Label xxx

Senin, 06 Juli 2026

Keteguhan - 05 BAB 06 - Hadzihi Akhlaquna

 

AKHLAK KITA DALAM ILAHIYAH

الثبات

Keenam: Keteguhan

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Zat yang memutar balik hati, teguhkanlah hatiku pada agama-mu. " Shahih - Al Jami'ur Hadist 7987

كَثِيرًا مَا نَجِدُ شَبَابًا يَحِنُّونَ إِلَى الْبِدَايَاتِ الَّتِي كَانُوا يَتَفَجَّرُونَ فِيهَا حَيَوِيَّةً، وَيَتَدَفَّقُونَ حَمَاسًا، وَيُبَالِغُونَ فِي الْحِرْصِ عَلَى دَقَائِقِ السُّنَنِ، نَاهِيكَ عَنِ الْبُعْدِ عَنْ دَائِرَةِ الْحَرَامِ وَالشُّبُهَاتِ. ثُمَّ مَاذَا؟

Banyak sekali pemuda yang sangat bersemangat ketika baru memasuki fase-fase permulaan. Mereka sangat antusias untuk mengetahui sunnah secara detail, kemudian lihatlah apa yang terjadi?

كَلَّتِ النُّفُوسُ، وَفَتَرَتِ الْهِمَمُ، وَاكْتَفَى كُلُّ شَابٍّ بِأَنْ يَكُونَ وَاحِدًا مِنْ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ

Jiwa mereka berubah menjadi lesu, semangat mereka lemah dan setiap pemuda merasa cukup menjadi salah seorang dari masyarakat muslim yang awam saja.

وَهَذَا أَحْسَنُ حَالًا مِمَّنُ انْقَلَبُوا عَلَى أَعْقَابِهِمْ فَغَدُوا يُعَادُونَ الدَّعْوَةَ وَيَسْخَرُونَ مِنْ أَهْلِهَا وَيُحَذِّرُونَ مِنْ سَبِيلِهَا، إِنَّهَا مَعْرَكَةُ تَقْرِيرِ الْمَصِيرِ بَيْنَ الارْتِدَادِ عَلَى الْأَعْقَابِ وَالثَّبَاتِ

Ini masih lebih baik daripada mereka yang langsung berpaling dari Islam lalu memerangi dakwah, menghina para Pendukungnya dan menghalangi jalannya. Ini merupakan Pertarungan penentu antara kemurtadan dan keteguhan.

نَعْنِي بِالثَّبَاتِ الاسْتِمْرَارَ فِي طَرِيقِ الْهِدَايَةِ، وَالالْتِزَامَ بِمُقْتَضَيَاتِ هَذَا الطَّرِيقِ، وَالْمُدَاوَمَةَ عَلَى الْخَيْرِ وَالسَّعْيَ الدَّائِمَ لِلاِسْتِزَادَةِ

Keteguhan yang kami maksud adalah terus-menerus di jalan hidayah (benar), komitmen dengan tuntutan jalan ini, senantiasa bersama kebaikan dan berusaha untuk lebih baik.

وَمَهْمَا فَتَرَ الْمَرْءُ، فَهُنَالِكَ مُسْتَوًى مُعَيَّنٌ لَا يُقْبَلُ التَّنَازُلُ عَنْهُ أَوِ التَّقْصِيرُ فِيهِ، وَإِنْ زَلَّتْ قَدَمُهُ فَلَا يَلْبَثُ أَنْ يَتُوبَ

Jika seseorang mengalami kelesuan, maka ada batas tertentu yang tidak boleh diabaikan. Jika ia mengabaikan, maka ia harus bertobat.

وَرُبَّمَا كَانَ بَعْدَ التَّوْبَةِ خَيْرًا مِمَّا كَانَ قَبْلَهَا، ذَلِكَ هُوَ حَالُ الْمُتَّصِفِ بِخُلُقِ الثَّبَاتِ

Semoga keadaannya setelah bertobat lebih baik daripada sebelumnya. Begitulah keadaan orang memiliki sikap teguh..

وَلِلثَّبَاتِ صُوَرٌ تَشْمَلُ عَدَدًا مِنْ جَوَانِبِ حَيَاةِ الْمُسْلِمِ، مِنْهَا الثَّبَاتُ فِي الْمَعْرَكَةِ كَمَا ثَبَتَ الرَّبُّونَ الْكَثِيرُ مَعَ أَنْبِيَائِهِمْ، وَكَانَ قَوْلُهُمْ

Ada bermacam-macam keteguhan pada berbagai sisi kehidupan seorang muslim, di antaranya teguh dalam pertempuran seperti yang dilakukan oleh pengikut-pengikut setia para nabi. Mereka berkata,

﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا﴾ [آل عمران: ١٤٧]،

"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah (teguhkanlah) pendirian kami." (Ali Imran [3]: 147)

وَالْفِئَةُ الصَّابِرَةُ بِإِمْرَةِ طَالُوتَ الَّذِينَ قَالَ اللَّهُ فِيهِمْ: ﴿وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا﴾ [البقرة: ٢٥٠]،

Begitu juga golongan yang sabar dengan perintah Thalut yang dikisahkan oleh Allah swt., "Tatkala mereka tampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa, 'Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kokohkanlah (teguhkanlah) pendirian kami..." al-Baqarah[2]: 250

وَفِي ذَلِكَ تَوْجِيهٌ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَلْتَجِئَ إِلَى اللَّهِ طَالِبًا مِنْهُ التَّثْبِيتَ

Hal ini merupakan anjuran bagi setiap orang mukmin untuk berlindung dan memohon keteguhan kepada Allah, Umat Islam diperintahkan oleh Allah swt.,

وَخُوطِبَ أَبْنَاءُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا﴾ [الأنفال: ٤٥]

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh) maka berteguh hatilah kamu..." (al-Anfaal [8]: 45)

وَمِنَ الْكَبَائِرِ فِي دِينِنَا الْفِرَارُ مِنَ الزَّحْفِ؛ وَلِذَلِكَ كَانَ مِنَ الْوَصَايَا الْعَشْرِ الَّتِي أَوْصَى بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ

Lari pada saat pertempuran dalam agama kita merupakan dosa besar. Oleh karena itu, di antara sepuluh wasiat Rasulullah saw. kepada Mu'adz bin Jabal,

«وَإِيَّاكَ وَالْفِرَارَ مِنَ الزَّحْفِ وَإِنْ هَلَكَ النَّاسُ، وَإِذَا أَصَابَ النَّاسَ مَوْتَانُ وَأَنْتَ فِيهِمْ فَاثْبُتْ» (١)

"...Janganlah melarikan diri pada hari pertempuran sekalipun kaum muslimin kalah. Jika kaum muslimin tertimpa dua kematian, sedang kamu berada bersama mereka maka teguhlah (jangan melarikan diri)." [[Musnad Ahmad 5/238 awalnya, "Rasulullah saw. berpesan kepadaku dengan sepuluh kalimat, beliau bersabda, "Janganlah menyekutukan Allah dengan suatu apa pun.." ]]

لِأَنَّ الثَّبَاتَ يَزِيدُ الْمُؤْمِنِينَ قُوَّةً، وَيُوقِعُ فِي نُفُوسِ الْعَدُوِّ رَهْبَةً، وَتَزَعْزُعُ الْمَوَاقِفِ يُخْذِلُ الصَّدِيقَ وَيُشَمِّتُ الْعَدُوَّ

Sebab, keteguhan akan menambah kekuatan kaum muslimin dan menakutkan musuh, sedangkan rasa ketakutan (tidak teguh) melemahkan semangat kawan dan membuat musuh senang.

وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَمِّقُ هَذَا الْمَعْنَى يَوْمَ الْأَحْزَابِ وَهُوَ يَنْقُلُ التُّرَابَ وَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَطْنَهُ

Pada Perang Ahzab (ketika menggali parit) Rasulullah saw. menanamkan nilai mulia ini sedang dia memindahkan tanah dan perutnya sudah kotor berdebu.

وَهُوَ يَقُولُ: «لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَيْنَا، وَثَبِّتِ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا، إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا» (٢)

Beliau berdoa, Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu niscaya kami tidak mendapat petunjuk, tidak bersedekah, dan tidak shalat. Maka turunkanlah ketenangan pada kami, tetapkanlah kaki kami (teguhkanlah kami) ketika berhadapan (dengan musuh). Mereka telah menzalimi kami, mereka ingin menimpakan bencana pada bapak kami," Shahih Bukhari, kitab Jihad, bab 34 hadits 2837 (al-Fat-h 6/46).

وَلِأَنَّ مَسْأَلَةَ الثَّبَاتِ عَلَى الدِّينِ قَضِيَّةٌ تَشْغَلُ فِكْرَ الْمُسْلِمِ فَإِنَّهُ يُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ بِهَا

Keteguhan pada agama merupakan masalah yang harus dipikirkan oleh seorang muslim. la harus memperbanyak doa untuk memperoleh keteguhan.

فَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِهِ: «يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ» (٣)

Rasulullah saw. sering berdoa, "Wahai Zat yang memutarbalikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu." Musnad Ahmad 3/112.

وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْشَى عَلَى نَفْسِهِ فِي مُوَاجَهَةِ الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ يُدَاهِنَ أَوْ يَلِينَ، وَلِذَلِكَ خَاطَبَهُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ بِفَضْلِهِ عَلَيْهِ بِأَنْ أَخْلَصَ وَلَاءَهُ لِلَّهِ

Dalam menghadapi masyarakat jahiliah Rasulullah saw. khawatir dirinya menjadi lemah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar ia selalu setia kepada-Nya,

﴿وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا * إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ﴾ [الإسراء: ٧٤، ٧٥]

"Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan padamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan (begitu pula) siksaan berlipat ganda sesudah meninggal dunia..." (al-Israa [17]: 74-75)

فَلْيَحْذَرِ الدُّعَاةُ وَهُمْ يُوَاجِهُونَ الطُّغَاةَ مِنْ زَلْزَلَةِ الْأَقْدَامِ وَزَعْزَعَةِ الْوَلَاءِ

Hendaklah para dai berhati-hati dalam menghadapi orang-orang yang zalim, jangan sampai kaki mereka gemetar dan kesetiaannya (kepada Allah) menjadi labil.

وَقَدْ حَذَّرَ حُذَيْفَةُ الْعُلَمَاءَ الْعُبَّادَ لِأَنَّهُمْ قُدْوَةٌ: «يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ اسْتَقِيمُوا .. فَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا» (١)، 

Khudzaifah mengingatkan para ulama karena mereka merupakan suri tauladan,

"Wahai para ulama, istiqamahlah (tetaplah pada jalan yang lurus), jika kalian ke kiri dan ke kanan, maka sungguh, kalian telah jauh tersesat. " Shahih Bukhari, kitab al-l'tisham, bab 2, hadits 7282 (al-Fat-h.13/250).

وَلَوْ أَنَّ ضَلَالَ الْمُتَذَبْذِبِ يَمِينًا وَشِمَالًا يَقْتَصِرُ عَلَيْهِ لَهَانَ الْأَمْرُ، وَلَكِنْ يُفْتَنُ بِضَلَالِهِ آخَرُونَ

Jika ulama mengalami kesesatan, maka itu hanya mem-bahayakan dirinya sendiri dan akibatnya tidak terlalu parah, tetapi sayang kesesatannya sangat membahayakan orang banyak.

وَقَدْ كَانَ مِنْ وَسَائِلِ أَهْلِ الْكِتَابِ فِي زَعْزَعَةِ صُفُوفِ الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَتَظَاهَرُوا بِالدُّخُولِ فِي الْإِسْلَامِ، ثُمَّ يَرْتَدُّوا لِيَرْتَدَّ مَعَهُمْ آخَرُونَ

Yahudi dan Nasrani berusaha menggoyahkan barisan kaum muslimin dengan cara berpura-pura masuk Islam kemudian mereka murtad agar orang lain juga ikut murtad,

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ: ﴿آمَنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾ [آل عمران: ٧٢]

"Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya), 'Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali kepada (kekafiran)." (Ali Imran [3]: 72)

فَالسَّعِيدُ مَنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ لِلثَّبَاتِ، وَخَتَمَ لَهُ بِخَيْرٍ وَمَاتَ وَهُوَ يَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِلَى أَنْ يَرْزُقَهُ اللَّهُ التَّثْبِيتَ حِينَ يُسْأَلُ

Berbahagialah orang yang diberikan keteguhan oleh Allah swt. dan mati dalam keadaan husnul khatimah, mengerjakan amal kebaikan menuju surga hingga ia diberikan keteguhan pada saat menghadapi pertanyaan (di alam kubur).

وَلَوْ تَأَمَّلْتَ فِي أَحَادِيثِ الْحَوْضِ مِنْ صَحِيحِ مُسْلِمٍ لَوَجَدْتَ أُنَاسًا مُنِعُوا مِنْهُ وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ

Jika Anda memperhatikan hadits-hadits tentang al-Haudh (telaga Rasulullah di akhirat) pada kitab Shahih Muslim, niscaya Anda akan mendapatkannya karena banyak orang yang tidak bisa sampai ke telaga tersebut sedang Rasulullah berkata,

«يَا رَبِّ أَصْحَابِي» فَيُقَالُ: «إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ» فَيَدْعُو عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي»

"Wahai Tuhan, mereka sahabatku." Lalu dikatakan, "Engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (perbuat) setelah kamu mati." Kemudian Rasulullah berkata, "Binasalah binasalah bagi orang yang mengubah setelah aku mati."

وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى يُقَالُ لَهُ: «وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ»، فَكَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ أَحَدُ رُوَاةِ هَذَا الْحَدِيثِ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نَرْجِعَ عَلَى أَعْقَابِنَا أَوْ نُفْتَنَ عَنْ دِينِنَا» (٢)

Dalam riwayat lain dikatakan kepada Nabi saw., "Demi Allah, mereka berpaling (menjadi murtad)." Ibnu Abu Malikah, salah seorang perawi hadits berdoa, "Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kemurtadan." Shahih Muslim, kitab al-Fadhail, bab 9, hadits 2289 dan 2295 (Syarh an-Nawawi 8/58).

وَكَلِمَةُ «مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ» تُوحِي بِالتَّرَاجُعِ الْبَطِيءِ الْمُتَوَاصِلِ الْمُؤَدِّي إِلَى الْهَاوِيَةِ. وَرُبَّمَا يَصْعُبُ الرُّجُوعُ بَعْدَ طُولِ الاسْتِدْرَاجِ. فَهَنِيئًا لِمَنِ اسْتَدْرَكَ نَفْسَهُ لِئَلَّا تَزِلَّ قَدَمُهُ بَعْدَ ثُبُوتِهَا

Kata "Maa barihuu yarji'uun" meng-isyaratkan bahwa berpaling secara perlahan-lahan dan terus-menerus sampai ke jurang yang dalam (neraka Hawiyah). Bahkan, sangat sulit untuk kembali. Berbahagialah orang yang dapat mengendalikan dirinya sehingga imannya tidak goyah.

نَجِدُ كَثِيرًا مِنَ الْأَدْعِيَةِ تَرْكِزُ عَلَى مَعْنَى الثَّبَاتِ، وَمِنْ ذَلِكَ دُعَاءُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا لَا يَنْفَدُّ» (١) 

Banyak doa-doa untuk memohon keteguhan, seperti doa Abdullah bin Mas'ud,

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang tidak goyah dan nikmat yang tidak habis." Musnad Ahmad 1/400, dari doa Ibnu Mas'ud.

