BAB 06
AKHLAK KITA DALAM PERASAAN – EMOSI
PASAL 03
التواضع
Rendah Hati
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ
اللَّهُ
Dan tidaklah seseorang bertawaduk karena Allah
melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.
اَللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَزِيزٌ، وَيُرِيدُ
لِعِبَادِهِ أَنْ يَكُونُوا أَعِزَّاءَ، عَلَى أَلَّا تَمْتَدَّ مِسَاحَةُ
عِزَّتِهِمْ عَلَى إِخْوَانِهِمْ،
Allah Azza wa Jalla Maha Perkasa, dan Dia
menginginkan kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya dengan satu syarat, yaitu jangan
sampai kemuliaan itu melampaui batas
فَتَغْدُوَ عِنْدَئِذٍ إِعْجَابًا بِالنَّفْسِ،
وَاسْتِعْلَاءً عَلَى
الْآخَرِينَ، وَحَطًّا مِنْ شَأْنِهِمْ.
sehingga berubah menjadi sikap membanggakan diri,
sombong terhadap orang lain, dan merendahkan mereka,
وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَمُنُّ عَلَى عِبَادِهِ
أَنْ هَدَاهُمْ لِلْإِيمَانِ، فَإِنْ أَبَوْا إِلَّا الضَّلَالَاتِ،
Dan Allah Azza wa Jalla telah menganugerahkan
keimanan kepada hamba-hamba-Nya. Jika mereka menginginkan kesesatan
فَهُوَ قَادِرٌ عَلَى الِاسْتِبْدَالِ بِهِمْ قَوْمًا
يَعْتَزُّونَ بِإِيمَانِهِمْ، وَيَتَوَاضَعُونَ
لِإِخْوَانِهِمْ.
maka Allah Mahakuasa menggantikan mereka dengan
kaum lain yang merasa mulia dengan keimanan dan merendahkan diri terhadap
saudaranya,
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ
يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ
وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ
يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ﴾ [المائدة:
٥٤]،
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di
antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan men-datangkan
suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang
bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang
kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang
yang suka mencela..." (al-Maa'idah [5]: 54)
فَهَذِهِ الذِّلَّةُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ صِفَةُ
الْمُصْطَفَيْنَ لِحَمْلِ هَذَا الدِّينِ - حِينَ يَرْتَدُّ عَنْهُ
الْمُرْتَدُّونَ.
Lemah lembut terhadap kaum muslimin adalah sifat
orang-orang pilihan, yang bertugas membawa agama ini ketika banyak orang yang
murtad.
وَفِي تَفْسِيرِ الْآيَةِ: ﴿أَذِلَّةٍ عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ﴾؛ أَيْ: يَرْأَفُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ، وَيَرْحَمُونَهُمْ،
وَيَلِينُونَ لَهُمْ، وَيُغْلِظُونَ عَلَى الْكُفَّارِ، وَيُعَادُونَهُمْ.
Dan dalam tafsir ayat "Adzillatin'alal
mu'miniin" yang artinya bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin,
maksudnya adalah mereka menyayangi orang-orang mukmin, mengasihi mereka,
bersikap lembut kepada mereka, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, dan
memusuhi mereka.
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هُمْ الْمُؤْمِنُونَ
كَالْوَالِدِ لِلْوَلَدِ، وَالسَّيِّدِ لِلْعَبْدِ. وَهُمْ فِي الْغِلْظَةِ عَلَى
الْكُفَّارِ، كَالسَّبُعِ عَلَى فَرِيسَتِهِ؛ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿أَشِدَّاءُ
عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾ [الفتح: ٢٩]
Ibnu Abbas menafsirkan, "Mereka bersikap
terhadap orang-orang mukmin bagaikan ayah terhadap anaknya dan tuan terhadap
hamba sahayanya. Sedang mereka bersikap keras terhadap orang-orang kafir
bagaikan binatang buas terhadap mangsanya, Allah subhaanahu wata’ala.
berfirman, '...keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka..." (al-Fat-h [48]: 29). Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an 6/220.
وَفِي تَعْلِيلِ اسْتِعْمَالِ حَرْفِ الْجَرِّ
(عَلَى) فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾؛ تَفْسِيرَانِ:
Dan dalam menjelaskan penggunaan huruf jar ala pada
firman Allah Taala yang artinya bersikap lemah lembut terhadap orang-orang
mukmin, terdapat dua penafsiran:
فَفِي قَوْلِ إِنَّهُ ضُمِّنَ مَعْنَى الْحُنُوِّ
وَالْعَطْفِ كَأَنَّهُ قَالَ عَاطِفِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ عَلَى وَجْهِ
التَّذَلُّلِ وَالتَّوَاضُعِ،
Pertama, kata 'alad mengandung makna belas kasihan,
seakan Allah subhaanahu wata’ala. berfirman, "...Mereka amat belas kasihan
terhadap orang-orang mukmin dengan bersikap rendah hati."
