AKHLAK KITA DALAM KETUHANAN
Kedua:
الإهتمام بالآخرة
Perhatian terhadap Akhirat
مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا، هَمَّ الْمَعَادِ، كَفَاهُ اللهُ سَائِرَ هُمُومِهِ.
"Barangsiapa menjadikan banyak tujuan menjadi satu tujuan saja, yaitu tujuan kepada akhirat maka Allah akan melindunginya dari berbagai tujuannya."
يَعِيشُ الْمُؤْمِنُ الدَّاعِيَةُ كَثِيرًا مِنَ الْهُمُومِ
Seorang dai mukmin memiliki banyak tujuan dalam hidupnya.
وَرُبَّمَا كَانَ تَكَاثُرُ الْهُمُومِ سَبَبًا لِتَشْتِيتِ الْقَلْبِ عَنِ الْهَدَفِ، وَلِصَرْفِ الْهِمَّةِ إِلَى مَشَاغِلِ أَهْلِ الدُّنْيَا
Terkadang tujuannya menyebabkan hati menjadi meleset dari target dan cita-cita yang terfokus pada kesibukan-kesibukan masyarakat dunia,
وَاهْتِمَامَاتِهِمْ فَتَزُولُ الْمِيزَةُ وَيَنْعَدِمُ التَّمَيُّزُ وَتَخْتَلِطُ الْمَوَازِينُ
sehingga keistimewaannya menghilang dan timbangan bercampur.
إِنَّ مِنْ هَوَانِ أَمْرِ الدُّنْيَا أَنْ جَعَلَهَا اللهُ لَا تَدُومُ لِأَحَدٍ
Di antara tanda-tanda keremehan perkara dunia adalah bahwa Allah menjadikan dunia tidak kekal bagi seseorang,
(إِنَّ حَقًّا عَلَى اللهِ تَعَالَى أَنْ لَا يَرْفَعَ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ)
"Sesungguhnya Allah tidak mengangkat sedikit pun perkara dunia kecuali Dia menjatuhkannya." Shahih al-Jami' no. 2057 (shahih).
وَإِنَّمَا هِيَ أَيَّامٌ يُدَاوِلُهَا اللهُ بَيْنَ النَّاسِ، فَيَرْفَعُ أَقْوَامًا وَيَضَعُ آخَرِينَ، وَيُعِزُّ أَقْوَامًا وَيُذِلُّ آخَرِينَ لِتَتَحَقَّقَ حِكْمَةُ اللهِ فِي ابْتِلَاءِ الْعِبَادِ
Dunia hanyalah perputaran hari oleh Allah di antara manusia. Dia mengangkat sebagian kaum dan menjatuhkan yang lain. Dia juga memuliakan sebagian kaum dan merendahkan yang lain agar terealisasi hikmah Allah dalam ujian yang ditimpakan kepada hamba-hamba-Nya.
إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا لِلْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ يُحِبُّ
Allah memberikan dunia kepada orang mukmin dan kafir, dan hanya memberikan agama kepada orang yang dicintai-Nya.
وَقَدْ تَعَجَّبَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو حِينَ رَآهُ يُصْلِحُ جِدَارَ بَيْتِهِ
Rasulullah sangat heran ketika melihat Abdullah bin 'Amr memperbaiki dan memelester tembok rumahnya.
وَيُطَيِّنُهُ فَأَرَادَ أَنْ يُخْلِيَ قَلْبَهُ مِنَ التَّعَلُّقِ بِالدُّنْيَا وَأَنْ يُذَكِّرَهُ بِقُرْبِ الْأَجَلِ لِلِاسْتِعْدَادِ لَهُ فَقَالَ لَهُ
Beliau ingin membebaskan dirinya dari keterikatan dunia, dan mengingatkannya bahwa ajal telah dekat oleh karena itu ia harus segera bersiap-siap untuk menghadapinya, maka beliau bersabda,
(مَا أَرَى الْأَمْرَ إِلَّا أَعْجَلَ مِنْ ذَلِكَ)
"Aku tidak melihat perkara (ajal) kecuali ia lebih cepat dari hal itu." Shahih al-Jami' no. 5526 (shahih).