وَقَالَ شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ نَدْعُو بِهِنَّ فِي صَلَاتِنَا: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَأَسْأَلُكَ عَزِيمَةَ الرُّشْدِ» (٢)


Syadad bin Aus berkata, "Rasulullah saw. telah mengajarkan beberapa kata untuk kita pakai berdoa dalam shalat kita, 'Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam setiap masalah, dan aku memohon petunjuk kepada-Mu." Musnad Ahmad 4/125 awalnya, "Jika seseorang beranjak ke tempat tidurnya..."

وَمِنْ صُوَرِ الثَّبَاتِ فِي الْفِتَنِ: الصَّبْرُ فِي أَيَّامِ الصَّبْرِ الَّتِي وَصَفَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِقَوْلِهِ

Di antara macam-macam keteguhan adalah bersabar pada hari-hari seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya,

«الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ»، وَفِي رِوَايَةٍ: «يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ» (٣)

"Bersabar pada hari-hari itu bagai memegang bara api."

Dalam riwayat lain, "Suatu zaman akan datang kepada manusia, di mana orang yang bersabar mempertahankan agamanya pada waktu itu bagaikan orang yang memegang bara api." [[Riwayat pertama oleh Abu Daud dan at-Tirmidzi, sedangkan riwayat kedua oleh at-Tirmidzi saja. (Sanad kedua hadits tersebut dinilai lemah oleh al-Arnauth, lalu ia menguatkannya dengan beberapa syahid Jami' al-Ushul 10/403 hadits 7453 dan 7454).]]

وَمَنْ ذَا الَّذِي يَثْبُتُ قَابِضًا عَلَى الْجَمْرِ؟! لِذَلِكَ بَشَّرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِأَنَّ الثَّابِتَ مِنْ هَؤُلَاءِ لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ: «إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ» (٤)

Maką siapakah yang tetap teguh memegang bara api? Oleh karena itu, Rasulullah saw. memberi kabar gembira bahwa orang yang teguh (mempertahankan agamanya) mendapat pahala seperti pahala lima puluh sahabat Rasul, Sesungguhnya akan datang hari-hari kepada kalian agar bersabar, bagi seorang yang mempertahankan agamanya maka pahalanya seperti pahala lima puluh orang.” Silsilah al-Ahadits adh-Dha'ifah 1/812 hadits 494. 

وَفِي أَشَدِّ مَا يَلْقَاهُ الْمُسْلِمُونَ مِنَ الْفِتَنِ حِينَ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ وَيُعِيثُ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِنَّ الْوَصِيَّةَ الْأَسَاسِيَّةَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ الَّتِي يُوصِي بِهَا أُمَّتَهُ حِينَئِذٍ: «يَا عِبَادَ اللَّهِ اثْبُتُوا» (٥)

Malapetaka besar yang akan menimpa kaum muslimin adalah ketika Dajjal keluar dan merusak di mana-mana. Wasiat Rasulullah saw. untuk umatnya pada saat itu adalah, "Wahai hamba-hamba Allah, teguhlah kalian." Shahih Sunan Ibnu Majah 2/386 hadits 3294/4075.

وَمِنْ أَهَمِّ صُوَرِ الثَّبَاتِ الْمُدَاوَمَةُ عَلَى الطَّاعَاتِ: فَالْمَطْلُوبُ فِي بَعْضِهَا الْمُثَابَرَةُ عَلَيْهَا. يَرْوِي التِّرْمِذِيُّ: «مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَنِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ» (١)

Di antara macam-macam keteguhan yaitu senantiasa me-ngerjakan amal-amal ketaatan. Dan hal ini membutuhkan ketekunan. At-Tirmidzi meriwayatkan, "Barangsiapa senantiasa mengerjakan dua belas rakaat shalat sunnah niscaya Allah membangun rumah untuknya di surga." Shahih al-Jami', hadits 6183 (shahih),

وَفِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ تَقُولُ أُمُّ حَبِيبَةَ رَاوِيَةُ الْحَدِيثِ، وَيَقُولُ كُلٌّ مِنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ وَالنُّعْمَانِ بْنِ ثَابِتٍ مِنْ رِجَالِ السَّنَدِ: «مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ» (٢)

Pada riwayat Muslim Ummu Habibah perawi hadits berkata, ""Amr bin Aus, an-Nu'man bin Tsabit (para perawi hadits tersebut) berkata, 'Aku tidak pernah meninggalkannya (shalat sunnah dua belas rakaat) sejak aku mendengar hadits itu." Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 15, hadits 728 (Syarh an-Nawawi 31 252).

وَتَقُولُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: «وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ» (٣)

Aisyah r.a. bercerita tentang Rasulullah, "Ibadah yang paling dicintainya adalah ibadah yang dikerjakan dengan tekun oleh seseorang." Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 31, hadits 221, (Syarh an-Nawawi 31321). 


وَعِنْدَ مُسْلِمٍ كَذَلِكَ: «وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتِ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ» (٤)

Demikian juga pada riwayat Muslim, "Dan apabila Aisyah r.a. mengerjakan suatu pekerjaan maka ia menekuninya." Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 30, hadits 218 (Syarh an-Nawawi 3/319).

وَحِينَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟» قَالَ: «أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ» (٥)

Ketika Rasulullah saw. ditanya, "Perbuatan seperti apa yang paling dicintai Allah?" Beliau bersabda, "Yang ditekuni (senantiasa dilakukan) walaupun sedikit. Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 30, hadits 216 (Syarh an-Nawawi 3/318).

وَكَانَ آلُ مُحَمَّدٍ ﷺ إِذَا عَمِلُوا عَمَلًا أَثْبَتُوهُ (١)، يَقُولُ النَّوَوِيُّ: «أَيْ لَزِمُوهُ وَدَاوَمُوا عَلَيْهِ» (٧)

Keluarga Rasulullah saw. tekun jika mengerjakan suatu pekerjaan. Ibid., hadits 215.

An-Nawawi menjelaskan, "Mereka senantiasa menekuninya. " Syarh an-Nawawi li Shahih Muslim 3/319.

وَالثَّبَاتُ مَظْهَرٌ بَارِزٌ لِلاِسْتِقَامَةِ، لِأَنَّ الْمُتَذَبْذِبَ الْمُتَقَلِّبَ لَا يَقْدِرُ عَلَى الثَّبَاتِ، وَلَا يَقْوَى عَلَى الاسْتِقَامَةِ، فَقَدْ كَانَ الْوَاحِدُ مِنَ الصَّحَابَةِ يَقُولُ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِعَمَلٍ أَسْتَقِيمُ عَلَيْهِ وَأَعْمَلُهُ»، فَأَجَابَهُ بِأَوْجَبِ الْوَاجِبَاتِ وَقْتَهَا: «عَلَيْكَ بِالْهِجْرَةِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهَا» (١)

Keteguhan merupakan bentuk nyata keistiqamahan, karena orang yang bimbang tidak bisa teguh dan istiqamah. Salah seorang sahabat pernah berkata kepada Rasulullah saw. "Wahai Rasulullah, beri tahukan kepadaku, suatu perbuatan yang dapat aku tekuni." Maka beliau memberi tahunya suatu perbuatan yang paling wajib pada saat itu, "Engkau harus berhijrah, karena hijrah merupakan (amalan) yang tiada bandingannya. " Shahih Sunan an-Nasa'i, kitab Bai'at, bab 14 hadits 3885 (Hasan, Shahih).

وَكَانَ مِنْ دَقِيقِ مُلَاحَظَةِ الصَّحَابَةِ لِظَاهِرَةِ الثَّبَاتِ فِي سُلُوكِ كُلِّ فَرْدٍ أَنَّ بُرَيْدَةَ بْنَ الْحُصَيْبِ لَقِيَ سَلَمَةَ بْنَ الْأَكْوَعِ قَادِمًا مِنَ الْبَادِيَةِ فَظَنَّ أَنَّهُ قَطَعَ هِجْرَتَهُ إِلَى الْمَدِينَةِ وَأَقَامَ خَارِجَهَا فَقَالَ لَهُ: «ارْتَدَدْتَ عَنْ هِجْرَتِكَ يَا سَلَمَةُ؟!» فَقَالَ سَلَمَةُ: «مَعَاذَ اللَّهِ إِنِّي فِي إِذْنٍ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ» (٢)

Karena para sahabat sangat memperhatikan fenomena keteguhan pada setiap individu, Buraidah bin al-Hashib bertanya kepada Salamah bin al-Aku'. Ketika Salamah baru datang dari suatu kampung, ia menyangka Salamah tidak jadi hijrah ke Madinah tetapi justru tinggal di luar Madinah, "Wahai Salamah, apakah engkau tidak jadi hijrah?" Salamah menjawab, "Aku berlindung kepada Allah, aku sudah diizinkan oleh Rasulullah saw," Musnad Ahmad 4/55.

وَمِنَ الْمَلْعُونِينَ عَلَى لِسَانِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: «الْمُرْتَدُّ أَعْرَابِيًّا بَعْدَ هِجْرَتِهِ» (٣)

Termasuk orang-orang yang dilaknat dengan lisan Rasululah saw. adalah, "Orang Badui yang murtad setelah ia berhijrah." Shahih al-Jami' hadits 5 (shahih).

هَذِهِ صُورَةُ الْجِيلِ الْفَرِيدِ كَيْفَ يَحْرِصُ عَلَى الثَّبَاتِ وَيَتَوَاصَوْنَ بِهِ وَيَخْشَوْنَ الانْقِلَابَ عَلَى الْأَعْقَابِ، وَإِلَى عَامِ «حَجَّةِ الْوَدَاعِ» وَالرَّسُولُ ﷺ يَدْعُو لِلصَّحَابَةِ بِالثَّبَاتِ عَلَى هِجْرَتِهِمْ إِلَى الْمَدِينَةِ لِتَقْوَى بِهِمُ الدَّوْلَةُ النَّاشِئَةُ: «اللَّهُمَّ أَمْضِ لِأَصْحَابِي هِجْرَتَهُمْ، وَلَا تَرُدَّهُمْ عَلَى أَعْقَابِهِمْ» (٤)

Demikianlah sekilas gambaran kehidupan generasi istimewa (generasi sahabat) yang sangat menjaga keteguhan, saling menasihati dalam hal keteguhan itu dan sangat mengkhawatirkan kemurtadan. Hingga tahun haji Wada' Rasulullah saw. senantiasa berdoa untuk para sahabatnya, agar mereka tetap teguh dalam hijrahnya ke Madinah demi terwujudnya negara baru yang kuat, "Ya Allah, langsungkanlah hijrah para sahabatku dan janganlah Engkau kembalikan mereka ke belakang (kepada kemusyrikan). " Shahih Bukhari, kitab al-Janaiz, bab 36, hadits 1295 (al-Fat-h3/164).

وَالْقَوْلُ الْجَامِعُ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي بَيَانِ حَقِيقَةِ الْإِسْلَامِ: إِيمَانٌ وَثَبَاتٌ، فَقَدْ قِيلَ لَهُ: «قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ» قَالَ: «قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ» (٥)

Hadits Nabi yang mencakup arti luas dalam menjelaskan bahwa hakikat Islam adalah merupakan keimanan dan keteguhan, "(Seorang sahabat berkata, 'Wahai Rasul, beri tahukan aku suatu ucapan yang tidak perlu aku tanya lagi pada orang lain selainmu."

Rasulullah saw. bersabda, "Katakan, 'Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah (teguhlah)." Shahih Muslim, kitab Iman, bab Jami'u Aushaf al-Islam.


خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN

- أَكْثَرُ الشَّبَابِ قَدْ لَا يَسْتَمِرُّونَ عَلَى حَمَاسِ الْبِدَايَاتِ

Kebanyakan pemuda tidak mempertahankan semangat yang ada pada fase-fase permulaan.

- مِنْ صُوَرِ الثَّبَاتِ

Macam-macam keteguhan, di antaranya adalah:

• الثَّبَاتُ فِي مُوَاجَهَةِ الْعَدُوِّ

Teguh dalam menghadapi musuh.

• الثَّبَاتُ عَلَى دِينِ اللَّهِ

Teguh pada agama Allah

• الثَّبَاتُ عَلَى الاسْتِقَامَةِ

Teguh dalam beristiqamah.

• الثَّبَاتُ فِي أَيَّامِ الْفِتَنِ

Teguh pada hari-hari fitnah (huru-hara menjelang kiamat).

• الْمُدَاوَمَةُ عَلَى فِعْلِ الطَّاعَاتِ

Tekun melaksanakan berbagai bentuk ketaatan.

- الْمُتَذَبْذِبُ قَدْ يُفْتِنُ النَّاسَ بِعَدَمِ ثُبُوتِهِ

Orang yang bimbang atau ragu dapat membingungkan sebab ketidakteguhannya. at membingungkan masyarakat

- الثَّبَاتُ مَظْهَرٌ بَارِزٌ لِلاِسْتِقَامَةِ

◆ Keteguhan adalah bentuk nyata istiqamah.

- مِمَّا يُعِينُ عَلَى الثَّبَاتِ التَّوَاصِي بِهِ

◆ Saling menasihati dan mengingatkan dapat meneguhkan seseorang.

- حَقِيقَةُ الْإِسْلَامِ: إِيمَانٌ وَثَبَاتٌ

→ Hakikat Islam adalah merupakan keimanan dan keteguhan.


📙📙📙 Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

 The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. Dipersilahkan - share

Senin, 15 Juni 2026

Segera Bertaubat - 05 BAB 05 Hadzihi Akhlaquna -

AKHLAK KITA DALAM ILAHIYAH


Kelima: Segera Bertaubat

فَخَيْرُهُمْ بَطِيءُ الْغَضَبِ سَرِيعُ الْفَيْئَةِ

"Yang terbaik di antara mereka adalah yang tidak mudah marah dan yang segera bertobat."

مَنْ يُرَاجِعْ سِيَرَةَ خَيْرِ الْقُرُونِ يَجِدُ أَنَّ صَحَابَةَ رَسُولِ اللهِ ﷺ لَمْ يَكُونُوا مُتَمَيِّزِينَ بِالْعِصْمَةِ مِنَ الْوُقُوعِ فِي الْخَطَإِ مَعَ الْخَلْقِ أَوِ الْخَالِقِ

Orang yang menelaah perjalanan hidup generasi pada abad terbaik (orang-orang terdahulu) akan mengetahui bahwa para sahabat Rasulullah saw. tidak memiliki keistimewaan berupa perlindungan dari kesalahan, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap Allah swt.

وَإِنَّمَا كَانُوا بَشَرًا تَمَيَّزُوا بِأَنَّهُمْ

Namun, mereka hanyalah orang-orang yang mempunyai keistimewaan,

«إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾» [آلُ عِمْرَانَ: ١٣٥]

"...Yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, kemudian mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, karena siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Ali Imran [3]: 135)

وَأَنَّهُمْ «إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ ﴿٢٠١﴾» [الْأَعْرَافِ: ٢٠١]

Mereka, "...Apabila mereka ditimpa waswas dari setan. Mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan- kesalahannya." al-A'raaf [7]: 201

هٰذِهِ الْمُبَادَرَةُ إِلَى التَّوْبَةِ وَتِلْكَ الْمُسَارَعَةُ إِلَى الرُّجُوعِ لِلْحَقِّ هِيَ مَا نَعْنِيهِ بِسُرْعَةِ الْفَيْئَةِ

Segera bertobat dan segera kembali kepada kebenaran, maka inilah yang kami maksud dengan Suratul Farah.