وَفِي قَوْلٍ ثَانٍ أَنَّ (عَلَى) تَدُلُّ عَلَى
عُلُوِّ مَقَامِهِمْ، وَأَنَّهُ رَغْمَ فَضْلِهِمْ وَارْتِفَاعِ مَنْزِلَتِهِمْ
يَذِلُّونَ وَيَخْضَعُونَ لِمَنْ فُضِّلُوا عَلَيْهِمْ مَعَ شَرَفِهِمْ وَعُلُوِّ
مَكَانِهِمْ
Kedua, kata 'alaa' menunjukkan tingginya kedudukan
mereka. "Mereka tetap merendahkan hati terhadap orang lain yang lebih
rendah, walaupun mereka memiliki keutamaan dan kedudukan yang tinggi.". Tafsir
al-Bahr al-Muhith karya Abu Hayyan al-Andalusi 3/412.
اَلْعِزَّةُ صِفَةٌ مَحْمُودَةٌ، وَالْكِبْرُ عَلَى
النَّاسِ وَالْعُجْبُ بِالنَّفْسِ مَذْمُومَانِ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
قَدْ حَطَّ مِنْ قِيمَةِ الدُّنْيَا فِي نَظَرِ الْمُؤْمِنِ، وَبَيَّنَ هَوَانَهَا
عَلَى اللَّهِ؛ لِيَعْلَمَ النَّاسُ جَمِيعًا أَنَّهُ
Izzah (kemuliaan) merupakan sifat terpuji,
sedangkan angkuh terhadap orang lain dan membanggakan diri adalah sifat
tercela. Allah subhaanahu wata’ala. merendahkan nilai dunia di mata seorang
mukmin dan menjelaskan bahwa dunia itu hina bagi-Nya agar semua manusia
mengetahui bahwa,
﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ
الْعِزَّةُ جَمِيعًا﴾ [فاطر: ١٠]
"Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka
bagi Allah-lah kemuliaan itu semua..." (Faathir [35]: 10)
وَأَنَّ اللَّهَ يُكْرِمُ بِهَا أَوْلِيَاءَهُ حَتَّى
وَهُمْ فِي ذِرْوَةِ الْمِحْنَةِ.
Allah subhaanahu wata’ala. akan memberikan izzah
kepada orang-orang yang mencintai-Nya hingga walau mereka berada pada puncak
ujian,
﴿وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ
وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾ [المنافقون: ٨],
Padahal milik Allah-lah kemuliaan, bagi rasul-Nya,
dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.
مَعَ كُلِّ هَذِهِ الْعِزَّةِ، فَالْمَطْلُوبُ مِنَ
الْمُؤْمِنِ الشَّدِيدِ عَلَى الْكُفَّارِ، أَنْ يَتَرَاحَمَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ،
وَاللَّائِقُ بِالْمُؤْمِنِ الْعَزِيزِ عَلَى الْكَافِرِينَ، أَنْ يَتَعَامَلَ
بِالذُّلِّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ.
Bersamaan dengan semua kemuliaan ini, maka seorang
mukmin yang keras terhadap orang-orang kafir harus tetap berkasih sayang dan
rendah hati terhadap orang-orang mukmin.
يَقُولُ ابْنُ قُدَامَةَ الْمَقْدِسِيُّ فِي
حَدِيثِهِ عَنِ التَّوَاضُعِ:
Ibnu Qudamah berpendapat mengenai sifat rendah
hati, tawaduk:
(وَاعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْخُلُقَ كَسَائِرِ
الْأَخْلَاقِ، لَهُ طَرَفَانِ وَوَسَطٌ: فَطَرَفُهُ الَّذِي يَمِيلُ إِلَى
الزِّيَادَةِ يُسَمَّى تَكَبُّرًا، وَطَرَفُهُ الَّذِي يَمِيلُ إِلَى النُّقْصَانِ
يُسَمَّى تَخَسُّسًا وَمَذَلَّةً. وَالْوَسَطُ يُسَمَّى تَوَاضُعًا - وَهُوَ
الْمَحْمُودُ - وَهُوَ أَنْ يَتَوَاضَعَ مِنْ غَيْرِ مَذَلَّةٍ..)
"Ketahuilah bahwa akhlak ini seperti
akhlak-akhlak lainnya memiliki dua sisi dan pertengahan. Sisi yang condong
kepada kelebihan disebut kesombongan dan sisi yang condong kepada kekurangan
disebut kehinaan. Sedang per-tengahannya disebut rendah hati (tawadhu'). Sifat
ini terpuji dan seseorang yang tawadhu' merendahkan hati tanpa kehinaan. "
Mukhtashar Minhaj al-Qashidin halaman
254.
إِنَّ مِنْ تَأْدِيبِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لِلْمُؤْمِنِينَ عَلَى خُلُقِ (الذِّلَّةِ عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ) أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو:
Sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang-orang mukmin mengajarkan agar
memiliki akhlak rendah hati terhadap sesama mereka, beliau biasa berdoa:
«اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا،
وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ»
"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan
miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin dan himpunlah aku bersama
orang-orang miskin. Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/275 Kitab az-Zuhd - Bab 23 -
Hadis 1917/2471.
يَقُولُ ابْنُ الْأَثِيرِ: (أَرَادَ بِهِ
التَّوَاضُعَ وَالْإِخْبَاتَ، وَأَلَّا يَكُونَ مِنَ الْجَبَّارِينَ
الْمُتَكَبِّرِينَ).
Ibnu Al-Atsir menjelaskan, "Rasulullah ﷺ bermaksud rendah hati, dan tidak ingin
termasuk golongan orang-orang yang angkuh dan sombong." Shahih al-Jami'
1/271 sebagai komentar atas hadis nomor 1261.