لِيَجْعَلَ الْآخِرَةَ هَمَّهُ وَالِاسْتِعْدَادَ لَهَا شُغْلَهُ. فَإِذَا بَالَغَ امْرُؤٌ فِي الِانْصِرَافِ عَنْ إِعْمَارِ الدُّنْيَا وَالسَّعْيِ فِيهَا فَيَحْتَاجُ إِلَى لَفْتَةٍ مِنْ نَوْعٍ آخَرَ
Agar Abdullah menjadikan akhirat sebagai tujuannya dan persiapan menghadapi akhirat sebagai kesibukannya. Tetapi jika seseorang telah berpaling dari perkara dunia maka perlu ditarik dengan cara lain,
{وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا} [القصص: ٧٧] بِحَيْثُ يَبْقَى عَلَى جَادَّةِ الْقَصْدِ وَالتَّوَازُنِ
"...Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi..." (al-Qashash [28]: 77) Agar ia tetap berada dalam tujuan yang benar dan seimbang.
وَإِنَّ الْعَبْدَ الْمَحْفُوْفَ بِالنَّعِيْمِ قَدْ يَكُوْنُ مُسْتَدْرَجًا لِمَزِيْدٍ مِنَ الْمَسْؤُولِيَّةِ وَالْعَذَابِ وَهُوَ لَا يَدْرِيْ
Hamba yang bergelimang (penuh) dengan nikmat akan dituntut pertanggungjawabannya secara berangsur dan siksa sedangkan dia tidak menyadarinya,
(إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيْمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ)
"Jika engkau melihat Allah swt. memberikan apa saja dari perkara yang dicintainya kepada seorang hamba sedangkan dia tetap mengerjakan maksiat, maka sesungguhnya hal itu adalah istidraj (tipuan) dari-Nya." Shahih al-Jami', no. 561 (shahih).
فَلَا تَحْزَنْ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنْهَا
Maka, jangan bersedih jika perkara dunia tidak dapat engkau raih.
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا أُوْتِيَ النَّاسُ مِنَ الدُّنْيَا فَرُبَّمَا كَانُوْا لَا يُحْسَدُوْنَ عَلَيْهَا إِذَا لَمْ يُؤَدُّوْا حَقَّهَا
Janganlah engkau pandang kenikmatan dunia yang diberikan (dengan segera) kepada manusia, karena mungkin saja mereka tidak suka dengan kenikmatan itu jika mereka tidak menunaikan hak kenikmatan tersebut.
وَالْخُطُوْرَةُ فِي أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ النِّعَمُ الْأَجْرَ
Yang sangat berbahaya adalah jika berbagai kenikmatan tersebut merupakan pahala yang diberikan oleh Allah,
الْعَاجِلَ لِيُحْرَمَ صَاحِبُهَا الْأَجْرَ الْآجِلَ حَيْثُ يَكُوْنُ فِي أَشَدِّ الْحَاجَةِ لِمَا يُرَجِّحُ كِفَّةَ حَسَنَاتِهِ؛
namun di akhirat nanti pahalanya ditangguhkan sehingga orang itu tidak mendapatkannya, padahal pahala sangat diperlukan untuk memberatkan timbangan kebaikan- kebaikannya.