كَثِيرًا مَا تَكُونُ بَعْضُ الطَّبَائِعِ الَّتِي لَمْ تُهَذَّبْ سَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ زَلَّةِ الْقَدَمِ وَالْوُقُوعِ فِي بَعْضِ الْخُصُومَاتِ

Sebagian watak yang tidak terdidik dengan baik, maka akan sering menyebabkan kaki tergelincir dan terjatuh kepada pertengkaran. 

وَقَدْ وَرَدَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ ذَكَرَ طَبَائِعَ النَّاسِ وَأَخْلَاقَهُمْ فِي إِحْدَى خُطَبِهِ فَقَالَ

Pada salah satu khotbah Rasulullah saw. menyebutkan watak-watak manusia dan perangai-perangai mereka. Beliau bersabda,

«يَكُونُ الرَّجُلُ سَرِيعَ الْغَضَبِ قَرِيبَ الْفَيْئَةِ فَهٰذِهِ بِهٰذِهِ، وَيَكُونُ بَطِيءَ الْغَضَبِ بَطِيءَ الْفَيْئَةِ فَهٰذِهِ بِهٰذِهِ. فَخَيْرُهُمْ بَطِيءُ الْغَضَبِ سَرِيعُ الْفَيْئَةِ، وَشَرُّهُمْ سَرِيعُ الْغَضَبِ بَطِيءُ الْفَيْئَةِ». (١)

"...Ada orang yang cepat marah dan cepat pula bertobat. 573 Dua hal ini seimbang. Ada yang tidak mudah marah dan lambat bertobat, dua hal ini juga seimbang. Yang terbaik di antara mereka adalah yang tidak mudah marah dan yang segera bertobat, sedangkan yang terburuk adalah orang yang mudah marah dan lambat bertobat. " [[Musnad Ahmad 3/61 dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam kitab al-Fitan Pada sebagian sanadnya terdapat perawi yang dan ia menilai hadits itu hasan. Pada sebagian dha'iif, sebagian kalimat hadits tersebut, memiliki banyak syahid (penguat). Jami' al-Ushul11/848. ]]

وَحَبْلُ الْخَيْرِيَّةِ بِيَدِكَ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُ، وَمَا عَلَيْكَ إِلَّا أَنْ تَضْبِطَ عَوَاطِفَكَ فَلَا تَغْضَبْ وَلَا تُسِيءْ

Wahai orang beriman, kendali kebaikan ada di tangan Anda, tugas pertama Anda hanya mengatur emosional sehingga Anda tidak menjadi pemarah dan menyakiti orang lain.

وَإِنْ لَمْ تَتَمَالَكْ نَفْسَكَ فَلَا يَطُلَّ عَلَيْكَ الْأَمَدُ وَيَتَرَاكَمْ عَلَى قَلْبِكَ الرَّانُ، وَإِنَّمَا تَفِيءُ إِلَى دَائِرَةِ الْحَقِّ بِسُرْعَةٍ، وَتَرْجِعُ إِلَى جَادَّةِ الصَّوَابِ عَلَى عَجَلٍ

Jika suatu saat Anda tidak menguasai diri, maka hendaklah jangan berlama-lama dalam keadaan seperti itu, dan segeralah kembali kepada kebenaran.

وَلَمْ يَخْلُ بَيْتٌ مِنْ بُيُوتِ رَسُولِ اللهِ ﷺ مِنْ خُصُومَاتٍ تَقَعُ بَيْنَ زَوْجَاتِهِ

Di rumah-rumah Nabi ﷺ juga tidak lepas dari pertengkaran yang terjadi antara istri-istri beliau.

وَلٰكِنِ انْظُرُوا إِلَى شَهَادَةِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِي ضَرَّتِهَا زَيْنَبَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، وَإِلَى مَا ذَكَرَتْ مِنْ خُلُقِ زَيْنَبَ

Tetapi lihatlah kesaksian Aisyah r.a. terhadap madunya, yaitu Zainab r.a. dan perangai Zainab yang disebutkannya,

«وَلَمْ أَرَ امْرَأَةً قَطُّ خَيْرًا مِنْ زَيْنَبَ، وَأَتْقَى لِلَّهِ، وَأَصْدَقَ حَدِيثًا، وَأَوْصَلَ لِلرَّحِمِ، وَأَعْظَمَ صَدَقَةً، وَأَشَدَّ ابْتِذَالًا لِنَفْسِهَا فِي الْعَمَلِ الَّذِي تَتَصَدَّقُ بِهِ وَتَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى، مَا عَدَا سُورَةً مِنْ حِدَّةٍ كَانَتْ فِيهَا، تُسْرِعُ مِنْهَا الْفَيْئَةُ». (١)

"...Aku tidak melihat perempuan yang lebih baik daripada Zainab. Ia sangat bertakwa, sangat jujur, selalu menyambung silaturahmi, selalu banyak bersedekah, sangat bersungguh-sungguh dalam bekerja untuk bersedekah dan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi ia (terkadang) marah lalu segera sadar kembali (segera bertobat)." Shahih Muslim, kitab Fadhai ash-Shahabah, bab 13, hadits 83 (Syarh an-Nawawi 15/215). 

فَلَمْ تَكُنْ تُنْكِرُ عَلَيْهَا سِوَى حِدَّةً فِي طَبْعِهَا، وَلٰكِنَّهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهَا كَانَتْ تُسَارِعُ فَتَسْتَدْرِكُ وَتُصْلِحُ مَا نَتَجَ عَنْ حِدَّتِهَا

Aisyah r.a. tidak memungkiri Zainab r.a. kecuali kekerasan wataknya, namun ia segera sadar dan memperbaiki apa yang terjadi akibat kekerasannya itu.

وَلِذٰلِكَ، حِينَ تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَيِ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، يُغْفَرُ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ إِلَّا الْمُتَخَاصِمَيْنِ، فَيُقَالُ: «أَنْظِرُوا هٰذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا». (٢)

Oleh karena itu, ketika amal-amal perbuatan diserahkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis, maka Allah swt. mengampuni setiap orang mukmin kećuali dua orang yang bermusuhan. Dikatakan, "Tangguhkanlah dua orang ini sampai keduanya berdamai." Sunan Abu Daud, kitab Adab, bab 55, hadits 4916 (shahih).

وَفِي رِوَايَةٍ: «اتْرُكُوا هٰذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا». (٣)

Pada riwayat yang lain, "Biarkanlah dua orang ini hingga keduanya kembali sadar (bertobat)." Shahih Muslim, kitab al-Birr, bab 11, hadits 2565 (Syarh an-Nawawi 16/358).

وَ«خَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ». (٤)

"Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai salam." Shahih Bukhari, kitab Adab, bab 62, hadits 6077 (al-Fat-h1 (al-Fat-h 10/492).

وَالْمُتَوَقَّعُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الصَّادِقِ أَنَّهُ يُسْرِعُ الْفَيْئَةَ وَيُسَابِقُ إِلَى الصُّلْحِ. أَمَّا مَنْ يَلِجُّ فِي الْخُصُومَةِ وَيَغْرَقُ فِي التَّمَادِي، فَإِنَّ: «أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ». (٥)

Seorang mukmin sejati akan selalu segera kembali sadar dan berdamai, sedangkan orang yang tenggelam dalam pertengkaran maka sesungguhnya, "Orang yang sangat dibenci Allah adalah al-alalldul khashimi." Shahih Bukhari, kitab al-Ahkam, bab 34, hadits 7188 (al-Fat-h 13/180).

وَفَسَّرَهُ ابْنُ حَجَرٍ بِأَنَّهُ: «شَدِيدُ الْعِنَادِ، كَثِيرُ الْجَدَلِ وَالْخُصُومَةِ». (٦)

Artinya menurut Ibnu Hajar, "Sangat buruk perangainya dan sering bertengkar. Fat-hu al-Baari 8/188.

بَلْ إِنَّ مِنْ صِفَاتِ الْمُنَافِقِ أَنَّهُ إِذَا خَاصَمَ فَجَرَ. (١)

Di antara sifat-sifat orang munafik adalah, "Jika ia bertengkar, maka ia berbuat fujur." Shahih Bukhari, kitab Iman, bab 24, hadits 34.

يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ: «وَالْفُجُورُ: الْمَيْلُ عَنِ الْحَقِّ وَالِاحْتِيَالُ فِي رَدِّهِ». (٢)

Ibnu Hajar berpendapat, "Fujur adalah menyimpang dari kebenaran dan berupaya membuang kebenaran tersebut." Fat-hu al-Baari 1/90.

وَكَمْ يَكُونُ عَظِيمًا ذٰلِكَ الَّذِي يَذِلُّ لِلْمُؤْمِنِينَ، وَيَئُوبُ إِلَى الرُّشْدِ، وَيُعَجِّلُ إِلَى رَبِّهِ لِيَرْضَى عَنْهُ

Berapa banyak orang dapat menjadi agung karena bersikap rendah diri terhadap orang-orang beriman, segera kembali kepada petunjuk Tuhannya agar Dia meridhainya.

وَلَقَدْ ضَرَبَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَثَلًا رَفِيعًا فِي سُرْعَةِ الْفَيْئَةِ، حِينَ عَلِمَ أَنَّ مِسْطَحَ بْنَ أُثَاثَةَ — الَّذِي يَأْكُلُ مِنْ نَفَقَةِ أَبِي بَكْرٍ — كَانَ قَدْ شَارَكَ فِي اتِّهَامِ ابْنَتِهِ السَّيِّدَةِ عَائِشَةَ بِحَدِيثِ الْإِفْكِ، فَأَقْسَمَ أَبُو بَكْرٍ أَلَّا يُنْفِقَ عَلَيْهِ

Abu bakar ash-Shiddiq r.a. merupakan contoh yang mulia dalam hal bertobat, ketika ia tahu bahwa Misthah bin Atsatsah yang mendapat nafkah darinya ikut serta menuduh putrinya (Aisyah r.a.) dengan berita palsu (haditsul ifki), maka Abu Bakar bersumpah tidak memberinya nafkah lagi.

فَنَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۚ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ ۗ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ [النُّورِ: ٢٢]

Kemudian, turunlah firman Allah swt., "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" an-Nuur [24]: 22

فَمَا إِنْ سَمِعَ أَبُو بَكْرٍ خَاتِمَةَ الْآيَةِ حَتَّى صَاحَ: بَلَى وَاللهِ، إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لِي

Ketika mendengar akhir ayat itu Abu Bakar berkata dengan keras, "Ya, demi Allah, aku ingin sekali diampuni Allah."

وَتَغَلَّبَ عَلَى عَوَاطِفِهِ الَّتِي تَدْعُوهُ لِلثَّأْرِ لِعِرْضِ ابْنَتِهِ الْبَرِيئَةِ، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحَ النَّفَقَةَ الَّتِي كَانَ يُنْفِقُهَا عَلَيْهِ، وَقَالَ: «وَاللهِ لَا أَنْزَعُهَا مِنْهُ أَبَدًا». (٣)

Maka ia berhasil mengalahkan emosinya yang mengajaknya untuk menuntut balas demi kebersihan harga diri putrinya, "Maka ia kembali memberikan nafkah kepada Misthah dan berkata, 'Demi Allah, aku akan selalu menafkahkannya." Shahih Bukhari, kitab al-Maghazi, bab 34, hadits 4141 (al-Fat-h 7/434). 

لَيْسَ الْعَيْبُ فِي الْوُقُوعِ فِي الْخَطَإِ، إِذْ: «كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ». (٤)

Bukan hal yang memalukan jika seseorang bersalah, karena "Setiap anak Adam berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertobat. " Shahih Sunan Ibnu Majah oleh al-Albani 2/418 hadits 3428 (hasan).

وَإِنَّمَا تَكْمُنُ الْمُصِيبَةُ فِي الْإِصْرَارِ عَلَى الْخَطَإِ وَالتَّمَادِي فِي الْبَاطِلِ. مَعَ أَنَّ أَبْوَابَ الرَّحْمَةِ مُفَتَّحَةٌ تَدْعُونَا لِسُرْعَةِ الْفَيْئَةِ

Yang menjadi musibah adalah jika terus-menerus bersalah dan melakukan kebatilan, padahal pintu-pintu rahmat Allah terbuka lebar mengajak kita segera bertobat,

«إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا». (١)

"Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berdosa di siang hari bertobat, dan Dia memberitangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit di tempat terbenamnya (di sebelah barat)." Shahih Muslim/kitab Taubat, bab 5 (Syarh an-Nawawi 17/83). 

وَتَسْتَطِيعُ تَجَاوُزَ الْعَقَبَةِ بِأَنْ تَكُونَ صَرِيحًا مَعَ نَفْسِكَ وَتَعْتَرِفَ بِخَطَئِكَ، وَهٰذِهِ بِدَايَةُ طَرِيقِ التَّوْبَةِ وَالْفَيْئَةِ إِلَى اللهِ

Anda akan mampu melalui rintangan jika Anda bersikap jujur terhadap diri sendiri dan mengakui kesalahan Anda. Inilah awal jalan tobat kepada Allah, 

«فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ، تَابَ اللهُ عَلَيْهِ». (٢)

"Jika seorang hamba mengakui dosanya kemudian ia bertobat, niscaya Allah menerima tobatnya." Shahih Bukhari, kitab Tafsir, bab 6, hadits 4750 (al-Fat-h 8/454).

وَإِذَا كَانَ رَبُّنَا يَدْعُونَا إِلَى سَعَةِ رَحْمَتِهِ وَيُقَابِلُ ضَعْفَنَا بِإِحْسَانِهِ، فَمَا الَّذِي يُبَطِّئُ بِنَا عَنْ إِصْلَاحِ أَنْفُسِنَا

Jika Allah telah mengajak kita kepada rahmat-Nya yang luas lagi yang membuat kita lamban dalam memperbaiki diri?

 وَمَا الَّذِي يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْفَيْئَةِ السَّرِيعَةِ وَالرَّجْعَةِ النَّصُوحِ؟

Apa yang menghalangi kita untuk segera bertobat nasuha?

وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدسِيِّ

Disebutkan dalam sebuah hadits qudsi,

«.. وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً». (٣)

Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal niscaya Aku mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat kepada-Ku sehasta niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan niscaya Aku datang kepadanya dengan berlari." Shahih Bukhari, kitab Tauhid, bab 15, hadits 7405 (al-Fat-h.13/384).

فَاهْرُلْ أَيُّهَا الْعَبْدُ إِلَى رَحْمَةِ اللهِ، وَإِيَّاكَ وَالتَّسْوِيفَ

Wahai hamba, berlarilah menuju rahmat Allah dan hindar-kanlah kelalaian!

إِنَّ الَّذِي يَحُولُ دُونَ التَّعْجِيلِ بِالتَّوْبَةِ هُوَ الْوُقُوعُ فِي قَيْدِ الْإِصْرَارِ

Terus-menerus melakukan kesalahan akan membuat kita tidak segera bertobat.

