Label xxx

Senin, 12 Oktober 2026

Rendah Hati – 03 BAB 06 – Hadzihi Akhlaquna

 

BAB 06

AKHLAK KITA DALAM PERASAAN – EMOSI

PASAL 03

التواضع

Rendah Hati

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Dan tidaklah seseorang bertawaduk karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.

 

اَللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَزِيزٌ، وَيُرِيدُ لِعِبَادِهِ أَنْ يَكُونُوا أَعِزَّاءَ، عَلَى أَلَّا تَمْتَدَّ مِسَاحَةُ عِزَّتِهِمْ عَلَى إِخْوَانِهِمْ،

Allah Azza wa Jalla Maha Perkasa, dan Dia menginginkan kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya dengan satu syarat, yaitu jangan sampai kemuliaan itu melampaui batas

فَتَغْدُوَ عِنْدَئِذٍ إِعْجَابًا بِالنَّفْسِ، وَاسْتِعْلَاءً عَلَى الْآخَرِينَ، وَحَطًّا مِنْ شَأْنِهِمْ.

sehingga berubah menjadi sikap membanggakan diri, sombong terhadap orang lain, dan merendahkan mereka,

وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَمُنُّ عَلَى عِبَادِهِ أَنْ هَدَاهُمْ لِلْإِيمَانِ، فَإِنْ أَبَوْا إِلَّا الضَّلَالَاتِ،

Dan Allah Azza wa Jalla telah menganugerahkan keimanan kepada hamba-hamba-Nya. Jika mereka menginginkan kesesatan

فَهُوَ قَادِرٌ عَلَى الِاسْتِبْدَالِ بِهِمْ قَوْمًا يَعْتَزُّونَ بِإِيمَانِهِمْ، وَيَتَوَاضَعُونَ لِإِخْوَانِهِمْ.

maka Allah Mahakuasa menggantikan mereka dengan kaum lain yang merasa mulia dengan keimanan dan merendahkan diri terhadap saudaranya,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ﴾ [المائدة: ٥٤]،

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan men-datangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela..." (al-Maa'idah [5]: 54)

فَهَذِهِ الذِّلَّةُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ صِفَةُ الْمُصْطَفَيْنَ لِحَمْلِ هَذَا الدِّينِ - حِينَ يَرْتَدُّ عَنْهُ الْمُرْتَدُّونَ.

Lemah lembut terhadap kaum muslimin adalah sifat orang-orang pilihan, yang bertugas membawa agama ini ketika banyak orang yang murtad.

وَفِي تَفْسِيرِ الْآيَةِ: ﴿أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾؛ أَيْ: يَرْأَفُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ، وَيَرْحَمُونَهُمْ، وَيَلِينُونَ لَهُمْ، وَيُغْلِظُونَ عَلَى الْكُفَّارِ، وَيُعَادُونَهُمْ.

Dan dalam tafsir ayat "Adzillatin'alal mu'miniin" yang artinya bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, maksudnya adalah mereka menyayangi orang-orang mukmin, mengasihi mereka, bersikap lembut kepada mereka, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, dan memusuhi mereka.

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هُمْ الْمُؤْمِنُونَ كَالْوَالِدِ لِلْوَلَدِ، وَالسَّيِّدِ لِلْعَبْدِ. وَهُمْ فِي الْغِلْظَةِ عَلَى الْكُفَّارِ، كَالسَّبُعِ عَلَى فَرِيسَتِهِ؛ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾ [الفتح: ٢٩]

Ibnu Abbas menafsirkan, "Mereka bersikap terhadap orang-orang mukmin bagaikan ayah terhadap anaknya dan tuan terhadap hamba sahayanya. Sedang mereka bersikap keras terhadap orang-orang kafir bagaikan binatang buas terhadap mangsanya, Allah subhaanahu wata’ala. berfirman, '...keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..." (al-Fat-h [48]: 29). Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an 6/220.

وَفِي تَعْلِيلِ اسْتِعْمَالِ حَرْفِ الْجَرِّ (عَلَى) فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾؛ تَفْسِيرَانِ:

Dan dalam menjelaskan penggunaan huruf jar ala pada firman Allah Taala yang artinya bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, terdapat dua penafsiran:

فَفِي قَوْلِ إِنَّهُ ضُمِّنَ مَعْنَى الْحُنُوِّ وَالْعَطْفِ كَأَنَّهُ قَالَ عَاطِفِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ عَلَى وَجْهِ التَّذَلُّلِ وَالتَّوَاضُعِ،

Pertama, kata 'alad mengandung makna belas kasihan, seakan Allah subhaanahu wata’ala. berfirman, "...Mereka amat belas kasihan terhadap orang-orang mukmin dengan bersikap rendah hati."

وَفِي قَوْلٍ ثَانٍ أَنَّ (عَلَى) تَدُلُّ عَلَى عُلُوِّ مَقَامِهِمْ، وَأَنَّهُ رَغْمَ فَضْلِهِمْ وَارْتِفَاعِ مَنْزِلَتِهِمْ يَذِلُّونَ وَيَخْضَعُونَ لِمَنْ فُضِّلُوا عَلَيْهِمْ مَعَ شَرَفِهِمْ وَعُلُوِّ مَكَانِهِمْ

Kedua, kata 'alaa' menunjukkan tingginya kedudukan mereka. "Mereka tetap merendahkan hati terhadap orang lain yang lebih rendah, walaupun mereka memiliki keutamaan dan kedudukan yang tinggi.". Tafsir al-Bahr al-Muhith karya Abu Hayyan al-Andalusi 3/412.

اَلْعِزَّةُ صِفَةٌ مَحْمُودَةٌ، وَالْكِبْرُ عَلَى النَّاسِ وَالْعُجْبُ بِالنَّفْسِ مَذْمُومَانِ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَطَّ مِنْ قِيمَةِ الدُّنْيَا فِي نَظَرِ الْمُؤْمِنِ، وَبَيَّنَ هَوَانَهَا عَلَى اللَّهِ؛ لِيَعْلَمَ النَّاسُ جَمِيعًا أَنَّهُ

Izzah (kemuliaan) merupakan sifat terpuji, sedangkan angkuh terhadap orang lain dan membanggakan diri adalah sifat tercela. Allah subhaanahu wata’ala. merendahkan nilai dunia di mata seorang mukmin dan menjelaskan bahwa dunia itu hina bagi-Nya agar semua manusia mengetahui bahwa,

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا﴾ [فاطر: ١٠]

"Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semua..." (Faathir [35]: 10)

وَأَنَّ اللَّهَ يُكْرِمُ بِهَا أَوْلِيَاءَهُ حَتَّى وَهُمْ فِي ذِرْوَةِ الْمِحْنَةِ.

Allah subhaanahu wata’ala. akan memberikan izzah kepada orang-orang yang mencintai-Nya hingga walau mereka berada pada puncak ujian,

﴿وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾ [المنافقون: ٨],

Padahal milik Allah-lah kemuliaan, bagi rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.

مَعَ كُلِّ هَذِهِ الْعِزَّةِ، فَالْمَطْلُوبُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الشَّدِيدِ عَلَى الْكُفَّارِ، أَنْ يَتَرَاحَمَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ، وَاللَّائِقُ بِالْمُؤْمِنِ الْعَزِيزِ عَلَى الْكَافِرِينَ، أَنْ يَتَعَامَلَ بِالذُّلِّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ.

Bersamaan dengan semua kemuliaan ini, maka seorang mukmin yang keras terhadap orang-orang kafir harus tetap berkasih sayang dan rendah hati terhadap orang-orang mukmin.

يَقُولُ ابْنُ قُدَامَةَ الْمَقْدِسِيُّ فِي حَدِيثِهِ عَنِ التَّوَاضُعِ:

Ibnu Qudamah berpendapat mengenai sifat rendah hati,  tawaduk:

(وَاعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْخُلُقَ كَسَائِرِ الْأَخْلَاقِ، لَهُ طَرَفَانِ وَوَسَطٌ: فَطَرَفُهُ الَّذِي يَمِيلُ إِلَى الزِّيَادَةِ يُسَمَّى تَكَبُّرًا، وَطَرَفُهُ الَّذِي يَمِيلُ إِلَى النُّقْصَانِ يُسَمَّى تَخَسُّسًا وَمَذَلَّةً. وَالْوَسَطُ يُسَمَّى تَوَاضُعًا - وَهُوَ الْمَحْمُودُ - وَهُوَ أَنْ يَتَوَاضَعَ مِنْ غَيْرِ مَذَلَّةٍ..)

"Ketahuilah bahwa akhlak ini seperti akhlak-akhlak lainnya memiliki dua sisi dan pertengahan. Sisi yang condong kepada kelebihan disebut kesombongan dan sisi yang condong kepada kekurangan disebut kehinaan. Sedang per-tengahannya disebut rendah hati (tawadhu'). Sifat ini terpuji dan seseorang yang tawadhu' merendahkan hati tanpa kehinaan. "  Mukhtashar Minhaj al-Qashidin halaman 254.

