AKHLAK KITA DALAM ILAHIYAH
Ketiga
الْوَرَعُ
Wara' - Hati-hati
كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ
Jadilah Orang Wara', niscaya Engkau Menjadi Orang yang Paling banyak Ibadah
إِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ وَقَدَرَهُ حَقَّ قَدْرِهِ وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِ وَشَعَائِرَهُ
"Sesungguhnya barangsiapa yang mengenal Rabbnya dan memahami kedudukan-Nya sebagaimana mestinya, serta memuliakan hal-hal yang diharamkan-Nya dan syiar-syiar agama-Nya,
يَصِلُ بِهِ التَّعْظِيمُ إِلَى الْحَيْطَةِ وَالْحَذَرِ مِنْ كُلِّ مَا يَكُونُ مَظِنَّةَ غَضَبِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْحَالِ أَوْ فِي الْمَآلِ
maka rasa penghormatan itu akan membawanya kepada sikap hati-hati dan waspada dari segala sesuatu yang menjadi sebab datangnya murka Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang."
فَالْوَرَعُ عِنْدَهُ نَوْعٌ مِنَ الْخَشْيَةِ وَالرَّهْبَةِ تَجْعَلُهُ يَتْرُكُ كَثِيرًا مِنَ الْمُبَاحَاتِ
Maka, orang yang wara' memiliki rasa takut yang membuatnya meninggalkan hal-hal mubah (yang dibolehkan),
إِنِ الْتَبَسَتْ عَلَيْهِ مَعَ الْحَرَامِ لِئَلَّا يُجَازِفَ بِدِينِهِ؛
jika baginya hal-hal tersebut bercampur aduk dengan hal-hal haram, agar ia tidak mempertaruhkan agamanya.
وَلِهَذَا عَرَّفَ الْهَرَوِيُّ الْوَرَعَ بِقَوْلِهِ: (الْوَرَعُ تَوَقٍ مُسْتَقْصًى عَلَى حَذَرٍ، وَتَخَرُّجٌ عَلَى تَعْظِيمٍ)
Oleh karena itu, al-Harawi mendefinisikan kata wara' dengan ucapannya, "Wara' adalah menjauhi maksiat secara optimal dengan penuh hati-hati, dan menjauhi dosa dengan penuh takzim (pengagungan kepada Allah). " Tahdzib Madarij as-Salikin, hlm. 290.
وَمِنَ الْعَلَامَاتِ الْأَسَاسِيَّةِ لِلْوَرِعِينَ شِدَّةُ حَذَرِهِمْ مِنَ الْحَرَامِ وَضَعْفُ جُرْأَتِهِمْ عَلَى الْإِقْدَامِ إِلَى مَا قَدْ يَجُرُّ إِلَى الْحَرَامِ
Karakteristik dasar orang-orang yang wara' adalah mereka menjauhi perkara haram dan tidak berani melakukan suatu hal yang dapat membawa dirinya kepada perkara haram.
وَفِي ذَلِكَ يَقُولُ رَسُولُ اللهِ ﷺ
Ber-kaitan dengan hal tersebut Rasulullah ﷺ bersabda,
«الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ، فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ، وَمَنِ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيهِ مِنَ الْإِثْمِ أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ
"(Hukum) yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, sehingga di antara keduanya merupakan perkara-perkara yang syubhat. Barangsiapa meninggalkan dosa yang (hukumnya) masih samar, maka ia akan meninggalkan dosa yang (hukumnya) sudah jelas, dan barangsiapa berani melakukan dosa yang masih diragukan (samar) maka ia akan melakukan dosa yang (hukumnya) sudah jelas. "
Shahih Bukhari, kitab al-Buyu, bab 2, hadits 2051 al-Fath 4/290
فَمَنْ تَجَرَّأَ عَلَى مَوَاضِعِ الرِّيبَةِ وَالشَّكِّ تَزْدَادُ جُرْأَتُهُ عَلَى مَا هُوَ أَشَدُّ
Orang yang berani melakukan hal-hal yang (hukumnya) diragukan maka akan lebih berani melakukan perbuatan yang lebih buruk.