وَلَقَدْ تَرْجَمَ الْبُخَارِيُّ أَحَدَ أَبْوَابِ كِتَابِ الْإِيمَانِ بِقَوْلِهِ

Bukhari membuat suatu judul bab pada kitab al-Iman,

«خَوْفُ الْمُؤْمِنِ مِنْ أَنْ يُحْبَطَ عَمَلُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ... وَمَا يُحْذَرُ مِنَ الْإِصْرَارِ عَلَى النِّفَاقِ وَالْمَعْصِيَةِ مِنْ غَيْرِ تَوْبَةٍ، لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى

"Seorang mukmin khawatir amalnya menjadi sia-sia tanpa disadarinya, dan sikap ishrar (menetap) pada kemunafikan dan kemaksiatan tanpa tobat yang ditakutkannya, karena firman Allah swt.,

. وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ [آلُ عِمْرَانَ: ١٣٥]». (٤)

Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui," (Ali 'Imran [3]: 135)588

وَيُعَلِّقُ ابْنُ حَجَرٍ عَلَى هٰذَا الْبَابِ: «... وَكَأَنَّ الْمُصَنِّفَ لَمَحَ بِحَدِيثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو الْمُخْرَجِ عِنْدَ أَحْمَدَ مَرْفُوعًا، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ

Ibnu Hajar menanggapi bab ini, "Sepertinya pengarang (Bukhari) mengisyaratkan kepada hadits Abdullah bin 'Amr yang diriwayatkan oleh Ahmad secara marfu Nabi bersabda,

«وَيْلٌ لِلْمُصِرِّينَ الَّذِينَ يُصِرُّونَ عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ»

Celakalah orang-orang yang tetap mengerjakan kesalahan padahal mereka mengetahui.'

أَيْ يَعْلَمُونَ أَنَّ مَنْ تَابَ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ لَا يَسْتَغْفِرُونَ». قَالَهُ مُجَاهِدٌ وَغَيْرُهُ. (١)

Artinya, mereka mengetahui bahwa barangsiapa bertobat niscaya Allah menerima tobatnya, tetapi mereka tidak meminta ampun. Dikatakan oleh Mujahid dan lainnya." Shahih Bukhari, pembukaan bab 36 kitab Iman, al-Fat-h 1/109.

وَصُورَةُ الْإِصْرَارِ كَمَا فَسَّرَهُ الشَّوْكَانِيُّ: «هُوَ الْعَزْمُ عَلَى مُعَاوَدَةِ الذَّنْبِ، وَعَدَمُ الْإِقْلَاعِ عَنْهُ بِالتَّوْبَةِ مِنْهُ». (٢)

 Bentuk ishrar menurut asy-Syaukani adalah “Berniat mengulangi dosa dan tidak meninggalkan dosa tersebut dengan bertobat.“ 

Fat-hu al-Baari 1/112 penjelasan bab 36 kitab Iman, hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad di al-Musnad 2/165-dinilai Shahih oleh al-Albani.

فَهَلْ يَخْتَارُ الْمُؤْمِنُ مَصِيرَ الْوَيْلِ؟ أَمْ يُقَاوِمُ هَوَاهُ، وَيَسْتَعْلِي عَلَى نَزَوَاتِ الشَّيْطَانِ، لِيَنْطَلِقَ مِنْ قَيْدِهَا سَاعِيًا إِلَى رَحْمَةِ اللهِ؟

Apakah seorang mukmin memilih kecelakaan ataukah melawan hawa nafsunya, dan berusaha mengalahkan setan agar terlepas dari belenggunya menuju rahmat Allah?

إِنَّ خُلُقَ سُرْعَةِ الْفَيْئَةِ مِنْ أَوَّلِ مَا يُطَالِعُكَ فِي أَوَّلِ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، حَيْثُ تَأْتِيكَ الْبُشْرَى بِالْخَيْرِ، وَيَقُولُ لَكَ عَمَلُكَ

Segera bertobat merupakan perangai yang menemani Anda di persinggahan pertama akhirat (alam kubur). Di alam kubur akan datang kabar gembira kepadamu. Amalmu berkata,

«أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ، كُنْتُ وَاللهِ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ، بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا»

“Aku adalah amal salehmu. Demi Allah, engkau selalu taat kepada Allah dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Allah memberi balasan yang baik untukmu." Fat-hu al-Qadir oleh asy-Syaukani: 1/382

أَوْ تَأْتِيكَ الْبُشْرَى بِالشَّرِّ، وَيَقُولُ لَكَ عَمَلُكَ: «أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ، كُنْتُ بَطِيئًا عَنْ طَاعَةِ اللهِ، سَرِيعًا فِي مَعْصِيَةِ اللهِ، فَجَزَاكَ اللهُ شَرًّا». (٣)

Atau kabar buruk datang kepadamu dan amalmu berkata, "Akulah amalmu yang buruk. Engkau selalu lamban dalam menaati Allah, selalu bermaksiat kepada-Nya, maka Allah memberi balasan yang buruk pula untukmu." [[Musnad Ahmad 4/295-296 dari hadits yang panjang awalnya, "Sesungguhnya seorang mukmin ketika menghadap akhirat dan meninggalkan dunia....]]

فَإِذَا أَسَأْتَ فَأَحْسِنْ، وَإِذَا أَذْنَبْتَ فَاسْتَغْفِرْ؛ لَعَلَّ عَمَلَكَ يَشْهَدُ لَكَ بِالسُّرْعَةِ فِي طَاعَةِ اللهِ

Apabila Anda berbuat salah, maka iringilah dengan kebaikan. Apabila Anda berdosa, maka mintalah ampunan. Semoga amal Anda menjadi saksi bahwa Anda selalu segera menaati Allah.

 

خُلَاصَةُ هٰذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN

- تَمَيَّزَ الصَّحَابَةُ بِسُرْعَةِ فَيْئَتِهِمْ، لَا بِالْعِصْمَةِ

Para sahabat Rasulullah saw. memiliki keistimewaan, yaitu segera bertobat. Hal ini bukan karena mereka mendapat ishmah (perlindungan dari segala kesalahan).

- مِنْ أَسْبَابِ زَلَّةِ الْقَدَمِ: الِانْسِيَاقُ وَرَاءَ الطِّبَاعِ الْغَضَبِيَّةِ

Menuruti watak yang pemarah akan menyebabkan kaki tergelincir.

- بَيْتُ النُّبُوَّةِ لَمْ يَخْلُ مِنَ الْخُصُومَاتِ، وَلٰكِنَّ الْفَيْئَةَ كَانَتْ سَرِيعَةً

Ada pertengkaran dalam rumah Nabi saw. tetapi mereka segera bertobat.

- الْمُتَخَاصِمَانِ: إِنْ لَمْ يُسَارِعَا إِلَى الْفَيْئَةِ، حُرِمَا قَبُولَ الْعَمَلِ

Jika dua orang yang bertengkar tidak segera bertobat maka amalnya tidak diterima.

- مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَهُ، فَلْيُسْرِعْ بِالْفَيْئَةِ

Orang yang ingin mendapat ampunan Allah segera bertobat

مِمَّا يُعِينُ عَلَى سُرْعَةِ الْفَيْئَةِ

 Hal-hal yang membantu untuk segera bertobat:

- الِاعْتِرَافُ بِالْخَطَإِ وَالصَّرَاحَةُ مَعَ النَّفْسِ

Mengakui kesalahan dan jujur terhadap diri sendiri.

- عَدَمُ الْإِصْرَارِ عَلَى الذَّنْبِ، وَالتَّعْجِيلُ بِالتَّوْبَةِ

Tidak terus-menerus melakukan kesalahan (ishran), dan segera bertobat.

- صَاحِبُ الْفَيْئَةِ السَّرِيعَةِ يَشْهَدُ لَهُ عَمَلُهُ فِي أَوَّلِ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ

Perbuatan orang yang segera bertobat akan menjadi saksi (yang membantunya) di alam kubur. 


📙📙📙 Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. 

Dipersilahkan - share

Minggu, 31 Mei 2026

Memperbaiki Makanan - 05 BAB 04 Hadzihi Akhlaquna -


AKHLAK KITA DALAM ILAHIYAH


Keempat

الطابة المطعم

Memperbaiki Makan

 



كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

"Makanlah makanan yang baik yang kami berikan kepadamu."


إِنَّ تَحَرِّيَ الرِّزْقِ الْحَلَالِ مَسْأَلَةٌ يَوْمِيَّةٌ

Memilih rezeki yang halal merupakan masalah kehidupan sehari-hari

تَقْتَضِي مِنْ كُلِّ مِنَّا أَنْ يُدِيمَ اسْتِحْضَارَهَا وَالتَّوَاصِي بِهَا

yang menuntut kita untuk selalu saling menasihati dan mengingatnya.

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَدَيْنَا كَوَابِحُ إِيمَانِيَّةٌ تُوقِفُنَا عَنِ الِانْسِيَاقِ وَرَاءَ شَهْوَةِ الْمَالِ

Seandainya kita tidak memiliki iman yang dapat mencegah kita dari ambisi pada harta,

وَقَعْنَا فِي الشُّبُهَاتِ ثُمَّ فِي الْحَرَامِ

niscaya kita akan terjerumus pada hal-hal yang syubhat kemudian yang haram.

وَالْخُطُورَةُ تَكْمُنُ فِي اسْتِمْرَاءِ النَّفْسِ لِلْحَرَامِ وَاعْتِيَادِهَا عَلَيْهِ

Yang sangat berbahaya adalah jika diri terbiasa mengerjakan hal-hal yang haram dan tidak meninggalkannya.

أَوْ عَدَمِ مُبَالَاتِهَا فِيهِ

atau bahkan tidak lagi peduli apakah sesuatu itu halal atau haram.

كَثِيرًا مَا أَوْصَى رَسُولُ اللهِ ﷺ بِتَحْلِيلِ الرِّزْقِ

Rasulullah ﷺ sering memerintahkan umatnya untuk mencari rezeki yang halal

وَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ

dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk melakukan sesuatu yang di-perintahkan-Nya kepada para rasul.

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا... [الْمُؤْمِنُونَ: ٥١] (١) 

Allah berfirman, "Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang saleh." al-Mu'minuun [23]: 51. Hadits diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi - Jami' al-Ushul 10/565 hadits 8131.

وَقَالَ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ... ﴾ [الْبَقَرَةِ: ١٧٢ ]

Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu." al-Baqarah [2]: 172

وَجَعَلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - عَدَمَ الْمُبَالَاةِ بِهَذَا الْأَمْرِ مِنْ صِفَاتِ شِرَارِ الْخَلْقِ فَقَالَ

Rasulullah ﷺ menganggap bahwa sikap yang tidak mengindahkan hal ini termasuk sifat-sifat manusia yang jahat, beliau bersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ، أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ

"Suatu masa aku datang menemui seseorang, di mana ia tidak lagi mengindahkan dari mana ia mencari rezeki, apakah dari yang halal atau haram, " Shahih Bukhari, kitab Jual Beli, bab 7, hadits 2059.

وَقَدْ وَرَدَ فِي خُطْبَةٍ لِعُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: (وَعِفُّوا إِذَا أَعْفَكُمُ اللهُ، وَعَلَيْكُمْ مِنَ الْمَطَاعِمِ بِمَا طَابَ مِنْهَا) (۳)

Utsman bin Affan r.a. pernah berkhotbah, "Allah menjadikan kalian sebagai hamba-hamba yang saleh, maka bersifat iffahlah dan makanlah makanan yang baik-baik saja. " Al-Muwaththa', kitab al-Isti'dzan, bab 16, hadits 42.

وَمِنْ أَبْرَزِ صُوَرِ الرِّزْقِ الطَّيِّبِ مَا كَانَ بِعَمَلِ الْيَدِ مَعَ اسْتِفْرَاغِ الْجُهْدِ وَالطَّاقَةِ فِي الْإِتْقَانِ وَالْإِحْسَانِ

Di antara bentuk-bentuk rezeki yang baik (halal) adalah yang dihasilkan oleh pekerjaan tangan sendiri dengan kesungguhan dalam menyempurnakan pekerjaannya itu dan baik.

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ. وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

"Seseorang tidak memakan makanan yang lebih baik daripada (makanan) hasil kerja tangannya sendiri. Nabi Daud a.s. makan dari hasil kerja tangannya sendiri." Shahih Bukhari, kitab al-Buyu, bab 15, hadits 2072.

وَإِذَا مَا أَرَدْتَ أَنْ تَأْوِيَ إِلَى مَضْجَعِكَ مُنْشَرِحَ الصَّدْرِ فَإِنَّ

Jika Anda ingin berbaring tidur dengan lapang dada, maka ke-tahuilah bahwa,

مَنْ بَاتَ كَالًّا مِنْ عَمَلِهِ بَاتَ مَغْفُورًا لَهُ

"Barangsiapa tidur di malam hari dengan keadaan letih karena pekerjaannya, maka ia tidur dalam keadaan diampuni (dosanya oleh Allah). " Disebutkan oleh Ibnu Hajar Hajar dalam kitab (al-Fat-h 4/306) ketika menjelaskan hadits 2072, dan menisbatkannya atas nama Hisyam bin 'Ammar.

وَلَا فَرْقَ بَيْنَ مِهْنَةٍ وَضِيعَةٍ وَمِهْنَةٍ رَفِيعَةٍ

Tidak ada bedanya antara pekerjaan yang sepele dengan pekerjaan yang terhormat,

الْمُهِمُّ أَنْ يَكُونَ الرِّزْقُ حَلَالًا

namun yang terpenting adalah rezekinya halal.

وَقَدْ كَانَ هَذَا شَأْنَ الْأَنْبِيَاءِ

Begitulah keadaan para nabi.

وَعَلَى ذَلِكَ رَبَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ صَحَابَتَهُ فَكَانَ يُخَاطِبُهُمْ بِكُلِّ وُضُوحٍ

Rasulullah ﷺ mendidik para sahabatnya atas dasar itu. Beliau bersabda,

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يُمْنَعَهُ

"Seseorang di antara kalian yang mencari kayu bakar dan memikulnya di atas pundaknya lebih baik daripada meminta-minta pada seseorang, namun orang itu belum tentu memberi atau tidak." Shahih Bukhari, al-Buyu, bab 15, hadits 2074.

وَالْمُصِيبَةُ الْكُبْرَى فِي سُؤَالِ النَّاسِ أَنَّ نَفْسِيَّةَ الْمَرْءِ تَعْتَادُ الِاتِّكَالَ عَلَى الْآخَرِينَ وَتَرْكَنُ إِلَى الْكَسْلِ

Bahaya besar akibat dari meminta-minta adalah menjadikan jiwa seseorang menjadi malas dan terbiasa bergantung pada orang lain.

وَالدِّينُ الَّذِي يَدْعُو إِلَى الْجِهَادِ لَا يَقْبَلُ لِأَتْبَاعِهِ أَنْ يَكُونُوا عَالَةً فِي أَرْزَاقِهِمْ

Dan agama yang menyeru kepada jihad tidak memperbolehkan pengikut-pengikutnya menjadi beban bagi orang lain dalam hal penghidupan mereka.

وَلَا مُتَطَفِّلِينَ عَلَى أَمْوَالِ غَيْرِهِمْ بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ

Dan janganlah menjadi orang yang menumpang hidup pada harta orang lain tanpa kerelaan hati mereka.

لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

"Harta seorang muslim tidak halal kecuali dengan kerelaan darinya." Shahih al-Jami' no. 7662 (shahih).

وَقَدْ طَلَبَ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي مَوْقِفٍ وَاحِدٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Hakim bin Hizam r.a. pernah meminta kepada Rasulullah tiga kali dalam satu kesempatan, 

وَرَسُولُ اللهِ ﷺ يُعْطِيهِ فِي كُلِّ مَرَّةٍ

kemudian Rasulullah memberinya setiap kali ia meminta. 

وَلَكِنَّهُ لَمْ يَتْرُكْهُ حَتَّى أَدَّبَهُ بِأَدَبِ الْإِسْلَامِ

Maka, beliau tidak mem-biarkannya begitu saja tetapi beliau mengajarkannya adab Islam,

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ. وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

"Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan kemurahan hati niscaya ia diberkahi pada rezekinya itu. Tetapi barangsiapa mengambilnya dengan keserakahan diri niscaya ia tidak diberkahi pada hartanya, seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang. Tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (menerima).'" Shahih Bukhari, kitab Fardhi al-Khumus, bab 19, no. 3143. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Zakat no. 1035.

