلْكَ جَشِعَتْ نَفْسِي
وَكَرِهْتُ المَوْتَ
Aku takut apabila pergi ke medan perang, diriku
akan gemetar karena takut mati.
وَالصَّدَقَةُ، فَوَاللَّهِ مَا لِي إِلَّا
غُنَيْمَةٌ وَعَشْرُ ذَوْدٍ هُنَّ رِسْلُ أَهْلِي وَحُمُولَتُهُمْ
Adapun masalah sedekah, demi Allah, aku tidak
mempunyai apa-apa kecuali ghanimah (pampasan perang) dan pembagian hasil tanah
yang digunakan untuk membiayai kehidupan keluarga dan tranportasinya.
فَعَلَّلَ خَوْفَهُ مِنَ الجِهَادِ بِالخَوْفِ مِنْ
وُقُوعِهِ فِي كَبِيرَةِ الفِرَارِ
Dia mengungkapkan alasannya tidak ingin ikut
berperang karena ia takut melarikan diri.
وَعَلَّلَ خَوْفَهُ مِنَ الصَّدَقَةِ بِقِلَّةِ مَا
يَمْلِكُهُ
Sedangkan alasannya tidak ingin bersedekah karena
harta yang dimilikinya sedikit.
فَقَبَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَهُ، ثُمَّ حَرَّكَهَا
وَقَالَ : فَلَا
جِهَادَ وَلَا صَدَقَةَ، فَبِمَ تَدْخُلُ الجَنَّةَ؟
Mengetahui hal itu Rasulullah saw. memegang
tangannya dan menggerakkannya kemudian bersabda, "Apabila engkau tidak
ingin berjihad dan bersedekah, mengapa engkau berharap dapat masuk surga?"
إِذًا، يَقُولُ الصَّحَابِيُّ
: فَبَايَعْتُهُ عَلَيْهِنَّ كُلِّهِنَّ
Sahabat tersebut berkata, "Aku membaiatnya
dengan semua syaratnya. Musnad Ahmad 5/224
فَالْمَسْأَلَةُ جِدٌّ وَلَا تَحْتَمِلُ
المُسَاوَمَةَ وَلَا التَّنَازُلَ
Masalah ini adalah masalah yang serius. Tidak dapat
ditawar-tawar dan tidak boleh ditinggalkan.
وَلَا تَضْحِيَةَ بِغَيْرِ جُرْأَةٍ
Tidaklah disebut pengorbanan jika tanpa ada
keberanian.
وَلِذَلِكَ عُدَّ مِنَ الشُّهَدَاءِ مَنْ قُتِلَ
دُونَ دَمِهِ، أَوْ عِرْضِهِ أَوْ مَالِهِ، كَمَا فِي الحَدِيثِ
Oleh karena itu, orang yang mati untuk membela
jiwanya, kehormatannya, dan hartanya, termasuk orang yang mati syahid
sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,
«مَنْ
قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ»
"Barangsiapa yang mati karena membela
hartanya, maka ia mati syahid" Hr. Imam Bukhari 480
لِتَبْقَى رُوحُ رَفْضِ الظُّلْمِ
Berita gembira itu disampaikan agar setiap orang
bersemangat dalam menolak kezaliman,
وَمُقَاوَمَتِهِ حَيَّةً فِي النُّفُوسِ
sehingga perlawanannya senantiasa hidup dan
dikenang dalam ingatan manusia.
فَإِنْ لَمْ يُرْزَقْ صَاحِبُهَا الشَّهَادَةَ لَمْ
يَفُتْهُ أَجْرُهَا بِإِذْنِ اللَّهِ
Namun, apabila ia tidak diberi nikmat mati syahid
(dalam pembelaan), maka ia akan tetap mendapat pahala, dengan izin Allah.
ثُمَّ كَيْفَ تَحْمِلُ اسْمَ المُجَاهِدِ بِغَيْرِ
بَذْلِ الجُهْدِ؟
Dengan demikian, bagaimana mungkin seseorang dapat
menyandang gelar mujahid (pejuang) jika ia tidak ingin berkorban?
إِذْ أَنَّ الجِهَادَ بَذْلُ أَكْبَرِ الطَّاقَةِ
وَأَقْصَى الجُهْدِ وَغَايَةِ الوُسْعِ فِي نُصْرَةِ الإِسْلَامِ
Padahal, jihad itu adalah mengerahkan segenap
kemampuan dan usaha yang maksimal dalam membela Islam.
