AKHLAK KITA DALAM ILAHIYAH
الثبات
Keenam: Keteguhan
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
"Wahai Zat yang memutar balik hati, teguhkanlah hatiku pada agama-mu. " Shahih - Al Jami'ur Hadist 7987
كَثِيرًا مَا نَجِدُ شَبَابًا يَحِنُّونَ إِلَى الْبِدَايَاتِ الَّتِي كَانُوا يَتَفَجَّرُونَ فِيهَا حَيَوِيَّةً، وَيَتَدَفَّقُونَ حَمَاسًا، وَيُبَالِغُونَ فِي الْحِرْصِ عَلَى دَقَائِقِ السُّنَنِ، نَاهِيكَ عَنِ الْبُعْدِ عَنْ دَائِرَةِ الْحَرَامِ وَالشُّبُهَاتِ. ثُمَّ مَاذَا؟
Banyak sekali pemuda yang sangat bersemangat ketika baru memasuki fase-fase permulaan. Mereka sangat antusias untuk mengetahui sunnah secara detail, kemudian lihatlah apa yang terjadi?
كَلَّتِ النُّفُوسُ، وَفَتَرَتِ الْهِمَمُ، وَاكْتَفَى كُلُّ شَابٍّ بِأَنْ يَكُونَ وَاحِدًا مِنْ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ
Jiwa mereka berubah menjadi lesu, semangat mereka lemah dan setiap pemuda merasa cukup menjadi salah seorang dari masyarakat muslim yang awam saja.
وَهَذَا أَحْسَنُ حَالًا مِمَّنُ انْقَلَبُوا عَلَى أَعْقَابِهِمْ فَغَدُوا يُعَادُونَ الدَّعْوَةَ وَيَسْخَرُونَ مِنْ أَهْلِهَا وَيُحَذِّرُونَ مِنْ سَبِيلِهَا، إِنَّهَا مَعْرَكَةُ تَقْرِيرِ الْمَصِيرِ بَيْنَ الارْتِدَادِ عَلَى الْأَعْقَابِ وَالثَّبَاتِ
Ini masih lebih baik daripada mereka yang langsung berpaling dari Islam lalu memerangi dakwah, menghina para Pendukungnya dan menghalangi jalannya. Ini merupakan Pertarungan penentu antara kemurtadan dan keteguhan.
نَعْنِي بِالثَّبَاتِ الاسْتِمْرَارَ فِي طَرِيقِ الْهِدَايَةِ، وَالالْتِزَامَ بِمُقْتَضَيَاتِ هَذَا الطَّرِيقِ، وَالْمُدَاوَمَةَ عَلَى الْخَيْرِ وَالسَّعْيَ الدَّائِمَ لِلاِسْتِزَادَةِ
Keteguhan yang kami maksud adalah terus-menerus di jalan hidayah (benar), komitmen dengan tuntutan jalan ini, senantiasa bersama kebaikan dan berusaha untuk lebih baik.
وَمَهْمَا فَتَرَ الْمَرْءُ، فَهُنَالِكَ مُسْتَوًى مُعَيَّنٌ لَا يُقْبَلُ التَّنَازُلُ عَنْهُ أَوِ التَّقْصِيرُ فِيهِ، وَإِنْ زَلَّتْ قَدَمُهُ فَلَا يَلْبَثُ أَنْ يَتُوبَ
Jika seseorang mengalami kelesuan, maka ada batas tertentu yang tidak boleh diabaikan. Jika ia mengabaikan, maka ia harus bertobat.
وَرُبَّمَا كَانَ بَعْدَ التَّوْبَةِ خَيْرًا مِمَّا كَانَ قَبْلَهَا، ذَلِكَ هُوَ حَالُ الْمُتَّصِفِ بِخُلُقِ الثَّبَاتِ
Semoga keadaannya setelah bertobat lebih baik daripada sebelumnya. Begitulah keadaan orang memiliki sikap teguh..