وَلِذَلِكَ طَيَّبَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ خَاطِرَ أَصْحَابِهِ حِيْنَ ذَكَرُوْا نَعِيْمَ الرُّوْمِ وَالْفُرْسِ فَقَالَ
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ. memperbaiki apa yang terlintas dalam benak para sahabatnya ketika mereka menyebutkan kemegahan bangsa Romawi dan Persia. Beliau bersabda,
(أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا)
Mereka adalah kaum yang kenikmatannya disegerakan pada kehidupan dunia ini. " Shahihul Bukhari, Kitab al-Mazhalim, bab 25, hadits 2468 (al-Fat-h, 5/116)
وَغَالِبُ حَالِ النَّاسِ كَمَا قَالَ ﷺ: (أَكْثَرُ النَّاسِ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوْعًا فِي الْآخِرَةِ)
Kebanyakan keadaan manusia seperti apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah ﷺ., Manusia yang paling kenyang di dunia adalah manusia yang paling lapar di akhirat. " Shahih al-Jami' no. 1199 (hasan).
وَذَلِكَ لِقِلَّةِ الشَّاكِرِيْنَ، وَكَمَا قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ
Hal itu disebabkan karena sedikitnya orang-orang yang bersyukur. Sebagaimana firman-Nya,
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيْهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُوْمًا مَدْحُوْرًا
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami Kehendaki dan Kami tentukan baginya Neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir." (al-Israa' [17]: 18)
وَكُلُّ نِعْمَةٍ مَهْمَا صَغُرَتْ عَلَيْهَا حِسَابٌ وَمَسْؤُوْلِيَّةٌ
Setiap nikmat walaupun kecil akan dihisab dan dipertanggung-jawabkan.
فَالْمِسْكِيْنُ مَنْ لَمْ يَقُمْ بِحَقِّهَا لَا مَنْ حُرِمَ مِنْهَا فِي الدُّنْيَا
Orang yang miskin (malang) adalah orang yang tidak menunaikan hak (kewajiban) nikmat tersebut kepada orang yang tidak mendapat nikmat tersebut di dunia,
(إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ النَّعِيْمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ: أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ، وَنُرْوِيَكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ؟)
"Sesungguhnya kenikmatan yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari Kiamat adalah dikatakan kepadanya, 'Bukankah kami telah menyehatkan badanmu dan memberikan kamu air minum yang sejuk?!" Shahih al-Jami'no. 2022 (shahih).
وَلِذَلِكَ كَانَ مِنْ عَلَامَةِ طَرِيقِ الْجَنَّةِ أَنَّهُ مَحْفُوفٌ بِالْبَلَاءِ، وَلَا يَهُونُ الْبَلَاءُ إِلَّا عَلَى مَنْ جَعَلَ الْآخِرَةَ هَمَّهُ
Oleh karena itu, di antara tanda-tanda jalan menuju surga adalah jalan itu dikelilingi dengan ujian. Ujian akan menjadi ringan bagi orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya,
(حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ)
"Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak enak dan neraka dikelilingi dengan hal-hal yang menggiurkan (hawa nafsu)." Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi (Jami' al-Ushul 10/521).
وَإِنَّ مَسْؤُولِيَّةَ الْمُسْلِمِ الَّذِي يَقْدُرُ اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ أَنْ يُوَحِّدَ هَمَّهُ فَيُفَكِّرَ فِي الْمَآلِ وَالْمَصِيرِ
Sesungguhnya tugas seorang muslim yang dimuliakan oleh Allah adalah menyatukan tujuannya dengan memikirkan akhirat,
لَا أَنْ يَصْرِفَ كُلَّ جُهْدِهِ وَفِكْرِهِ وَوَقْتِهِ فِي صَغَائِرِ الْأُمُورِ وَتَوَافِهِهَا
tidak mencurahkan upaya, pikiran dan waktunya untuk hal-hal kecil dan remeh.
