Label xxx

Senin, 24 Agustus 2026

Nafsu - 06 - Tazkiyyatun nafs

 


أَحْوَالُ النَّفْسِ وَمُحَاسَبَتُهَا

NAFSU

اتَّفَق السَّالِكُونَ إِلَى اللَّهِ عَلَى اخْتِلَافِ طُرُقِهِمْ وَتَبَايُنِ سُلُوكِهِمْ عَلَى أَنَّ النَّفْسَ قَاطِعَةٌ بَيْنَ الْقَلْبِ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى الرَّبِّ

Para penempuh jalan menuju Allah dengan beragam cara dan metode bersepakat bahwa nafsu adalah faktor yang menghalangi hati untuk sampai kepada Allah.

وَأَنَّهُ لَا يُدْخَلُ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَلَا يُوصَلُ إِلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ إِمَاتَتِهَا وَتَرْكِهَا بِمُخَالَفَتِهَا، وَالظَّفَرِ بِهَا

Mereka juga bersepakat, tidak ada seorang pun yang dapat masuk dan sampai kepada Allah kecuali jika sudah membunuh nafsu tersebut, menyelisihi, memenangi pertarungan atasnya.

فَإِنَّ النَّاسَ عَلَى قِسْمَيْنِ: قِسْمٌ ظَفِرَتْ بِهِ نَفْسُهُ: فَمَلَكَتْهُ وَأَهْلَكَتْهُ، وَصَارَ طَوْعًا لَهَا تَحْتَ أَوَامِرِهَا

Begitulah, manusia itu ada dua kelompok. Pertama, manusia yang dikalahkan, dikuasai dan dihancurkan oleh hawa nafsunya.

وَقِسْمٌ ظَفِرُوا بِنُفُوسِهِمْ: فَقَهَرُوهَا فَصَارَتْ طَوْعًا لَهُمْ، مُنْقَادَةً لِأَوَامِرِهِمْ

Ia benar-benar tunduk di bawah perintahnya. Kedua, manusia yang berhasil memenangi pertarungan melawannya. Ia mampu mengekang, menundukkan, sehingga nafsu pun tunduk di bawah perintahnya.


قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: "انْتَهَى سَفَرُ الطَّالِبِينَ إِلَى الظَّفَرِ بِأَنْفُسِهِمْ؛ فَمَنْ ظَفِرَ بِنَفْسِهِ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَمَنْ ظَفِرَتْ بِهِ نَفْسُهُ خَسِرَ وَهَلَكَ

Sebagian orang arif berkata, "Akhir dari perjalanan para Thalibin (orang-orang yang mencari) adalah ketika mereka telah berhasil menundukkan nafsunya. Siapa pun yang demikian keadaannya telah ber jihasil dan sukses. Sebaliknya siapa saja yang dikalahkan nafsunya, berarti telah gagal dan hancur.


قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ۞ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۞ فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ ۞ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۞ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Allah berfirman, Adapun orang yang durhaka, lagi mengutamakan kehidupan dunia. Maka neraka Jahimlah tempat tinggalnya. Sedangkan orang yang takut akan kebesaran Rabbnya, lagi menahan diri dari hawa nafsunya. Maka surgalah tempat tinggalnya." An-Nâzi'at: 37-41

وَالنَّفْسُ تَدْعُو إِلَى الطُّغْيَانِ وَإِيثَارِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَالرَّبُّ يَدْعُو عَبْدَهُ إِلَى خَوْفِهِ وَنَهْيِ النَّفْسِ عَنِ الْهَوَى، وَالْقَلْبُ بَيْنَ الدَّاعِيَيْنِ: يَمِيلُ إِلَى هَٰذَا الدَّاعِي مَرَّةً وَإِلَى هَٰذَا مَرَّةً، وَهَٰذَا مَوْضِعُ الْمِحْنَةِ وَالِابْتِلَاءِ

Nafsu itu menyeru kepada sikap durhaka dan mendahulukan kehidupan dunia...

Sedangkan Allah merintahkan hambaNya agar takut kepadaNya dan menahan diri dari hawa nafsunya. Jadi, hati manusia itu ada di antara dua penyeru. Kadangkala ia condong kepada yang satu, dan kadang pula condong kepada lainnya. Di sinilah ujian dan cobaan.

وَقَدْ وَصَفَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ النَّفْسَ فِي الْقُرْآنِ بِثَلَاثِ صِفَاتٍ: الْمُطْمَئِنَّةِ، وَاللَّوَّامَةِ، وَالْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ. فَاخْتَلَفَ النَّاسُ: هَلِ النَّفْسُ وَاحِدَةٌ وَهَٰذِهِ أَوْصَافٌ لَهَا، أَمْ لِلْعَبْدِ ثَلَاثُ أَنْفُسٍ؟

Dalam Al-Qur'an, Allah menyebut nafsu dengan tiga sifat; muthmainnah, lawwâmah dan ammarah bis-sû'. Selanjutnya manusia berbeda pendapat; Apakah nafsu itu satu dan yang tiga adalah sifatnya? Ataukah setiap manusia itu memiliki tiga nafsu.

فَالْأَوَّلُ: قَوْلُ الْفُقَهَاءِ وَالْمُفَسِّرِينَ

Pendapat pertama adalah pendapat fuqaha' dan para mufassir.

وَالثَّانِي: قَوْلُ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ التَّصَوُّفِ

Sedangkan pendapat kedua adalah pendapat mayoritas ahli tashawwuf.

وَالتَّحْقِيقُ أَنَّهُ لَا نِزَاعَ بَيْنَ الْفَرِيقَيْنِ؛ فَإِنَّهَا وَاحِدَةٌ بِاعْتِبَارِ ذَاتِهَا، وَثَلَاثَةٌ بِاعْتِبَارِ صِفَاتِهَا.

Tetapi pada hakekatnya tidak ada pertentangan antara dua pendapat ini ... Sebab memang nafsu itu hanya ada satu, jika ditinjau dari sisi dzatnya; dan terbagi menjadi tiga, jika ditinjau dari sisi sifatnya.


النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

Nafsul Muthmainnah

إِذَا سَكَنَتِ النَّفْسُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاطْمَأَنَّتْ بِذِكْرِهِ، وَأَنَابَتْ إِلَيْهِ وَاشْتَاقَتْ إِلَى لِقَائِهِ؛

Apabila nafsu tenang dan tentram dengan dzikrullah, tunduk kepadaNya, rindu berjumpa denganNya, serta jinak kala dekat denganNya,

وَأَنِسَتْ بِقُرْبِهِ؛ فَهِيَ مُطْمَئِنَّةٌ، وَهِيَ الَّتِي يُقَالُ لَهَا عِنْدَ الْوَفَاةِ: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۞ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

maka ia disebut Nafsu Muthmainnah. Kepadanya dikatakan-ketika menemui ajalnya, Wahai nafsu muthmainnah! Pulanglah kepada Rabbmu dengan penuh ridla dan diridlai!, Al-Fajr : 27-28


قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: الْمُطْمَئِنَّةُ: الْمُصَدِّقَةُ

Ibnu Abbas menafsirkan, muthmainnah dengan mushaddiqah, yang membenarkan kebenaran.

وَقَالَ قَتَادَةُ: "هُوَ الْمُؤْمِنُ اطْمَأَنَّتْ نَفْسُهُ إِلَى مَا وَعَدَ اللَّهُ

Qatadah berkata, "Yaitu seorang mukmin yang nafsunya tenang dengan apa yang dijanjikan oleh Allah.

وَصَاحِبُهَا يَطْمَئِنُّ فِي بَابِ مَعْرِفَةِ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ إِلَى خَبَرِهِ الَّذِي أَخْبَرَ بِهِ عَنْ نَفْسِهِ وَأَخْبَرَ بِهِ عَنْ رَسُولِهِ

Tenang di pintu ma'rifah terhadap asma' dan shifatNya dengan berdasarkan kabar dariNya (Al-Qur'an) dan dari rasulNya (As-Sunnah).


ثُمَّ يَطْمَئِنُّ إِلَى خَبَرِهِ عَمَّا بَعْدَ الْمَوْتِ مِنْ أُمُورِ الْبَرْزَخِ وَمَا بَعْدَهُ مِنْ أَحْوَالِ الْقِيَامَةِ حَتَّى كَأَنَّهُ يُشَاهِدُ ذٰلِكَ كُلَّهُ عِيَانًا

Tenang atas kabar yang datang tentang apa yang terjadi setelah kematian, alam barzakh, dan kejadian dihari kiamat, seakan-akan melihatnya dengan mata telanjang.

ثُمَّ يَطْمَئِنُّ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُسَلِّمُ لَهُ وَيَرْضَى؛ فَلَا يَسْخَطُ وَلَا يَشْكُو وَلَا يَضْطَرِبُ إِيمَانُهُ؛

Tentram atas taqdir Allah, menerima dan meridlainya, tidak benci dan berkeluh-kesah, tidak pula terguncang keimanannya,

 فَلَا يَأْسَى عَلَى مَا فَاتَهُ، وَلَا يَفْرَحُ بِمَا آتَاهُ؛ لِأَنَّ الْمُصِيبَةَ فِيهِ مُقَدَّرَةٌ قَبْلَ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِ، وَقَبْلَ أَنْ تُخْلَقَ؛ قَالَ تَعَالَى

tidak berputus asa atas sesuatu yang lepas darinya, pun tidak berbangga atas apa yang dimilikinya. Sebab, semua musibah telah ditakdirkan olehNya jauh sebelum musibah itu sampai kepadanya, bahkan sebelum ia diciptakan.

مَا أَصَابَ مِن مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Tidak ada musibah yang datang kecuali dengan izin dari Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Qs. 64 At-Taghabun: 11

قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ: "هُوَ الْعَبْدُ تُصِيبُهُ الْمُصِيبَةُ فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَيَرْضَى وَيُسَلِّمُ

Tidak sedikit dari para salaf yang menafsirkannya sebagai: seseorang yang ditimpa musibah, ia mengerti bahwa musibah itu datang dari Allah sehingga ia ridha dan pasrah.

وَأَمَّا طُمَأْنِينَةُ الْإِحْسَانِ فَهِيَ الطُّمَأْنِينَةُ إِلَى أَمْرِهِ امْتِثَالًا وَإِخْلَاصًا وَنُصْحًا

Adapun yang dimaksud dengan thuma'ninah ihsan adalah ketenangan seseorang dalam melaksanakan perintah dengan ikhlas dan setia.

فَلَا يُقَدِّمُ عَلَى أَمْرِهِ إِرَادَةً وَلَا هَوًى وَلَا تَقْلِيدًا، وَلَا يُسَاكِنُ شُبْهَةً تُعَارِضُ خَبَرَهُ، وَلَا شَهْوَةً تُعَارِضُ أَمْرَهُ

Tidak mendahuluinya dengan satu keinginan ataupun hawa nafsu, juga bukan karena taklid. Ia tidak dihinggapi suatu syubhat yang mengaburkan kabar-Nya, atau syahwat yang bertentangan dengan perintahNya.

بَلْ إِذَا مَرَّتْ بِهِ أَنْزَلَهَا مَنْزِلَةَ الْوَسَاوِسِ الَّتِي لَأَنْ يَخِرَّ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَجِدَهَا

Bahkan jika suatu ketika syubhat dan syahwat itu datang, ia akan menganggapnya sebagai gangguan yang baginya lebih baik terjun dari langit ke bumi daripada mengecapnya, walau sesaat.

فَهَٰذَا كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَرِيحُ الْإِيمَانِ

Inilah yang dimaksud oleh Nabi sebagai sharihul îmân (iman yang jelas).

وَكَذٰلِكَ يَطْمَئِنُّ مِنْ قَلَقِ الْمَعْصِيَةِ وَانْزِعَاجِهَا إِلَى سُكُونِ التَّوْبَةِ وَحَلَاوَتِهَا

Nafsu Muthma'innah juga terjaga dari kegelisahan untuk bermaksiat dan gejolaknya, menuju taubat dan kenikmatannya.