وَقَدْ كَانَ عُمَرُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -
يُدَرِّبُ وُلَاتَهُ عَلَى الذِّلَّةِ عَلَى الرَّعِيَّةِ، وَيَنْهَاهُمْ عَنْ
إِذْلَالِ النَّاسِ، كَمَا يُعَلِّمُ النَّاسَ حَقَّهُمْ فِي أَنْ يَعِيشُوا
كِرَامًا، وَمِمَّا جَاءَ فِي خُطْبَةٍ لَهُ:
Dan Umar Radhiyallahu Anhu melatih para gubernurnya
agar bersikap rendah diri terhadap rakyat, dan melarang mereka meremehkan
rakyat. Ia juga mengajarkan rakyatnya bahwa mereka berhak hidup terhormat. Umar
r.a. berkhotbah,:
(إِلَّا إِنِّي وَاللَّهِ مَا أُرْسِلُ
عُمَّالِي إِلَيْكُمْ لِيَضْرِبُوا أَبْشَارَكُمْ، وَلَا لِيَأْخُذُوا
أَمْوَالَكُمْ، وَلَكِنْ أُرْسِلُهُمْ إِلَيْكُمْ؛ لِيُعَلِّمُوكُمْ دِينَكُمْ
وَسُنَّتَكُمْ، فَمَنْ فُعِلَ بِهِ شَيْءٌ سِوَى ذَلِكَ، فَلْيَرْفَعْهُ إِلَيَّ،
فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِذًا لَأَقُصَّنَّهُ مِنْهُ... أَلَّا لَا
تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ فَتُذِلُّوهُمْ..) (٢)،
"Ingatlah, Demi Allah, sesungguhnya aku tidak
mengutus para gubernurku untuk memukul kulit kalian. Bukan pula untuk mengambil
harta-harta kalian. Akan tetapi, aku mengutus mereka untuk mengajarkan agama
dan sunnah kalian. Barangsiapa diperlakukan tidak baik (tidak seperti yang aku
perintahkan kepada mereka) maka hendaknya ia melaporkannya padaku. Demi Allah,
aku akan membalasnya. Janganlah kalian memukul kaum muslimin sehingga kalian
menghinakan mereka. Musnad Ahmad 1/41 dan Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah
berkata: Sanadnya hasan.
وَكَانَ عُمَرُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - يُوصِي
وَالِيَهُ عَلَى الْحِمَى بِقَوْلِهِ: (اضْمُمْ جَنَاحَكَ عَنِ الْمُسْلِمِينَ
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمُسْلِمِ فَإِنَّ
دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ)
Dan Umar Radhiyallahu Anhu Ketika sedang sakit, ia
berwasiat kepada salah seorang gubernurnya, "Rendahkanlah hati terhadap
kaum muslimin, dan takutlah akan doa mereka karena doa orang yang teraniaya
dapat dikabulkan. Shahih al-Bukhari - Kitab al-Jihad - Bab 180 - Hadis 3059.
الِاعْتِرَافُ بِالْخَطَأِ يَحْتَاجُ إِلَى شَجَاعَةٍ
كَبِيرَةٍ، وَنَزَاهَةٍ عَالِيَةٍ، وَتَوَاضُعٍ جَمٍّ.
Untuk mengakui kesalahan diperlukan sebuah
keberanian besar dan kerendahan hati..
وَإِنْ حَدَّثَتْكَ نَفْسُكَ أَنَّ اعْتِرَافَكَ قَدْ
يَضَعُ مِنْ قَدْرِكَ فَأَحْرِصْ عَلَى سَلَامَةِ الْحَقِّ، أَكْثَرَ مِنْ
حِرْصِكَ عَلَى تَزَيُّنِ نَفْسِكَ، كَمَا أَنَّ قَبُولَ عُذْرِ الْمُعْتَذِرِ
إِلَيْكَ تَوَاضُعٌ رَفِيعٌ، وَكَرَمٌ عَالٍ.
Apabila Anda merasa bahwa mengakui suatu kesalahan
hanya akan menjatuhkan harga diri Anda, maka peliharalah kebenaran dan
banyak-banyaklah memperbaiki diri. Menerima permintaan maaf seseorang juga
merupakan salah satu bentuk kerendahan dan kemurahan hati.
فَالنُّفُوسُ الْخَبِيثَةُ تَتَمَنَّى الزَّلَّةَ
مِنَ الْآخَرِينَ؛ لِتَتَشَفَّى بِالنَّقْدِ وَالْمُحَاسَبَةِ وَالتَّشْهِيرِ..
Orang-orang yang berhati busuk selalu mengharapkan
orang lain memiliki kesalahan agar mereka puas mengkritik, meng instrospeksi
dan menyebarkan kesalahan itu..
