BAB 06
AKHLAK KITA DALAM PERASAAN – EMOSI
PASAL 03
التواضع
Rendah Hati
«وَمَا
تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ».
Dan tidaklah seseorang bertawaduk karena Allah
melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.
اَللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَزِيزٌ، وَيُرِيدُ
لِعِبَادِهِ أَنْ يَكُونُوا أَعِزَّاءَ، عَلَى أَلَّا تَمْتَدَّ مِسَاحَةُ
عِزَّتِهِمْ عَلَى إِخْوَانِهِمْ،
Allah Azza wa Jalla Maha Perkasa, dan Dia
menginginkan hamba-hamba-Nya menjadi orang-orang yang perkasa, dengan syarat
luas keperkasaan mereka tidak melampaui saudara-saudara mereka,
فَتَغْدُوَ عِنْدَئِذٍ إِعْجَابًا بِالنَّفْسِ،
وَاسْتِعْلَاءً عَلَى
الْآخَرِينَ، وَحَطًّا مِنْ شَأْنِهِمْ.
sehingga pada saat itu berubah menjadi kebanggaan
diri, kesombongan atas orang lain, dan merendahkan kedudukan mereka.
وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَمُنُّ عَلَى عِبَادِهِ
أَنْ هَدَاهُمْ لِلْإِيمَانِ، فَإِنْ أَبَوْا إِلَّا الضَّلَالَاتِ،
Dan Allah Azza wa Jalla menganugerahi
hamba-hamba-Nya dengan membimbing mereka kepada iman, maka jika mereka enggan
kecuali tetap dalam kesesatan,
فَهُوَ قَادِرٌ عَلَى الِاسْتِبْدَالِ بِهِمْ قَوْمًا
يَعْتَزُّونَ بِإِيمَانِهِمْ، وَيَتَوَاضَعُونَ
لِإِخْوَانِهِمْ.
Dia Mahakuasa untuk menggantikan mereka dengan kaum
yang bangga dengan keimanan mereka dan bertawaduk kepada saudara-saudara
mereka.
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ
يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ
وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ
يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ﴾ [المائدة:
٥٤]،
Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di
antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan
suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang
bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, bersikap tegas terhadap
orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang
yang mencela.
فَهَذِهِ الذِّلَّةُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ صِفَةُ
الْمُصْطَفَيْنَ لِحَمْلِ هَذَا الدِّينِ - حِينَ يَرْتَدُّ عَنْهُ
الْمُرْتَدُّونَ.
Maka kerendahan hati terhadap orang-orang mukmin
ini adalah sifat orang-orang yang dipilih untuk mengemban agama ini ketika
orang-orang yang murtad berpaling darinya.
وَفِي تَفْسِيرِ الْآيَةِ: ﴿أَذِلَّةٍ عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ﴾؛ أَيْ: يَرْأَفُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ، وَيَرْحَمُونَهُمْ،
وَيَلِينُونَ لَهُمْ، وَيُغْلِظُونَ عَلَى الْكُفَّارِ، وَيُعَادُونَهُمْ.
Dan dalam tafsir ayat yang artinya bersikap lemah
lembut terhadap orang-orang mukmin, maksudnya adalah mereka menyayangi
orang-orang mukmin, mengasihi mereka, bersikap lembut kepada mereka, bersikap
keras terhadap orang-orang kafir, dan memusuhi mereka.
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هُمْ الْمُؤْمِنُونَ
كَالْوَالِدِ لِلْوَلَدِ، وَالسَّيِّدِ لِلْعَبْدِ. وَهُمْ فِي الْغِلْظَةِ عَلَى
الْكُفَّارِ، كَالسَّبُعِ عَلَى فَرِيسَتِهِ؛ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿أَشِدَّاءُ
عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾ [الفتح: ٢٩]
Ibnu Abbas berkata: Mereka bagi orang-orang mukmin
bagaikan orang tua kepada anaknya, dan tuan kepada hamba sahayanya. Sedangkan
dalam ketegasan terhadap orang-orang kafir, mereka bagaikan binatang buas
terhadap mangsanya. Allah Taala berfirman yang artinya bersikap keras terhadap
orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka. Al-Jami' li Ahkam
al-Qur'an 6/220.
وَفِي تَعْلِيلِ اسْتِعْمَالِ حَرْفِ الْجَرِّ
(عَلَى) فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾؛ تَفْسِيرَانِ:
Dan dalam menjelaskan penggunaan huruf jar ala pada
firman Allah Taala yang artinya bersikap lemah lembut terhadap orang-orang
mukmin, terdapat dua penafsiran:
فَفِي قَوْلِ إِنَّهُ ضُمِّنَ مَعْنَى الْحُنُوِّ
وَالْعَطْفِ كَأَنَّهُ قَالَ عَاطِفِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ عَلَى وَجْهِ
التَّذَلُّلِ وَالتَّوَاضُعِ،
Pendapat pertama menyatakan bahwa kata tersebut
mengandungi makna kasih sayang dan kelembutan seolah-olah Dia berfirman
bersikap penuh kasih kepada orang-orang mukmin dalam bentuk kerendahan hati dan
tawaduk.
وَفِي قَوْلٍ ثَانٍ أَنَّ (عَلَى) تَدُلُّ عَلَى
عُلُوِّ مَقَامِهِمْ، وَأَنَّهُ رَغْمَ فَضْلِهِمْ وَارْتِفَاعِ مَنْزِلَتِهِمْ
يَذِلُّونَ وَيَخْضَعُونَ لِمَنْ فُضِّلُوا عَلَيْهِمْ مَعَ شَرَفِهِمْ وَعُلُوِّ
مَكَانِهِمْ (١).
