AKHLAQ KITA DALAM PERASAAN – EMOSI -
الفصل الثاني : الطيبة
BAB KEDUA : KEBAIKAN
«حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ
الطَّيِّبِ».
"Hingga Dia membedakan yang buruk dari yang
baik."
نَعْنِي بِالطَّيِّبَةِ سَلَامَةَ الصَّدْرِ،
وَصَفَاءَ النَّفْسِ، وَرِقَّةَ الْقَلْبِ،
Yang kami maksud dengan kebaikan hati
(at-thayyibah) adalah keselamatan dada (bersih dari kedengkian), kesucian jiwa,
dan kelembutan hati.
وَيَتَأَصَّلُ هَذَا الْخُلُقُ بِاسْتِمْرَارِ
التَّزْكِيَةِ لِلنَّفْسِ، ثُمَّ تَنعَكِسُ آثَارُهُ عَلَى السُّلُوكِ: أُخُوَّةً
وَسَمَاحَةً وَسَكِينَةً وَوَفَاءً،
Akhlak ini mengakar kuat dengan terus-menerus
menyucikan jiwa, kemudian dampaknya dalam bentuk persaudaraan, kelapangan
dada, ketenangan, dan kesetiaan.terpancar pada perilaku
وَالَّذِينَ يَفْتَقِدُونَ هَذَا الْخُلُقَ،
تَرَاهُمْ غَارِقِينَ فِي صُوَرٍ مِنَ التَّحَالِيلِ وَالْكَيْدِ، وَسُوءِ
الظَّنِّ وَالْخُبْثِ.
Adapun orang-orang yang kehilangan akhlak ini,
Engkau akan melihat mereka tenggelam dalam berbagai bentuk kelicikan, tipu
daya, prasangka buruk, dan keburukan.
وَمَعْنَى «الطَّيِّبِ» فِي اللُّغَةِ: الطَّاهِرُ
وَالنَّظِيفُ، وَالْحَسَنُ وَالْعَفِيفُ، وَالسَّهْلُ وَاللَّيِّنُ، وَذُو
الْأَمْنِ وَالْخَيْرِ الْكَثِيرِ، وَالَّذِي لَا خُبْثَ فِيهِ وَلَا غَدْرَ
Makna "at-thayyib" secara
bahasa adalah: yang suci dan bersih, yang baik dan menjaga diri, yang mudah dan
lembut, yang membawa keamanan serta kebaikan yang banyak, serta yang tidak ada
keburukan dan pengkhianatan di dalamnya. Rujukan dapat dilihat dalam Lisan
al-'Arab, (طيب) 1/563
وَمِنْ هَذِهِ الْمَعَانِي نَفْهَمُ الْمُرَادَ
بِالرَّجُلِ الطَّيِّبِ، وَالزَّوْجَةِ الطَّيِّبَةِ، وَالْبَلْدَةِ الطَّيِّبَةِ،
وَالْقَوْلِ الطَّيِّبِ، وَالذُّرِّيَّةِ الطَّيِّبَةِ، وَالرِّيحِ الطَّيِّبَةِ،
وَالْحَيَاةِ الطَّيِّبَةِ، وَكُلُّهَا مَعَانِي طُهْرٍ وَعِفَّةٍ وَصَفَاءٍ
وَنَقَاءٍ، وَهَذَا حَالُ صَاحِبِ خُلُقِ «الطَّيِّبَةِ».
Dari makna-makna inilah kita memahami apa yang
dimaksud dengan laki-laki yang baik, istri yang baik, negeri yang baik,
perkataan yang baik, keturunan yang baik, angin yang sepoi/baik, dan kehidupan
yang baik; yang semuanya mengandung makna kesucian, penjagaan diri, kejernihan,
dan kebersihan. Inilah keadaan orang yang memiliki akhlak "kebaikan
hati".
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حِينَ خَلَقَ بَنِي
آدَمَ «جَعَلَ مِنْهُمُ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَالْأَسْوَدَ وَبَيْنَ ذَلِكَ،
وَالسَّهْلَ وَالْحَزْنَ وَبَيْنَ ذَلِكَ، وَالْخَبِيثَ وَالطَّيِّبَ وَبَيْنَ
ذَلِكَ» ،
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla ketika menciptakan
anak cucu Adam "menjadikan di antara mereka ada yang berkulit merah,
putih, hitam, dan di antara itu; ada yang berkarakter mudah/lembut,
keras/kasar, dan di antara itu; serta ada yang buruk, baik, dan di antara
itu". Musnad Ahmad 4/406. Disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih
al-Jami' nomor 1759.
وَلَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ، وَلَا
يَأْتَلِفُ كُلُّ وَاحِدٍ إِلَّا مَعَ قَرِينِهِ وَشَبِيهِهِ.
Dan tidaklah sama antara yang buruk dan yang baik,
serta tidaklah setiap orang dapat bersatu/cocok melainkan dengan kerabat dan
yang serupa dengannya.
وَحِرْصًا مِنَ النَّبِيِّ - ﷺ - عَلَى اعْتِزَازِ
الْمُؤْمِنِ بِالطَّيِّبَةِ، نَهَاهُ أَنْ يَنْسُبَ الْخُبْثَ إِلَى نَفْسِهِ،
فَقَالَ:
Karena ketamakan Nabi
ﷺ agar seorang mukmin bangga dengan kebaikannya, beliau melarangnya
untuk menisbatkan keburukan kepada dirinya sendiri, lalu beliau bersabda
«لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ خَبُثَتْ نَفْسِي ..»
"Jangan
sekali-kali salah seorang dari kalian mengatakan: Jiwaku telah buruk... Sahih
al-Bukhari - Kitab al-Adab - Bab 100 - Hadis 6179 (al-Fath 10/563).
(2) Fath al-Bari 10/564
وَيُورِدُ ابْنُ حَجَرٍ قَوْلَ ابْنِ أَبِي حَمْزَةَ
فِي بَيَانِ الْحِكْمَةِ مِنْ هَذَا النَّهْيِ، فَيَقُولُ:
Ibnu Hajar mengutip perkataan Ibnu Abi Hamzah dalam
menjelaskan hikmah dari larangan ini, beliau berkata:
(وَفِيهِ أَنَّ الْمَرْءَ يَطْلُبُ الْخَيْرَ
حَتَّى بِالْفَأْلِ الْحَسَنِ، وَيُضِيفُ الْخَيْرَ إِلَى نَفْسِهِ وَلَوْ
بِنِسْبَةٍ مَا، وَيَدْفَعُ الشَّرَّ عَنْ نَفْسِهِ مَهْمَا أَمْكَنَ، وَيَقْطَعُ
الْوَصْلَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَهْلِ الشَّرِّ حَتَّى فِي الْأَلْفَاظِ
الْمُشْتَرَكَةِ)
(Di
dalamnya terdapat petunjuk bahwa seseorang hendaknya mencari kebaikan bahkan
melalui anggapan baik (fa'l hasan), menisbatkan kebaikan kepada dirinya walau
hanya sedikit, menolak keburukan dari dirinya sedapat mungkin, dan memutuskan
hubungan antara dirinya dengan pelaku keburukan bahkan dalam lafaz-lafaz yang
bersekutu/sama) Fath al-Bari 10/564.
وَلَقَدْ شَبَّهَ النَّبِيُّ - ﷺ - الْمُؤْمِنَ
الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ بِثَمَرَةِ «الْأُتْرُجَّةِ»: «طَعْمُهَا طَيِّبٌ
وَرِيحُهَا طَيِّبٌ» (٣)،
Sungguh Nabi ﷺ
telah menyerupakan seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an dengan buah utrujjah
(jeruk sitrun): "Rasanya enak (baik) dan aromanya harum (baik)" Sahih
al-Bukhari - Kitab at-Tauhid - Bab 57 - Hadis 7560 (al-Fath 13/535).
وَضَرَبَ لِلْمُؤْمِنِ مَثَلًا آخَرَ، فَقَالَ:
«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ لَكَمَثَلِ
النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا ..» (٤)،
dan beliau membuat perumpamaan lain bagi seorang
mukmin, lalu bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,
sungguh perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah; ia memakan yang baik,
dan mengeluarkan yang baik.." Musnad Ahmad 2/199 - Sanadnya kuat:
Sebagaimana dalam Takhrij al-Hadis 876 dalam Silsilah al-Ahadis
as-Sahihah.