وَيُمَثِّلُ هَذَا المَعْنَى حَدِيثُ ابْنِ مَاجَهْ
Hal itu diungkapkan dalam hadits yang diriwayatkan
oleh Ibnu Majah,
«خَيْرُ
مَعَايِشِ النَّاسِ لَهُمْ : رَجُلٌ
مُمْسِكٌ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Kehidupan manusia yang paling baik adalah
bagi mereka; orang yang memegang tali kendali kuda di jalan Allah.
يَطِيرُ عَلَى مَتْنِهِ كُلَّمَا سَمِعَ هَيْعَةً
أَوْ فَزْعَةً طَارَ عَلَيْهِ إِلَيْهَا، يَبْتَغِي المَوْتَ أَوْ القَتْلَ
مَظَانَّهُ...»
Ia naik di atas punggungnya. Setiap mendengar
panggilan atau teriakan, ia menuju ke tempat tersebut dengan cepat untuk
mencari syahid atau tempat kematiannya..." Hr. Ibnu Majah
وَصُورَةٌ أُخْرَى لِلْمُجَاهِدِ الجَادِّ فِي طَلَبِ
الشَّهَادَةِ مِنْ غَزْوَةِ خَيْبَرَ
Contoh lain dari seorang mujahid yang
sungguh-sungguh dalam mencari syahadah adalah kasus di Perang Khaibar,
حَيْثُ قُتِلَ عَامِرُ بْنُ الأَكْوَعِ - خَطَأً
بِارْتِدَادِ سَيْفِهِ عَلَى رُكْبَتِهِ
ketika Amir bin Akwa terbunuh tanpa sengaja oleh
pedangnya sendiri yang membalik pada lehernya.
فَقَالَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ
: (حَبِطَ عَمَلُهُ) لِظَنِّهِمْ أَنَّهُ
قَتَلَ نَفْسَهُ
Sebagian sahabat mengatakan, "Musnahlah
amalan-amalannya," karena mereka mengira bahwa ia telah bunuh diri.
فَذَهَبَ أَخُوهُ، سَلَمَةُ بْنُ الأَكْوَعِ يَسْأَلُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ
Mendengar hal tersebut, saudaranya, Salmah bin
Akwa' menanyakan hal itu kepada Rasulullah
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
: «إِنَّ لَهُ لَأَجْرَيْنِ - وَجَمَعَ بَيْنَ
أُصْبُعَيْهِ -
Beliau menjawab, "Sesungguhnya, ia memperoleh
dua pahala. Beliau merapatkan kedua jarinya.
إِنَّهُ لَجَاهِدٌ مُجَاهِدٌ، قَلَّ عَرَبِيٌّ مَشَى
بِهَا مِثْلُهُ»
Sebab ia adalah orang yang bersungguh-sungguh
(jahid) dalam berjuang. Sedikit sekali orang Arab Badui yang seperti ia."
Hr. Imam Bukhari 4197
قَالَ ابْنُ دُرَيْدٍ
: رَجُلٌ جَاهِدٌ أَيْ:
جَادٌّ فِي أُمُورِهِ
Berkata Ibnu Duraid, "Bersungguh-sungguh
(jahid) berarti orang yang serius dalam menjalankan pekerjaannya."
وَقَالَ ابْنُ التِّينِ
: الجَاهِدُ مَنْ يَرْتَكِبُ المَشَقَّةَ
Ibnu at-Tin berkata juga, "Bersungguh-sungguh
(jahid) berarti orang yang ingin melakukan pekerjaan yang berat."
وَكَانَتْ شَهَادَةً مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عَلَى
نَيْلِهِ أَجْرَ القَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Dan, kesaksian Rasulullah yang menerangkan bahwa ia
telah memperoleh pahala karena mati syahid,
وَأَجْرَ الجِدِّ وَالنَّشَاطِ فِيهِ رَغْمَ
المَشَقَّةِ
yaitu pahala sebagai usaha yang sungguh-sungguh
walaupun menghadapi rintangan yang berat
وَهَذَا شَأْنُ المُتَحَفِّزِينَ لِلشَّهَادَةِ
Inilah kondisi orang-orang yang termotivasi untuk
mendapatkan syahadah (mati syahid).
وَصُورَةٌ مِنْ غَزْوَةِ أُحُدٍ
Contoh berikutnya ada pada Perang Uhud.
لِأَنَسِ بْنِ النَّضْرِ الَّذِي لَمْ يُكْتَبْ لَهُ
حُضُورُ غَزْوَةِ بَدْرٍ، فَعَاهَدَ رَبَّهُ أَنْ يُعَوِّضَ مَا فَاتَهُ
Ketika Anas bin an- Nadhar tidak bisa ikut Perang
Badar, ia berjanji kepada Allah akan mengganti apa yang telah dilewatkannya,
لَئِنْ أَشْهَدَنِي اللَّهُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ
لَيَرَيَنَّ اللَّهُ مَا أُجِدُّ
"Jika Allah memberiku kesempatan bersama Nabi
, maka Allah akan memperlihatkan apa yang aku inginkan dengan
sungguh-sungguh."