فَإِذَا اطْمَأَنَّ مِنَ الشَّكِّ إِلَى الْيَقِينِ

Bila diri tenang telah berpindah dari keraguan kepada keyakinan;

وَمِنَ الْجَهْلِ إِلَى الْعِلْمِ، وَمِنَ الْغَفْلَةِ إِلَى الذِّكْرِ، وَمِنَ الْخِيَانَةِ إِلَى التَّوْبَةِ، وَمِنَ الرِّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَاصِ

Dari kebodohan kepada ilmu; dari kealpaan kepada dzikir, dari khianat kepada taubat dari riya' kepada ikhlash;

وَمِنَ الْكَذِبِ إِلَى الصِّدْقِ، وَمِنَ الْعَجْزِ إِلَى الْكَيْسِ، وَمِنْ صَوْلَةِ الْعُجْبِ إِلَى ذِلَّةِ الْإِخْبَاتِ، وَمِنَ التِّيهِ إِلَى التَّوَاضُعِ؛ فَعِنْدَ ذٰلِكَ تَكُونُ نَفْسُهُ مُطْمَئِنَّةً

dari kedustaan kepada kejujuran; dari kelemahan kepada semangat yang membaja; dari sifat 'ujub kepada ketundukan; dan dari kesesatan kepada ketawadlu'an, ketika itulah nafsu telah tentram, muthmainnah.

وَأَصْلُ ذٰلِكَ كُلِّهِ هِيَ الْيَقَظَةُ؛

Pondasi dari itu semua adalah yaqzdhah (kesadaran).

الَّتِي كَشَفَتْ عَنْ قَلْبِهِ سِنَةَ الْغَفْلَةِ، وَأَضَاءَتْ لَهُ قُصُورَ الْجَنَّةِ

Kesadaranlah yang menyibak kealpaan dan kelalaian diri. Ia pulalah yang menampakkan baginya taman surga.

 فَصَاحَ قَائِلًا

bersenandung

 أَلَا يَا نَفْسُ وَيْحَكِ سَاعِدِينِي

Tahukah kau, duhai nafsu?

بِسَعْيٍ مِنْكِ فِي ظُلَمِ اللَّيَالِي

Celaka bila engkau bergembira

لَعَلَّكِ فِي الْقِيَامَةِ أَنْ تَفُوزِي

Bantu aku dalam pekatnya malam

بِطِيبِ الْعَيْشِ فِي تِلْكَ الْعَلَالِي

Moga cita nikmat hidup... dalam menjulang

فَرَأَى فِي ضَوْءِ هَٰذِهِ الْيَقَظَةِ مَا خُلِقَ لَهُ

Di bawah cahaya kesadaraan, diri akan melihat semua yang diciptakan untuknya.

 وَمَا سَيَلْقَاهُ بَيْنَ يَدَيْهِ مِنْ حِينِ الْمَوْتِ إِلَى دُخُولِ دَارِ الْقَرَارِ

Juga, apa yang akan ditemuinya di alam barzakh, sampai memasuki negeri abadi.

وَرَأَى سُرْعَةَ انْقِضَاءِ الدُّنْيَا، وَقِلَّةَ وَفَائِهَا لِبَنِيهَا

Ia juga melihat betapa cepat dunia berlalu, betapa sedikit dunia memberikan kenikmatannya kepada anak-anak dan orang-orang yang merindukannya,

وَقَتْلَهَا لِعُشَّاقِهَا، وَفِعْلَهَا بِهِمْ أَنْوَاعَ الْمَثُلَاتِ؛

dan betapa dunia membunuh mereka dengan belati-belatinya. 

فَنَهَضَ فِي ذٰلِكَ الضَّوْءِ عَلَى سَاقِ عَزْمِهِ قَائِلًا

Maka bangkitlah ia seraya berseru

يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ

Duhai, betapa ruginya aku atas keteledoranku di sisi Allah. Qs. 39 Az-Zumar: 56

فَاسْتَقْبَلَ بَقِيَّةَ عُمُرِهِ مُسْتَدْرِكًا مَا فَاتَ، مُحْيِيًا مَا أَمَاتَ

Selanjutnya, ia akan menggunakan sisa umurnya untuk melengkapi kekurangan, menghidupkan yang telah ia matikan;

مُسْتَقْبِلًا مَا تَقَدَّمَ لَهُ مِنَ الْعَثَرَاتِ

membenahi puing-puing masa silam;

مُنْتَهِزًا فُرْصَةَ الْإِمْكَانِ - الَّتِي إِنْ فَاتَتْ فَاتَهُ جَمِيعُ الْخَيْرَاتِ

dan memanfaatkan setiap kesempatan yang jika terlewat, terlewat pulalah seluruh kebaikan-.

ثُمَّ يَلْحَظُ فِي نُورِ تِلْكَ الْيَقَظَةِ وَنُورِ نِعْمَةِ رَبِّهِ عَلَيْهِ

Masih di bawah cahaya kesadaran dan cahaya nikmat Rabbnya kepadanya,

وَيَرَى أَنَّهُ آيِسٌ مِنْ حَصْرِهَا وَإِحْصَائِهَا

ia melihat betapa ia tak mampu lagi menghitungnya,

عَاجِزٌ عَنْ أَدَاءِ حَقِّهَا

betapa ia tak mampu memenuhi haknya,

 وَيَرَى فِي تِلْكَ الْيَقَظَةِ عُيُوبَ نَفْسِهِ

dan dalam kesadaranya ia melihat dirinya penuh dengan aib,

وَآفَاتِ عَمَلِهِ، وَمَا تَقَدَّمَ لَهُ مِنَ الْجِنَايَاتِ وَالْإِسَاءَاتِ

juga amal-amalnya yang rusak, kejahatan dan pelanggaran yang telah dilakukannya sebelumnya

وَالتَّقَاعُدِ عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الْحُقُوقِ وَالْوَاجِبَاتِ

dan atas kelalaian yang tidak sedikit terhadap hak dan kewajiban .

فَتَنَكْسِرُ نَفْسُهُ وَتَخْشَعُ جَوَارِحُهُ

Akhirnya luluh sudah nafsunya, khusyu'lah anggota badannya,

 وَيَسِيرُ إِلَى اللَّهِ نَاكِسَ الرَّأْسِ بَيْنَ مُشَاهَدَةِ نِعَمِهِ

dan ia pun berjalan menuju Allah dengan kepala tertunduk oleh banyaknya nikmat yang ia saksikan

 وَمُطَالَعَةِ جِنَايَاتِهِ وَعُيُوبِ نَفْسِهِ

serta kejahatan, aib dan dosa dirinya.

وَيَرَى أَيْضًا فِي ضَوْءِ تِلْكَ الْيَقَظَةِ عِزَّةَ وَقْتِهِ وَخَطَرَهُ، وَأَنَّهُ رَأْسُ مَالِ سَعَادَتِهِ

Kini, ia tahu betapa berharga waktu yang dimilikinya. Juga bahwa ia adalah modal utama kejayaannya.

فَيَبْخَلُ بِهِ فِيمَا لَا يُقَرِّبُهُ إِلَى رَبِّهِ

Maka ia menjadi begitu pelit terhadap waktu-terlebih jika waktu tersebut digunakan bukan untuk upaya mendekatkan diri kepada Rabbnya.

فَإِنَّ فِي إِضَاعَتِهِ الْخُسْرَانَ وَالْحَسْرَةَ، وَفِي حِفْظِهِ الرِّبْحَ وَالسَّعَادَةَ

Sungguh, membuang-buang waktu adalah kerugian, sedangkan menjaganya adalah kemenangan dan keberuntungan.

فَهَٰذِهِ آثَارُ الْيَقَظَةِ وَمُوجَبَاتُهَا

Inilah buah dari yaqzhah dan implikasinya,

وَهِيَ أَوَّلُ مَنَازِلِ النَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ الَّتِي يَنْشَأُ مِنْهَا سَفَرُهَا إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ

yang merupakan langkah awal dari nafsu muthmainnah dalam perjalanannya menuju Allah dan negeri akhirat.


النَّفْسُ اللَّوَّامَةُ

Nafsu Lawwâmah

قَالَتْ طَائِفَةٌ: هِيَ الَّتِي لَا تَثْبُتُ عَلَى حَالٍ وَاحِدَةٍ،

Beberapa pendapat mengatakan Ia adalah nafsu yang selalu berubah keadaan;

فَهِيَ كَثِيرَةُ التَّقَلُّبِ وَالتَّلَوُّنِ؛ فَتَذْكُرُ وَتَغْفُلُ، وَتُقْبِلُ وَتُعْرِضُ، وَتُحِبُّ وَتُبْغِضُ، وَتَفْرَحُ وَتَحْزَنُ، وَتَرْضَى وَتَغْضَبُ، وَتُطِيعُ وَتَتَّقِي

Ia adalah nafsu yang selalu sering berbalik, berubah warna. Kadang ia ingat, kadang alpa. Kadang ia sadar, kadang berpaling. Kadang ia cinta, kadang benci, Kadang ia gembira, kadang sedih, kadang ia ridha, kadang murka. Kadang ia taat, dan kadang ia khianat.

وَقَالَتْ أُخْرَى: هِيَ نَفْسُ الْمُؤْمِنِ؛

Sebagian orang mendefinisikannya sebagai nafsu seorang mukmin.

قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: "إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا تَرَاهُ إِلَّا يَلُومُ نَفْسَهُ دَائِمًا يَقُولُ: مَا أَرَدْتُ هَٰذَا؟ لِمَ فَعَلْتُ هَٰذَا؟ كَانَ هَٰذَا أَوْلَى مِنْ هَٰذَا؟ أَوْ نَحْوَ هَٰذَا الْكَلَامِ

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, Seorang mukmin itu selalu mencela (lawwâmah artinya banyak mencela) dirinya. Ia terus berkata, "Apa yang kau inginkan dari semua ini? mengapa kau lakukan ini? Sungguh ini lebih baik daripada yang ini!, Atau yang semisalnya." (memilih prioritas)

وَقَالَتْ أُخْرَى: اللَّوْمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؛

Ada juga yang mengartikannya lawwâmah dengan celaan pada hari kiamat.

فَإِنَّ كُلَّ أَحَدٍ يَلُومُ نَفْسَهُ: إِنْ كَانَ مُسِيئًا عَلَى إِسَاءَتِهِ، وَإِنْ كَانَ مُحْسِنًا عَلَى تَقْصِيرِهِ.

Pada hari itu setiap pribadi akan mencela dirinya sendiri. Jika ia pendurhaka, atas kedurhakaannya, dan jika ia seorang yang taat, atas keteledoran dan kekurangannya.

يَقُولُ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ: "وَهَٰذَا كُلُّهُ حَقٌّ

Ibnul Qayyim berkata, Semua pengertian di atas benar.

وَالَّلَوَّامَةُ نَوْعَانِ

Lawwamah itu ada dua.

لَوَّامَةٌ مَلُومَةٌ، وَلَوَّامَةٌ غَيْرُ مَلُومَةٍ

Lawwamah yang tercela dan lawwamah yang terpuji.

لَوَّامَةٌ مَلُومَةٌ: وَهِيَ النَّفْسُ الْجَاهِلَةُ الظَّالِمَةُ، الَّتِي يَلُومُهَا اللَّهُ وَمَلَائِكَتُهُ

Yang pertama adalah nafsu yang dungu dan menganiaya diri sendiri. Ia dicela oleh Allah dan para malaikat.

لَوَّامَةٌ غَيْرُ مَلُومَةٍ: وَهِيَ الَّتِي لَا تَزَالُ تَلُومُ صَاحِبَهَا عَلَى تَقْصِيرِهِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ مَعَ بَذْلِهِ جُهْدَهُ؛

Sedangkan yang kedua adalah nafsu yang selalu mencela pemiliknya karena kekurangannya dalam ketaatan kepada Allah-padahal ia sudah berusaha sekuatnya-.

فَهَٰذِهِ غَيْرُ مَلُومَةٍ

Nafsu ini tidak dicela.


وَأَشْرَفُ النُّفُوسِ مَنْ لَامَتْ نَفْسَهَا فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَاحْتَمَلَتْ مَلَامَ اللَّوَّامِ فِي مَرْضَاتِهِ

Bahkan nafsu yang paling utama adalah nafsu yang mencela diri atas kekurang taatannya kepada Allah, dan ia siap menerima celaan dalam menggapai ridlaNya.

فَلَا تَأْخُذُهَا فِي اللَّهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ؛ فَهَٰذِهِ قَدْ تَخَلَّصَتْ مِنْ لَوْمِ اللَّهِ

Demikianlah ia terbebas dari celaan Allah. Maka dengannya kita tidak menyalahkan Allah...

وَأَمَّا مَنْ رَضِيَتْ بِأَعْمَالِهَا وَلَمْ تَلُمْ نَفْسَهَا، وَلَمْ تَحْتَمِلْ فِي اللَّهِ مَلَامَ اللَّوَّامِ،

Berbeda dengan orang yang puas atas amal yang dikerjakannya, dan ia tidak dicela oleh nafsunya, lalu tidak siap menerima celaan dalam menggapai ridhaNya. 

فَهِيَ الَّتِي يَلُومُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Nafsu semacam inilah yang dicela oleh Allah.


النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ

Nafsu amarah

وَهَٰذِهِ النَّفْسُ الْمَذْمُومَةُ؛

Inilah nafsu yang tercela.

فَإِنَّهَا تَأْمُرُ بِكُلِّ سُوءٍ، وَهَٰذَا مِنْ طَبِيعَتِهَا

Ia selalu mengajak kepada keburukan, dan itu memang tabiatnya.

فَمَا تَخَلَّصَ أَحَدٌ مِنْ شَرِّهَا إِلَّا بِتَوْفِيقِ اللَّهِ

Tidak ada seorang pun yang dapat selamat dari kejahatannya selain orang-orang yang mendapatkan taufiq dari Allah.

كَمَا قَالَ تَعَالَى حَاكِيًا عَنِ امْرَأَةِ الْعَزِيزِ: وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Allah berfirman tentang istri menteri Al-'Aziz, "Dan aku tidak berlepas tangan dari nafsuku. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyeru kepada kejahatan. Kecuali yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" Qs. 12 Yusuf 53

وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا

Demikian pula dengan firmanNya, Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, niscaya tidak ada seorangpun dari kalian yang bersih suci, selama-lamanya". Qs. 24 An-Nur 21

وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ خُطْبَةَ الْحَاجَةِ

Rasulullah mengajarkan kepada para sahabat tentang khutbah hajah (dibaca setiap akan berkhutbah)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَ

Segala puji bagi Allah. Kita memujiNya, memohon pertolongan kepadaNya, dan memohon ampunan kepadaNya. Kita juga berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu kita dan keburukan amal-amal kita.

فَالشَّرُّ كَامِنٌ فِي النَّفْسِ، وَهُوَ يُوجِبُ سَيِّئَاتِ الْأَعْمَالِ

Kejahatan itu tersimpan di dalam nafsu. Ia akan mengajak kepada amal-amal yang buruk.

فَإِذَا خَلَّى اللَّهُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ نَفْسِهِ هَلَكَ بَيْنَ شَرِّهَا وَمَا تَقْتَضِيهِ مِنْ سَيِّئَاتِ الْأَعْمَالِ، وَإِنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ وَأَعَانَهُ نَجَا مِنْ ذٰلِكَ كُلِّهِ

Apabila Allah membiarkan seorang hamba bersama nafsunya, ia akan binasa di tengah-tengah kejahatan nafsu dan amal buruknya. Apabila Allah memberikan taufiq dan memberikan pertolongan kepadanya, niscaya selamatlah ia dari semuanya.

فَنَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ أَنْ يُعِيذَنَا مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

Oleh karenanya kita memohon kepada Allah yang maha Agung untuk melindungi kita dari kejahatan nafsu dan amal buruk kita.

خُلَاصَةُ الْقَوْلِ

Ringkas kata


إِنَّ النَّفْسَ وَاحِدَةٌ؛ تَكُونُ أَمَّارَةً، ثُمَّ لَوَّامَةً، ثُمَّ مُطْمَئِنَّةً (وَهِيَ غَايَةُ كَمَالِهَا وَصَلَاحِهَا)

Ringkas kata, nafsu itu satu saja. Ia bisa jadi ammarah, lawwâmah atau muthma'innah, yang merupakan puncak kebaikan dan kesempurnaannya.

النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ: قَرِينُهَا الْمَلَكُ؛ يَلِيهَا وَيُسَدِّدُهَا، وَيَقْذِفُ فِيهَا الْحَقَّ وَيُرَغِّبُهَا فِيهِ وَيُرِيهَا حُسْنَ صُورَتِهِ

Nafsu muthmainnah itu temannya malaikat yang selalu setia kepadanya, membimbingnya, menyampaikan kebenaran kepadanya, menjadikannya cinta kepada kebenaran itu, dan menampakkan kepadanya akan keindahannya.

وَيَزْجُرُهَا عَنِ الْبَاطِلِ وَيُزَهِّدُهَا فِيهِ وَيُرِيهَا قُبْحَ صُورَتِهِ

Juga memperingatkannya dari kebatilan, menjadikannya benci kepadanya, dan menunjukkan kepadanya akan keburukannya.

وَبِالْجُمْلَةِ: فَمَا كَانَ لِلَّهِ وَبِاللَّهِ فَهُوَ مِنْ عِنْدِ النَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ

Singkatnya, segala sesuatu yang diperuntukkan bagi Allah dan denganNya pasti berasal dari nafsu muthmainnah.

وَأَمَّاالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ: جَعَلَ الشَّيْطَانَ

Adapun nafsu ammarah, temannya adalah setan.

قَرِينَهَا وَصَاحِبَهَا الَّذِي يَلِيهَا؛ فَهُوَ يَعِدُهَا وَيُمَنِّيهَا، وَيَقْذِفُ فِيهَا الْبَاطِلَ وَيَأْمُرُهَا بِالسُّوءِ

Setanlah yang selalu setia kepadanya, memberikan janji-janji palsu, mengumbarkan angan-angan kosong, menyampaikan kepadanya kebatilan, mengajaknya untuk berbuat jahat,

وَيُزَيِّنُهُ لَهَا، وَيُطِيلُ فِي الْأَمَلِ، وَيُرِيهَا الْبَاطِلَ فِي صُورَةٍ تَقْبَلُهَا وَتَسْتَحْسِنُهَا

menghiasi kejahatan itu agar tampak indah baginya, memanjangkan angan-angan , dan memperlihatkan kebathilan sebagai kebajikan dan keindahan.

فَالنَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ وَالْمَلَكُ يَقْتَضِيَانِ مِنَ الْعَبْدِ: التَّوْحِيدَ، وَالْإِحْسَانَ، وَالْبِرَّ، وَالتَّقْوَى، وَالتَّوَكُّلَ، وَالتَّوْبَةَ، وَالْإِنَابَةَ

Nafsu muthma'innah dan malaikat akan menggiring kepada tauhîd, ihsân, kebajikan, taqwa, tawakkal, taubat, inābah,

وَالْإِقْبَالَ عَلَى اللَّهِ، وَقَصْرَ الْأَمَلِ، وَالِاسْتِعْدَادَ لِلْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ

keadaan selalu menghadap Allah, pendek angan-angan, serta kesiapan menghadapi kematian dan apa yang terjadi sesudahnya.

وَالشَّيْطَانُ وَجُنْدُهُ مِنَ الْكَفَرَةِ يَقْتَضِيَانِ مِنَ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ ضِدَّ ذٰلِكَ

Sedangkan setan dan pasukannya-yang terdiri dari orang-orang kafir-, akan menggiring nafsu ammârah kepada kebalikannya.

وَأَصْعَبُ شَيْءٍ عَلَى النَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ تَخْلِيصُ الْأَعْمَالِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَمِنَ الْأَمَّارَةِ؛

Dari semua itu, yang paling sulit bagi nafsu muthma'in-nah adalah memurnikan amal, melepaskannya dari jerat setan dan nafsu ammârah. 

فَلَوْ وَصَلَ مِنْهَا عَمَلٌ وَاحِدٌ لَنَجَا بِهِ الْعَبْدُ، وَلٰكِنْ أَبَتِ الْأَمَّارَةُ وَالشَّيْطَانُ أَنْ يَدَعَا لَهُ عَمَلًا وَاحِدًا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ

Saking sulitnya, bila satu saja amalnya telah sampai, diterima, niscaya selamatlah sang hamba. Tetapi memang setan dan nafsu ammârah tidak membiarkan satu amal pun sampai kepada Allah.

كَمَا قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ وَبِنَفْسِهِ: "وَاللَّهِ لَوْ أَعْلَمُ أَنَّ لِي عَمَلًا وَاحِدًا وَصَلَ إِلَى اللَّهِ لَكُنْتُ أَفْرَحَ بِالْمَوْتِ مِنَ الْغَائِبِ يَقْدَمُ عَلَى أَهْلِهِ

Banyak orang arif berkata, "Demi Allah, jika aku tahu bahwa satu saja amalku telah sampai kepada Allah, diterima, aku lebih bahagia dengan kematian, melebihi kebahagiaan pengembara yang sampai kepada keluarganya."

وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: "لَوْ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ قَبِلَ مِنِّي سَجْدَةً وَاحِدَةً لَمْ يَكُنْ غَائِبٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الْمَوْتِ

Abdullah bin Umar berkata, "Andai aku tahu bahwa Allah menerima salah satu sujudku, tidak ada barang ghaib yang lebih aku dambakan daripada kematian."

وَقَدِ انْتَصَبَتِ الْأَمَّارَةُ فِي مُقَابَلَةِ الْمُطْمَئِنَّةِ؛

Memang nafsu ammârah dipancang sebagai lawan nafsu muthma'innah. 

فَكُلَّمَا جَاءَتْ تِلْكَ بِخَيْرٍ ضَاهَتْهَا هَٰذِهِ وَجَاءَتْ مِنَ الشَّرِّ بِمَا يُقَابِلُهُ حَتَّى تُفْسِدَهُ عَلَيْهَا

Setiap kali ia datang bersama satu kebaikan dengan segera nafsu ammârah datang bersama satu kebali-kannya untuk selanjutnya ia menipunya. 

تُريِهَا حَقِيقَةَ الْجِهَادِ فِي صُورَةِ تَقْتِيلِ النَّفْسِ، وَتَنْكِيحِ الزَّوْجَةِ، وَإِيتَامِ الْأَوْلَادِ، وَقِسْمَةِ الْمَالِ

Ia menampakkan jihad sebagai tindakan bunuh diri, membiarkan istri dinikahi orang lain, memperpanjang barisan anak yatim dan mem-bagi-bagi harta kekayaan.

وَتُرِيهَا حَقِيقَةَ الزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ فِي صُورَةِ مُفَارَقَةِ الْمَالِ وَنَقْصِهِ، وَخُلُوِّ الْيَدِ مِنْهُ، وَاحْتِيَاجِهِ إِلَى النَّاسِ، وَمُسَاوَاتِهِ لِلْفَقِيرِ

Ia juga menampakkan zakat dan shadaqah sebagai tindakan meninggalkan dan mengurangi harta kekayaan, menghabiskannya, menjadikannya sebagai peminta-minta di kemudian hari, dan menjadi sama dengan orang-orang fakir.


Sumber:

تزكية النفوس وتربيتها كما يقرره علماء السلف

Tazkiyatun Nafs konsep pensucian jiwa menurut ulama' salaf

Ibnu Qayyim Aljauziah - Ibnu Rajab Al Hambali - Imam Alghazali

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan  : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share - Semoga bermanfaat

ZUHUD - 05 - Tazkiyyatun nafs

 

Zuhud


الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا وَبَيَانُ حَقَارَتِهَا

Zuhud di dunia dan penjelasan tentang kehinaannya.

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: "يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ". فَقَالَ: «ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ» (حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ حَسَنَةٍ)

Sahl bin Sa'd As-Sa'idiy berkata, "Seseorang mendatangi Nabi bertanya Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal, jika aku mengerjakannya aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai pula oleh sekalian manusia!" Rasul menjawab, Zuhudlah terhadap dunia niscaya kamu dicintai oleh Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia niscaya kamu akan dicintai oleh manusia."

وَهَٰذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الزَّاهِدِينَ فِي الدُّنْيَا

Hadits ini memberitahukan bahwa Allah mencintai orang-orang yang zuhud terhadap dunia.

وَقَالُوا: إِذَا كَانَتْ مَحَبَّةُ اللَّهِ هِيَ أَفْضَلَ الْمَقَامَاتِ؛ فَالزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا هُوَ أَفْضَلُ الْأَحْوَالِ

Mereka berkata, "Jika kecintaan kepada Allah adalah tingkatan keimanan yang paling mulia, maka zuhud terhadap dunia adalah keadaan keimanan yang paling mulia pula."

وَالزُّهْدُ: هُوَ انْصِرَافُ الرَّغْبَةِ عَنِ الشَّيْءِ إِلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ

Pengertian zuhud adalah berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya.

وَأَمَّا الْعِلْمُ الْمُثْمِرُ لِهَٰذِهِ الْحَالِ: فَهُوَ الْعِلْمُ بِكَوْنِ الْمَتْرُوكِ حَقِيرًا بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْمَأْخُوذِ

Ilmu yang akan menghantarkan manusia ke gerbang zuhud adalah ilmu tentang betapa hinanya sesuatu yang ditinggalkan jika dibandingkan dengan sesuatu yang diambil.

فَمَنْ عَرَفَ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ، وَأَنَّ الْآخِرَةَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Siapapun yang mengerti bahwa apa yang ada di sisi Allah itu kekal dan bahwa akhirat itu lebih baik dan abadi, maka dialah orangnya.