Pendapat kedua menyatakan bahwa kata ala
menunjukkan ketinggian kedudukan mereka, dan bahwa meskipun memiliki keutamaan
dan derajat yang tinggi, mereka tetap merendahkan diri dan tunduk kepada
orang-orang yang mereka diutamakan atasnya padahal mereka memiliki kemuliaan
dan kedudukan yang tinggi. Tafsir al-Bahr al-Muhith karya Abu Hayyan
al-Andalusi 3/412.
اَلْعِزَّةُ صِفَةٌ مَحْمُودَةٌ، وَالْكِبْرُ عَلَى
النَّاسِ وَالْعُجْبُ بِالنَّفْسِ مَذْمُومَانِ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
قَدْ حَطَّ مِنْ قِيمَةِ الدُّنْيَا فِي نَظَرِ الْمُؤْمِنِ، وَبَيَّنَ هَوَانَهَا
عَلَى اللَّهِ؛ لِيَعْلَمَ النَّاسُ جَمِيعًا أَنَّهُ
Kemuliaan adalah sifat yang terpuji, sedangkan
kesombongan terhadap manusia dan kagum pada diri sendiri adalah sifat yang
tercela. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah merendahkan nilai dunia di
pandangan seorang mukmin, dan menjelaskan kehinaannya di sisi Allah, agar semua
manusia mengetahui bahwa
﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ
الْعِزَّةُ جَمِيعًا﴾ [فاطر: ١٠]
barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka milik
Allah-lah kemuliaan itu semuanya,
وَأَنَّ اللَّهَ يُكْرِمُ بِهَا أَوْلِيَاءَهُ حَتَّى
وَهُمْ فِي ذِرْوَةِ الْمِحْنَةِ.
dan bahwa Allah memuliakan para wali-Nya dengan
kemuliaan tersebut meskipun mereka berada di puncak ujian.
﴿وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ
وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾ [المنافقون: ٨],
Padahal milik Allah-lah kemuliaan, bagi rasul-Nya,
dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.
مَعَ كُلِّ هَذِهِ الْعِزَّةِ، فَالْمَطْلُوبُ مِنَ
الْمُؤْمِنِ الشَّدِيدِ عَلَى الْكُفَّارِ، أَنْ يَتَرَاحَمَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ،
وَاللَّائِقُ بِالْمُؤْمِنِ الْعَزِيزِ عَلَى الْكَافِرِينَ، أَنْ يَتَعَامَلَ
بِالذُّلِّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ.
Bersamaan dengan semua kemuliaan ini, maka yang
dituntut dari seorang mukmin yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir
adalah agar ia saling mengasihi dengan sesama orang mukmin, dan yang pantas
bagi seorang mukmin yang perkasa terhadap orang-orang kafir adalah agar ia
memperlakukan orang-orang mukmin dengan kerendahan hati.
يَقُولُ ابْنُ قُدَامَةَ الْمَقْدِسِيُّ فِي
حَدِيثِهِ عَنِ التَّوَاضُعِ:
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata dalam pembahasannya
mengenai tawaduk:
(وَاعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْخُلُقَ كَسَائِرِ
الْأَخْلَاقِ، لَهُ طَرَفَانِ وَوَسَطٌ: فَطَرَفُهُ الَّذِي يَمِيلُ إِلَى
الزِّيَادَةِ يُسَمَّى تَكَبُّرًا، وَطَرَفُهُ الَّذِي يَمِيلُ إِلَى النُّقْصَانِ
يُسَمَّى تَخَسُّسًا وَمَذَلَّةً. وَالْوَسَطُ يُسَمَّى تَوَاضُعًا - وَهُوَ
الْمَحْمُودُ - وَهُوَ أَنْ يَتَوَاضَعَ مِنْ غَيْرِ مَذَلَّةٍ..)
Dan ketahuilah bahwa akhlak ini seperti
akhlak-akhlak lainnya, memiliki dua ujung dan satu pertengahan: Ujungnya yang
cenderung kepada kelebihan disebut takabur, dan ujungnya yang cenderung kepada
kekurangan disebut merendahkan diri secara hina dan kehinaan. Sedangkan bagian
tengahnya disebut tawaduk dan itulah yang terpuji, yaitu seseorang bertawaduk
tanpa disertai kehinaan. Mukhtashar Minhaj al-Qashidin halaman 254.
إِنَّ مِنْ تَأْدِيبِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لِلْمُؤْمِنِينَ عَلَى خُلُقِ (الذِّلَّةِ عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ) أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو:
Sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang-orang mukmin mengenai akhlak bersikap
lemah lembut terhadap orang-orang mukmin adalah bahwa beliau biasa berdoa:
«اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا،
وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ»
Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin,
matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku di dalam golongan
orang-orang miskin. Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/275 Kitab az-Zuhd - Bab 23 -
Hadis 1917/2471.
يَقُولُ ابْنُ الْأَثِيرِ: (أَرَادَ بِهِ
التَّوَاضُعَ وَالْإِخْبَاتَ، وَأَلَّا يَكُونَ مِنَ الْجَبَّارِينَ
الْمُتَكَبِّرِينَ).
Ibnu Al-Atsir berkata: Beliau menghendaki dengannya
tawaduk dan kerendahan hati, serta agar tidak menjadi bagian dari orang-orang
yang sombong lagi takabur. Dari catatan pinggir Shahih al-Jami' 1/271 sebagai
komentar atas hadis nomor 1261.