وَإِنَّهُ مَنْ يُخَالِطُ الرِّيبَةَ يُوشِكُ أَنْ يَجْسُرَ
"Barangsiapa menjerumuskan dirinya pada perbuatan yang diragukan maka ia akan menjadi lebih berani. " Sunan Abu Daud, kitab Jual Beli, bab 3, hadits 3329 dari berbagai riwayat hadits, "Yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas..."
فَالْوَرَعُ الْحَقِيقِيُّ كَمَا وَصَفَهُ يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ
Sifat wara' yang hakiki adalah sebagaimana yang di jelaskan oleh Yunus bin 'Ubaid,
(الْخُرُوجُ مِنْ كُلِّ شُبْهَةٍ وَمُحَاسَبَةُ النَّفْسِ فِي كُلِّ طَرْفَةِ عَيْنٍ)
"Meninggalkan dari setiap hal yang syubhat (hukumnya samar) dan menginstrospeksi diri setiap kejap mata." Tahdzib Madarij as-Salikin, hlm. 290
وَرِحْلَةُ الِانْحِدَارِ تَبْدَأُ بِزَلَّةٍ وَاحِدَةٍ
Terperosok ke jurang yang dalam bermula dari sebuah ketergelinciran.
وَالْحَرِيصُ عَلَى آخِرَتِهِ يَجْعَلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الِانْزِلَاقِ وِقَايَاتٍ تَسْتُرُهُ وَتَحْمِيهِ
Orang yang senantiasa menginginkan (ke-bahagiaan) maka akhiratnya akan menjadikan sebagai pelindung dirinya dari ketergelinciran.
وَقَدْ أَشَارَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى الشَّيْخُ الْقَبَّارِيُّ بِقَوْلِهِ
Syekh al-Qabbari telah meng-isyaratkan hal ini dengan perkataannya,
(الْمَكْرُوهُ عَقَبَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَالْحَرَامِ؛ فَمَنْ اسْتَكْثَرَ مِنَ الْمَكْرُوهِ تَطَرَّقَ إِلَى الْحَرَامِ، وَالْمُبَاحُ عَقَبَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَكْرُوهِ؛ فَمَنْ اسْتَكْثَرَ مِنْهُ تَطَرَّقَ إِلَى الْمَكْرُوهِ)
"Perkara yang makruh merupakan penghalang antara seorang hamba dengan perkara yang haram. Barangsiapa sering melakukan hal yang makruh, maka ia akan masuk ke dalam hal yang haram. Sedangkan perkara yang mubah merupakan penghalang antara seorang hamba dengan perkara yang makruh. Barangsiapa sering melakukan hal yang mubah maka ia akan masuk ke dalam hal yang makruh." Fat-hu al-Baari 1/127 ketika menjelaskan hadits 52 al-Halalu Bayyinun pada kitab Iman, bab 39.
وَاسْتَحْسَنَ ابْنُ حَجَرٍ قَوْلَهُ هَذَا وَزَادَ عَلَيْهِ
Ibnu Hajar menganggap bahwa pendapatnya itu baik lalu menambahkan,
(أَنَّ الْحَلَالَ حَيْثُ يُخْشَى أَنْ يَؤُولَ فِعْلُهُ مُطْلَقًا إِلَى مَكْرُوهٍ أَوْ مُحَرَّمٍ يَنْبَغِي اجْتِنَابُهُ
"Melakukan hal yang halal yang dapat menyebabkan terjerumus kepada hal yang makruh atau haram, yang seharusnya dijauhi.