كَمَا أَنَّ الْجَوْهَرَ خَيْرٌ وَأَبْقَى مِنَ الثَّلْجِ. فَالدُّنْيَا كَالثَّلْجِ الْمَوْضُوعِ فِي الشَّمْسِ لَا يَزَالُ فِي الذَّوَبَانِ إِلَى الْإِنْقِرَاضِ

Sebagaimana mengertinya ia bahwa batu permata itu lebih mulia daripada sebongkah batu es. Dunia ini ibarat sebongkah batu es yang diletakkan di bawah terik matahari. Ia akan terus meleleh sampai akhirnya hilang tak berbekas.

وَالْآخِرَةُ كَالْجَوْهَرِ الَّذِي لَا فَنَاءَ لَهُ. وَبِقَدْرِ الْيَقِينِ بِالتَّفَاوُتِ بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَقْوَى الرَّغْبَةُ فِي الْبَيْعِ

Sedangkan akhirat itu bagaikan batu permata yang tak akan hilang ditelan masa. Semakin yakin seseorang terhadap perbedaan antara dunia dan akhirat semakin kuat pulalah keinginannya untuk menukarnya.

وَقَدْ مَدَحَ الْقُرْآنُ الزُّهْدَ فِي الدُّنْيَا وَذَمَّ الرَّغْبَةَ فِيهَا؛ فَقَالَ تَعَالَى: بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۞ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Al-Qur'an memuji orang yang zuhud terhadap dunia dan mencela mereka yang mencintainya. sebagaimana firman Allah, akan tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia. Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (Al-A'la: 16-17)

وَقَالَ تَعَالَى: تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ

Allah berfirman ; Kalian menginginkan barang-barang kehidupan dunia, sedangkan Allah menghendaki akhirat (bagi kalian). (Al-Anfal: 67)

وَقَالَ تَعَالَى: وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

Dan mereka bangga dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu dibandingkan dengan akhirat hanyalah kesenangan (yang tidak berarti). (Ar-Ra'd: 26)

وَالْأَحَادِيثُ فِي ذَمِّ الدُّنْيَا وَبَيَانِ حَقَارَتِهَا عِنْدَ اللَّهِ كَثِيرَةٌ جِدًّا

Banyak hadits yang menjelaskan tentang celaan terhadap dunia dan kehinaannya, di antaranya:

فَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ جَابِرٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَيْهِ

Jabir meriwayatkan, bahwa suatu ketika, Nabi melewati sebuah pasar bersama beberapa sahabat,

فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ

Beliau melihat seekor kambing cacat yang telah menjadi bangkai, beliau mengambilnya, dan memegang telinganya.

ثُمَّ قَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَٰذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟

Beliau bertanya, "Siapa di antara kalian yang ingin menukar ini dengan satu dirham?"

فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ، وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟

Para sahabat menjawab, "Tidak ada seorang pun dari kami yang ingin menukarnya dengan apa pun, karena kami tidak dapat mengambil manfaat darinya sama sekali."

قَالَ: أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟

Rasulullah meneruskan, "Apakah ada yang ingin memilikinya?"

قَالُوا: وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ، فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟

Para sahabat menjawab, "Demi Allah, andaikan dia hidup, dia pun sudah cacat, apalagi ketika telah menjadi bangkai."

 فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَالدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَٰذَا عَلَيْكُمْ

Maka Rasulullah bersabda, "Demi Allah, dunia ini di hadapan Allah lebih hina daripada bangkai ini di hadapan kalian."

 وَفِيهِ أَيْضًا عَنِ الْمُسْتَوْرِدِ بْنِ شَدَّادٍ الْفِهْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

Al-Mustaurid bin Syaddad Al-Fihriy meriwayatkan Nabi bersabda,

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ. وَخَرَّجَ التِّرْمِذِيُّ

Bila dibandingkan dengan akhirat, dunia ini hanyalah air yang menempel di jari ketika salah seorang dari kalian mencelupkannya di laut.

مِنْ حَدِيثِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ» (وَصَحَّحَهُ)

Sahl bin Sa'ad meriwayatkan Nabi bersabda, Seandainya dunia ini senilai sayap seekor nyamuk, di sisi Allah, pastilah Dia tidak akan memberi minum setetes air dunia pun kepada orang kafir."

فَالزُّهْدُ: هُوَ الْإِعْرَاضُ عَنِ الشَّيْءِ لِاسْتِقْلَالِهِ، وَاحْتِقَارِهِ، وَارْتِفَاعِ الْهِمَّةِ عَنْهُ. يُقَالُ: "شَيْءٌ زَهِيدٌ" أَيْ: قَلِيلٌ حَقِيرٌ

Maka, zuhud adalah berpaling dari sesuatu karena keremehan dan kehinaannya, serta ketidakpantasannya untuk diperhatikan. Dikatakan barang itu zâhid, maksudnya sedikit dan tidak bernilai.

قَالَ يُونُسُ بْنُ مَيْسَرَةَ: "لَيْسَتِ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ، وَلَا إِضَاعَةِ الْمَالِ

Yunus bin Maisarah berujar, Zuhud terhadap dunia itu bukan dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan membuang harta.

وَلَٰكِنَّ الزَّهَادَةَ فِي الدُّنْيَا أَنْ تَكُونَ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِكَ

Tetapi zuhud terhadap dunia adalah kamu lebih yakin dan percaya kepada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu.

وَأَنْ تَكُونَ حَالُكَ فِي الْمُصِيبَةِ وَحَالُكَ إِذَا لَمْ تُصَبْ بِهَا سَوَاءً

Juga keadaan dan sikapmu sama, baik ketika ditimpa musibah ataupun tidak,

وَأَنْ يَكُونَ مَادِحُكَ وَذَامُّكَ فِي الْحَقِّ سَوَاءً

serta dalam pandanganmu, orang lain itu sama, baik yang memujimu atau yang mencelamu karena kebenaran, tetap sama.

فَفَسَّرَ الزُّهْدَ فِي الدُّنْيَا بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ كُلُّهَا مِنْ أَعْمَالِ الْقُلُوبِ لَا مِنْ أَعْمَالِ الْجَوَارِحِ

Beliau menafsirkan zuhud dengan tiga perkara. Ketiga-tiganya merupakan amalan hati, bukan amal jawarih (anggota badan).

وَلِهَٰذَا كَانَ أَبُو سُلَيْمَانَ يَقُولُ: "لَا تَشْهَدْ لِأَحَدٍ بِالزُّهْدِ

Lantaran itu, Abu Sulaiman berpesan, "Jangan sekali-kali kamu bersaksi bahwa seseorang itu telah zuhud!".

أَحَدُهَا : أَنْ يَكُونَ الْعَبْدُ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ أَوْثَقَ مِنْهُ بِمَا فِي يَدِ نَفْسِهِ

Pertama, hendaknya kamu lebih yakin dan percaya kepada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu.

وَهَٰذَا يَنْشَأُ مِنْ صِحَّةِ الْيَقِينِ وَقُوَّتِهِ

Ini adalah buah dari keyakinan yang benar dan kuat.

قِيلَ لِأَبِي حَازِمٍ الزَّاهِدِ: مَا مَالُكَ؟

Abu Hazim - yang terkenal dengan kezuhudannya - pernah ditanya, "Apa saja harta milik Anda?"

قَالَ: مَالَانِ لَا أَخْشَى مَعَهُمَا الْفَقْرَ: الثِّقَةُ بِاللَّهِ، وَالْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

Beliau menjawab, "Hartaku ada dua. Aku tidak pernah takut menjadi faqir selama memilikinya. Yaitu tsiqqah (yakin dan percaya) kepada Allah dan berputus asa (tidak mengharapkan) apa yang dimiliki oleh manusia."

وَقِيلَ لَهُ: "أَمَا تَخَافُ الْفَقْرَ؟" فَقَالَ: "أَنَا أَخَافُ الْفَقْرَ وَمَوْلَايَ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ، وَمَا فِي الْأَرْضِ، وَمَا بَيْنَهُمَا، وَمَا تَحْتَ الثَّرَى؟

Beliau juga pernah ditanya, "Apakah Anda tidak takut menjadi faqir?", Beliau menjawab, "Bagaimana aku takut menjadi faqir sedangkan Tuanku adalah pemilik segala yang ada di langit, di bumi, dan di antara keduanya, juga yang ada di bawah tanah?"


قَالَ الْفُضَيْلُ: أَصْلُ الزُّهْدِ: الرِّضَى عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ". وَقَالَ: "الْقَنُوعُ هُوَ الزَّاهِدُ، وَهُوَ الْغَنِيُّ

Fudhail bin 'Iyadh berkata, "Pondasi zuhud adalah ridha terhadap segala yang datang dari Allah." Juga berkata, "Orang yang selalu qana'ah adalah orang yang zuhud dan dialah orang yang (hakikatnya) kaya.

فَمَنْ حَقَّقَ الْيَقِينَ، وَثِقَ بِاللَّهِ فِي أُمُورِهِ كُلِّهَا، وَرَضِيَ بِتَدْبِيرِهِ لَهُ

Barangsiapa memiliki sifat "yakin" dan "percaya" kepada Allah ia akan tenang menyerahkan segala urusannya kepada Allah dan ridha kepada segala keputusan Allah baginya.

وَانْقَطَعَ عَنِ التَّعَلُّقِ بِالْمَخْلُوقِينَ رَجَاءً وَخَوْفًا

Juga akan memutuskan raja' (harapan) dan khauf (ketakutan) kepada makhluk.

وَوَضَعَهُ ذٰلِكُ عَنْ طَلَبِ الدُّنْيَا بِالْأَسْبَابِ الْمَكْرُوهَةِ

serta meninggalkan usaha mencari kekayaan dunia dengan cara-cara yang dibenci.

وَمَنْ كَانَ كَذٰلِكَ كَانَ زَاهِدًا حَقًّا، وَكَانَ مِنْ أَغْنَى النَّاسِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْءٌ مِنَ الدُّنْيَا

Maka, barangsiapa demikian keadaannya dia adalah seorang yang benar-benar zuhud dan orang terkaya, walaupun ia tidak memiliki sedikit pun harta dunia.

كَمَا قَالَ عَمَّارٌ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا، وَكَفَى بِالْيَقِينِ غِنًى، وَكَفَى بِالْعِبَادَةِ شُغْلًا

Seperti yang diungkapkan sahabat 'Ammar, Cukuplah kematian itu menjadi peringatan. Cukuplah keyakinan yang kukuh itu menjadi kekayaan. Dan cukuplah ibadah itu menjadi kesibukan."

وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Ibnu Mas'ud menjelaskan,

الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسَخَطِ اللَّهِ، وَلَا تَحْسُدَ أَحَدًا عَلَى رِزْقِ اللَّهِ، وَلَا تَلُومَ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ؛

Yang dimaksud dengan yakin adalah kamu tidak mencari ridha manusia diatas kemurkaan Allah; tidak dengki kepada seseorang karena rezki Allah atasnya; dan tidak mencela seseorang karena kamu tidak diberi sesuatu oleh Allah.

فَإِنَّ رِزْقَ اللَّهِ لَا يَسُوقُهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهِيَةُ كَارِهٍ

Sesungguhnya rezki Allah itu tidak dikendalikan oleh ketamakan orang yang tamak dan tidak pula dapat ditolak oleh ketidaksukaan seseorang.

فَإِنَّ اللَّهَ بِقِسْطِهِ وَعِلْمِهِ وَحِكْمَتِهِ جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَى، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي السَّخَطِ وَالشَّكِّ

Dengan keadilan, ilmu dan hikmah-Nya, Allah menjadikan ketenangan dan kegembiraan itu pada yakin dan ridha, serta menjadikan kegelisahan dan kesedihan pada kemarahan dan keraguan."

الثَّانِي  ; أَنْ يَكُونَ الْعَبْدُ إِذَا أُصِيبَ بِمُصِيبَةٍ فِي دُنْيَاهُ

Kedua, hendaknya seseorang itu lebih mengharapkan pahala atas musibah yang sedang menimpa:

مِنْ ذَهَابِ مَالٍ، أَوْ وَلَدٍ، أَوْ غَيْرِ ذٰلِكَ، أَرْغَبَ فِي ثَوَابِ ذٰلِكَ مِمَّا ذَهَبَ مِنْهُ مِنَ الدُّنْيَا أَنْ يَبْقَى لَهُ. وَهَٰذَا أَيْضًا يَنْشَأُ مِنْ كَمَالِ الْيَقِينِ

apakah itu kehilangan harta, anak, ataupun yang lain daripada tetap utuhnya barang-barang itu di tangannya. Ini juga merupakan buah dari kesempurnaan yakin.