وَلِلثَّبَاتِ صُوَرٌ تَشْمَلُ عَدَدًا مِنْ جَوَانِبِ حَيَاةِ الْمُسْلِمِ، مِنْهَا الثَّبَاتُ فِي الْمَعْرَكَةِ كَمَا ثَبَتَ الرَّبُّونَ الْكَثِيرُ مَعَ أَنْبِيَائِهِمْ، وَكَانَ قَوْلُهُمْ
Ada bermacam-macam keteguhan pada berbagai sisi kehidupan seorang muslim, di antaranya teguh dalam pertempuran seperti yang dilakukan oleh pengikut-pengikut setia para nabi. Mereka berkata,
﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا﴾ [آل عمران: ١٤٧]،
"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah (teguhkanlah) pendirian kami." (Ali Imran [3]: 147)
وَالْفِئَةُ الصَّابِرَةُ بِإِمْرَةِ طَالُوتَ الَّذِينَ قَالَ اللَّهُ فِيهِمْ: ﴿وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا﴾ [البقرة: ٢٥٠]،
Begitu juga golongan yang sabar dengan perintah Thalut yang dikisahkan oleh Allah swt., "Tatkala mereka tampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa, 'Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kokohkanlah (teguhkanlah) pendirian kami..." al-Baqarah[2]: 250
وَفِي ذَلِكَ تَوْجِيهٌ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَلْتَجِئَ إِلَى اللَّهِ طَالِبًا مِنْهُ التَّثْبِيتَ
Hal ini merupakan anjuran bagi setiap orang mukmin untuk berlindung dan memohon keteguhan kepada Allah, Umat Islam diperintahkan oleh Allah swt.,
وَخُوطِبَ أَبْنَاءُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا﴾ [الأنفال: ٤٥]
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh) maka berteguh hatilah kamu..." (al-Anfaal [8]: 45)
وَمِنَ الْكَبَائِرِ فِي دِينِنَا الْفِرَارُ مِنَ الزَّحْفِ؛ وَلِذَلِكَ كَانَ مِنَ الْوَصَايَا الْعَشْرِ الَّتِي أَوْصَى بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ
Lari pada saat pertempuran dalam agama kita merupakan dosa besar. Oleh karena itu, di antara sepuluh wasiat Rasulullah saw. kepada Mu'adz bin Jabal,
«وَإِيَّاكَ وَالْفِرَارَ مِنَ الزَّحْفِ وَإِنْ هَلَكَ النَّاسُ، وَإِذَا أَصَابَ النَّاسَ مَوْتَانُ وَأَنْتَ فِيهِمْ فَاثْبُتْ» (١)
"...Janganlah melarikan diri pada hari pertempuran sekalipun kaum muslimin kalah. Jika kaum muslimin tertimpa dua kematian, sedang kamu berada bersama mereka maka teguhlah (jangan melarikan diri)." [[Musnad Ahmad 5/238 awalnya, "Rasulullah saw. berpesan kepadaku dengan sepuluh kalimat, beliau bersabda, "Janganlah menyekutukan Allah dengan suatu apa pun.." ]]
لِأَنَّ الثَّبَاتَ يَزِيدُ الْمُؤْمِنِينَ قُوَّةً، وَيُوقِعُ فِي نُفُوسِ الْعَدُوِّ رَهْبَةً، وَتَزَعْزُعُ الْمَوَاقِفِ يُخْذِلُ الصَّدِيقَ وَيُشَمِّتُ الْعَدُوَّ
Sebab, keteguhan akan menambah kekuatan kaum muslimin dan menakutkan musuh, sedangkan rasa ketakutan (tidak teguh) melemahkan semangat kawan dan membuat musuh senang.
وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَمِّقُ هَذَا الْمَعْنَى يَوْمَ الْأَحْزَابِ وَهُوَ يَنْقُلُ التُّرَابَ وَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَطْنَهُ
Pada Perang Ahzab (ketika menggali parit) Rasulullah saw. menanamkan nilai mulia ini sedang dia memindahkan tanah dan perutnya sudah kotor berdebu.
وَهُوَ يَقُولُ: «لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَيْنَا، وَثَبِّتِ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا، إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا» (٢)
Beliau berdoa, Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu niscaya kami tidak mendapat petunjuk, tidak bersedekah, dan tidak shalat. Maka turunkanlah ketenangan pada kami, tetapkanlah kaki kami (teguhkanlah kami) ketika berhadapan (dengan musuh). Mereka telah menzalimi kami, mereka ingin menimpakan bencana pada bapak kami," Shahih Bukhari, kitab Jihad, bab 34 hadits 2837 (al-Fat-h 6/46).