كَالْإِكْثَارِ - مَثَلًا - مِنَ الطَّيِّبَاتِ فَإِنَّهُ يُحْوِجُ إِلَى كَثْرَةِ الِاكْتِسَابِ الْمُوقِعِ فِي أَخْذِ مَا لَا يَسْتَحِقُّ
Seperti terlalu banyak memakan makanan, maka itu akan menyebabkan seseorang banyak bekerja sehingga menjadikan ia berani mengambil barang yang bukan haknya,
أَوْ يُفْضِي إِلَى بَطَرِ النَّفْسِ وَأَقَلُّ مَا فِيهِ الِاشْتِغَالُ عَنْ مَوَاقِفِ الْعُبُودِيَّةِ، وَهَذَا مَعْلُومٌ بِالْعَادَةِ، مُشَاهَدٌ بِالْعِيَانِ...)
atau dirinya menjadi sombong hingga tidak memperhatikan aktivitas ubudiyyah (ketundukan kepada Allah). Hal ini sudah menjadi kebiasaan dan dapat disaksikan oleh mata." Fat-hu al-Baari 1/127.
وَالْعَلَامَةُ الْأَسَاسِيَّةُ لِصَاحِبِ الْوَرَعِ قُدْرَتُهُ عَلَى تَرْكِ مَا فِيهِ مُجَرَّدُ الشَّكِّ أَوِ الشُّبْهَةِ كَمَا قَالَ الْخَطَّابِيُّ
Karakteristik dasar orang yang wara' adalah mampu me-ninggalkan sesuatu yang meragukan (syubhat), sebagaimana dijelaskan oleh al-Khaththabi,
(كُلُّ مَا شَكَكْتَ فِيهِ فَالْوَرَعُ اجْتِنَابُهُ)
"Jika ada sesuatu yang engkau ragukan, maka meninggalkannya merupakan sifat wara'." Fat-hu al-Baari 4/293, dari penjelasan bab 3, kitab Buyu'
وَنَقَلَ الْبُخَارِيُّ عَنْ حَسَّانِ بْنِ أَبِي سِنَانٍ قَوْلَهُ
Bukhari mengutip perkataan Hasan bin Abu Sanan,
(مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَهْوَنَ مِنَ الْوَرَعِ: دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ)
"Aku tidak mendapatkan sesuatu yang lebih ringan (dilakukan) daripada wara, maka tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan beralihlah kepada apa yang tidak meragukanmu." Shahih Bukhari, dari pendahuluan bab 3, kitab Iman.
كَمَا وَرَدَ عَنِ الرَّسُولِ اللهِ أَنَّهُ قَالَ
Sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda,
(الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ - وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ)
"Kebaikan adalah sesuatu yang dapat menenangkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah sesuatu yang tidak dapat menenangkan jiwa dan hati-sekalipun para ahli fatwa memberikan fatwa kepadamu." Shahih al-Jami' no. 2881 (shahih).
وَيُؤَكِّدُ ذَلِكَ مَا رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ مُرْسَلًا: (مَا أَنْكَرَهُ قَلْبُكَ فَدَعْهُ)
Hal itu dikuatkan juga oleh riwayat Ibnu 'Asakir secara mursal, "Apa yang diingkari oleh hatimu maka tinggalkanlah. " Shahih al-Jami' no. 5564 (shahih).
وَأَصْحَابُ الْمَرَاتِبِ الْعَالِيَةِ يَحْتَاطُونَ لِأَنْفُسِهِمْ بِالْحَذَرِ مِنْ بَعْضِ الْحَلَالِ الَّذِي قَدْ يُفْضِي إِلَى شَيْءٍ مِنَ الْمَكْرُوهِ أَوِ الْحَرَامِ، فَقَدْ وَرَدَ عَنِ الرَّسُولِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ
Orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi sangat berhati-hati dari sebagian hal yang halal yang dapat membawa kepada hal yang makruh atau haram. Rasulullah ﷺ bersabda,
«لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ الْبَأْسُ»
"Seorang hamba tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa, jika ia meninggalkan sesuatu yang dibolehkan karena khawatir terjerumus pada sesuatu yang tidak dibolehkan." Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dihasankan olehnya, dan ahli hadits lainnya Jami' Al-Ushul 4/682 hadits 2791).