وَقَدْ كَانَ عُمَرُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -
يُدَرِّبُ وُلَاتَهُ عَلَى الذِّلَّةِ عَلَى الرَّعِيَّةِ، وَيَنْهَاهُمْ عَنْ
إِذْلَالِ النَّاسِ، كَمَا يُعَلِّمُ النَّاسَ حَقَّهُمْ فِي أَنْ يَعِيشُوا
كِرَامًا، وَمِمَّا جَاءَ فِي خُطْبَةٍ لَهُ:
Dan Umar Radhiyallahu Anhu biasa melatih para
gubernurnya untuk bersikap rendah hati kepada rakyat, serta melarang mereka
dari menghinakan manusia, sebagaimana beliau mengajarkan kepada manusia hak
mereka untuk hidup secara terhormat. Di antara yang terdapat dalam khotbah
beliau:
(إِلَّا إِنِّي وَاللَّهِ مَا أُرْسِلُ
عُمَّالِي إِلَيْكُمْ لِيَضْرِبُوا أَبْشَارَكُمْ، وَلَا لِيَأْخُذُوا
أَمْوَالَكُمْ، وَلَكِنْ أُرْسِلُهُمْ إِلَيْكُمْ؛ لِيُعَلِّمُوكُمْ دِينَكُمْ
وَسُنَّتَكُمْ، فَمَنْ فُعِلَ بِهِ شَيْءٌ سِوَى ذَلِكَ، فَلْيَرْفَعْهُ إِلَيَّ،
فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِذًا لَأَقُصَّنَّهُ مِنْهُ... أَلَّا لَا
تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ فَتُذِلُّوهُمْ..) (٢)،
Ingatlah, demi Allah, aku tidak mengutus para
pegawaiku kepada kalian agar mereka memukul kulit kalian, dan tidak pula untuk
mengambil harta kalian, tetapi aku mengutus mereka kepada kalian agar mereka
mengajarkan agama dan sunnah kalian kepada kalian. Barangsiapa yang
diperlakukan dengan sesuatu selain itu, maka hendaklah ia melaporkannya
kepadaku, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan
membalaskannya darinya. Ingatlah, janganlah kalian memukul kaum muslimin lalu
kalian menghina mereka. Musnad Ahmad 1/41 dan Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah
berkata: Sanadnya hasan.
وَكَانَ عُمَرُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - يُوصِي
وَالِيَهُ عَلَى الْحِمَى بِقَوْلِهِ: (اضْمُمْ جَنَاحَكَ عَنِ الْمُسْلِمِينَ
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمُسْلِمِ فَإِنَّ
دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ)
Dan Umar Radhiyallahu Anhu biasa berpesan kepada
gubernurnya di Hima dengan perkataannya: Rendahkanlah sayapmu terhadap kaum
muslimin dan takutlah akan doa orang Islam, karena doa orang yang terzalimi itu
dikabulkan. Shahih al-Bukhari - Kitab al-Jihad - Bab 180 - Hadis 3059.
الِاعْتِرَافُ بِالْخَطَأِ يَحْتَاجُ إِلَى شَجَاعَةٍ
كَبِيرَةٍ، وَنَزَاهَةٍ عَالِيَةٍ، وَتَوَاضُعٍ جَمٍّ.
Pengakuan atas kesalahan membutuhkan keberanian
yang besar, integritas yang tinggi, dan ketawadukan yang sangat.
وَإِنْ حَدَّثَتْكَ نَفْسُكَ أَنَّ اعْتِرَافَكَ قَدْ
يَضَعُ مِنْ قَدْرِكَ فَأَحْرِصْ عَلَى سَلَامَةِ الْحَقِّ، أَكْثَرَ مِنْ
حِرْصِكَ عَلَى تَزَيُّنِ نَفْسِكَ، كَمَا أَنَّ قَبُولَ عُذْرِ الْمُعْتَذِرِ
إِلَيْكَ تَوَاضُعٌ رَفِيعٌ، وَكَرَمٌ عَالٍ.
Dan jika jiwamu membisikkan kepadamu bahwa
pengakuanmu dapat menurunkan kedudukanmu, maka berusahalah lebih keras demi
keselamatan kebenaran daripada usahamu untuk mempercantik dirimu, sebagaimana
menerima permintaan maaf dari orang yang meminta maaf kepadamu adalah
ketawadukan yang luhur dan kemuliaan yang tinggi.
فَالنُّفُوسُ الْخَبِيثَةُ تَتَمَنَّى الزَّلَّةَ
مِنَ الْآخَرِينَ؛ لِتَتَشَفَّى بِالنَّقْدِ وَالْمُحَاسَبَةِ وَالتَّشْهِيرِ..
Maka jiwa-jiwa yang buruk berharap adanya
ketergelinciran dari orang lain untuk memuaskan diri dengan celaan,
penghitungan, dan pencemaran nama baik.