وَبِقَدْرِ مَا يَكُونُ اللهُ فِي قَلْبِ الْعَبْدِ مِنْ تَوْقِيرٍ وَإِجْلَالٍ وَرَهْبَةٍ يَكُونُ لِلْعَبْدِ عِنْدَ اللهِ مِنَ الْأَجْرِ وَالْمَنْزِلَةِ
Pahala dan kedudukan bagi seorang hamba di sisi Allah tergantung pada rasa takut dan hormat di dalam hatinya terhadap Allah swt.,
(مَنْ أَرَادَ أَنْ يَعْلَمَ مَا لَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ مَا اللهُ عِنْدَهُ)
"Barangsiapa ingin mengetahui balasan baginya di sisi Allah, maka hendaklah ia mengetahui apa saja hak Allah di sisinya (yang telah ia tunaikan). " Shahih al-Jami' no. 6006 (hasan).
وَمَنْ كَانَ دَائِمَ التَّفْكِيرِ فِي رِضَى اللهِ فَإِنَّهُ لَا تَشْغَلُهُ النِّعْمَةُ وَلَا يُعْمِيهِ الْبَلَاءُ، وَمَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فِي الْيُسْرِ كَانَ اللهُ لَهُ فِي الْعُسْرِ
Barangsiapa yang selalu memikirkan keridhaan Allah maka ia tidak akan dilalaikan oleh kenikmatan dan tidak dibutakan oleh ujian. Barangsiapa yang bersama Allah pada saat senang maka Allah bersamanya pada saat susah,
(تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ)
"Kenalilah Allah di waktu senang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah." Shahih al-Jami' no. 2961 (shahih).
وَمِثْلُ هَذَا الْحَالِ يَقْتَضِي مِنَ الْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ دَائِمَ الرَّقَابَةِ لِلَّهِ وَالْحَيَاءِ مِنْهُ أَكْثَرَ مِمَّا يَحْتَاطُ وَيَسْتَحْيِي مِنَ الْبَشَرِ
Hal ini menuntut seorang mukmin untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dan lebih malu terhadap-Nya daripada terhadap manusia,
(مَا كَرِهْتَ أَنْ يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَلَا تَفْعَلْهُ بِنَفْسِكَ إِذَا خَلَوْتَ)
Suatu perbuatan yang engkau tidak inginkan dilihat oleh orang-orang, maka janganlah engkau kerjakan pada saat sendirian." Shahih al-Jami' no. 5659 (hasan).
وَ (اعْبُدِ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ)
Dan, "Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu." Shahih al-Jami' no. 1037 (hasan).
وَالْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ إِذَا ذُكِّرَ بِخَطَئِهِ سَرِيعُ الْفَيْئَةِ قَرِيبُ الرَّجْعَةِ
Orang yang memperhatikan akhirat jika diingatkan ke-salahannya maka akan segera bertobat,
(إِذَا ذُكِّرْتُمْ بِاللهِ فَانْتَهُوا)
"Jika kalian diingatkan akan Allah maka berhentilah." Shahih al-Jami' no. 546 (hasan).
وَالَّذِي يَخَافُ اللهَ فِي الدُّنْيَا وَيَحْذَرُ مَعْصِيَتَهُ وَيَحْتَاطُ لِأَمْرِ آخِرَتِهِ فَذَلِكَ هُوَ الْآمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Orang yang takut kepada Allah di dunia, tidak bermaksiat kepada-Nya dan berhati-hati dalam urusan akhiratnya maka itulah orang yang selamat pada hari Kiamat,
(قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَجْمَعُ لِعَبْدِي أَمْنَيْنِ وَلَا خَوْفَيْنِ. إِنْ هُوَ أَمِنَنِي فِي الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ عِبَادِي، وَإِنْ هُوَ خَافَنِي فِي الدُّنْيَا أَمَّنْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ عِبَادِي)
"Allah berfirman (dalam hadits qudsi), 'Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak menggabungkan dua ketakutan dan dua keamanan pada hamba-Ku. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka niscaya Aku jadikan ia ketakutan pada saat Aku kumpulkan hamba-hamba-Ku. Tetapi jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka niscaya Aku jadikan ia merasa aman pada saat Aku kumpulkan hamba-hamba-Ku." Shahih al-Jami'no. 4332 (hasan).
وَالْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ يُفَكِّرُ فِيمَا يُقَرِّبُهُ إِلَى الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُهُ مِنَ النَّارِ، وَقَدْ جَعَلَ اللهُ مَدَارَ الْمَسْؤُولِيَّةِ عَلَى انْبِعَاثِ إِرَادَةِ الْإِنْسَانِ إِلَى الطَّاعَةِ أَوِ الْمَعْصِيَةِ لِذَلِكَ قَالَ ﷺ
Orang yang memperhatikan akhirat maka berarti dia selalu memikirkan hal-hal yang dapat mendekatkannya kepada surga dan menjauhkannya dari neraka. Allah telah menjadikan pertanggungjawaban terhadap pada barigkitnya keinginan manusia untuk taat atau untuk bermaksiat. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ. bersabda,
(الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ)
"Surga lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya, begitu pula dengan neraka." Diriwayatkan oleh Bukhari (Jami' al-Ushul10/522 no. 8071).
وَإِذَا صَدَقَ الْمَرْءُ فِي مُجَاهَدَةِ نَفْسِهِ يَسَّرَ اللهُ لَهُ السَّبِيلَ
Jika seseorang benar-benar bersungguh-sungguh terhadap dirinya, maka Allah akan memudahkan jalan baginya,
{وَيَزِيدُ اللهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى} [مريم: ٧٦]
"Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk." (Maryam [19]: 76)
وَالْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ لَا يَرَى الدُّنْيَا دَارَ قَرَارٍ لِشُعُورِهِ بِقُرْبِ الرَّحِيلِ إِلَى دَارِ الْخُلُودِ، قَالَ ﷺ
Orang yang memperhatikan akhirat tidak akan menganggap dunia sebagai tempat menetap, karena dia selalu merasa akan segera pergi menuju kampung kekekalan (akhirat). Rasulullah ﷺ bersabda,
(قَالَ لِي جِبْرِيلُ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُلَاقِيهِ)
"Jibril a.s. berkata kepadaku, 'Wahai Muhammad, hiduplah dengan semaumu, sesungguhnya engkau akan mati. Cintailah siapa saja yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya, dan berbuatlah semaumu, sesungguhnya engkau akan bertemu dengan-Nya." Shahih al-Jami' no. 4355 (hasan).
وَلِذَلِكَ كَانَ مِمَّا تُعُجِّبَ مِنْهُ انْفِتَاحُ أَبْوَابِ الْخَيْرِ وَغَفْلَةُ الْإِنْسَانِ عَنْهَا وَمُلَاحَقَةُ الْفِتَنِ لِلْمَرْءِ وَعَدَمُ فِرَارِهِ مِنْهَا
Oleh sebab itu, Rasulullah merasa heran pada terbukanya pintu nikmat yang dapat melalaikan manusia dan berbagai cobaan yang menimpanya, namun tidak ada kemampuan untuk menyelamat-kan dirinya,
(مَا رَأَيْتُ مِثْلَ النَّارِ نَامَ هَارِبُهَا، وَلَا مِثْلَ الْجَنَّةِ نَامَ طَالِبُهَا)
"Aku heran melihat neraka, seseorang yang semestinya berlari darinya justru tertidur, dan (aku heran melihat) surga, seseorang yang semestinya menggapainya justru tertidur." Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (Jami' al-Ushul11/19 no. 8487).
بَيْنَمَا يَكُونُ الْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ شَدِيدَ الْحِرْصِ عَلَى اتِّقَاءِ الْمُنْكَرَاتِ، وَالْمُسَارَعَةِ فِي الْخَيْرَاتِ
Tetapi orang yang memperhatikan akhirat senantiasa berusaha keras meninggalkan berbagai kemungkaran, dan segera me-ngerjakan berbagai kebajikan.
