Label xxx

Selasa, 11 Agustus 2026

Rasa Malu – 06 BAB 01 – Hadzihi Akhlaquna

 

AKHLAQ KITA DALAM PERASAAN – EMOSI



الفَصْلُ الأَوَّلُ: الحَيَاءُ

BAB PERTAMA: RASA MALU


الحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

 “Rasa malu itu tidak membawa kecuali kebaikan.”


إِنَّهُ لَمِنْ مَظَاهِرِ التَّوَازُنِ، وَمِنْ عَلَامَاتِ التَّكَامُلِ فِي التَّرْبِيَةِ، أَنْ تَجِدَ المُؤْمِنَ القَوِيَّ الحَازِمَ الدَّؤُوبَ حَيِيًّا خَجُولًا أَدِيبًا وَقُورًا.

Sungguh, termasuk bentuk keseimbangan dan tanda kesempurnaan dalam pendidikan, jika engkau mendapati seorang mukmin yang kuat, tegas, dan gigih, sekaligus memiliki rasa malu, bersopan santun, beradab, dan berwibawa.

وَالحَيَاءُ المَمْدُوحُ: (خُلُقٌ يَبْعَثُ عَلَى تَرْكِ القَبِيحِ)؛ كَمَا عَرَّفَهُ ابْنُ حَجَرٍ.

Rasa malu yang terpuji adalah: [Akhlak yang mendorong untuk meninggalkan hal yang buruk]; sebagaimana didefinisikan oleh Ibn Hajar. - Fathul Bari 10/522 pada penjelasan Bab Al-Haya' dari Kitab Al-Adab - Hadits 6118.

أَمَّا التَّحَرُّجُ مِنَ الأَمْرِ بِالمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيِ عَنِ المُنْكَرِ، وَاتِّخَاذِ المَوَاقِفِ الجَرِيئَةِ فِي الحَقِّ، وَالتَّفَقُّهِ فِي الدِّينِ، فَلَيْسَ مِنَ الحَيَاءِ، وَهَذَا بَعْضُ مَا أَشَارَ إِلَيْهِ ابْنُ حَجَرٍ حِينَ صَنَّفَ الحَيَاءَ إِلَى شَرْعِيٍّ وَغَيْرِ شَرْعِيٍّ، فَقَالَ: (الشَّرْعِيُّ الَّذِي يَقَعُ عَلَى وَجْهِ الإِجْلَالِ وَالاحْتِرَامِ لِلأَكَابِرِ - وَهُوَ مَحْمُودٌ - وَأَمَّا مَا يَقَعُ سَبَبًا لِتَرْكِ أَمْرٍ شَرْعِيٍّ، فَهُوَ مَذْمُومٌ وَلَيْسَ هُوَ بِحَيَاءٍ شَرْعِيٍّ، وَإِنَّمَا هُوَ ضَعْفٌ وَمَهَانَةٌ).

Adapun rasa sungkan atau merasa berat untuk menyuruh kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran, mengambil sikap yang berani dalam kebenaran, serta memperdalam ilmu agama, maka itu bukanlah bagian dari rasa malu. Inilah sebagian dari apa yang diisyaratkan oleh Ibn Hajar ketika beliau membagi rasa malu menjadi dua: syar'i dan tidak syar'i. Beliau berkata: [Rasa malu yang syar'i adalah yang terjadi atas dasar mengagungkan dan menghormati orang yang lebih tua/berilmu — dan ini terpuji —. Adapun yang menjadi sebab ditinggalkannya urusan syariat, maka itu tercela dan bukanlah rasa malu yang syar'i, melainkan bentuk kelemahan dan kehinaan]. - Fathul Bari 1/229 pada penjelasan Bab Al-Haya' fil 'Ilm dari Kitab Al-Iman.

لَا يَنْبَغِي الحَيَاءُ فِي المُطَالَبَةِ بِالحُقُوقِ، وَلَا فِي تَعْلِيمِ الجَاهِلِ، وَلَا فِي السُّؤَالِ عَمَّا لَا نَعْلَمُ، فَقَدْ قَالَ مُجَاهِدٌ: لَا يَتَعَلَّمُ العِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلَا مُتَكَبِّرٌ، وَقَالَتِ السَّيِّدَةُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: (نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ، لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ)،

Rasa malu tidak boleh ada dalam menuntut hak, mengajarkan orang jahil (bodoh), maupun bertanya tentang apa yang tidak kita ketahui. Mujahid berkata: "Orang yang pemalu dan orang yang sombong tidak akan bisa menuntut ilmu." Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha juga berkata: [Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu agama]. Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-'Ilm - dari Tarjamah Bab 50 (Al-Fath 1/228).

وَكَانَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ تَسْأَلُ فِي مَسَائِلَ دَقِيقَةٍ مِنْ أَحْكَامِ النِّسَاءِ، وَتَسْتَفْتِحُ سُؤَالَهَا بِقَوْلِهَا: (يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الحَقِّ)،

Ibu Sulaim pernah bertanya tentang masalah-masalah fiqih wanita yang sensitif/detail, dan beliau mengawali pertanyaannya dengan berkata: [Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran]. Sumber sebelumnya, pada penjelasan Ibn Hajar untuk potongan Hadits 130 dari Shahih Al-Bukhari

قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: (أَيْ لَا يَأْمُرُ بِالحَيَاءِ فِي الحَقِّ).

Ibn Hajar berkata: [Artinya: Allah tidak memerintahkan untuk malu dalam hal menyangkut kebenaran]. - Sumber sebelumnya, pada penjelasan Ibn Hajar untuk potongan Hadits 130 dari Shahih Al-Bukhari.

وَمَنْ لَمْ يُرْزَقِ الحَيَاءَ بِالفِطْرَةِ، طُولِبَ بِهِ بِالقَصْدِ وَالاِكْتِسَابِ وَالتَّعَلُّمِ، خَاصَّةً وَأَنَّهُ الخُلُقُ المُمَيِّزُ لِأَتْبَاعِ هَذَا الدِّينِ، كَمَا جَاءَ فِي الحَدِيثِ الحَسَنِ: «إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الإِسْلَامِ الحَيَاءُ»،

Barangsiapa yang tidak dikaruniai rasa malu secara fitrah/bawaan, maka ia dituntut untuk mengusahakannya dengan niat, latihan, dan belajar. Terlebih lagi rasa malu merupakan akhlak pembeda bagi para pengikut agama ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits hasan: “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak (khas), dan akhlak Islam adalah rasa malu. Shahih Sunan Ibn Majah 2/406 - Hadits 3370/4181 (Hasan).

وَقَدْ وَرَدَ أَنَّهُ مِنْ سُنَنِ المُرْسَلِينَ، وَأَنَّهُ مِنَ الإِيمَانِ: «الحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ، وَالإِيمَانُ فِي الجَنَّةِ، وَالبَذَاءُ مِنَ الجَفَاءِ، وَالجَفَاءُ فِي النَّارِ»،

” Diriwayatkan pula bahwa malu adalah sunnah para rasul dan bagian dari iman: “Rasa malu adalah bagian dari iman, dan iman tempatnya di surga. Sedangkan perkataan/perbuatan kotor (keji) adalah bagian dari tabiat kasar, dan tabiat kasar tempatnya di neraka.” Shahih Sunan Ibn Majah 2/406 - Hadits 3373/4184 (Shahih).

وَقَدْ كَانَ حَبِيبُنَا وَقُدْوَتُنَا (أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ العَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا)

Kekasih dan teladan kita adalah [orang yang lebih pemalu daripada gadis perawan di dalam pingitannya]. Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Adab - Bab 77 - Hadits 6119 (Al-Fath 10/521).

(وَكَانَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - حَيِيًّا كَرِيمًا يَسْتَحْيِي ..)،

dan [Rasulullah adalah seorang yang pemalu, pemurah, lagi maha pemalu..]. Musnad Ahmad 6/314.

وَبَعْدَ كُلِّ ذَلِكَ هَلْ نَخْتَارُ الحَيَاءَ أَمِ البَذَاءَ؟ وَنَتَحَلَّى بِالإِيمَانِ أَمْ بِالجَفَاءِ؟ وَنُؤْثِرُ أَخْلَاقَ أَهْلِ الجَنَّةِ أَمْ أَخْلَاقَ أَهْلِ النَّارِ؟ (

Setelah semua ini, apakah kita akan memilih rasa malu atau kekejian? Berhias dengan iman atau tabiat yang kasar? Serta mengutamakan akhlak penduduk surga atau akhlak penduduk neraka?)

لَقَدْ كَانَ أَهْلُ الجَاهِلِيَّةِ - عَلَى جَاهِلِيَّتِهِمْ - يَتَحَرَّجُونَ مِنْ بَعْضِ القَبَائِحِ بِدَافِعِ الحَيَاءِ، وَمِنْ ذَلِكَ مَا جَرَى مَعَ أَبِي سُفْيَانَ عِنْدَ هِرَقْلَ، لَمَّا سُئِلَ عَنْ رَسُولِ اللهِ - ﷺ -، وَيَقُولُ فِي ذَلِكَ: (فَوَاللهِ لَوْلَا الحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثُرُوا عَلَيَّ كَذِبًا، لَكَذَبْتُ عَنْهُ)،

Masyarakat Jahiliyah — meskipun dalam kejahiliyahan mereka — merasa berat dan enggan melakukan sebagian keburukan karena dorongan rasa malu. Di antaranya adalah apa yang terjadi pada Abu Sufyan di hadapan Heraklius ketika ditanya tentang Rasulullah , Abu Sufyan berkata tentang momen tersebut: [Demi Allah, jikalau bukan karena rasa malu kalau-kalau mereka mengutip kebohongan dariku, niscaya aku akan berbohong tentangnya]. Shahih Al-Bukhari - Kitab Bad'ul Wahyi - Bab 6 - Hadits 7 (Al-Fath 1/31).

فَمَنَعَهُ مِنَ الحَيَاءِ الاِفْتِرَاءُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، لِئَلَّا يُوَصَفَ بِالكَذِبِ، وَيُشَاعَ عَنْهُ ذَلِكَ.

Jadi, rasa malulah yang menghalanginya membuat kedustaan atas nama Rasulullah, agar ia tidak dijuluki sebagai pembohong dan hal itu tersebar tentang dirinya.