وَيُؤَكِّدُهُ الْحَدِيثُ الْآخَرُ: «اجْعَلُوا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الْحَرَامِ سِتْرًا مِنَ الْحَلَالِ...»
Hal tersebut dikuatkan oleh hadits yang lain, "Buatlah perkara yang halal sebagai pembatas antara kalian dari perkara yang haram," Shahih al-Jami'no. 152 (shahih).
وَمِنْ لَطِيفِ مَا حَدَّثَ بِهِ ابْنُ الْقَيِّمِ -رَحِمَهُ اللهُ- قَالَ: قَالَ لِي يَوْمًا شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللهُ رُوحَهُ فِي شَيْءٍ مِنَ الْمُبَاحِ
Perkataan Ibnu al-Qayyim yang sangat menarik adalah, "Pada suatu hari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (semoga Allah menyucikan ruhnya) berkata kepadaku mengenai suatu hal yang mubah,
«هَذَا يُنَافِي الْمَرَاتِبَ الْعَالِيَةَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَرْكُهُ شَرْطًا فِي النَّجَاةِ»
'Hal ini (sesuatu yang mubah) dapat menghilangkan kedudukan yang tinggi, walaupun meninggalkannya bukanlah merupakan syarat untuk menuju keselamatan." Tahdzib Madarij as-Salikin, hlm. 292.
وَكَمَا يَشْمَلُ الْوَرَعُ صُوَرَ الْكَسْبِ وَالْمُعَامَلَاتِ فَإِنَّهُ يَشْمَلُ اللِّسَانَ
Sebagaimana wara' berlaku pada pekerjaan, mu'amalah (interaksi sosial) dan lisan juga demikian.
فَقَدْ تَجِدُ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَنْدَفِعُونَ إِلَى الْفَتْوَى وَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ؛
Banyak sekali orang yang berani berfatwa sedangkan mereka tidak mengerti.
وَلِذَلِكَ عَقَدَ الدَّارِمِيُّ بَابًا فِي "التَّوَرُّعِ عَنِ الْجَوَابِ فِيمَا لَيْسَ فِيهِ كِتَابٌ وَلَا سُنَّةٌ"
Oleh karena itu, ad-Darimi membuat suatu bab dalam kitabnya, "Bersikap, wara jika dalam suatu masalah yang tidak ada jawabannya, maka dapat memberikan jawabannya pada Al-Qur'an dan Sunnah."
وَيَعْتَبِرُ إِسْحَاقُ بْنُ خَلَفٍ الْوَرَعَ فِي الْكَلَامِ أَشَدَّ مِنَ الْوَرَعِ فِي التَّعَامُلَاتِ الْمَالِيَةِ حَيْثُ يَقُولُ
Ishaq bin Khalaf berpendapat bahwa bersikap wara' dalam berbicara lebih diperlukan daripada bersikap wara' dalam urusan dagang. Ia berkata,
«الْوَرَعُ فِي الْمَنْطِقِ أَشَدُّ مِنْهُ فِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ...»
"Bersikap wara' dalam berbicara lebih diperlukan daripada bersikap wara dalam (urusan dagang) emas dan perak."
وَمِنْ تَأَمُّلِ ابْنِ الْقَيِّمِ فِي أَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَعْلَنَ أَنَّهُ
Setelah Ibnu al-Qayyim merenungkan hadits-hadits Nabi ﷺ beliau berpendapat,
(جَمَعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الْوَرَعَ كُلَّهُ فِي كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ فَقَالَ: «مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»)
"Rasulullah ﷺ menggabungkan wara' hanya dalam satu kalimat saja. Beliau bersabda, 'Seseorang yang Islamnya baik adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya." Tahdzibu Madariki as-Salikin hlm. 292.