وَيُعَبِّرُ ابْنُ الْقَيِّمِ عَنْ هَذَا الْمَعْنَى
بِقَوْلِهِ:
Dan Ibnu Al-Qayyim mengungkapkan makna ini dengan
perkataannya:
(مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ ثُمَّ جَاءَ
يَعْتَذِرُ عَنْ إِسَاءَتِهِ، فَإِنَّ التَّوَاضُعَ يُوجِبُ عَلَيْكَ قَبُولَ
مَعْذِرَتِهِ - حَقًّا كَانَتْ أَوْ بَاطِلًا - وَتَكِلُ سَرِيرَتَهُ إِلَى
اللَّهِ تَعَالَى.. وَعَلَامَةُ الْكَرَمِ وَالتَّوَاضُعِ: أَنَّكَ إِذَا رَأَيْتَ
الْخَلَلَ فِي عُذْرِهِ، لَا تُوقِفُهُ عَلَيْهِ، وَلَا تُحَاجُّهُ..) (٤)،
Barangsiapa yang berbuat buruk kepadamu kemudian ia
datang meminta maaf atas keburukan yang dilakukannya, maka tawaduk mewajibkanmu
untuk menerima alasannya baik itu benar maupun salah, dan menyerahkan urusan
batinnya kepada Allah Taala. Tanda kemuliaan dan tawaduk adalah jika kamu
melihat adanya kecacatan dalam alasannya, kamu tidak membeberkannya kepadanya,
dan kamu tidak mendebatnya. Tahdzib Madarij as-Salikin halaman 433.
فَابْتَعِدْ عَنِ الْإِحْرَاجِ، وَاقْلِبِ
الصَّفْحَةَ، وَابْدَأْ مِنْ جَدِيدٍ، وَسَيَكْبُرُ لَكَ صَاحِبُكَ حُسْنَ
تَجَاوُزِكَ عَنْهُ، وَعَدَمَ التَّحْقِيقِ فِي عُذْرِهِ.
Maka jauhilah rasa canggung, baliklah lembarannya,
mulailah dari awal, dan sahabatmu akan sangat menghargai kebaikanmu dalam
memaafkannya serta ketidaktelitianmu dalam memeriksa alasannya.
وَإِذَا أَصْرَرْتَ عَلَى أَنْ تَضَعَ أَخَاكَ فِي
مَوْقِفٍ تُذِلُّهُ فِيهِ وَتُحَاسِبُهُ مُحَاسَبَةَ الْأَرْبَابِ،
Dan jika kamu bersikeras untuk menempatkan
saudaramu dalam posisi yang menghinakannya dan menghisabnya sebagaimana
hisabnya para arbaab,
فَقَدْ تَجَرَّأْتَ عَلَى حَرْبِ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ، وَلَيْسَ لَكَ بِهِ طَاقَةٌ لِمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ:
«مَنْ أَذَلَّ لِي وَلِيًّا فَقَدْ اسْتَحَلَّ مُحَارَبَتِي»
maka sungguh kamu telah berani memerangi Allah Azza
wa Jalla, dan kamu tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi-Nya berdasarkan apa
yang tersebut dalam hadis qudsi: Barangsiapa yang menghinakan wali-Ku maka
sungguh ia telah menghalalkan peperangan dengan-Ku, Musnad Ahmad 6/256
وَاللَّهُ وَلِيُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ.
dan Allah adalah pelindung setiap orang mukmin.
إِنَّ الَّذِي يَتَصَدَّرُ لِقِيَادَةِ النَّاسِ
وَتَوْجِيهِهِمْ، وَكَسْبِ قُلُوبِهِمْ، لَا بُدَّ أَنْ يَتَمَتَّعَ بِقَدْرٍ
كَبِيرٍ مِنَ التَّوَاضُعِ، وَلِذَلِكَ أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيَّهُ -
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِقَوْلِهِ:
Sesungguhnya orang yang tampil terdepan untuk
memimpin manusia, mengarahkan mereka, dan merebut hati mereka, niscaya harus
memiliki porsi tawaduk yang besar. Oleh karena itu Allah Azza wa Jalla
memerintahkan Nabi-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan firman-Nya
﴿وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ﴾ [الشعراء: ٢١٥].
Dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang
mengikutimu di antara orang-orang yang beriman.
فَمَا بَالُ أَكَابِرِ أُمَّتِهِ مِنْ بَعْدِهِ،
وَهُمْ دُونَهُ فِي الْمَنْزِلَةِ وَالْخُلُقِ، لَا يَخْفِضُونَ جَنَاحَهُمْ؟!
Maka bagaimana pula dengan pembesar-pembesar
umatnya setelah beliau, padahal kedudukan dan akhlak mereka berada di bawah
beliau, mereka tidak merendahkan sayap mereka?
وَقَدْ جَاءَ فِي الْحِكَمِ: (مَنْ كَثُرَ
تَوَاضُعُهُ كَثُرَ صَدِيقُهُ)،
Dan telah disebutkan dalam hikmah: Barangsiapa yang
banyak ketawadukannya maka banyak pula temannya.
فِإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَكْسِبَ أَنْصَارًا
لِدَعْوَتِكَ، فَعَلَيْكَ بِالتَّوَاضُعِ، وَاحْذَرِ الْعُجْبَ وَالْكِبْرَ،
وَأَخْطَرُهُ عُجْبُ الطَّاعَةِ،
Maka jika kamu ingin mendapatkan penolong-penolong
bagi dakwahmu, hendaklah kamu bertawaduk, dan berhati-hatilah terhadap sifat
ujub dan sombong, yang paling berbahaya di antaranya adalah ujub dalam
ketaatan,
الَّذِي يَجْعَلُكَ تَسْتَصْغِرُ النَّاسَ إِزَاءَ
مَا تَقُومُ بِهِ أَنْتَ مِنْ طَاعَاتٍ، وَلِذَلِكَ يُرْوَى عَنْ مُطَرِّفٍ
قَوْلُهُ:
yang membuatmu meremehkan manusia berkenaan dengan
ketaatan-ketaatan yang kamu lakukan sendiri. Oleh karena itu diriwayatkan dari
Mutharrif perkataannya:
(لَأَنْ
أَبِيتَ نَائِمًا، وَأُصْبِحَ نَادِمًا، أَحَبُّ
إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَبِيتَ قَائِمًا، وَأُصْبِحَ مُعْجَبًا) (٢).