وَلِأَنَّ مَسْأَلَةَ الثَّبَاتِ عَلَى الدِّينِ قَضِيَّةٌ تَشْغَلُ فِكْرَ الْمُسْلِمِ فَإِنَّهُ يُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ بِهَا
Keteguhan pada agama merupakan masalah yang harus dipikirkan oleh seorang muslim. la harus memperbanyak doa untuk memperoleh keteguhan.
فَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِهِ: «يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ» (٣)
Rasulullah saw. sering berdoa, "Wahai Zat yang memutarbalikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu." Musnad Ahmad 3/112.
وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْشَى عَلَى نَفْسِهِ فِي مُوَاجَهَةِ الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ يُدَاهِنَ أَوْ يَلِينَ، وَلِذَلِكَ خَاطَبَهُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ بِفَضْلِهِ عَلَيْهِ بِأَنْ أَخْلَصَ وَلَاءَهُ لِلَّهِ
Dalam menghadapi masyarakat jahiliah Rasulullah saw. khawatir dirinya menjadi lemah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar ia selalu setia kepada-Nya,
﴿وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا * إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ﴾ [الإسراء: ٧٤، ٧٥]
"Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan padamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan (begitu pula) siksaan berlipat ganda sesudah meninggal dunia..." (al-Israa [17]: 74-75)
فَلْيَحْذَرِ الدُّعَاةُ وَهُمْ يُوَاجِهُونَ الطُّغَاةَ مِنْ زَلْزَلَةِ الْأَقْدَامِ وَزَعْزَعَةِ الْوَلَاءِ
Hendaklah para dai berhati-hati dalam menghadapi orang-orang yang zalim, jangan sampai kaki mereka gemetar dan kesetiaannya (kepada Allah) menjadi labil.
وَقَدْ حَذَّرَ حُذَيْفَةُ الْعُلَمَاءَ الْعُبَّادَ لِأَنَّهُمْ قُدْوَةٌ: «يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ اسْتَقِيمُوا .. فَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا» (١)،
Khudzaifah mengingatkan para ulama karena mereka merupakan suri tauladan,
"Wahai para ulama, istiqamahlah (tetaplah pada jalan yang lurus), jika kalian ke kiri dan ke kanan, maka sungguh, kalian telah jauh tersesat. " Shahih Bukhari, kitab al-l'tisham, bab 2, hadits 7282 (al-Fat-h.13/250).
وَلَوْ أَنَّ ضَلَالَ الْمُتَذَبْذِبِ يَمِينًا وَشِمَالًا يَقْتَصِرُ عَلَيْهِ لَهَانَ الْأَمْرُ، وَلَكِنْ يُفْتَنُ بِضَلَالِهِ آخَرُونَ
Jika ulama mengalami kesesatan, maka itu hanya mem-bahayakan dirinya sendiri dan akibatnya tidak terlalu parah, tetapi sayang kesesatannya sangat membahayakan orang banyak.
وَقَدْ كَانَ مِنْ وَسَائِلِ أَهْلِ الْكِتَابِ فِي زَعْزَعَةِ صُفُوفِ الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَتَظَاهَرُوا بِالدُّخُولِ فِي الْإِسْلَامِ، ثُمَّ يَرْتَدُّوا لِيَرْتَدَّ مَعَهُمْ آخَرُونَ
Yahudi dan Nasrani berusaha menggoyahkan barisan kaum muslimin dengan cara berpura-pura masuk Islam kemudian mereka murtad agar orang lain juga ikut murtad,
وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ: ﴿آمَنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾ [آل عمران: ٧٢]
"Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya), 'Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali kepada (kekafiran)." (Ali Imran [3]: 72)
فَالسَّعِيدُ مَنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ لِلثَّبَاتِ، وَخَتَمَ لَهُ بِخَيْرٍ وَمَاتَ وَهُوَ يَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِلَى أَنْ يَرْزُقَهُ اللَّهُ التَّثْبِيتَ حِينَ يُسْأَلُ
Berbahagialah orang yang diberikan keteguhan oleh Allah swt. dan mati dalam keadaan husnul khatimah, mengerjakan amal kebaikan menuju surga hingga ia diberikan keteguhan pada saat menghadapi pertanyaan (di alam kubur).