وَكَذَلِكَ مَا جَرَى مَعَ السَّيِّدَةِ خَدِيجَةَ، حَيْثُ وَافَقَ أَبُوهَا فِي حَضْرَةِ جَمْعٍ مِنْ قُرَيْشٍ - وَهُوَ سَكْرَانُ - عَلَى خِطْبَتِهَا لِرَسُولِ اللهِ - ﷺ -. فَلَمَّا صَحَا مِنْ سُكْرِهِ، وَفَكَّرَ بِالتَّرَاجُعِ، مَا رَدَعَتْهُ إِلَّا بِالاِسْتِحْيَاءِ مِنْ أَنْ يُقِرَّ بِأَنَّهُ كَانَ سَكْرَانَ، فَقَالَتْ لَهُ: (أَمَا تَسْتَحْيِي؟ تُرِيدُ أَنْ تُسَفِّهَ نَفْسَكَ عِنْدَ قُرَيْشٍ، تُخْبِرُ النَّاسَ أَنَّكَ كُنْتَ سَكْرَانَ؟ فَلَمْ تَزَلْ بِهِ حَتَّى رَضِيَ)،

Demikian pula yang terjadi pada Sayyidah Khadijah, ketika ayahnya menyetujui di hadapan majelis suku Quraisy — saat ia sedang mabuk — lamaran Rasulullah untuknya. Ketika ayahnya sadar dari mabuknya dan berpikir untuk membatalkannya, Khadijah tidak menghentikannya melainkan dengan memanfaatkan rasa malunya agar ayahnya tidak mengakui bahwa ia sebelumnya mabuk. Khadijah berkata kepadanya: [Apakah engkau tidak malu? Apakah engkau ingin membodohkan dirimu sendiri di hadapan Quraisy, dengan memberitahu orang-orang bahwa engkau tadi mabuk?] Khadijah terus membujuknya hingga ia merestui. Musnad Ahmad 1/312.

وَكَمْ يَحْتَاجُ المُسْلِمُونَ اليَوْمَ إِلَى إِحْيَاءِ هَذَا الخُلُقِ بِالاِلْتِزَامِ بِالكَلِمَةِ وَالاِرْتِدَاعِ عَنِ الوُقُوعِ فِي القَبَائِحِ أَوْ الشُّبُهَاتِ بِشَيْءٍ مِنَ الحَيَاءِ

Betapa besarnya kebutuhan umat Islam hari ini untuk menghidupkan kembali akhlak ini dengan menepati janji/perkataan dan menahan diri dari jatuh ke dalam keburukan atau syubhat dengan bermodalkan rasa malu.

تَرَى الرَّجُلَ الحَيِيَّ يَحْتَقِنُ وَجْهُهُ، وَتَحْمَرُّ وَجْنَتَاهُ، إِذَا صَدَرَ مِنْهُ أَوْ مِنْ غَيْرِهِ مَا يُنَافِي الحَيَاءَ: (كَانَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - أَشَدَّ حَيَاءً مِنْ عَذْرَاءَ فِي خِدْرِهَا، وَكَانَ إِذَا كَرِهَ شَيْئًا رُئِيَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ).

Engkau dapat melihat lelaki yang memiliki rasa malu akan memerah wajahnya dan kedua pipinya saat muncul dari dirinya atau dari orang lain sesuatu yang mencederai rasa malu: [Rasulullah adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis perawan di dalam pingitannya, dan jika beliau membenci sesuatu, hal itu dapat terlihat dari wajahnya]. Shahih Sunan Ibn Majah 2/406 Hadits 3369 (Shahih).

وَمِنْ سِمَةِ الحَيَاءِ: مَا يَتَمَيَّزُ بِهِ الحَيِيُّ مِنْ مَظَاهِرِ الوَقَارِ وَالسَّكِينَةِ؛ إِذْ رُوِيَ عَنْ بَشِيرِ بْنِ كَعْبٍ قَوْلُهُ: (مَكْتُوبٌ فِي الحِكْمَةِ: إِنَّ مِنَ الحَيَاءِ وَقَارًا، وَإِنَّ مِنَ الحَيَاءِ سَكِينَةً).

Di antara ciri rasa malu adalah: apa yang membedakan orang yang pemalu berupa ketenangan dan kewibawaan; sebagaimana diriwayatkan dari Basyir bin Ka'ab ucapannya: [Tertulis dalam kitab hikmah: Sesungguhnya di antara rasa malu ada kewibawaan, dan di antara rasa malu ada ketenangan]. Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Adab Bab: 77 Hadits: 6117 (Al-Fath 10/521).

قَالَ القُرْطُبِيُّ: (مَعْنَى كَلَامِ بَشِيرٍ: أَنَّ مِنَ الحَيَاءِ مَا يَحْمِلُ صَاحِبَهُ عَلَى الوَقَارِ، بِأَنْ يُوَقِّرَ غَيْرَهُ، وَيَتَوَقَّرَ هُوَ فِي نَفْسِهِ، وَمِنْهُ مَا يَحْمِلُهُ عَلَى أَنَّهُ يَسْكُنُ عَنْ كَثِيرٍ مِمَّا يَتَحَرَّكُ النَّاسُ فِيهِ مِنَ الأُمُورِ الَّتِي لَا تَلِيقُ بِذِي المُرُوءَةِ ..)،

Al-Qurthubi berkata: [Makna perkataan Basyir adalah: bahwa sebagian dari rasa malu ada yang mendorong pemiliknya untuk berwibawa, yaitu dengan menghormati orang lain dan menjaga kehormatan dirinya sendiri. Dan sebagian darinya ada yang mendorongnya untuk tenang dan diam dari banyak hal yang biasa diperbuat manusia dari perkara-perkara yang tidak pantas bagi pemilik kehormatan diri..]. Dari Fathul Bari 10/522 pada penjelasan Hadits 6117.

فَالحَيَاءُ يَحْجُزُ النَّفْسَ عَنْ كَثِيرٍ مِنْ خَوَارِمِ المُرُوءَةِ، وَقَوَادِحِ الدِّينِ.

Maka rasa malu menahan diri dari berbagai hal yang merusak kehormatan dan mencederai agama.

وَمِنَ الحَيَاءِ الوَاقِعِ إِجْلَالًا وَاحْتِرَامًا لِلأَكَابِرِ: مَا كَانَ مِنَ ابْنِ عُمَرَ حِينَ سَأَلَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ - الصَّحَابَةَ: «إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَهِيَ مَثَلُ المُسْلِمِ، حَدِّثُونِي مَا هِيَ؟»،

Termasuk rasa malu yang timbul atas dasar mengagungkan dan menghormati orang yang lebih tua: yaitu apa yang terjadi pada Ibn Umar ketika Rasulullah bertanya kepada para sahabat: “Sesungguhnya di antara pepohonan ada satu pohon yang daunnya tidak gugur, dan ia merupakan perumpamaan bagi seorang muslim. Ceritakanlah kepadaku pohon apakah itu?” Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-'Ilm - Bab 4 - Hadits 61.


فَعَرَفَ ابْنُ عُمَرَ أَنَّهَا النَّخْلَةُ، وَاسْتَحْيَا أَنْ يُجِيبَ، وَيُعَلِّلُ حَيَاءَهُ - كَمَا فِي رِوَايَاتِ الحَدِيثِ - بِأَنَّهُ وَجَدَ نَفْسَهُ أَصْغَرَ الجَالِسِينَ، وَأَنَّهُ رَأَى أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَا يَتَكَلَّمَانِ، فَكَرِهَ أَنْ يَتَكَلَّمَ.

Lalu Ibn Umar tahu bahwa pohon itu adalah pohon kurma, namun ia malu untuk menjawab. Ia mengalasannya rasa malunya — sebagaimana dalam riwayat-riwayat hadits — karena ia mendapati dirinya adalah yang paling muda di antara yang duduk, serta ia melihat Abu Bakar dan Umar tidak berbicara, maka ia enggan untuk berbicara. Fathul Bari 1/146.

كَمْ يَشْرَحُ الصَّدْرَ ذَلِكَ المُجْتَمَعُ الَّذِي يَسْتَحْيِي فِيهِ الصَّغِيرُ مِنَ الكَبِيرِ، وَيَتَعَامَلُ النَّاسُ فِيهِ بِالاِحْتِرَامِ وَالتَّوْقِيرِ.

Betapa melapangkan dada suatu masyarakat yang mana orang mudanya malu kepada orang tuanya, dan orang-orang di dalamnya saling berinteraksi dengan rasa hormat dan pemuliaan.

وَالحَيَاءُ بِنَفْسِهِ وِقَايَةٌ مِنَ الوُقُوعِ فِي المَعَاصِي، فَقَدْ وَرَدَ أَنَّ أَحَدَ الصَّحَابَةِ كَانَ يُعَاتِبُ أَخَاهُ عَلَى حَيَائِهِ، وَكَأَنَّمَا يَقُولُ لَهُ: قَدْ أَضَرَّ بِكَ الحَيَاءُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ - ﷺ -: «دَعْهُ فَإِنَّ الحَيَاءَ مِنَ الإِيمَانِ»،

Rasa malu itu sendiri merupakan pelindung dari jatuh ke dalam kemaksiatan. Telah diriwayatkan bahwa salah seorang sahabat pernah menegur saudaranya karena rasa malunya, seolah-olah ia berkata padanya: "Rasa malu telah membahayakanmu/menyusahkanmu." Maka Rasulullah bersabda: “Biarkan dia, karena sesungguhnya rasa malu adalah bagian dari iman.” Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Adab - Bab 77 - Hadits 6118 (Al-Fath 10/521).

قَالَ أَبُوعُبَيْدٍ الهَرَوِيُّ: (مَعْنَاهُ أَنَّ المُنْقَطِعَ بِحَيَائِهِ عَنِ المَعَاصِي، فَصَارَ كَالإِيمَانِ القَاطِعِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ المَعَاصِي)،

Abu Ubaid Al-Harawi berkata: [Maknanya adalah bahwa orang yang pemalu tercegah karena rasa malunya dari kemaksiatan, maka rasa malu itu menjadi seperti iman yang memutus antara dirinya dengan kemaksiatan]. Dari Fathul Bari 10/522 pada penjelasan Hadits 6118.

وَلِذَلِكَ عَمَّمَ الرَّسُولُ - ﷺ - فِي بَيَانِ ثَمَرَاتِ الحَيَاءِ، فَقَالَ: «الحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ»،

Oleh karena itu, Rasulullah memperluas cakupan penjelasan buah dari rasa malu dengan bersabda: “Rasa malu tidak membawa kecuali kebaikan,” Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Adab - Bab 77 - Hadits 6117.

وَوَصَفَهُ بِأَنَّهُ زِينَةٌ لِلسُّلُوكِ، فَقَالَ: «مَا كَانَ الفُحْشُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا شَانَهُ، وَلَا كَانَ الحَيَاءُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا زَانَهُ».

dan beliau menyifatkannya sebagai perhiasan bagi perilaku: “Tidaklah kekejian ada pada sesuatu melainkan akan memperburuknya, dan tidaklah rasa malu ada pada sesuatu melainkan akan memperindahnya.” Shahih Sunan Ibn Majah 2/407 Hadits 3374 (Shahih).

وَمَظَاهِرُ الخَجَلِ الاِجْتِمَاعِيِّ، الَّتِي قَدْ تَجُرُّ إِلَى الشَّرِّ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الحَيَاءِ المَحْمُودِ شَرْعًا؛ إِذْ إِنَّهُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ، وَمُدَارَاةُ بَعْضِ الأَعْرَافِ الاِجْتِمَاعِيَّةِ المُنْحَرِفَةِ، لَا يُعَدُّ حَيَاءً؛ لِأَنَّ الحَيَاءَ زَيْنٌ وَلَيْسَ بِشَيْنٍ، وَالاِنْحِرَافُ هُوَ عَيْنُ القُبْحِ وَالشَّيْنِ.