Sungguh aku tidur di malam hari lalu bangun di pagi
hari dalam keadaan menyesal, lebih aku sukai daripada aku berdiri salat di
malam hari lalu bangun di pagi hari dalam keadaan takjub pada diri sendiri. Mukhtashar
Minhaj as-Shadikin halaman 254.
وَيُعَرِّفُ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ تَوَاضُعَ
الْمُؤْمِنِ بِأَنَّهُ: (أَنْ يَخْضَعَ لِلْحَقِّ، وَيَنْقَادَ لَهُ، وَيَقْبَلَهُ
مِمَّنْ قَالَهُ)
Dan Fudhail bin Iyadh mendefinisikan tawaduk
seorang mukmin yaitu: Tunduk kepada kebenaran, patuh kepadanya, dan menerimanya
dari siapapun yang mengucapkannya. Tahdzib Madarij as-Salikin halaman 429.
وَهَذَا الْخُضُوعُ لِلْحَقِّ هُوَ عَيْنُ الْعِزِّ؛
لِأَنَّ طَاعَةَ اللَّهِ، وَرُجُوعٌ إِلَى الصَّوَابِ، وَتَعْوِيدٌ لِلنَّفْسِ
أَلَّا تُصِرَّ عَلَى بَاطِلٍ.
Dan ketundukan kepada kebenaran ini adalah hakikat
kemuliaan itu sendiri, karena ketaatan kepada Allah, kembalinya seseorang
kepada kebenaran, dan pembiasaan diri agar tidak bersikeras di atas kebatilan.
وَلِذَلِكَ يَقُولُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ -: «وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ، إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ»
Oleh karena itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda: Dan tidaklah seseorang bertawaduk karena Allah, melainkan Allah akan
mengangkat derajatnya. Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi: Jami' al-Ushul
6/455 Hadis 4660.
وَمَنْ كَانَ قَصْدُهُ رِضَا اللَّهِ، هَانَ عَلَيْهِ
الِانْقِيَادُ لِلْحَقِّ.
Dan barangsiapa yang tujuannya adalah keridaan
Allah, maka menjadi mudah baginya untuk tunduk kepada kebenaran.
كَالَّذِي رُوِيَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ
الْحَسَنِ الْعَنْبَرِيِّ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ مَسْأَلَةٍ، فَغَلِطَ فِيهَا،
فَلَمَّا نُبِّهَ إِلَى غَلَطِهِ، أَطْرَقَ سَاعَةً، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ
فَقَالَ:
Sebagaimana dikisahkan dari Ubaidullah bin Al-Hasan
Al-Anbari bahwa beliau ditanya tentang suatu masalah, lalu beliau keliru di
dalamnya. Ketika beliau diingatkan atas kekeliruannya, beliau menunduk sejenak,
kemudian mengangkat kepalanya lalu berkata:
(إِذًا أَرْجِعُ وَأَنَا صَاغِرٌ، لَأَنْ
أَكُونَ ذَنَبًا فِي الْحَقِّ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَكُونَ رَأْسًا فِي
الْبَاطِلِ)
Kalau begitu aku kembali dan aku berada dalam
keadaan hina, sungguh menjadi ekor dalam kebenaran lebih aku sukai daripada
menjadi kepala dalam kebatilan. Tahdzib at-Tahdzib 7/7.
وَهَذَا الْأَصْلُ فِي الْعَالِمِ، أَنْ يَتَوَاضَعَ
لِلَّهِ وَيَنْقَادَ لِلْحَقِّ؛ لِأَنَّهُ مَقْصُودُهُ،
Dan inilah prinsip dasar bagi seorang ulama, yaitu
bertawaduk karena Allah dan tunduk kepada kebenaran karena itulah tujuannya,
وَإِنْ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَنْ ظَهَرَ الْحَقُّ
عَلَى لِسَانِهِ أَيُّ نَوْعٍ مِنَ الْعَدَاوَةِ وَالِاخْتِلَافِ.
meskipun di antara dirinya dan orang yang kebenaran
itu tampak melalui lisannya terdapat bentuk permusuhan atau perselisihan
apapun.
وَعَدَمُ الْخُضُوعِ لِلْحَقِّ هُوَ عَيْنُ الْكِبْرِ وَالْبَغْيِ،
وَلِذَلِكَ عَرَّفَ الرَّسُولُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الْكِبْرَ
بِقَوْلِهِ: «اَلْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»
Dan ketidaktundukan kepada kebenaran adalah hakikat
kesombongan dan kezaliman. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam mendefinisikan kesombongan dengan sabdanya: Kesombongan adalah menolak
kebenaran dan meremehkan manusia. Shahih Muslim - Kitab al-Iman - Bab 39 -
Hadis 147.
وَبِهَذَا نَرَى أَنَّ التَّوَاضُعَ بِالْإِضَافَةِ
إِلَى كَوْنِهِ خُلُقًا وِجْدَانِيًّا مَحْمُودًا، فَإِنَّهُ وِقَايَةٌ مِنَ
الْوُقُوعِ فِي الظُّلْمِ، وَحِمَايَةٌ مِنَ التَّعَالِي وَالتَّفَاخُرِ عَلَى
إِخْوَةِ الدِّينِ.