وَحَضَرَ غَزْوَةَ أُحُدٍ وَتَقَدَّمَ بِسَيْفِهِ
لَمَّا رَأَى النَّاسَ يَنْهَزِمُونَ
Ia telah ikut Perang Uhud dan ketika melihat
orang-orang mundur, ia maju dengan pedangnya
وَقَالَ لِسَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ
: أَيْنَ يَا سَعْدُ؟!
إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ الجَنَّةِ دُونَ أُحُدٍ،
فَمَضَى فَقُتِلَ
dan berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz, "Di
manakah engkau, wahai Sa'ad? Sungguh aku telah mencium bau surga di Uhud
ini." Ia terus berperang hingga terbunuh.
فَمَا عُرِفَ حَتَّى عَرَفَتْهُ أُخْتُهُ بِشَامَةٍ
أَوْ بِبَنَانِهِ
Tidak ada yang mengenalinya kecuali saudari
perempuannya, yaitu Basyamah atau anak-anaknya.
وَبِهِ بِضْعٌ وَثَمَانُونَ مِنْ طَعْنَةٍ
وَضَرْبَةٍ، وَرَمْيَةٍ بِسَهْمٍ
Ia terluka sebanyak 80 lebih tusukan, pukulan
pedang dan lemparan panah. Hr. Imam Bukhari 4048
وَفِي وَصْفِ شِدَّةِ قِتَالِهِ فِي أُحُدٍ
Dalam menggambarkan kondisinya pada Perang Uhud,
قَالَ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ
: فَمَا اسْتَطَعْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا صَنَعَ... وَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى شَجَاعَةٍ
مُفْرِطَةٍ فِي أَنَسِ بْنِ النَّضْرِ؛
Sa'ad bin Mu'adz menceritakannya, "Aku tidak
dapat melakukan apa yang telah dilakukannya. Hal itu menunjukkan akan
keberanian Anas bin an-Nadhar yang luar biasa.
بِحَيْثُ إِنَّ سَعْدَ بْنَ مُعَاذٍ مَعَ ثَبَاتِهِ
يَوْمَ أُحُدٍ وَكَمَالِ شَجَاعَتِهِ مَا جَسَرَ عَلَى مَا صَنَعَ أَنَسُ بْنُ
النَّضْرِ
Namun, Sa'ad bin Mu'adz yang tegar dan
keberaniannya yang tinggi tetap tidak mampu melakukan apa yang dilakukan
olehnya." Fathul bari 7/355, 4048
فَلَا تَدَّخِرْ شَيْئًا مِنْ وَقْتِكَ أَوْ جُهْدِكَ
دُونَ أَنْ تَنْصُرَ دِينَكَ عَلَى ثُغْرَةٍ مِنَ الثُّغَرَاتِ
Oleh karena itu, janganlah engkau simpan waktu dan
usahamu tanpa menolong agamamu dalam hal sekecil apa pun,
لِتَكُونَ مِنَ الَّذِينَ جَاهَدُوا فِي اللَّهِ
حَقَّ جِهَادِهِ
agar engkau termasuk orang yang benar-benar
berjuang di jalan-Nya.
وَاسْتَعِدُّوا لِمَقَامِ الشَّهَادَةِ
Dan, bersiaplah untuk mendapatkan derajat sebagai
syuhada.
لَيْسَ المَوْتُ هَدَفًا لِذَاتِهِ
Kematian bukan tujuan utama.
وَلَا ابْتِغَاءُ مَظَانِّ المَوْتِ انْتِحَارًا،
وَلَا تَمَنِّي الشَّهَادَةِ يَأْسًا مِنَ الحَيَاةِ
Mencari bentuk kematian bukan berarti tindakan
bunuh diri, dan mengharapkan mati syahid bukan berarti bersikap putus asa.
كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الجُبْنِ أَنْ تَحْتَمِيَ
بِخَنْدَقٍ
Tidak disebut seorang pengecut orang yang
berlindung di dalam parit.
وَلَا مِنَ التَّعَلُّقِ بِالحَيَاةِ أَنْ
تَسْتَكْمِلَ الأَسْبَابَ
Dan, orang yang mengharapkan hidup dengan
berlindung di dalam parit juga bukan seorang pengecut. Ia adalah orang yang
ingin menyempurnakan sebab.