إِنَّ مِنْ تَأْدِيبِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لِلْمُؤْمِنِينَ عَلَى خُلُقِ (الذِّلَّةِ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ) أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو:

Sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang-orang mukmin mengajarkan agar memiliki akhlak rendah hati terhadap sesama mereka, beliau biasa berdoa:

«اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ»

"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin dan himpunlah aku bersama orang-orang miskin. Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/275 Kitab az-Zuhd - Bab 23 - Hadis 1917/2471.

يَقُولُ ابْنُ الْأَثِيرِ: (أَرَادَ بِهِ التَّوَاضُعَ وَالْإِخْبَاتَ، وَأَلَّا يَكُونَ مِنَ الْجَبَّارِينَ الْمُتَكَبِّرِينَ).

Ibnu Al-Atsir menjelaskan, "Rasulullah ﷺ bermaksud rendah hati, dan tidak ingin termasuk golongan orang-orang yang angkuh dan sombong." Shahih al-Jami' 1/271 sebagai komentar atas hadis nomor 1261.

وَقَدْ كَانَ عُمَرُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - يُدَرِّبُ وُلَاتَهُ عَلَى الذِّلَّةِ عَلَى الرَّعِيَّةِ، وَيَنْهَاهُمْ عَنْ إِذْلَالِ النَّاسِ، كَمَا يُعَلِّمُ النَّاسَ حَقَّهُمْ فِي أَنْ يَعِيشُوا كِرَامًا، وَمِمَّا جَاءَ فِي خُطْبَةٍ لَهُ:

Dan Umar Radhiyallahu Anhu melatih para gubernurnya agar bersikap rendah diri terhadap rakyat, dan melarang mereka meremehkan rakyat. Ia juga mengajarkan rakyatnya bahwa mereka berhak hidup terhormat. Umar r.a. berkhotbah,:

(إِلَّا إِنِّي وَاللَّهِ مَا أُرْسِلُ عُمَّالِي إِلَيْكُمْ لِيَضْرِبُوا أَبْشَارَكُمْ، وَلَا لِيَأْخُذُوا أَمْوَالَكُمْ، وَلَكِنْ أُرْسِلُهُمْ إِلَيْكُمْ؛ لِيُعَلِّمُوكُمْ دِينَكُمْ وَسُنَّتَكُمْ، فَمَنْ فُعِلَ بِهِ شَيْءٌ سِوَى ذَلِكَ، فَلْيَرْفَعْهُ إِلَيَّ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِذًا لَأَقُصَّنَّهُ مِنْهُ... أَلَّا لَا تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ فَتُذِلُّوهُمْ..) (٢)،

"Ingatlah, Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengutus para gubernurku untuk memukul kulit kalian. Bukan pula untuk mengambil harta-harta kalian. Akan tetapi, aku mengutus mereka untuk mengajarkan agama dan sunnah kalian. Barangsiapa diperlakukan tidak baik (tidak seperti yang aku perintahkan kepada mereka) maka hendaknya ia melaporkannya padaku. Demi Allah, aku akan membalasnya. Janganlah kalian memukul kaum muslimin sehingga kalian menghinakan mereka. Musnad Ahmad 1/41 dan Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata: Sanadnya hasan.

وَكَانَ عُمَرُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - يُوصِي وَالِيَهُ عَلَى الْحِمَى بِقَوْلِهِ: (اضْمُمْ جَنَاحَكَ عَنِ الْمُسْلِمِينَ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمُسْلِمِ فَإِنَّ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ)

Dan Umar Radhiyallahu Anhu Ketika sedang sakit, ia berwasiat kepada salah seorang gubernurnya, "Rendahkanlah hati terhadap kaum muslimin, dan takutlah akan doa mereka karena doa orang yang teraniaya dapat dikabulkan. Shahih al-Bukhari - Kitab al-Jihad - Bab 180 - Hadis 3059.

الِاعْتِرَافُ بِالْخَطَأِ يَحْتَاجُ إِلَى شَجَاعَةٍ كَبِيرَةٍ، وَنَزَاهَةٍ عَالِيَةٍ، وَتَوَاضُعٍ جَمٍّ.

Untuk mengakui kesalahan diperlukan sebuah keberanian besar dan kerendahan hati..

وَإِنْ حَدَّثَتْكَ نَفْسُكَ أَنَّ اعْتِرَافَكَ قَدْ يَضَعُ مِنْ قَدْرِكَ فَأَحْرِصْ عَلَى سَلَامَةِ الْحَقِّ، أَكْثَرَ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى تَزَيُّنِ نَفْسِكَ، كَمَا أَنَّ قَبُولَ عُذْرِ الْمُعْتَذِرِ إِلَيْكَ تَوَاضُعٌ رَفِيعٌ، وَكَرَمٌ عَالٍ.

Apabila Anda merasa bahwa mengakui suatu kesalahan hanya akan menjatuhkan harga diri Anda, maka peliharalah kebenaran dan banyak-banyaklah memperbaiki diri. Menerima permintaan maaf seseorang juga merupakan salah satu bentuk kerendahan dan kemurahan hati.

فَالنُّفُوسُ الْخَبِيثَةُ تَتَمَنَّى الزَّلَّةَ مِنَ الْآخَرِينَ؛ لِتَتَشَفَّى بِالنَّقْدِ وَالْمُحَاسَبَةِ وَالتَّشْهِيرِ..

Orang-orang yang berhati busuk selalu mengharapkan orang lain memiliki kesalahan agar mereka puas mengkritik, meng instrospeksi dan menyebarkan kesalahan itu..

وَيُعَبِّرُ ابْنُ الْقَيِّمِ عَنْ هَذَا الْمَعْنَى بِقَوْلِهِ:

Dan Ibnu Al-Qayyim mengungkapkan makna ini dengan perkataannya:

(مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ ثُمَّ جَاءَ يَعْتَذِرُ عَنْ إِسَاءَتِهِ، فَإِنَّ التَّوَاضُعَ يُوجِبُ عَلَيْكَ قَبُولَ مَعْذِرَتِهِ - حَقًّا كَانَتْ أَوْ بَاطِلًا - وَتَكِلُ سَرِيرَتَهُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى.. وَعَلَامَةُ الْكَرَمِ وَالتَّوَاضُعِ: أَنَّكَ إِذَا رَأَيْتَ الْخَلَلَ فِي عُذْرِهِ، لَا تُوقِفُهُ عَلَيْهِ، وَلَا تُحَاجُّهُ..)

maka kamu harus merendahkan hati dan menerima permohonan maafnya, baik permohonan maaf itu tulus maupun tidak, dan menyerahkan urusan batinnya kepada Allah Taala. Tanda kemurahan dan kerendahan hati adalah apabila Anda mendapatkan alasannya yang kurang bisa diterima maka janganlah mengungkapkannya dan janganlah membantahnya. Tahdzib Madarij as-Salikin halaman 433.

فَابْتَعِدْ عَنِ الْإِحْرَاجِ، وَاقْلِبِ الصَّفْحَةَ، وَابْدَأْ مِنْ جَدِيدٍ، وَسَيَكْبُرُ لَكَ صَاحِبُكَ حُسْنَ تَجَاوُزِكَ عَنْهُ، وَعَدَمَ التَّحْقِيقِ فِي عُذْرِهِ.

Janganlah menyakiti orang lain. Bukalah lembaran baru, niscaya sahabat Anda akan kagum terhadap budi baik Anda, karena Anda telah memaafkannya dan tidak mempermasalahkan alasan yang diungkapkannya.

وَإِذَا أَصْرَرْتَ عَلَى أَنْ تَضَعَ أَخَاكَ فِي مَوْقِفٍ تُذِلُّهُ فِيهِ وَتُحَاسِبُهُ مُحَاسَبَةَ الْأَرْبَابِ،

Jika Anda bersikeras memojokkan saudara Anda pada posisi terhina dan Anda menginstrospeksinya dengan cara seperti para raja - arbaab,

فَقَدْ تَجَرَّأْتَ عَلَى حَرْبِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَيْسَ لَكَ بِهِ طَاقَةٌ لِمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ: «مَنْ أَذَلَّ لِي وَلِيًّا فَقَدْ اسْتَحَلَّ مُحَارَبَتِي»

berarti Anda benar-benar telah berani memerangi Allah subhaanahu wata’ala. dan Anda tidak akan memiliki kemampuan. Disebutkan dalam hadits qudsi, "Barangsiapa menghinakan orang yang Aku cintai berarti ia telah berani memerangi-Ku, Musnad Ahmad 6/256

وَاللَّهُ وَلِيُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ.

dan Allah adalah pelindung setiap orang mukmin.