وَيُعَبِّرُ ابْنُ الْقَيِّمِ عَنْ هَذَا الْمَعْنَى
بِقَوْلِهِ:
Dan Ibnu Al-Qayyim mengungkapkan makna ini dengan
perkataannya:
(مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ ثُمَّ جَاءَ
يَعْتَذِرُ عَنْ إِسَاءَتِهِ، فَإِنَّ التَّوَاضُعَ يُوجِبُ عَلَيْكَ قَبُولَ
مَعْذِرَتِهِ - حَقًّا كَانَتْ أَوْ بَاطِلًا - وَتَكِلُ سَرِيرَتَهُ إِلَى
اللَّهِ تَعَالَى.. وَعَلَامَةُ الْكَرَمِ وَالتَّوَاضُعِ: أَنَّكَ إِذَا رَأَيْتَ
الْخَلَلَ فِي عُذْرِهِ، لَا تُوقِفُهُ عَلَيْهِ، وَلَا تُحَاجُّهُ..)
maka kamu harus merendahkan hati dan menerima
permohonan maafnya, baik permohonan maaf itu tulus maupun tidak, dan
menyerahkan urusan batinnya kepada Allah Taala. Tanda kemurahan dan kerendahan
hati adalah apabila Anda mendapatkan alasannya yang kurang bisa diterima maka
janganlah mengungkapkannya dan janganlah membantahnya. Tahdzib Madarij
as-Salikin halaman 433.
فَابْتَعِدْ عَنِ الْإِحْرَاجِ، وَاقْلِبِ
الصَّفْحَةَ، وَابْدَأْ مِنْ جَدِيدٍ، وَسَيَكْبُرُ لَكَ صَاحِبُكَ حُسْنَ
تَجَاوُزِكَ عَنْهُ، وَعَدَمَ التَّحْقِيقِ فِي عُذْرِهِ.
Janganlah menyakiti orang lain. Bukalah lembaran
baru, niscaya sahabat Anda akan kagum terhadap budi baik Anda, karena Anda
telah memaafkannya dan tidak mempermasalahkan alasan yang diungkapkannya.
وَإِذَا أَصْرَرْتَ عَلَى أَنْ تَضَعَ أَخَاكَ فِي
مَوْقِفٍ تُذِلُّهُ فِيهِ وَتُحَاسِبُهُ مُحَاسَبَةَ الْأَرْبَابِ،
Jika Anda bersikeras memojokkan saudara Anda pada
posisi terhina dan Anda menginstrospeksinya dengan cara seperti para raja - arbaab,
فَقَدْ تَجَرَّأْتَ عَلَى حَرْبِ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ، وَلَيْسَ لَكَ بِهِ طَاقَةٌ لِمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ:
«مَنْ أَذَلَّ لِي وَلِيًّا فَقَدْ اسْتَحَلَّ مُحَارَبَتِي»
berarti Anda benar-benar telah berani memerangi
Allah subhaanahu wata’ala. dan Anda tidak akan memiliki kemampuan. Disebutkan
dalam hadits qudsi, "Barangsiapa menghinakan orang yang Aku cintai berarti
ia telah berani memerangi-Ku, Musnad Ahmad 6/256
وَاللَّهُ وَلِيُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ.
dan Allah adalah pelindung setiap orang mukmin.
إِنَّ الَّذِي يَتَصَدَّرُ لِقِيَادَةِ النَّاسِ
وَتَوْجِيهِهِمْ، وَكَسْبِ قُلُوبِهِمْ، لَا بُدَّ أَنْ يَتَمَتَّعَ بِقَدْرٍ
كَبِيرٍ مِنَ التَّوَاضُعِ، وَلِذَلِكَ أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيَّهُ -
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِقَوْلِهِ:
Orang yang bertugas memimpin masyarakat,
mengarahkan dan menarik hati mereka hendaknya memiliki sifat rendah hati. Oleh
karena itu, Allah subhaanahu wata’ala. memerintahkan Nabi-Nya saw dengan
firman-Nya
﴿وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ﴾ [الشعراء: ٢١٥].
Dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang
mengikutimu di antara orang-orang yang beriman.
فَمَا بَالُ أَكَابِرِ أُمَّتِهِ مِنْ بَعْدِهِ،
وَهُمْ دُونَهُ فِي الْمَنْزِلَةِ وَالْخُلُقِ، لَا يَخْفِضُونَ جَنَاحَهُمْ؟!
Lalu, mengapa para pemimpin di kalangan umatnya
tidak bersikap rendah hati, padahal akhlak dan kedudukan mereka lebih rendah
daripada Rasulullah ﷺ??
وَقَدْ جَاءَ فِي الْحِكَمِ: (مَنْ كَثُرَ
تَوَاضُعُهُ كَثُرَ صَدِيقُهُ)،
Disebutkan dalam kata-kata hikmah,
"Barangsiapa selalu merendahkan hati maka akan banyak kawannya.
فِإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَكْسِبَ أَنْصَارًا
لِدَعْوَتِكَ، فَعَلَيْكَ بِالتَّوَاضُعِ، وَاحْذَرِ الْعُجْبَ وَالْكِبْرَ،
وَأَخْطَرُهُ عُجْبُ الطَّاعَةِ،
Maka jika Anda ingin mendapatkan banyak pendukung
dakwah Anda maka rendahkanlah hati Anda. Janganlah membanggakan diri (ujub) dan
angkuh. "Ujub dalam hal ibadah sangat berbahaya,,
الَّذِي يَجْعَلُكَ تَسْتَصْغِرُ النَّاسَ إِزَاءَ
مَا تَقُومُ بِهِ أَنْتَ مِنْ طَاعَاتٍ، وَلِذَلِكَ يُرْوَى عَنْ مُطَرِّفٍ
قَوْلُهُ:
yang membuatmu meremehkan manusia berkenaan dengan
ketaatan-ketaatan yang kamu lakukan sendiri. Oleh karena itu diriwayatkan dari
Mutharrif perkataannya:
(لَأَنْ
أَبِيتَ نَائِمًا، وَأُصْبِحَ نَادِمًا، أَحَبُّ
إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَبِيتَ قَائِمًا، وَأُصْبِحَ مُعْجَبًا).
