AKHLAQ KITA DALAM PERASAAN – EMOSI
الفَصْلُ الأَوَّلُ: الحَيَاءُ
BAB PERTAMA: RASA MALU
الحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Rasa malu
itu tidak membawa kecuali kebaikan.”
إِنَّهُ لَمِنْ مَظَاهِرِ التَّوَازُنِ، وَمِنْ
عَلَامَاتِ التَّكَامُلِ فِي التَّرْبِيَةِ، أَنْ تَجِدَ المُؤْمِنَ القَوِيَّ
الحَازِمَ الدَّؤُوبَ حَيِيًّا خَجُولًا أَدِيبًا وَقُورًا.
Sungguh, termasuk bentuk keseimbangan dan tanda
kesempurnaan dalam pendidikan, jika engkau mendapati seorang mukmin yang kuat,
tegas, dan gigih, sekaligus memiliki rasa malu, bersopan santun, beradab, dan
berwibawa.
وَالحَيَاءُ المَمْدُوحُ: (خُلُقٌ يَبْعَثُ عَلَى
تَرْكِ القَبِيحِ)؛ كَمَا عَرَّفَهُ ابْنُ حَجَرٍ.
Rasa malu yang terpuji adalah: [Akhlak yang mendorong untuk meninggalkan hal yang buruk]; sebagaimana didefinisikan oleh Ibn Hajar. - Fathul Bari 10/522 pada penjelasan Bab Al-Haya' dari Kitab Al-Adab - Hadits 6118.
أَمَّا التَّحَرُّجُ مِنَ الأَمْرِ بِالمَعْرُوفِ،
وَالنَّهْيِ عَنِ المُنْكَرِ، وَاتِّخَاذِ المَوَاقِفِ الجَرِيئَةِ فِي الحَقِّ،
وَالتَّفَقُّهِ فِي الدِّينِ، فَلَيْسَ مِنَ الحَيَاءِ، وَهَذَا بَعْضُ مَا
أَشَارَ إِلَيْهِ ابْنُ حَجَرٍ حِينَ صَنَّفَ
الحَيَاءَ إِلَى شَرْعِيٍّ وَغَيْرِ شَرْعِيٍّ، فَقَالَ: (الشَّرْعِيُّ الَّذِي
يَقَعُ عَلَى وَجْهِ الإِجْلَالِ وَالاحْتِرَامِ لِلأَكَابِرِ -
وَهُوَ مَحْمُودٌ - وَأَمَّا مَا يَقَعُ سَبَبًا
لِتَرْكِ أَمْرٍ شَرْعِيٍّ، فَهُوَ مَذْمُومٌ وَلَيْسَ هُوَ بِحَيَاءٍ شَرْعِيٍّ،
وَإِنَّمَا هُوَ ضَعْفٌ وَمَهَانَةٌ).
Adapun rasa sungkan atau merasa berat untuk
menyuruh kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran, mengambil sikap yang
berani dalam kebenaran, serta memperdalam ilmu agama, maka itu bukanlah bagian
dari rasa malu. Inilah sebagian dari apa yang diisyaratkan oleh Ibn Hajar
ketika beliau membagi rasa malu menjadi dua: syar'i dan tidak syar'i. Beliau
berkata: [Rasa malu yang syar'i adalah yang terjadi atas dasar mengagungkan dan
menghormati orang yang lebih tua/berilmu — dan ini terpuji —. Adapun yang
menjadi sebab ditinggalkannya urusan syariat, maka itu tercela dan bukanlah
rasa malu yang syar'i, melainkan bentuk kelemahan dan kehinaan]. - Fathul Bari
1/229 pada penjelasan Bab Al-Haya' fil 'Ilm dari Kitab Al-Iman.
لَا يَنْبَغِي الحَيَاءُ فِي المُطَالَبَةِ
بِالحُقُوقِ، وَلَا فِي تَعْلِيمِ الجَاهِلِ، وَلَا فِي السُّؤَالِ عَمَّا لَا
نَعْلَمُ، فَقَدْ قَالَ مُجَاهِدٌ: لَا يَتَعَلَّمُ العِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلَا
مُتَكَبِّرٌ، وَقَالَتِ السَّيِّدَةُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: (نِعْمَ
النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ، لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ
فِي الدِّينِ)،
Rasa malu tidak boleh ada dalam menuntut hak, mengajarkan orang jahil (bodoh), maupun bertanya tentang apa yang tidak kita ketahui. Mujahid berkata: "Orang yang pemalu dan orang yang sombong tidak akan bisa menuntut ilmu." Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha juga berkata: [Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu agama]. Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-'Ilm - dari Tarjamah Bab 50 (Al-Fath 1/228).
وَكَانَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ تَسْأَلُ فِي مَسَائِلَ
دَقِيقَةٍ مِنْ أَحْكَامِ النِّسَاءِ، وَتَسْتَفْتِحُ سُؤَالَهَا بِقَوْلِهَا:
(يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الحَقِّ)،
Ibu Sulaim pernah bertanya tentang masalah-masalah
fiqih wanita yang sensitif/detail, dan beliau mengawali pertanyaannya dengan
berkata: [Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran]. Sumber
sebelumnya, pada penjelasan Ibn Hajar untuk potongan Hadits 130 dari Shahih
Al-Bukhari
قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: (أَيْ لَا يَأْمُرُ بِالحَيَاءِ
فِي الحَقِّ).
Ibn Hajar berkata: [Artinya: Allah tidak
memerintahkan untuk malu dalam hal menyangkut kebenaran]. - Sumber sebelumnya,
pada penjelasan Ibn Hajar untuk potongan Hadits 130 dari Shahih Al-Bukhari.
وَمَنْ لَمْ يُرْزَقِ الحَيَاءَ بِالفِطْرَةِ،
طُولِبَ بِهِ بِالقَصْدِ وَالاِكْتِسَابِ وَالتَّعَلُّمِ، خَاصَّةً وَأَنَّهُ
الخُلُقُ المُمَيِّزُ لِأَتْبَاعِ هَذَا الدِّينِ، كَمَا جَاءَ فِي الحَدِيثِ
الحَسَنِ: «إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الإِسْلَامِ الحَيَاءُ»،
Barangsiapa yang tidak dikaruniai rasa malu secara fitrah/bawaan, maka ia dituntut untuk mengusahakannya dengan niat, latihan, dan belajar. Terlebih lagi rasa malu merupakan akhlak pembeda bagi para pengikut agama ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits hasan: “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak (khas), dan akhlak Islam adalah rasa malu. Shahih Sunan Ibn Majah 2/406 - Hadits 3370/4181 (Hasan).
وَقَدْ وَرَدَ أَنَّهُ مِنْ سُنَنِ المُرْسَلِينَ،
وَأَنَّهُ مِنَ الإِيمَانِ: «الحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ، وَالإِيمَانُ فِي
الجَنَّةِ، وَالبَذَاءُ مِنَ الجَفَاءِ، وَالجَفَاءُ فِي النَّارِ»،
” Diriwayatkan pula bahwa malu adalah sunnah para
rasul dan bagian dari iman: “Rasa malu adalah bagian dari iman, dan iman
tempatnya di surga. Sedangkan perkataan/perbuatan kotor (keji) adalah bagian
dari tabiat kasar, dan tabiat kasar tempatnya di neraka.” Shahih Sunan Ibn
Majah 2/406 - Hadits 3373/4184 (Shahih).
وَقَدْ كَانَ حَبِيبُنَا وَقُدْوَتُنَا (أَشَدَّ
حَيَاءً مِنَ العَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا)
Kekasih dan teladan kita adalah [orang yang lebih
pemalu daripada gadis perawan di dalam pingitannya]. Shahih Al-Bukhari - Kitab
Al-Adab - Bab 77 - Hadits 6119 (Al-Fath 10/521).
(وَكَانَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - حَيِيًّا
كَرِيمًا يَسْتَحْيِي ..)،
dan [Rasulullah ﷺ
adalah seorang yang pemalu, pemurah, lagi maha pemalu..]. Musnad Ahmad 6/314.
وَبَعْدَ كُلِّ ذَلِكَ هَلْ نَخْتَارُ الحَيَاءَ أَمِ
البَذَاءَ؟ وَنَتَحَلَّى بِالإِيمَانِ أَمْ بِالجَفَاءِ؟ وَنُؤْثِرُ أَخْلَاقَ
أَهْلِ الجَنَّةِ أَمْ أَخْلَاقَ أَهْلِ النَّارِ؟ (
Setelah semua ini, apakah kita akan memilih rasa
malu atau kekejian? Berhias dengan iman atau tabiat yang kasar? Serta
mengutamakan akhlak penduduk surga atau akhlak penduduk neraka?)