فَأَقْسَمَ حَكِيمٌ أَلَّا يَطْلُبَ بَعْدَ ذَلِكَ شَيْئًا، وَوَفَى بِقَسَمِهِ إِلَى أَنْ مَاتَ 

Setelah itu, Hakim bersumpah tidak meminta lagi dan ia menepati sumpahnya hingga ia wafat.

وَذَلِكَ لِأَنَّ إِطَابَةَ الْمَطْعَمِ وَتَحْلِيلَ الرِّزْقِ تَبْدَأُ بِاجْتِنَابِ الشُّبُهَاتِ

Mencari makanan yang baik dan rezeki yang halal bermula dari menjauhkan hal-hal syubhat

وَتَنْتَهِي إِلَى عَدَمِ اسْتِشْرَافِ النَّفْسِ إِلَى مَا بِأَيْدِي النَّاسِ

dan berakhir hingga diri tidak serakah terhadap harta yang ada di tangan orang lain,

بِحَيْثُ تَعِفُّ الْيَدُ وَيَقْنَعُ الْقَلْبُ

sehingga tangan menjadi mulia dan hati menjadi puas.

وَقَدْ يَظُنُّ بَعْضُ النَّاسِ أَنَّ كَثْرَةَ الْجَدَلِ وَأَنَّ الْإِحْرَاجَ فِي تَحْصِيلِ شَيْءٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ عَلَامَاتِ الذَّكَاءِ وَالْفَطَانَةِ

Sebagian orang menyangka bahwa banyak berdebat dan menyulitkan dalam mencapai sesuatu merupakan tanda kecerdasan, 

وَقَدْ نَهَى عَنْ ذَلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ

padahal Rasulullah ﷺ melarang hal itu.

لَا تُلِحُّوا فِي الْمَسْأَلَةِ، فَوَاللهِ لَا يَسْأَلُنِي أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا فَتُخْرِجَ لَهُ مَسْأَلَتُهُ مِنِّي شَيْئًا وَأَنَا لَهُ كَارِهٌ فَيُبَارَكَ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتُهُ

"Jika meminta maka janganlah memaksa. Demi Allah, jika salah seorang di antara kalian yang meminta sesuatu kepadaku kemudian aku berikan apa yang dimintanya dengan rasa benci kepadanya, maka ia tidak diberkahi pada apa yang aku berikan itu." Shahih Muslim, kitab Zakat, bab 33, hadits 1038.

فَمَا أُخِذَ بِالْحَيَاءِ لَيْسَ بِالرِّزْقِ الطَّيِّبِ، وَمَا حُصِلَ بِالْإِحْرَاجِ عَدِيمُ الْبَرَكَةِ

Apa-apa yang diambil dengan rasa malu bukanlah rezeki yang baik, dan apa-apa yang dicapai dengan cara menyulitkan orang, maka tidak memiliki keberkahan.

وَمَنْ هَانَتْ عَلَيْهِ نَفْسُهُ الْيَوْمَ لِيَسْأَلَ النَّاسَ

Barangsiapa pada hari ini menghinakan dirinya dengan meminta-minta,

لَا يَبْعُدْ أَنْ يَصِلَ بِهِ الْهَوَانُ إِلَى عَدَمِ تَحَرِّي الْحَلَالِ

niscaya tidak lama lagi kehinaan membuatnya tidak mencari rezeki yang halal.

أَمَّا الرِّزْقُ الَّذِي يَسُوقُهُ اللهُ إِلَيْكَ، وَلَمْ تَتَلَهَّفْ إِلَيْهِ نَفْسُكَ، وَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ قَلْبُكَ فَخُذْهُ

Ambillah rezeki yang diberikan Allah kepadamu, yang dirimu tidak tamak terhadapnya dan hatimu tidak terpaku padanya.

وَقَدْ كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كُلَّمَا عُرِضَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَطَاءً يَقُولُ

Umar r.a. berkata setiap Rasulullah ﷺ memberikan sesuatu kepadanya, 

أَعْطِهِ مَنْ هُوَ أَفْقَرُ إِلَيْهِ مِنِّي فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ

"Berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkan." Maka, Rasulullah berkata kepadanya,

خُذْهُ إِذَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ شَيْءٌ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ. فَإِنْ شِئْتَ كُلْهُ وَإِنْ شِئْتَ تَصَدَّقْ بِهِ. وَمَا لَا فَلَا تَتْبَعْهُ نَفْسُكَ

"Ambillah pemberian itu. Jika suatu harta diberikan kepadamu sedang engkau tidak merasa tamak dan tidak memintanya, maka ambillah lalu simpanlah. Namun jika engkau menginginkannya maka makanlah atau sedekahkanlah. Dan harta yang tidak demikian janganlah engkau harapkan. " Shahih Bukhari, kitab Zakat, hadits 1473 Shahih Muslim, kitab Zakat, hadits 1045.

وَالرِّزْقُ الطَّيِّبُ مِنْ أَسْبَابِ قَبُولِ الدُّعَاءِ وَمِمَّا يُشْرَعُ طَلَبُهُ فِي الدُّعَاءِ 

Rezeki yang baik dianjurkan untuk diminta dalam berdoa, sebab diterimanya suatu doa.

وَالزَّكَاةُ تُطَهِّرُ مَا بَقِيَ مِنَ الْمَالِ

Zakat karena hal tersebut merupakan yang dikeluarkan berarti membersihkan harta yang tersisa,

إِنَّ اللهَ لَمْ يَفْرِضِ الزَّكَاةَ إِلَّا لِيُطَيِّبَ مَا بَقِيَ مِنْ أَمْوَالِكُمْ

"Sesungguhnya, Allah mewajibkan zakat untuk memperbaiki harta kalian yang tersisa." Sunan Abu Daud, kitab Zakat, bab 33, hadits 1664 (Sanadnya hasan Jami' al-Ushul 2/163).

ولا تَقْبَلُ الصَّدَقَةَ إِلَّا مِنَ الْمَالِ الطَّيِّبِ، وَلَا بَرَكَةَ إِلَّا فِيمَا كَانَ طَيِّبًا

Sedekah hanya diterima dari harta yang baik (halal) dan keberkahan hanya ada pada sesuatu yang baik,

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا.. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

"Sesungguhnya Allah itu baik dan hanya menerima yang baik, kemudian Rasulullah ﷺ menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan lusuh dan berdebu. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas seraya berkata, 'Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin permintaannya dikabulkan?" Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi (Jami' al-Ushu/10/565. hadits 8131).

وَمَنْ كَانَ تَحْتَ يَدِهِ أَمْوَالٌ عَامَّةٌ يَتَوَلَّى تَصْرِيفَهَا بِحُكْمِ مَسْؤُولِيَّتِهِ أَوْ مَكَانَتِهِ الْاجْتِمَاعِيَّةِ

Orang yang mengurusi harta karena sudah menjadi tanggung jawabnya atau karena kedudukan sosialnya kemudian dia berkonsentrasi pada tugasnya itu,

وَهُوَ مُتَفَرِّغٌ لِهَذَا الْأَمْرِ، فَمِنْ حَقِّهِ أَنْ يَأْخُذَ مَا يَكْفِيهِ وَأُسْرَتَهُ بِقَدْرِ حَاجَةِ مِثْلِهِ عُرْفًا

maka dia berhak mengambil secukupnya dari harta tersebut untuk diri dan keluarganya dengan ukuran yang wajar.

وَأَمَّا التَّوَسُّعُ فِيهِ فَوْقَ الْحَاجَةِ، وَالِاسْتِئْثَارُ بِهِ دُونَ النَّاسِ، وَالتَّبْذِيرُ فِي التَّوَافِهِ

Adapun terlalu banyak mengambil untuk melebihi kebutuhan hanya mengutamakan dirinya sendiri dan menghambur-hamburkan harta pada hal-hal yang tidak penting,

فَلَيْسَ مِنْ إِطَابَةِ الْمَطْعَمِ. وَإِلَى ذَلِكَ أَشَارَ ابْنُ حَجَرٍ بِقَوْلِهِ

maka hal itu tidak termasuk memperbaiki makanan. Ibnu Hajar mengisyaratkan hal tersebut dalam perkataannya,

أَنَّ لِلْعَامِلِ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ عَرْضِ الْمَالِ الَّذِي يَعْمَلُ فِيهِ قَدْرَ حَاجَتِهِ، إِذَا لَمْ يَكُنْ فَوْقَهُ إِمَامٌ يَقْطَعُ لَهُ أُجْرَةً مَعْلُومَةً

"Dibolehkan bagi seorang pegawai mengambil sebagian harta yang diurusinya dengan seperlunya, jika tidak ada pemimpin yang memberikan gaji kepadanya." Fat-hu al-Baari 4/35 dari penjelasan hadits 2070

وَالْمَرْأَةُ الَّتِي يَبْخَلُ عَلَيْهَا زَوْجُهَا، قَالَ لِمِثْلِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang istri yang memiliki suami yang kikir kepadanya,

خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

"Ambillah (sebagian harta) yang dapat mencukupi dirimu dan anakmu der dengan cara yang ma'ruf (sewajarnya)."

وَإِنْ كَانَ فِي نَفْسِ أَحَدِنَا شُبْهَةٌ

Jika salah seorang di antara kita masih merasa adanya sesuatu yang syubhat,

فَلْيُحَلِّلْ رِزْقَهُ بِبَذْلِ أَقْصَى الْجُهْدِ وَغَايَةِ الْوُسْعِ، إِلَى أَنْ يَشْعُرَ أَنَّهُ قَدْ أَحَلَّ مَطْعَمَهُ وَمَشْرَبَهُ؛

maka hendaklah dia mencari rezeki yang halal dengan mencurahkan segala kemampuan hingga ia merasa bahwa ia telah mengonsumsi makanan dan minuman yang halal.

فَالْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ

Kebaikan adalah sesuatu yang dapat menenangkan jiwa, sedangkan dosa adalah sesuatu yang tidak dapat menenangkan diri,

حِينَ تُخَلِّصُ نُفُوسَنَا لِلْحَقِّ، وَلَا تَسْتَعْبِدْهَا الشَّهَوَاتُ

ketika diri kita menjalankan kebenaran dan tidak menjadi budak hawa nafsu.


خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN

- إِطَابَةُ الْمَطْعَمِ سُنَّةُ الْمُرْسَلِينَ

Memperbaiki makanan merupakan sunnah (tradisi) para rasul.

- مِنْ أَطْيَبِ الطَّعَامِ مَا كَانَ مِنْ عَمَلِ الْيَدِ

Yang termasuk makanan yang baik adalah makanan yang dihasilkan oleh pekerjaan tangan sendiri.

- الْحَرِيصُ عَلَى إِطَابَةِ الْمَطْعَمِ لَا يَتَحَرَّجُ مِنْ أَيَّةِ مِهْنَةٍ

Orang yang berkeinginan memperbaiki makanan (rezekinya), maka jangan merasa malu pada pekerjaan apa pun (asalkan halal).

لَيْسَ مِنْ طِيبِ الْمَطْعَمِ مَا أُخِذَ مِنَ النَّاسِ بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ

Sesuatu yang diambil dari orang lain tanpa kerelaan darinya maka bukanlah makanan yang baik.

- مَا أُخِذَ بِالْإِلْحَاحِ فِي الْمَسْأَلَةِ لَا يُبَارَكُ فِيهِ

Sesuatu yang dihasilkan dari meminta-minta dengan cara paksa makä tidak diberkahi oleh Allah.

إِطَابَةُ الْمَطْعَمِ مِنْ أَسْبَابِ قَبُولِ الدُّعَاءِ

Memperbaiki makanan adalah sebab diterimanya suatu doa.

لَيْسَ مِنْ طِيبِ الْمَطْعَمِ التَّوَسُّعُ فِي الْمَالِ الْعَامِّ

Berlebihan dalam mengambil harta milik orang lain (yang berada di bawah tanggung jawabnya) maka bukanlah makanan yang baik.

ضَابِطُ إِطَابَةِ الْمَطْعَمِ اسْتِفْرَاغُ الْجُهْدِ فِي الْكَسْبِ

Mencurahkan segala kemampuan dalam bekerja merupakan prinsip dalam memperbaiki makanan (rezeki).


♥️♥️♥️

Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

 The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share

Senin, 11 Mei 2026

Wara' - Hati-hati - 05 BAB 03 - Hadzihi Akhlaquna

 AKHLAK KITA DALAM ILAHIYAH



Ketiga

الْوَرَعُ

Wara' - Hati-hati 


كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ

Jadilah Orang Wara', niscaya Engkau Menjadi Orang yang Paling banyak Ibadah


إِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ وَقَدَرَهُ حَقَّ قَدْرِهِ وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِ وَشَعَائِرَهُ

"Sesungguhnya barangsiapa yang mengenal Rabbnya dan memahami kedudukan-Nya sebagaimana mestinya, serta memuliakan hal-hal yang diharamkan-Nya dan syiar-syiar agama-Nya,

يَصِلُ بِهِ التَّعْظِيمُ إِلَى الْحَيْطَةِ وَالْحَذَرِ مِنْ كُلِّ مَا يَكُونُ مَظِنَّةَ غَضَبِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْحَالِ أَوْ فِي الْمَآلِ

maka rasa penghormatan itu akan membawanya kepada sikap hati-hati dan waspada dari segala sesuatu yang menjadi sebab datangnya murka Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang."

فَالْوَرَعُ عِنْدَهُ نَوْعٌ مِنَ الْخَشْيَةِ وَالرَّهْبَةِ تَجْعَلُهُ يَتْرُكُ كَثِيرًا مِنَ الْمُبَاحَاتِ

Maka, orang yang wara' memiliki rasa takut yang membuatnya meninggalkan hal-hal mubah (yang dibolehkan),

إِنِ الْتَبَسَتْ عَلَيْهِ مَعَ الْحَرَامِ لِئَلَّا يُجَازِفَ بِدِينِهِ؛

jika baginya hal-hal tersebut bercampur aduk dengan hal-hal haram, agar ia tidak mempertaruhkan agamanya.

وَلِهَذَا عَرَّفَ الْهَرَوِيُّ الْوَرَعَ بِقَوْلِهِ: (الْوَرَعُ تَوَقٍ مُسْتَقْصًى عَلَى حَذَرٍ، وَتَخَرُّجٌ عَلَى تَعْظِيمٍ)

Oleh karena itu, al-Harawi mendefinisikan kata wara' dengan ucapannya, "Wara' adalah menjauhi maksiat secara optimal dengan penuh hati-hati, dan menjauhi dosa dengan penuh takzim (pengagungan kepada Allah). " Tahdzib Madarij as-Salikin, hlm. 290.

وَمِنَ الْعَلَامَاتِ الْأَسَاسِيَّةِ لِلْوَرِعِينَ شِدَّةُ حَذَرِهِمْ مِنَ الْحَرَامِ وَضَعْفُ جُرْأَتِهِمْ عَلَى الْإِقْدَامِ إِلَى مَا قَدْ يَجُرُّ إِلَى الْحَرَامِ

Karakteristik dasar orang-orang yang wara' adalah mereka menjauhi perkara haram dan tidak berani melakukan suatu hal yang dapat membawa dirinya kepada perkara haram.