وَلَا مِنَ الجُرْأَةِ، عَدَمُ التَّحَرُّزِ مِنَ
الأَخْطَارِ
Demikian halnya dengan seorang pemberani. Tidak
berarti dia adalah orang yang tidak berhati-hati akan bahaya.
بَلْ إِنَّ مَزِيدَ يَوْمٍ فِي عُمُرِ المُسْلِمِ
يَزْدَادُ فِيهِ طَاعَةً
Tetapi orang mukmin itu, semakin panjang umurnya
maka ia semakin taat,
وَيَنْكَأُ فِيهِ عَدُوًّا، وَيَغِيظُ بِهِ كَافِرًا
musuhnya semakin tertumpas, dan orang kafir semakin
ketakutan.
وَلَقَدْ عَجِبَ الصَّحَابَةُ، رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ، مِنْ رَجُلَيْنِ أَسْلَمَا مَعًا
Para sahabat pernah merasa aneh terhadap dua orang
laki-laki yang masuk Islam secara bersamaan.
وَكَانَ أَحَدُهُمَا أَشَدَّ اجْتِهَادًا مِنَ
الآخَرِ، فَاسْتُشْهِدَ المُجْتَهِدُ، وَمَاتَ الآخَرُ بَعْدَهُ بِسَنَةٍ
Salah satunya lebih sungguh-sungguh dibandingkan
dengan satunya. Laki-laki yang sungguh-sungguh itu mati. Satu tahun kemudian,
lelaki yang satunya lagi mati.
فَرَأَى طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّ
الثَّانِيَ دَخَلَ الجَنَّةَ قَبْلَ صَاحِبِهِ المُجْتَهِدِ، فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ :
Thalhah bin Ubaidillah melihat bahwa orang yang
kedua masuk surga lebih dulu dibanding orang yang sungguh-sungguh. Rasulullah
bersabda,
مِنْ أَيِّ ذَلِكَ تَعْجَبُونَ؟
"Mengapa engkau merasa aneh?"
فَقَالُوا : يَا
رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا كَانَ أَشَدَّ الرَّجُلَيْنِ اجْتِهَادًا، ثُمَّ
اسْتُشْهِدَ وَدَخَلَ هَذَا الآخَرُ الجَنَّةَ قَبْلَهُ!
Mereka menjawab, "Ya Rasulullah, salah satunya
sang sungguh-sungguh kemudian ia mati lebih dulu, tetapi mengapa yang satunya
ini masuk surga lebih dulu dibanding yang sungguh-sungguh?"
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
: أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ هَذَا بَعْدَهُ سَنَةً؟
Rasulullah menjawab, "Bukankah ia hidup lebih
lama satu tahun dibanding yang sungguh-sungguh?"
قَالُوا : بَلَى،
قَالَ : وَأَدْرَكَ
رَمَضَانَ، فَصَامَ وَصَلَّى كَذَا وَكَذَا مِنْ سَجْدَةٍ فِي السَّنَةِ؟ قَالُوا : بَلَى، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : فَمَا بَيْنَهُمَا
أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
Para sahabat menjawab, "Ya." kemudian
Rasulullah melanjutkan lagi, "Bukankah ia itu menemukan bulan Ramadhan dan
berpuasa, juga melakukan shalat dan bersujud dalam tahun itu?" Para
sahabat menjawab, "Ya." Rasulullah melanjutkan lagi, "Jarak
antara keduanya lebih jauh dibandingkan jarak antara bumi dan langit."
Ibnu Majah 3171/3925
إِنَّ المُسْتَعِدَّ لِلشَّهَادَةِ حَقًّا يَكُونُ
قَدْ وَطَّنَ نَفْسَهُ لِمَا قَدْ يُصِيبُهُ مِنَ البَلَاءِ
Bahwa orang yang sudah siap mati syahid berarti ia
telah mempersiapkan dirinya untuk menerima apa saja yang akan terjadi,
وَرَوَّضَ نَفْسَهُ عَلَى الصَّبْرِ عَنِ الفِرَارِ
dan menguatkan dirinya (bersabar) agar tidak lari
dari medan perang,
وَلَوْ أَدَّى بِهِ هَذَا الصَّبْرُ إِلَى المَوْتِ
walaupun kesabarannya dapat merenggut nyawa.