وَكُلُّهَا تُؤَكِّدُ عَلَى أَصَالَةِ عُنْصُرِ
الطَّيِّبَةِ فِي نَفْسِيَّةِ الْمُؤْمِنِ، وَسِمَةِ الْخَيْرِيَّةِ فِي
تَعَامُلِهِ.
yang semuanya menegaskan tentang mendasarnya unsur
kebaikan dalam jiwa seorang mukmin dan sifat kebaikan dalam interaksinya.
وَالرَّجُلُ الطَّيِّبُ، قَدْ يَخْتَلِفُ حَالُهُ ..
فَيَكُونُ أَحْيَانًا أَكْثَرَ انْشِرَاحًا، وَأَحْسَنَ بَشَاشَةً .. تَبَعًا
لِمَا يَمُرُّ بِهِ مِنْ أَقْدَارٍ،
Seorang laki-laki yang baik, keadaannya bisa
berubah-ubah.. kadang ia merasa lebih lapang dada dan tampil lebih ceria..
sesuai dengan takdir yang sedang dilaluinya.
وَقَدْ لَاحَظَ الصَّحَابَةُ - رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ - ذَلِكَ مَرَّةً عَلَى الرَّسُولِ - ﷺ -، فَقَالَ بَعْضُهُمْ:
Para sahabat radhiyallahu 'anhum pernah
memperhatikan hal tersebut pada diri Rasulullah ﷺ,
lalu sebagian mereka berkata:
«نَرَاكَ الْيَوْمَ طَيِّبَ النَّفْسِ،
فَقَالَ: أَجَلْ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ. ثُمَّ أَفَاضَ الْقَوْمُ فِي ذِكْرِ
الْغِنَى.
"Kami melihat engkau hari ini sedang baik
hatinya (jiwanya)." Beliau menjawab: "Benar, walhamdulillah."
Kemudian orang-orang mulai berbincang mengenai kekayaan,
فَقَالَ: لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى،
وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ
النَّعِيمِ» (١).
maka beliau bersabda: "Tidak mengapa dengan
kekayaan bagi orang yang bertakwa, dan kesehatan bagi orang yang bertakwa itu
lebih baik daripada kekayaan, serta jiwa yang baik (jiwa yang tenang) adalah
bagian dari kenikmatan" Sahih Sunan Ibn Majah 2/6 - Kitab
at-Tijarat - Bab 1 - Hadis 1741/2141 (Sahih)
وَالْعِبَادَةُ صُورَةٌ يَوْمِيَّةٌ مِنْ صُوَرِ
جَلَاءِ الْقَلْبِ، وَتَصْفِيَةِ النَّفْسِ مِنْ كُلِّ خُبْثٍ، وَيُؤَكِّدُ هَذَا
الْمَعْنَى مَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، مِنْ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَعْقِدُ عَلَى
قَافِيَةِ النَّائِمِ ثَلَاثَ عُقَدٍ،
Ibadah adalah wujud harian dari pembersihan hati
dan penyucian jiwa dari segala keburukan. Makna ini ditegaskan oleh riwayat
Al-Bukhari bahwa setan mengikat tiga ikatan pada tengkuk orang yang tidur
قَائِلًا لَهُ: «عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ،
فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ
انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقَدُهُ كُلُّهَا، فَأَصْبَحَ
نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ.»
(٢).
seraya berkata kepadanya: "Malammu masih
panjang, maka tidurlah." Jika ia bangun lalu mengingat Allah, terlepaslah
satu ikatan. Jika ia berwudu, terlepaslah satu ikatan lagi. Jika ia shalat,
terlepaslah seluruh ikatannya, sehingga di pagi hari ia menjadi bersemangat dan
berjiwa baik; jika tidak, ia akan memasuki pagi hari dalam keadaan berjiwa
buruk dan pemalas. Sahih al-Bukhari - Kitab Bad' al-Khalq - Bab 11 -
Hadis 3269 (al-Fath 6/335).
يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ: (قَوْلُهُ: طَيِّبَ النَّفْسِ؛
أَيْ: لِسُرُورِهِ بِمَا وَفَّقَهُ اللَّهُ لَهُ مِنَ الطَّاعَةِ، وَبِمَا
وَعَدَهُ مِنَ الثَّوَابِ، وَبِمَا زَالَ عَنْهُ مِنْ عُقَدِ الشَّيْطَانِ. كَذَا
قِيلَ. وَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ سِرًّا فِي طِيبِ
النَّفْسِ ..) (٣).
Ibnu Hajar berkata: (Perkataannya: "baik
jiwanya"; maksudnya: karena kegembiraannya atas taufik yang Allah berikan
kepadanya untuk taat, atas pahala yang dijanjikan-Nya, dan atas terlepasnya
ikatan setan darinya. Demikianlah yang dikatakan. Namun yang tampak jelas
adalah bahwa dalam shalat malam terdapat rahasia dalam memperbaiki/menenangkan
jiwa..). Fath al-Bari 3/26 dari penjelasan Hadis 1142 dari Kitab
at-Tahajjud.
وَمَا جَعَلَ اللَّهُ مَوَاطِنَ الْبَلَاءِ إِلَّا
لِلتَّمْحِيصِ وَالتَّمْيِيزِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ
الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ
الطَّيِّبِ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: ١٧٩]،
Tidaklah Allah menjadikan tempat-tempat cobaan
melainkan untuk pembersihan dan pembedaan, sebagaimana firman-Nya Ta'ala:
"Allah tidak akan membiarkan orang-orang mukmin dalam keadaan seperti yang
kamu berada di dalamnya sekarang, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang
baik" [Ali 'Imran: 179].
وَفِي ظِلَالِ الْآيَةِ: أَنَّ دَوْرَ الْأُمَّةِ
الْمُسْلِمَةِ (يَقْتَضِي التَّجَرُّدَ وَالصَّفَاءَ، وَالتَّمَيُّزَ
وَالتَّمَاسُكَ .. وَكُلُّ هَذَا يَقْتَضِي أَنْ يُصْهَرَ الصَّفُّ؛ لِيَخْرُجَ
مِنْهُ الْخَبَثُ .. وَمِنْ ثَمَّ كَانَ شَأْنُ اللَّهِ - سُبْحَانَهُ - أَنْ
يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ) (٤)،
Di bawah naungan ayat ini dijelaskan bahwa peran
umat Islam (menuntut ketulusan, kejernihan, pembedaan, dan keteguhan.. dan
semua ini menuntut dibakarnya barisan agar keburukan keluar darinya.. Maka dari
itulah sudah menjadi ketetapan Allah -Subhanahu wa Ta'ala- untuk membedakan
yang buruk dari yang baik) Fi Zilal al-Qur'an 1/525.
وَتَجْرِي سُنَّةُ اللَّهِ فِي أَنَّ الزَّبَدَ
يَذْهَبُ جُفَاءً، وَأَنَّ مَا يَنْفَعُ النَّاسَ يَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ.
Serta berlakulah sunnatullah bahwa buih itu akan
hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya, sedangkan yang memberi manfaat
kepada manusia akan tetap bertahan di bumi.
الْمُؤْمِنُ الطَّيِّبُ رَجُلٌ مُتَوَرِّعٌ عَنِ
الشُّبُهَاتِ، وَلَقَدْ كَانَ أَبُو طَلْحَةَ فِي مَرَضٍ لَهُ يَنْزِعُ غِطَاءَ
فِرَاشِهِ؛ لِمَا عَلَيْهِ مِنْ نُقُوشٍ؛ فَلَمَّا اعْتُرِضَ عَلَيْهِ بِأَنَّهُ
لَيْسَ فِي الْغِطَاءِ تَصَاوِيرُ مَنْنِهِيٌّ عَنْهَا، أَجَابَ: (بَلَى.
وَلَكِنَّهُ أَطْيَبُ لِنَفْسِي) (١).
Seorang mukmin yang baik adalah orang yang
berhati-hati (wara') dari hal-hal syubhat. Abu Thalhah pernah saat sakit
melepas penutup tempat tidur (sprei)-nya karena terdapat ukiran/motif padanya;
ketika di sanggah bahwa pada penutup itu tidak terdapat gambar-gambar yang
dilarang, beliau menjawab: "Benar, akan tetapi ini lebih menenangkan
hatiku" Sahih Sunan at-Tirmidzi 2/150 - Kitab al-Libas - Bab 18 -
Hadis 1431/1819 (Sahih).