إِنَّ الَّذِي يَتَصَدَّرُ لِقِيَادَةِ النَّاسِ وَتَوْجِيهِهِمْ، وَكَسْبِ قُلُوبِهِمْ، لَا بُدَّ أَنْ يَتَمَتَّعَ بِقَدْرٍ كَبِيرٍ مِنَ التَّوَاضُعِ، وَلِذَلِكَ أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِقَوْلِهِ:

Orang yang bertugas memimpin masyarakat, mengarahkan dan menarik hati mereka hendaknya memiliki sifat rendah hati. Oleh karena itu, Allah subhaanahu wata’ala. memerintahkan Nabi-Nya saw dengan firman-Nya

﴿وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ﴾ [الشعراء: ٢١٥].

Dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang mengikutimu di antara orang-orang yang beriman.

فَمَا بَالُ أَكَابِرِ أُمَّتِهِ مِنْ بَعْدِهِ، وَهُمْ دُونَهُ فِي الْمَنْزِلَةِ وَالْخُلُقِ، لَا يَخْفِضُونَ جَنَاحَهُمْ؟!

Lalu, mengapa para pemimpin di kalangan umatnya tidak bersikap rendah hati, padahal akhlak dan kedudukan mereka lebih rendah daripada Rasulullah ﷺ??

وَقَدْ جَاءَ فِي الْحِكَمِ: (مَنْ كَثُرَ تَوَاضُعُهُ كَثُرَ صَدِيقُهُ)،

Disebutkan dalam kata-kata hikmah, "Barangsiapa selalu merendahkan hati maka akan banyak kawannya.

فِإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَكْسِبَ أَنْصَارًا لِدَعْوَتِكَ، فَعَلَيْكَ بِالتَّوَاضُعِ، وَاحْذَرِ الْعُجْبَ وَالْكِبْرَ، وَأَخْطَرُهُ عُجْبُ الطَّاعَةِ،

Maka jika Anda ingin mendapatkan banyak pendukung dakwah Anda maka rendahkanlah hati Anda. Janganlah membanggakan diri (ujub) dan angkuh. "Ujub dalam hal ibadah sangat berbahaya,,

الَّذِي يَجْعَلُكَ تَسْتَصْغِرُ النَّاسَ إِزَاءَ مَا تَقُومُ بِهِ أَنْتَ مِنْ طَاعَاتٍ، وَلِذَلِكَ يُرْوَى عَنْ مُطَرِّفٍ قَوْلُهُ:

yang membuatmu meremehkan manusia berkenaan dengan ketaatan-ketaatan yang kamu lakukan sendiri. Oleh karena itu diriwayatkan dari Mutharrif perkataannya:

(لَأَنْ أَبِيتَ نَائِمًا، وَأُصْبِحَ نَادِمًا، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَبِيتَ قَائِمًا، وَأُصْبِحَ مُعْجَبًا).

"Tidur semalaman suntuk dan menyesal di pagi hari lebih aku sukai, daripada shalat di malam hari dan di pagi harinya aku 'ujub. Mukhtashar Minhaj as-Shadikin halaman 254.

وَيُعَرِّفُ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ تَوَاضُعَ الْمُؤْمِنِ بِأَنَّهُ: (أَنْ يَخْضَعَ لِلْحَقِّ، وَيَنْقَادَ لَهُ، وَيَقْبَلَهُ مِمَّنْ قَالَهُ)

Al-Fudhail bin Iyadh mendefinisikan tawadhu', "Tawadhu' adalah ketundukan dan kepatuhan seorang mukmin terhadap kebenaran serta ia menerimanya dari siapa pun yang me-ngatakannya. Tahdzib Madarij as-Salikin halaman 429.

وَهَذَا الْخُضُوعُ لِلْحَقِّ هُوَ عَيْنُ الْعِزِّ؛ لِأَنَّ طَاعَةَ اللَّهِ، وَرُجُوعٌ إِلَى الصَّوَابِ، وَتَعْوِيدٌ لِلنَّفْسِ أَلَّا تُصِرَّ عَلَى بَاطِلٍ.

Tunduk kepada kebenaran merupakan kemuliaan karena hal itu berarti taat kepada Allah subhaanahu wata’ala., kembali kepada kebenaran dan melatih diri untuk segera meninggalkan kebatilan..

وَلِذَلِكَ يَقُولُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ، إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ»

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seseorang bersikap rendah hati karena Allah niscaya Allah mengangkat (derajat)nya Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi: Jami' al-Ushul 6/455 Hadis 4660.

وَمَنْ كَانَ قَصْدُهُ رِضَا اللَّهِ، هَانَ عَلَيْهِ الِانْقِيَادُ لِلْحَقِّ.

Orang yang bertujuan mencari ridha Allah subhaanahu wata’ala. akan mudah tunduk pada kebenaran.

كَالَّذِي رُوِيَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ الْعَنْبَرِيِّ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ مَسْأَلَةٍ، فَغَلِطَ فِيهَا، فَلَمَّا نُبِّهَ إِلَى غَلَطِهِ، أَطْرَقَ سَاعَةً، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ:

sebagaimana diriwayatkan bahwa Ubaidillah bin al-Hasan al-'Anbari pernah ditanya tentang suatu masalah lalu ia salah menjawab. Ketika ia diingatkan akan kesalahannya, maka ia menundukkan kepala sesaat kemudian mengangkatnya lagi seraya berkata:

(إِذًا أَرْجِعُ وَأَنَا صَاغِرٌ، لَأَنْ أَكُونَ ذَنَبًا فِي الْحَقِّ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَكُونَ رَأْسًا فِي الْبَاطِلِ)

"Jika begitu, aku mengaku salah dan aku kecil. Menjadi ekor dalam hal kebenaran lebih aku cintai daripada menjadi kepala dalam hal kebatilan.. Tahdzib at-Tahdzib 7/7.

وَهَذَا الْأَصْلُ فِي الْعَالِمِ، أَنْ يَتَوَاضَعَ لِلَّهِ وَيَنْقَادَ لِلْحَقِّ؛ لِأَنَّهُ مَقْصُودُهُ،

Seperti inilah orang yang alim. Ia merendahkan hati karena Allah subhaanahu wata’ala. dan tunduk kepada kebenaran karena kebenaran itu merupakan tujuannya,

وَإِنْ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَنْ ظَهَرَ الْحَقُّ عَلَى لِسَانِهِ أَيُّ نَوْعٍ مِنَ الْعَدَاوَةِ وَالِاخْتِلَافِ.

meski kebenaran tersebut datang dari mulut orang yang memusuhinya..

وَعَدَمُ الْخُضُوعِ لِلْحَقِّ هُوَ عَيْنُ الْكِبْرِ وَالْبَغْيِ، وَلِذَلِكَ عَرَّفَ الرَّسُولُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الْكِبْرَ بِقَوْلِهِ: «اَلْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»

Tidak menerima kebenaran adalah salah satu bentuk ke-angkuhan. Rasulullah ﷺ bersabda, "Keangkuhan adalah tidak menerima kebenaran dan memandang remeh orang lain. Shahih Muslim - Kitab al-Iman - Bab 39 - Hadis 147.

وَبِهَذَا نَرَى أَنَّ التَّوَاضُعَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى كَوْنِهِ خُلُقًا وِجْدَانِيًّا مَحْمُودًا، فَإِنَّهُ وِقَايَةٌ مِنَ الْوُقُوعِ فِي الظُّلْمِ، وَحِمَايَةٌ مِنَ التَّعَالِي وَالتَّفَاخُرِ عَلَى إِخْوَةِ الدِّينِ.

Sifat rendah hati, di samping merupakan akhlak terpuji, juga dapat mencegah seseorang dari perbuatan zalim, dan me-lindunginya dari keangkuhan terhadap sesama saudara seagama.

وَفِي الْحَدِيثِ: «إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ: أَنْ تَوَاضَعُوا؛ حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ»

Dalam sebuah hadits disebutkan, "Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku, Rendah hatilah kalian agar seseorang tidak angkuh terhadap orang lain dan tidak menganiaya orang lain. Shahih Muslim - Kitab al-Jannah - Bab 16 - Hadis 64.

وَمِنْ رِفْعَةِ مَقَامِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَإِنَّهُ حِينَ رَأَى رَجُلًا يَرْتَعِدُ مِنْهُ، وَكَأَنَّمَا كَانَ يَظُنُّهُ كَمُلُوكِ الْأَرْضِ، قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -:

Karena kedudukan Rasulullah ﷺ tinggi, maka ketika seseorang melihatnya ia gemetar, seakan orang itu menyangka bahwa Rasulullah ﷺ seperti umumnya para raja di dunia, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

«هَوِّنْ عَلَيْكَ فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ، إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ كَانَتْ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ»

Tenanglah, sesungguhnya aku bukan seorang raja. Aku hanya anak dari seorang wanita Quraisy yang memakan dendèng - daging kering. Shahih Sunan Ibni Majah 2/232 Hadis 2677/3312.