قَالَ عَلِيٌّ - كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ -: مَنْ زَهِدَ فِي الدُّنْيَا هَانَتْ عَلَيْهِ الْمُصِيبَاتُ

Ali berkata, "Barangsiapa zuhud terhadap dunia akan terasa ringanlah segala musibah yang menimpa."

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: "لَوْلَا مُصَائِبُ الدُّنْيَا لَوَرَدْنَا الْآخِرَةَ مِنَ الْمَفَالِيسِ

Sebagian Salafus-Shalih bertutur, Kalaulah bukan karena musibah dunia yang menimpa, pastilah kita memasuki akhirat sebagai orang-orang yang pailit.

الثَّالِثُ ; أَنْ يَسْتَوِيَ عِنْدَ الْعَبْدِ حَامِدُهُ وَذَامُّهُ فِي الْحَقِّ

Ketiga, hendaknya memandang orang yang memuji dan mencelanya dengan sikap yang sama.

وَإِذَا عَظُمَتِ الدُّنْيَا فِي قَلْبِ الْعَبْدِ اخْتَارَ الْمَدْحَ وَكَرِهَ الذَّمَّ

Seseorang yang mengagungkan dunia, akan lebih memilih pujian dan membenci celaan.

 وَرُبَّمَا حَمَلَهُ ذٰلِكَ عَلَى تَرْكِ كَثِيرٍ مِنَ الْحَقِّ خَشْيَةَ الذَّمِّ

Dan mungkin, hal itu akan membuatnya meninggalkan banyak kebenaran karena takut dicela.

وَعَلَى فِعْلِ كَثِيرٍ مِنَ الْبَاطِلِ رَجَاءَ الْمَدْحِ

serta melakukan banyak kebatilan karena ingin dipuji.

فَمَنِ اسْتَوَى عِنْدَهُ حَامِدُهُ وَذَامُّهُ فِي الْحَقِّ دَلَّ عَلَى سُقُوطِ مَنْزِلَةِ الْمَخْلُوقِينَ مِنْ قَلْبِهِ

Nah, jika orang yang memuji dan yang mencelanya - karena kebenaran - ia anggap sama, dan sudah tidak menyediakan tempat lagi di hatinya bagi makhluk,

وَامْتِلَائِهِ مِنْ مَحَبَّةِ الْحَقِّ وَمَا فِيهِ رِضَى مَوْلَاهُ

berarti ketika itu ia telah mencintai kebenaran dan berusaha menggapai ridha Rabbnya.

كَمَا قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: "الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسَخَطِ اللَّهِ". وَقَدْ مَدَحَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

Ibnu Mas'ud berkata, "Yakin itu tidak mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah." Allah telah memuji orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dan tidak takut akan celaan orang lain.

وَقَدْ وَرَدَ عَنِ السَّلَفِ رِوَايَاتٌ أُخْرَى فِي تَفْسِيرِ الزُّهْدِ

Ada beberapa riwayat dari para Salaf seputar tafsiran zuhud.

قَالَ الْحَسَنُ: الزَّاهِدُ الَّذِي إِذَا رَأَى أَحَدًا قَالَ: هُوَ أَزْهَدُ مِنِّي

Al-Hasan Al-Bashri bertutur, "Seorang yang zuhud, adalah yang jika melihat seseorang, ia mengatakan, 'Dia lebih zuhud daripada diriku.'"

وَسُئِلَ بَعْضُهُمْ - أَظُنُّهُ الْإِمَامَ أَحْمَدَ - عَمَّنْ مَعَهُ مَالٌ هَلْ يَكُونُ زَاهِدًا؟ قَالَ: "إِنْ كَانَ لَا يَفْرَحُ بِزِيَادَتِهِ وَلَا يَحْزَنُ بِنَقْصِهِ فَهُوَ زَاهِدٌ

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki harta yang banyak, apakah orang itu bisa berzuhud?, Beliau menjawab, "Apabila ia tidak bangga ketika harta itu bertambah dan tidak bersedih ketika berkurang, maka dia adalah seorang yang zuhud."

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ: "الزُّهْدُ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ: فَزُهْدٌ فَرْضٌ، وَزُهْدٌ فَضْلٌ، وَزُهْدٌ سَلَامَةٌ

Ibrahim bin Adham berkata, "Zuhud itu ada tiga: Zuhud yang wajib, zuhud yang utama, dan zuhud yang selamat.

فَأَمَّا الزُّهْدُ الْفَرْضُ: فَالزُّهْدُ فِي الْحَرَامِ، وَالزُّهْدُ الْفَضْلُ: فَالزُّهْدُ فِي الْحَلَالِ، وَالزُّهْدُ السَّلَامَةُ: فَالزُّهْدُ فِي الشُّبُهَاتِ

Zuhud yang wajib adalah zuhud terhadap yang haram. Zuhud yang utama adalah zuhud terhadap yang halal. Dan zuhud yang selamat adalah zuhud terhadap yang syubhat."

وَكُلُّ مَنْ بَاعَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ فَهُوَ زَاهِدٌ فِي الدُّنْيَا، وَكُلُّ مَنْ بَاعَ الْآخِرَةَ بِالدُّنْيَا فَهُوَ زَاهِدٌ أَيْضًا، وَلٰكِنْ فِي الْآخِرَةِ

Siapa saja yang menjual dunianya dengan akhirat dia zuhud terhadap dunia. Siapa saja yang menjual akhiratnya dengan dunia dia juga zuhud, tetapi zuhud terhadap akhirat.

قَالَ رَجُلٌ لِأَحَدِ الصَّالِحِينَ: "مَا رَأَيْتُ أَزْهَدَ مِنْكَ!" قَالَ: أَنْتَ أَزْهَدُ مِنِّي! لَقَدْ زَهِدْتَ فِي دُنْيَا لَا بَقَاءَ لَهَا وَلَا وَفَاءَ، وَأَنْتَ زَهِدْتُ فِي الْآخِرَةِ، فَمَنْ أَزْهَدُ مِنْكَ؟

Seseorang berkomentar di hadapan seorang yang shalih, "Aku belum pernah mendapati orang yang lebih zuhud daripada dirimu." Orang shalih itu menjawab, "Bahkan kamu lebih zuhud daripada aku. Aku zuhud terhadap dunia yang tidak abadi. Tetapi kamu zuhud terhadap akhirat. Demikianlah, ada pula zuhud terhadap akhirat." "Jadi, siapa yang lebih zuhud darimu?"

وَلَٰكِنَّ الْعَادَةَ جَارِيَةٌ عَلَى تَخْصِيصِ اسْمِ الزُّهْدِ عَلَى الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا، وَالزُّهْدُ يَكُونُ فِيمَا هُوَ مَقْدُورٌ عَلَيْهِ

Namun, biasanya kata zuhud digunakan untuk zuhud terhadap dunia saja. Sebenarnya zuhud itu untuk perkara-perkara yang dimampui saja.

وَلِذَا قِيلَ لابْنِ الْمُبَارَكِ: "يَا زَاهِدُ!" قَالَ: الزَّاهِدُ هُوَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِذْ جَاءَتْهُ الدُّنْيَا رَاغِمَةً فَتَرَكَهَا، وَأَمَّا أَنَا فَفِي مَاذَا زَهِدْتُ؟

Abdullah bin Mubarak pernah dipanggil oleh seseorang, "Wahai orang yang zuhud!" Beliau menjawab, "Orang yang zuhud itu adalah Umar bin Abdul 'Aziz. Dunia datang berlimpah kepadanya tetapi ia meninggalkannya. Sedangkan aku, dalam hal apa aku ini zuhud?"

قَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: "أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا وَصَحِبْتُ طَوَائِفَ، مَا كَانُوا يَفْرَحُونَ بِشَيْءٍ مِنَ الدُّنْيَا أَقْبَلَ، وَلَا يَأْسَفُونَ عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا أَدْبَرَ، وَلَهِيَ كَانَتْ فِي أَعْيُنِهِمْ أَهْوَنَ مِنَ التُّرَابِ

Al-Hasan Al-Bashri berkisah, "Aku sempat bertemu dengan beberapa kaum dan beberapa kelompok. Mereka tidak pernah bersuka-cita atas melimpahnya dunia. Pun tidak pernah berduka cita atas kepergiannya. Di mata mereka, kekayaan dunia itu ibarat tanah.

كَانَ أَحَدُهُمْ يَعِيشُ سَنَةً أَوْ سِتِّينَ سَنَةً لَمْ يُطْوَ لَهُ ثَوْبٌ، وَلَمْ يُنْصَبْ لَهُ قِدْرٌ، وَلَمْ يَجْعَلْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْأَرْضِ شَيْئًا، وَلَا أَمَرَ مِنْ بَيْتِهِ بِصَنْعَةِ طَعَامٍ قَطُّ

Adalah seseorang di antara mereka selama satu tahun - bahkan ada yang enam puluh tahun - tidak berganti pakaian, tidak dimasakkan, tidak menaiki tunggangan, dan tidak pernah memesan makanan.

 فَإِذَا كَانَ اللَّيْلُ، فَقِيَامٌ عَلَى أَقْدَامِهِمْ، يَفْتَرِشُونَ وُجُوهَهُمْ، تَجْرِي دُمُوعُهُمْ عَلَى خُدُودِهِمْ

Bila malam tiba, mereka berdiri di atas kaki mereka, dan bersujud dengan wajah mereka. Sementara, pipi mereka berlinang air mata.

يُنَاجُونَ رَبَّهُمْ فِي فِكَاكِ رِقَابِهِمْ؛ كَانُوا إِذَا عَمِلُوا الْحَسَنَةَ دَأَبُوا فِي شُكْرِهَا، وَسَأَلُوا اللَّهَ أَنْ يَقْبَلَهَا

Mereka bermunajat kepada Rabb mereka dengan sepenuh hati; Jika mereka berbuat kebajikan dengan segera mereka bersyukur dan mengharap agar Allah menerimanya.

وَإِذَا عَمِلُوا السَّيِّئَةَ أَحْزَنَتْهُمْ، وَسَأَلُوا اللَّهَ أَنْ يَغْفِرَهَا، فَلَمْ يَزَالُوا عَلَى ذٰلِكَ. وَوَاللَّهِ؛ مَا سَلِمُوا مِنَ الذُّنُوبِ وَلَا نَجَوْا إِلَّا بِالْمَغْفِرَةِ؛ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَرِضْوَانُهُ

Dan jika berbuat suatu kejelekan mereka bersedih dan segera memohon ampunan kepada-Nya. Demikianlah keadaan mereka. Demi Allah, tidak ada yang menyelamatkan mereka dari dosa-dosa yang mereka kerjakan selain maghfirah dari Allah. Semoga Allah merahmati dan meridhai mereka."


دَرَجَاتُ الزُّهْدِ

Tingkatan Zuhud

الدَّرَجَةُ الْأُولَى: أَنْ يَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا وَهُوَ لَهَا مُشْتَهٍ، وَقَلْبُهُ إِلَيْهَا مَائِلٌ، وَنَفْسُهُ إِلَيْهَا مُلْتَفِتَةٌ، وَلَٰكِنْ يُجَاهِدُهَا وَيَكُفُّهَا، وَهَٰذَا يُسَمَّى مُتَزَهِّدًا

Pertama, Seseorang yang zuhud terhadap dunia tetapi sebenarnya ia menginginkannya Hatinya condong kepadanya. Jiwanya berpaling kepadanya. Namun, ia berusaha, bermujahadah untuk mencegahnya. Inilah seorang mutazahhid (orang yang berusaha zuhud).

الدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ: الَّذِي يَتْرُكُ الدُّنْيَا طَوْعًا لِاسْتِحْقَارِهِ إِيَّاهَا بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَا طَمِعَ فِيهِ، وَلَٰكِنَّهُ يَرَى زُهْدَهُ، وَيَلْتَفِتُ إِلَيْهِ؛ كَالَّذِي يَتْرُكُ دِرْهَمًا لِأَجْلِ دِرْهَمَيْنِ

Kedua, Seseorang meninggalkan dunia dalam rangka taat kepada Allah karena ia melihatnya sebagai sesuatu yang hina dina, jika dibandingkan dengan apa yang hendak digapainya. Orang ini sadar betul bahwa ia berzuhud. Pun ia memperhitungkannya. Keadaannya seperti orang yang meninggalkan sekeping dirham untuk mendapatkan dua keping.

الدَّرَجَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا طَوْعًا، وَيَزْهَدَ فِي زُهْدِهِ، فَلَا يَرَى أَنَّهُ تَرَكَ شَيْئًا، فَيَكُونُ كَمَنْ تَرَكَ خَزَفَةً وَأَخَذَ جَوْهَرَةً

Ketiga, Seseorang yang zuhud terhadap dunia dalam rangka taat kepada Allah dan dia berzuhud dalam kezuhudannya. Artinya ia melihat dirinya tidak meninggalkan sesuatupun. Keadaannya seperti orang yang membuang sampah, lalu mengambil mutiara.

وَيُمَثَّلُ صَاحِبُ هَٰذِهِ الدَّرَجَةِ بِمَنْ مَنَعَهُ مِنَ الدُّخُولِ عَلَى الْمَلِكِ كَلْبٌ عَلَى بَابِهِ

Perumpamaan lainnya, seperti seseorang yang ingin memasuki istana raja tetapi dihadang oleh seekor anjing di depan pintu gerbang.

فَأَلْقَى إِلَيْهِ لُقْمَةً مِنْ خُبْزٍ فَشَغَلَهُ بِهَا، وَدَخَلَ عَلَى الْمَلِكِ، وَنَالَ الْقُرْبَ مِنْهُ؛ فَالشَّيْطَانُ كَلْبٌ عَلَى بَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Lalu ia melemparkan sepotong roti untuk mengelabui anjing tadi. Dan ia pun masuk menemui sang raja. Begitulah, setan adalah anjing yang menggonggong di depan pintu gerbang menuju Allah.

يَمْنَعُ النَّاسَ مِنَ الدُّخُولِ، مَعَ أَنَّ الْبَابَ مَفْتُوحٌ، وَالْحِجَابَ مَرْفُوعٌ، وَالدُّنْيَا كَالُلُّقْمَةِ؛ فَمَنْ تَرَكَهَا لِيَنَالَ عِزَّ الْمَلِكِ فَكَيْفَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا؟

menghalangi manusia untuk memasukinya. Padahal pintu itu terbuka, hijabnya pun tersingkap. Dunia ini ibarat sepotong roti. Siapa yang melemparkannya agar berhasil menggapai kemuliaan Sang Raja, Bagaimana mungkin masih memperhitungkannya?


Sumber:

تزكية النفوس وتربيتها كما يقرره علماء السلف

Tazkiyatun Nafs konsep pensucian jiwa menurut ulama' salaf

Ibnu Qayyim Aljauziah - Ibnu Rajab Al Hambali - Imam Alghazali

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan  : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share - Semoga bermanfaat


Selasa, 11 Agustus 2026

Rasa Malu – 06 BAB 01 – Hadzihi Akhlaquna

 

AKHLAQ KITA DALAM PERASAAN – EMOSI


الفَصْلُ الأَوَّلُ: الحَيَاءُ

BAB PERTAMA

RASA MALU

الحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

 “Rasa malu itu tidak membawa kecuali kebaikan.”


إِنَّهُ لَمِنْ مَظَاهِرِ التَّوَازُنِ، وَمِنْ عَلَامَاتِ التَّكَامُلِ فِي التَّرْبِيَةِ، أَنْ تَجِدَ المُؤْمِنَ القَوِيَّ الحَازِمَ الدَّؤُوبَ حَيِيًّا خَجُولًا أَدِيبًا وَقُورًا.

Sungguh, termasuk bentuk keseimbangan dan tanda kesempurnaan dalam pendidikan, jika engkau mendapati seorang mukmin yang kuat, tegas, dan gigih, sekaligus memiliki rasa malu, bersopan santun, beradab, dan berwibawa.

وَالحَيَاءُ المَمْدُوحُ: (خُلُقٌ يَبْعَثُ عَلَى تَرْكِ القَبِيحِ)؛ كَمَا عَرَّفَهُ ابْنُ حَجَرٍ.

Rasa malu yang terpuji adalah: [Akhlak yang mendorong untuk meninggalkan hal yang buruk]; sebagaimana didefinisikan oleh Ibn Hajar. - Fathul Bari 10/522 pada penjelasan Bab Al-Haya' dari Kitab Al-Adab - Hadits 6118.

أَمَّا التَّحَرُّجُ مِنَ الأَمْرِ بِالمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيِ عَنِ المُنْكَرِ، وَاتِّخَاذِ المَوَاقِفِ الجَرِيئَةِ فِي الحَقِّ، وَالتَّفَقُّهِ فِي الدِّينِ، فَلَيْسَ مِنَ الحَيَاءِ، وَهَذَا بَعْضُ مَا أَشَارَ إِلَيْهِ ابْنُ حَجَرٍ حِينَ صَنَّفَ الحَيَاءَ إِلَى شَرْعِيٍّ وَغَيْرِ شَرْعِيٍّ، فَقَالَ: (الشَّرْعِيُّ الَّذِي يَقَعُ عَلَى وَجْهِ الإِجْلَالِ وَالاحْتِرَامِ لِلأَكَابِرِ - وَهُوَ مَحْمُودٌ - وَأَمَّا مَا يَقَعُ سَبَبًا لِتَرْكِ أَمْرٍ شَرْعِيٍّ، فَهُوَ مَذْمُومٌ وَلَيْسَ هُوَ بِحَيَاءٍ شَرْعِيٍّ، وَإِنَّمَا هُوَ ضَعْفٌ وَمَهَانَةٌ).

Adapun rasa sungkan atau merasa berat untuk menyuruh kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran, mengambil sikap yang berani dalam kebenaran, serta memperdalam ilmu agama, maka itu bukanlah bagian dari rasa malu. Inilah sebagian dari apa yang diisyaratkan oleh Ibn Hajar ketika beliau membagi rasa malu menjadi dua: syar'i dan tidak syar'i. Beliau berkata: [Rasa malu yang syar'i adalah yang terjadi atas dasar mengagungkan dan menghormati orang yang lebih tua/berilmu — dan ini terpuji —. Adapun yang menjadi sebab ditinggalkannya urusan syariat, maka itu tercela dan bukanlah rasa malu yang syar'i, melainkan bentuk kelemahan dan kehinaan]. - Fathul Bari 1/229 pada penjelasan Bab Al-Haya' fil 'Ilm dari Kitab Al-Iman.

لَا يَنْبَغِي الحَيَاءُ فِي المُطَالَبَةِ بِالحُقُوقِ، وَلَا فِي تَعْلِيمِ الجَاهِلِ، وَلَا فِي السُّؤَالِ عَمَّا لَا نَعْلَمُ، فَقَدْ قَالَ مُجَاهِدٌ: لَا يَتَعَلَّمُ العِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلَا مُتَكَبِّرٌ، وَقَالَتِ السَّيِّدَةُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: (نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ، لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ)،

Rasa malu tidak boleh ada dalam menuntut hak, mengajarkan orang jahil (bodoh), maupun bertanya tentang apa yang tidak kita ketahui. Mujahid berkata: "Orang yang pemalu dan orang yang sombong tidak akan bisa menuntut ilmu." Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha juga berkata: [Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu agama]. Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-'Ilm - dari Tarjamah Bab 50 (Al-Fath 1/228).

وَكَانَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ تَسْأَلُ فِي مَسَائِلَ دَقِيقَةٍ مِنْ أَحْكَامِ النِّسَاءِ، وَتَسْتَفْتِحُ سُؤَالَهَا بِقَوْلِهَا: (يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الحَقِّ)،

Ummu Sulaim pernah bertanya tentang masalah-masalah fiqih wanita yang sensitif/detail, dan beliau mengawali pertanyaannya dengan berkata: [Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran]. Sumber sebelumnya, pada penjelasan Ibn Hajar untuk potongan Hadits 130 dari Shahih Al-Bukhari

قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: (أَيْ لَا يَأْمُرُ بِالحَيَاءِ فِي الحَقِّ).

Ibn Hajar berkata: [Artinya: Allah tidak memerintahkan untuk malu dalam hal menyangkut kebenaran]. - Sumber sebelumnya, pada penjelasan Ibn Hajar untuk potongan Hadits 130 dari Shahih Al-Bukhari.

وَمَنْ لَمْ يُرْزَقِ الحَيَاءَ بِالفِطْرَةِ، طُولِبَ بِهِ بِالقَصْدِ وَالاِكْتِسَابِ وَالتَّعَلُّمِ، خَاصَّةً وَأَنَّهُ الخُلُقُ المُمَيِّزُ لِأَتْبَاعِ هَذَا الدِّينِ، كَمَا جَاءَ فِي الحَدِيثِ الحَسَنِ: «إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الإِسْلَامِ الحَيَاءُ»،

Barangsiapa yang tidak dikaruniai rasa malu secara fitrah/bawaan, maka ia dituntut untuk mengusahakannya dengan niat, latihan, dan belajar. Terlebih lagi rasa malu merupakan akhlak pembeda bagi para pengikut agama ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits hasan: “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak (khas), dan akhlak Islam adalah rasa malu. Shahih Sunan Ibn Majah 2/406 - Hadits 3370/4181 (Hasan).

وَقَدْ وَرَدَ أَنَّهُ مِنْ سُنَنِ المُرْسَلِينَ، وَأَنَّهُ مِنَ الإِيمَانِ: «الحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ، وَالإِيمَانُ فِي الجَنَّةِ، وَالبَذَاءُ مِنَ الجَفَاءِ، وَالجَفَاءُ فِي النَّارِ»،

”Diriwayatkan pula bahwa malu adalah sunnah para rasul dan bagian dari iman: “Rasa malu adalah bagian dari iman, dan iman tempatnya di surga. Sedangkan perkataan/perbuatan kotor (keji) adalah bagian dari tabiat kasar, dan tabiat kasar tempatnya di neraka.” Shahih Sunan Ibn Majah 2/406 - Hadits 3373/4184 (Shahih).

وَقَدْ كَانَ حَبِيبُنَا وَقُدْوَتُنَا (أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ العَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا)

Kekasih dan teladan kita adalah [orang yang lebih pemalu daripada gadis perawan di dalam pingitannya]. Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Adab - Bab 77 - Hadits 6119 (Al-Fath 10/521).

(وَكَانَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - حَيِيًّا كَرِيمًا يَسْتَحْيِي ..)،

dan [Rasulullah adalah seorang yang pemalu, pemurah, lagi yang paling pemalu..]. Musnad Ahmad 6/314.

وَبَعْدَ كُلِّ ذَلِكَ هَلْ نَخْتَارُ الحَيَاءَ أَمِ البَذَاءَ؟ وَنَتَحَلَّى بِالإِيمَانِ أَمْ بِالجَفَاءِ؟ وَنُؤْثِرُ أَخْلَاقَ أَهْلِ الجَنَّةِ أَمْ أَخْلَاقَ أَهْلِ النَّارِ؟ (

Setelah semua ini, apakah kita akan memilih rasa malu atau kekejian? Berhias dengan iman atau tabiat yang kasar? Serta mengutamakan akhlak penduduk surga atau akhlak penduduk neraka?)

لَقَدْ كَانَ أَهْلُ الجَاهِلِيَّةِ - عَلَى جَاهِلِيَّتِهِمْ - يَتَحَرَّجُونَ مِنْ بَعْضِ القَبَائِحِ بِدَافِعِ الحَيَاءِ، وَمِنْ ذَلِكَ مَا جَرَى مَعَ أَبِي سُفْيَانَ عِنْدَ هِرَقْلَ، لَمَّا سُئِلَ عَنْ رَسُولِ اللهِ - ﷺ -، وَيَقُولُ فِي ذَلِكَ: (فَوَاللهِ لَوْلَا الحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثُرُوا عَلَيَّ كَذِبًا، لَكَذَبْتُ عَنْهُ)،

Masyarakat Jahiliyah — meskipun dalam kejahiliyahan mereka — merasa berat dan enggan melakukan sebagian keburukan karena dorongan rasa malu. Di antaranya adalah apa yang terjadi pada Abu Sufyan di hadapan Heraklius ketika ditanya tentang Rasulullah , Abu Sufyan berkata tentang momen tersebut: [Demi Allah, jikalau bukan karena rasa malu kalau-kalau mereka mengutip kebohongan dariku, niscaya aku akan berbohong tentangnya]. Shahih Al-Bukhari - Kitab Bad'ul Wahyi - Bab 6 - Hadits 7 (Al-Fath 1/31).

فَمَنَعَهُ مِنَ الحَيَاءِ الاِفْتِرَاءُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، لِئَلَّا يُوَصَفَ بِالكَذِبِ، وَيُشَاعَ عَنْهُ ذَلِكَ.