وَحَالُ الْمُهْتَمِّ لِأَمْرِ آخِرَتِهِ التَّخَفُّفُ مِنَ الْعَلَائِقِ وَالزُّهْدُ بِالصَّوَارِفِ
Dan orang yang memperhatikan urusan akhiratnya, maka dia akan melepaskan dirinya dari segala ikatan, dan berzuhud dengan melakukan hal-hal yang dapat menyelamatkannya (dari kesibukan-kesibukan dunia),
(كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ)
"Jadilah kamu di dunia laksana orang asing atau orang yang sedang melintasi jalan." Diriwayatkan oleh Bukhari dan at-Tirmidzi (Jami' Al-Ushul 1/392 no. 185).
وَالْجِدِّيَّةُ فِي الْحَيَاةِ عَلَامَةٌ مُمَيِّزَةٌ لِلرَّاغِبِ الرَّاهِبِ
Kesungguhan dalam menjalani kehidupan adalah karakter khusus orang yang menginginkan ridha Allah dan surga-Nya, serta takut akan siksa dan neraka-Nya,
(لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا)
"Andai kalian mengetahui apa yang Aku ketahui, maka niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Shahih Bukhari, kitab Tafsir, bab 12, hadits 4621 (al-Fat-h8/280).
وَالْهِمَّةُ فِي الْعَمَلِ عَلَامَةُ صِدْقِ الِاسْتِعْدَادِ لِلْآخِرَةِ وَالْخَوْفِ مِنَ اللهِ، وَذَلِكَ مَا مَثَّلَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِقَوْلِهِ
Semangat beramal merupakan tanda kesiapan menghadapi akhirat dan tanda takut kepada Allah. Hal itulah yang di-umpamakan oleh Rasulullah ﷺ. dengan sabdanya,
(مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ)
"Barangsiapa takut maka niscaya dia berjalan di awal malam (adlaja), dan barangsiapa yang berjalan di awal malam maka niscaya ia akan sampai pada tujuannya. Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal, maka dimaksud barang dagangan Allah adalah surga, " Shahih al-Jami' no. 6222 (shahih), arti adlaja adalah berjalan di awal malam. Yang dimaksud adalah bersiap sedia pada awal setiap urusan, karena orang yang memulai perjalanan dari awal malam selayaknyalah sampai ke tempat tujuannya. (Jami' al-Ushu/4/9/hadits 1981).
أَمَّا مَنْ كَانَ سَفَرُهُ طَوِيلًا، وَانْطِلَاقُهُ مُتَأَخِّرًا، وَحَرَكَتُهُ بَطِيئَةً، وَهِمَّتُهُ ضَعِيفَةً؛ فَلَنْ يَبْلُغَ مُرَادَهُ، وَلَنْ يَصِلَ إِلَى مَقْصُودِهِ
Adapun orang yang perjalanannya sangat panjang, tetapi dia terlambat berangkat, geraknya lambat dan semangatnya lemah niscaya dia tidak akan sampai ke tempat tujuannya.
وَمِنْ أَهَمِّ مَا يُورِثُهُ الِاهْتِمَامُ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ أَنْ يُزِيحَ اللهُ بِهِ عَنِ الْقَلْبِ بَاقِيَ الْهُمُومِ لِيَصْفُوَ الْقَلْبُ لِلَّهِ وَإِنْ كَانَ فِي بَحْرٍ مِنَ الِابْتِلَاءَاتِ
Bersikap dengan memperhatikan akhirat akan memperoleh hasil, yaitu Allah akan menghilangkan bermacam-macam tujuan dari hatinya menjadi murni untuk Allah walaupun ia berada dalam cobaan. Rasulullah ﷺ. bersabda,
قَالَ ﷺ: (مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا، هَمَّ الْمَعَادِ، كَفَاهُ اللهُ سَائِرَ هُمُومِهِ، وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ مِنْ أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ)
"Barangsiapa menjadikan banyak tujuan menjadi satu tujuan saja, yaitu tujuan kepada akhirat niscaya Allah melindunginya dari berbagai tujuannya. Barangsiapa yang tujuannya bercabang-cabang pada urusan-urusan dunia, niscaya Allah membiarkannya binasa di lembah dunia mana saja. " Shahih al-Jami' no. 6189 (hasan).