Bentuk-bentuk rasa canggung/pemalu sosial yang dapat membawa kepada keburukan tidak mungkin termasuk dalam rasa malu yang terpuji secara syariat; karena rasa malu (syar'i) tidak membawa kecuali kebaikan. Menuruti sebagian norma-norma sosial yang menyimpang tidak dianggap sebagai rasa malu, sebab rasa malu adalah perhiasan dan bukan keburukan, sedangkan penyimpangan itu adalah inti dari keburukan dan kecacatan.

وَكَمَا أَنَّ الحَيَاءَ أَدَبٌ مَعَ الخَلْقِ، فَإِنَّ أَسْمَى صُوَرِهِ الأَدَبُ مَعَ الخَالِقِ، وَقَدْ وَرَدَ أَنَّ عَدَدًا مِنَ الأَنْبِيَاءِ (آدَمَ - نُوحٍ - مُوسَى)، تُطْلَبُ مِنْهُمُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ المَوْقِفِ، وَالنَّاسُ يَقُولُونَ لِكُلٍّ مِنْهُمْ - لَمَّا يَرَوْنَ مِنْ هَوْلِ المَوْقِفِ -: «.. فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّكَ؛ حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا هَذَا، فَيَقُولُ: لَسْتُ هُنَاكُمْ - وَيَذْكُرُ ذَنْبَهُ فَيَسْتَحْيِي - .. لَسْتُ هُنَاكُمْ - وَيَذْكُرُ سُؤَالَهُ رَبَّهُ مَا لَيْسَ لَهُ بِهِ عِلْمٌ فَيَسْتَحْيِي - .. لَسْتُ هُنَاكُمْ - وَيَذْكُرُ قَتْلَ النَّفْسِ بِغَيْرِ نَفْسٍ فَيَسْتَحْيِي مِنْ رَبِّهِ -»،

Sebagaimana rasa malu merupakan adab kepada makhluk, maka bentuk yang paling tinggi adalah beradab kepada Sang Penciptا (Khaliq). Telah diriwayatkan bahwa sejumlah nabi (Adam, Nuh, Musa) dimintai syafaat pada hari kiamat (di padang mahsyar), dan manusia berkata kepada masing-masing dari mereka — karena dahsyatnya kondisi saat itu —: [.. Minta kanlah syafaat untuk kami kepada Rabbmu, agar Dia membebaskan kami dari tempat ini. Maka beliau menjawab: Aku tidak berhak untuk itu — lalu ia mengingat dosanya dan merasa malu —, .. Aku tidak berhak untuk itu — lalu ia mengingat permintaannya kepada Rabbnya tentang hal yang tidak ia ketahui ilmunya dan merasa malu —, .. Aku tidak berhak untuk itu — lalu ia mengingat perbuatannya membunuh jiwa tanpa alasan yang hak dan merasa malu kepada Rabbnya —]. Shahih Al-Bukhari - Kitab At-Tafsīr - Surah 2 - Bab 1 - Hadits 4476 (Al-Fath 8/160).

 وَكُلٌّ مِنْهُمْ مُتَحَرِّجٌ، وَيَمْنَعُهُ الحَيَاءُ مِنَ الجُرْأَةِ عَلَى الشَّفَاعَةِ.

Setiap dari mereka merasa sungkan, dan rasa malu menghalangi mereka untuk berani mendahului dalam memberi syafaat.

وَلِإِحْسَاسِ المُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا بِأَنَّ اللهَ يَرَاهُ عَلَى جَمِيعِ أَحْوَالِهِ، فَإِنَّهُ يَسْتَحْيِي مِنْ رَبِّهِ، وَلِذَلِكُ وَرَدَ فِي التَّسَتُّرِ عِنْدَ الاِغْتِسَالِ فِي الخَلْوَةِ، قَوْلُهُ - ﷺ -: «اللهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ مِنَ النَّاسِ»،

Karena kesadaran seorang mukmin di dunia bahwa Allah melihatnya dalam segala keadaannya, maka ia merasa malu kepada Rabbnya. Oleh sebab itu, mengenai penutupan aurat saat mandi dalam keadaan sendiri, Nabi bersabda: “Allah lebih berhak untuk seseorang merasa malu kepada-Nya daripada kepada manusia.” -Dari Mu'allaqat Al-Bukhari dalam Kitab Al-Ghusl - Bab 20. Berkata dalam Al-Fath 1/386: (.. Dihasankan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

وَالَّذِي يَسْتَحْيِي مِنْ رَبِّهِ، إِنْ كَشَفَ عَوْرَتَهُ فِي خَلْوَتِهِ، حَرِيٌّ بِهِ أَنْ يَمْنَعَهُ الحَيَاءُ مِنَ الإِقْدَامِ عَلَى مَعْصِيَةٍ.

Barangsiapa yang malu kepada Rabbnya ketika membuka aurat di tempat sunyi, niscaya rasa malu itu sangat patut untuk mencegahnya dari melakukan kemaksiatan.

وَيَكْفِي فِي فَضِيلَةِ الحَيَاءِ وَأَثَرِهِ، أَنَّ الأَنْبِيَاءَ السَّابِقِينَ حَذَّرُوا مِنْ كَسْرِ حَاجِزِ الحَيَاءِ، لِئَلَّا يَقَعَ المَرْءُ فِي كُلِّ القَبَائِحِ - وَلَيْسَ لَهُ رَادِعٌ وَلَا وَازِعٌ - كَمَا فِي الحَدِيثِ: «إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ».

Cukuplah sebagai keutamaan dan pengaruh rasa malu bahwa para nabi terdahulu telah memperingatkan agar tidak merusak batasan rasa malu, supaya seseorang tidak jatuh ke dalam segala keburukan — tanpa ada penghalang maupun penahan — sebagaimana dalam hadits: “Sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari perkataan kenabian terdahulu adalah: Jika engkau tidak malu, maka perbuatlah sesukamu.” Shahih Al-Bukhari - Kitab Al-Adab - Bab 78 - Hadits 6120 (Al-Fath 10/523).

وَمِنَ الوُجُوهِ الَّتِي يُفْهَمُ بِهَا هَذَا الحَدِيثُ أَنَّهُ: حَيْثُ تَشْعُرُ بِالحَرَجِ، وَتَخْشَى التَّأَثُّمَ، فَتَوَقَّفْ، وَحَيْثُ يَطْمَئِنُّ القَلْبُ، وَلَا تَشْعُرُ بِالحَرَجِ، فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. فَاقِدُ الحَيَاءِ فَلْيَصْنَعْ مَا يَشَاءُ، وَلْيَنْظُرْ بَعْدَئِذٍ مَاذَا يَفْعَلُ اللهُ بِهِ. لَيْسَ عَجِيبًا مَا نَرَاهُ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ، إِذَا عَلِمْنَا أَنَّ رَادِعَ الحَيَاءِ قَدْ مَاتَ، فَالَّذِي لَا يَسْتَحْيِي - عَادَةً - يَصْنَعُ مَا يَشَاءُ، بِلَا حَرَجٍ مِنْ أَحَدٍ.

Di antara sisi pemahaman dari hadits ini adalah: Di mana pun engkau merasa ragu/keberatan dan takut berbuat dosa, maka berhentilah. Dan di mana pun hati merasa tenang serta tidak ada keraguan, maka perbuatlah apa yang engkau kehendaki. Orang yang kehilangan rasa malu silakan berbuat sesukanya, lalu lihatlah kelak apa yang akan Allah lakukan terhadapnya. Bukanlah hal yang mengherankan dari apa yang kita lihat berupa kemungkaran akhlak, jika kita tahu bahwa penahan rasa malu telah mati. Sebab orang yang tidak memiliki rasa malu — biasanya — akan melakukan apa saja yang ia inginkan tanpa merasa ragu/malu kepada siapa pun. Merujuk Fathul Bari 6/523 - Penjelasan Hadits 3483 dan juga 10/523 - Penjelasan Hadits 6120.

أَفَلَا يَكُونُ كُلٌّ مِنَّا عَوْنًا لِأَخِيهِ فِي مُجَاهَدَةِ النَّفْسِ، وَتَجَنُّبِ مَا لَا يَلِيقُ، وَالْتِزَامِ حُدُودِ الأَدَبِ مَعَ الخَلْقِ وَالخَالِقِ، فِي الخَلْوَةِ وَالجَلْوَةِ، وَفِي الغِيبَةِ وَالشَّهَادَةِ، فَقَدْ جَاءَ فِي الحَدِيثِ: «إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ، حَيِيٌّ، سِتِّيرٌ، يُحِبُّ الحَيَاءَ وَالسَّتْرَ ..»،

Tidakkah hendaknya setiap dari kita menjadi penolong bagi saudaranya dalam menundukkan hawa nafsu, menjauhi hal yang tidak pantas, serta memegang teguh batasan adab kepada makhluk dan Khaliq, baik saat sendiri maupun ramai, dan saat tersembunyi maupun di hadapan publik? Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla Maha Penyantun, Maha Pemalu, Maha Penutup (keburukan), Dia menyukai rasa malu dan penutupan (cela)..” Shahih Sunan An-Nasa'i 1/87 - Kitab Al-Ghusl - Bab 7 - Hadits 393 (Shahih).

وَرُبَّمَا كَانَ لِاقْتِرَانِ الحَيَاءِ وَالسَّتْرِ فِيمَا يُحِبُّ اللهُ، إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ حَيْثُ وُجِدَ الحَيَاءُ، وُجِدَ السَّتْرُ وَالعَفَافُ، وَحَيْثُ تَحِلُّ الجُرْأَةُ عَلَى القَبَائِحِ، يَحِلُّ مَعَهَا التَّكَشُّفُ وَالفَضَائِحُ، وَعُيُوبُ النَّفْسِ مَسْتُورَةٌ بِجِلْبَابِ الحَيَاءِ، فَإِذَا مَا نُزِعَ السَّتْرُ، تَكَشَّفَتْ أَمْرَاضُ النُّفُوسِ، وَتَجَرَّأَ الصَّغِيرُ عَلَى الكَبِيرِ، وَانْطَلَقَ النَّاسُ مِنْ كُلِّ قَيْدٍ، وَتَحَرَّرُوا مِنْ كُلِّ وَازِعٍ، وَغَرِقُوا فِي أَوْحَالِ الرَّذِيلَةِ، وَسَتَبْقَى الفِطْرَةُ مَيَّالَةً إِلَى الحَيَاءِ وَالسَّتْرِ.

Boleh jadi disandingkannya rasa malu dan penutupan cela dalam hal yang dicintai Allah merupakan isyarat bahwa di mana ada rasa malu, di situ ada perlindungan diri dan kesucian. Dan di mana ada keberanian melakukan keburukan, di situ timbul penyingkapan dan keaiban. Aib-aib diri terutup oleh jubah rasa malu; jika penutup itu dicabut, niscaya penyakit-penyakit jiwa akan tersingkap, orang muda berani kepada orang tua, manusia lepas dari segala batasan dan penahan, serta tenggelam dalam kubangan kehinaan. Namun fitrah akan tetap cenderung kepada rasa malu dan tutupan cela.

خُلَاصَةُ هَذَا الفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ:

KESIMPULAN

·       الحَيَاءُ خُلُقٌ يَبْعَثُ عَلَى تَرْكِ القَبِيحِ.

- Rasa malu adalah akhlak yang mendorong untuk meninggalkan keburukan.