Jadi, rasa malulah yang menghalanginya membuat kedustaan atas nama Rasulullah, agar ia tidak dijuluki sebagai pembohong dan hal itu tersebar tentang dirinya.

وَكَذَلِكَ مَا جَرَى مَعَ السَّيِّدَةِ خَدِيجَةَ، حَيْثُ وَافَقَ أَبُوهَا فِي حَضْرَةِ جَمْعٍ مِنْ قُرَيْشٍ - وَهُوَ سَكْرَانُ - عَلَى خِطْبَتِهَا لِرَسُولِ اللهِ - ﷺ -. فَلَمَّا صَحَا مِنْ سُكْرِهِ، وَفَكَّرَ بِالتَّرَاجُعِ، مَا رَدَعَتْهُ إِلَّا بِالاِسْتِحْيَاءِ مِنْ أَنْ يُقِرَّ بِأَنَّهُ كَانَ سَكْرَانَ، فَقَالَتْ لَهُ: (أَمَا تَسْتَحْيِي؟ تُرِيدُ أَنْ تُسَفِّهَ نَفْسَكَ عِنْدَ قُرَيْشٍ، تُخْبِرُ النَّاسَ أَنَّكَ كُنْتَ سَكْرَانَ؟ فَلَمْ تَزَلْ بِهِ حَتَّى رَضِيَ)،

Demikian pula yang terjadi pada Sayyidah Khadijah, ketika ayahnya menyetujui di hadapan majelis suku Quraisy — saat ia sedang mabuk — lamaran Rasulullah untuknya. Ketika ayahnya sadar dari mabuknya dan berpikir untuk membatalkannya, Khadijah tidak menghentikannya melainkan dengan memanfaatkan rasa malunya agar ayahnya tidak mengakui bahwa ia sebelumnya mabuk. Khadijah berkata kepadanya: [Apakah engkau tidak malu? Apakah engkau ingin membodohkan dirimu sendiri di hadapan Quraisy, dengan memberitahu orang-orang bahwa engkau tadi mabuk?] Khadijah terus membujuknya hingga ia merestui. Musnad Ahmad 1/312.

وَكَمْ يَحْتَاجُ المُسْلِمُونَ اليَوْمَ إِلَى إِحْيَاءِ هَذَا الخُلُقِ بِالاِلْتِزَامِ بِالكَلِمَةِ وَالاِرْتِدَاعِ عَنِ الوُقُوعِ فِي القَبَائِحِ أَوْ الشُّبُهَاتِ بِشَيْءٍ مِنَ الحَيَاءِ

Betapa besarnya kebutuhan umat Islam hari ini untuk menghidupkan kembali akhlak ini dengan menepati janji/perkataan dan menahan diri dari jatuh ke dalam keburukan atau syubhat dengan bermodalkan rasa malu.

تَرَى الرَّجُلَ الحَيِيَّ يَحْتَقِنُ وَجْهُهُ، وَتَحْمَرُّ وَجْنَتَاهُ، إِذَا صَدَرَ مِنْهُ أَوْ مِنْ غَيْرِهِ مَا يُنَافِي الحَيَاءَ: (كَانَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - أَشَدَّ حَيَاءً مِنْ عَذْرَاءَ فِي خِدْرِهَا، وَكَانَ إِذَا كَرِهَ شَيْئًا رُئِيَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ).

Engkau dapat melihat lelaki yang memiliki rasa malu akan memerah wajahnya dan kedua pipinya saat muncul dari dirinya atau dari orang lain sesuatu yang mencederai rasa malu: [Rasulullah adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis perawan di dalam pingitannya, dan jika beliau membenci sesuatu, hal itu dapat terlihat dari wajahnya]. Shahih Sunan Ibn Majah 2/406 Hadits 3369 (Shahih).

وَمِنْ سِمَةِ الحَيَاءِ: مَا يَتَمَيَّزُ بِهِ الحَيِيُّ مِنْ مَظَاهِرِ الوَقَارِ وَالسَّكِينَةِ؛ إِذْ رُوِيَ عَنْ بَشِيرِ بْنِ كَعْبٍ قَوْلُهُ: (مَكْتُوبٌ فِي الحِكْمَةِ: إِنَّ مِنَ الحَيَاءِ وَقَارًا، وَإِنَّ مِنَ الحَيَاءِ سَكِينَةً).

Di antara ciri rasa malu adalah: apa yang membedakan orang yang pemalu berupa ketenangan dan kewibawaan; sebagaimana diriwayatkan dari Basyir bin Ka'ab ucapannya: [Tertulis dalam kitab hikmah: Sesungguhnya di antara rasa malu ada kewibawaan, dan di antara rasa malu ada ketenangan]. Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Adab Bab: 77 Hadits: 6117 (Al-Fath 10/521).

قَالَ القُرْطُبِيُّ: (مَعْنَى كَلَامِ بَشِيرٍ: أَنَّ مِنَ الحَيَاءِ مَا يَحْمِلُ صَاحِبَهُ عَلَى الوَقَارِ، بِأَنْ يُوَقِّرَ غَيْرَهُ، وَيَتَوَقَّرَ هُوَ فِي نَفْسِهِ، وَمِنْهُ مَا يَحْمِلُهُ عَلَى أَنَّهُ يَسْكُنُ عَنْ كَثِيرٍ مِمَّا يَتَحَرَّكُ النَّاسُ فِيهِ مِنَ الأُمُورِ الَّتِي لَا تَلِيقُ بِذِي المُرُوءَةِ ..)،

Al-Qurthubi berkata: [Makna perkataan Basyir adalah: bahwa sebagian dari rasa malu ada yang mendorong pemiliknya untuk berwibawa, yaitu dengan menghormati orang lain dan menjaga kehormatan dirinya sendiri. Dan sebagian darinya ada yang mendorongnya untuk tenang dan diam dari banyak hal yang biasa diperbuat manusia dari perkara-perkara yang tidak pantas bagi pemilik kehormatan diri..]. Dari Fathul Bari 10/522 pada penjelasan Hadits 6117.

فَالحَيَاءُ يَحْجُزُ النَّفْسَ عَنْ كَثِيرٍ مِنْ خَوَارِمِ المُرُوءَةِ، وَقَوَادِحِ الدِّينِ.

Maka rasa malu menahan diri dari berbagai hal yang merusak kehormatan dan mencederai agama.

وَمِنَ الحَيَاءِ الوَاقِعِ إِجْلَالًا وَاحْتِرَامًا لِلأَكَابِرِ: مَا كَانَ مِنَ ابْنِ عُمَرَ حِينَ سَأَلَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - الصَّحَابَةَ: «إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَهِيَ مَثَلُ المُسْلِمِ، حَدِّثُونِي مَا هِيَ؟»،

Termasuk rasa malu yang timbul atas dasar mengagungkan dan menghormati orang yang lebih tua: yaitu apa yang terjadi pada Ibn Umar ketika Rasulullah bertanya kepada para sahabat: “Sesungguhnya di antara pepohonan ada satu pohon yang daunnya tidak gugur, dan ia merupakan perumpamaan bagi seorang muslim. Ceritakanlah kepadaku pohon apakah itu?” Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-'Ilm - Bab 4 - Hadits 61.


فَعَرَفَ ابْنُ عُمَرَ أَنَّهَا النَّخْلَةُ، وَاسْتَحْيَا أَنْ يُجِيبَ، وَيُعَلِّلُ حَيَاءَهُ - كَمَا فِي رِوَايَاتِ الحَدِيثِ - بِأَنَّهُ وَجَدَ نَفْسَهُ أَصْغَرَ الجَالِسِينَ، وَأَنَّهُ رَأَى أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَا يَتَكَلَّمَانِ، فَكَرِهَ أَنْ يَتَكَلَّمَ.

Lalu Ibn Umar tahu bahwa pohon itu adalah pohon kurma, namun ia malu untuk menjawab. Ia beralasan rasa malunya — sebagaimana dalam riwayat-riwayat hadits — karena ia mendapati dirinya adalah yang paling muda di antara yang duduk, serta ia melihat Abu Bakar dan Umar tidak berbicara, maka ia enggan untuk berbicara. Fathul Bari 1/146.

كَمْ يَشْرَحُ الصَّدْرَ ذَلِكَ المُجْتَمَعُ الَّذِي يَسْتَحْيِي فِيهِ الصَّغِيرُ مِنَ الكَبِيرِ، وَيَتَعَامَلُ النَّاسُ فِيهِ بِالاِحْتِرَامِ وَالتَّوْقِيرِ.

Betapa melapangkan dada suatu masyarakat yang mana orang mudanya malu kepada orang tuanya, dan orang-orang di dalamnya saling berinteraksi dengan rasa hormat dan pemuliaan.

وَالحَيَاءُ بِنَفْسِهِ وِقَايَةٌ مِنَ الوُقُوعِ فِي المَعَاصِي، فَقَدْ وَرَدَ أَنَّ أَحَدَ الصَّحَابَةِ كَانَ يُعَاتِبُ أَخَاهُ عَلَى حَيَائِهِ، وَكَأَنَّمَا يَقُولُ لَهُ: قَدْ أَضَرَّ بِكَ الحَيَاءُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ -: «دَعْهُ فَإِنَّ الحَيَاءَ مِنَ الإِيمَانِ»،

Rasa malu itu sendiri merupakan pelindung dari jatuh ke dalam kemaksiatan. Telah diriwayatkan bahwa salah seorang sahabat pernah menegur saudaranya karena rasa malunya, seolah-olah ia berkata padanya: "Rasa malu telah membahayakanmu/menyusahkanmu." Maka Rasulullah bersabda: “Biarkan dia, karena sesungguhnya rasa malu adalah bagian dari iman.” Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Adab - Bab 77 - Hadits 6118 (Al-Fath 10/521).

قَالَ أَبُوعُبَيْدٍ الهَرَوِيُّ: (مَعْنَاهُ أَنَّ المُنْقَطِعَ بِحَيَائِهِ عَنِ المَعَاصِي، فَصَارَ كَالإِيمَانِ القَاطِعِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ المَعَاصِي)،

Abu Ubaid Al-Harawi berkata: [Maknanya adalah bahwa orang yang pemalu tercegah karena rasa malunya dari kemaksiatan, maka rasa malu itu menjadi seperti iman yang memutus antara dirinya dengan kemaksiatan]. Dari Fathul Bari 10/522 pada penjelasan Hadits 6118.

وَلِذَلِكَ عَمَّمَ الرَّسُولُ - ﷺ - فِي بَيَانِ ثَمَرَاتِ الحَيَاءِ، فَقَالَ: «الحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ»،

Oleh karena itu, Rasulullah memperluas cakupan penjelasan buah dari rasa malu dengan bersabda: “Rasa malu tidak membawa kecuali kebaikan,” Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Adab - Bab 77 - Hadits 6117.

وَوَصَفَهُ بِأَنَّهُ زِينَةٌ لِلسُّلُوكِ، فَقَالَ: «مَا كَانَ الفُحْشُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا شَانَهُ، وَلَا كَانَ الحَيَاءُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا زَانَهُ».

dan beliau menyifatkannya sebagai perhiasan bagi perilaku: “Tidaklah kekejian ada pada sesuatu melainkan akan memperburuknya, dan tidaklah rasa malu ada pada sesuatu melainkan akan memperindahnya.” Shahih Sunan Ibn Majah 2/407 Hadits 3374 (Shahih).

وَمَظَاهِرُ الخَجَلِ الاِجْتِمَاعِيِّ، الَّتِي قَدْ تَجُرُّ إِلَى الشَّرِّ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الحَيَاءِ المَحْمُودِ شَرْعًا؛ إِذْ إِنَّهُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ، وَمُدَارَاةُ بَعْضِ الأَعْرَافِ الاِجْتِمَاعِيَّةِ المُنْحَرِفَةِ، لَا يُعَدُّ حَيَاءً؛ لِأَنَّ الحَيَاءَ زَيْنٌ وَلَيْسَ بِشَيْنٍ، وَالاِنْحِرَافُ هُوَ عَيْنُ القُبْحِ وَالشَّيْنِ.

Bentuk-bentuk rasa canggung/pemalu sosial yang dapat membawa kepada keburukan tidak mungkin termasuk dalam rasa malu yang terpuji secara syariat; karena rasa malu (syar'i) tidak membawa kecuali kebaikan. Menuruti sebagian norma-norma sosial yang menyimpang tidak dianggap sebagai rasa malu, sebab rasa malu adalah perhiasan dan bukan keburukan, sedangkan penyimpangan itu adalah inti dari keburukan dan kecacatan.