يَرْوِي البُخَارِيُّ أَنَّ نَافِعًا سُئِلَ : عَلَى أَيِّ شَيْءٍ بَايَعَ
الصَّحَابَةُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ ؟ عَلَى المَوْتِ؟ قَالَ
: لَا، بَلْ بَايَعَهُمْ عَلَى الصَّبْرِ
Bukhari meriwayatkan bahwa Nafi ditanya tentang,
"Atas apa para sahabat memba'iat Rasulullah ?, Apakah untuk
kematian?" Beliau menjawab, "Tidak, tetapi Rasulullah me- merintahkan
mereka untuk sabar." Hr. Imam Bukhari 2958
وَيَلِيهِ فِي صَحِيحِ البُخَارِيِّ حَدِيثٌ عَنْ
سَلَمَةَ يُثْبِتُ البَيْعَةَ عَلَى المَوْتِ
Berikut ini ada riwayat shahih dari Bukhari, yaitu
hadits yang diriwayatkan dari Salamah yang menetapkan bahwa baiat itu untuk
kematian.
فَرَبَطَ ابْنُ حَجَرٍ بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ
رَبْطًا لَطِيفًا؛
Ibnu Hajar menyambungkan dua riwayat tersebut
dengan penjelasan yang sederhana.
فَقَالَ : وَلَا
تَنَافِيَ بَيْنَ قَوْلِهِمْ بَايَعُوهُ عَلَى المَوْتِ، وَعَلَى عَدَمِ
الفِرَارِ؛ لِأَنَّ المُرَادَ بِالمُبَايَعَةِ أَنْ لَا يَفِرُّوا وَلَوْ مَاتُوا،
وَلَيْسَ المُرَادُ أَنْ يَقَعَ المَوْتُ
وَلَا بُدَّ
Ia berkata, "Perkataan antara baiat untuk mati
dan baiat untuk sabar tidak ada pertentangan karena yang dimaksud dengan baiat
adalah jangan lari walaupun sampai mati, dan itu bukan berarti harus mati.
وَهُوَ الَّذِي أَنْكَرَهُ نَافِعٌ وَعَدَلَ إِلَى
قَوْلِهِ : بَلْ
بَايَعَهُمْ عَلَى الصَّبْرِ؛
Itulah maksud yang ditolak oleh Nafi dan digantinya
dengan perkataan 'Tidak, tetapi Rasulullah memerintahkan mereka untuk sabar,
أَيْ : عَلَى
الثَّبَاتِ، وَعَدَمِ الفِرَارِ، سَوَاءٌ أَفْضَى بِهِمْ ذَلِكَ إِلَى المَوْتِ
أَمْ لَا
yang berarti tetap sabar dan tidak lari walau
mengakibatkan ia mati ataupun tidak." Fathul bari 6/118, 2958
وَيُؤَكِّدُ هَذَا المَعْنَى أَنَّ أَبَا أُمَامَةَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَجَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي مَوَاقِفَ
مُتَفَرِّقَةٍ
Makna ini diperkuat dengan riwayat bahwa Abi Umamah
r.a. telah memohon kepada Rasulullah sebanyak tiga kali dalam waktu yang
berbeda-beda.
أَنْ يَدْعُوَ لَهُ بِالشَّهَادَةِ، فَكَانَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ لَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ
: اللَّهُمَّ سَلِّمْهُمْ وَغَنِّمْهُمْ
Ia memohonnya untuk diberi nikmat mati syahid.
Rasulullah hanya berdoa, "Ya Allah, selamatkanlah mereka dan jadikanlah
mereka orang yang menang." Imam Ahmad 5/248
فَالَأَصْلُ أَنَّ حَيَاةَ المُسْلِمِ تَزِيدُ
سَوَادَ المُسْلِمِينَ، وَتُقَوِّي شَوْكَتَهُمْ وَتَغِيظُ الكُفَّارَ
Pada dasarnya, nyawa orang Islam akan menambah
kuantitas umat Islam, menguatkan keperkasaannya dan membuat orang-orang kafir
takut.
وَلَكِنَّهُ مَعَ ذَلِكَ مُهَيَّأٌ لِلثَّبَاتِ،
مُسْتَعِدٌّ لِلصَّبْرِ مَهْمَا عَظُمَ البَلَاءُ
Walaupun demikian, orang Islam siap untuk tegar dan
siap untuk bersabar seberat apa pun penderitaannya.