·       لَيْسَ مِنَ الحَيَاءِ الاِمْتِنَاعُ عَنِ التَّعَلُّمِ أَوْ المُطَالَبَةِ بِالحُقُوقِ.

- Enggan belajar atau tidak menuntut hak bukanlah bagian dari rasa malu.

·       إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ الإِسْلَامِ الحَيَاءُ.

 - Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak khas, dan akhlak Islam adalah rasa malu.

·       أَهْلُ الجَاهِلِيَّةِ كَانَ عِنْدَهُمْ مِنَ الحَيَاءِ مَا يَمْنَعُهُمْ مِنْ بَعْضِ القَبَائِحِ.

- Masyarakat Jahiliyah memiliki rasa malu yang mencegah mereka dari sebagian keburukan.

·       الحَيَاءُ وَقَارٌ وَمُرُوءَةٌ.

- Rasa malu adalah kewibawaان dan kehormatan diri.

·       مِنَ الحَيَاءِ احْتِرَامُ الأَكَابِرِ.

- Termasuk rasa malu adalah menghormati orang yang lebih tua/berilmu.

·       الحَيَاءُ وِقَايَةٌ مِنَ الوُقُوعِ فِي المَعَاصِي.

- Rasa malu adalah pelindung dari jatuh ke dalam maksiat.

·       مِنْ أَسْمَى الحَيَاءِ التَّأَدُّبُ مَعَ الخَالِقِ.

- Di antara rasa malu yang paling tinggi adalah beradab kepada Sang Penciptا.

·       الحَيَاءُ وَصِيَّةُ النُّبُوَّةِ الأُولَى.

- Rasa malu adalah wasiat dari ajaran kenabian terdahulu.

·       كَمَالُ الحَيَاءِ حِينَ يَكُونُ مَعَ السَّتْرِ.

- Kesempurnaan rasa malu adalah ketika dibersamai dengan menjaga/menutup cela.

📙📙📙 Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

 The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. Dipersilahkan - share




Senin, 06 Juli 2026

Keteguhan - 05 BAB 06 - Hadzihi Akhlaquna

 

AKHLAK KITA DALAM ILAHIYAH

الثبات

Keenam: Keteguhan

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Zat yang memutar balik hati, teguhkanlah hatiku pada agama-mu. " Shahih - Al Jami'ur Hadist 7987

كَثِيرًا مَا نَجِدُ شَبَابًا يَحِنُّونَ إِلَى الْبِدَايَاتِ الَّتِي كَانُوا يَتَفَجَّرُونَ فِيهَا حَيَوِيَّةً، وَيَتَدَفَّقُونَ حَمَاسًا، وَيُبَالِغُونَ فِي الْحِرْصِ عَلَى دَقَائِقِ السُّنَنِ، نَاهِيكَ عَنِ الْبُعْدِ عَنْ دَائِرَةِ الْحَرَامِ وَالشُّبُهَاتِ. ثُمَّ مَاذَا؟

Banyak sekali pemuda yang sangat bersemangat ketika baru memasuki fase-fase permulaan. Mereka sangat antusias untuk mengetahui sunnah secara detail, kemudian lihatlah apa yang terjadi?

كَلَّتِ النُّفُوسُ، وَفَتَرَتِ الْهِمَمُ، وَاكْتَفَى كُلُّ شَابٍّ بِأَنْ يَكُونَ وَاحِدًا مِنْ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ

Jiwa mereka berubah menjadi lesu, semangat mereka lemah dan setiap pemuda merasa cukup menjadi salah seorang dari masyarakat muslim yang awam saja.

وَهَذَا أَحْسَنُ حَالًا مِمَّنُ انْقَلَبُوا عَلَى أَعْقَابِهِمْ فَغَدُوا يُعَادُونَ الدَّعْوَةَ وَيَسْخَرُونَ مِنْ أَهْلِهَا وَيُحَذِّرُونَ مِنْ سَبِيلِهَا، إِنَّهَا مَعْرَكَةُ تَقْرِيرِ الْمَصِيرِ بَيْنَ الارْتِدَادِ عَلَى الْأَعْقَابِ وَالثَّبَاتِ

Ini masih lebih baik daripada mereka yang langsung berpaling dari Islam lalu memerangi dakwah, menghina para Pendukungnya dan menghalangi jalannya. Ini merupakan Pertarungan penentu antara kemurtadan dan keteguhan.

نَعْنِي بِالثَّبَاتِ الاسْتِمْرَارَ فِي طَرِيقِ الْهِدَايَةِ، وَالالْتِزَامَ بِمُقْتَضَيَاتِ هَذَا الطَّرِيقِ، وَالْمُدَاوَمَةَ عَلَى الْخَيْرِ وَالسَّعْيَ الدَّائِمَ لِلاِسْتِزَادَةِ

Keteguhan yang kami maksud adalah terus-menerus di jalan hidayah (benar), komitmen dengan tuntutan jalan ini, senantiasa bersama kebaikan dan berusaha untuk lebih baik.

وَمَهْمَا فَتَرَ الْمَرْءُ، فَهُنَالِكَ مُسْتَوًى مُعَيَّنٌ لَا يُقْبَلُ التَّنَازُلُ عَنْهُ أَوِ التَّقْصِيرُ فِيهِ، وَإِنْ زَلَّتْ قَدَمُهُ فَلَا يَلْبَثُ أَنْ يَتُوبَ

Jika seseorang mengalami kelesuan, maka ada batas tertentu yang tidak boleh diabaikan. Jika ia mengabaikan, maka ia harus bertobat.

وَرُبَّمَا كَانَ بَعْدَ التَّوْبَةِ خَيْرًا مِمَّا كَانَ قَبْلَهَا، ذَلِكَ هُوَ حَالُ الْمُتَّصِفِ بِخُلُقِ الثَّبَاتِ

Semoga keadaannya setelah bertobat lebih baik daripada sebelumnya. Begitulah keadaan orang memiliki sikap teguh..

وَلِلثَّبَاتِ صُوَرٌ تَشْمَلُ عَدَدًا مِنْ جَوَانِبِ حَيَاةِ الْمُسْلِمِ، مِنْهَا الثَّبَاتُ فِي الْمَعْرَكَةِ كَمَا ثَبَتَ الرَّبُّونَ الْكَثِيرُ مَعَ أَنْبِيَائِهِمْ، وَكَانَ قَوْلُهُمْ

Ada bermacam-macam keteguhan pada berbagai sisi kehidupan seorang muslim, di antaranya teguh dalam pertempuran seperti yang dilakukan oleh pengikut-pengikut setia para nabi. Mereka berkata,

﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا﴾ [آل عمران: ١٤٧]،

"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah (teguhkanlah) pendirian kami." (Ali Imran [3]: 147)

وَالْفِئَةُ الصَّابِرَةُ بِإِمْرَةِ طَالُوتَ الَّذِينَ قَالَ اللَّهُ فِيهِمْ: ﴿وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا﴾ [البقرة: ٢٥٠]،

Begitu juga golongan yang sabar dengan perintah Thalut yang dikisahkan oleh Allah swt., "Tatkala mereka tampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa, 'Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kokohkanlah (teguhkanlah) pendirian kami..." al-Baqarah[2]: 250

وَفِي ذَلِكَ تَوْجِيهٌ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَلْتَجِئَ إِلَى اللَّهِ طَالِبًا مِنْهُ التَّثْبِيتَ

Hal ini merupakan anjuran bagi setiap orang mukmin untuk berlindung dan memohon keteguhan kepada Allah, Umat Islam diperintahkan oleh Allah swt.,

وَخُوطِبَ أَبْنَاءُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا﴾ [الأنفال: ٤٥]

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh) maka berteguh hatilah kamu..." (al-Anfaal [8]: 45)

وَمِنَ الْكَبَائِرِ فِي دِينِنَا الْفِرَارُ مِنَ الزَّحْفِ؛ وَلِذَلِكَ كَانَ مِنَ الْوَصَايَا الْعَشْرِ الَّتِي أَوْصَى بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ

Lari pada saat pertempuran dalam agama kita merupakan dosa besar. Oleh karena itu, di antara sepuluh wasiat Rasulullah saw. kepada Mu'adz bin Jabal,

«وَإِيَّاكَ وَالْفِرَارَ مِنَ الزَّحْفِ وَإِنْ هَلَكَ النَّاسُ، وَإِذَا أَصَابَ النَّاسَ مَوْتَانُ وَأَنْتَ فِيهِمْ فَاثْبُتْ» (١)

"...Janganlah melarikan diri pada hari pertempuran sekalipun kaum muslimin kalah. Jika kaum muslimin tertimpa dua kematian, sedang kamu berada bersama mereka maka teguhlah (jangan melarikan diri)." [[Musnad Ahmad 5/238 awalnya, "Rasulullah saw. berpesan kepadaku dengan sepuluh kalimat, beliau bersabda, "Janganlah menyekutukan Allah dengan suatu apa pun.." ]]

لِأَنَّ الثَّبَاتَ يَزِيدُ الْمُؤْمِنِينَ قُوَّةً، وَيُوقِعُ فِي نُفُوسِ الْعَدُوِّ رَهْبَةً، وَتَزَعْزُعُ الْمَوَاقِفِ يُخْذِلُ الصَّدِيقَ وَيُشَمِّتُ الْعَدُوَّ

Sebab, keteguhan akan menambah kekuatan kaum muslimin dan menakutkan musuh, sedangkan rasa ketakutan (tidak teguh) melemahkan semangat kawan dan membuat musuh senang.

وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَمِّقُ هَذَا الْمَعْنَى يَوْمَ الْأَحْزَابِ وَهُوَ يَنْقُلُ التُّرَابَ وَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَطْنَهُ

Pada Perang Ahzab (ketika menggali parit) Rasulullah saw. menanamkan nilai mulia ini sedang dia memindahkan tanah dan perutnya sudah kotor berdebu.

وَهُوَ يَقُولُ: «لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَيْنَا، وَثَبِّتِ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا، إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا» (٢)

Beliau berdoa, Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu niscaya kami tidak mendapat petunjuk, tidak bersedekah, dan tidak shalat. Maka turunkanlah ketenangan pada kami, tetapkanlah kaki kami (teguhkanlah kami) ketika berhadapan (dengan musuh). Mereka telah menzalimi kami, mereka ingin menimpakan bencana pada bapak kami," Shahih Bukhari, kitab Jihad, bab 34 hadits 2837 (al-Fat-h 6/46).

وَلِأَنَّ مَسْأَلَةَ الثَّبَاتِ عَلَى الدِّينِ قَضِيَّةٌ تَشْغَلُ فِكْرَ الْمُسْلِمِ فَإِنَّهُ يُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ بِهَا

Keteguhan pada agama merupakan masalah yang harus dipikirkan oleh seorang muslim. la harus memperbanyak doa untuk memperoleh keteguhan.

فَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِهِ: «يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ» (٣)

Rasulullah saw. sering berdoa, "Wahai Zat yang memutarbalikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu." Musnad Ahmad 3/112.

وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْشَى عَلَى نَفْسِهِ فِي مُوَاجَهَةِ الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ يُدَاهِنَ أَوْ يَلِينَ، وَلِذَلِكَ خَاطَبَهُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ بِفَضْلِهِ عَلَيْهِ بِأَنْ أَخْلَصَ وَلَاءَهُ لِلَّهِ

Dalam menghadapi masyarakat jahiliah Rasulullah saw. khawatir dirinya menjadi lemah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar ia selalu setia kepada-Nya,

﴿وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا * إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ﴾ [الإسراء: ٧٤، ٧٥]

"Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan padamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan (begitu pula) siksaan berlipat ganda sesudah meninggal dunia..." (al-Israa [17]: 74-75)

فَلْيَحْذَرِ الدُّعَاةُ وَهُمْ يُوَاجِهُونَ الطُّغَاةَ مِنْ زَلْزَلَةِ الْأَقْدَامِ وَزَعْزَعَةِ الْوَلَاءِ

Hendaklah para dai berhati-hati dalam menghadapi orang-orang yang zalim, jangan sampai kaki mereka gemetar dan kesetiaannya (kepada Allah) menjadi labil.

وَقَدْ حَذَّرَ حُذَيْفَةُ الْعُلَمَاءَ الْعُبَّادَ لِأَنَّهُمْ قُدْوَةٌ: «يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ اسْتَقِيمُوا .. فَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا» (١)، 

Khudzaifah mengingatkan para ulama karena mereka merupakan suri tauladan,

"Wahai para ulama, istiqamahlah (tetaplah pada jalan yang lurus), jika kalian ke kiri dan ke kanan, maka sungguh, kalian telah jauh tersesat. " Shahih Bukhari, kitab al-l'tisham, bab 2, hadits 7282 (al-Fat-h.13/250).

وَلَوْ أَنَّ ضَلَالَ الْمُتَذَبْذِبِ يَمِينًا وَشِمَالًا يَقْتَصِرُ عَلَيْهِ لَهَانَ الْأَمْرُ، وَلَكِنْ يُفْتَنُ بِضَلَالِهِ آخَرُونَ

Jika ulama mengalami kesesatan, maka itu hanya mem-bahayakan dirinya sendiri dan akibatnya tidak terlalu parah, tetapi sayang kesesatannya sangat membahayakan orang banyak.

وَقَدْ كَانَ مِنْ وَسَائِلِ أَهْلِ الْكِتَابِ فِي زَعْزَعَةِ صُفُوفِ الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَتَظَاهَرُوا بِالدُّخُولِ فِي الْإِسْلَامِ، ثُمَّ يَرْتَدُّوا لِيَرْتَدَّ مَعَهُمْ آخَرُونَ

Yahudi dan Nasrani berusaha menggoyahkan barisan kaum muslimin dengan cara berpura-pura masuk Islam kemudian mereka murtad agar orang lain juga ikut murtad,

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ: ﴿آمَنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾ [آل عمران: ٧٢]

"Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya), 'Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali kepada (kekafiran)." (Ali Imran [3]: 72)

فَالسَّعِيدُ مَنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ لِلثَّبَاتِ، وَخَتَمَ لَهُ بِخَيْرٍ وَمَاتَ وَهُوَ يَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِلَى أَنْ يَرْزُقَهُ اللَّهُ التَّثْبِيتَ حِينَ يُسْأَلُ

Berbahagialah orang yang diberikan keteguhan oleh Allah swt. dan mati dalam keadaan husnul khatimah, mengerjakan amal kebaikan menuju surga hingga ia diberikan keteguhan pada saat menghadapi pertanyaan (di alam kubur).

وَلَوْ تَأَمَّلْتَ فِي أَحَادِيثِ الْحَوْضِ مِنْ صَحِيحِ مُسْلِمٍ لَوَجَدْتَ أُنَاسًا مُنِعُوا مِنْهُ وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ

Jika Anda memperhatikan hadits-hadits tentang al-Haudh (telaga Rasulullah di akhirat) pada kitab Shahih Muslim, niscaya Anda akan mendapatkannya karena banyak orang yang tidak bisa sampai ke telaga tersebut sedang Rasulullah berkata,

«يَا رَبِّ أَصْحَابِي» فَيُقَالُ: «إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ» فَيَدْعُو عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي»

"Wahai Tuhan, mereka sahabatku." Lalu dikatakan, "Engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (perbuat) setelah kamu mati." Kemudian Rasulullah berkata, "Binasalah binasalah bagi orang yang mengubah setelah aku mati."

وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى يُقَالُ لَهُ: «وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ»، فَكَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ أَحَدُ رُوَاةِ هَذَا الْحَدِيثِ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نَرْجِعَ عَلَى أَعْقَابِنَا أَوْ نُفْتَنَ عَنْ دِينِنَا» (٢)

Dalam riwayat lain dikatakan kepada Nabi saw., "Demi Allah, mereka berpaling (menjadi murtad)." Ibnu Abu Malikah, salah seorang perawi hadits berdoa, "Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kemurtadan." Shahih Muslim, kitab al-Fadhail, bab 9, hadits 2289 dan 2295 (Syarh an-Nawawi 8/58).

وَكَلِمَةُ «مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ» تُوحِي بِالتَّرَاجُعِ الْبَطِيءِ الْمُتَوَاصِلِ الْمُؤَدِّي إِلَى الْهَاوِيَةِ. وَرُبَّمَا يَصْعُبُ الرُّجُوعُ بَعْدَ طُولِ الاسْتِدْرَاجِ. فَهَنِيئًا لِمَنِ اسْتَدْرَكَ نَفْسَهُ لِئَلَّا تَزِلَّ قَدَمُهُ بَعْدَ ثُبُوتِهَا

Kata "Maa barihuu yarji'uun" meng-isyaratkan bahwa berpaling secara perlahan-lahan dan terus-menerus sampai ke jurang yang dalam (neraka Hawiyah). Bahkan, sangat sulit untuk kembali. Berbahagialah orang yang dapat mengendalikan dirinya sehingga imannya tidak goyah.

نَجِدُ كَثِيرًا مِنَ الْأَدْعِيَةِ تَرْكِزُ عَلَى مَعْنَى الثَّبَاتِ، وَمِنْ ذَلِكَ دُعَاءُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا لَا يَنْفَدُّ» (١) 

Banyak doa-doa untuk memohon keteguhan, seperti doa Abdullah bin Mas'ud,

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang tidak goyah dan nikmat yang tidak habis." Musnad Ahmad 1/400, dari doa Ibnu Mas'ud.

وَقَالَ شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ نَدْعُو بِهِنَّ فِي صَلَاتِنَا: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَأَسْأَلُكَ عَزِيمَةَ الرُّشْدِ» (٢)


Syadad bin Aus berkata, "Rasulullah saw. telah mengajarkan beberapa kata untuk kita pakai berdoa dalam shalat kita, 'Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam setiap masalah, dan aku memohon petunjuk kepada-Mu." Musnad Ahmad 4/125 awalnya, "Jika seseorang beranjak ke tempat tidurnya..."

وَمِنْ صُوَرِ الثَّبَاتِ فِي الْفِتَنِ: الصَّبْرُ فِي أَيَّامِ الصَّبْرِ الَّتِي وَصَفَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِقَوْلِهِ

Di antara macam-macam keteguhan adalah bersabar pada hari-hari seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya,

«الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ»، وَفِي رِوَايَةٍ: «يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ» (٣)

"Bersabar pada hari-hari itu bagai memegang bara api."

Dalam riwayat lain, "Suatu zaman akan datang kepada manusia, di mana orang yang bersabar mempertahankan agamanya pada waktu itu bagaikan orang yang memegang bara api." [[Riwayat pertama oleh Abu Daud dan at-Tirmidzi, sedangkan riwayat kedua oleh at-Tirmidzi saja. (Sanad kedua hadits tersebut dinilai lemah oleh al-Arnauth, lalu ia menguatkannya dengan beberapa syahid Jami' al-Ushul 10/403 hadits 7453 dan 7454).]]

وَمَنْ ذَا الَّذِي يَثْبُتُ قَابِضًا عَلَى الْجَمْرِ؟! لِذَلِكَ بَشَّرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِأَنَّ الثَّابِتَ مِنْ هَؤُلَاءِ لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ: «إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ» (٤)

Maką siapakah yang tetap teguh memegang bara api? Oleh karena itu, Rasulullah saw. memberi kabar gembira bahwa orang yang teguh (mempertahankan agamanya) mendapat pahala seperti pahala lima puluh sahabat Rasul, Sesungguhnya akan datang hari-hari kepada kalian agar bersabar, bagi seorang yang mempertahankan agamanya maka pahalanya seperti pahala lima puluh orang.” Silsilah al-Ahadits adh-Dha'ifah 1/812 hadits 494. 

وَفِي أَشَدِّ مَا يَلْقَاهُ الْمُسْلِمُونَ مِنَ الْفِتَنِ حِينَ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ وَيُعِيثُ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِنَّ الْوَصِيَّةَ الْأَسَاسِيَّةَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ الَّتِي يُوصِي بِهَا أُمَّتَهُ حِينَئِذٍ: «يَا عِبَادَ اللَّهِ اثْبُتُوا» (٥)

Malapetaka besar yang akan menimpa kaum muslimin adalah ketika Dajjal keluar dan merusak di mana-mana. Wasiat Rasulullah saw. untuk umatnya pada saat itu adalah, "Wahai hamba-hamba Allah, teguhlah kalian." Shahih Sunan Ibnu Majah 2/386 hadits 3294/4075.

وَمِنْ أَهَمِّ صُوَرِ الثَّبَاتِ الْمُدَاوَمَةُ عَلَى الطَّاعَاتِ: فَالْمَطْلُوبُ فِي بَعْضِهَا الْمُثَابَرَةُ عَلَيْهَا. يَرْوِي التِّرْمِذِيُّ: «مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَنِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ» (١)

Di antara macam-macam keteguhan yaitu senantiasa me-ngerjakan amal-amal ketaatan. Dan hal ini membutuhkan ketekunan. At-Tirmidzi meriwayatkan, "Barangsiapa senantiasa mengerjakan dua belas rakaat shalat sunnah niscaya Allah membangun rumah untuknya di surga." Shahih al-Jami', hadits 6183 (shahih),

وَفِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ تَقُولُ أُمُّ حَبِيبَةَ رَاوِيَةُ الْحَدِيثِ، وَيَقُولُ كُلٌّ مِنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ وَالنُّعْمَانِ بْنِ ثَابِتٍ مِنْ رِجَالِ السَّنَدِ: «مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ» (٢)

Pada riwayat Muslim Ummu Habibah perawi hadits berkata, ""Amr bin Aus, an-Nu'man bin Tsabit (para perawi hadits tersebut) berkata, 'Aku tidak pernah meninggalkannya (shalat sunnah dua belas rakaat) sejak aku mendengar hadits itu." Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 15, hadits 728 (Syarh an-Nawawi 31 252).

وَتَقُولُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: «وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ» (٣)

Aisyah r.a. bercerita tentang Rasulullah, "Ibadah yang paling dicintainya adalah ibadah yang dikerjakan dengan tekun oleh seseorang." Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 31, hadits 221, (Syarh an-Nawawi 31321). 


وَعِنْدَ مُسْلِمٍ كَذَلِكَ: «وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتِ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ» (٤)

Demikian juga pada riwayat Muslim, "Dan apabila Aisyah r.a. mengerjakan suatu pekerjaan maka ia menekuninya." Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 30, hadits 218 (Syarh an-Nawawi 3/319).

وَحِينَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟» قَالَ: «أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ» (٥)

Ketika Rasulullah saw. ditanya, "Perbuatan seperti apa yang paling dicintai Allah?" Beliau bersabda, "Yang ditekuni (senantiasa dilakukan) walaupun sedikit. Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 30, hadits 216 (Syarh an-Nawawi 3/318).

وَكَانَ آلُ مُحَمَّدٍ ﷺ إِذَا عَمِلُوا عَمَلًا أَثْبَتُوهُ (١)، يَقُولُ النَّوَوِيُّ: «أَيْ لَزِمُوهُ وَدَاوَمُوا عَلَيْهِ» (٧)

Keluarga Rasulullah saw. tekun jika mengerjakan suatu pekerjaan. Ibid., hadits 215.

An-Nawawi menjelaskan, "Mereka senantiasa menekuninya. " Syarh an-Nawawi li Shahih Muslim 3/319.

وَالثَّبَاتُ مَظْهَرٌ بَارِزٌ لِلاِسْتِقَامَةِ، لِأَنَّ الْمُتَذَبْذِبَ الْمُتَقَلِّبَ لَا يَقْدِرُ عَلَى الثَّبَاتِ، وَلَا يَقْوَى عَلَى الاسْتِقَامَةِ، فَقَدْ كَانَ الْوَاحِدُ مِنَ الصَّحَابَةِ يَقُولُ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِعَمَلٍ أَسْتَقِيمُ عَلَيْهِ وَأَعْمَلُهُ»، فَأَجَابَهُ بِأَوْجَبِ الْوَاجِبَاتِ وَقْتَهَا: «عَلَيْكَ بِالْهِجْرَةِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهَا» (١)

Keteguhan merupakan bentuk nyata keistiqamahan, karena orang yang bimbang tidak bisa teguh dan istiqamah. Salah seorang sahabat pernah berkata kepada Rasulullah saw. "Wahai Rasulullah, beri tahukan kepadaku, suatu perbuatan yang dapat aku tekuni." Maka beliau memberi tahunya suatu perbuatan yang paling wajib pada saat itu, "Engkau harus berhijrah, karena hijrah merupakan (amalan) yang tiada bandingannya. " Shahih Sunan an-Nasa'i, kitab Bai'at, bab 14 hadits 3885 (Hasan, Shahih).

وَكَانَ مِنْ دَقِيقِ مُلَاحَظَةِ الصَّحَابَةِ لِظَاهِرَةِ الثَّبَاتِ فِي سُلُوكِ كُلِّ فَرْدٍ أَنَّ بُرَيْدَةَ بْنَ الْحُصَيْبِ لَقِيَ سَلَمَةَ بْنَ الْأَكْوَعِ قَادِمًا مِنَ الْبَادِيَةِ فَظَنَّ أَنَّهُ قَطَعَ هِجْرَتَهُ إِلَى الْمَدِينَةِ وَأَقَامَ خَارِجَهَا فَقَالَ لَهُ: «ارْتَدَدْتَ عَنْ هِجْرَتِكَ يَا سَلَمَةُ؟!» فَقَالَ سَلَمَةُ: «مَعَاذَ اللَّهِ إِنِّي فِي إِذْنٍ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ» (٢)

Karena para sahabat sangat memperhatikan fenomena keteguhan pada setiap individu, Buraidah bin al-Hashib bertanya kepada Salamah bin al-Aku'. Ketika Salamah baru datang dari suatu kampung, ia menyangka Salamah tidak jadi hijrah ke Madinah tetapi justru tinggal di luar Madinah, "Wahai Salamah, apakah engkau tidak jadi hijrah?" Salamah menjawab, "Aku berlindung kepada Allah, aku sudah diizinkan oleh Rasulullah saw," Musnad Ahmad 4/55.

وَمِنَ الْمَلْعُونِينَ عَلَى لِسَانِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: «الْمُرْتَدُّ أَعْرَابِيًّا بَعْدَ هِجْرَتِهِ» (٣)

Termasuk orang-orang yang dilaknat dengan lisan Rasululah saw. adalah, "Orang Badui yang murtad setelah ia berhijrah." Shahih al-Jami' hadits 5 (shahih).

هَذِهِ صُورَةُ الْجِيلِ الْفَرِيدِ كَيْفَ يَحْرِصُ عَلَى الثَّبَاتِ وَيَتَوَاصَوْنَ بِهِ وَيَخْشَوْنَ الانْقِلَابَ عَلَى الْأَعْقَابِ، وَإِلَى عَامِ «حَجَّةِ الْوَدَاعِ» وَالرَّسُولُ ﷺ يَدْعُو لِلصَّحَابَةِ بِالثَّبَاتِ عَلَى هِجْرَتِهِمْ إِلَى الْمَدِينَةِ لِتَقْوَى بِهِمُ الدَّوْلَةُ النَّاشِئَةُ: «اللَّهُمَّ أَمْضِ لِأَصْحَابِي هِجْرَتَهُمْ، وَلَا تَرُدَّهُمْ عَلَى أَعْقَابِهِمْ» (٤)

Demikianlah sekilas gambaran kehidupan generasi istimewa (generasi sahabat) yang sangat menjaga keteguhan, saling menasihati dalam hal keteguhan itu dan sangat mengkhawatirkan kemurtadan. Hingga tahun haji Wada' Rasulullah saw. senantiasa berdoa untuk para sahabatnya, agar mereka tetap teguh dalam hijrahnya ke Madinah demi terwujudnya negara baru yang kuat, "Ya Allah, langsungkanlah hijrah para sahabatku dan janganlah Engkau kembalikan mereka ke belakang (kepada kemusyrikan). " Shahih Bukhari, kitab al-Janaiz, bab 36, hadits 1295 (al-Fat-h3/164).

وَالْقَوْلُ الْجَامِعُ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي بَيَانِ حَقِيقَةِ الْإِسْلَامِ: إِيمَانٌ وَثَبَاتٌ، فَقَدْ قِيلَ لَهُ: «قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ» قَالَ: «قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ» (٥)

Hadits Nabi yang mencakup arti luas dalam menjelaskan bahwa hakikat Islam adalah merupakan keimanan dan keteguhan, "(Seorang sahabat berkata, 'Wahai Rasul, beri tahukan aku suatu ucapan yang tidak perlu aku tanya lagi pada orang lain selainmu."

Rasulullah saw. bersabda, "Katakan, 'Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah (teguhlah)." Shahih Muslim, kitab Iman, bab Jami'u Aushaf al-Islam.


خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN

- أَكْثَرُ الشَّبَابِ قَدْ لَا يَسْتَمِرُّونَ عَلَى حَمَاسِ الْبِدَايَاتِ

Kebanyakan pemuda tidak mempertahankan semangat yang ada pada fase-fase permulaan.

- مِنْ صُوَرِ الثَّبَاتِ

Macam-macam keteguhan, di antaranya adalah:

• الثَّبَاتُ فِي مُوَاجَهَةِ الْعَدُوِّ

Teguh dalam menghadapi musuh.

• الثَّبَاتُ عَلَى دِينِ اللَّهِ

Teguh pada agama Allah

• الثَّبَاتُ عَلَى الاسْتِقَامَةِ

Teguh dalam beristiqamah.

• الثَّبَاتُ فِي أَيَّامِ الْفِتَنِ

Teguh pada hari-hari fitnah (huru-hara menjelang kiamat).

• الْمُدَاوَمَةُ عَلَى فِعْلِ الطَّاعَاتِ

Tekun melaksanakan berbagai bentuk ketaatan.

- الْمُتَذَبْذِبُ قَدْ يُفْتِنُ النَّاسَ بِعَدَمِ ثُبُوتِهِ

Orang yang bimbang atau ragu dapat membingungkan sebab ketidakteguhannya. at membingungkan masyarakat

- الثَّبَاتُ مَظْهَرٌ بَارِزٌ لِلاِسْتِقَامَةِ

◆ Keteguhan adalah bentuk nyata istiqamah.

- مِمَّا يُعِينُ عَلَى الثَّبَاتِ التَّوَاصِي بِهِ

◆ Saling menasihati dan mengingatkan dapat meneguhkan seseorang.

- حَقِيقَةُ الْإِسْلَامِ: إِيمَانٌ وَثَبَاتٌ

→ Hakikat Islam adalah merupakan keimanan dan keteguhan.


📙📙📙 Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

 The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. Dipersilahkan - share

Senin, 15 Juni 2026

Segera Bertaubat - 05 BAB 05 Hadzihi Akhlaquna -

AKHLAK KITA DALAM ILAHIYAH


Kelima: Segera Bertaubat

فَخَيْرُهُمْ بَطِيءُ الْغَضَبِ سَرِيعُ الْفَيْئَةِ

"Yang terbaik di antara mereka adalah yang tidak mudah marah dan yang segera bertobat."

مَنْ يُرَاجِعْ سِيَرَةَ خَيْرِ الْقُرُونِ يَجِدُ أَنَّ صَحَابَةَ رَسُولِ اللهِ ﷺ لَمْ يَكُونُوا مُتَمَيِّزِينَ بِالْعِصْمَةِ مِنَ الْوُقُوعِ فِي الْخَطَإِ مَعَ الْخَلْقِ أَوِ الْخَالِقِ

Orang yang menelaah perjalanan hidup generasi pada abad terbaik (orang-orang terdahulu) akan mengetahui bahwa para sahabat Rasulullah saw. tidak memiliki keistimewaan berupa perlindungan dari kesalahan, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap Allah swt.

وَإِنَّمَا كَانُوا بَشَرًا تَمَيَّزُوا بِأَنَّهُمْ

Namun, mereka hanyalah orang-orang yang mempunyai keistimewaan,

«إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾» [آلُ عِمْرَانَ: ١٣٥]

"...Yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, kemudian mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, karena siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Ali Imran [3]: 135)

وَأَنَّهُمْ «إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ ﴿٢٠١﴾» [الْأَعْرَافِ: ٢٠١]

Mereka, "...Apabila mereka ditimpa waswas dari setan. Mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan- kesalahannya." al-A'raaf [7]: 201

هٰذِهِ الْمُبَادَرَةُ إِلَى التَّوْبَةِ وَتِلْكَ الْمُسَارَعَةُ إِلَى الرُّجُوعِ لِلْحَقِّ هِيَ مَا نَعْنِيهِ بِسُرْعَةِ الْفَيْئَةِ

Segera bertobat dan segera kembali kepada kebenaran, maka inilah yang kami maksud dengan Suratul Farah.

كَثِيرًا مَا تَكُونُ بَعْضُ الطَّبَائِعِ الَّتِي لَمْ تُهَذَّبْ سَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ زَلَّةِ الْقَدَمِ وَالْوُقُوعِ فِي بَعْضِ الْخُصُومَاتِ

Sebagian watak yang tidak terdidik dengan baik, maka akan sering menyebabkan kaki tergelincir dan terjatuh kepada pertengkaran. 