وَكَمَا أَنَّ الحَيَاءَ أَدَبٌ مَعَ الخَلْقِ، فَإِنَّ أَسْمَى صُوَرِهِ الأَدَبُ مَعَ الخَالِقِ، وَقَدْ وَرَدَ أَنَّ عَدَدًا مِنَ الأَنْبِيَاءِ (آدَمَ - نُوحٍ - مُوسَى)، تُطْلَبُ مِنْهُمُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ المَوْقِفِ، وَالنَّاسُ يَقُولُونَ لِكُلٍّ مِنْهُمْ - لَمَّا يَرَوْنَ مِنْ هَوْلِ المَوْقِفِ -: «.. فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّكَ؛ حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا هَذَا، فَيَقُولُ: لَسْتُ هُنَاكُمْ - وَيَذْكُرُ ذَنْبَهُ فَيَسْتَحْيِي - .. لَسْتُ هُنَاكُمْ - وَيَذْكُرُ سُؤَالَهُ رَبَّهُ مَا لَيْسَ لَهُ بِهِ عِلْمٌ فَيَسْتَحْيِي - .. لَسْتُ هُنَاكُمْ - وَيَذْكُرُ قَتْلَ النَّفْسِ بِغَيْرِ نَفْسٍ فَيَسْتَحْيِي مِنْ رَبِّهِ -»،

Sebagaimana rasa malu merupakan adab kepada makhluk, maka bentuk yang paling tinggi adalah beradab kepada Sang Penciptا (Khaliq). Telah diriwayatkan bahwa sejumlah nabi (Adam, Nuh, Musa) dimintai syafaat pada hari kiamat (di padang mahsyar), dan manusia berkata kepada masing-masing dari mereka — karena dahsyatnya kondisi saat itu —: [.. Minta kanlah syafaat untuk kami kepada Rabbmu, agar Dia membebaskan kami dari tempat ini. Maka beliau menjawab: Aku tidak berhak untuk itu — lalu ia mengingat dosanya dan merasa malu —, .. Aku tidak berhak untuk itu — lalu ia mengingat permintaannya kepada Rabbnya tentang hal yang tidak ia ketahui ilmunya dan merasa malu —, .. Aku tidak berhak untuk itu — lalu ia mengingat perbuatannya membunuh jiwa tanpa alasan yang hak dan merasa malu kepada Rabbnya —]. Shahih Al-Bukhari - Kitab At-Tafsīr - Surah 2 - Bab 1 - Hadits 4476 (Al-Fath 8/160).

 وَكُلٌّ مِنْهُمْ مُتَحَرِّجٌ، وَيَمْنَعُهُ الحَيَاءُ مِنَ الجُرْأَةِ عَلَى الشَّفَاعَةِ.

Setiap dari mereka merasa sungkan, dan rasa malu menghalangi mereka untuk berani mendahului dalam memberi syafaat.

وَلِإِحْسَاسِ المُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا بِأَنَّ اللهَ يَرَاهُ عَلَى جَمِيعِ أَحْوَالِهِ، فَإِنَّهُ يَسْتَحْيِي مِنْ رَبِّهِ، وَلِذَلِكُ وَرَدَ فِي التَّسَتُّرِ عِنْدَ الاِغْتِسَالِ فِي الخَلْوَةِ، قَوْلُهُ - ﷺ -: «اللهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ مِنَ النَّاسِ»،

Karena kesadaran seorang mukmin di dunia bahwa Allah melihatnya dalam segala keadaannya, maka ia merasa malu kepada Rabbnya. Oleh sebab itu, mengenai penutupan aurat saat mandi dalam keadaan sendiri, Nabi bersabda: “Allah lebih berhak untuk seseorang merasa malu kepada-Nya daripada kepada manusia.” -Dari Mu'allaqat Al-Bukhari dalam Kitab Al-Ghusl - Bab 20. Berkata dalam Al-Fath 1/386: (.. Dihasankan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

وَالَّذِي يَسْتَحْيِي مِنْ رَبِّهِ، إِنْ كَشَفَ عَوْرَتَهُ فِي خَلْوَتِهِ، حَرِيٌّ بِهِ أَنْ يَمْنَعَهُ الحَيَاءُ مِنَ الإِقْدَامِ عَلَى مَعْصِيَةٍ.

Barangsiapa yang malu kepada Rabbnya ketika membuka aurat di tempat sunyi, niscaya rasa malu itu sangat patut untuk mencegahnya dari melakukan kemaksiatan.

وَيَكْفِي فِي فَضِيلَةِ الحَيَاءِ وَأَثَرِهِ، أَنَّ الأَنْبِيَاءَ السَّابِقِينَ حَذَّرُوا مِنْ كَسْرِ حَاجِزِ الحَيَاءِ، لِئَلَّا يَقَعَ المَرْءُ فِي كُلِّ القَبَائِحِ - وَلَيْسَ لَهُ رَادِعٌ وَلَا وَازِعٌ - كَمَا فِي الحَدِيثِ: «إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ».

Cukuplah sebagai keutamaan dan pengaruh rasa malu bahwa para nabi terdahulu telah memperingatkan agar tidak merusak batasan rasa malu, supaya seseorang tidak jatuh ke dalam segala keburukan — tanpa ada penghalang maupun penahan — sebagaimana dalam hadits: “Sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari perkataan kenabian terdahulu adalah: Jika engkau tidak malu, maka perbuatlah sesukamu.” Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Adab - Bab 78 - Hadits 6120 (Al-Fath 10/523).

وَمِنَ الوُجُوهِ الَّتِي يُفْهَمُ بِهَا هَذَا الحَدِيثُ أَنَّهُ: حَيْثُ تَشْعُرُ بِالحَرَجِ، وَتَخْشَى التَّأَثُّمَ، فَتَوَقَّفْ، وَحَيْثُ يَطْمَئِنُّ القَلْبُ، وَلَا تَشْعُرُ بِالحَرَجِ، فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. فَاقِدُ الحَيَاءِ فَلْيَصْنَعْ مَا يَشَاءُ، وَلْيَنْظُرْ بَعْدَئِذٍ مَاذَا يَفْعَلُ اللهُ بِهِ. لَيْسَ عَجِيبًا مَا نَرَاهُ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ، إِذَا عَلِمْنَا أَنَّ رَادِعَ الحَيَاءِ قَدْ مَاتَ، فَالَّذِي لَا يَسْتَحْيِي - عَادَةً - يَصْنَعُ مَا يَشَاءُ، بِلَا حَرَجٍ مِنْ أَحَدٍ.

Di antara sisi pemahaman dari hadits ini adalah: Di mana pun engkau merasa ragu/keberatan dan takut berbuat dosa, maka berhentilah. Dan di mana pun hati merasa tenang serta tidak ada keraguan, maka perbuatlah apa yang engkau kehendaki. Orang yang kehilangan rasa malu silakan berbuat sesukanya, lalu lihatlah kelak apa yang akan Allah lakukan terhadapnya. Bukanlah hal yang mengherankan dari apa yang kita lihat berupa kemungkaran akhlak, jika kita tahu bahwa penahan rasa malu telah mati. Sebab orang yang tidak memiliki rasa malu — biasanya — akan melakukan apa saja yang ia inginkan tanpa merasa ragu/malu kepada siapa pun. Merujuk Fathul Bari 6/523 - Penjelasan Hadits 3483 dan juga 10/523 - Penjelasan Hadits 6120.

أَفَلَا يَكُونُ كُلٌّ مِنَّا عَوْنًا لِأَخِيهِ فِي مُجَاهَدَةِ النَّفْسِ، وَتَجَنُّبِ مَا لَا يَلِيقُ، وَالْتِزَامِ حُدُودِ الأَدَبِ مَعَ الخَلْقِ وَالخَالِقِ، فِي الخَلْوَةِ وَالجَلْوَةِ، وَفِي الغِيبَةِ وَالشَّهَادَةِ، فَقَدْ جَاءَ فِي الحَدِيثِ: «إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ، حَيِيٌّ، سِتِّيرٌ، يُحِبُّ الحَيَاءَ وَالسَّتْرَ ..»،

Tidakkah hendaknya setiap dari kita menjadi penolong bagi saudaranya dalam menundukkan hawa nafsu, menjauhi hal yang tidak pantas, serta memegang teguh batasan adab kepada makhluk dan Khaliq, baik saat sendiri maupun ramai, dan saat tersembunyi maupun di hadapan publik? Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla Maha Penyantun, Maha Pemalu, Maha Penutup (keburukan), Dia menyukai rasa malu dan penutupan (cela)..” Shahih Sunan An-Nasa'i 1/87 - Kitab Al-Ghusl - Bab 7 - Hadits 393 (Shahih).

وَرُبَّمَا كَانَ لِاقْتِرَانِ الحَيَاءِ وَالسَّتْرِ فِيمَا يُحِبُّ اللهُ، إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ حَيْثُ وُجِدَ الحَيَاءُ، وُجِدَ السَّتْرُ وَالعَفَافُ، وَحَيْثُ تَحِلُّ الجُرْأَةُ عَلَى القَبَائِحِ، يَحِلُّ مَعَهَا التَّكَشُّفُ وَالفَضَائِحُ، وَعُيُوبُ النَّفْسِ مَسْتُورَةٌ بِجِلْبَابِ الحَيَاءِ، فَإِذَا مَا نُزِعَ السَّتْرُ، تَكَشَّفَتْ أَمْرَاضُ النُّفُوسِ، وَتَجَرَّأَ الصَّغِيرُ عَلَى الكَبِيرِ، وَانْطَلَقَ النَّاسُ مِنْ كُلِّ قَيْدٍ، وَتَحَرَّرُوا مِنْ كُلِّ وَازِعٍ، وَغَرِقُوا فِي أَوْحَالِ الرَّذِيلَةِ، وَسَتَبْقَى الفِطْرَةُ مَيَّالَةً إِلَى الحَيَاءِ وَالسَّتْرِ.

Boleh jadi disandingkannya rasa malu dan penutupan cela dalam hal yang dicintai Allah merupakan isyarat bahwa di mana ada rasa malu, di situ ada perlindungan diri dan kesucian. Dan di mana ada keberanian melakukan keburukan, di situ timbul penyingkapan dan keaiban. Aib-aib diri terutup oleh jubah rasa malu; jika penutup itu dicabut, niscaya penyakit-penyakit jiwa akan tersingkap, orang muda berani kepada orang tua, manusia lepas dari segala batasan dan penahan, serta tenggelam dalam kubangan kehinaan. Namun fitrah akan tetap cenderung kepada rasa malu dan tutupan cela.

خُلَاصَةُ هَذَا الفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ:

KESIMPULAN

·       الحَيَاءُ خُلُقٌ يَبْعَثُ عَلَى تَرْكِ القَبِيحِ.

- Rasa malu adalah akhlak yang mendorong untuk meninggalkan keburukan.

·       لَيْسَ مِنَ الحَيَاءِ الاِمْتِنَاعُ عَنِ التَّعَلُّمِ أَوْ المُطَالَبَةِ بِالحُقُوقِ.

- Enggan belajar atau tidak menuntut hak bukanlah bagian dari rasa malu.

·       إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ الإِسْلَامِ الحَيَاءُ.

 - Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak khas, dan akhlak Islam adalah rasa malu.

·       أَهْلُ الجَاهِلِيَّةِ كَانَ عِنْدَهُمْ مِنَ الحَيَاءِ مَا يَمْنَعُهُمْ مِنْ بَعْضِ القَبَائِحِ.

- Masyarakat Jahiliyah memiliki rasa malu yang mencegah mereka dari sebagian keburukan.

·       الحَيَاءُ وَقَارٌ وَمُرُوءَةٌ.

- Rasa malu adalah kewibawaان dan kehormatan diri.

·       مِنَ الحَيَاءِ احْتِرَامُ الأَكَابِرِ.

- Termasuk rasa malu adalah menghormati orang yang lebih tua/berilmu.

·       الحَيَاءُ وِقَايَةٌ مِنَ الوُقُوعِ فِي المَعَاصِي.

- Rasa malu adalah pelindung dari jatuh ke dalam maksiat.

·       مِنْ أَسْمَى الحَيَاءِ التَّأَدُّبُ مَعَ الخَالِقِ.

- Di antara rasa malu yang paling tinggi adalah beradab kepada Sang Penciptا.

·       الحَيَاءُ وَصِيَّةُ النُّبُوَّةِ الأُولَى.

- Rasa malu adalah wasiat dari ajaran kenabian terdahulu.

·       كَمَالُ الحَيَاءِ حِينَ يَكُونُ مَعَ السَّتْرِ.

- Kesempurnaan rasa malu adalah ketika dibersamai dengan menjaga/menutup cela.

📙📙📙 Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

 The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. Dipersilahkan - share