Dan dengan ini kita melihat bahwa tawaduk di
samping sebagai akhlak batin yang terpuji, ia juga merupakan benteng dari
terjerumus ke dalam kezaliman, dan pelindung dari sikap meninggikan diri serta
membangga-banggakan diri atas saudara sesama agama.
وَفِي الْحَدِيثِ: «إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ:
أَنْ تَوَاضَعُوا؛ حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ
أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ»
Dan dalam hadis disebutkan: Sesungguhnya Allah
telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawaduk, sehingga tidak ada seorang
pun yang berbangga diri atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang
melampaui batas atas orang lain. Shahih Muslim - Kitab al-Jannah - Bab 16 -
Hadis 64.
وَمِنْ رِفْعَةِ مَقَامِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَإِنَّهُ حِينَ رَأَى رَجُلًا يَرْتَعِدُ مِنْهُ،
وَكَأَنَّمَا كَانَ يَظُنُّهُ كَمُلُوكِ الْأَرْضِ، قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -:
Dan di antara keluhuran kedudukan Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam, ketika beliau melihat seorang pria gemetar
ketakutan karena mengira beliau seperti raja-raja di bumi, Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:
«هَوِّنْ عَلَيْكَ فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ،
إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ كَانَتْ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ»
Tenangkanlah dirimu, karena sesungguhnya aku
bukanlah seorang raja, aku hanyalah anak dari seorang wanita dari Quraisy yang
biasa memakan dendaan daging kering. Shahih Sunan Ibni Majah 2/232 Hadis
2677/3312.
وَإِقْرَارُهُ بِمَا كَانَتْ عَلَيْهِ أُمُّهُ مِنَ
الْفَقْرِ أَوْ خُشُونَةِ الْعَيْشِ، يَزِيدُ مِنْ إِكْبَارِهِ فِي نَفْسِ
سَامِعِهِ، وَلَا يَضِيرُهُ شَيْئًا،
Dan pengakuan beliau terhadap apa yang dialami
ibunya berupa kemiskinan atau kesederhanaan hidup, justru semakin menambah rasa
hormat di hati orang yang mendengarnya, dan hal itu sama sekali tidak merugikan
beliau sedikit pun.
وَيُدَرِّبُ أَصْحَابَهُ بِذَلِكَ عَلَى عَدَمِ
التَّعَالِي عَلَى الْخَلْقِ؛ بِاسْتِحْضَارِ جَوَانِبِ مِنْ بَشَرِيَّتِهِمْ،
أَوْ سَابِقِ حَالِهِمْ، وَبِتَذَكُّرِ أَنَّهُمْ جَمِيعًا بَنُو آدَمَ،
Beliau melatih para sahabatnya dengan hal itu agar
tidak merasa tinggi hati atas makhluk, dengan cara menghadirkan sisi-sisi
kemanusiaan mereka atau keadaan mereka di masa lalu, serta mengingat bahwa
mereka semua adalah anak cucu Adam,
وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ، وَأَنَّ الْكَرَمَ عِنْدَ
اللَّهِ بِالتَّقْوَى، وَأَنَّ الْمُتَفَاخِرَ بِالْقِيَمِ الْجَاهِلِيَّةِ
أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنَ الْجِعْلَانِ.
sedangkan Adam berasal dari tanah, dan bahwa
kemuliaan di sisi Allah adalah dengan ketakwaan, serta orang yang membanggakan
nilai-nilai jahiliah adalah lebih hina di sisi Allah daripada kumbang kotoran.
وَمَعَ مَا عُرِفَ عَنْ نَاقَةِ رَسُولِ اللَّهِ -
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مِنَ السُّرْعَةِ، فَقَدْ سَبَقَهْتِهَا
مَرَّةً نَاقَةُ أَعْرَابِيٍّ، وَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى الصَّحَابَةِ،
Dan meskipun telah diketahui tentang kecepatan unta
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, pernah suatu ketika unta seorang Badui
mendahuluinya, dan hal itu terasa berat bagi para sahabat.
بَيْنَمَا تَلَقَّى رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الْأَمْرَ بِكُلِّ بَسَاطَةٍ، بَلِ اغْتَنَمَ الْفُرْصَةَ،
وَعَمَّقَ فِي النُّفُوسِ سُنَّةً كَوْنِيَّةً، فَقَالَ:
Sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
menyikapi perkara tersebut dengan sangat santai, bahkan beliau memanfaatkan
kesempatan tersebut dan menanamkan ke dalam jiwa sebuah sunnatullah dengan
bersabda:
«حَقٌّ عَلَى اللَّهِ: أَلَّا يَرْتَفِعَ
شَيْءٌ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ» (١)،
Menjadi hak Allah bahwa tidak ada sesuatu pun dari
dunia ini yang meninggi melainkan Dia akan merendahkannya, agar orang-orang
yang sombong jera dan orang yang membanggakan diri bertawaduk, Shahih
al-Bukhari - Kitab al-Jihad - Bab 59 - Hadis 2872.
بِحَيْثُ يَرْتَدِعُ الْمُتَعَالُونَ وَيَتَوَاضَعُ
الْمُتَفَاخِرُ؛ لِأَنَّهُ لَا يَدُومُ شَيْءٌ فِي الدُّنْيَا عَلَى
حَالِهِ، فَقَدْ يَذِلُّ الرَّفِيعُ، وَيَرْتَفِعُ
الْوَضِيعُ.
karena tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang
kekal dalam keadaannya, kadang orang yang tinggi menjadi rendah, dan orang yang
rendah menjadi tinggi.