"Tidur semalaman suntuk dan menyesal di pagi
hari lebih aku sukai, daripada shalat di malam hari dan di pagi harinya aku
'ujub. Mukhtashar Minhaj as-Shadikin halaman 254.
وَيُعَرِّفُ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ تَوَاضُعَ
الْمُؤْمِنِ بِأَنَّهُ: (أَنْ يَخْضَعَ لِلْحَقِّ، وَيَنْقَادَ لَهُ، وَيَقْبَلَهُ
مِمَّنْ قَالَهُ)
Al-Fudhail bin Iyadh mendefinisikan tawadhu',
"Tawadhu' adalah ketundukan dan kepatuhan seorang mukmin terhadap
kebenaran serta ia menerimanya dari siapa pun yang me-ngatakannya. Tahdzib
Madarij as-Salikin halaman 429.
وَهَذَا الْخُضُوعُ لِلْحَقِّ هُوَ عَيْنُ الْعِزِّ؛
لِأَنَّ طَاعَةَ اللَّهِ، وَرُجُوعٌ إِلَى الصَّوَابِ، وَتَعْوِيدٌ لِلنَّفْسِ
أَلَّا تُصِرَّ عَلَى بَاطِلٍ.
Tunduk kepada kebenaran merupakan kemuliaan karena
hal itu berarti taat kepada Allah subhaanahu wata’ala., kembali kepada
kebenaran dan melatih diri untuk segera meninggalkan kebatilan..
وَلِذَلِكَ يَقُولُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ -: «وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ، إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ»
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seseorang bersikap rendah hati karena
Allah niscaya Allah mengangkat (derajat)nya Diriwayatkan oleh Muslim dan
at-Tirmidzi: Jami' al-Ushul 6/455 Hadis 4660.
وَمَنْ كَانَ قَصْدُهُ رِضَا اللَّهِ، هَانَ عَلَيْهِ
الِانْقِيَادُ لِلْحَقِّ.
Orang yang bertujuan mencari ridha Allah subhaanahu
wata’ala. akan mudah tunduk pada kebenaran.
كَالَّذِي رُوِيَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ
الْحَسَنِ الْعَنْبَرِيِّ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ مَسْأَلَةٍ، فَغَلِطَ فِيهَا،
فَلَمَّا نُبِّهَ إِلَى غَلَطِهِ، أَطْرَقَ سَاعَةً، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ
فَقَالَ:
sebagaimana diriwayatkan bahwa Ubaidillah bin
al-Hasan al-'Anbari pernah ditanya tentang suatu masalah lalu ia salah
menjawab. Ketika ia diingatkan akan kesalahannya, maka ia menundukkan kepala
sesaat kemudian mengangkatnya lagi seraya berkata:
(إِذًا أَرْجِعُ وَأَنَا صَاغِرٌ، لَأَنْ
أَكُونَ ذَنَبًا فِي الْحَقِّ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَكُونَ رَأْسًا فِي
الْبَاطِلِ)
"Jika begitu, aku mengaku salah dan aku kecil.
Menjadi ekor dalam hal kebenaran lebih aku cintai daripada menjadi kepala dalam
hal kebatilan.. Tahdzib at-Tahdzib 7/7.
وَهَذَا الْأَصْلُ فِي الْعَالِمِ، أَنْ يَتَوَاضَعَ
لِلَّهِ وَيَنْقَادَ لِلْحَقِّ؛ لِأَنَّهُ مَقْصُودُهُ،
Seperti inilah orang yang alim. Ia merendahkan hati
karena Allah subhaanahu wata’ala. dan tunduk kepada kebenaran karena kebenaran
itu merupakan tujuannya,
وَإِنْ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَنْ ظَهَرَ الْحَقُّ
عَلَى لِسَانِهِ أَيُّ نَوْعٍ مِنَ الْعَدَاوَةِ وَالِاخْتِلَافِ.
meski kebenaran tersebut datang dari mulut orang
yang memusuhinya..
وَعَدَمُ الْخُضُوعِ لِلْحَقِّ هُوَ عَيْنُ الْكِبْرِ وَالْبَغْيِ،
وَلِذَلِكَ عَرَّفَ الرَّسُولُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الْكِبْرَ
بِقَوْلِهِ: «اَلْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»
Tidak menerima kebenaran adalah salah satu bentuk
ke-angkuhan. Rasulullah ﷺ bersabda, "Keangkuhan
adalah tidak menerima kebenaran dan memandang remeh orang lain. Shahih Muslim -
Kitab al-Iman - Bab 39 - Hadis 147.
وَبِهَذَا نَرَى أَنَّ التَّوَاضُعَ بِالْإِضَافَةِ
إِلَى كَوْنِهِ خُلُقًا وِجْدَانِيًّا مَحْمُودًا، فَإِنَّهُ وِقَايَةٌ مِنَ
الْوُقُوعِ فِي الظُّلْمِ، وَحِمَايَةٌ مِنَ التَّعَالِي وَالتَّفَاخُرِ عَلَى
إِخْوَةِ الدِّينِ.
Sifat rendah hati, di samping merupakan akhlak
terpuji, juga dapat mencegah seseorang dari perbuatan zalim, dan me-lindunginya
dari keangkuhan terhadap sesama saudara seagama.