وَإِقْرَارُهُ بِمَا كَانَتْ عَلَيْهِ أُمُّهُ مِنَ الْفَقْرِ أَوْ خُشُونَةِ الْعَيْشِ، يَزِيدُ مِنْ إِكْبَارِهِ فِي نَفْسِ سَامِعِهِ، وَلَا يَضِيرُهُ شَيْئًا،

Pengakuan beliau tentang kemiskinan ibunya menambah keagungannya pada diri orang yang mendengarnya, dan pengakuan itu tidak membuatnya menjadi rendah.

وَيُدَرِّبُ أَصْحَابَهُ بِذَلِكَ عَلَى عَدَمِ التَّعَالِي عَلَى الْخَلْقِ؛ بِاسْتِحْضَارِ جَوَانِبِ مِنْ بَشَرِيَّتِهِمْ، أَوْ سَابِقِ حَالِهِمْ، وَبِتَذَكُّرِ أَنَّهُمْ جَمِيعًا بَنُو آدَمَ،

Dengan cara itulah Rasulullah ﷺ melatih para sahabatriya agar tidak angkuh terhadap sesama manusia dengan cara mengingat sisi-sisi kemanusiaan mereka, keadaan mereka yang lalu, mengingat bahwa mereka adalah anak cucu Adam a.s.,

وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ، وَأَنَّ الْكَرَمَ عِنْدَ اللَّهِ بِالتَّقْوَى، وَأَنَّ الْمُتَفَاخِرَ بِالْقِيَمِ الْجَاهِلِيَّةِ أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنَ الْجِعْلَانِ.

sedang Adam tercipta dari tanah, kemuliaan di sisi Allah subhaanahu wata’ala. hanya terletak pada ketakwaan dan orang yang membanggakan nilai-nilai jahiliah lebih hina di sisi Allah subhaanahu wata’ala., daripada budak hitam legam dan buruk rupa.

وَمَعَ مَا عُرِفَ عَنْ نَاقَةِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مِنَ السُّرْعَةِ، فَقَدْ سَبَقَهْتِهَا مَرَّةً نَاقَةُ أَعْرَابِيٍّ، وَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى الصَّحَابَةِ،

Meski telah terkenal bahwa unta rasulullah ﷺ berjalan sangat cepat, tetapi unta itu dikalahkan kecepatannya oleh unta seorang Badui. Para sahabat tidak dapat menerima hal itu,.

بَيْنَمَا تَلَقَّى رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الْأَمْرَ بِكُلِّ بَسَاطَةٍ، بَلِ اغْتَنَمَ الْفُرْصَةَ، وَعَمَّقَ فِي النُّفُوسِ سُنَّةً كَوْنِيَّةً، فَقَالَ:

sedang Rasulullah ﷺ menerimanya dengan lapang dada bahkan beliau mengambil hal tersebut sebagai pelajaran dan mengajak orang-orang meresapi suatu hukum alam, dengan bersabda:

«حَقٌّ عَلَى اللَّهِ: أَلَّا يَرْتَفِعَ شَيْءٌ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ» ،

Menjadi hak Allah bahwa tidak ada sesuatu pun dari dunia ini yang meninggi melainkan Dia akan merendahkannya, agar orang-orang yang sombong jera dan orang yang membanggakan diri bertawaduk, Shahih al-Bukhari - Kitab al-Jihad - Bab 59 - Hadis 2872.

بِحَيْثُ يَرْتَدِعُ الْمُتَعَالُونَ وَيَتَوَاضَعُ الْمُتَفَاخِرُ؛ لِأَنَّهُ لَا يَدُومُ شَيْءٌ فِي الدُّنْيَا عَلَى حَالِهِ، فَقَدْ يَذِلُّ الرَّفِيعُ، وَيَرْتَفِعُ الْوَضِيعُ.

Hal itu agar orang yang angkuh menjadi sadar diri, dan orang yang membanggakan diri menjadi rendah hati karena perkara dunia tidak kekal pada satu keadaan. Terkadang yang mulia menjadi hina dan yang hina menjadi mulia..

وَمِنْ كَمَالِ مَا عُرِفَ عَنْ تَوَاضُعِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنَّكَ كَانَ يَخْدُمُ أَهْلَهُ - وَهُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَسْتَعِينَ بِالْخَدَمِ –

Kerendahan hati Rasulullah ﷺ sangat sempurna. Beliau membantu keluarganya, padahal beliau dapat menggunakan pembantu.,

وَيُسَلِّمُ عَلَى الصِّبْيَانِ الَّذِينَ يَلْقَاهُمْ فِي الطَّرِيقِ - وَهُوَ الَّذِي تَهَابُهُ الْمُلُوكُ - وَحَتَّى حِينَ يَكُونُ فِي أَوْجِ قُوَّتِهِ وَانْتِصَارِهِ، لَا يَكُونُ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ.

Beliau mengucapkan salam pada anak-anak kecil yang ditemuinya di jalanan padahal beliau sangat ditakuti para raja, hingga pada puncak kejayaannya beliau tidak menjadi diktator di atas bumi ini.

فَقَدْ كَانَ يَوْمَ غَزْوِ بَنِي قُرَيْظَةَ عَلَى حِمَارٍ مَخْطُومٍ بِحَبْلٍ مِنْ لِيفٍ، وَحِينَ دَخَلَ مَكَّةَ فَاتِحًا، دَخَلَ مُنَكَّسَ الرَّأْسِ، تَوَاضُعًا لِرَبِّهِ،

Pada hari kemenangannya dalam Perang bani Quraizhah, beliau hanya menunggang seekor keledai yang diberi tali kekang dari sabut. Ketika menaklukkan Mekah beliau memasuki kota tersebut dengan menundukkan kepala, untuk merendahkan hatinya terhadap Allah,

وَحَذَرًا مِنْ تَسَلُّلِ مَشَاعِرِ الْكِبْرِ إِلَى نَفْسِ الْمُنْتَصِرِ، الَّذِي تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ بِأَنَّهُ هُوَ الَّذِي صَنَعَ النَّصْرَ، وَقَدْ يَنْسَى فَضْلَ اللَّهِ وَتَوْفِيقَهُ.

dan mengantisipasi datangnya rasa angkuh pada diri seorang pemenang, yang terkadang merasa bahwa dirinyalah yang membuat kemenangan lalu melupakan karunia Allah dan petunjuk-Nya.

وَوَصَفَ ابْنُ تَيْمِيَةَ حَالَ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِقَوْلِهِ:

Dan Ibnu Taimiyah menyifatkan keadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan perkataannya:

(إِنَّهُ اخْتَارَ الْعُبُودِيَّةَ - وَالتَّوَاضُعَ وَإِنْ كَانَ هُوَ الْأَعْلَى وَهُوَ وَمَنْ اتَّبَعَهُ -.. وَلَمْ يُرِدِ الْعُلُوَّ، وَإِنْ كَانَ قَدْ حَصَلَ لَهُ).

"Beliau memilih ketundukan dan kerendahan hati meski beliau dan para pengikutnyalah yang tinggi (derajatnya). Beliau tidak menginginkan ketinggian derajat (keangkuhan) walaupun derajat itu telah dicapainya. Majmu' Fatawa Ibni Taimiyah 11/131.

وَيَكْفِي الْمُتَكَبِّرِينَ لِيَؤُوبُوا إِلَى رُشْدِهِمْ، أَنْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّهُمْ، وَيَصْرِفُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ، وَيَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، وَيَسْقِيهِمْ طِينَةَ الْخَبَالِ، وَتَوَعَّدَهُمْ بِأَنْ يَقِصْمَهُمْ.

Agar orang-orang yang angkuh kembali kepada petunjuk, hendaknya mereka mengetahui bahwa Allah subhaanahu wata’ala. tidak men-cintainya, menjauhkan mereka dari ayat-ayat-Nya, menutup hati mereka, memberikan minum mereka dengan lumpur, dan mengancamnya bahwa Allah akan membinasakan mereka.

وَ«مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ أَكَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي النَّارِ»

"Barangsiapa ada keangkuhan di dalam hatinya meski hanya seberat biji sawi, niscaya Allah akan membalikkan wajahnya ke api neraka. Musnad Ahmad 2/215 dan para perawinya adalah perawi kitab Shahih.

 كُلُّ هَذَا الْجَزَاءِ مِنْ أَجْلِ مِثْقَالَ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ، فَكَمْ يَحْتَاجُ الْمَرْءُ إِلَى حِفْظِ قَلْبِهِ مِنْ مَشَاعِرِ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالغُرُورِ!

Semua balasan Azab ini disebabkan keangkuhan seberat biji sawi. Betapa manusia sangat perlu menjaga hatinya dari rasa angkuh, 'ujub dan ghurur - tertipu!