وَقَدْ وَرَدَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ ذَكَرَ طَبَائِعَ النَّاسِ وَأَخْلَاقَهُمْ فِي إِحْدَى خُطَبِهِ فَقَالَ

Pada salah satu khotbah Rasulullah saw. menyebutkan watak-watak manusia dan perangai-perangai mereka. Beliau bersabda,

«يَكُونُ الرَّجُلُ سَرِيعَ الْغَضَبِ قَرِيبَ الْفَيْئَةِ فَهٰذِهِ بِهٰذِهِ، وَيَكُونُ بَطِيءَ الْغَضَبِ بَطِيءَ الْفَيْئَةِ فَهٰذِهِ بِهٰذِهِ. فَخَيْرُهُمْ بَطِيءُ الْغَضَبِ سَرِيعُ الْفَيْئَةِ، وَشَرُّهُمْ سَرِيعُ الْغَضَبِ بَطِيءُ الْفَيْئَةِ». (١)

"...Ada orang yang cepat marah dan cepat pula bertobat. 573 Dua hal ini seimbang. Ada yang tidak mudah marah dan lambat bertobat, dua hal ini juga seimbang. Yang terbaik di antara mereka adalah yang tidak mudah marah dan yang segera bertobat, sedangkan yang terburuk adalah orang yang mudah marah dan lambat bertobat. " [[Musnad Ahmad 3/61 dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam kitab al-Fitan Pada sebagian sanadnya terdapat perawi yang dan ia menilai hadits itu hasan. Pada sebagian dha'iif, sebagian kalimat hadits tersebut, memiliki banyak syahid (penguat). Jami' al-Ushul11/848. ]]

وَحَبْلُ الْخَيْرِيَّةِ بِيَدِكَ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُ، وَمَا عَلَيْكَ إِلَّا أَنْ تَضْبِطَ عَوَاطِفَكَ فَلَا تَغْضَبْ وَلَا تُسِيءْ

Wahai orang beriman, kendali kebaikan ada di tangan Anda, tugas pertama Anda hanya mengatur emosional sehingga Anda tidak menjadi pemarah dan menyakiti orang lain.

وَإِنْ لَمْ تَتَمَالَكْ نَفْسَكَ فَلَا يَطُلَّ عَلَيْكَ الْأَمَدُ وَيَتَرَاكَمْ عَلَى قَلْبِكَ الرَّانُ، وَإِنَّمَا تَفِيءُ إِلَى دَائِرَةِ الْحَقِّ بِسُرْعَةٍ، وَتَرْجِعُ إِلَى جَادَّةِ الصَّوَابِ عَلَى عَجَلٍ

Jika suatu saat Anda tidak menguasai diri, maka hendaklah jangan berlama-lama dalam keadaan seperti itu, dan segeralah kembali kepada kebenaran.

وَلَمْ يَخْلُ بَيْتٌ مِنْ بُيُوتِ رَسُولِ اللهِ ﷺ مِنْ خُصُومَاتٍ تَقَعُ بَيْنَ زَوْجَاتِهِ

Di rumah-rumah Nabi ﷺ juga tidak lepas dari pertengkaran yang terjadi antara istri-istri beliau.

وَلٰكِنِ انْظُرُوا إِلَى شَهَادَةِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِي ضَرَّتِهَا زَيْنَبَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، وَإِلَى مَا ذَكَرَتْ مِنْ خُلُقِ زَيْنَبَ

Tetapi lihatlah kesaksian Aisyah r.a. terhadap madunya, yaitu Zainab r.a. dan perangai Zainab yang disebutkannya,

«وَلَمْ أَرَ امْرَأَةً قَطُّ خَيْرًا مِنْ زَيْنَبَ، وَأَتْقَى لِلَّهِ، وَأَصْدَقَ حَدِيثًا، وَأَوْصَلَ لِلرَّحِمِ، وَأَعْظَمَ صَدَقَةً، وَأَشَدَّ ابْتِذَالًا لِنَفْسِهَا فِي الْعَمَلِ الَّذِي تَتَصَدَّقُ بِهِ وَتَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى، مَا عَدَا سُورَةً مِنْ حِدَّةٍ كَانَتْ فِيهَا، تُسْرِعُ مِنْهَا الْفَيْئَةُ». (١)

"...Aku tidak melihat perempuan yang lebih baik daripada Zainab. Ia sangat bertakwa, sangat jujur, selalu menyambung silaturahmi, selalu banyak bersedekah, sangat bersungguh-sungguh dalam bekerja untuk bersedekah dan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi ia (terkadang) marah lalu segera sadar kembali (segera bertobat)." Shahih Muslim, kitab Fadhai ash-Shahabah, bab 13, hadits 83 (Syarh an-Nawawi 15/215). 

فَلَمْ تَكُنْ تُنْكِرُ عَلَيْهَا سِوَى حِدَّةً فِي طَبْعِهَا، وَلٰكِنَّهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهَا كَانَتْ تُسَارِعُ فَتَسْتَدْرِكُ وَتُصْلِحُ مَا نَتَجَ عَنْ حِدَّتِهَا

Aisyah r.a. tidak memungkiri Zainab r.a. kecuali kekerasan wataknya, namun ia segera sadar dan memperbaiki apa yang terjadi akibat kekerasannya itu.

وَلِذٰلِكَ، حِينَ تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَيِ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، يُغْفَرُ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ إِلَّا الْمُتَخَاصِمَيْنِ، فَيُقَالُ: «أَنْظِرُوا هٰذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا». (٢)

Oleh karena itu, ketika amal-amal perbuatan diserahkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis, maka Allah swt. mengampuni setiap orang mukmin kećuali dua orang yang bermusuhan. Dikatakan, "Tangguhkanlah dua orang ini sampai keduanya berdamai." Sunan Abu Daud, kitab Adab, bab 55, hadits 4916 (shahih).

وَفِي رِوَايَةٍ: «اتْرُكُوا هٰذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا». (٣)

Pada riwayat yang lain, "Biarkanlah dua orang ini hingga keduanya kembali sadar (bertobat)." Shahih Muslim, kitab al-Birr, bab 11, hadits 2565 (Syarh an-Nawawi 16/358).

وَ«خَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ». (٤)

"Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai salam." Shahih Bukhari, kitab Adab, bab 62, hadits 6077 (al-Fat-h1 (al-Fat-h 10/492).

وَالْمُتَوَقَّعُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الصَّادِقِ أَنَّهُ يُسْرِعُ الْفَيْئَةَ وَيُسَابِقُ إِلَى الصُّلْحِ. أَمَّا مَنْ يَلِجُّ فِي الْخُصُومَةِ وَيَغْرَقُ فِي التَّمَادِي، فَإِنَّ: «أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ». (٥)

Seorang mukmin sejati akan selalu segera kembali sadar dan berdamai, sedangkan orang yang tenggelam dalam pertengkaran maka sesungguhnya, "Orang yang sangat dibenci Allah adalah al-alalldul khashimi." Shahih Bukhari, kitab al-Ahkam, bab 34, hadits 7188 (al-Fat-h 13/180).

وَفَسَّرَهُ ابْنُ حَجَرٍ بِأَنَّهُ: «شَدِيدُ الْعِنَادِ، كَثِيرُ الْجَدَلِ وَالْخُصُومَةِ». (٦)

Artinya menurut Ibnu Hajar, "Sangat buruk perangainya dan sering bertengkar. Fat-hu al-Baari 8/188.

بَلْ إِنَّ مِنْ صِفَاتِ الْمُنَافِقِ أَنَّهُ إِذَا خَاصَمَ فَجَرَ. (١)

Di antara sifat-sifat orang munafik adalah, "Jika ia bertengkar, maka ia berbuat fujur." Shahih Bukhari, kitab Iman, bab 24, hadits 34.

يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ: «وَالْفُجُورُ: الْمَيْلُ عَنِ الْحَقِّ وَالِاحْتِيَالُ فِي رَدِّهِ». (٢)

Ibnu Hajar berpendapat, "Fujur adalah menyimpang dari kebenaran dan berupaya membuang kebenaran tersebut." Fat-hu al-Baari 1/90.

وَكَمْ يَكُونُ عَظِيمًا ذٰلِكَ الَّذِي يَذِلُّ لِلْمُؤْمِنِينَ، وَيَئُوبُ إِلَى الرُّشْدِ، وَيُعَجِّلُ إِلَى رَبِّهِ لِيَرْضَى عَنْهُ

Berapa banyak orang dapat menjadi agung karena bersikap rendah diri terhadap orang-orang beriman, segera kembali kepada petunjuk Tuhannya agar Dia meridhainya.

وَلَقَدْ ضَرَبَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَثَلًا رَفِيعًا فِي سُرْعَةِ الْفَيْئَةِ، حِينَ عَلِمَ أَنَّ مِسْطَحَ بْنَ أُثَاثَةَ — الَّذِي يَأْكُلُ مِنْ نَفَقَةِ أَبِي بَكْرٍ — كَانَ قَدْ شَارَكَ فِي اتِّهَامِ ابْنَتِهِ السَّيِّدَةِ عَائِشَةَ بِحَدِيثِ الْإِفْكِ، فَأَقْسَمَ أَبُو بَكْرٍ أَلَّا يُنْفِقَ عَلَيْهِ

Abu bakar ash-Shiddiq r.a. merupakan contoh yang mulia dalam hal bertobat, ketika ia tahu bahwa Misthah bin Atsatsah yang mendapat nafkah darinya ikut serta menuduh putrinya (Aisyah r.a.) dengan berita palsu (haditsul ifki), maka Abu Bakar bersumpah tidak memberinya nafkah lagi.

فَنَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۚ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ ۗ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ [النُّورِ: ٢٢]

Kemudian, turunlah firman Allah swt., "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" an-Nuur [24]: 22

فَمَا إِنْ سَمِعَ أَبُو بَكْرٍ خَاتِمَةَ الْآيَةِ حَتَّى صَاحَ: بَلَى وَاللهِ، إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لِي

Ketika mendengar akhir ayat itu Abu Bakar berkata dengan keras, "Ya, demi Allah, aku ingin sekali diampuni Allah."

وَتَغَلَّبَ عَلَى عَوَاطِفِهِ الَّتِي تَدْعُوهُ لِلثَّأْرِ لِعِرْضِ ابْنَتِهِ الْبَرِيئَةِ، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحَ النَّفَقَةَ الَّتِي كَانَ يُنْفِقُهَا عَلَيْهِ، وَقَالَ: «وَاللهِ لَا أَنْزَعُهَا مِنْهُ أَبَدًا». (٣)

Maka ia berhasil mengalahkan emosinya yang mengajaknya untuk menuntut balas demi kebersihan harga diri putrinya, "Maka ia kembali memberikan nafkah kepada Misthah dan berkata, 'Demi Allah, aku akan selalu menafkahkannya." Shahih Bukhari, kitab al-Maghazi, bab 34, hadits 4141 (al-Fat-h 7/434). 

لَيْسَ الْعَيْبُ فِي الْوُقُوعِ فِي الْخَطَإِ، إِذْ: «كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ». (٤)

Bukan hal yang memalukan jika seseorang bersalah, karena "Setiap anak Adam berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertobat. " Shahih Sunan Ibnu Majah oleh al-Albani 2/418 hadits 3428 (hasan).