وَفِي الْحَدِيثِ: «إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ:
أَنْ تَوَاضَعُوا؛ حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ
أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ»
Dalam sebuah hadits disebutkan, "Sesungguhnya
Allah mewahyukan kepadaku, Rendah hatilah kalian agar seseorang tidak angkuh
terhadap orang lain dan tidak menganiaya orang lain. Shahih Muslim - Kitab
al-Jannah - Bab 16 - Hadis 64.
وَمِنْ رِفْعَةِ مَقَامِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَإِنَّهُ حِينَ رَأَى رَجُلًا يَرْتَعِدُ مِنْهُ،
وَكَأَنَّمَا كَانَ يَظُنُّهُ كَمُلُوكِ الْأَرْضِ، قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -:
Karena kedudukan Rasulullah ﷺ tinggi, maka ketika seseorang melihatnya ia gemetar, seakan
orang itu menyangka bahwa Rasulullah ﷺ
seperti umumnya para raja di dunia, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda kepadanya:
«هَوِّنْ عَلَيْكَ فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ،
إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ كَانَتْ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ»
Tenanglah, sesungguhnya aku bukan seorang raja. Aku
hanya anak dari seorang wanita Quraisy yang memakan dendèng - daging kering. Shahih
Sunan Ibni Majah 2/232 Hadis 2677/3312.
وَإِقْرَارُهُ بِمَا كَانَتْ عَلَيْهِ أُمُّهُ مِنَ
الْفَقْرِ أَوْ خُشُونَةِ الْعَيْشِ، يَزِيدُ مِنْ إِكْبَارِهِ فِي نَفْسِ
سَامِعِهِ، وَلَا يَضِيرُهُ شَيْئًا،
Pengakuan beliau tentang kemiskinan ibunya menambah
keagungannya pada diri orang yang mendengarnya, dan pengakuan itu tidak
membuatnya menjadi rendah.
وَيُدَرِّبُ أَصْحَابَهُ بِذَلِكَ عَلَى عَدَمِ
التَّعَالِي عَلَى الْخَلْقِ؛ بِاسْتِحْضَارِ جَوَانِبِ مِنْ بَشَرِيَّتِهِمْ،
أَوْ سَابِقِ حَالِهِمْ، وَبِتَذَكُّرِ أَنَّهُمْ جَمِيعًا بَنُو آدَمَ،
Dengan cara itulah Rasulullah ﷺ melatih para sahabatriya agar tidak angkuh terhadap sesama
manusia dengan cara mengingat sisi-sisi kemanusiaan mereka, keadaan mereka yang
lalu, mengingat bahwa mereka adalah anak cucu Adam a.s.,
وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ، وَأَنَّ الْكَرَمَ عِنْدَ
اللَّهِ بِالتَّقْوَى، وَأَنَّ الْمُتَفَاخِرَ بِالْقِيَمِ الْجَاهِلِيَّةِ
أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنَ الْجِعْلَانِ.
sedang Adam tercipta dari tanah, kemuliaan di sisi
Allah subhaanahu wata’ala. hanya terletak pada ketakwaan dan orang yang
membanggakan nilai-nilai jahiliah lebih hina di sisi Allah subhaanahu wata’ala.,
daripada budak hitam legam dan buruk rupa.
وَمَعَ مَا عُرِفَ عَنْ نَاقَةِ رَسُولِ اللَّهِ -
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مِنَ السُّرْعَةِ، فَقَدْ سَبَقَهْتِهَا
مَرَّةً نَاقَةُ أَعْرَابِيٍّ، وَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى الصَّحَابَةِ،
Meski telah terkenal bahwa unta rasulullah ﷺ berjalan sangat cepat, tetapi unta itu
dikalahkan kecepatannya oleh unta seorang Badui. Para sahabat tidak dapat
menerima hal itu,.
بَيْنَمَا تَلَقَّى رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الْأَمْرَ بِكُلِّ بَسَاطَةٍ، بَلِ اغْتَنَمَ الْفُرْصَةَ،
وَعَمَّقَ فِي النُّفُوسِ سُنَّةً كَوْنِيَّةً، فَقَالَ:
sedang Rasulullah ﷺ
menerimanya dengan lapang dada bahkan beliau mengambil hal tersebut sebagai
pelajaran dan mengajak orang-orang meresapi suatu hukum alam, dengan bersabda:
«حَقٌّ عَلَى اللَّهِ: أَلَّا يَرْتَفِعَ
شَيْءٌ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ» ،
Menjadi hak Allah bahwa tidak ada sesuatu pun dari
dunia ini yang meninggi melainkan Dia akan merendahkannya, agar orang-orang
yang sombong jera dan orang yang membanggakan diri bertawaduk, Shahih
al-Bukhari - Kitab al-Jihad - Bab 59 - Hadis 2872.
بِحَيْثُ يَرْتَدِعُ الْمُتَعَالُونَ وَيَتَوَاضَعُ
الْمُتَفَاخِرُ؛ لِأَنَّهُ لَا يَدُومُ شَيْءٌ فِي الدُّنْيَا عَلَى
حَالِهِ، فَقَدْ يَذِلُّ الرَّفِيعُ، وَيَرْتَفِعُ
الْوَضِيعُ.