وَمِنْ كَمَالِ مَا عُرِفَ عَنْ تَوَاضُعِ النَّبِيِّ
- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنَّكَ كَانَ يَخْدُمُ أَهْلَهُ - وَهُوَ
الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَسْتَعِينَ بِالْخَدَمِ –
Dan di antara kesempurnaan tawaduk Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang dikenal adalah bahwa beliau biasa melayani keluarganya,
padahal beliau mampu untuk mempekerjakan pelayan,
وَيُسَلِّمُ عَلَى الصِّبْيَانِ الَّذِينَ
يَلْقَاهُمْ فِي الطَّرِيقِ - وَهُوَ الَّذِي تَهَابُهُ الْمُلُوكُ - وَحَتَّى
حِينَ يَكُونُ فِي أَوْجِ قُوَّتِهِ وَانْتِصَارِهِ، لَا يَكُونُ جَبَّارًا فِي
الْأَرْضِ.
dan beliau memberi salam kepada anak-anak kecil
yang beliau temui di jalan, padahal beliau adalah orang yang disegani oleh para
raja. Bahkan ketika beliau berada di puncak kekuatan dan kemenangannya, beliau
tidak bersikap sewenang-wenang di muka bumi.
فَقَدْ كَانَ يَوْمَ غَزْوِ بَنِي قُرَيْظَةَ عَلَى
حِمَارٍ مَخْطُومٍ بِحَبْلٍ مِنْ لِيفٍ، وَحِينَ دَخَلَ مَكَّةَ فَاتِحًا، دَخَلَ
مُنَكَّسَ الرَّأْسِ، تَوَاضُعًا لِرَبِّهِ،
Maka pada hari perang Bani Quraizah beliau menaiki
keledai yang tali kekangnya terbuat dari serabut kurma, dan ketika beliau
memasuki Makkah sebagai seorang penakluk, beliau memasukinya dengan menundukkan
kepala sebagai bentuk ketawadukan kepada Tuhannya,
وَحَذَرًا مِنْ تَسَلُّلِ مَشَاعِرِ الْكِبْرِ إِلَى
نَفْسِ الْمُنْتَصِرِ، الَّذِي تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ بِأَنَّهُ هُوَ الَّذِي
صَنَعَ النَّصْرَ، وَقَدْ يَنْسَى فَضْلَ اللَّهِ وَتَوْفِيقَهُ.
serta bentuk kehati-hatian dari menyusupnya
perasaan sombong ke dalam jiwa seorang pemenang yang mungkin membisikkan pada
dirinya bahwa dialah yang menciptakan kemenangan tersebut, sehingga ia
melupakan karunia dan taufik Allah.
وَوَصَفَ ابْنُ تَيْمِيَةَ حَالَ رَسُولِ اللَّهِ -
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِقَوْلِهِ:
Dan Ibnu Taimiyah menyifatkan keadaan Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan perkataannya:
(إِنَّهُ اخْتَارَ الْعُبُودِيَّةَ -
وَالتَّوَاضُعَ وَإِنْ كَانَ هُوَ الْأَعْلَى وَهُوَ وَمَنْ اتَّبَعَهُ -.. وَلَمْ
يُرِدِ الْعُلُوَّ، وَإِنْ كَانَ قَدْ حَصَلَ لَهُ).
Sesungguhnya beliau memilih sifat penghambaan dan
ketawadukann padahal beliau dan orang-orang yang mengikutinya adalah yang
paling tinggi, dan beliau tidak menginginkan ketinggian status duniawi,
meskipun hal itu telah dianugerahkan kepadanya. Majmu' Fatawa Ibni Taimiyah
11/131.
وَيَكْفِي الْمُتَكَبِّرِينَ لِيَؤُوبُوا إِلَى
رُشْدِهِمْ، أَنْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّهُمْ، وَيَصْرِفُهُمْ عَنْ
آيَاتِهِ، وَيَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، وَيَسْقِيهِمْ طِينَةَ الْخَبَالِ،
وَتَوَعَّدَهُمْ بِأَنْ يَقِصْمَهُمْ.
Dan sudah cukup bagi orang-orang yang sombong agar
mereka kembali kepada kesadaran mereka, yaitu dengan mengetahui bahwa Allah
tidak mencintai mereka, memalingkan mereka dari ayat-ayat-Nya, menutup hati
mereka, memberi mereka minum dari keringat atau nanah penduduk neraka, dan
mengancam akan membinasakan mereka.
وَ«مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ
خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ أَكَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي النَّارِ»
Dan barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat
seberat biji sawi dari kesombongan, maka Allah akan melemparkannya tersungkur
di atas wajahnya ke dalam neraka. Musnad Ahmad 2/215 dan para perawinya adalah
perawi kitab Shahih.
كُلُّ هَذَا الْجَزَاءِ مِنْ أَجْلِ مِثْقَالَ
حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ، فَكَمْ يَحْتَاجُ الْمَرْءُ إِلَى حِفْظِ قَلْبِهِ
مِنْ مَشَاعِرِ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالغُرُورِ!
Semua balasan ini hanya karena seberat biji sawi
dari kesombongan, maka betapa butuhnya seseorang untuk menjaga hatinya dari
perasaan-perasaan sombong, ujub, dan tertipu!