وَمِنَ الثَّمَرَاتِ الْبَارِزَةِ لِخُلُقِ الْوَرَعِ أَنَّهُ يَعْصِمُ صَاحِبَهُ مِنَ الِاسْتِدْرَاجِ، لِذَلِكَ تَجِدُ
Buah (hasil dari akhlak wara adalah menjaga seseorang dari istidraj (penipuan). Oleh karena itu, kamu dapat menyaksikan,
(مَنْ تَعَاطَى مَا نُهِيَ عَنْهُ يَصِيرُ مُظْلِمَ الْقَلْبِ لِفِقْدَانِ نُورِ الْوَرَعِ فَيَقَعُ فِي الْحَرَامِ وَلَوْ لَمْ يَخْتَرْ الْوُقُوعَ فِيهِ)
"Orang yang sibuk mengerjakan hal terlarang maka hatinya menjadi gelap karena kehilangan cahaya wara, sehingga ia terjerumus pada hal yang haram sekalipun ia tidak menghendakinya." Fat-hu al-Baari 1/127-128 dari penjelasan bab 39 kitab al-Iman.
كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرٍ. وَفِي حَدِيثِ الْإِفْكِ
Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar. Dalam hadits Al-Ifki (berita palsu),
تَقُولُ السَّيِّدَةُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ السَّيِّدَةِ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ حَيْثُ حَمَتْ سَمْعَهَا وَبَصَرَهَا مِنَ الْخَوْضِ فِيمَا لَا تَعْلَمُ
"Aisyah berbicara tentang Zainab binti Jahsy yang telah menjaga mata dan telinganya dari mencampuri perkara yang tidak diketahuinya, (Maksudnya, Zainab tidak mempercayai berita palsu itu-penerj.)
«فَعَصَمَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْوَرَعِ»
Allah telah melindunginya dengan wara." Shahih Bukhari, kitab al-Maghazi, bab 34, hadits 4141 (a/-Fat-h7/431).
كَمَا أَنَّ صَاحِبَ الْوَرَعِ يَحْمِي دِينَهُ وَعِرْضَهُ مِنَ الطَّعْنِ
Orang yang wara juga menjaga agama dan harga dirinya dari tuduhan,
(فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ)
"Barangsiapa menjauhi hal-hal syubhat maka agama dan harga dirinya telah bebas. " Shahih Bukhari, kitab al-Iman, bab 39, hadits 52 (al-Fat-h 1/126).
يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ: «وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَوَقَّ الشُّبُهَاتِ فِي كَسْبِهِ وَمَعَاشِهِ فَقَدْ عَرَّضَ نَفْسَهُ لِلطَّعْنِ فِيهِ، وَفِي هَذَا إِشَارَةٌ إِلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى أُمُورِ الدِّينِ وَمُرَاعَاةِ الْمُرُوءَةِ»
Ibnu Hajar berkomentar, "Hadits tersebut merupakan dalil bahwa orang yang melakukan hal-hal syubhat (samar) dalam pekerjaan dan kehidupannya sungguh telah menyerahkan dirinya untuk dituduh. Ini isyarat untuk menjaga perkara-perkara agama dan harga diri. " Fat-hu al-Baari 1/127.
فَإِذَا كَانَتْ أَعْلَى مَنَازِلِ الْعِبَادَةِ الْوَرَعُ
Maka, telah jelas bahwa kedudukan ibadah tertinggi adalah wara",
(كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ)
"Jadilah orang yang wara niscaya engkau menjadi orang yang paling beribadah, " Shahih al-Jami' no. 4580 (shahih).
وَإِنْ كَانَ أَفْضَلُ الدِّينِ التَّوَرُّعُ (خَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ)؛
dan telah jelas bahwa sebaik-baik aktivitas dalam beragama adalah wara', "Sebaik-baik aktivitas dalam agama kalian adalah bersikap wara." Shahih al-Jami' no. 3308.