وَمِثْلُ هَذِهِ التَّرْبِيَةِ عَلَى الِاسْتِعْدَادِ
لِلشَّهَادَةِ هِيَ الَّتِي تَجْعَلُ مَنْ يَنْشُدُ الشَّهَادَةَ جَرِيئًا فِي
الحَقِّ
Pendidikan mental untuk siap mati seperti ini
menjadikannya sebagai keberanian untuk mati syahid dalam membela kebenaran,
كَمَا فِي قَوْلِهِ ﷺ
:
sebagaimana diriwayatkan dalam hadits,
«أَفْضَلُ
الجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ»
Jihad yang paling baik adalah kata-kata yang adil
yang diucapkannya di depan penguasa yang zalim. Abu Daud 3650/4344
وَيُعَلِّقُ الغَزَالِيُّ عَلَى هَذَا المَعْنَى
فَيَقُولُ :
Imam al-Ghazali mengomentari maksud hadits
tersebut,
وَلَمَّا عَلِمَ المُتَصَلِّبُونَ فِي الدِّينِ أَنَّ
أَفْضَلَ الكَلَامِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ، وَأَنَّ صَاحِبَ
ذَلِكَ إِذَا قُتِلَ فَهُوَ شَهِيدٌ - كَمَا وَرَدَتْ بِهِ
الأَخْبَارُ
-
Ketika orang-orang yang militan dalam agamanya
mengetahui bahwa perkataan yang paling baik adalah perkataan adil di hadapan
penguasa yang zalim, maka orang yang mengatakan hal itu ia akan mati syahid
(sebagaimana disebutkan dalam hadits).
قَدَّمُوا عَلَى ذَلِكَ مُوَطِّنِينَ أَنْفُسَهُمْ
عَلَى الهَلَاكِ، وَمُحْتَمِلِينَ أَنْوَاعَ العَذَابِ، وَصَابِرِينَ عَلَيْهِ فِي
ذَاتِ اللَّهِ،
Mereka mempersiapkan diri untuk menanggung mati dan
bersabar atas penderitaan,
وَمُحْتَسِبِينَ لِمَا يَبْذُلُونَهُ مِنْ مُهَجِهِمْ
عِنْدَ اللَّهِ
serta mengorbankan diri untuk mendapatkan yang
terbaik dari Allah." Ihya' ulumuddin 2/343
وَبِغَيْرِ هَذِهِ النَّفْسِيَّةِ تَكُونُ الأُمَّةُ
غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَتَكُونُ نَتِيجَةُ تِلْكَ الغُثَائِيَّةِ أَنَّ
اللَّهَ يَنْتَزِعُ المَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي
قُلُوبِكُمُ الوَهَنَ
Tanpa tujuan seperti ini, maka umat Islam bagaikan
buih sebagai konsekuensi dari Allah. Yakni, mencabut rasa takut atau wahn pada
hati musuh-musuhmu dan menanamkan rasa takut pada hatimu.
وَلَمَّا سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنِ الوَهَنِ
قَالَ : حُبُّ
الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ المَوْتِ
Ketika Rasulullah bertanya tentang makna takut
(wahn), beliau menjawab, "Cinta dunia dan takut mati." Abu Daud
361/4297
وَذَلِكَ الوَهَنُ هُوَ الَّذِي يَجْعَلُ الأُمَّةَ
تَسْتَمْرِئُ الذُّلَّ وَتَرْضَى بِالدَّنِيَّةِ
Rasa takutlah yang menjadikan umat ini terus berada
dalam kehinaan dan rela berada dalam kerendahan dunia.
ثُمَّ كَيْفَ تَكُونُ قَاصِدًا مَنْزِلَةَ
الشُّهَدَاءِ إِنْ لَمْ تَكُنْ صَادِقَ التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ؟!
Bagaimana mungkin engkau ingin mendapatkan derajat
kesyahidan, sedangkan engkau tidak sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah?
يَرْوِي البُخَارِيُّ عَنْ عَائِشَةَ فِي أَجْرِ
الصَّابِرِ عَلَى الطَّاعُونِ قَوْلَهُ ﷺ
:
Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Aisyah r.a.
tentang pahala orang yang bersabar atas penyakit tha'un (kusta).
فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ
فِي بَلَدِهِ صَابِرًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ
لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ
Sabda Rasulullah, Seorang hamba yang tertimpa
penyakit thaun kemudian ia tetap tinggal di kampungnya dengan sabar, dan
meyakini bahwa apa yang menimpanya itu adalah ketentuan Allah, maka telah
dituliskan untuknya pahala orang mati syahid. Hr. Imam Bukhari 5734
ثُمَّ يُعَلِّقُ ابْنُ حَجَرٍ فَيَقُولُ :
Ibnu Hajar mengomentari hadits ini
صَابِرًا أَيْ:
غَيْرَ مُنْزَعِجٍ وَلَا قَلِقٍ.
بَلْ مُسَلِّمًا لِأَمْرِ اللَّهِ، رَاضِيًا
بِقَضَائِهِ،
Sabar berarti tidak berkeluh kesah dan khawatir.
Akan tetapi, ia menerima ketentuan Allah dan rela atas ketentuan-Nya.