وَلَا يَدْفَعُ الْمَرْءَ إِلَى الْكِبْرِ، إِلَّا
حُبُّ التَّمَيُّزِ عَنِ الْآخَرِينَ، أَوْ الرَّغْبَةُ فِي عَدَمِ الْخُضُوعِ
لِأَحَدٍ، أَوْ مُحَاوَلَةُ إِخْفَاءِ نَقْصٍ فِي ذَاتِهِ، وَكُلُّهَا مُهْلِكَةٌ
لِلْمَرْءِ.
Dan tidak ada yang mendorong seseorang kepada
kesombongan melainkan kecintaan untuk tampil berbeda dari orang lain, atau
keinginan untuk tidak tunduk kepada siapapun, atau usaha untuk menyembunyikan
kekurangan pada dirinya, dan semuanya itu adalah hal-hal yang membinasakan
seseorang.
«..
فَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوَى
مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ»
Adapun perkara-perkara yang membinasakan adalah
sifat bakhil yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang
pada dirinya sendiri. Shahih al-Jami' - Hadis 3045.
كَمَا يَكْفِي الْمُتَوَاضِعَ أَنْ يَعْلَمَ: أَنَّ
اللَّهَ يَرْفَعُهُ، وَأَنَّ عِبَادَ اللَّهِ تُحِبُّهُ، وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أُسْوَتُهُ، وَأَنَّهُ أَعْرَفُ بِقَدْرِ
رَبِّهِ وَبِقَدْرِ نَفْسِهِ.
Sebagaimana sudah cukup bagi orang yang bertawaduk
untuk mengetahui bahwa Allah mengangkat derajatnya, bahwa hamba-hamba Allah
mencintainya, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah teladannya,
dan bahwa ia adalah orang yang paling mengenal kadar Tuhannya dan kadar dirinya
sendiri.
فَحَاذِرْ مِنَ الِانْزِلَاقِ مَعَ وَسَاوِسِ
الشَّيْطَانِ، وَأَهْوَاءِ النُّفُوسِ، لَعَلَّكَ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ
يُحِبُّهُمْ اللَّهُ وَيُحِبُّونَهُ ﴿أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ
عَلَى الْكَافِرِينَ﴾ [المائدة: ٥٤].
Maka berhati-hatilah dari tergelincir bersama
bisikan-bisikan setan dan hawa nafsu, semoga kamu termasuk golongan orang-orang
yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya yang bersikap lemah lembut
terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir.
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ:
KESIMPULAN
· اَلَّذِينَ يُحِبُّهُمْ اللَّهُ
وَيُحِبُّونَهُ مُتَوَاضِعُونَ.
Orang-orang yang dicintai Allah dan mencintai-Nya
adalah orang-orang yang bertawaduk.
· لَا تَعَارُضَ بَيْنَ الْعِزَّةِ عَلَى
الْكَافِرِينَ وَالذِّلَّةِ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ.
Tidak ada pertentangan antara bersikap perkasa
terhadap orang-orang kafir dan bersikap rendah hati terhadap orang-orang
mukmin.
· عُمَرُ يُدَرِّبُ وُلَاتَهُ عَلَى
الذِّلَّةِ لِرَعِيَّتِهِمْ.
Umar melatih para gubernurnya untuk bersikap rendah
hati kepada rakyat mereka.
· مِنَ التَّوَاضُعِ الِاعْتِرَافُ
بِالْخَطَأِ وَقَبُولُ أَعْذَارِ النَّاسِ.
Di antara bentuk tawaduk adalah mengakui kesalahan
dan menerima alasan-alasan orang lain.
· خَفْضُ الْجَنَاحِ مِنْ صِفَاتِ مَنْ
يَتَصَدَّرُ لِقِيَادَةِ النَّاسِ.
Merendahkan sayap adalah salah satu sifat orang
yang tampil memimpin manusia.
· مِنَ التَّوَاضُعِ الْخُضُوعُ لِلْحَقِّ
وَالِانْقِيَادُ لَهُ.
Di antara bentuk tawaduk adalah tunduk kepada
kebenaran dan patuh kepadanya.
· يُعِينُ عَلَى التَّوَاضُعِ تَذَكُّرُ
الْأَصْلِ الْبَشَرِيِّ الْوَاحِدِ.
Hal yang membantu seseorang untuk bertawaduk adalah
mengingat asal-usul manusia yang satu.
· مِنْ أَعْظَمِ التَّوَاضُعِ مَا يَكُونُ
فِي أَوْجِ الْقُوَّةِ وَالِانتِصَارِ.
Di antara bentuk tawaduk yang paling agung adalah
tawaduk yang ditunjukkan saat berada di puncak kekuatan dan kemenangan.
· يُعِينُ عَلَى التَّوَاضُعِ اسْتِحْضَارُ
مَا فِيهِ مِنَ الْأَجْرِ وَمَا عَلَى الْمُتَكَبِّرِينَ مِنَ الْوِزْرِ.
Hal yang membantu untuk bertawaduk adalah
menghadirkan pahala yang ada di dalamnya serta dosa yang ditanggung oleh
orang-orang yang sombong.
· يَكْفِي الْمُتَوَاضِعَ مَحَبَّةُ
عِبَادِ اللَّهِ لَهُ وَرَفْعُ اللَّهِ إِيَّاهُ.
Cukuplah bagi orang yang bertawaduk kecintaan
hamba-hamba Allah kepadanya dan pengangkatan derajat oleh Allah terhadap
dirinya.
📙📙📙
Sumber:
هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