وَلَوْ تَأَمَّلْتَ فِي أَحَادِيثِ الْحَوْضِ مِنْ صَحِيحِ مُسْلِمٍ لَوَجَدْتَ أُنَاسًا مُنِعُوا مِنْهُ وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ
Jika Anda memperhatikan hadits-hadits tentang al-Haudh (telaga Rasulullah di akhirat) pada kitab Shahih Muslim, niscaya Anda akan mendapatkannya karena banyak orang yang tidak bisa sampai ke telaga tersebut sedang Rasulullah berkata,
«يَا رَبِّ أَصْحَابِي» فَيُقَالُ: «إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ» فَيَدْعُو عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي»
"Wahai Tuhan, mereka sahabatku." Lalu dikatakan, "Engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (perbuat) setelah kamu mati." Kemudian Rasulullah berkata, "Binasalah binasalah bagi orang yang mengubah setelah aku mati."
وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى يُقَالُ لَهُ: «وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ»، فَكَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ أَحَدُ رُوَاةِ هَذَا الْحَدِيثِ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نَرْجِعَ عَلَى أَعْقَابِنَا أَوْ نُفْتَنَ عَنْ دِينِنَا» (٢)
Dalam riwayat lain dikatakan kepada Nabi saw., "Demi Allah, mereka berpaling (menjadi murtad)." Ibnu Abu Malikah, salah seorang perawi hadits berdoa, "Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kemurtadan." Shahih Muslim, kitab al-Fadhail, bab 9, hadits 2289 dan 2295 (Syarh an-Nawawi 8/58).
وَكَلِمَةُ «مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ» تُوحِي بِالتَّرَاجُعِ الْبَطِيءِ الْمُتَوَاصِلِ الْمُؤَدِّي إِلَى الْهَاوِيَةِ. وَرُبَّمَا يَصْعُبُ الرُّجُوعُ بَعْدَ طُولِ الاسْتِدْرَاجِ. فَهَنِيئًا لِمَنِ اسْتَدْرَكَ نَفْسَهُ لِئَلَّا تَزِلَّ قَدَمُهُ بَعْدَ ثُبُوتِهَا
Kata "Maa barihuu yarji'uun" meng-isyaratkan bahwa berpaling secara perlahan-lahan dan terus-menerus sampai ke jurang yang dalam (neraka Hawiyah). Bahkan, sangat sulit untuk kembali. Berbahagialah orang yang dapat mengendalikan dirinya sehingga imannya tidak goyah.
نَجِدُ كَثِيرًا مِنَ الْأَدْعِيَةِ تَرْكِزُ عَلَى مَعْنَى الثَّبَاتِ، وَمِنْ ذَلِكَ دُعَاءُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا لَا يَنْفَدُّ» (١)
Banyak doa-doa untuk memohon keteguhan, seperti doa Abdullah bin Mas'ud,
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang tidak goyah dan nikmat yang tidak habis." Musnad Ahmad 1/400, dari doa Ibnu Mas'ud.
وَقَالَ شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ نَدْعُو بِهِنَّ فِي صَلَاتِنَا: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَأَسْأَلُكَ عَزِيمَةَ الرُّشْدِ» (٢)
Syadad bin Aus berkata, "Rasulullah saw. telah mengajarkan beberapa kata untuk kita pakai berdoa dalam shalat kita, 'Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam setiap masalah, dan aku memohon petunjuk kepada-Mu." Musnad Ahmad 4/125 awalnya, "Jika seseorang beranjak ke tempat tidurnya..."
وَمِنْ صُوَرِ الثَّبَاتِ فِي الْفِتَنِ: الصَّبْرُ فِي أَيَّامِ الصَّبْرِ الَّتِي وَصَفَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِقَوْلِهِ
Di antara macam-macam keteguhan adalah bersabar pada hari-hari seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya,
«الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ»، وَفِي رِوَايَةٍ: «يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ» (٣)
"Bersabar pada hari-hari itu bagai memegang bara api."