Hal itu agar orang yang angkuh menjadi sadar diri,
dan orang yang membanggakan diri menjadi rendah hati karena perkara dunia tidak
kekal pada satu keadaan. Terkadang yang mulia menjadi hina dan yang hina
menjadi mulia..
وَمِنْ كَمَالِ مَا عُرِفَ عَنْ تَوَاضُعِ النَّبِيِّ
- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنَّكَ كَانَ يَخْدُمُ أَهْلَهُ - وَهُوَ
الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَسْتَعِينَ بِالْخَدَمِ –
Kerendahan hati Rasulullah ﷺ sangat sempurna. Beliau membantu keluarganya, padahal beliau
dapat menggunakan pembantu.,
وَيُسَلِّمُ عَلَى الصِّبْيَانِ الَّذِينَ
يَلْقَاهُمْ فِي الطَّرِيقِ - وَهُوَ الَّذِي تَهَابُهُ الْمُلُوكُ - وَحَتَّى
حِينَ يَكُونُ فِي أَوْجِ قُوَّتِهِ وَانْتِصَارِهِ، لَا يَكُونُ جَبَّارًا فِي
الْأَرْضِ.
Beliau mengucapkan salam pada anak-anak kecil yang
ditemuinya di jalanan padahal beliau sangat ditakuti para raja, hingga pada
puncak kejayaannya beliau tidak menjadi diktator di atas bumi ini.
فَقَدْ كَانَ يَوْمَ غَزْوِ بَنِي قُرَيْظَةَ عَلَى
حِمَارٍ مَخْطُومٍ بِحَبْلٍ مِنْ لِيفٍ، وَحِينَ دَخَلَ مَكَّةَ فَاتِحًا، دَخَلَ
مُنَكَّسَ الرَّأْسِ، تَوَاضُعًا لِرَبِّهِ،
Pada hari kemenangannya dalam Perang bani
Quraizhah, beliau hanya menunggang seekor keledai yang diberi tali kekang dari
sabut. Ketika menaklukkan Mekah beliau memasuki kota tersebut dengan
menundukkan kepala, untuk merendahkan hatinya terhadap Allah,
وَحَذَرًا مِنْ تَسَلُّلِ مَشَاعِرِ الْكِبْرِ إِلَى
نَفْسِ الْمُنْتَصِرِ، الَّذِي تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ بِأَنَّهُ هُوَ الَّذِي
صَنَعَ النَّصْرَ، وَقَدْ يَنْسَى فَضْلَ اللَّهِ وَتَوْفِيقَهُ.
dan mengantisipasi datangnya rasa angkuh pada diri
seorang pemenang, yang terkadang merasa bahwa dirinyalah yang membuat
kemenangan lalu melupakan karunia Allah dan petunjuk-Nya.
وَوَصَفَ ابْنُ تَيْمِيَةَ حَالَ رَسُولِ اللَّهِ -
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِقَوْلِهِ:
Dan Ibnu Taimiyah menyifatkan keadaan Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan perkataannya:
(إِنَّهُ اخْتَارَ الْعُبُودِيَّةَ -
وَالتَّوَاضُعَ وَإِنْ كَانَ هُوَ الْأَعْلَى وَهُوَ وَمَنْ اتَّبَعَهُ -.. وَلَمْ
يُرِدِ الْعُلُوَّ، وَإِنْ كَانَ قَدْ حَصَلَ لَهُ).
"Beliau memilih ketundukan dan kerendahan hati
meski beliau dan para pengikutnyalah yang tinggi (derajatnya). Beliau tidak
menginginkan ketinggian derajat (keangkuhan) walaupun derajat itu telah
dicapainya. Majmu' Fatawa Ibni Taimiyah 11/131.
وَيَكْفِي الْمُتَكَبِّرِينَ لِيَؤُوبُوا إِلَى
رُشْدِهِمْ، أَنْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّهُمْ، وَيَصْرِفُهُمْ عَنْ
آيَاتِهِ، وَيَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، وَيَسْقِيهِمْ طِينَةَ الْخَبَالِ،
وَتَوَعَّدَهُمْ بِأَنْ يَقِصْمَهُمْ.
Agar orang-orang yang angkuh kembali kepada
petunjuk, hendaknya mereka mengetahui bahwa Allah subhaanahu wata’ala. tidak
men-cintainya, menjauhkan mereka dari ayat-ayat-Nya, menutup hati mereka,
memberikan minum mereka dengan lumpur, dan mengancamnya bahwa Allah akan
membinasakan mereka.
وَ«مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ
خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ أَكَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي النَّارِ»
"Barangsiapa ada keangkuhan di dalam hatinya
meski hanya seberat biji sawi, niscaya Allah akan membalikkan wajahnya ke api
neraka. Musnad Ahmad 2/215 dan para perawinya adalah perawi kitab Shahih.
كُلُّ هَذَا الْجَزَاءِ مِنْ أَجْلِ مِثْقَالَ
حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ، فَكَمْ يَحْتَاجُ الْمَرْءُ إِلَى حِفْظِ قَلْبِهِ
مِنْ مَشَاعِرِ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالغُرُورِ!
Semua balasan Azab ini disebabkan keangkuhan
seberat biji sawi. Betapa manusia sangat perlu menjaga hatinya dari rasa
angkuh, 'ujub dan ghurur - tertipu!