وَهَذَا قَيْدٌ فِي حُصُولِ أَجْرِ الشَّهَادَةِ
لِمَنْ يَمُوتُ بِالطَّاعُونِ،
Ini merupakan syarat pertama memperoleh pahala
syahid bagi orang yang mati karena menderita penyakit thoun
وَقَوْلُهُ:
يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ
اللَّهُ لَهُ قَيْدٌ آخَرُ
Adapun yang dimaksud dengan meyakini apa yang
menimpanya adalah ketentuan Allah merupakan syarat kedua untuk memperoleh
pahala mati syahid."
وَمِلَاكُ الأَمْرِ كُلِّهِ فِي الِاسْتِعْدَادِ
لِلشَّهَادَةِ الإِخْلَاصُ وَتَجْرِيدُ النِّيَّةِ مِنَ الشَّوَائِبِ
Inti dari semua ini dalam mempersiapkan diri untuk
mendapatkan syahid adalah ikhlas dan membersihkan diri dengan niat dari segala
bentuk yang merusaknya.
وَتَأَمَّلْ هَذِهِ الصُّورَةَ مِنْ غَزْوَةِ
خَيْبَرَ لِرَجُلٍ يُقَاتِلُ المُشْرِكِينَ
Kita dapat menelaah sebuah fenomena dalam Perang
Khaibar, ketika seorang laki-laki berperang melawan orang-orang musyrik.
رَجُلٌ لَا يَدَعُ لَهُمْ شَاذَّةً وَلَا فَاذَّةً
إِلَّا اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ
"Ada seorang laki-laki yang tidak pernah lari
ataupun bersembunyi dari musuhnya kecuali ia mengikutinya dan membunuhnya
dengan pedang."
فَقِيلَ: مَا أَجْزَأَ
مِنَّا اليَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلَانٌ
Para sahabat berkata, "Tidak ada seorang pun
di antara kita yang memperoleh pahala paling banyak pada hari ini selain laki-
laki tadi." Hr. Imam Bukhari 4202
فَأَخْبَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ فِي النَّارِ؛
لِمَا يَعْلَمُ مِنْ نِفَاقِهِ
Kemudian, Rasulullah memberi tahu bahwa lelaki itu
tempatnya di neraka, karena Rasulullah mengetahui kemunafikannya.
وَتَبِعَهُ صَحَابِيٌّ فَوَجَدَهُ لَمْ يَصْبِرْ
عَلَى جِرَاحِهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ
Para sahabat pun mengintainya dan mendapatkan bahwa
ia adalah orang yang tidak bersabar atas luka yang dideritanya sehingga ia
bunuh diri.
وَلِذَلِكَ جَاءَ فِي الحَدِيثِ
:
Oleh karena itu, dalam sebuah hadits disebutkan
bahwa
إِنَّ أَكْثَرَ شُهَدَاءِ أُمَّتِي أَصْحَابُ
الفُرُشِ، وَرُبَّ قَتِيلٍ بَيْنَ الصَّفَّيْنِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِنِيَّتِهِ
Kebanyakan umatku yang mati syahid adalah
orang-orang yang maju ke medan perang, dan berapa banyak pasukan yang terbunuh
dari kedua pasukan, namun hanya Allah-lah yang tahu niatnya. Imam Ahmad 1/397
فَرُبَّمَا يَمُوتُ رَجُلٌ عَلَى فِرَاشِهِ وَلَا
يُحْرَمُ أَجْرَ الشُّهَدَاءِ؛ لِمَا يَرَى اللَّهُ مِنْ صِدْقِهِ
Mungkin saja seseorang meninggal di atas kasur lalu
ia memperoleh pahala mati syahid dikarenakan Allah melihat kejujuran niatnya.
وَرُبَّمَا يُحْمَلُ رَجُلٌ مُضَرَّجٌ بِدِمَائِهِ
مِنْ أَرْضِ المَعْرَكَةِ، وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الخَاسِرِينَ؛
Dan mungkin saja seseorang dibawa dari medan perang
dengan badan yang berlumuran darah, tetapi ia termasuk orang yang rugi dalam
pandangan Allah
لِمَا شَابَ نِيَّتَهُ مِنْ عُجْبٍ، أَوْ فَخْرٍ،
أَوْ عَصَبِيَّةٍ، أَوْ حُبِّ سُمْعَةٍ
dikarenakan mempunyai niat 'ujub (ingin dipandang),
sombong, fanatik, dan suka membicarakan kebaikannya.
وَقَدْ وَرَدَتْ فِي ذَلِكَ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ
مِنْهَا قَوْلُهُ ﷺ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ
:
Dalam hal ini, telah banyak hadits menceritakannya.