Dalam riwayat lain, "Suatu zaman akan datang kepada manusia, di mana orang yang bersabar mempertahankan agamanya pada waktu itu bagaikan orang yang memegang bara api." [[Riwayat pertama oleh Abu Daud dan at-Tirmidzi, sedangkan riwayat kedua oleh at-Tirmidzi saja. (Sanad kedua hadits tersebut dinilai lemah oleh al-Arnauth, lalu ia menguatkannya dengan beberapa syahid Jami' al-Ushul 10/403 hadits 7453 dan 7454).]]
وَمَنْ ذَا الَّذِي يَثْبُتُ قَابِضًا عَلَى الْجَمْرِ؟! لِذَلِكَ بَشَّرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِأَنَّ الثَّابِتَ مِنْ هَؤُلَاءِ لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ: «إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ» (٤)
Maką siapakah yang tetap teguh memegang bara api? Oleh karena itu, Rasulullah saw. memberi kabar gembira bahwa orang yang teguh (mempertahankan agamanya) mendapat pahala seperti pahala lima puluh sahabat Rasul, Sesungguhnya akan datang hari-hari kepada kalian agar bersabar, bagi seorang yang mempertahankan agamanya maka pahalanya seperti pahala lima puluh orang.” Silsilah al-Ahadits adh-Dha'ifah 1/812 hadits 494.
وَفِي أَشَدِّ مَا يَلْقَاهُ الْمُسْلِمُونَ مِنَ الْفِتَنِ حِينَ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ وَيُعِيثُ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِنَّ الْوَصِيَّةَ الْأَسَاسِيَّةَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ الَّتِي يُوصِي بِهَا أُمَّتَهُ حِينَئِذٍ: «يَا عِبَادَ اللَّهِ اثْبُتُوا» (٥)
Malapetaka besar yang akan menimpa kaum muslimin adalah ketika Dajjal keluar dan merusak di mana-mana. Wasiat Rasulullah saw. untuk umatnya pada saat itu adalah, "Wahai hamba-hamba Allah, teguhlah kalian." Shahih Sunan Ibnu Majah 2/386 hadits 3294/4075.
وَمِنْ أَهَمِّ صُوَرِ الثَّبَاتِ الْمُدَاوَمَةُ عَلَى الطَّاعَاتِ: فَالْمَطْلُوبُ فِي بَعْضِهَا الْمُثَابَرَةُ عَلَيْهَا. يَرْوِي التِّرْمِذِيُّ: «مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَنِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ» (١)
Di antara macam-macam keteguhan yaitu senantiasa me-ngerjakan amal-amal ketaatan. Dan hal ini membutuhkan ketekunan. At-Tirmidzi meriwayatkan, "Barangsiapa senantiasa mengerjakan dua belas rakaat shalat sunnah niscaya Allah membangun rumah untuknya di surga." Shahih al-Jami', hadits 6183 (shahih),
وَفِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ تَقُولُ أُمُّ حَبِيبَةَ رَاوِيَةُ الْحَدِيثِ، وَيَقُولُ كُلٌّ مِنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ وَالنُّعْمَانِ بْنِ ثَابِتٍ مِنْ رِجَالِ السَّنَدِ: «مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ» (٢)
Pada riwayat Muslim Ummu Habibah perawi hadits berkata, ""Amr bin Aus, an-Nu'man bin Tsabit (para perawi hadits tersebut) berkata, 'Aku tidak pernah meninggalkannya (shalat sunnah dua belas rakaat) sejak aku mendengar hadits itu." Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 15, hadits 728 (Syarh an-Nawawi 31 252).
وَتَقُولُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: «وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ» (٣)
Aisyah r.a. bercerita tentang Rasulullah, "Ibadah yang paling dicintainya adalah ibadah yang dikerjakan dengan tekun oleh seseorang." Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 31, hadits 221, (Syarh an-Nawawi 31321).
وَعِنْدَ مُسْلِمٍ كَذَلِكَ: «وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتِ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ» (٤)
Demikian juga pada riwayat Muslim, "Dan apabila Aisyah r.a. mengerjakan suatu pekerjaan maka ia menekuninya." Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 30, hadits 218 (Syarh an-Nawawi 3/319).
وَحِينَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟» قَالَ: «أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ» (٥)
Ketika Rasulullah saw. ditanya, "Perbuatan seperti apa yang paling dicintai Allah?" Beliau bersabda, "Yang ditekuni (senantiasa dilakukan) walaupun sedikit. Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 30, hadits 216 (Syarh an-Nawawi 3/318).
وَكَانَ آلُ مُحَمَّدٍ ﷺ إِذَا عَمِلُوا عَمَلًا أَثْبَتُوهُ (١)، يَقُولُ النَّوَوِيُّ: «أَيْ لَزِمُوهُ وَدَاوَمُوا عَلَيْهِ» (٧)
Keluarga Rasulullah saw. tekun jika mengerjakan suatu pekerjaan. Ibid., hadits 215.
An-Nawawi menjelaskan, "Mereka senantiasa menekuninya. " Syarh an-Nawawi li Shahih Muslim 3/319.
وَالثَّبَاتُ مَظْهَرٌ بَارِزٌ لِلاِسْتِقَامَةِ، لِأَنَّ الْمُتَذَبْذِبَ الْمُتَقَلِّبَ لَا يَقْدِرُ عَلَى الثَّبَاتِ، وَلَا يَقْوَى عَلَى الاسْتِقَامَةِ، فَقَدْ كَانَ الْوَاحِدُ مِنَ الصَّحَابَةِ يَقُولُ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِعَمَلٍ أَسْتَقِيمُ عَلَيْهِ وَأَعْمَلُهُ»، فَأَجَابَهُ بِأَوْجَبِ الْوَاجِبَاتِ وَقْتَهَا: «عَلَيْكَ بِالْهِجْرَةِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهَا» (١)
Keteguhan merupakan bentuk nyata keistiqamahan, karena orang yang bimbang tidak bisa teguh dan istiqamah. Salah seorang sahabat pernah berkata kepada Rasulullah saw. "Wahai Rasulullah, beri tahukan kepadaku, suatu perbuatan yang dapat aku tekuni." Maka beliau memberi tahunya suatu perbuatan yang paling wajib pada saat itu, "Engkau harus berhijrah, karena hijrah merupakan (amalan) yang tiada bandingannya. " Shahih Sunan an-Nasa'i, kitab Bai'at, bab 14 hadits 3885 (Hasan, Shahih).
وَكَانَ مِنْ دَقِيقِ مُلَاحَظَةِ الصَّحَابَةِ لِظَاهِرَةِ الثَّبَاتِ فِي سُلُوكِ كُلِّ فَرْدٍ أَنَّ بُرَيْدَةَ بْنَ الْحُصَيْبِ لَقِيَ سَلَمَةَ بْنَ الْأَكْوَعِ قَادِمًا مِنَ الْبَادِيَةِ فَظَنَّ أَنَّهُ قَطَعَ هِجْرَتَهُ إِلَى الْمَدِينَةِ وَأَقَامَ خَارِجَهَا فَقَالَ لَهُ: «ارْتَدَدْتَ عَنْ هِجْرَتِكَ يَا سَلَمَةُ؟!» فَقَالَ سَلَمَةُ: «مَعَاذَ اللَّهِ إِنِّي فِي إِذْنٍ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ» (٢)
Karena para sahabat sangat memperhatikan fenomena keteguhan pada setiap individu, Buraidah bin al-Hashib bertanya kepada Salamah bin al-Aku'. Ketika Salamah baru datang dari suatu kampung, ia menyangka Salamah tidak jadi hijrah ke Madinah tetapi justru tinggal di luar Madinah, "Wahai Salamah, apakah engkau tidak jadi hijrah?" Salamah menjawab, "Aku berlindung kepada Allah, aku sudah diizinkan oleh Rasulullah saw," Musnad Ahmad 4/55.
وَمِنَ الْمَلْعُونِينَ عَلَى لِسَانِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: «الْمُرْتَدُّ أَعْرَابِيًّا بَعْدَ هِجْرَتِهِ» (٣)
Termasuk orang-orang yang dilaknat dengan lisan Rasululah saw. adalah, "Orang Badui yang murtad setelah ia berhijrah." Shahih al-Jami' hadits 5 (shahih).