لَقَدْ كَانَ أَهْلُ الجَاهِلِيَّةِ - عَلَى
جَاهِلِيَّتِهِمْ - يَتَحَرَّجُونَ مِنْ بَعْضِ القَبَائِحِ بِدَافِعِ الحَيَاءِ،
وَمِنْ ذَلِكَ مَا جَرَى مَعَ أَبِي سُفْيَانَ عِنْدَ هِرَقْلَ، لَمَّا سُئِلَ
عَنْ رَسُولِ اللهِ - ﷺ -، وَيَقُولُ فِي ذَلِكَ: (فَوَاللهِ لَوْلَا الحَيَاءُ
مِنْ أَنْ يَأْثُرُوا عَلَيَّ كَذِبًا، لَكَذَبْتُ عَنْهُ)،
Masyarakat Jahiliyah — meskipun dalam kejahiliyahan
mereka — merasa berat dan enggan melakukan sebagian keburukan karena dorongan
rasa malu. Di antaranya adalah apa yang terjadi pada Abu Sufyan di hadapan
Heraklius ketika ditanya tentang Rasulullah ﷺ,
Abu Sufyan berkata tentang momen tersebut: [Demi Allah, jikalau bukan karena
rasa malu kalau-kalau mereka mengutip kebohongan dariku, niscaya aku akan
berbohong tentangnya]. Shahih Al-Bukhari - Kitab Bad'ul Wahyi - Bab 6 - Hadits
7 (Al-Fath 1/31).
فَمَنَعَهُ مِنَ الحَيَاءِ الاِفْتِرَاءُ عَلَى
رَسُولِ اللهِ، لِئَلَّا يُوَصَفَ بِالكَذِبِ، وَيُشَاعَ عَنْهُ ذَلِكَ.
Jadi, rasa malulah yang menghalanginya membuat
kedustaan atas nama Rasulullah, agar ia tidak dijuluki sebagai pembohong dan
hal itu tersebar tentang dirinya.
وَكَذَلِكَ مَا جَرَى مَعَ السَّيِّدَةِ خَدِيجَةَ،
حَيْثُ وَافَقَ أَبُوهَا فِي حَضْرَةِ جَمْعٍ مِنْ قُرَيْشٍ - وَهُوَ سَكْرَانُ -
عَلَى خِطْبَتِهَا لِرَسُولِ اللهِ - ﷺ -. فَلَمَّا صَحَا مِنْ سُكْرِهِ،
وَفَكَّرَ بِالتَّرَاجُعِ، مَا رَدَعَتْهُ إِلَّا بِالاِسْتِحْيَاءِ مِنْ أَنْ
يُقِرَّ بِأَنَّهُ كَانَ سَكْرَانَ، فَقَالَتْ لَهُ: (أَمَا تَسْتَحْيِي؟ تُرِيدُ
أَنْ تُسَفِّهَ نَفْسَكَ عِنْدَ قُرَيْشٍ، تُخْبِرُ النَّاسَ أَنَّكَ كُنْتَ
سَكْرَانَ؟ فَلَمْ تَزَلْ بِهِ حَتَّى رَضِيَ)،
Demikian pula yang terjadi pada Sayyidah Khadijah,
ketika ayahnya menyetujui di hadapan majelis suku Quraisy — saat ia sedang
mabuk — lamaran Rasulullah ﷺ untuknya. Ketika
ayahnya sadar dari mabuknya dan berpikir untuk membatalkannya, Khadijah tidak
menghentikannya melainkan dengan memanfaatkan rasa malunya agar ayahnya tidak
mengakui bahwa ia sebelumnya mabuk. Khadijah berkata kepadanya: [Apakah engkau
tidak malu? Apakah engkau ingin membodohkan dirimu sendiri di hadapan Quraisy,
dengan memberitahu orang-orang bahwa engkau tadi mabuk?] Khadijah terus
membujuknya hingga ia merestui. Musnad Ahmad 1/312.
وَكَمْ يَحْتَاجُ المُسْلِمُونَ اليَوْمَ إِلَى
إِحْيَاءِ هَذَا الخُلُقِ بِالاِلْتِزَامِ بِالكَلِمَةِ وَالاِرْتِدَاعِ عَنِ
الوُقُوعِ فِي القَبَائِحِ أَوْ الشُّبُهَاتِ بِشَيْءٍ مِنَ الحَيَاءِ
Betapa besarnya kebutuhan umat Islam hari ini untuk
menghidupkan kembali akhlak ini dengan menepati janji/perkataan dan menahan
diri dari jatuh ke dalam keburukan atau syubhat dengan bermodalkan rasa malu.
تَرَى الرَّجُلَ الحَيِيَّ يَحْتَقِنُ وَجْهُهُ،
وَتَحْمَرُّ وَجْنَتَاهُ، إِذَا صَدَرَ مِنْهُ أَوْ مِنْ غَيْرِهِ مَا يُنَافِي
الحَيَاءَ: (كَانَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - أَشَدَّ حَيَاءً مِنْ عَذْرَاءَ فِي
خِدْرِهَا، وَكَانَ إِذَا كَرِهَ شَيْئًا رُئِيَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ).