وَلَا يَدْفَعُ الْمَرْءَ إِلَى الْكِبْرِ، إِلَّا حُبُّ التَّمَيُّزِ عَنِ الْآخَرِينَ، أَوْ الرَّغْبَةُ فِي عَدَمِ الْخُضُوعِ لِأَحَدٍ، أَوْ مُحَاوَلَةُ إِخْفَاءِ نَقْصٍ فِي ذَاتِهِ، وَكُلُّهَا مُهْلِكَةٌ لِلْمَرْءِ.

Yang menyebabkan manusia angkuh adalah rasa cinta pada keistimewaan (kemegahan), tidak ingin mengalah pada orang lain atau berusaha menyembunyikan kekurangan dirinya., dan semuanya itu adalah hal-hal yang membinasakan seseorang.

فَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوَى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Adapun perkara-perkara yang membinasakan adalah sifat bakhil yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan membanggakan diri sendiri.. Shahih al-Jami' - Hadis 3045.

كَمَا يَكْفِي الْمُتَوَاضِعَ أَنْ يَعْلَمَ: أَنَّ اللَّهَ يَرْفَعُهُ، وَأَنَّ عِبَادَ اللَّهِ تُحِبُّهُ، وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أُسْوَتُهُ، وَأَنَّهُ أَعْرَفُ بِقَدْرِ رَبِّهِ وَبِقَدْرِ نَفْسِهِ.

Cukuplah orang yang memiliki rendah hati yang mengetahui bahwa Allah akan mengangkat (derajat)nya, orang-orang menyukainya, Rasulullah ﷺ teladannya dan ia juga adalah orang yang lebih mengetahui kekuasaan Tuhannya dan kemampuan dirinya sendiri.

فَحَاذِرْ مِنَ الِانْزِلَاقِ مَعَ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ، وَأَهْوَاءِ النُّفُوسِ، لَعَلَّكَ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ يُحِبُّهُمْ اللَّهُ وَيُحِبُّونَهُ ﴿أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ﴾ [المائدة: ٥٤].

Maka berhati-hatilah - waspadalah terhadap bisikan-bisikan setan dan hawa nafsu. Semoga Anda termasuk orang-orang yang dicintai Allah subhaanahu wata’ala. dan mencintai-Nya, "...Yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir..." (al-Maa`idah [5]: 54)

 

خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ:

KESIMPULAN

·       اَلَّذِينَ يُحِبُّهُمْ اللَّهُ وَيُحِبُّونَهُ مُتَوَاضِعُونَ.

Orang-orang yang dicintai Allah dan mencintai-Nya, berarti ia memiliki sikap rendah hati.

·       لَا تَعَارُضَ بَيْنَ الْعِزَّةِ عَلَى الْكَافِرِينَ وَالذِّلَّةِ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ.

Keras terhadap orang-orang kafir tidak bertentangan dengan sikap rendah hati bagi orang-orang beriman.

·       عُمَرُ يُدَرِّبُ وُلَاتَهُ عَلَى الذِّلَّةِ لِرَعِيَّتِهِمْ.

Umar r.a. melatih para gubernurnya agar bersikap rendah hati terhadap rakyat mereka.

·       مِنَ التَّوَاضُعِ الِاعْتِرَافُ بِالْخَطَأِ وَقَبُولُ أَعْذَارِ النَّاسِ.

Mengakui kesalahan diri dan menerima permohonan maaf orang lain merupakan sikap rendah hati.

·       خَفْضُ الْجَنَاحِ مِنْ صِفَاتِ مَنْ يَتَصَدَّرُ لِقِيَادَةِ النَّاسِ.

Rendah hati merupakan salah satu sifat seorang pemimpin masyarakat.

·       مِنَ التَّوَاضُعِ الْخُضُوعُ لِلْحَقِّ وَالِانْقِيَادُ لَهُ.

Di antara bentuk tawaduk adalah Tunduk dan patuh kepada kebenaran

·       يُعِينُ عَلَى التَّوَاضُعِ تَذَكُّرُ الْأَصْلِ الْبَشَرِيِّ الْوَاحِدِ.

Mengingat asal mula manusia yang sama dapat membantu seseorang bersikap rendah hati.

·       مِنْ أَعْظَمِ التَّوَاضُعِ مَا يَكُونُ فِي أَوْجِ الْقُوَّةِ وَالِانتِصَارِ.

Di antara bentuk tawaduk yang paling agung adalah kerendahan hati seseorang saat berada di puncak kejayaannya.

·       يُعِينُ عَلَى التَّوَاضُعِ اسْتِحْضَارُ مَا فِيهِ مِنَ الْأَجْرِ وَمَا عَلَى الْمُتَكَبِّرِينَ مِنَ الْوِزْرِ.

Mengingat pahala orang yang rendah hati dan dosa orang-orang yang angkuh dapat membantu seseorang bersikap rendah hati.

·       يَكْفِي الْمُتَوَاضِعَ مَحَبَّةُ عِبَادِ اللَّهِ لَهُ وَرَفْعُ اللَّهِ إِيَّاهُ.

Cukuplah bagi orang yang rendah hati disukai masyarakat dan diangkat derajatnya oleh Allah subhaanahu wata’ala.


📙📙📙 Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan  : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. Dipersilahkan - share

Senin, 31 Agustus 2026

Kebaikan – 02 BAB 06 – Hadzihi Akhlaquna

 

BAB 06

AKHLAK KITA DALAM PERASAAN – EMOSI

PASAL 02

الفصل الثاني : الطيبة

BAB KEDUA : KEBAIKAN

 

«حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ».

"Hingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik."

 

نَعْنِي بِالطَّيِّبَةِ سَلَامَةَ الصَّدْرِ، وَصَفَاءَ النَّفْسِ، وَرِقَّةَ الْقَلْبِ،

Yang kami maksud dengan kebaikan hati (at-thayyibah) adalah keselamatan dada (bersih dari kedengkian), kesucian jiwa, dan kelembutan hati.

وَيَتَأَصَّلُ هَذَا الْخُلُقُ بِاسْتِمْرَارِ التَّزْكِيَةِ لِلنَّفْسِ، ثُمَّ تَنعَكِسُ آثَارُهُ عَلَى السُّلُوكِ: أُخُوَّةً وَسَمَاحَةً وَسَكِينَةً وَوَفَاءً،

Akhlak ini mengakar kuat dengan terus-menerus menyucikan jiwa, kemudian dampaknya  dalam bentuk persaudaraan, kelapangan dada, ketenangan, dan kesetiaan.terpancar pada perilaku

وَالَّذِينَ يَفْتَقِدُونَ هَذَا الْخُلُقَ، تَرَاهُمْ غَارِقِينَ فِي صُوَرٍ مِنَ التَّحَالِيلِ وَالْكَيْدِ، وَسُوءِ الظَّنِّ وَالْخُبْثِ.

Adapun orang-orang yang kehilangan akhlak ini, Engkau akan melihat mereka tenggelam dalam berbagai bentuk kelicikan, tipu daya, prasangka buruk, dan keburukan.

وَمَعْنَى «الطَّيِّبِ» فِي اللُّغَةِ: الطَّاهِرُ وَالنَّظِيفُ، وَالْحَسَنُ وَالْعَفِيفُ، وَالسَّهْلُ وَاللَّيِّنُ، وَذُو الْأَمْنِ وَالْخَيْرِ الْكَثِيرِ، وَالَّذِي لَا خُبْثَ فِيهِ وَلَا غَدْرَ

Makna "at-thayyib" secara bahasa adalah: yang suci dan bersih, yang baik dan menjaga diri, yang mudah dan lembut, yang membawa keamanan serta kebaikan yang banyak, serta yang tidak ada keburukan dan pengkhianatan di dalamnya. Rujukan dapat dilihat dalam Lisan al-'Arab, (طيب) 1/563

وَمِنْ هَذِهِ الْمَعَانِي نَفْهَمُ الْمُرَادَ بِالرَّجُلِ الطَّيِّبِ، وَالزَّوْجَةِ الطَّيِّبَةِ، وَالْبَلْدَةِ الطَّيِّبَةِ، وَالْقَوْلِ الطَّيِّبِ، وَالذُّرِّيَّةِ الطَّيِّبَةِ، وَالرِّيحِ الطَّيِّبَةِ، وَالْحَيَاةِ الطَّيِّبَةِ، وَكُلُّهَا مَعَانِي طُهْرٍ وَعِفَّةٍ وَصَفَاءٍ وَنَقَاءٍ، وَهَذَا حَالُ صَاحِبِ خُلُقِ «الطَّيِّبَةِ».

Dari makna-makna inilah kita memahami apa yang dimaksud dengan laki-laki yang baik, istri yang baik, negeri yang baik, perkataan yang baik, keturunan yang baik, angin yang sepoi/baik, dan kehidupan yang baik; yang semuanya mengandung makna kesucian, penjagaan diri, kejernihan, dan kebersihan. Inilah keadaan orang yang memiliki akhlak "kebaikan hati".