أَفَلَا يَرْتَقِي الدَّاعِيَةُ الْمُؤْمِنُ إِلَى تِلْكَ الذِّرْوَةِ وَيَرْبَأُ بِنَفْسِهِمْ عَنِ السُّقُوطِ وَالِانْزِلَاقِ
Maka, bukankah seorang dai menaiki puncak tersebut dan menyelamatkan jiwanya dari ketergelinciran yang dapat menyebabkan dirinya menjadi jatuh (terjerumus).
وَهُوَ الْحَرِيُّ بِالْحَذَرِ وَالِاحْتِيَاطِ وَالْخَوْفِ مِنْ أَنْ يَحْبَطَ عَمَلُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ
Hal inilah yang perlu diwaspadai sebelum amalnya menjadi sia-sia tanpa disadarinya.
فَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الصَّحَابَةِ كَانُوا يَخَافُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ مِنَ النِّفَاقِ
Para sahabat merasa khawatir pada sifat munafik yang dapat menimpa diri mereka.
وَيُعَلِّلُ ابْنُ حَجَرٍ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ: «وَلَا يَلْزَمُ مِنْ خَوْفِهِمْ مِنْ ذَلِكَ - أَيِ النِّفَاقِ - وُقُوعُهُ مِنْهُمْ بَلْ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْمُبَالَغَةِ مِنْهُمْ فِي الْوَرَعِ وَالتَّقْوَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Ibnu Hajar mengemukakan sebab mengapa mereka-demikian, "Bukan berarti rasa khawatir mereka terhadap nifak itu menunjukkan bahwa mereka tertimpa nifak, namun perasaan tersebut ada karena mereka terlalu wara' dan bertakwa." Fat-hu al-Baari 1/111 dari penjelasan bab 36 kitab Iman.
هَكَذَا كَانُوا، فَلْنُرَاجِعْ أَنْفُسَنَا وَلْنُزِنْ أَعْمَالَنَا
Demikian keadaan para sahabat Rasul ﷺ, maka hendaklah kita menginstrospeksi diri dan menimbang amal-amal kita.
خَلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN
الْوَرَعُ: خَشْيَةٌ تَدْفَعُ إِلَى تَرْكِ كَثِيرٍ مِنَ الْمُبَاحَاتِ احْتِيَاطًا
Wara' adalah rasa takut yang dapat menyebabkan seseorang a meninggalkan hal-hal mubah karena berhati-hati.
مِنْ عَلامَاتِ الْوَرَعِ
Karakteristik orang yang wara
- شِدَّةُ الْحَذَرِ مِنَ الْحَرَامِ وَالشُّبُهَاتِ
Sangat berhati-hati dari hal-hal haram dan syubhat (yang samar, tidak jelas halal atau haramnya).
- اتِّخَاذُ وِقَايَةٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَنْهِيَّاتِ
Membuat pelindung yang dapat melindunginya dari hal-hal terlarang:
- اجْتِنَابُ كُلِّ مَا يَشُكُّ فِيهِ
Menjauhi hal-hal yang meragukan.
- عَدَمُ التَّوَسُّعِ فِي الْمُبَاحِ
Tidak berlebihan dalam melakukan hal-hal mubah.
- عَدَمُ الْفَتْوَى بِغَيْرِ عِلْمٍ
Tidak memberikan fatwa jika tidak tahu.
- تَرْكُهُ مَا لَا يُعِينُهُ
Meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.
مِنْ ثَمَرَاتِ الْوَرَعِ
Hasil dari sifat wara
- تَحْصِينُ النَّفْسِ مِنَ الاسْتِدْرَاجِ
Menjaga diri dari istidraj (penipuan).
- حِمَايَةُ الدِّينِ وَالْعِرْضِ
Menjaga agama dan harga diri.
مِنْ وَرَعِ الصَّحَابَةِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَخْشَوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ مِنَ النِّفَاقِ
Karena para sahabat sangat wara', maka mereka merasa khawatir pada nifak yang dapat menimpa mereka.
♥♥♥
Sumber:
هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan
Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan - share Semoga bermanfaat