وَلَا يَدْفَعُ الْمَرْءَ إِلَى الْكِبْرِ، إِلَّا
حُبُّ التَّمَيُّزِ عَنِ الْآخَرِينَ، أَوْ الرَّغْبَةُ فِي عَدَمِ الْخُضُوعِ
لِأَحَدٍ، أَوْ مُحَاوَلَةُ إِخْفَاءِ نَقْصٍ فِي ذَاتِهِ، وَكُلُّهَا مُهْلِكَةٌ
لِلْمَرْءِ.
Yang menyebabkan manusia angkuh adalah rasa cinta
pada keistimewaan (kemegahan), tidak ingin mengalah pada orang lain atau
berusaha menyembunyikan kekurangan dirinya., dan semuanya itu adalah hal-hal
yang membinasakan seseorang.
فَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوَى
مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
Adapun perkara-perkara yang membinasakan adalah
sifat bakhil yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan membanggakan diri
sendiri.. Shahih al-Jami' - Hadis 3045.
كَمَا يَكْفِي الْمُتَوَاضِعَ أَنْ يَعْلَمَ: أَنَّ
اللَّهَ يَرْفَعُهُ، وَأَنَّ عِبَادَ اللَّهِ تُحِبُّهُ، وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أُسْوَتُهُ، وَأَنَّهُ أَعْرَفُ بِقَدْرِ
رَبِّهِ وَبِقَدْرِ نَفْسِهِ.
Cukuplah orang yang memiliki rendah hati yang
mengetahui bahwa Allah akan mengangkat (derajat)nya, orang-orang menyukainya,
Rasulullah ﷺ teladannya dan ia juga adalah orang yang
lebih mengetahui kekuasaan Tuhannya dan kemampuan dirinya sendiri.
فَحَاذِرْ مِنَ الِانْزِلَاقِ مَعَ وَسَاوِسِ
الشَّيْطَانِ، وَأَهْوَاءِ النُّفُوسِ، لَعَلَّكَ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ
يُحِبُّهُمْ اللَّهُ وَيُحِبُّونَهُ ﴿أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ
عَلَى الْكَافِرِينَ﴾ [المائدة: ٥٤].
Maka berhati-hatilah - waspadalah terhadap
bisikan-bisikan setan dan hawa nafsu. Semoga Anda termasuk orang-orang yang
dicintai Allah subhaanahu wata’ala. dan mencintai-Nya, "...Yang bersikap
lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir..." (al-Maa`idah [5]: 54)
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ:
KESIMPULAN
· اَلَّذِينَ يُحِبُّهُمْ اللَّهُ
وَيُحِبُّونَهُ مُتَوَاضِعُونَ.
Orang-orang yang dicintai Allah dan mencintai-Nya,
berarti ia memiliki sikap rendah hati.
· لَا تَعَارُضَ بَيْنَ الْعِزَّةِ عَلَى
الْكَافِرِينَ وَالذِّلَّةِ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ.
Keras terhadap orang-orang kafir tidak bertentangan
dengan sikap rendah hati bagi orang-orang beriman.
· عُمَرُ يُدَرِّبُ وُلَاتَهُ عَلَى
الذِّلَّةِ لِرَعِيَّتِهِمْ.
Umar r.a. melatih para gubernurnya agar bersikap
rendah hati terhadap rakyat mereka.
· مِنَ التَّوَاضُعِ الِاعْتِرَافُ
بِالْخَطَأِ وَقَبُولُ أَعْذَارِ النَّاسِ.
Mengakui kesalahan diri dan menerima permohonan
maaf orang lain merupakan sikap rendah hati.
· خَفْضُ الْجَنَاحِ مِنْ صِفَاتِ مَنْ
يَتَصَدَّرُ لِقِيَادَةِ النَّاسِ.
Rendah hati merupakan salah satu sifat seorang
pemimpin masyarakat.
· مِنَ التَّوَاضُعِ الْخُضُوعُ لِلْحَقِّ
وَالِانْقِيَادُ لَهُ.
Di antara bentuk tawaduk adalah Tunduk dan patuh
kepada kebenaran
· يُعِينُ عَلَى التَّوَاضُعِ تَذَكُّرُ
الْأَصْلِ الْبَشَرِيِّ الْوَاحِدِ.
Mengingat asal mula manusia yang sama dapat
membantu seseorang bersikap rendah hati.
· مِنْ أَعْظَمِ التَّوَاضُعِ مَا يَكُونُ
فِي أَوْجِ الْقُوَّةِ وَالِانتِصَارِ.
Di antara bentuk tawaduk yang paling agung adalah kerendahan
hati seseorang saat berada di puncak kejayaannya.
· يُعِينُ عَلَى التَّوَاضُعِ اسْتِحْضَارُ
مَا فِيهِ مِنَ الْأَجْرِ وَمَا عَلَى الْمُتَكَبِّرِينَ مِنَ الْوِزْرِ.
Mengingat pahala orang yang rendah hati dan dosa
orang-orang yang angkuh dapat membantu seseorang bersikap rendah hati.
· يَكْفِي الْمُتَوَاضِعَ مَحَبَّةُ
عِبَادِ اللَّهِ لَهُ وَرَفْعُ اللَّهِ إِيَّاهُ.
Cukuplah bagi orang yang rendah hati disukai masyarakat dan diangkat derajatnya oleh Allah subhaanahu wata’ala.
📙📙📙
Sumber:
هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