Engkau dapat melihat lelaki yang memiliki rasa malu
akan memerah wajahnya dan kedua pipinya saat muncul dari dirinya atau dari
orang lain sesuatu yang mencederai rasa malu: [Rasulullah ﷺ adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis perawan di dalam
pingitannya, dan jika beliau membenci sesuatu, hal itu dapat terlihat dari
wajahnya]. Shahih Sunan Ibn Majah 2/406 Hadits 3369 (Shahih).
وَمِنْ سِمَةِ الحَيَاءِ: مَا يَتَمَيَّزُ بِهِ
الحَيِيُّ مِنْ مَظَاهِرِ الوَقَارِ وَالسَّكِينَةِ؛ إِذْ رُوِيَ عَنْ بَشِيرِ
بْنِ كَعْبٍ قَوْلُهُ: (مَكْتُوبٌ فِي الحِكْمَةِ: إِنَّ مِنَ الحَيَاءِ وَقَارًا،
وَإِنَّ مِنَ الحَيَاءِ سَكِينَةً).
Di antara ciri rasa malu adalah: apa yang
membedakan orang yang pemalu berupa ketenangan dan kewibawaan; sebagaimana
diriwayatkan dari Basyir bin Ka'ab ucapannya: [Tertulis dalam kitab hikmah:
Sesungguhnya di antara rasa malu ada kewibawaan, dan di antara rasa malu ada
ketenangan]. Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Adab Bab: 77 Hadits: 6117 (Al-Fath
10/521).
قَالَ القُرْطُبِيُّ: (مَعْنَى كَلَامِ بَشِيرٍ:
أَنَّ مِنَ الحَيَاءِ مَا يَحْمِلُ صَاحِبَهُ عَلَى الوَقَارِ، بِأَنْ يُوَقِّرَ
غَيْرَهُ، وَيَتَوَقَّرَ هُوَ فِي نَفْسِهِ، وَمِنْهُ مَا يَحْمِلُهُ عَلَى
أَنَّهُ يَسْكُنُ عَنْ كَثِيرٍ مِمَّا يَتَحَرَّكُ النَّاسُ فِيهِ مِنَ الأُمُورِ
الَّتِي لَا تَلِيقُ بِذِي المُرُوءَةِ ..)،
Al-Qurthubi berkata: [Makna perkataan Basyir
adalah: bahwa sebagian dari rasa malu ada yang mendorong pemiliknya untuk
berwibawa, yaitu dengan menghormati orang lain dan menjaga kehormatan dirinya
sendiri. Dan sebagian darinya ada yang mendorongnya untuk tenang dan diam dari
banyak hal yang biasa diperbuat manusia dari perkara-perkara yang tidak pantas
bagi pemilik kehormatan diri..]. Dari Fathul Bari 10/522 pada penjelasan Hadits
6117.
فَالحَيَاءُ يَحْجُزُ النَّفْسَ عَنْ كَثِيرٍ مِنْ
خَوَارِمِ المُرُوءَةِ، وَقَوَادِحِ الدِّينِ.
Maka rasa malu menahan diri dari berbagai hal yang
merusak kehormatan dan mencederai agama.
Termasuk rasa malu yang timbul atas dasar mengagungkan dan menghormati orang yang lebih tua: yaitu apa yang terjadi pada Ibn Umar ketika Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat: “Sesungguhnya di antara pepohonan ada satu pohon yang daunnya tidak gugur, dan ia merupakan perumpamaan bagi seorang muslim. Ceritakanlah kepadaku pohon apakah itu?” Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-'Ilm - Bab 4 - Hadits 61.
فَعَرَفَ ابْنُ عُمَرَ أَنَّهَا النَّخْلَةُ،
وَاسْتَحْيَا أَنْ يُجِيبَ، وَيُعَلِّلُ حَيَاءَهُ - كَمَا فِي رِوَايَاتِ
الحَدِيثِ - بِأَنَّهُ وَجَدَ نَفْسَهُ أَصْغَرَ الجَالِسِينَ، وَأَنَّهُ رَأَى
أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَا يَتَكَلَّمَانِ، فَكَرِهَ أَنْ يَتَكَلَّمَ.
Lalu Ibn Umar tahu bahwa pohon itu adalah pohon
kurma, namun ia malu untuk menjawab. Ia mengalasannya rasa malunya —
sebagaimana dalam riwayat-riwayat hadits — karena ia mendapati dirinya adalah
yang paling muda di antara yang duduk, serta ia melihat Abu Bakar dan Umar
tidak berbicara, maka ia enggan untuk berbicara. Fathul Bari 1/146.