وَالْمُؤْمِنُ الطَّيِّبُ يُحَافِظُ عَلَى صَفَاءِ
الْوُدِّ مَعَ أَخِيهِ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ: «وَحُقَّتْ مَحَبَّتِي
لِلَّذِينَ يَتَصَافَوْنَ مِنْ أَجْلِي» (٢)،
Seorang mukmin yang baik senantiasa menjaga
kesucian kasih sayang dengan saudaranya, sebagaimana dalam Hadits Qudsi:
"Dan berhak mendapatkan kecintaanku orang-orang yang saling mengikhlaskan
kasih sayang demi Aku" Musnad Ahmad 4/386 dan penggalan kalimatnya:
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: Sungguh telah berhak
mendapatkan kecintaan-Ku...."
وَيُبَادِرُ إِلَى زِيَارَةِ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ،
أَوْ عِيَادَتِهِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: «طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ،
وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا» (٣).
dan ia bersegera mengunjungi saudaranya sesama
muslim atau menjenguknya saat sakit, maka Allah berfirman kepadanya:
"Engkau telah baik, baik pula langkahmu, dan engkau telah memesan tempat
tinggal di surga" Sahih Sunan
at-Tirmidzi 2/195 - Kitab al-Birr - Bab 63 - Hadis 1633/2093 (Hasan).
فَالتَّصَافِي وَالتَّوَاصُلُ عَلَامَةٌ طَيِّبَةٌ،
وَلَا يَتَخَلَّقُ بِهَا إِلَّا الطَّيِّبُ.
Maka saling mengikhlaskan kasih sayang dan
bersilaturahmi adalah tanda kebaikan, dan tidak ada yang berakhlak dengannya
melainkan orang yang baik.
وَالْمُجَاهِدُ الطَّيِّبُ لَا يَطْمَئِنُّ قَلْبُهُ
بِالْقُعُودِ حِينَ يُسْتَنَفَرُ النَّاسُ،
Seorang pejuang yang baik hatinya tidak akan merasa
tenang untuk duduk-duduk (berdiam diri) ketika manusia dipanggil untuk
berperang.
وَلِذَلِكَ وَصَفَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - نَفْسِيَّةَ
صَحَابَتِهِ الْكِرَامِ - لَوْ أَنَّهُ خَرَجَ فِي كُلِّ سَرِيَّةٍ - فَقَالَ:
«وَلَا تَطِيبُ أَنْفُسُهُمْ أَنْ يَقْعُدُوا بَعْدِي» (٤).
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ menggambarkan jiwa para sahabatnya yang mulia—jika seandainya
beliau keluar dalam setiap pasukan kecil—dengan bersabda: "Dan tidaklah
jiwa mereka merasa nyaman untuk duduk-duduk (kembali) setelah
kepulanganku" Sahih Muslim - Kitab al-Imarah - Bab 28 - Hadis 106 (Syarh
an-Nawawi 13/25).
وَلِذَلِكَ كَانَ الْمُنَافِقُونَ - لِمَا فِي
نُفُوسِهِمْ مِنَ الْخُبْثِ - لَا يَتَحَرَّجُونَ مِنْ أَنْ يَتَعَلَّلُوا
بِأَعْذَارٍ وَاهِيَةٍ، وَرَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - مَعَ صَحَابَتِهِ فِي الْحَرِّ
وَالنَّصَبِ، وَالْمُنَازَلَةِ وَالطِّعَانِ.
Sebab itulah orang-orang munafik—karena keburukan
yang ada di dalam jiwa mereka—tidak merasa segan untuk beralasan dengan
alasan-alasan yang lemah, padahal Rasulullah ﷺ
bersama para sahabatnya berada dalam kepanasan, keletihan, pertempuran, dan adu
tombak.