وَفِي ذَلِكَ يَقُولُ رَسُولُ اللهِ ﷺ

Ber-kaitan dengan hal tersebut Rasulullah ﷺ bersabda,

«الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ، فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ، وَمَنِ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيهِ مِنَ الْإِثْمِ أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ

"(Hukum) yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, sehingga di antara keduanya merupakan perkara-perkara yang syubhat. Barangsiapa meninggalkan dosa yang (hukumnya) masih samar, maka ia akan meninggalkan dosa yang (hukumnya) sudah jelas, dan barangsiapa berani melakukan dosa yang masih diragukan (samar) maka ia akan melakukan dosa yang (hukumnya) sudah jelas. "

Shahih Bukhari, kitab al-Buyu, bab 2, hadits 2051 al-Fath 4/290

فَمَنْ تَجَرَّأَ عَلَى مَوَاضِعِ الرِّيبَةِ وَالشَّكِّ تَزْدَادُ جُرْأَتُهُ عَلَى مَا هُوَ أَشَدُّ

Orang yang berani melakukan hal-hal yang (hukumnya) diragukan maka akan lebih berani melakukan perbuatan yang lebih buruk.

وَإِنَّهُ مَنْ يُخَالِطُ الرِّيبَةَ يُوشِكُ أَنْ يَجْسُرَ

"Barangsiapa menjerumuskan dirinya pada perbuatan yang diragukan maka ia akan menjadi lebih berani. " Sunan Abu Daud, kitab Jual Beli, bab 3, hadits 3329 dari berbagai riwayat hadits, "Yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas..."

فَالْوَرَعُ الْحَقِيقِيُّ كَمَا وَصَفَهُ يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ

Sifat wara' yang hakiki adalah sebagaimana yang di jelaskan oleh Yunus bin 'Ubaid,

(الْخُرُوجُ مِنْ كُلِّ شُبْهَةٍ وَمُحَاسَبَةُ النَّفْسِ فِي كُلِّ طَرْفَةِ عَيْنٍ)

"Meninggalkan dari setiap hal yang syubhat (hukumnya samar) dan menginstrospeksi diri setiap kejap mata." Tahdzib Madarij as-Salikin, hlm. 290 

وَرِحْلَةُ الِانْحِدَارِ تَبْدَأُ بِزَلَّةٍ وَاحِدَةٍ

Terperosok ke jurang yang dalam bermula dari sebuah ketergelinciran.

وَالْحَرِيصُ عَلَى آخِرَتِهِ يَجْعَلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الِانْزِلَاقِ وِقَايَاتٍ تَسْتُرُهُ وَتَحْمِيهِ

Orang yang senantiasa menginginkan (ke-bahagiaan) maka akhiratnya akan menjadikan sebagai pelindung dirinya dari ketergelinciran.

وَقَدْ أَشَارَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى الشَّيْخُ الْقَبَّارِيُّ بِقَوْلِهِ

Syekh al-Qabbari telah meng-isyaratkan hal ini dengan perkataannya,

(الْمَكْرُوهُ عَقَبَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَالْحَرَامِ؛ فَمَنْ اسْتَكْثَرَ مِنَ الْمَكْرُوهِ تَطَرَّقَ إِلَى الْحَرَامِ، وَالْمُبَاحُ عَقَبَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَكْرُوهِ؛ فَمَنْ اسْتَكْثَرَ مِنْهُ تَطَرَّقَ إِلَى الْمَكْرُوهِ)

"Perkara yang makruh merupakan penghalang antara seorang hamba dengan perkara yang haram. Barangsiapa sering melakukan hal yang makruh, maka ia akan masuk ke dalam hal yang haram. Sedangkan perkara yang mubah merupakan penghalang antara seorang hamba dengan perkara yang makruh. Barangsiapa sering melakukan hal yang mubah maka ia akan masuk ke dalam hal yang makruh." Fat-hu al-Baari 1/127 ketika menjelaskan hadits 52 al-Halalu Bayyinun pada kitab Iman, bab 39.

وَاسْتَحْسَنَ ابْنُ حَجَرٍ قَوْلَهُ هَذَا وَزَادَ عَلَيْهِ

Ibnu Hajar menganggap bahwa pendapatnya itu baik lalu menambahkan,

(أَنَّ الْحَلَالَ حَيْثُ يُخْشَى أَنْ يَؤُولَ فِعْلُهُ مُطْلَقًا إِلَى مَكْرُوهٍ أَوْ مُحَرَّمٍ يَنْبَغِي اجْتِنَابُهُ

"Melakukan hal yang halal yang dapat menyebabkan terjerumus kepada hal yang makruh atau haram, yang seharusnya dijauhi.

كَالْإِكْثَارِ - مَثَلًا - مِنَ الطَّيِّبَاتِ فَإِنَّهُ يُحْوِجُ إِلَى كَثْرَةِ الِاكْتِسَابِ الْمُوقِعِ فِي أَخْذِ مَا لَا يَسْتَحِقُّ

Seperti terlalu banyak memakan makanan, maka itu akan menyebabkan seseorang banyak bekerja sehingga menjadikan ia berani mengambil barang yang bukan haknya,

أَوْ يُفْضِي إِلَى بَطَرِ النَّفْسِ وَأَقَلُّ مَا فِيهِ الِاشْتِغَالُ عَنْ مَوَاقِفِ الْعُبُودِيَّةِ، وَهَذَا مَعْلُومٌ بِالْعَادَةِ، مُشَاهَدٌ بِالْعِيَانِ...)

atau dirinya menjadi sombong hingga tidak memperhatikan aktivitas ubudiyyah (ketundukan kepada Allah). Hal ini sudah menjadi kebiasaan dan dapat disaksikan oleh mata." Fat-hu al-Baari 1/127.

وَالْعَلَامَةُ الْأَسَاسِيَّةُ لِصَاحِبِ الْوَرَعِ قُدْرَتُهُ عَلَى تَرْكِ مَا فِيهِ مُجَرَّدُ الشَّكِّ أَوِ الشُّبْهَةِ كَمَا قَالَ الْخَطَّابِيُّ

Karakteristik dasar orang yang wara' adalah mampu me-ninggalkan sesuatu yang meragukan (syubhat), sebagaimana dijelaskan oleh al-Khaththabi,

(كُلُّ مَا شَكَكْتَ فِيهِ فَالْوَرَعُ اجْتِنَابُهُ)

"Jika ada sesuatu yang engkau ragukan, maka meninggalkannya merupakan sifat wara'." Fat-hu al-Baari 4/293, dari penjelasan bab 3, kitab Buyu'

 وَنَقَلَ الْبُخَارِيُّ عَنْ حَسَّانِ بْنِ أَبِي سِنَانٍ قَوْلَهُ

Bukhari mengutip perkataan Hasan bin Abu Sanan,

(مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَهْوَنَ مِنَ الْوَرَعِ: دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ)

"Aku tidak mendapatkan sesuatu yang lebih ringan (dilakukan) daripada wara, maka tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan beralihlah kepada apa yang tidak meragukanmu." Shahih Bukhari, dari pendahuluan bab 3, kitab Iman.

كَمَا وَرَدَ عَنِ الرَّسُولِ اللهِ أَنَّهُ قَالَ

Sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda,

(الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ - وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ)

"Kebaikan adalah sesuatu yang dapat menenangkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah sesuatu yang tidak dapat menenangkan jiwa dan hati-sekalipun para ahli fatwa memberikan fatwa kepadamu." Shahih al-Jami' no. 2881 (shahih). 

وَيُؤَكِّدُ ذَلِكَ مَا رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ مُرْسَلًا: (مَا أَنْكَرَهُ قَلْبُكَ فَدَعْهُ)

Hal itu dikuatkan juga oleh riwayat Ibnu 'Asakir secara mursal, "Apa yang diingkari oleh hatimu maka tinggalkanlah. " Shahih al-Jami' no. 5564 (shahih).

وَأَصْحَابُ الْمَرَاتِبِ الْعَالِيَةِ يَحْتَاطُونَ لِأَنْفُسِهِمْ بِالْحَذَرِ مِنْ بَعْضِ الْحَلَالِ الَّذِي قَدْ يُفْضِي إِلَى شَيْءٍ مِنَ الْمَكْرُوهِ أَوِ الْحَرَامِ، فَقَدْ وَرَدَ عَنِ الرَّسُولِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ

Orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi sangat berhati-hati dari sebagian hal yang halal yang dapat membawa kepada hal yang makruh atau haram. Rasulullah ﷺ bersabda,

«لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ الْبَأْسُ»

"Seorang hamba tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa, jika ia meninggalkan sesuatu yang dibolehkan karena khawatir terjerumus pada sesuatu yang tidak dibolehkan." Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dihasankan olehnya, dan ahli hadits lainnya Jami' Al-Ushul 4/682 hadits 2791).

وَيُؤَكِّدُهُ الْحَدِيثُ الْآخَرُ: «اجْعَلُوا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الْحَرَامِ سِتْرًا مِنَ الْحَلَالِ...»

Hal tersebut dikuatkan oleh hadits yang lain, "Buatlah perkara yang halal sebagai pembatas antara kalian dari perkara yang haram," Shahih al-Jami'no. 152 (shahih). 

وَمِنْ لَطِيفِ مَا حَدَّثَ بِهِ ابْنُ الْقَيِّمِ -رَحِمَهُ اللهُ- قَالَ: قَالَ لِي يَوْمًا شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللهُ رُوحَهُ فِي شَيْءٍ مِنَ الْمُبَاحِ

Perkataan Ibnu al-Qayyim yang sangat menarik adalah, "Pada suatu hari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (semoga Allah menyucikan ruhnya) berkata kepadaku mengenai suatu hal yang mubah,

«هَذَا يُنَافِي الْمَرَاتِبَ الْعَالِيَةَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَرْكُهُ شَرْطًا فِي النَّجَاةِ»

'Hal ini (sesuatu yang mubah) dapat menghilangkan kedudukan yang tinggi, walaupun meninggalkannya bukanlah merupakan syarat untuk menuju keselamatan." Tahdzib Madarij as-Salikin, hlm. 292.

وَكَمَا يَشْمَلُ الْوَرَعُ صُوَرَ الْكَسْبِ وَالْمُعَامَلَاتِ فَإِنَّهُ يَشْمَلُ اللِّسَانَ

Sebagaimana wara' berlaku pada pekerjaan, mu'amalah (interaksi sosial) dan lisan juga demikian.

فَقَدْ تَجِدُ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَنْدَفِعُونَ إِلَى الْفَتْوَى وَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ؛

Banyak sekali orang yang berani berfatwa sedangkan mereka tidak mengerti.

وَلِذَلِكَ عَقَدَ الدَّارِمِيُّ بَابًا فِي "التَّوَرُّعِ عَنِ الْجَوَابِ فِيمَا لَيْسَ فِيهِ كِتَابٌ وَلَا سُنَّةٌ"

Oleh karena itu, ad-Darimi membuat suatu bab dalam kitabnya, "Bersikap, wara jika dalam suatu masalah yang tidak ada jawabannya, maka dapat memberikan jawabannya pada Al-Qur'an dan Sunnah."

وَيَعْتَبِرُ إِسْحَاقُ بْنُ خَلَفٍ الْوَرَعَ فِي الْكَلَامِ أَشَدَّ مِنَ الْوَرَعِ فِي التَّعَامُلَاتِ الْمَالِيَةِ حَيْثُ يَقُولُ

Ishaq bin Khalaf berpendapat bahwa bersikap wara' dalam berbicara lebih diperlukan daripada bersikap wara' dalam urusan dagang. Ia berkata,

«الْوَرَعُ فِي الْمَنْطِقِ أَشَدُّ مِنْهُ فِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ...»

"Bersikap wara' dalam berbicara lebih diperlukan daripada bersikap wara dalam (urusan dagang) emas dan perak."

وَمِنْ تَأَمُّلِ ابْنِ الْقَيِّمِ فِي أَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَعْلَنَ أَنَّهُ

Setelah Ibnu al-Qayyim merenungkan hadits-hadits Nabi ﷺ beliau berpendapat,

(جَمَعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الْوَرَعَ كُلَّهُ فِي كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ فَقَالَ: «مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»)

"Rasulullah ﷺ menggabungkan wara' hanya dalam satu kalimat saja. Beliau bersabda, 'Seseorang yang Islamnya baik adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya." Tahdzibu Madariki as-Salikin hlm. 292.

وَمِنَ الثَّمَرَاتِ الْبَارِزَةِ لِخُلُقِ الْوَرَعِ أَنَّهُ يَعْصِمُ صَاحِبَهُ مِنَ الِاسْتِدْرَاجِ، لِذَلِكَ تَجِدُ

Buah (hasil dari akhlak wara adalah menjaga seseorang dari istidraj (penipuan). Oleh karena itu, kamu dapat menyaksikan, 

(مَنْ تَعَاطَى مَا نُهِيَ عَنْهُ يَصِيرُ مُظْلِمَ الْقَلْبِ لِفِقْدَانِ نُورِ الْوَرَعِ فَيَقَعُ فِي الْحَرَامِ وَلَوْ لَمْ يَخْتَرْ الْوُقُوعَ فِيهِ)

"Orang yang sibuk mengerjakan hal terlarang maka hatinya menjadi gelap karena kehilangan cahaya wara, sehingga ia terjerumus pada hal yang haram sekalipun ia tidak menghendakinya." Fat-hu al-Baari 1/127-128 dari penjelasan bab 39 kitab al-Iman.

كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرٍ. وَفِي حَدِيثِ الْإِفْكِ

Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar. Dalam hadits Al-Ifki (berita palsu),

تَقُولُ السَّيِّدَةُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ السَّيِّدَةِ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ حَيْثُ حَمَتْ سَمْعَهَا وَبَصَرَهَا مِنَ الْخَوْضِ فِيمَا لَا تَعْلَمُ

"Aisyah berbicara tentang Zainab binti Jahsy yang telah menjaga mata dan telinganya dari mencampuri perkara yang tidak diketahuinya, (Maksudnya, Zainab tidak mempercayai berita palsu itu-penerj.)

«فَعَصَمَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْوَرَعِ»

Allah telah melindunginya dengan wara." Shahih Bukhari, kitab al-Maghazi, bab 34, hadits 4141 (a/-Fat-h7/431).

كَمَا أَنَّ صَاحِبَ الْوَرَعِ يَحْمِي دِينَهُ وَعِرْضَهُ مِنَ الطَّعْنِ

Orang yang wara juga menjaga agama dan harga dirinya dari tuduhan,

(فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ)

"Barangsiapa menjauhi hal-hal syubhat maka agama dan harga dirinya telah bebas. " Shahih Bukhari, kitab al-Iman, bab 39, hadits 52 (al-Fat-h 1/126).

يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ: «وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَوَقَّ الشُّبُهَاتِ فِي كَسْبِهِ وَمَعَاشِهِ فَقَدْ عَرَّضَ نَفْسَهُ لِلطَّعْنِ فِيهِ، وَفِي هَذَا إِشَارَةٌ إِلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى أُمُورِ الدِّينِ وَمُرَاعَاةِ الْمُرُوءَةِ»

Ibnu Hajar berkomentar, "Hadits tersebut merupakan dalil bahwa orang yang melakukan hal-hal syubhat (samar) dalam pekerjaan dan kehidupannya sungguh telah menyerahkan dirinya untuk dituduh. Ini isyarat untuk menjaga perkara-perkara agama dan harga diri. " Fat-hu al-Baari 1/127.

فَإِذَا كَانَتْ أَعْلَى مَنَازِلِ الْعِبَادَةِ الْوَرَعُ

Maka, telah jelas bahwa kedudukan ibadah tertinggi adalah wara",

(كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ)

"Jadilah orang yang wara niscaya engkau menjadi orang yang paling beribadah, " Shahih al-Jami' no. 4580 (shahih).