كَمْ يَشْرَحُ الصَّدْرَ ذَلِكَ المُجْتَمَعُ الَّذِي
يَسْتَحْيِي فِيهِ الصَّغِيرُ مِنَ الكَبِيرِ، وَيَتَعَامَلُ النَّاسُ فِيهِ
بِالاِحْتِرَامِ وَالتَّوْقِيرِ.
Betapa melapangkan dada suatu masyarakat yang mana
orang mudanya malu kepada orang tuanya, dan orang-orang di dalamnya saling
berinteraksi dengan rasa hormat dan pemuliaan.
وَالحَيَاءُ بِنَفْسِهِ وِقَايَةٌ مِنَ الوُقُوعِ فِي
المَعَاصِي، فَقَدْ وَرَدَ أَنَّ أَحَدَ الصَّحَابَةِ كَانَ يُعَاتِبُ أَخَاهُ
عَلَى حَيَائِهِ، وَكَأَنَّمَا يَقُولُ لَهُ: قَدْ أَضَرَّ بِكَ الحَيَاءُ،
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ -: «دَعْهُ فَإِنَّ الحَيَاءَ مِنَ الإِيمَانِ»،
Rasa malu itu sendiri merupakan pelindung dari
jatuh ke dalam kemaksiatan. Telah diriwayatkan bahwa salah seorang sahabat
pernah menegur saudaranya karena rasa malunya, seolah-olah ia berkata padanya:
"Rasa malu telah membahayakanmu/menyusahkanmu." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Biarkan dia, karena
sesungguhnya rasa malu adalah bagian dari iman.” Shahih Al-Bukhari - Kitab
Al-Adab - Bab 77 - Hadits 6118 (Al-Fath 10/521).
قَالَ أَبُوعُبَيْدٍ الهَرَوِيُّ: (مَعْنَاهُ أَنَّ
المُنْقَطِعَ بِحَيَائِهِ عَنِ المَعَاصِي، فَصَارَ كَالإِيمَانِ القَاطِعِ
بَيْنَهُ وَبَيْنَ المَعَاصِي)،
Abu Ubaid Al-Harawi berkata: [Maknanya adalah bahwa
orang yang pemalu tercegah karena rasa malunya dari kemaksiatan, maka rasa malu
itu menjadi seperti iman yang memutus antara dirinya dengan kemaksiatan]. Dari
Fathul Bari 10/522 pada penjelasan Hadits 6118.
وَلِذَلِكَ عَمَّمَ الرَّسُولُ - ﷺ - فِي بَيَانِ
ثَمَرَاتِ الحَيَاءِ، فَقَالَ: «الحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ»،
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ memperluas cakupan penjelasan buah dari rasa malu dengan
bersabda: “Rasa malu tidak membawa kecuali kebaikan,” Shahih Al-Bukhari - Kitab
Al-Adab - Bab 77 - Hadits 6117.
وَوَصَفَهُ بِأَنَّهُ زِينَةٌ لِلسُّلُوكِ، فَقَالَ:
«مَا كَانَ الفُحْشُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا شَانَهُ، وَلَا كَانَ الحَيَاءُ فِي
شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا زَانَهُ».
dan beliau menyifatkannya sebagai perhiasan bagi
perilaku: “Tidaklah kekejian ada pada sesuatu melainkan akan memperburuknya,
dan tidaklah rasa malu ada pada sesuatu melainkan akan memperindahnya.” Shahih
Sunan Ibn Majah 2/407 Hadits 3374 (Shahih).
وَمَظَاهِرُ الخَجَلِ الاِجْتِمَاعِيِّ، الَّتِي قَدْ
تَجُرُّ إِلَى الشَّرِّ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الحَيَاءِ المَحْمُودِ
شَرْعًا؛ إِذْ إِنَّهُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ، وَمُدَارَاةُ بَعْضِ
الأَعْرَافِ الاِجْتِمَاعِيَّةِ المُنْحَرِفَةِ، لَا يُعَدُّ حَيَاءً؛ لِأَنَّ
الحَيَاءَ زَيْنٌ وَلَيْسَ بِشَيْنٍ، وَالاِنْحِرَافُ هُوَ عَيْنُ القُبْحِ
وَالشَّيْنِ.
Bentuk-bentuk rasa canggung/pemalu sosial yang
dapat membawa kepada keburukan tidak mungkin termasuk dalam rasa malu yang
terpuji secara syariat; karena rasa malu (syar'i) tidak membawa kecuali
kebaikan. Menuruti sebagian norma-norma sosial yang menyimpang tidak dianggap
sebagai rasa malu, sebab rasa malu adalah perhiasan dan bukan keburukan,
sedangkan penyimpangan itu adalah inti dari keburukan dan kecacatan.