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حِينَ خَلَقَ بَنِي آدَمَ «جَعَلَ مِنْهُمُ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَالْأَسْوَدَ وَبَيْنَ ذَلِكَ، وَالسَّهْلَ وَالْحَزْنَ وَبَيْنَ ذَلِكَ، وَالْخَبِيثَ وَالطَّيِّبَ وَبَيْنَ ذَلِكَ» ،

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla ketika menciptakan anak cucu Adam "menjadikan di antara mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam, dan di antara itu; ada yang berkarakter mudah/lembut, keras/kasar, dan di antara itu; serta ada yang buruk, baik, dan di antara itu". Musnad Ahmad 4/406. Disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih al-Jami' nomor 1759.

وَلَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ، وَلَا يَأْتَلِفُ كُلُّ وَاحِدٍ إِلَّا مَعَ قَرِينِهِ وَشَبِيهِهِ.

Dan tidaklah sama antara yang buruk dan yang baik, serta tidaklah setiap orang dapat bersatu/cocok melainkan dengan kerabat dan yang serupa dengannya.

وَحِرْصًا مِنَ النَّبِيِّ - ﷺ - عَلَى اعْتِزَازِ الْمُؤْمِنِ بِالطَّيِّبَةِ، نَهَاهُ أَنْ يَنْسُبَ الْخُبْثَ إِلَى نَفْسِهِ، فَقَالَ:

Karena Nabi ﷺ sangat menginginkan agar seorang mukmin senang dengan kebaikan, beliau melarang untuk menisbatkan keburukan kepada dirinya sendiri, lalu beliau bersabda

«لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ خَبُثَتْ نَفْسِي ..»

"Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian mengatakan: diriku buruk (jahat) -Bukhari - Kitab al-Adab - Bab 100 - Hadis 6179 (al-Fath 10/563). (2) Fath al-Bari 10/564

وَيُورِدُ ابْنُ حَجَرٍ قَوْلَ ابْنِ أَبِي حَمْزَةَ فِي بَيَانِ الْحِكْمَةِ مِنْ هَذَا النَّهْيِ، فَيَقُولُ:

Ibnu Hajar menyebutkan perkataan Ibnu Abi Jamrah yang menjelaskan hikmah larangan tersebut, beliau berkata:

(وَفِيهِ أَنَّ الْمَرْءَ يَطْلُبُ الْخَيْرَ حَتَّى بِالْفَأْلِ الْحَسَنِ، وَيُضِيفُ الْخَيْرَ إِلَى نَفْسِهِ وَلَوْ بِنِسْبَةٍ مَا، وَيَدْفَعُ الشَّرَّ عَنْ نَفْسِهِ مَهْمَا أَمْكَنَ، وَيَقْطَعُ الْوَصْلَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَهْلِ الشَّرِّ حَتَّى فِي الْأَلْفَاظِ الْمُشْتَرَكَةِ)

"Hadits tersebut menganjurkan seseorang agar selalu mencari kebaikan hingga dalam berharap, menisbatkan kebaikan pada dirinya walaupun dengan satu sifat (yang baik), mencegah keburukan dari dirinya dan memutus hubungannya dengan orang-orang jahat hingga pada lafal-lafal yang mengandung banyak arti yang sama. " Fath al-Bari 10/564.

وَلَقَدْ شَبَّهَ النَّبِيُّ - ﷺ - الْمُؤْمِنَ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ بِثَمَرَةِ «الْأُتْرُجَّةِ»: «طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ» (٣)،

Rasulullah ﷺ mengumpamakan seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an seperti buah utrujjah, "Rasanya thayyib (enak, manis) dan baunya thayyib (harum).Sahih al-Bukhari - Kitab at-Tauhid - Bab 57 - Hadis 7560 (al-Fath 13/535).

وَضَرَبَ لِلْمُؤْمِنِ مَثَلًا آخَرَ، فَقَالَ: «وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا ..» (٤)،

Dan beliau membuat perumpamaan lain bagi seorang mukmin, beliau bersabda, "Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya seorang mukmin itu ibarat lebah. Lebah memakan makanan yang baik dan mengeluarkan madu yang baik pula. Musnad Ahmad 2/199 - Sanadnya kuat: Sebagaimana dalam Takhrij al-Hadis 876 dalam Silsilah al-Ahadis as-Sahihah.

وَكُلُّهَا تُؤَكِّدُ عَلَى أَصَالَةِ عُنْصُرِ الطَّيِّبَةِ فِي نَفْسِيَّةِ الْمُؤْمِنِ، وَسِمَةِ الْخَيْرِيَّةِ فِي تَعَامُلِهِ.

Semua hadits tersebut menguatkan keaslian unsur thiibah (kebaikan) pada diri seorang mukmin. Juga menguatkan sifat khairiyyah (kebaikan) pada cara berinteraksinya.

وَالرَّجُلُ الطَّيِّبُ، قَدْ يَخْتَلِفُ حَالُهُ .. فَيَكُونُ أَحْيَانًا أَكْثَرَ انْشِرَاحًا، وَأَحْسَنَ بَشَاشَةً .. تَبَعًا لِمَا يَمُرُّ بِهِ مِنْ أَقْدَارٍ،

Keadaan orang yang baik berubah-ubah. Terkadang ia lebih lapang dada, senyumnya lebih berseri sesuai dengan takdir Allah yang melaluinya.

وَقَدْ لَاحَظَ الصَّحَابَةُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ - ذَلِكَ مَرَّةً عَلَى الرَّسُولِ - ﷺ -، فَقَالَ بَعْضُهُمْ:

Para sahabat memperhatikan hal itu pada Rasulullah ﷺ lalu sebagian mereka berkata,

«نَرَاكَ الْيَوْمَ طَيِّبَ النَّفْسِ، فَقَالَ: أَجَلْ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ. ثُمَّ أَفَاضَ الْقَوْمُ فِي ذِكْرِ الْغِنَى.

“Pada hari ini, kami melihat engkau berbaik hati." Beliau bersabda, "Ya, al-Hamdu lillaah." Kemudian para sahabat membicarakan kekayaan.

فَقَالَ: لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى، وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النَّعِيمِ»

Beliau bersabda, "Tidak apa kaya bagi orang yang bertakwa, tetapi kesehatan lebih baik bagi orang yang bertakwa, dan kebaikan hati (thiibun nafsi) merupakan suatu kenikmatan Sahih Sunan Ibn Majah 2/6 - Kitab at-Tijarat - Bab 1 - Hadis 1741/2141 (Sahih)

وَالْعِبَادَةُ صُورَةٌ يَوْمِيَّةٌ مِنْ صُوَرِ جَلَاءِ الْقَلْبِ، وَتَصْفِيَةِ النَّفْسِ مِنْ كُلِّ خُبْثٍ، وَيُؤَكِّدُ هَذَا الْمَعْنَى مَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، مِنْ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَعْقِدُ عَلَى قَافِيَةِ النَّائِمِ ثَلَاثَ عُقَدٍ،

Makna ini diperjelas dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa setan mengikatkan tiga tali pada tengkuk orang yang tidur, seraya berkata, "Malam masih panjang, tidurlah!

قَائِلًا لَهُ: «عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقَدُهُ كُلُّهَا، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ.»

Jika orang itu bangun lalu mengingat Allah (berzikir), maka terlepaslah satu tali. Jika ia berwudhu, maka terlepaslah satu tali lagi. Jika ia shalat, maka terlepaslah semua tali, sehingga pada pagi harinya ia sangat bersemangat dan thayyibun nafsi (berhati baik). Jika ia tidak (bangun dan berzikir, wudhu' dan shalat malam), maka pada pagi harinya ia menjadi khabiitsun nafsi (berhati buruk) dan pemalas Sahih al-Bukhari - Kitab Bad' al-Khalq - Bab 11 - Hadis 3269 (al-Fath 6/335).

يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ: (قَوْلُهُ: طَيِّبَ النَّفْسِ؛ أَيْ: لِسُرُورِهِ بِمَا وَفَّقَهُ اللَّهُ لَهُ مِنَ الطَّاعَةِ، وَبِمَا وَعَدَهُ مِنَ الثَّوَابِ، وَبِمَا زَالَ عَنْهُ مِنْ عُقَدِ الشَّيْطَانِ. كَذَا قِيلَ. وَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ سِرًّا فِي طِيبِ النَّفْسِ ..)

Ibnu Hajar menjelaskan, "Ia merasa senang dengan thayyibun nafsi (berhati baik) karena ia mendapat taufik dari Allah untuk melakukan ketaatan, karena pahala yang dijanjikan Allah kepadanya dan karena tali-tali setan telah hilang darinya. Akan tetapi, yang jelas, shalat malam memiliki rahasia bagi orang yang berhati baik. Fath al-Bari 3/26 dari penjelasan Hadis 1142 dari Kitab at-Tahajjud.