وَإِنْ كَانَ أَفْضَلُ الدِّينِ التَّوَرُّعُ (خَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ)؛

dan telah jelas bahwa sebaik-baik aktivitas dalam beragama adalah wara', "Sebaik-baik aktivitas dalam agama kalian adalah bersikap wara." Shahih al-Jami' no. 3308.

أَفَلَا يَرْتَقِي الدَّاعِيَةُ الْمُؤْمِنُ إِلَى تِلْكَ الذِّرْوَةِ وَيَرْبَأُ بِنَفْسِهِمْ عَنِ السُّقُوطِ وَالِانْزِلَاقِ

Maka, bukankah seorang dai menaiki puncak tersebut dan menyelamatkan jiwanya dari ketergelinciran yang dapat menyebabkan dirinya menjadi jatuh (terjerumus).

وَهُوَ الْحَرِيُّ بِالْحَذَرِ وَالِاحْتِيَاطِ وَالْخَوْفِ مِنْ أَنْ يَحْبَطَ عَمَلُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ

Hal inilah yang perlu diwaspadai sebelum amalnya menjadi sia-sia tanpa disadarinya.

فَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الصَّحَابَةِ كَانُوا يَخَافُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ مِنَ النِّفَاقِ

Para sahabat merasa khawatir pada sifat munafik yang dapat menimpa diri mereka.

وَيُعَلِّلُ ابْنُ حَجَرٍ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ: «وَلَا يَلْزَمُ مِنْ خَوْفِهِمْ مِنْ ذَلِكَ - أَيِ النِّفَاقِ - وُقُوعُهُ مِنْهُمْ بَلْ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْمُبَالَغَةِ مِنْهُمْ فِي الْوَرَعِ وَالتَّقْوَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ

Ibnu Hajar mengemukakan sebab mengapa mereka-demikian, "Bukan berarti rasa khawatir mereka terhadap nifak itu menunjukkan bahwa mereka tertimpa nifak, namun perasaan tersebut ada karena mereka terlalu wara' dan bertakwa." Fat-hu al-Baari 1/111 dari penjelasan bab 36 kitab Iman.

هَكَذَا كَانُوا، فَلْنُرَاجِعْ أَنْفُسَنَا وَلْنُزِنْ أَعْمَالَنَا

Demikian keadaan para sahabat Rasul ﷺ, maka hendaklah kita menginstrospeksi diri dan menimbang amal-amal kita.


خَلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN

الْوَرَعُ: خَشْيَةٌ تَدْفَعُ إِلَى تَرْكِ كَثِيرٍ مِنَ الْمُبَاحَاتِ احْتِيَاطًا

Wara' adalah rasa takut yang dapat menyebabkan seseorang a meninggalkan hal-hal mubah karena berhati-hati.

مِنْ عَلامَاتِ الْوَرَعِ

Karakteristik orang yang wara

- شِدَّةُ الْحَذَرِ مِنَ الْحَرَامِ وَالشُّبُهَاتِ

Sangat berhati-hati dari hal-hal haram dan syubhat (yang samar, tidak jelas halal atau haramnya).

- اتِّخَاذُ وِقَايَةٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَنْهِيَّاتِ

Membuat pelindung yang dapat melindunginya dari hal-hal terlarang:

- اجْتِنَابُ كُلِّ مَا يَشُكُّ فِيهِ

Menjauhi hal-hal yang meragukan.

- عَدَمُ التَّوَسُّعِ فِي الْمُبَاحِ

Tidak berlebihan dalam melakukan hal-hal mubah.

- عَدَمُ الْفَتْوَى بِغَيْرِ عِلْمٍ

Tidak memberikan fatwa jika tidak tahu.

- تَرْكُهُ مَا لَا يُعِينُهُ

Meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.  

مِنْ ثَمَرَاتِ الْوَرَعِ

Hasil dari sifat wara

- تَحْصِينُ النَّفْسِ مِنَ الاسْتِدْرَاجِ

Menjaga diri dari istidraj (penipuan).

- حِمَايَةُ الدِّينِ وَالْعِرْضِ

Menjaga agama dan harga diri.

مِنْ وَرَعِ الصَّحَابَةِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَخْشَوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ مِنَ النِّفَاقِ

Karena para sahabat sangat wara', maka mereka merasa khawatir pada nifak yang dapat menimpa mereka.


♥♥♥

Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share Semoga bermanfaat


Senin, 26 Januari 2026

Perhatian terhadap Akhirat - 05 BAB 02 - Hadzihi Akhlaquna

AKHLAK KITA DALAM KETUHANAN


Kedua:

الإهتمام بالآخرة


Perhatian terhadap Akhirat



مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا، هَمَّ الْمَعَادِ، كَفَاهُ اللهُ سَائِرَ هُمُومِهِ.

"Barangsiapa menjadikan banyak tujuan menjadi satu tujuan saja, yaitu tujuan kepada akhirat maka Allah akan melindunginya dari berbagai tujuannya."

يَعِيشُ الْمُؤْمِنُ الدَّاعِيَةُ كَثِيرًا مِنَ الْهُمُومِ

Seorang dai mukmin memiliki banyak tujuan dalam hidupnya.

وَرُبَّمَا كَانَ تَكَاثُرُ الْهُمُومِ سَبَبًا لِتَشْتِيتِ الْقَلْبِ عَنِ الْهَدَفِ، وَلِصَرْفِ الْهِمَّةِ إِلَى مَشَاغِلِ أَهْلِ الدُّنْيَا

Terkadang tujuannya menyebabkan hati menjadi meleset dari target dan cita-cita yang terfokus pada kesibukan-kesibukan masyarakat dunia,

وَاهْتِمَامَاتِهِمْ فَتَزُولُ الْمِيزَةُ وَيَنْعَدِمُ التَّمَيُّزُ وَتَخْتَلِطُ الْمَوَازِينُ

sehingga keistimewaannya menghilang dan timbangan bercampur.

إِنَّ مِنْ هَوَانِ أَمْرِ الدُّنْيَا أَنْ جَعَلَهَا اللهُ لَا تَدُومُ لِأَحَدٍ

Di antara tanda-tanda keremehan perkara dunia adalah bahwa Allah menjadikan dunia tidak kekal bagi seseorang,

(إِنَّ حَقًّا عَلَى اللهِ تَعَالَى أَنْ لَا يَرْفَعَ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ)

"Sesungguhnya Allah tidak mengangkat sedikit pun perkara dunia kecuali Dia menjatuhkannya." Shahih al-Jami' no. 2057 (shahih).

وَإِنَّمَا هِيَ أَيَّامٌ يُدَاوِلُهَا اللهُ بَيْنَ النَّاسِ، فَيَرْفَعُ أَقْوَامًا وَيَضَعُ آخَرِينَ، وَيُعِزُّ أَقْوَامًا وَيُذِلُّ آخَرِينَ لِتَتَحَقَّقَ حِكْمَةُ اللهِ فِي ابْتِلَاءِ الْعِبَادِ

Dunia hanyalah perputaran hari oleh Allah di antara manusia. Dia mengangkat sebagian kaum dan menjatuhkan yang lain. Dia juga memuliakan sebagian kaum dan merendahkan yang lain agar terealisasi hikmah Allah dalam ujian yang ditimpakan kepada hamba-hamba-Nya.

إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا لِلْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ يُحِبُّ

Allah memberikan dunia kepada orang mukmin dan kafir, dan hanya memberikan agama kepada orang yang dicintai-Nya. 

وَقَدْ تَعَجَّبَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو حِينَ رَآهُ يُصْلِحُ جِدَارَ بَيْتِهِ

Rasulullah sangat heran ketika melihat Abdullah bin 'Amr memperbaiki dan memelester tembok rumahnya.

وَيُطَيِّنُهُ فَأَرَادَ أَنْ يُخْلِيَ قَلْبَهُ مِنَ التَّعَلُّقِ بِالدُّنْيَا وَأَنْ يُذَكِّرَهُ بِقُرْبِ الْأَجَلِ لِلِاسْتِعْدَادِ لَهُ فَقَالَ لَهُ

Beliau ingin membebaskan dirinya dari keterikatan dunia, dan mengingatkannya bahwa ajal telah dekat oleh karena itu ia harus segera bersiap-siap untuk menghadapinya, maka beliau bersabda,

(مَا أَرَى الْأَمْرَ إِلَّا أَعْجَلَ مِنْ ذَلِكَ)

"Aku tidak melihat perkara (ajal) kecuali ia lebih cepat dari hal itu." Shahih al-Jami' no. 5526 (shahih).

لِيَجْعَلَ الْآخِرَةَ هَمَّهُ وَالِاسْتِعْدَادَ لَهَا شُغْلَهُ. فَإِذَا بَالَغَ امْرُؤٌ فِي الِانْصِرَافِ عَنْ إِعْمَارِ الدُّنْيَا وَالسَّعْيِ فِيهَا فَيَحْتَاجُ إِلَى لَفْتَةٍ مِنْ نَوْعٍ آخَرَ

Agar Abdullah menjadikan akhirat sebagai tujuannya dan persiapan menghadapi akhirat sebagai kesibukannya. Tetapi jika seseorang telah berpaling dari perkara dunia maka perlu ditarik dengan cara lain,

{وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا} [القصص: ٧٧] بِحَيْثُ يَبْقَى عَلَى جَادَّةِ الْقَصْدِ وَالتَّوَازُنِ

"...Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi..." (al-Qashash [28]: 77) Agar ia tetap berada dalam tujuan yang benar dan seimbang.

وَإِنَّ الْعَبْدَ الْمَحْفُوْفَ بِالنَّعِيْمِ قَدْ يَكُوْنُ مُسْتَدْرَجًا لِمَزِيْدٍ مِنَ الْمَسْؤُولِيَّةِ وَالْعَذَابِ وَهُوَ لَا يَدْرِيْ

Hamba yang bergelimang (penuh) dengan nikmat akan dituntut pertanggungjawabannya secara berangsur dan siksa sedangkan dia tidak menyadarinya,

(إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيْمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ)

"Jika engkau melihat Allah swt. memberikan apa saja dari perkara yang dicintainya kepada seorang hamba sedangkan dia tetap mengerjakan maksiat, maka sesungguhnya hal itu adalah istidraj (tipuan) dari-Nya." Shahih al-Jami', no. 561 (shahih). 

فَلَا تَحْزَنْ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنْهَا

Maka, jangan bersedih jika perkara dunia tidak dapat engkau raih.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا أُوْتِيَ النَّاسُ مِنَ الدُّنْيَا فَرُبَّمَا كَانُوْا لَا يُحْسَدُوْنَ عَلَيْهَا إِذَا لَمْ يُؤَدُّوْا حَقَّهَا

Janganlah engkau pandang kenikmatan dunia yang diberikan (dengan segera) kepada manusia, karena mungkin saja mereka tidak suka dengan kenikmatan itu jika mereka tidak menunaikan hak kenikmatan tersebut.

وَالْخُطُوْرَةُ فِي أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ النِّعَمُ الْأَجْرَ

Yang sangat berbahaya adalah jika berbagai kenikmatan tersebut merupakan pahala yang diberikan oleh Allah,

الْعَاجِلَ لِيُحْرَمَ صَاحِبُهَا الْأَجْرَ الْآجِلَ حَيْثُ يَكُوْنُ فِي أَشَدِّ الْحَاجَةِ لِمَا يُرَجِّحُ كِفَّةَ حَسَنَاتِهِ؛

namun di akhirat nanti pahalanya ditangguhkan sehingga orang itu tidak mendapatkannya, padahal pahala sangat diperlukan untuk memberatkan timbangan kebaikan- kebaikannya. 

وَلِذَلِكَ طَيَّبَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ خَاطِرَ أَصْحَابِهِ حِيْنَ ذَكَرُوْا نَعِيْمَ الرُّوْمِ وَالْفُرْسِ فَقَالَ

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ. memperbaiki apa yang terlintas dalam benak para sahabatnya ketika mereka menyebutkan kemegahan bangsa Romawi dan Persia. Beliau bersabda,

(أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا)

Mereka adalah kaum yang kenikmatannya disegerakan pada kehidupan dunia ini. " Shahihul Bukhari, Kitab al-Mazhalim, bab 25, hadits 2468 (al-Fat-h, 5/116)


وَغَالِبُ حَالِ النَّاسِ كَمَا قَالَ ﷺ: (أَكْثَرُ النَّاسِ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوْعًا فِي الْآخِرَةِ)

Kebanyakan keadaan manusia seperti apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah ﷺ., Manusia yang paling kenyang di dunia adalah manusia yang paling lapar di akhirat. " Shahih al-Jami' no. 1199 (hasan).

وَذَلِكَ لِقِلَّةِ الشَّاكِرِيْنَ، وَكَمَا قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ

Hal itu disebabkan karena sedikitnya orang-orang yang bersyukur. Sebagaimana firman-Nya, 

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيْهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُوْمًا مَدْحُوْرًا

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami Kehendaki dan Kami tentukan baginya Neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir." (al-Israa' [17]: 18)

وَكُلُّ نِعْمَةٍ مَهْمَا صَغُرَتْ عَلَيْهَا حِسَابٌ وَمَسْؤُوْلِيَّةٌ

Setiap nikmat walaupun kecil akan dihisab dan dipertanggung-jawabkan.

فَالْمِسْكِيْنُ مَنْ لَمْ يَقُمْ بِحَقِّهَا لَا مَنْ حُرِمَ مِنْهَا فِي الدُّنْيَا

Orang yang miskin (malang) adalah orang yang tidak menunaikan hak (kewajiban) nikmat tersebut kepada orang yang tidak mendapat nikmat tersebut di dunia,

(إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ النَّعِيْمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ: أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ، وَنُرْوِيَكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ؟)

 "Sesungguhnya kenikmatan yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari Kiamat adalah dikatakan kepadanya, 'Bukankah kami telah menyehatkan badanmu dan memberikan kamu air minum yang sejuk?!" Shahih al-Jami'no. 2022 (shahih).

وَلِذَلِكَ كَانَ مِنْ عَلَامَةِ طَرِيقِ الْجَنَّةِ أَنَّهُ مَحْفُوفٌ بِالْبَلَاءِ، وَلَا يَهُونُ الْبَلَاءُ إِلَّا عَلَى مَنْ جَعَلَ الْآخِرَةَ هَمَّهُ

Oleh karena itu, di antara tanda-tanda jalan menuju surga adalah jalan itu dikelilingi dengan ujian. Ujian akan menjadi ringan bagi orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya,

(حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ)

"Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak enak dan neraka dikelilingi dengan hal-hal yang menggiurkan (hawa nafsu)." Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi (Jami' al-Ushul 10/521).

وَإِنَّ مَسْؤُولِيَّةَ الْمُسْلِمِ الَّذِي يَقْدُرُ اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ أَنْ يُوَحِّدَ هَمَّهُ فَيُفَكِّرَ فِي الْمَآلِ وَالْمَصِيرِ

Sesungguhnya tugas seorang muslim yang dimuliakan oleh Allah adalah menyatukan tujuannya dengan memikirkan akhirat, 

لَا أَنْ يَصْرِفَ كُلَّ جُهْدِهِ وَفِكْرِهِ وَوَقْتِهِ فِي صَغَائِرِ الْأُمُورِ وَتَوَافِهِهَا

tidak mencurahkan upaya, pikiran dan waktunya untuk hal-hal kecil dan remeh.