وَكَمَا أَنَّ الحَيَاءَ أَدَبٌ مَعَ الخَلْقِ،
فَإِنَّ أَسْمَى صُوَرِهِ الأَدَبُ مَعَ الخَالِقِ، وَقَدْ وَرَدَ أَنَّ عَدَدًا
مِنَ الأَنْبِيَاءِ (آدَمَ - نُوحٍ - مُوسَى)، تُطْلَبُ مِنْهُمُ الشَّفَاعَةُ
يَوْمَ المَوْقِفِ، وَالنَّاسُ يَقُولُونَ لِكُلٍّ مِنْهُمْ - لَمَّا يَرَوْنَ
مِنْ هَوْلِ المَوْقِفِ -: «.. فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّكَ؛ حَتَّى يُرِيحَنَا
مِنْ مَكَانِنَا هَذَا، فَيَقُولُ: لَسْتُ هُنَاكُمْ - وَيَذْكُرُ ذَنْبَهُ
فَيَسْتَحْيِي - .. لَسْتُ هُنَاكُمْ - وَيَذْكُرُ سُؤَالَهُ رَبَّهُ مَا لَيْسَ لَهُ
بِهِ عِلْمٌ فَيَسْتَحْيِي - .. لَسْتُ هُنَاكُمْ - وَيَذْكُرُ قَتْلَ النَّفْسِ
بِغَيْرِ نَفْسٍ فَيَسْتَحْيِي مِنْ رَبِّهِ -»،
Sebagaimana rasa malu merupakan adab kepada
makhluk, maka bentuk yang paling tinggi adalah beradab kepada Sang Penciptا (Khaliq). Telah diriwayatkan bahwa
sejumlah nabi (Adam, Nuh, Musa) dimintai syafaat pada hari kiamat (di padang
mahsyar), dan manusia berkata kepada masing-masing dari mereka — karena
dahsyatnya kondisi saat itu —: [.. Minta kanlah syafaat untuk kami kepada
Rabbmu, agar Dia membebaskan kami dari tempat ini. Maka beliau menjawab: Aku
tidak berhak untuk itu — lalu ia mengingat dosanya dan merasa malu —, .. Aku
tidak berhak untuk itu — lalu ia mengingat permintaannya kepada Rabbnya tentang
hal yang tidak ia ketahui ilmunya dan merasa malu —, .. Aku tidak berhak untuk
itu — lalu ia mengingat perbuatannya membunuh jiwa tanpa alasan yang hak dan
merasa malu kepada Rabbnya —]. Shahih Al-Bukhari - Kitab At-Tafsīr - Surah 2 - Bab 1 - Hadits 4476
(Al-Fath 8/160).
وَكُلٌّ مِنْهُمْ مُتَحَرِّجٌ، وَيَمْنَعُهُ
الحَيَاءُ مِنَ الجُرْأَةِ عَلَى الشَّفَاعَةِ.
Setiap dari mereka merasa sungkan, dan rasa malu
menghalangi mereka untuk berani mendahului dalam memberi syafaat.
وَلِإِحْسَاسِ المُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا بِأَنَّ
اللهَ يَرَاهُ عَلَى جَمِيعِ أَحْوَالِهِ، فَإِنَّهُ يَسْتَحْيِي مِنْ رَبِّهِ،
وَلِذَلِكُ وَرَدَ فِي التَّسَتُّرِ عِنْدَ الاِغْتِسَالِ فِي الخَلْوَةِ،
قَوْلُهُ - ﷺ -: «اللهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ مِنَ النَّاسِ»،
Karena kesadaran seorang mukmin di dunia bahwa
Allah melihatnya dalam segala keadaannya, maka ia merasa malu kepada Rabbnya.
Oleh sebab itu, mengenai penutupan aurat saat mandi dalam keadaan sendiri, Nabi
ﷺ bersabda: “Allah lebih berhak untuk
seseorang merasa malu kepada-Nya daripada kepada manusia.” -Dari Mu'allaqat
Al-Bukhari dalam Kitab Al-Ghusl - Bab 20. Berkata dalam Al-Fath 1/386: (..
Dihasankan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Hakim).
وَالَّذِي يَسْتَحْيِي مِنْ رَبِّهِ، إِنْ كَشَفَ
عَوْرَتَهُ فِي خَلْوَتِهِ، حَرِيٌّ بِهِ أَنْ يَمْنَعَهُ الحَيَاءُ مِنَ
الإِقْدَامِ عَلَى مَعْصِيَةٍ.