وَمَا جَعَلَ اللَّهُ مَوَاطِنَ الْبَلَاءِ إِلَّا لِلتَّمْحِيصِ وَالتَّمْيِيزِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: ١٧٩]،

Allah Subhaanahu wata’ala. menjadikan segala ujian untuk tamhiish dan tamyiiz (penyeleksian/perbedaan) sebagaimana firman-Nya, "Allah sekali-kali tidak membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)..." (Ali Imran [3]: 179)

وَفِي ظِلَالِ الْآيَةِ: أَنَّ دَوْرَ الْأُمَّةِ الْمُسْلِمَةِ (يَقْتَضِي التَّجَرُّدَ وَالصَّفَاءَ، وَالتَّمَيُّزَ وَالتَّمَاسُكَ .. وَكُلُّ هَذَا يَقْتَضِي أَنْ يُصْهَرَ الصَّفُّ؛ لِيَخْرُجَ مِنْهُ الْخَبَثُ .. وَمِنْ ثَمَّ كَانَ شَأْنُ اللَّهِ - سُبْحَانَهُ - أَنْ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ) ،

Makna dari ayat ini adalah peran umat Islam menuntut konsentrasi penuh, ketulusan, kekhasan ciri dan perpaduan. Semua ini membutuhkan peleburan barisan sehingga yang buruk hilang. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wata’ala. menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).. Fi Zilal al-Qur'an 1/525.

وَتَجْرِي سُنَّةُ اللَّهِ فِي أَنَّ الزَّبَدَ يَذْهَبُ جُفَاءً، وَأَنَّ مَا يَنْفَعُ النَّاسَ يَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ.

Sudah merupakan sunnatullah bahwa buih itu akan hilang dan yang bermanfaat bagi manusia akan menetap di bumi

الْمُؤْمِنُ الطَّيِّبُ رَجُلٌ مُتَوَرِّعٌ عَنِ الشُّبُهَاتِ، وَلَقَدْ كَانَ أَبُو طَلْحَةَ فِي مَرَضٍ لَهُ يَنْزِعُ غِطَاءَ فِرَاشِهِ؛ لِمَا عَلَيْهِ مِنْ نُقُوشٍ؛ فَلَمَّا اعْتُرِضَ عَلَيْهِ بِأَنَّهُ لَيْسَ فِي الْغِطَاءِ تَصَاوِيرُ مَنْنِهِيٌّ عَنْهَا، أَجَابَ: (بَلَى. وَلَكِنَّهُ أَطْيَبُ لِنَفْسِي) (١).

Orang yang baik adalah orang yang menjaga diri dari hal-hal syubhat (wara’). Saat Abu Thalhah r.a. sakit, ia melepaskan kain alas tempat tidurnya karena ada gambar-gambar pada alas itu. Ketika dijelaskan padanya bahwa tidak ada gambar-gambar yang dilarang pada alas (kain) tersebut, maka ia menjawab, "Ya, tetapi aku lebih merasa tenang (dengan melepaskan kain alas itu). Sahih Sunan at-Tirmidzi 2/150 - Kitab al-Libas - Bab 18 - Hadis 1431/1819 (Sahih).

وَالْمُؤْمِنُ الطَّيِّبُ يُحَافِظُ عَلَى صَفَاءِ الْوُدِّ مَعَ أَخِيهِ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ: «وَحُقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَصَافَوْنَ مِنْ أَجْلِي» (٢)،

Seorang mukmin yang baik selalu menjaga ketulusan kasih dengan saudaranya, sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi, "Sesungguhnya kecintaan-Ku bagi orang-orang yang tulus saling mengasihi karena-Ku. Musnad Ahmad 4/386

وَيُبَادِرُ إِلَى زِيَارَةِ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ، أَوْ عِيَادَتِهِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: «طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا» (٣).

la datang mengunjungi saudaranya yang muslim, maka Allah berfirman kepadanya, "Kamu baik, per-jalananmu baik, maka kamu akan menempati suatu tempat di surga  Sahih Sunan at-Tirmidzi 2/195 - Kitab al-Birr - Bab 63 - Hadis 1633/2093 (Hasan).

فَالتَّصَافِي وَالتَّوَاصُلُ عَلَامَةٌ طَيِّبَةٌ، وَلَا يَتَخَلَّقُ بِهَا إِلَّا الطَّيِّبُ.

Sikap saling mengasihi dengan tulus dan menjalin persaudaraan merupakan ciri akhlak thiibah. Hanya orang yang baiklah yang berakhlak thiibah - baik.

وَالْمُجَاهِدُ الطَّيِّبُ لَا يَطْمَئِنُّ قَلْبُهُ بِالْقُعُودِ حِينَ يُسْتَنَفَرُ النَّاسُ،

Mujahid yang baik tidak merasa tenang dengan berdiam diri ketika pasukan diberangkatkan..

وَلِذَلِكَ وَصَفَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - نَفْسِيَّةَ صَحَابَتِهِ الْكِرَامِ - لَوْ أَنَّهُ خَرَجَ فِي كُلِّ سَرِيَّةٍ - فَقَالَ: «وَلَا تَطِيبُ أَنْفُسُهُمْ أَنْ يَقْعُدُوا بَعْدِي» (٤).

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ menjelaskan sifat jiwa para sahabatnya seandainya beliau ikut serta dalam setiap sariyyah (perang yang tidak diikuti Nabi ﷺ), maka beliau bersabda, "Jiwa mereka merasa tidak tenang dengan berdiam diri saja setelah keberangkatanku (ke medan perang).  Sahih Muslim - Kitab al-Imarah - Bab 28 - Hadis 106 (Syarh an-Nawawi 13/25).

وَلِذَلِكَ كَانَ الْمُنَافِقُونَ - لِمَا فِي نُفُوسِهِمْ مِنَ الْخُبْثِ - لَا يَتَحَرَّجُونَ مِنْ أَنْ يَتَعَلَّلُوا بِأَعْذَارٍ وَاهِيَةٍ، وَرَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - مَعَ صَحَابَتِهِ فِي الْحَرِّ وَالنَّصَبِ، وَالْمُنَازَلَةِ وَالطِّعَانِ.

Karena jiwa orang-orang munafik itu kotor, mereka tidak merasa malu mencari-cari alasan sepele (agar tidak ikut perang) sedang Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya dalam keadaan lelah karena tersengat panas di medan pertempuran..

وَتَطْيِيبُ قُلُوبِ عِبَادِ اللَّهِ مِنْ عَلَامَاتِ طِيبِ الْقَلْبِ، فَقَدْ وَصَفَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - الَّذِينَ يُؤَدُّونَ إِلَى النَّاسِ حُقُوقَهُمْ - وَافِيَةً وَزَائِدَةً - بِقَوْلِهِ: «أُولَئِكَ خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْمُوفُونَ الْمُطَيِّبُونَ» (١)،

Menyenangkan hati orang juga termasuk tanda-tanda kebaikan hati. Rasulullah ﷺ menyebutkan orang-orang yang memenuhi hak-hak orang lain secara sempurna atau lebih-dengan sabdanya, "Mereka adalah hamba-hamba terbaik di sisi Allah Subhaanahu wata’ala. pada hari Kiamat, yang menunaikan hak-hak dan menyenangkan hati (orang lain)" Musnad Ahmad 6/269 dan kalimat awalnya: (Rasulullah ﷺ membeli seekor unta dari seorang Arab Badui).

وَأَقْصَرُ طَرِيقٍ إِلَى الْقُلُوبِ بِالْكَلِمَةِ الطَّيِّبَةِ: «اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ» (٢)،

Cara yang sangat mudah untuk menyenangkan hati orang lain adalah dengan ucapan yang baik, "Takutlah kalian pada neraka walau dengan setengah butir kurma atau dengan ucapan yang baik" Sahih al-Bukhari - Kitab al-Adab - Bab 34 - Hadis 6023.

وَقَدْ وَصَفَ اللَّهُ الصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِهِ بِقَوْلِهِ: ﴿وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاطِ الْحَمِيدِ﴾ [الْحَجِّ: ٢٤].

Allah Subhaanahu wata’ala. menyebutkan sifat hamba-hamba-Nya yang saleh dalam firman-Nya, "Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji." (al-Hajj [22]: 24)

وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَسْتَقْبِلُ أَرْوَاحَ الطَّيِّبِينَ: ﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ﴾ [النَّحْلِ: ٣٢]،

Para malaikat menyambut baik ruh orang-orang yang saleh, "(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka) 'salaamun 'alaikum..." (an-Nahl [16]: 32).

وَقَدْ قَالَ - ﷺ -: «الْمَيِّتُ تَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ، فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَالِحًا قَالُوا: اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ، اخْرُجِي حَمِيدَةً، وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ، وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ،

Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang mati akan didatangi malaikat. Jika orang itu saleh maka malaikat berkata, “Keluarlah wahai jiwa yang baik, yang berada pada jasad yang baik. Keluarlah dengan keadaan terpuji. Bergembiralah dengan kelapangan, rizki ketenangan dan Tuhan yang tidak murka.

فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا حَتَّى تَخْرُجَ، ثُمَّ يُعْرَجُ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ، فَيُنْفَتَحُ لَهَا، فَيُقَالُ: مَنْ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانٌ.

'Kata-kata itu terus diucapkan kepadanya hingga ia keluar, kemudian ruhnya dibawa naik ke langit, lalu dibukakan untuknya, dan ditanyakan: 'Siapakah ini?' Mereka menjawab: 'Fulan.'

فَيُقَالُ: مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الطَّيِّبَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ، ادْخُلِي حَمِيدَةً، وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ، وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ.

Maka dikatakan: 'Selamat datang jiwa yang baik yang berada di jasad yang baik, masuklah dalam keadaan terpuji, dan bergembiralah dengan ketenteraman, rezeki, dan Tuhan yang tidak murka.'

فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ، حَتَّى يُنْتَهَى بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي فِيهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ. وَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ السُّوءُ

Kata-kata itu terus diucapkan kepadanya hingga sampai di langit tempat Allah Azza wa Jalla berada. Dan jika orang tersebut adalah orang yang jahat,

قَالَ: اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ، اخْرُجِي ذَمِيمَةً، وَأَبْشِرِي حَتَّى تَخْرُجَ، ثُمَّ يُعْرَجُ إِلَى السَّمَاءِ، فَلَا يُفْتَحُ لَهَا،

malaikat berkata: Keluarlah dalam keadaan tercela. Rasakanlah air yang sangat panas dan berbau busuk serta berbagai siksa lainnya. Kata-kata itu terus diucapkan hingga keluarlah jiwanya (ruhnya) Kemudian dibawa ke langit lalu tidak dibukakan (pintu langit) baginya.,

فَيُقَالُ: مَنْ هَذَا؟ فَيُقَالُ: فُلَانٌ، فَيُقَالُ: لَا مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الْخَبِيثَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ، ارْجِعِي ذَمِيمَةً، فَإِنَّهَا لَا تُفْتَحُ لَكِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، فَيُرْسَلُ بِهَا مِنَ السَّمَاءِ ثُمَّ تَصِيرُ إِلَى الْقَبْرِ» (١)،

Dikatakan padanya, 'Siapa ini? Lalu dikatakan, Fulan. Maka dikatakan, "Tidak selamat datang bagimu, wahai jiwa yang jahat, yang berada pada jasad yang jahat. Enyahlah dengan keadaan hina. Sesungguhnya pintu-pintu langit tidak dibuka untukmu Lalu jiwa itu dilepaskan dari langit hingga ia kembali ke kubur, Sahih Sunan Ibn Majah - Kitab az-Zuhd - Bab 31 - Hadis 3437/4262 (Sahih).

وَعَلَى أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لِأَهْلِ الطَّيِّبَةِ: ﴿سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ﴾ [الزُّمَرِ: ٧٣] بَعْدَ أَنْ أَحْيَاهُمُ اللَّهُ الْحَيَاةَ الطَّيِّبَةَ فِي الدُّنْيَا بِالْإِيمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ.

Di pintu surga dikatakan kepada orang-orang yang baik, "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu, maka masukilah surga ini sedang kamu kekal di dalamnya." (az-Zumar [39]: 73), setelah mereka dihidupkan oleh Allah Subhaanahu wata’ala. di dunia dengan kehidupan yang baik, yang dipenuhi dengan keimanan dan amal saleh.

إِنَّ غَلَبَةَ التَّعَامُلِ بِالطَّيِّبَةِ، وَنَقَاءَ الْمُجْتَمَعِ مِنَ الْخُبْثِ، حَصَانَةٌ مِنْ غَضَبِ اللَّهِ وَانْتِقَامِهِ، وَلِذَلِكَ تَسَاءَلَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ: «أَفَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟»، فَأَجَابَهَا رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ -: «نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ».

Apabila semua orang mengamalkan akhlak ath-thiibah sehingga masyarakat terbebaskan dari kerusakan, niscaya mereka akan selamat dari murka Allah Subhaanahu wata’ala. Oleh karena itu, Zainab binti Jahsy bertanya, "Apakah kami akan dibinasakan, sedang di antara kami masih ada orang-orang saleh?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya, jika kejahatan telah merajalela. Sahih al-Bukhari - Kitab al-Fitan - Bab 28 - Hadis 7135 (al-Fath 13/106).

قَالَ ابْنُ الْعَرَبِيِّ: (وَفِيهِ الْبَيَانُ بِأَنَّ الْخَيْرَ يَهْلِكُ بِهَلَاكِ الشَّرِيرِ، إِذَا لَمْ يُغَيِّرْ عَلَيْهِ خُبْثَهُ) (٣).

Ibnul-'Arabi menjelaskan, "Hadits tersebut menjelaskan bahwa orang yang baik akan ikut binasa dengan dibinasakannya orang yang jahat, jika ia tidak mengubah kejahatan orang tersebut. Dikutip dari Fath al-Bari 13/109.

الطَّيِّبُ نَقِيُّ الْقَلْبِ، سَلِيمُ السَّرِيرَةِ، حَسَنُ الظَّنِّ بِالنَّاسِ .. وَمِنْ دُعَائِهِ - ﷺ -: «وَنَقِّ قَلْبِي مِنَ الْخَطَايَا، كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ» (٤)،

Orang yang baik memiliki hati yang bersih dan selalu berbaik sangka terhadap masyarakat. Rasulullah ﷺ berdoa,: "(Ya Allah,) bersihkanlah hatiku dari dosa-dosa, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran.” Sahih al-Bukhari - Kitab ad-Da'awat - Bab 39 - Hadis 6368 (al-Fath 11/1769).

وَلَا يَغُرَّنَّكَ مَا يَلْصَقُهُ الْخُبَثَاءُ بِالطَّيِّبِينَ: مِنْ صِفَاتِ الْغَفْلَةِ، وَضَعْفِ الْعَقْلِ، وَقِلَّةِ الْحِيلَةِ، وَالْهَوَانِ عَلَى النَّاسِ. فَلَأَنْ تَكُونَ مَقْبُولًا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَوْسِمَةِ الدَّهَاءِ وَالْحِيلَةِ وَالْخُبْثِ.

Jangan Anda hiraukan orang-orang jahat yang melontarkan kata ejekan bahwa orang-orang baik itu lalai, bodoh, tidak cerdik dan remeh di mata masyarakat. Anda menjadi orang yang diterima di sisi Allah Subhaanahu wata’ala. lebih baik daripada mendapatkan medali kecerdikan kelicikan, dan keburukan.

خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ:

KESIMPULAN

مِنْ مَعَانِي الطَّيِّبَةِ فِي اللُّغَةِ وَالْقُرْآنِ.

Makna-makna thiibah menurut bahasa dan Al-Qur'an.

الْمُؤْمِنُ يَعْتَزُّ بِطِيبَتِهِ.

Seorang mukmin menjadi mulia karena kebaikannya.

الْعِبَادَاتُ تُؤَصِّلُ الطَّيِّبَةَ فِي الْقَلْبِ.

Berbagai ibadah mengukuhkan (menguatkan) kebaikan di dalam hati

طِيبُ النَّفْسِ مِنَ النَّعِيمِ.

Kebaikan hati merupakan kenikmatan.

مَوَاطِنُ الْبَلَاءِ تُمِيزُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ.

Berbagai ujian dapat menyisihkan yang buruk dari yang baik.

الطَّيِّبُ يَتَوَرَّعُ عَنِ الشُّبُهَاتِ.

Orang yang baik selalu menjaga diri dari hal-hal syubhat.

الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو لِلْمُتَحَابِّينَ الطَّيِّبِينَ.

Para malaikat mendoakan orang-orang yang saling mengasihi dan menyayangi dengan baik.

لَا يَطِيبُ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ بِالْقُعُودِ حِينَ يُسْتَنْفَرُ النَّاسُ.

Hati seorang mukmin tidak merasa tenang (laa yathiibu qalbuhu) jika berdiam diri saja pada saat pasukan diberangkatkan.

مِنْ طِيبِ الْقَلْبِ تَطْيِيبُ قُلُوبِ الْعِبَادِ.

Menyenangkan hati orang merupakan salah satu wujud kebaikan hati.

النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ تُرَحِّبُ بِهَا الْمَلَائِكَةُ.

Jiwa yang baik disambut baik oleh para malaikat.

غَلَبَةُ التَّعَامُلِ بِالطَّيِّبِ وِقَايَةٌ مِنْ غَضَبِ اللَّهِ.

Pengamalan akhlak thiibah akan mencegah kemurkaan Allah Subhaanahu wata’ala.

أَبْرَزُ مَا فِي الطَّيِّبِ نَقَاءُ قَلْبِهِ وَسَلَامَةُ سَرِيرَتِهِ.

Orang yang baik memiliki hati bersih dan batin yang suci.

 

📙📙📙 Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

 The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan  : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. Dipersilahkan - share