وَبِقَدْرِ مَا يَكُونُ اللهُ فِي قَلْبِ الْعَبْدِ مِنْ تَوْقِيرٍ وَإِجْلَالٍ وَرَهْبَةٍ يَكُونُ لِلْعَبْدِ عِنْدَ اللهِ مِنَ الْأَجْرِ وَالْمَنْزِلَةِ

Pahala dan kedudukan bagi seorang hamba di sisi Allah tergantung pada rasa takut dan hormat di dalam hatinya terhadap Allah swt.,

(مَنْ أَرَادَ أَنْ يَعْلَمَ مَا لَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ مَا اللهُ عِنْدَهُ)

"Barangsiapa ingin mengetahui balasan baginya di sisi Allah, maka hendaklah ia mengetahui apa saja hak Allah di sisinya (yang telah ia tunaikan). " Shahih al-Jami' no. 6006 (hasan).

وَمَنْ كَانَ دَائِمَ التَّفْكِيرِ فِي رِضَى اللهِ فَإِنَّهُ لَا تَشْغَلُهُ النِّعْمَةُ وَلَا يُعْمِيهِ الْبَلَاءُ، وَمَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فِي الْيُسْرِ كَانَ اللهُ لَهُ فِي الْعُسْرِ

Barangsiapa yang selalu memikirkan keridhaan Allah maka ia tidak akan dilalaikan oleh kenikmatan dan tidak dibutakan oleh ujian. Barangsiapa yang bersama Allah pada saat senang maka Allah bersamanya pada saat susah,

(تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ)

"Kenalilah Allah di waktu senang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah." Shahih al-Jami' no. 2961 (shahih).

وَمِثْلُ هَذَا الْحَالِ يَقْتَضِي مِنَ الْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ دَائِمَ الرَّقَابَةِ لِلَّهِ وَالْحَيَاءِ مِنْهُ أَكْثَرَ مِمَّا يَحْتَاطُ وَيَسْتَحْيِي مِنَ الْبَشَرِ

Hal ini menuntut seorang mukmin untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dan lebih malu terhadap-Nya daripada terhadap manusia, 

(مَا كَرِهْتَ أَنْ يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَلَا تَفْعَلْهُ بِنَفْسِكَ إِذَا خَلَوْتَ)

Suatu perbuatan yang engkau tidak inginkan dilihat oleh orang-orang, maka janganlah engkau kerjakan pada saat sendirian." Shahih al-Jami' no. 5659 (hasan).

وَ (اعْبُدِ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ)

Dan, "Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu." Shahih al-Jami' no. 1037 (hasan).

وَالْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ إِذَا ذُكِّرَ بِخَطَئِهِ سَرِيعُ الْفَيْئَةِ قَرِيبُ الرَّجْعَةِ

Orang yang memperhatikan akhirat jika diingatkan ke-salahannya maka akan segera bertobat,

(إِذَا ذُكِّرْتُمْ بِاللهِ فَانْتَهُوا)

"Jika kalian diingatkan akan Allah maka berhentilah." Shahih al-Jami' no. 546 (hasan).

وَالَّذِي يَخَافُ اللهَ فِي الدُّنْيَا وَيَحْذَرُ مَعْصِيَتَهُ وَيَحْتَاطُ لِأَمْرِ آخِرَتِهِ فَذَلِكَ هُوَ الْآمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Orang yang takut kepada Allah di dunia, tidak bermaksiat kepada-Nya dan berhati-hati dalam urusan akhiratnya maka itulah orang yang selamat pada hari Kiamat,

(قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَجْمَعُ لِعَبْدِي أَمْنَيْنِ وَلَا خَوْفَيْنِ. إِنْ هُوَ أَمِنَنِي فِي الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ عِبَادِي، وَإِنْ هُوَ خَافَنِي فِي الدُّنْيَا أَمَّنْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ عِبَادِي)

"Allah berfirman (dalam hadits qudsi), 'Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak menggabungkan dua ketakutan dan dua keamanan pada hamba-Ku. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka niscaya Aku jadikan ia ketakutan pada saat Aku kumpulkan hamba-hamba-Ku. Tetapi jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka niscaya Aku jadikan ia merasa aman pada saat Aku kumpulkan hamba-hamba-Ku." Shahih al-Jami'no. 4332 (hasan).

وَالْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ يُفَكِّرُ فِيمَا يُقَرِّبُهُ إِلَى الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُهُ مِنَ النَّارِ، وَقَدْ جَعَلَ اللهُ مَدَارَ الْمَسْؤُولِيَّةِ عَلَى انْبِعَاثِ إِرَادَةِ الْإِنْسَانِ إِلَى الطَّاعَةِ أَوِ الْمَعْصِيَةِ لِذَلِكَ قَالَ ﷺ

Orang yang memperhatikan akhirat maka berarti dia selalu memikirkan hal-hal yang dapat mendekatkannya kepada surga dan menjauhkannya dari neraka. Allah telah menjadikan pertanggungjawaban terhadap pada barigkitnya keinginan manusia untuk taat atau untuk bermaksiat. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ. bersabda,

(الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ)

"Surga lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya, begitu pula dengan neraka." Diriwayatkan oleh Bukhari (Jami' al-Ushul10/522 no. 8071).

وَإِذَا صَدَقَ الْمَرْءُ فِي مُجَاهَدَةِ نَفْسِهِ يَسَّرَ اللهُ لَهُ السَّبِيلَ

Jika seseorang benar-benar bersungguh-sungguh terhadap dirinya, maka Allah akan memudahkan jalan baginya,

{وَيَزِيدُ اللهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى} [مريم: ٧٦]

"Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk." (Maryam [19]: 76)

وَالْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ لَا يَرَى الدُّنْيَا دَارَ قَرَارٍ لِشُعُورِهِ بِقُرْبِ الرَّحِيلِ إِلَى دَارِ الْخُلُودِ، قَالَ ﷺ

Orang yang memperhatikan akhirat tidak akan menganggap dunia sebagai tempat menetap, karena dia selalu merasa akan segera pergi menuju kampung kekekalan (akhirat). Rasulullah ﷺ bersabda,

(قَالَ لِي جِبْرِيلُ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُلَاقِيهِ)

"Jibril a.s. berkata kepadaku, 'Wahai Muhammad, hiduplah dengan semaumu, sesungguhnya engkau akan mati. Cintailah siapa saja yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya, dan berbuatlah semaumu, sesungguhnya engkau akan bertemu dengan-Nya." Shahih al-Jami' no. 4355 (hasan).

وَلِذَلِكَ كَانَ مِمَّا تُعُجِّبَ مِنْهُ انْفِتَاحُ أَبْوَابِ الْخَيْرِ وَغَفْلَةُ الْإِنْسَانِ عَنْهَا وَمُلَاحَقَةُ الْفِتَنِ لِلْمَرْءِ وَعَدَمُ فِرَارِهِ مِنْهَا

Oleh sebab itu, Rasulullah merasa heran pada terbukanya pintu nikmat yang dapat melalaikan manusia dan berbagai cobaan yang menimpanya, namun tidak ada kemampuan untuk menyelamat-kan dirinya,

(مَا رَأَيْتُ مِثْلَ النَّارِ نَامَ هَارِبُهَا، وَلَا مِثْلَ الْجَنَّةِ نَامَ طَالِبُهَا)

"Aku heran melihat neraka, seseorang yang semestinya berlari darinya justru tertidur, dan (aku heran melihat) surga, seseorang yang semestinya menggapainya justru tertidur." Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (Jami' al-Ushul11/19 no. 8487).

بَيْنَمَا يَكُونُ الْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ شَدِيدَ الْحِرْصِ عَلَى اتِّقَاءِ الْمُنْكَرَاتِ، وَالْمُسَارَعَةِ فِي الْخَيْرَاتِ

Tetapi orang yang memperhatikan akhirat senantiasa berusaha keras meninggalkan berbagai kemungkaran, dan segera me-ngerjakan berbagai kebajikan.

وَحَالُ الْمُهْتَمِّ لِأَمْرِ آخِرَتِهِ التَّخَفُّفُ مِنَ الْعَلَائِقِ وَالزُّهْدُ بِالصَّوَارِفِ

Dan orang yang memperhatikan urusan akhiratnya, maka dia akan melepaskan dirinya dari segala ikatan, dan berzuhud dengan melakukan hal-hal yang dapat menyelamatkannya (dari kesibukan-kesibukan dunia),

(كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ)

"Jadilah kamu di dunia laksana orang asing atau orang yang sedang melintasi jalan." Diriwayatkan oleh Bukhari dan at-Tirmidzi (Jami' Al-Ushul 1/392 no. 185). 

وَالْجِدِّيَّةُ فِي الْحَيَاةِ عَلَامَةٌ مُمَيِّزَةٌ لِلرَّاغِبِ الرَّاهِبِ

Kesungguhan dalam menjalani kehidupan adalah karakter khusus orang yang menginginkan ridha Allah dan surga-Nya, serta takut akan siksa dan neraka-Nya,

(لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا)

"Andai kalian mengetahui apa yang Aku ketahui, maka niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Shahih Bukhari, kitab Tafsir, bab 12, hadits 4621 (al-Fat-h8/280).

وَالْهِمَّةُ فِي الْعَمَلِ عَلَامَةُ صِدْقِ الِاسْتِعْدَادِ لِلْآخِرَةِ وَالْخَوْفِ مِنَ اللهِ، وَذَلِكَ مَا مَثَّلَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِقَوْلِهِ

Semangat beramal merupakan tanda kesiapan menghadapi akhirat dan tanda takut kepada Allah. Hal itulah yang di-umpamakan oleh Rasulullah ﷺ. dengan sabdanya,

(مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ)

"Barangsiapa takut maka niscaya dia berjalan di awal malam (adlaja), dan barangsiapa yang berjalan di awal malam maka niscaya ia akan sampai pada tujuannya. Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal, maka dimaksud barang dagangan Allah adalah surga, " Shahih al-Jami' no. 6222 (shahih), arti adlaja adalah berjalan di awal malam. Yang dimaksud adalah bersiap sedia pada awal setiap urusan, karena orang yang memulai perjalanan dari awal malam selayaknyalah sampai ke tempat tujuannya. (Jami' al-Ushu/4/9/hadits 1981). 

أَمَّا مَنْ كَانَ سَفَرُهُ طَوِيلًا، وَانْطِلَاقُهُ مُتَأَخِّرًا، وَحَرَكَتُهُ بَطِيئَةً، وَهِمَّتُهُ ضَعِيفَةً؛ فَلَنْ يَبْلُغَ مُرَادَهُ، وَلَنْ يَصِلَ إِلَى مَقْصُودِهِ

Adapun orang yang perjalanannya sangat panjang, tetapi dia terlambat berangkat, geraknya lambat dan semangatnya lemah niscaya dia tidak akan sampai ke tempat tujuannya.

وَمِنْ أَهَمِّ مَا يُورِثُهُ الِاهْتِمَامُ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ أَنْ يُزِيحَ اللهُ بِهِ عَنِ الْقَلْبِ بَاقِيَ الْهُمُومِ لِيَصْفُوَ الْقَلْبُ لِلَّهِ وَإِنْ كَانَ فِي بَحْرٍ مِنَ الِابْتِلَاءَاتِ

Bersikap dengan memperhatikan akhirat akan memperoleh hasil, yaitu Allah akan menghilangkan bermacam-macam tujuan dari hatinya menjadi murni untuk Allah walaupun ia berada dalam cobaan. Rasulullah ﷺ. bersabda,

قَالَ ﷺ: (مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا، هَمَّ الْمَعَادِ، كَفَاهُ اللهُ سَائِرَ هُمُومِهِ، وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ مِنْ أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ)

"Barangsiapa menjadikan banyak tujuan menjadi satu tujuan saja, yaitu tujuan kepada akhirat niscaya Allah melindunginya dari berbagai tujuannya. Barangsiapa yang tujuannya bercabang-cabang pada urusan-urusan dunia, niscaya Allah membiarkannya binasa di lembah dunia mana saja. " Shahih al-Jami' no. 6189 (hasan).

وَ (مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ؛ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ. وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ؛ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ)

"Barangsiapa akhirat menjadi tujuannya niscaya Allah memberikan kekayaan dalam hatinya, menyatukan urusannya dan dunia akan datang kepadanya dengan keadaan hina. Barangsiapa dunia menjadi tujuannya niscaya Allah menjadikan kemiskinan di hadapannya, mengacaukan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sebagian yang telah ditentukan untuknya." Shahih al-Jami' no. 6510 (shahih).

فَتِجَارَةُ الْآخِرَةِ لَا تَبُورُ، وَالتَّهَافُتُ عَلَى الدُّنْيَا لَا يُغَيِّرُ الْمَقْدُورَ

Oleh karena itu, perniagaan akhirat tidak akan merugikan, sedangkan berlomba-lomba mendapatkan dunia tidak mengubah jatah (jumlah) yang telah ditetapkan.


خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN


مِنْ أَخْلَاقِنَا فِي الرَّبَّانِيَّةِ

Di antara akhlak kita dalam ketuhanan (rabbaniyyah):

مِنْ سُنَّةِ اللهِ فِي أُمُوْرِ الدُّنْيَا أَنَّهَا تُرْفَعُ وَتُوضَعُ

Sudah menjadi sunnatullah bahwa perkara-perkara dunia diangkat dan dijatuhkan.

مِنْ هَوَانِ الدُّنْيَا عَلَى اللهِ أَنَّهُ يَهَبُهَا لِلْكَافِرِ

Dunia amat hina bagi Allah sehingga Dia memberikannya kepada orang kafir.

كُلَّمَا زَادَتِ النِّعَمُ عَظُمَتِ الْمَسْؤُوْلِيَّةُ

Semakin banyak nikmat yang diperoleh, maka semakin besar pula pertanggungjawabannya.

قَدْ تَكُوْنُ النِّعَمُ عَاجِلَ الْأَجْرِ لِصَاحِبِهَا

Terkadang nikmat-nikmat itu merupakan pahala yang disegerakan kepada seseorang.

مِنْ عَلَامَةِ طَرِيْقِ الْجَنَّةِ أَنَّهُ مَحْفُوْفٌ بِالْبَلَاءِ

Jalan ke surga dikelilingi dengan berbagai ujian.

الْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ

Orang yang memperhatikan akhirat:

يَتَعَرَّفُ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ

Mengenal Allah pada waktu senang dan susah.

سَرِيْعُ الْفَيْئَةِ إِذَا أَخْطَأَ

Segera bertobat jika berbuat kesalahan.

يُفَكِّرُ فِيْمَا يُقَرِّبُهُ إِلَى الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُهُ مِنَ النَّارِ

Selalu memikirkan hal-hal yang dapat mendekatkannya ke surga dan menjauhkannya dari neraka.

لَا يَرَى الدُّنْيَا دَارَ قَرَارٍ

Tidak menganggap dunia sebagai tempat yang kekal.

يَتَخَفَّفُ مِنَ الدُّنْيَا وَيَزْهَدُ

Berzuhud dan melepaskan beban-beban dunia.

شَدِيْدُ الْهِمَّةِ وَالْخَوْفِ مِنَ اللهِ

Sangat bersemangat dan takut kepada Allah.

يَجْعَلُ هُمُوْمَهُ هَمًّا وَاحِدًا؛ هَمَّ الْمَعَادِ

Menjadikan berbagai tujuannya menjadi satu tujuan saja, yaitu tujuan akhirat.

غَنِيُّ الْقَلْبِ

Hatinya merasa kaya (lapang dada).

 

📙📙📙📙

Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share - Semoga bermanfaat