Barangsiapa yang malu kepada Rabbnya ketika membuka
aurat di tempat sunyi, niscaya rasa malu itu sangat patut untuk mencegahnya
dari melakukan kemaksiatan.
وَيَكْفِي فِي فَضِيلَةِ الحَيَاءِ وَأَثَرِهِ، أَنَّ
الأَنْبِيَاءَ السَّابِقِينَ حَذَّرُوا مِنْ كَسْرِ حَاجِزِ الحَيَاءِ، لِئَلَّا
يَقَعَ المَرْءُ فِي كُلِّ القَبَائِحِ - وَلَيْسَ لَهُ رَادِعٌ وَلَا وَازِعٌ -
كَمَا فِي الحَدِيثِ: «إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ
الأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ».
Cukuplah sebagai keutamaan dan pengaruh rasa malu
bahwa para nabi terdahulu telah memperingatkan agar tidak merusak batasan rasa
malu, supaya seseorang tidak jatuh ke dalam segala keburukan — tanpa ada
penghalang maupun penahan — sebagaimana dalam hadits: “Sesungguhnya di antara
apa yang didapati manusia dari perkataan kenabian terdahulu adalah: Jika engkau
tidak malu, maka perbuatlah sesukamu.” Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Adab - Bab
78 - Hadits 6120 (Al-Fath 10/523).
وَمِنَ الوُجُوهِ الَّتِي يُفْهَمُ بِهَا هَذَا
الحَدِيثُ أَنَّهُ: حَيْثُ تَشْعُرُ
بِالحَرَجِ، وَتَخْشَى التَّأَثُّمَ، فَتَوَقَّفْ، وَحَيْثُ يَطْمَئِنُّ القَلْبُ،
وَلَا تَشْعُرُ بِالحَرَجِ، فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. فَاقِدُ الحَيَاءِ فَلْيَصْنَعْ
مَا يَشَاءُ، وَلْيَنْظُرْ بَعْدَئِذٍ مَاذَا يَفْعَلُ اللهُ بِهِ. لَيْسَ عَجِيبًا مَا نَرَاهُ مِنْ
مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ، إِذَا عَلِمْنَا أَنَّ رَادِعَ الحَيَاءِ قَدْ مَاتَ،
فَالَّذِي لَا يَسْتَحْيِي - عَادَةً - يَصْنَعُ مَا يَشَاءُ، بِلَا حَرَجٍ مِنْ
أَحَدٍ.
Di antara sisi pemahaman dari hadits ini adalah: Di
mana pun engkau merasa ragu/keberatan dan takut berbuat dosa, maka berhentilah.
Dan di mana pun hati merasa tenang serta tidak ada keraguan, maka perbuatlah
apa yang engkau kehendaki. Orang yang kehilangan rasa malu silakan berbuat
sesukanya, lalu lihatlah kelak apa yang akan Allah lakukan terhadapnya.
Bukanlah hal yang mengherankan dari apa yang kita lihat berupa kemungkaran
akhlak, jika kita tahu bahwa penahan rasa malu telah mati. Sebab orang yang tidak
memiliki rasa malu — biasanya — akan melakukan apa saja yang ia inginkan tanpa
merasa ragu/malu kepada siapa pun. Merujuk Fathul Bari 6/523 - Penjelasan
Hadits 3483 dan juga 10/523 - Penjelasan Hadits 6120.
أَفَلَا يَكُونُ كُلٌّ مِنَّا عَوْنًا لِأَخِيهِ فِي
مُجَاهَدَةِ النَّفْسِ، وَتَجَنُّبِ مَا لَا يَلِيقُ، وَالْتِزَامِ حُدُودِ
الأَدَبِ مَعَ الخَلْقِ وَالخَالِقِ، فِي الخَلْوَةِ وَالجَلْوَةِ، وَفِي
الغِيبَةِ وَالشَّهَادَةِ، فَقَدْ جَاءَ فِي الحَدِيثِ: «إِنَّ اللهَ عَزَّ
وَجَلَّ حَلِيمٌ، حَيِيٌّ، سِتِّيرٌ، يُحِبُّ الحَيَاءَ وَالسَّتْرَ ..»،
Tidakkah hendaknya setiap dari kita menjadi
penolong bagi saudaranya dalam menundukkan hawa nafsu, menjauhi hal yang tidak
pantas, serta memegang teguh batasan adab kepada makhluk dan Khaliq, baik saat
sendiri maupun ramai, dan saat tersembunyi maupun di hadapan publik? Dalam
hadits disebutkan: “Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla Maha Penyantun, Maha
Pemalu, Maha Penutup (keburukan), Dia menyukai rasa malu dan penutupan
(cela)..” Shahih Sunan An-Nasa'i 1/87 - Kitab Al-Ghusl - Bab 7 - Hadits 393
(Shahih).