وَ (مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ؛ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ. وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ؛ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ)
"Barangsiapa akhirat menjadi tujuannya niscaya Allah memberikan kekayaan dalam hatinya, menyatukan urusannya dan dunia akan datang kepadanya dengan keadaan hina. Barangsiapa dunia menjadi tujuannya niscaya Allah menjadikan kemiskinan di hadapannya, mengacaukan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sebagian yang telah ditentukan untuknya." Shahih al-Jami' no. 6510 (shahih).
فَتِجَارَةُ الْآخِرَةِ لَا تَبُورُ، وَالتَّهَافُتُ عَلَى الدُّنْيَا لَا يُغَيِّرُ الْمَقْدُورَ
Oleh karena itu, perniagaan akhirat tidak akan merugikan, sedangkan berlomba-lomba mendapatkan dunia tidak mengubah jatah (jumlah) yang telah ditetapkan.
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN
مِنْ أَخْلَاقِنَا فِي الرَّبَّانِيَّةِ
Di antara akhlak kita dalam ketuhanan (rabbaniyyah):
مِنْ سُنَّةِ اللهِ فِي أُمُوْرِ الدُّنْيَا أَنَّهَا تُرْفَعُ وَتُوضَعُ
Sudah menjadi sunnatullah bahwa perkara-perkara dunia diangkat dan dijatuhkan.
مِنْ هَوَانِ الدُّنْيَا عَلَى اللهِ أَنَّهُ يَهَبُهَا لِلْكَافِرِ
Dunia amat hina bagi Allah sehingga Dia memberikannya kepada orang kafir.
كُلَّمَا زَادَتِ النِّعَمُ عَظُمَتِ الْمَسْؤُوْلِيَّةُ
Semakin banyak nikmat yang diperoleh, maka semakin besar pula pertanggungjawabannya.
قَدْ تَكُوْنُ النِّعَمُ عَاجِلَ الْأَجْرِ لِصَاحِبِهَا
Terkadang nikmat-nikmat itu merupakan pahala yang disegerakan kepada seseorang.
مِنْ عَلَامَةِ طَرِيْقِ الْجَنَّةِ أَنَّهُ مَحْفُوْفٌ بِالْبَلَاءِ
Jalan ke surga dikelilingi dengan berbagai ujian.
الْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ
Orang yang memperhatikan akhirat:
يَتَعَرَّفُ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ
Mengenal Allah pada waktu senang dan susah.
سَرِيْعُ الْفَيْئَةِ إِذَا أَخْطَأَ
Segera bertobat jika berbuat kesalahan.
يُفَكِّرُ فِيْمَا يُقَرِّبُهُ إِلَى الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُهُ مِنَ النَّارِ
Selalu memikirkan hal-hal yang dapat mendekatkannya ke surga dan menjauhkannya dari neraka.
لَا يَرَى الدُّنْيَا دَارَ قَرَارٍ
Tidak menganggap dunia sebagai tempat yang kekal.
يَتَخَفَّفُ مِنَ الدُّنْيَا وَيَزْهَدُ
Berzuhud dan melepaskan beban-beban dunia.
شَدِيْدُ الْهِمَّةِ وَالْخَوْفِ مِنَ اللهِ
Sangat bersemangat dan takut kepada Allah.
يَجْعَلُ هُمُوْمَهُ هَمًّا وَاحِدًا؛ هَمَّ الْمَعَادِ
Menjadikan berbagai tujuannya menjadi satu tujuan saja, yaitu tujuan akhirat.
غَنِيُّ الْقَلْبِ
Hatinya merasa kaya (lapang dada).
📙📙📙📙
Sumber:
هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan
Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan - share - Semoga bermanfaat