وَتَطْيِيبُ قُلُوبِ عِبَادِ اللَّهِ مِنْ عَلَامَاتِ
طِيبِ الْقَلْبِ، فَقَدْ وَصَفَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - الَّذِينَ يُؤَدُّونَ إِلَى
النَّاسِ حُقُوقَهُمْ - وَافِيَةً وَزَائِدَةً - بِقَوْلِهِ: «أُولَئِكَ خِيَارُ
عِبَادِ اللَّهِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْمُوفُونَ
الْمُطَيِّبُونَ» (١)،
Membahagiakan (melembutkan) hati hamba-hamba Allah
termasuk tanda kebaikan hati. Rasulullah ﷺ
telah menggambarkan orang-orang yang menunaikan hak-hak manusia secara sempurna
bahkan melebihi, dengan sabda beliau: "Merekalah hamba-hamba Allah yang
terbaik di sisi Allah pada hari kiamat: orang-orang yang menunaikan hak dan
membahagiakan orang lain" Musnad Ahmad 6/269 dan kalimat awalnya:
(Rasulullah ﷺ membeli seekor unta
dari seorang Arab Badui).
وَأَقْصَرُ طَرِيقٍ إِلَى الْقُلُوبِ بِالْكَلِمَةِ
الطَّيِّبَةِ: «اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ
فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ» (٢)،
Dan jalan terpendek menuju hati adalah dengan
perkataan yang baik: "Peliharalah dirimu dari api neraka walaupun dengan
separuh buah kurma, jika tidak ada maka dengan perkataan yang baik" Sahih
al-Bukhari - Kitab al-Adab - Bab 34 - Hadis 6023.
وَقَدْ وَصَفَ اللَّهُ الصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِهِ
بِقَوْلِهِ: ﴿وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاطِ
الْحَمِيدِ﴾ [الْحَجِّ: ٢٤].
Allah telah menggambarkan hamba-hamba-Nya yang
saleh dengan firman-Nya: "Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan
yang baik dan diberi petunjuk (pula) kepada jalan (Allah) Yang Maha
Teruji" [Al-Hajj: 24].
وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَسْتَقْبِلُ أَرْوَاحَ
الطَّيِّبِينَ: ﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ
سَلَامٌ عَلَيْكُمْ﴾ [النَّحْلِ: ٣٢]،
Sesungguhnya para malaikat menyambut ruh
orang-orang yang baik: "(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan
baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): 'Salamun 'alaikum
(keselamatan bagimu)'" [An-Nahl: 32].
وَقَدْ قَالَ - ﷺ -: «الْمَيِّتُ تَحْضُرُهُ
الْمَلَائِكَةُ، فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَالِحًا قَالُوا: اخْرُجِي أَيَّتُهَا
النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ، اخْرُجِي حَمِيدَةً،
وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ، وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ،
Nabi ﷺ
telah bersabda: "Mayit didatangi oleh malaikat, jika orang tersebut adalah
orang yang saleh, para malaikat berkata: 'Keluarlah wahai jiwa yang baik yang
berada di dalam jasad yang baik, keluarlah dalam keadaan terpuji, dan
bergembiralah dengan ketenteraman, rezeki, dan Tuhan yang tidak murka.
فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا حَتَّى تَخْرُجَ، ثُمَّ
يُعْرَجُ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ، فَيُنْفَتَحُ لَهَا، فَيُقَالُ: مَنْ هَذَا؟
فَيَقُولُونَ: فُلَانٌ.
'Kata-kata itu terus diucapkan kepadanya hingga ia
keluar, kemudian ruhnya dibawa naik ke langit, lalu dibukakan untuknya, dan
ditanyakan: 'Siapakah ini?' Mereka menjawab: 'Fulan.'
فَيُقَالُ: مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الطَّيِّبَةِ
كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ، ادْخُلِي حَمِيدَةً، وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ
وَرَيْحَانٍ، وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ.
Maka dikatakan: 'Selamat datang jiwa yang baik yang
berada di jasad yang baik, masuklah dalam keadaan terpuji, dan bergembiralah
dengan ketenteraman, rezeki, dan Tuhan yang tidak murka.'
فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ، حَتَّى
يُنْتَهَى بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي فِيهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ. وَإِذَا
كَانَ الرَّجُلُ السُّوءُ
Kata-kata itu terus diucapkan kepadanya hingga
sampai di langit tempat Allah Azza wa Jalla berada. Dan jika orang tersebut
adalah orang yang jahat,
قَالَ: اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ،
كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ، اخْرُجِي ذَمِيمَةً، وَأَبْشِرِي حَتَّى
تَخْرُجَ، ثُمَّ يُعْرَجُ إِلَى السَّمَاءِ، فَلَا يُفْتَحُ لَهَا،
malaikat berkata: 'Keluarlah wahai jiwa yang buruk
yang berada di dalam jasad yang buruk, keluarlah dalam keadaan tercela, dan
bergembiralah (dengan siksa)...' hingga ia keluar, kemudian dibawa naik ke
langit tetapi tidak dibukakan pintu baginya,
فَيُقَالُ: مَنْ هَذَا؟ فَيُقَالُ: فُلَانٌ،
فَيُقَالُ: لَا مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الْخَبِيثَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ
الْخَبِيثِ، ارْجِعِي ذَمِيمَةً، فَإِنَّهَا لَا تُفْتَحُ لَكِ أَبْوَابُ
السَّمَاءِ، فَيُرْسَلُ بِهَا مِنَ السَّمَاءِ ثُمَّ تَصِيرُ إِلَى الْقَبْرِ»
(١)،
lalu ditanyakan: 'Siapakah ini?' Dijawab: 'Fulan.'
Maka dikatakan: 'Tidak ada ucapan selamat datang bagi jiwa yang buruk yang
berada di jasad yang buruk, kembalilah dalam keadaan tercela, karena tidak
dibukakan bagimu pintu-pintu langit.' Lalu ruh itu dilemparkan dari langit
kemudian dimasukkan ke dalam kubur" Sahih Sunan Ibn Majah - Kitab
az-Zuhd - Bab 31 - Hadis 3437/4262 (Sahih).
وَعَلَى أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لِأَهْلِ
الطَّيِّبَةِ: ﴿سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ﴾
[الزُّمَرِ: ٧٣] بَعْدَ أَنْ أَحْيَاهُمُ اللَّهُ الْحَيَاةَ الطَّيِّبَةَ فِي
الدُّنْيَا بِالْإِيمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ.
Dan di pintu-pintu surga dikatakan kepada pemilik
kebaikan hati: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu; kamu telah baik, maka
masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya" [Az-Zumar: 73] setelah
Allah menghidupkan mereka dengan kehidupan yang baik di dunia melalui iman dan
amal saleh.
إِنَّ غَلَبَةَ التَّعَامُلِ بِالطَّيِّبَةِ،
وَنَقَاءَ الْمُجْتَمَعِ مِنَ الْخُبْثِ، حَصَانَةٌ مِنْ غَضَبِ اللَّهِ
وَانْتِقَامِهِ، وَلِذَلِكَ تَسَاءَلَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ: «أَفَنَهْلِكُ
وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟»، فَأَجَابَهَا رَسُولُ
اللَّهِ - ﷺ -: «نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ» (٢).
Dominasi interaksi dengan kebaikan serta bersihnya
masyarakat dari keburukan merupakan benteng dari murka Allah dan siksa-Nya.
Oleh karena itu Zainab binti Jahsy pernah bertanya: "Apakah kita akan
binasa sedangkan di antara kita ada orang-orang yang saleh?" Maka
Rasulullah ﷺ menjawab: "Ya, apabila keburukan
telah banyak" Sahih al-Bukhari - Kitab al-Fitan - Bab 28 - Hadis
7135 (al-Fath 13/106).
قَالَ ابْنُ الْعَرَبِيِّ: (وَفِيهِ الْبَيَانُ
بِأَنَّ الْخَيْرَ يَهْلِكُ بِهَلَاكِ الشَّرِيرِ، إِذَا لَمْ يُغَيِّرْ عَلَيْهِ
خُبْثَهُ) (٣).
Ibnu al-Arabi berkata: (Di dalamnya terdapat
penjelasan bahwa orang yang baik ikut binasa dengan kebinasaan orang yang
jahat, jika ia tidak mengubah keburukannya) Dikutip dari Fath al-Bari
13/109.