وَإِنَّمَا تَكْمُنُ الْمُصِيبَةُ فِي الْإِصْرَارِ عَلَى الْخَطَإِ وَالتَّمَادِي فِي الْبَاطِلِ. مَعَ أَنَّ أَبْوَابَ الرَّحْمَةِ مُفَتَّحَةٌ تَدْعُونَا لِسُرْعَةِ الْفَيْئَةِ

Yang menjadi musibah adalah jika terus-menerus bersalah dan melakukan kebatilan, padahal pintu-pintu rahmat Allah terbuka lebar mengajak kita segera bertobat,

«إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا». (١)

"Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berdosa di siang hari bertobat, dan Dia memberitangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit di tempat terbenamnya (di sebelah barat)." Shahih Muslim/kitab Taubat, bab 5 (Syarh an-Nawawi 17/83). 

وَتَسْتَطِيعُ تَجَاوُزَ الْعَقَبَةِ بِأَنْ تَكُونَ صَرِيحًا مَعَ نَفْسِكَ وَتَعْتَرِفَ بِخَطَئِكَ، وَهٰذِهِ بِدَايَةُ طَرِيقِ التَّوْبَةِ وَالْفَيْئَةِ إِلَى اللهِ

Anda akan mampu melalui rintangan jika Anda bersikap jujur terhadap diri sendiri dan mengakui kesalahan Anda. Inilah awal jalan tobat kepada Allah, 

«فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ، تَابَ اللهُ عَلَيْهِ». (٢)

"Jika seorang hamba mengakui dosanya kemudian ia bertobat, niscaya Allah menerima tobatnya." Shahih Bukhari, kitab Tafsir, bab 6, hadits 4750 (al-Fat-h 8/454).

وَإِذَا كَانَ رَبُّنَا يَدْعُونَا إِلَى سَعَةِ رَحْمَتِهِ وَيُقَابِلُ ضَعْفَنَا بِإِحْسَانِهِ، فَمَا الَّذِي يُبَطِّئُ بِنَا عَنْ إِصْلَاحِ أَنْفُسِنَا

Jika Allah telah mengajak kita kepada rahmat-Nya yang luas lagi yang membuat kita lamban dalam memperbaiki diri?

 وَمَا الَّذِي يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْفَيْئَةِ السَّرِيعَةِ وَالرَّجْعَةِ النَّصُوحِ؟

Apa yang menghalangi kita untuk segera bertobat nasuha?

وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدسِيِّ

Disebutkan dalam sebuah hadits qudsi,

«.. وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً». (٣)

Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal niscaya Aku mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat kepada-Ku sehasta niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan niscaya Aku datang kepadanya dengan berlari." Shahih Bukhari, kitab Tauhid, bab 15, hadits 7405 (al-Fat-h.13/384).

فَاهْرُلْ أَيُّهَا الْعَبْدُ إِلَى رَحْمَةِ اللهِ، وَإِيَّاكَ وَالتَّسْوِيفَ

Wahai hamba, berlarilah menuju rahmat Allah dan hindar-kanlah kelalaian!

إِنَّ الَّذِي يَحُولُ دُونَ التَّعْجِيلِ بِالتَّوْبَةِ هُوَ الْوُقُوعُ فِي قَيْدِ الْإِصْرَارِ

Terus-menerus melakukan kesalahan akan membuat kita tidak segera bertobat.

وَلَقَدْ تَرْجَمَ الْبُخَارِيُّ أَحَدَ أَبْوَابِ كِتَابِ الْإِيمَانِ بِقَوْلِهِ

Bukhari membuat suatu judul bab pada kitab al-Iman,

«خَوْفُ الْمُؤْمِنِ مِنْ أَنْ يُحْبَطَ عَمَلُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ... وَمَا يُحْذَرُ مِنَ الْإِصْرَارِ عَلَى النِّفَاقِ وَالْمَعْصِيَةِ مِنْ غَيْرِ تَوْبَةٍ، لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى

"Seorang mukmin khawatir amalnya menjadi sia-sia tanpa disadarinya, dan sikap ishrar (menetap) pada kemunafikan dan kemaksiatan tanpa tobat yang ditakutkannya, karena firman Allah swt.,

. وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ [آلُ عِمْرَانَ: ١٣٥]». (٤)

Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui," (Ali 'Imran [3]: 135)588

وَيُعَلِّقُ ابْنُ حَجَرٍ عَلَى هٰذَا الْبَابِ: «... وَكَأَنَّ الْمُصَنِّفَ لَمَحَ بِحَدِيثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو الْمُخْرَجِ عِنْدَ أَحْمَدَ مَرْفُوعًا، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ

Ibnu Hajar menanggapi bab ini, "Sepertinya pengarang (Bukhari) mengisyaratkan kepada hadits Abdullah bin 'Amr yang diriwayatkan oleh Ahmad secara marfu Nabi bersabda,

«وَيْلٌ لِلْمُصِرِّينَ الَّذِينَ يُصِرُّونَ عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ»

Celakalah orang-orang yang tetap mengerjakan kesalahan padahal mereka mengetahui.'

أَيْ يَعْلَمُونَ أَنَّ مَنْ تَابَ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ لَا يَسْتَغْفِرُونَ». قَالَهُ مُجَاهِدٌ وَغَيْرُهُ. (١)

Artinya, mereka mengetahui bahwa barangsiapa bertobat niscaya Allah menerima tobatnya, tetapi mereka tidak meminta ampun. Dikatakan oleh Mujahid dan lainnya." Shahih Bukhari, pembukaan bab 36 kitab Iman, al-Fat-h 1/109.

وَصُورَةُ الْإِصْرَارِ كَمَا فَسَّرَهُ الشَّوْكَانِيُّ: «هُوَ الْعَزْمُ عَلَى مُعَاوَدَةِ الذَّنْبِ، وَعَدَمُ الْإِقْلَاعِ عَنْهُ بِالتَّوْبَةِ مِنْهُ». (٢)

 Bentuk ishrar menurut asy-Syaukani adalah “Berniat mengulangi dosa dan tidak meninggalkan dosa tersebut dengan bertobat.“ 

Fat-hu al-Baari 1/112 penjelasan bab 36 kitab Iman, hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad di al-Musnad 2/165-dinilai Shahih oleh al-Albani.

فَهَلْ يَخْتَارُ الْمُؤْمِنُ مَصِيرَ الْوَيْلِ؟ أَمْ يُقَاوِمُ هَوَاهُ، وَيَسْتَعْلِي عَلَى نَزَوَاتِ الشَّيْطَانِ، لِيَنْطَلِقَ مِنْ قَيْدِهَا سَاعِيًا إِلَى رَحْمَةِ اللهِ؟

Apakah seorang mukmin memilih kecelakaan ataukah melawan hawa nafsunya, dan berusaha mengalahkan setan agar terlepas dari belenggunya menuju rahmat Allah?

إِنَّ خُلُقَ سُرْعَةِ الْفَيْئَةِ مِنْ أَوَّلِ مَا يُطَالِعُكَ فِي أَوَّلِ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، حَيْثُ تَأْتِيكَ الْبُشْرَى بِالْخَيْرِ، وَيَقُولُ لَكَ عَمَلُكَ

Segera bertobat merupakan perangai yang menemani Anda di persinggahan pertama akhirat (alam kubur). Di alam kubur akan datang kabar gembira kepadamu. Amalmu berkata,

«أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ، كُنْتُ وَاللهِ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ، بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا»

“Aku adalah amal salehmu. Demi Allah, engkau selalu taat kepada Allah dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Allah memberi balasan yang baik untukmu." Fat-hu al-Qadir oleh asy-Syaukani: 1/382

أَوْ تَأْتِيكَ الْبُشْرَى بِالشَّرِّ، وَيَقُولُ لَكَ عَمَلُكَ: «أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ، كُنْتُ بَطِيئًا عَنْ طَاعَةِ اللهِ، سَرِيعًا فِي مَعْصِيَةِ اللهِ، فَجَزَاكَ اللهُ شَرًّا». (٣)

Atau kabar buruk datang kepadamu dan amalmu berkata, "Akulah amalmu yang buruk. Engkau selalu lamban dalam menaati Allah, selalu bermaksiat kepada-Nya, maka Allah memberi balasan yang buruk pula untukmu." [[Musnad Ahmad 4/295-296 dari hadits yang panjang awalnya, "Sesungguhnya seorang mukmin ketika menghadap akhirat dan meninggalkan dunia....]]

فَإِذَا أَسَأْتَ فَأَحْسِنْ، وَإِذَا أَذْنَبْتَ فَاسْتَغْفِرْ؛ لَعَلَّ عَمَلَكَ يَشْهَدُ لَكَ بِالسُّرْعَةِ فِي طَاعَةِ اللهِ

Apabila Anda berbuat salah, maka iringilah dengan kebaikan. Apabila Anda berdosa, maka mintalah ampunan. Semoga amal Anda menjadi saksi bahwa Anda selalu segera menaati Allah.

 

خُلَاصَةُ هٰذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN

- تَمَيَّزَ الصَّحَابَةُ بِسُرْعَةِ فَيْئَتِهِمْ، لَا بِالْعِصْمَةِ

Para sahabat Rasulullah saw. memiliki keistimewaan, yaitu segera bertobat. Hal ini bukan karena mereka mendapat ishmah (perlindungan dari segala kesalahan).

- مِنْ أَسْبَابِ زَلَّةِ الْقَدَمِ: الِانْسِيَاقُ وَرَاءَ الطِّبَاعِ الْغَضَبِيَّةِ

Menuruti watak yang pemarah akan menyebabkan kaki tergelincir.

- بَيْتُ النُّبُوَّةِ لَمْ يَخْلُ مِنَ الْخُصُومَاتِ، وَلٰكِنَّ الْفَيْئَةَ كَانَتْ سَرِيعَةً

Ada pertengkaran dalam rumah Nabi saw. tetapi mereka segera bertobat.

- الْمُتَخَاصِمَانِ: إِنْ لَمْ يُسَارِعَا إِلَى الْفَيْئَةِ، حُرِمَا قَبُولَ الْعَمَلِ

Jika dua orang yang bertengkar tidak segera bertobat maka amalnya tidak diterima.

- مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَهُ، فَلْيُسْرِعْ بِالْفَيْئَةِ

Orang yang ingin mendapat ampunan Allah segera bertobat

مِمَّا يُعِينُ عَلَى سُرْعَةِ الْفَيْئَةِ

 Hal-hal yang membantu untuk segera bertobat:

- الِاعْتِرَافُ بِالْخَطَإِ وَالصَّرَاحَةُ مَعَ النَّفْسِ

Mengakui kesalahan dan jujur terhadap diri sendiri.

- عَدَمُ الْإِصْرَارِ عَلَى الذَّنْبِ، وَالتَّعْجِيلُ بِالتَّوْبَةِ

Tidak terus-menerus melakukan kesalahan (ishran), dan segera bertobat.

- صَاحِبُ الْفَيْئَةِ السَّرِيعَةِ يَشْهَدُ لَهُ عَمَلُهُ فِي أَوَّلِ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ

Perbuatan orang yang segera bertobat akan menjadi saksi (yang membantunya) di alam kubur. 


📙📙📙 Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. 

Dipersilahkan - share