وَرُبَّمَا كَانَ لِاقْتِرَانِ الحَيَاءِ وَالسَّتْرِ
فِيمَا يُحِبُّ اللهُ، إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ حَيْثُ وُجِدَ الحَيَاءُ، وُجِدَ
السَّتْرُ وَالعَفَافُ، وَحَيْثُ تَحِلُّ الجُرْأَةُ عَلَى القَبَائِحِ، يَحِلُّ
مَعَهَا التَّكَشُّفُ وَالفَضَائِحُ، وَعُيُوبُ
النَّفْسِ مَسْتُورَةٌ بِجِلْبَابِ الحَيَاءِ، فَإِذَا مَا نُزِعَ السَّتْرُ،
تَكَشَّفَتْ أَمْرَاضُ النُّفُوسِ، وَتَجَرَّأَ الصَّغِيرُ عَلَى الكَبِيرِ،
وَانْطَلَقَ النَّاسُ مِنْ كُلِّ قَيْدٍ، وَتَحَرَّرُوا مِنْ كُلِّ وَازِعٍ،
وَغَرِقُوا فِي أَوْحَالِ الرَّذِيلَةِ، وَسَتَبْقَى الفِطْرَةُ مَيَّالَةً إِلَى
الحَيَاءِ وَالسَّتْرِ.
Boleh jadi disandingkannya rasa malu dan penutupan
cela dalam hal yang dicintai Allah merupakan isyarat bahwa di mana ada rasa
malu, di situ ada perlindungan diri dan kesucian. Dan di mana ada keberanian
melakukan keburukan, di situ timbul penyingkapan dan keaiban. Aib-aib diri
terutup oleh jubah rasa malu; jika penutup itu dicabut, niscaya
penyakit-penyakit jiwa akan tersingkap, orang muda berani kepada orang tua,
manusia lepas dari segala batasan dan penahan, serta tenggelam dalam kubangan
kehinaan. Namun fitrah akan tetap cenderung kepada rasa malu dan tutupan cela.
خُلَاصَةُ هَذَا الفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ:
KESIMPULAN
· الحَيَاءُ خُلُقٌ يَبْعَثُ عَلَى تَرْكِ
القَبِيحِ.
- Rasa malu adalah akhlak yang mendorong untuk
meninggalkan keburukan.
· لَيْسَ مِنَ الحَيَاءِ الاِمْتِنَاعُ
عَنِ التَّعَلُّمِ أَوْ المُطَالَبَةِ بِالحُقُوقِ.
- Enggan belajar atau tidak menuntut hak bukanlah
bagian dari rasa malu.
· إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ
الإِسْلَامِ الحَيَاءُ.
-
Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak khas, dan akhlak Islam adalah rasa
malu.
· أَهْلُ الجَاهِلِيَّةِ كَانَ عِنْدَهُمْ
مِنَ الحَيَاءِ مَا يَمْنَعُهُمْ مِنْ بَعْضِ القَبَائِحِ.
- Masyarakat Jahiliyah memiliki rasa malu yang
mencegah mereka dari sebagian keburukan.
· الحَيَاءُ وَقَارٌ وَمُرُوءَةٌ.
- Rasa malu adalah kewibawaان dan kehormatan diri.
· مِنَ الحَيَاءِ احْتِرَامُ الأَكَابِرِ.
- Termasuk rasa malu adalah menghormati orang yang
lebih tua/berilmu.
· الحَيَاءُ وِقَايَةٌ مِنَ الوُقُوعِ فِي
المَعَاصِي.
- Rasa malu adalah pelindung dari jatuh ke dalam
maksiat.
· مِنْ أَسْمَى الحَيَاءِ التَّأَدُّبُ
مَعَ الخَالِقِ.
- Di antara rasa malu yang paling tinggi adalah
beradab kepada Sang Penciptا.
· الحَيَاءُ وَصِيَّةُ النُّبُوَّةِ
الأُولَى.
- Rasa malu adalah wasiat dari ajaran kenabian
terdahulu.
· كَمَالُ الحَيَاءِ حِينَ يَكُونُ مَعَ
السَّتْرِ.
- Kesempurnaan rasa malu adalah ketika dibersamai
dengan menjaga/menutup cela.
📙📙📙 Sumber:
هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan
Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. Dipersilahkan - share