هَذِهِ صُورَةُ الْجِيلِ الْفَرِيدِ كَيْفَ يَحْرِصُ عَلَى الثَّبَاتِ وَيَتَوَاصَوْنَ بِهِ وَيَخْشَوْنَ الانْقِلَابَ عَلَى الْأَعْقَابِ، وَإِلَى عَامِ «حَجَّةِ الْوَدَاعِ» وَالرَّسُولُ ﷺ يَدْعُو لِلصَّحَابَةِ بِالثَّبَاتِ عَلَى هِجْرَتِهِمْ إِلَى الْمَدِينَةِ لِتَقْوَى بِهِمُ الدَّوْلَةُ النَّاشِئَةُ: «اللَّهُمَّ أَمْضِ لِأَصْحَابِي هِجْرَتَهُمْ، وَلَا تَرُدَّهُمْ عَلَى أَعْقَابِهِمْ» (٤)
Demikianlah sekilas gambaran kehidupan generasi istimewa (generasi sahabat) yang sangat menjaga keteguhan, saling menasihati dalam hal keteguhan itu dan sangat mengkhawatirkan kemurtadan. Hingga tahun haji Wada' Rasulullah saw. senantiasa berdoa untuk para sahabatnya, agar mereka tetap teguh dalam hijrahnya ke Madinah demi terwujudnya negara baru yang kuat, "Ya Allah, langsungkanlah hijrah para sahabatku dan janganlah Engkau kembalikan mereka ke belakang (kepada kemusyrikan). " Shahih Bukhari, kitab al-Janaiz, bab 36, hadits 1295 (al-Fat-h3/164).
وَالْقَوْلُ الْجَامِعُ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي بَيَانِ حَقِيقَةِ الْإِسْلَامِ: إِيمَانٌ وَثَبَاتٌ، فَقَدْ قِيلَ لَهُ: «قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ» قَالَ: «قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ» (٥)
Hadits Nabi yang mencakup arti luas dalam menjelaskan bahwa hakikat Islam adalah merupakan keimanan dan keteguhan, "(Seorang sahabat berkata, 'Wahai Rasul, beri tahukan aku suatu ucapan yang tidak perlu aku tanya lagi pada orang lain selainmu."
Rasulullah saw. bersabda, "Katakan, 'Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah (teguhlah)." Shahih Muslim, kitab Iman, bab Jami'u Aushaf al-Islam.
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN
- أَكْثَرُ الشَّبَابِ قَدْ لَا يَسْتَمِرُّونَ عَلَى حَمَاسِ الْبِدَايَاتِ
Kebanyakan pemuda tidak mempertahankan semangat yang ada pada fase-fase permulaan.
- مِنْ صُوَرِ الثَّبَاتِ
Macam-macam keteguhan, di antaranya adalah:
• الثَّبَاتُ فِي مُوَاجَهَةِ الْعَدُوِّ
Teguh dalam menghadapi musuh.
• الثَّبَاتُ عَلَى دِينِ اللَّهِ
Teguh pada agama Allah
• الثَّبَاتُ عَلَى الاسْتِقَامَةِ
Teguh dalam beristiqamah.
• الثَّبَاتُ فِي أَيَّامِ الْفِتَنِ
Teguh pada hari-hari fitnah (huru-hara menjelang kiamat).
• الْمُدَاوَمَةُ عَلَى فِعْلِ الطَّاعَاتِ
Tekun melaksanakan berbagai bentuk ketaatan.
- الْمُتَذَبْذِبُ قَدْ يُفْتِنُ النَّاسَ بِعَدَمِ ثُبُوتِهِ
Orang yang bimbang atau ragu dapat membingungkan sebab ketidakteguhannya. at membingungkan masyarakat
- الثَّبَاتُ مَظْهَرٌ بَارِزٌ لِلاِسْتِقَامَةِ
◆ Keteguhan adalah bentuk nyata istiqamah.
- مِمَّا يُعِينُ عَلَى الثَّبَاتِ التَّوَاصِي بِهِ
◆ Saling menasihati dan mengingatkan dapat meneguhkan seseorang.
- حَقِيقَةُ الْإِسْلَامِ: إِيمَانٌ وَثَبَاتٌ
→ Hakikat Islam adalah merupakan keimanan dan keteguhan.
📙📙📙 Sumber:
هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan
Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. Dipersilahkan - share