الطَّيِّبُ نَقِيُّ الْقَلْبِ، سَلِيمُ السَّرِيرَةِ،
حَسَنُ الظَّنِّ بِالنَّاسِ .. وَمِنْ دُعَائِهِ - ﷺ -: «وَنَقِّ قَلْبِي مِنَ
الْخَطَايَا، كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ
مِنَ الدَّنَسِ» (٤)،
Orang yang baik itu hatinya bersih, batinnya
selamat (suci), dan berprasangka baik kepada manusia.. Dan di antara doa Nabi ﷺ adalah: "Dan bersihkanlah hatiku dari
kesalahan-kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan pakaian yang putih dari
kotoran" Sahih al-Bukhari - Kitab ad-Da'awat - Bab 39 - Hadis 6368
(al-Fath 11/1769).
وَلَا يَغُرَّنَّكَ مَا يَلْصَقُهُ الْخُبَثَاءُ
بِالطَّيِّبِينَ: مِنْ صِفَاتِ الْغَفْلَةِ، وَضَعْفِ الْعَقْلِ، وَقِلَّةِ
الْحِيلَةِ، وَالْهَوَانِ عَلَى النَّاسِ. فَلَأَنْ
تَكُونَ مَقْبُولًا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ
أَوْسِمَةِ الدَّهَاءِ وَالْحِيلَةِ وَالْخُبْثِ.
Dan jangan sekali-kali membuatmu terpedaya oleh apa
yang dilekatkan oleh orang-orang jahat kepada orang-orang baik: seperti sifat
kelalaian, lemah akal, kurang akal budi, dan kehinaan di mata manusia. Sebab,
menjadi orang yang diterima di sisi Allah itu jauh lebih baik bagimu daripada
lencana-lencana kelicikan, tipu daya, dan keburukan.
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ:
Ringkasan bab ini dan poin-poin utamanya:
مِنْ مَعَانِي الطَّيِّبَةِ فِي اللُّغَةِ
وَالْقُرْآنِ.
Di antara makna-makna at-thayyibah (kebaikan)
secara bahasa dan dalam Al-Qur'an.
الْمُؤْمِنُ يَعْتَزُّ بِطِيبَتِهِ.
Seorang mukmin bangga dengan kebaikannya.
الْعِبَادَاتُ تُؤَصِّلُ الطَّيِّبَةَ فِي الْقَلْبِ.
Ibadah-ibadah menguatkan/mengakar kebaikan di dalam
hati.
طِيبُ النَّفْسِ مِنَ النَّعِيمِ.
Keadaan jiwa yang baik adalah bagian dari
kenikmatan.
مَوَاطِنُ الْبَلَاءِ تُمِيزُ الْخَبِيثَ مِنَ
الطَّيِّبِ.
Tempat-tempat cobaan membedakan yang buruk dari
yang baik.
الطَّيِّبُ يَتَوَرَّعُ عَنِ الشُّبُهَاتِ.
Orang yang baik berhati-hati dari hal-hal yang
syubhat.
الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو لِلْمُتَحَابِّينَ
الطَّيِّبِينَ.
Para malaikat mendoakan orang-orang yang saling
mencintai lagi baik hatinya.
لَا يَطِيبُ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ بِالْقُعُودِ حِينَ
يُسْتَنْفَرُ النَّاسُ.
Hati seorang mukmin tidak merasa tenang untuk
duduk-duduk saja ketika manusia dipanggil perang.
مِنْ طِيبِ الْقَلْبِ تَطْيِيبُ قُلُوبِ الْعِبَادِ.
Bagian dari kebaikan hati adalah membahagiakan hati
hamba-hamba Allah.
النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ تُرَحِّبُ بِهَا
الْمَلَائِكَةُ.
Jiwa yang baik disambut dengan hangat oleh para
malaikat.
غَلَبَةُ التَّعَامُلِ بِالطَّيِّبِ وِقَايَةٌ مِنْ
غَضَبِ اللَّهِ.
Dominasi interaksi dengan kebaikan merupakan
pelindung dari murka Allah.
أَبْرَزُ مَا فِي الطَّيِّبِ نَقَاءُ قَلْبِهِ
وَسَلَامَةُ سَرِيرَتِهِ.
Hal paling menonjol pada diri orang yang baik
adalah kebersihan hatinya dan kesucian batinnya.
📙📙📙
Sumber:
هذه
اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. Dipersilahkan - share