Salah satunya adalah sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
«مَنْ
طَلَبَ الشَّهَادَةَ صَادِقًا أُعْطِيَهَا وَلَوْ لَمْ تُصِبْهُ»
"Barangsiapa yang mencari mati syahid dengan
sungguh-sungguh, maka Allah akan memberinya, walaupun ia tidak mati di medan
perang." Imam Muslim 1908
وَأَخْرَجَهُ الحَاكِمُ بِالَفْظِ : «مَنْ سَأَلَ القَتْلَ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ صَادِقًا ثُمَّ مَاتَ أَعْطَاهُ اللَّهُ أَجْرَ شَهِيدٍ»
Imam Hakim meriwayatkan juga dengan kalimat yang
sama, "Barangsiapa yang meminta mati sayhid di jalan Allah dengan sungguh-
sungguh kemudian ia mati, maka Allah akan memberinya pahala syahid."
وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى لِلْحَاكِمِ : «مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ
بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ»
Dalam riwayat Imam al-Hakim lainnya,
"Barangsiapa yang meminta mati syahid dengan sungguh-sungguh, maka Allah
akan menyamakannya kematiannya pada derajat mati syahid, walaupun ia mati di
atas kasur." Imam Muslim 6/16
وَالإِخْلَاصُ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا
تُنَقِّيهِ إِلَّا مُحَاسَبَةُ النَّفْسِ
Keikhlasan tidak ada yang mengetahui kecuali Allah
dan tidak dapat dibersihkan kecuali dengan melakukan instrospeksi diri.
فَحَاسِبْ نَفْسَكَ، وَرَاقِبْ قَلْبَكَ، وَضَعْ
نَفْسَكَ فِي المِيزَانِ، لِتَرَى مَدَى اسْتِعْدَادِكَ لِلشَّهَادَةِ
Maka, instrospeksilah dirimu, jagalah hatimu, dan
jadikanlah dirimu sebagai penilaian untuk melihat sejauh mana kesiapanmu untuk
mendapatkan mati syahid.
عَسَى أَنْ تَكُونَ
Semoga engkau mendapatkannya
﴿مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ
مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ
أُولَئِكَ رَفِيقًا﴾ [النساء : ٦٩]
"Mereka akan bersama-sama dengan orang-orang
yang diberi karunia oleh Allah, yaitu nabi-nabi, orang-orang yang benar,
orang-orang yang mati syahid, dan orang baik-baik. Merekalah teman yang
sebaik-baiknya. Qs. 04 An-Nisaa' 69
خُلَاصَةُ هَذَا الفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN
مِنْ عُدَّةِ الشَّهَادَةِ
:
Komponen-komponen mati syahid itu adalah:
·
التَّوْبَةُ
الصَّادِقَةُ
Bertobat dengan sungguh-sungguh,
·
إِصْلَاحُ
العَمَلِ
melakukan perbaikan dalam beramal,
·
البَذْلُ
وَالتَّضْحِيَةُ
Siap bederma dan berkorban,
·
الجُرْأَةُ
فِي دَفْعِ العُدْوَانِ
Berani dalam menghadapi musuh,
·
تَقْدِيمُ
أَقْصَى الجُهْدِ فِي خِدْمَةِ الإِسْلَامِ
Berusaha keras dalam membela Islam,
·
البَيْعَةُ
عَلَى المَوْتِ مَاذَا تَعْنِي؟
Berbaiat dengan mempertaruhkan kematian apa
artinya?
المَوْتُ لَيْسَ هَدَفًا لِذَاتِهِ، وَزِيَادَةُ
العُمُرِ زِيَادَةٌ فِي الطَّاعَةِ وَإِغَاظَةٌ لِلْعَدُوِّ
Kematian bukan sebagai tujuan utama. Semakin
bertambah umur, maka semakin bertambah ketaatan dan semakin takut pula para
musuh.
·
الجُرْأَةُ
فِي الحَقِّ تَقْتَضِي الزُّهْدَ فِي الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةَ المَوْتِ
Keberanian dalam membela kebenaran menuntut zuhud
dalam ! kehidupan dunia dan benci akan kematian.
·
صِدْقُ
التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ
Bertawakal yang sungguh-sungguh pada Allah.
·
الإِخْلَاصُ
وَتَجْرِيدُ النِّيَّةِ
Ikhlas dan membersihkan niat dari segala bentuk
yang merusaknya.
طَلَبُ الشَّهَادَةِ بِصِدْقٍ طَرِيقٌ إِلَى
نَيْلِهَا أَوْ نَيْلِ أَجْرِهَا
Cara mendapatkan mati syahid adalah membuka jalan
yang benar dalam memperoleh pahala.
Sumber:
هَذِهِ أَخْلَاقُنَا حِينَ نَكُونُ مُؤْمِنِينَ
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan
- tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan – share Semoga bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar