Label xxx

Senin, 31 Agustus 2026

Kebaikan – 06 BAB 02 – Hadzihi Akhlaquna

 

AKHLAQ KITA DALAM PERASAAN – EMOSI - 

الفصل الثاني : الطيبة

BAB KEDUA : KEBAIKAN


«حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ».

"Hingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik."

 

نَعْنِي بِالطَّيِّبَةِ سَلَامَةَ الصَّدْرِ، وَصَفَاءَ النَّفْسِ، وَرِقَّةَ الْقَلْبِ،

Yang kami maksud dengan kebaikan hati (at-thayyibah) adalah keselamatan dada (bersih dari kedengkian), kesucian jiwa, dan kelembutan hati.

وَيَتَأَصَّلُ هَذَا الْخُلُقُ بِاسْتِمْرَارِ التَّزْكِيَةِ لِلنَّفْسِ، ثُمَّ تَنعَكِسُ آثَارُهُ عَلَى السُّلُوكِ: أُخُوَّةً وَسَمَاحَةً وَسَكِينَةً وَوَفَاءً،

Akhlak ini mengakar kuat dengan terus-menerus menyucikan jiwa, kemudian dampaknya  dalam bentuk persaudaraan, kelapangan dada, ketenangan, dan kesetiaan.terpancar pada perilaku

وَالَّذِينَ يَفْتَقِدُونَ هَذَا الْخُلُقَ، تَرَاهُمْ غَارِقِينَ فِي صُوَرٍ مِنَ التَّحَالِيلِ وَالْكَيْدِ، وَسُوءِ الظَّنِّ وَالْخُبْثِ.

Adapun orang-orang yang kehilangan akhlak ini, Engkau akan melihat mereka tenggelam dalam berbagai bentuk kelicikan, tipu daya, prasangka buruk, dan keburukan.

وَمَعْنَى «الطَّيِّبِ» فِي اللُّغَةِ: الطَّاهِرُ وَالنَّظِيفُ، وَالْحَسَنُ وَالْعَفِيفُ، وَالسَّهْلُ وَاللَّيِّنُ، وَذُو الْأَمْنِ وَالْخَيْرِ الْكَثِيرِ، وَالَّذِي لَا خُبْثَ فِيهِ وَلَا غَدْرَ

Makna "at-thayyib" secara bahasa adalah: yang suci dan bersih, yang baik dan menjaga diri, yang mudah dan lembut, yang membawa keamanan serta kebaikan yang banyak, serta yang tidak ada keburukan dan pengkhianatan di dalamnya. Rujukan dapat dilihat dalam Lisan al-'Arab, (طيب) 1/563

وَمِنْ هَذِهِ الْمَعَانِي نَفْهَمُ الْمُرَادَ بِالرَّجُلِ الطَّيِّبِ، وَالزَّوْجَةِ الطَّيِّبَةِ، وَالْبَلْدَةِ الطَّيِّبَةِ، وَالْقَوْلِ الطَّيِّبِ، وَالذُّرِّيَّةِ الطَّيِّبَةِ، وَالرِّيحِ الطَّيِّبَةِ، وَالْحَيَاةِ الطَّيِّبَةِ، وَكُلُّهَا مَعَانِي طُهْرٍ وَعِفَّةٍ وَصَفَاءٍ وَنَقَاءٍ، وَهَذَا حَالُ صَاحِبِ خُلُقِ «الطَّيِّبَةِ».

Dari makna-makna inilah kita memahami apa yang dimaksud dengan laki-laki yang baik, istri yang baik, negeri yang baik, perkataan yang baik, keturunan yang baik, angin yang sepoi/baik, dan kehidupan yang baik; yang semuanya mengandung makna kesucian, penjagaan diri, kejernihan, dan kebersihan. Inilah keadaan orang yang memiliki akhlak "kebaikan hati".

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حِينَ خَلَقَ بَنِي آدَمَ «جَعَلَ مِنْهُمُ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَالْأَسْوَدَ وَبَيْنَ ذَلِكَ، وَالسَّهْلَ وَالْحَزْنَ وَبَيْنَ ذَلِكَ، وَالْخَبِيثَ وَالطَّيِّبَ وَبَيْنَ ذَلِكَ» ،

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla ketika menciptakan anak cucu Adam "menjadikan di antara mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam, dan di antara itu; ada yang berkarakter mudah/lembut, keras/kasar, dan di antara itu; serta ada yang buruk, baik, dan di antara itu". Musnad Ahmad 4/406. Disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih al-Jami' nomor 1759.

وَلَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ، وَلَا يَأْتَلِفُ كُلُّ وَاحِدٍ إِلَّا مَعَ قَرِينِهِ وَشَبِيهِهِ.

Dan tidaklah sama antara yang buruk dan yang baik, serta tidaklah setiap orang dapat bersatu/cocok melainkan dengan kerabat dan yang serupa dengannya.

وَحِرْصًا مِنَ النَّبِيِّ - ﷺ - عَلَى اعْتِزَازِ الْمُؤْمِنِ بِالطَّيِّبَةِ، نَهَاهُ أَنْ يَنْسُبَ الْخُبْثَ إِلَى نَفْسِهِ، فَقَالَ:

Karena ketamakan Nabiagar seorang mukmin bangga dengan kebaikannya, beliau melarangnya untuk menisbatkan keburukan kepada dirinya sendiri, lalu beliau bersabda

«لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ خَبُثَتْ نَفْسِي ..»

"Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian mengatakan: Jiwaku telah buruk... Sahih al-Bukhari - Kitab al-Adab - Bab 100 - Hadis 6179 (al-Fath 10/563). (2) Fath al-Bari 10/564

وَيُورِدُ ابْنُ حَجَرٍ قَوْلَ ابْنِ أَبِي حَمْزَةَ فِي بَيَانِ الْحِكْمَةِ مِنْ هَذَا النَّهْيِ، فَيَقُولُ:

Ibnu Hajar mengutip perkataan Ibnu Abi Hamzah dalam menjelaskan hikmah dari larangan ini, beliau berkata:

(وَفِيهِ أَنَّ الْمَرْءَ يَطْلُبُ الْخَيْرَ حَتَّى بِالْفَأْلِ الْحَسَنِ، وَيُضِيفُ الْخَيْرَ إِلَى نَفْسِهِ وَلَوْ بِنِسْبَةٍ مَا، وَيَدْفَعُ الشَّرَّ عَنْ نَفْسِهِ مَهْمَا أَمْكَنَ، وَيَقْطَعُ الْوَصْلَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَهْلِ الشَّرِّ حَتَّى فِي الْأَلْفَاظِ الْمُشْتَرَكَةِ)

 (Di dalamnya terdapat petunjuk bahwa seseorang hendaknya mencari kebaikan bahkan melalui anggapan baik (fa'l hasan), menisbatkan kebaikan kepada dirinya walau hanya sedikit, menolak keburukan dari dirinya sedapat mungkin, dan memutuskan hubungan antara dirinya dengan pelaku keburukan bahkan dalam lafaz-lafaz yang bersekutu/sama) Fath al-Bari 10/564.

وَلَقَدْ شَبَّهَ النَّبِيُّ - ﷺ - الْمُؤْمِنَ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ بِثَمَرَةِ «الْأُتْرُجَّةِ»: «طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ» (٣)،

Sungguh Nabi telah menyerupakan seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an dengan buah utrujjah (jeruk sitrun): "Rasanya enak (baik) dan aromanya harum (baik)" Sahih al-Bukhari - Kitab at-Tauhid - Bab 57 - Hadis 7560 (al-Fath 13/535).

وَضَرَبَ لِلْمُؤْمِنِ مَثَلًا آخَرَ، فَقَالَ: «وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا ..» (٤)،

dan beliau membuat perumpamaan lain bagi seorang mukmin, lalu bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah; ia memakan yang baik, dan mengeluarkan yang baik.." Musnad Ahmad 2/199 - Sanadnya kuat: Sebagaimana dalam Takhrij al-Hadis 876 dalam Silsilah al-Ahadis as-Sahihah.

وَكُلُّهَا تُؤَكِّدُ عَلَى أَصَالَةِ عُنْصُرِ الطَّيِّبَةِ فِي نَفْسِيَّةِ الْمُؤْمِنِ، وَسِمَةِ الْخَيْرِيَّةِ فِي تَعَامُلِهِ.

yang semuanya menegaskan tentang mendasarnya unsur kebaikan dalam jiwa seorang mukmin dan sifat kebaikan dalam interaksinya.

وَالرَّجُلُ الطَّيِّبُ، قَدْ يَخْتَلِفُ حَالُهُ .. فَيَكُونُ أَحْيَانًا أَكْثَرَ انْشِرَاحًا، وَأَحْسَنَ بَشَاشَةً .. تَبَعًا لِمَا يَمُرُّ بِهِ مِنْ أَقْدَارٍ،

Seorang laki-laki yang baik, keadaannya bisa berubah-ubah.. kadang ia merasa lebih lapang dada dan tampil lebih ceria.. sesuai dengan takdir yang sedang dilaluinya.

وَقَدْ لَاحَظَ الصَّحَابَةُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ - ذَلِكَ مَرَّةً عَلَى الرَّسُولِ - ﷺ -، فَقَالَ بَعْضُهُمْ:

Para sahabat radhiyallahu 'anhum pernah memperhatikan hal tersebut pada diri Rasulullah , lalu sebagian mereka berkata:

«نَرَاكَ الْيَوْمَ طَيِّبَ النَّفْسِ، فَقَالَ: أَجَلْ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ. ثُمَّ أَفَاضَ الْقَوْمُ فِي ذِكْرِ الْغِنَى.

"Kami melihat engkau hari ini sedang baik hatinya (jiwanya)." Beliau menjawab: "Benar, walhamdulillah." Kemudian orang-orang mulai berbincang mengenai kekayaan,

فَقَالَ: لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى، وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النَّعِيمِ» (١).

maka beliau bersabda: "Tidak mengapa dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa, dan kesehatan bagi orang yang bertakwa itu lebih baik daripada kekayaan, serta jiwa yang baik (jiwa yang tenang) adalah bagian dari kenikmatan" Sahih Sunan Ibn Majah 2/6 - Kitab at-Tijarat - Bab 1 - Hadis 1741/2141 (Sahih)

وَالْعِبَادَةُ صُورَةٌ يَوْمِيَّةٌ مِنْ صُوَرِ جَلَاءِ الْقَلْبِ، وَتَصْفِيَةِ النَّفْسِ مِنْ كُلِّ خُبْثٍ، وَيُؤَكِّدُ هَذَا الْمَعْنَى مَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، مِنْ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَعْقِدُ عَلَى قَافِيَةِ النَّائِمِ ثَلَاثَ عُقَدٍ،

Ibadah adalah wujud harian dari pembersihan hati dan penyucian jiwa dari segala keburukan. Makna ini ditegaskan oleh riwayat Al-Bukhari bahwa setan mengikat tiga ikatan pada tengkuk orang yang tidur

قَائِلًا لَهُ: «عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقَدُهُ كُلُّهَا، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ.» (٢).

seraya berkata kepadanya: "Malammu masih panjang, maka tidurlah." Jika ia bangun lalu mengingat Allah, terlepaslah satu ikatan. Jika ia berwudu, terlepaslah satu ikatan lagi. Jika ia shalat, terlepaslah seluruh ikatannya, sehingga di pagi hari ia menjadi bersemangat dan berjiwa baik; jika tidak, ia akan memasuki pagi hari dalam keadaan berjiwa buruk dan pemalas. Sahih al-Bukhari - Kitab Bad' al-Khalq - Bab 11 - Hadis 3269 (al-Fath 6/335).

يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ: (قَوْلُهُ: طَيِّبَ النَّفْسِ؛ أَيْ: لِسُرُورِهِ بِمَا وَفَّقَهُ اللَّهُ لَهُ مِنَ الطَّاعَةِ، وَبِمَا وَعَدَهُ مِنَ الثَّوَابِ، وَبِمَا زَالَ عَنْهُ مِنْ عُقَدِ الشَّيْطَانِ. كَذَا قِيلَ. وَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ سِرًّا فِي طِيبِ النَّفْسِ ..) (٣).

Ibnu Hajar berkata: (Perkataannya: "baik jiwanya"; maksudnya: karena kegembiraannya atas taufik yang Allah berikan kepadanya untuk taat, atas pahala yang dijanjikan-Nya, dan atas terlepasnya ikatan setan darinya. Demikianlah yang dikatakan. Namun yang tampak jelas adalah bahwa dalam shalat malam terdapat rahasia dalam memperbaiki/menenangkan jiwa..). Fath al-Bari 3/26 dari penjelasan Hadis 1142 dari Kitab at-Tahajjud.

وَمَا جَعَلَ اللَّهُ مَوَاطِنَ الْبَلَاءِ إِلَّا لِلتَّمْحِيصِ وَالتَّمْيِيزِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: ١٧٩]،

Tidaklah Allah menjadikan tempat-tempat cobaan melainkan untuk pembersihan dan pembedaan, sebagaimana firman-Nya Ta'ala: "Allah tidak akan membiarkan orang-orang mukmin dalam keadaan seperti yang kamu berada di dalamnya sekarang, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik" [Ali 'Imran: 179].

وَفِي ظِلَالِ الْآيَةِ: أَنَّ دَوْرَ الْأُمَّةِ الْمُسْلِمَةِ (يَقْتَضِي التَّجَرُّدَ وَالصَّفَاءَ، وَالتَّمَيُّزَ وَالتَّمَاسُكَ .. وَكُلُّ هَذَا يَقْتَضِي أَنْ يُصْهَرَ الصَّفُّ؛ لِيَخْرُجَ مِنْهُ الْخَبَثُ .. وَمِنْ ثَمَّ كَانَ شَأْنُ اللَّهِ - سُبْحَانَهُ - أَنْ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ) (٤)،

Di bawah naungan ayat ini dijelaskan bahwa peran umat Islam (menuntut ketulusan, kejernihan, pembedaan, dan keteguhan.. dan semua ini menuntut dibakarnya barisan agar keburukan keluar darinya.. Maka dari itulah sudah menjadi ketetapan Allah -Subhanahu wa Ta'ala- untuk membedakan yang buruk dari yang baik) Fi Zilal al-Qur'an 1/525.

وَتَجْرِي سُنَّةُ اللَّهِ فِي أَنَّ الزَّبَدَ يَذْهَبُ جُفَاءً، وَأَنَّ مَا يَنْفَعُ النَّاسَ يَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ.

Serta berlakulah sunnatullah bahwa buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya, sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia akan tetap bertahan di bumi.

الْمُؤْمِنُ الطَّيِّبُ رَجُلٌ مُتَوَرِّعٌ عَنِ الشُّبُهَاتِ، وَلَقَدْ كَانَ أَبُو طَلْحَةَ فِي مَرَضٍ لَهُ يَنْزِعُ غِطَاءَ فِرَاشِهِ؛ لِمَا عَلَيْهِ مِنْ نُقُوشٍ؛ فَلَمَّا اعْتُرِضَ عَلَيْهِ بِأَنَّهُ لَيْسَ فِي الْغِطَاءِ تَصَاوِيرُ مَنْنِهِيٌّ عَنْهَا، أَجَابَ: (بَلَى. وَلَكِنَّهُ أَطْيَبُ لِنَفْسِي) (١).

Seorang mukmin yang baik adalah orang yang berhati-hati (wara') dari hal-hal syubhat. Abu Thalhah pernah saat sakit melepas penutup tempat tidur (sprei)-nya karena terdapat ukiran/motif padanya; ketika di sanggah bahwa pada penutup itu tidak terdapat gambar-gambar yang dilarang, beliau menjawab: "Benar, akan tetapi ini lebih menenangkan hatiku" Sahih Sunan at-Tirmidzi 2/150 - Kitab al-Libas - Bab 18 - Hadis 1431/1819 (Sahih).

وَالْمُؤْمِنُ الطَّيِّبُ يُحَافِظُ عَلَى صَفَاءِ الْوُدِّ مَعَ أَخِيهِ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ: «وَحُقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَصَافَوْنَ مِنْ أَجْلِي» (٢)،

Seorang mukmin yang baik senantiasa menjaga kesucian kasih sayang dengan saudaranya, sebagaimana dalam Hadits Qudsi: "Dan berhak mendapatkan kecintaanku orang-orang yang saling mengikhlaskan kasih sayang demi Aku" Musnad Ahmad 4/386 dan penggalan kalimatnya: "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: Sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku...."

وَيُبَادِرُ إِلَى زِيَارَةِ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ، أَوْ عِيَادَتِهِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: «طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا» (٣).

dan ia bersegera mengunjungi saudaranya sesama muslim atau menjenguknya saat sakit, maka Allah berfirman kepadanya: "Engkau telah baik, baik pula langkahmu, dan engkau telah memesan tempat tinggal di surga"  Sahih Sunan at-Tirmidzi 2/195 - Kitab al-Birr - Bab 63 - Hadis 1633/2093 (Hasan).

فَالتَّصَافِي وَالتَّوَاصُلُ عَلَامَةٌ طَيِّبَةٌ، وَلَا يَتَخَلَّقُ بِهَا إِلَّا الطَّيِّبُ.

Maka saling mengikhlaskan kasih sayang dan bersilaturahmi adalah tanda kebaikan, dan tidak ada yang berakhlak dengannya melainkan orang yang baik.

وَالْمُجَاهِدُ الطَّيِّبُ لَا يَطْمَئِنُّ قَلْبُهُ بِالْقُعُودِ حِينَ يُسْتَنَفَرُ النَّاسُ،

Seorang pejuang yang baik hatinya tidak akan merasa tenang untuk duduk-duduk (berdiam diri) ketika manusia dipanggil untuk berperang.

وَلِذَلِكَ وَصَفَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - نَفْسِيَّةَ صَحَابَتِهِ الْكِرَامِ - لَوْ أَنَّهُ خَرَجَ فِي كُلِّ سَرِيَّةٍ - فَقَالَ: «وَلَا تَطِيبُ أَنْفُسُهُمْ أَنْ يَقْعُدُوا بَعْدِي» (٤).

Oleh karena itu, Rasulullah menggambarkan jiwa para sahabatnya yang mulia—jika seandainya beliau keluar dalam setiap pasukan kecil—dengan bersabda: "Dan tidaklah jiwa mereka merasa nyaman untuk duduk-duduk (kembali) setelah kepulanganku" Sahih Muslim - Kitab al-Imarah - Bab 28 - Hadis 106 (Syarh an-Nawawi 13/25).

وَلِذَلِكَ كَانَ الْمُنَافِقُونَ - لِمَا فِي نُفُوسِهِمْ مِنَ الْخُبْثِ - لَا يَتَحَرَّجُونَ مِنْ أَنْ يَتَعَلَّلُوا بِأَعْذَارٍ وَاهِيَةٍ، وَرَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - مَعَ صَحَابَتِهِ فِي الْحَرِّ وَالنَّصَبِ، وَالْمُنَازَلَةِ وَالطِّعَانِ.

Sebab itulah orang-orang munafik—karena keburukan yang ada di dalam jiwa mereka—tidak merasa segan untuk beralasan dengan alasan-alasan yang lemah, padahal Rasulullah bersama para sahabatnya berada dalam kepanasan, keletihan, pertempuran, dan adu tombak.

وَتَطْيِيبُ قُلُوبِ عِبَادِ اللَّهِ مِنْ عَلَامَاتِ طِيبِ الْقَلْبِ، فَقَدْ وَصَفَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - الَّذِينَ يُؤَدُّونَ إِلَى النَّاسِ حُقُوقَهُمْ - وَافِيَةً وَزَائِدَةً - بِقَوْلِهِ: «أُولَئِكَ خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْمُوفُونَ الْمُطَيِّبُونَ» (١)،

Membahagiakan (melembutkan) hati hamba-hamba Allah termasuk tanda kebaikan hati. Rasulullah telah menggambarkan orang-orang yang menunaikan hak-hak manusia secara sempurna bahkan melebihi, dengan sabda beliau: "Merekalah hamba-hamba Allah yang terbaik di sisi Allah pada hari kiamat: orang-orang yang menunaikan hak dan membahagiakan orang lain" Musnad Ahmad 6/269 dan kalimat awalnya: (Rasulullah membeli seekor unta dari seorang Arab Badui).

وَأَقْصَرُ طَرِيقٍ إِلَى الْقُلُوبِ بِالْكَلِمَةِ الطَّيِّبَةِ: «اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ» (٢)،

Dan jalan terpendek menuju hati adalah dengan perkataan yang baik: "Peliharalah dirimu dari api neraka walaupun dengan separuh buah kurma, jika tidak ada maka dengan perkataan yang baik" Sahih al-Bukhari - Kitab al-Adab - Bab 34 - Hadis 6023.

وَقَدْ وَصَفَ اللَّهُ الصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِهِ بِقَوْلِهِ: ﴿وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاطِ الْحَمِيدِ﴾ [الْحَجِّ: ٢٤].

Allah telah menggambarkan hamba-hamba-Nya yang saleh dengan firman-Nya: "Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan diberi petunjuk (pula) kepada jalan (Allah) Yang Maha Teruji" [Al-Hajj: 24].

وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَسْتَقْبِلُ أَرْوَاحَ الطَّيِّبِينَ: ﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ﴾ [النَّحْلِ: ٣٢]،

Sesungguhnya para malaikat menyambut ruh orang-orang yang baik: "(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): 'Salamun 'alaikum (keselamatan bagimu)'" [An-Nahl: 32].

وَقَدْ قَالَ - ﷺ -: «الْمَيِّتُ تَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ، فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَالِحًا قَالُوا: اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ، اخْرُجِي حَمِيدَةً، وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ، وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ،

Nabi telah bersabda: "Mayit didatangi oleh malaikat, jika orang tersebut adalah orang yang saleh, para malaikat berkata: 'Keluarlah wahai jiwa yang baik yang berada di dalam jasad yang baik, keluarlah dalam keadaan terpuji, dan bergembiralah dengan ketenteraman, rezeki, dan Tuhan yang tidak murka.

فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا حَتَّى تَخْرُجَ، ثُمَّ يُعْرَجُ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ، فَيُنْفَتَحُ لَهَا، فَيُقَالُ: مَنْ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانٌ.

'Kata-kata itu terus diucapkan kepadanya hingga ia keluar, kemudian ruhnya dibawa naik ke langit, lalu dibukakan untuknya, dan ditanyakan: 'Siapakah ini?' Mereka menjawab: 'Fulan.'

فَيُقَالُ: مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الطَّيِّبَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ، ادْخُلِي حَمِيدَةً، وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ، وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ.

Maka dikatakan: 'Selamat datang jiwa yang baik yang berada di jasad yang baik, masuklah dalam keadaan terpuji, dan bergembiralah dengan ketenteraman, rezeki, dan Tuhan yang tidak murka.'

فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ، حَتَّى يُنْتَهَى بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي فِيهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ. وَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ السُّوءُ

Kata-kata itu terus diucapkan kepadanya hingga sampai di langit tempat Allah Azza wa Jalla berada. Dan jika orang tersebut adalah orang yang jahat,

قَالَ: اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ، اخْرُجِي ذَمِيمَةً، وَأَبْشِرِي حَتَّى تَخْرُجَ، ثُمَّ يُعْرَجُ إِلَى السَّمَاءِ، فَلَا يُفْتَحُ لَهَا،

malaikat berkata: 'Keluarlah wahai jiwa yang buruk yang berada di dalam jasad yang buruk, keluarlah dalam keadaan tercela, dan bergembiralah (dengan siksa)...' hingga ia keluar, kemudian dibawa naik ke langit tetapi tidak dibukakan pintu baginya,

فَيُقَالُ: مَنْ هَذَا؟ فَيُقَالُ: فُلَانٌ، فَيُقَالُ: لَا مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الْخَبِيثَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ، ارْجِعِي ذَمِيمَةً، فَإِنَّهَا لَا تُفْتَحُ لَكِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، فَيُرْسَلُ بِهَا مِنَ السَّمَاءِ ثُمَّ تَصِيرُ إِلَى الْقَبْرِ» (١)،

lalu ditanyakan: 'Siapakah ini?' Dijawab: 'Fulan.' Maka dikatakan: 'Tidak ada ucapan selamat datang bagi jiwa yang buruk yang berada di jasad yang buruk, kembalilah dalam keadaan tercela, karena tidak dibukakan bagimu pintu-pintu langit.' Lalu ruh itu dilemparkan dari langit kemudian dimasukkan ke dalam kubur" Sahih Sunan Ibn Majah - Kitab az-Zuhd - Bab 31 - Hadis 3437/4262 (Sahih).

وَعَلَى أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لِأَهْلِ الطَّيِّبَةِ: ﴿سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ﴾ [الزُّمَرِ: ٧٣] بَعْدَ أَنْ أَحْيَاهُمُ اللَّهُ الْحَيَاةَ الطَّيِّبَةَ فِي الدُّنْيَا بِالْإِيمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ.

Dan di pintu-pintu surga dikatakan kepada pemilik kebaikan hati: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu; kamu telah baik, maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya" [Az-Zumar: 73] setelah Allah menghidupkan mereka dengan kehidupan yang baik di dunia melalui iman dan amal saleh.

إِنَّ غَلَبَةَ التَّعَامُلِ بِالطَّيِّبَةِ، وَنَقَاءَ الْمُجْتَمَعِ مِنَ الْخُبْثِ، حَصَانَةٌ مِنْ غَضَبِ اللَّهِ وَانْتِقَامِهِ، وَلِذَلِكَ تَسَاءَلَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ: «أَفَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟»، فَأَجَابَهَا رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ -: «نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ» (٢).

Dominasi interaksi dengan kebaikan serta bersihnya masyarakat dari keburukan merupakan benteng dari murka Allah dan siksa-Nya. Oleh karena itu Zainab binti Jahsy pernah bertanya: "Apakah kita akan binasa sedangkan di antara kita ada orang-orang yang saleh?" Maka Rasulullah menjawab: "Ya, apabila keburukan telah banyak" Sahih al-Bukhari - Kitab al-Fitan - Bab 28 - Hadis 7135 (al-Fath 13/106).

قَالَ ابْنُ الْعَرَبِيِّ: (وَفِيهِ الْبَيَانُ بِأَنَّ الْخَيْرَ يَهْلِكُ بِهَلَاكِ الشَّرِيرِ، إِذَا لَمْ يُغَيِّرْ عَلَيْهِ خُبْثَهُ) (٣).

Ibnu al-Arabi berkata: (Di dalamnya terdapat penjelasan bahwa orang yang baik ikut binasa dengan kebinasaan orang yang jahat, jika ia tidak mengubah keburukannya) Dikutip dari Fath al-Bari 13/109.

الطَّيِّبُ نَقِيُّ الْقَلْبِ، سَلِيمُ السَّرِيرَةِ، حَسَنُ الظَّنِّ بِالنَّاسِ .. وَمِنْ دُعَائِهِ - ﷺ -: «وَنَقِّ قَلْبِي مِنَ الْخَطَايَا، كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ» (٤)،

Orang yang baik itu hatinya bersih, batinnya selamat (suci), dan berprasangka baik kepada manusia.. Dan di antara doa Nabi adalah: "Dan bersihkanlah hatiku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan pakaian yang putih dari kotoran" Sahih al-Bukhari - Kitab ad-Da'awat - Bab 39 - Hadis 6368 (al-Fath 11/1769).

وَلَا يَغُرَّنَّكَ مَا يَلْصَقُهُ الْخُبَثَاءُ بِالطَّيِّبِينَ: مِنْ صِفَاتِ الْغَفْلَةِ، وَضَعْفِ الْعَقْلِ، وَقِلَّةِ الْحِيلَةِ، وَالْهَوَانِ عَلَى النَّاسِ. فَلَأَنْ تَكُونَ مَقْبُولًا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَوْسِمَةِ الدَّهَاءِ وَالْحِيلَةِ وَالْخُبْثِ.

Dan jangan sekali-kali membuatmu terpedaya oleh apa yang dilekatkan oleh orang-orang jahat kepada orang-orang baik: seperti sifat kelalaian, lemah akal, kurang akal budi, dan kehinaan di mata manusia. Sebab, menjadi orang yang diterima di sisi Allah itu jauh lebih baik bagimu daripada lencana-lencana kelicikan, tipu daya, dan keburukan.

خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ:

Ringkasan bab ini dan poin-poin utamanya:

مِنْ مَعَانِي الطَّيِّبَةِ فِي اللُّغَةِ وَالْقُرْآنِ.

 

Di antara makna-makna at-thayyibah (kebaikan) secara bahasa dan dalam Al-Qur'an.

الْمُؤْمِنُ يَعْتَزُّ بِطِيبَتِهِ.

Seorang mukmin bangga dengan kebaikannya.

الْعِبَادَاتُ تُؤَصِّلُ الطَّيِّبَةَ فِي الْقَلْبِ.

Ibadah-ibadah menguatkan/mengakar kebaikan di dalam hati.

طِيبُ النَّفْسِ مِنَ النَّعِيمِ.

Keadaan jiwa yang baik adalah bagian dari kenikmatan.

مَوَاطِنُ الْبَلَاءِ تُمِيزُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ.

Tempat-tempat cobaan membedakan yang buruk dari yang baik.

الطَّيِّبُ يَتَوَرَّعُ عَنِ الشُّبُهَاتِ.

Orang yang baik berhati-hati dari hal-hal yang syubhat.

الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو لِلْمُتَحَابِّينَ الطَّيِّبِينَ.

Para malaikat mendoakan orang-orang yang saling mencintai lagi baik hatinya.

لَا يَطِيبُ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ بِالْقُعُودِ حِينَ يُسْتَنْفَرُ النَّاسُ.

Hati seorang mukmin tidak merasa tenang untuk duduk-duduk saja ketika manusia dipanggil perang.

مِنْ طِيبِ الْقَلْبِ تَطْيِيبُ قُلُوبِ الْعِبَادِ.

Bagian dari kebaikan hati adalah membahagiakan hati hamba-hamba Allah.

النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ تُرَحِّبُ بِهَا الْمَلَائِكَةُ.

Jiwa yang baik disambut dengan hangat oleh para malaikat.

غَلَبَةُ التَّعَامُلِ بِالطَّيِّبِ وِقَايَةٌ مِنْ غَضَبِ اللَّهِ.

Dominasi interaksi dengan kebaikan merupakan pelindung dari murka Allah.

أَبْرَزُ مَا فِي الطَّيِّبِ نَقَاءُ قَلْبِهِ وَسَلَامَةُ سَرِيرَتِهِ.

Hal paling menonjol pada diri orang yang baik adalah kebersihan hatinya dan kesucian batinnya.

 

📙📙📙 Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

 The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan  : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. Dipersilahkan - share


Senin, 24 Agustus 2026

Nafsu - 06 - Tazkiyyatun nafs

 


أَحْوَالُ النَّفْسِ وَمُحَاسَبَتُهَا

NAFSU


أَحْوَالُ النَّفْسِ وَمُحَاسَبَتُهَا

NAFSU

اتَّفَق السَّالِكُونَ إِلَى اللَّهِ عَلَى اخْتِلَافِ طُرُقِهِمْ وَتَبَايُنِ سُلُوكِهِمْ عَلَى أَنَّ النَّفْسَ قَاطِعَةٌ بَيْنَ الْقَلْبِ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى الرَّبِّ

Para penempuh jalan menuju Allah dengan beragam cara dan metode bersepakat bahwa nafsu adalah faktor yang menghalangi hati untuk sampai kepada Allah.

وَأَنَّهُ لَا يُدْخَلُ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَلَا يُوصَلُ إِلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ إِمَاتَتِهَا وَتَرْكِهَا بِمُخَالَفَتِهَا، وَالظَّفَرِ بِهَا

Mereka juga bersepakat, tidak ada seorang pun yang dapat masuk dan sampai kepada Allah kecuali jika sudah membunuh nafsu tersebut, menyelisihi, memenangi pertarungan atasnya.

فَإِنَّ النَّاسَ عَلَى قِسْمَيْنِ: قِسْمٌ ظَفِرَتْ بِهِ نَفْسُهُ: فَمَلَكَتْهُ وَأَهْلَكَتْهُ، وَصَارَ طَوْعًا لَهَا تَحْتَ أَوَامِرِهَا

Begitulah, manusia itu ada dua kelompok. Pertama, manusia yang dikalahkan, dikuasai dan dihancurkan oleh hawa nafsunya.

وَقِسْمٌ ظَفِرُوا بِنُفُوسِهِمْ: فَقَهَرُوهَا فَصَارَتْ طَوْعًا لَهُمْ، مُنْقَادَةً لِأَوَامِرِهِمْ

Ia benar-benar tunduk di bawah perintahnya. Kedua, manusia yang berhasil memenangi pertarungan melawannya. Ia mampu mengekang, menundukkan, sehingga nafsu pun tunduk di bawah perintahnya.

 

قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: "انْتَهَى سَفَرُ الطَّالِبِينَ إِلَى الظَّفَرِ بِأَنْفُسِهِمْ؛ فَمَنْ ظَفِرَ بِنَفْسِهِ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَمَنْ ظَفِرَتْ بِهِ نَفْسُهُ خَسِرَ وَهَلَكَ

Sebagian orang arif berkata, "Akhir dari perjalanan para Thalibin (orang-orang yang mencari) adalah ketika mereka telah berhasil menundukkan nafsunya. Siapa pun yang demikian keadaannya telah ber jihasil dan sukses. Sebaliknya siapa saja yang dikalahkan nafsunya, berarti telah gagal dan hancur.

 

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ۞ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۞ فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ ۞ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۞ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Allah berfirman, Adapun orang yang durhaka, lagi mengutamakan kehidupan dunia. Maka neraka Jahimlah tempat tinggalnya. Sedangkan orang yang takut akan kebesaran Rabbnya, lagi menahan diri dari hawa nafsunya. Maka surgalah tempat tinggalnya." An-Nâzi'at: 37-41

وَالنَّفْسُ تَدْعُو إِلَى الطُّغْيَانِ وَإِيثَارِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَالرَّبُّ يَدْعُو عَبْدَهُ إِلَى خَوْفِهِ وَنَهْيِ النَّفْسِ عَنِ الْهَوَى، وَالْقَلْبُ بَيْنَ الدَّاعِيَيْنِ: يَمِيلُ إِلَى هَٰذَا الدَّاعِي مَرَّةً وَإِلَى هَٰذَا مَرَّةً، وَهَٰذَا مَوْضِعُ الْمِحْنَةِ وَالِابْتِلَاءِ

Nafsu itu menyeru kepada sikap durhaka dan mendahulukan kehidupan dunia...

Sedangkan Allah merintahkan hambaNya agar takut kepadaNya dan menahan diri dari hawa nafsunya. Jadi, hati manusia itu ada di antara dua penyeru. Kadangkala ia condong kepada yang satu, dan kadang pula condong kepada lainnya. Di sinilah ujian dan cobaan.

وَقَدْ وَصَفَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ النَّفْسَ فِي الْقُرْآنِ بِثَلَاثِ صِفَاتٍ: الْمُطْمَئِنَّةِ، وَاللَّوَّامَةِ، وَالْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ. فَاخْتَلَفَ النَّاسُ: هَلِ النَّفْسُ وَاحِدَةٌ وَهَٰذِهِ أَوْصَافٌ لَهَا، أَمْ لِلْعَبْدِ ثَلَاثُ أَنْفُسٍ؟

Dalam Al-Qur'an, Allah menyebut nafsu dengan tiga sifat; muthmainnah, lawwâmah dan ammarah bis-sû'. Selanjutnya manusia berbeda pendapat; Apakah nafsu itu satu dan yang tiga adalah sifatnya? Ataukah setiap manusia itu memiliki tiga nafsu.

فَالْأَوَّلُ: قَوْلُ الْفُقَهَاءِ وَالْمُفَسِّرِينَ

Pendapat pertama adalah pendapat fuqaha' dan para mufassir.

وَالثَّانِي: قَوْلُ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ التَّصَوُّفِ

Sedangkan pendapat kedua adalah pendapat mayoritas ahli tashawwuf.

وَالتَّحْقِيقُ أَنَّهُ لَا نِزَاعَ بَيْنَ الْفَرِيقَيْنِ؛ فَإِنَّهَا وَاحِدَةٌ بِاعْتِبَارِ ذَاتِهَا، وَثَلَاثَةٌ بِاعْتِبَارِ صِفَاتِهَا.

Tetapi pada hakekatnya tidak ada pertentangan antara dua pendapat ini ... Sebab memang nafsu itu hanya ada satu, jika ditinjau dari sisi dzatnya; dan terbagi menjadi tiga, jika ditinjau dari sisi sifatnya.

 

النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

Nafsul Muthmainnah

إِذَا سَكَنَتِ النَّفْسُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاطْمَأَنَّتْ بِذِكْرِهِ، وَأَنَابَتْ إِلَيْهِ وَاشْتَاقَتْ إِلَى لِقَائِهِ؛

Apabila nafsu tenang dan tentram dengan dzikrullah, tunduk kepadaNya, rindu berjumpa denganNya, serta jinak kala dekat denganNya,

وَأَنِسَتْ بِقُرْبِهِ؛ فَهِيَ مُطْمَئِنَّةٌ، وَهِيَ الَّتِي يُقَالُ لَهَا عِنْدَ الْوَفَاةِ: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۞ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

maka ia disebut Nafsu Muthmainnah. Kepadanya dikatakan-ketika menemui ajalnya, Wahai nafsu muthmainnah! Pulanglah kepada Rabbmu dengan penuh ridla dan diridlai!, Al-Fajr : 27-28

 

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: الْمُطْمَئِنَّةُ: الْمُصَدِّقَةُ

Ibnu Abbas menafsirkan, muthmainnah dengan mushaddiqah, yang membenarkan kebenaran.

وَقَالَ قَتَادَةُ: "هُوَ الْمُؤْمِنُ اطْمَأَنَّتْ نَفْسُهُ إِلَى مَا وَعَدَ اللَّهُ

Qatadah berkata, "Yaitu seorang mukmin yang nafsunya tenang dengan apa yang dijanjikan oleh Allah.

وَصَاحِبُهَا يَطْمَئِنُّ فِي بَابِ مَعْرِفَةِ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ إِلَى خَبَرِهِ الَّذِي أَخْبَرَ بِهِ عَنْ نَفْسِهِ وَأَخْبَرَ بِهِ عَنْ رَسُولِهِ

Tenang di pintu ma'rifah terhadap asma' dan shifatNya dengan berdasarkan kabar dariNya (Al-Qur'an) dan dari rasulNya (As-Sunnah).

 

ثُمَّ يَطْمَئِنُّ إِلَى خَبَرِهِ عَمَّا بَعْدَ الْمَوْتِ مِنْ أُمُورِ الْبَرْزَخِ وَمَا بَعْدَهُ مِنْ أَحْوَالِ الْقِيَامَةِ حَتَّى كَأَنَّهُ يُشَاهِدُ ذٰلِكَ كُلَّهُ عِيَانًا

Tenang atas kabar yang datang tentang apa yang terjadi setelah kematian, alam barzakh, dan kejadian dihari kiamat, seakan-akan melihatnya dengan mata telanjang.

ثُمَّ يَطْمَئِنُّ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُسَلِّمُ لَهُ وَيَرْضَى؛ فَلَا يَسْخَطُ وَلَا يَشْكُو وَلَا يَضْطَرِبُ إِيمَانُهُ؛

Tentram atas taqdir Allah, menerima dan meridlainya, tidak benci dan berkeluh-kesah, tidak pula terguncang keimanannya,

 فَلَا يَأْسَى عَلَى مَا فَاتَهُ، وَلَا يَفْرَحُ بِمَا آتَاهُ؛ لِأَنَّ الْمُصِيبَةَ فِيهِ مُقَدَّرَةٌ قَبْلَ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِ، وَقَبْلَ أَنْ تُخْلَقَ؛ قَالَ تَعَالَى

tidak berputus asa atas sesuatu yang lepas darinya, pun tidak berbangga atas apa yang dimilikinya. Sebab, semua musibah telah ditakdirkan olehNya jauh sebelum musibah itu sampai kepadanya, bahkan sebelum ia diciptakan.

مَا أَصَابَ مِن مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Tidak ada musibah yang datang kecuali dengan izin dari Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Qs. 64 At-Taghabun: 11

قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ: "هُوَ الْعَبْدُ تُصِيبُهُ الْمُصِيبَةُ فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَيَرْضَى وَيُسَلِّمُ

Tidak sedikit dari para salaf yang menafsirkannya sebagai: seseorang yang ditimpa musibah, ia mengerti bahwa musibah itu datang dari Allah sehingga ia ridha dan pasrah.

وَأَمَّا طُمَأْنِينَةُ الْإِحْسَانِ فَهِيَ الطُّمَأْنِينَةُ إِلَى أَمْرِهِ امْتِثَالًا وَإِخْلَاصًا وَنُصْحًا

Adapun yang dimaksud dengan thuma'ninah ihsan adalah ketenangan seseorang dalam melaksanakan perintah dengan ikhlas dan setia.

فَلَا يُقَدِّمُ عَلَى أَمْرِهِ إِرَادَةً وَلَا هَوًى وَلَا تَقْلِيدًا، وَلَا يُسَاكِنُ شُبْهَةً تُعَارِضُ خَبَرَهُ، وَلَا شَهْوَةً تُعَارِضُ أَمْرَهُ

Tidak mendahuluinya dengan satu keinginan ataupun hawa nafsu, juga bukan karena taklid. Ia tidak dihinggapi suatu syubhat yang mengaburkan kabar-Nya, atau syahwat yang bertentangan dengan perintahNya.

بَلْ إِذَا مَرَّتْ بِهِ أَنْزَلَهَا مَنْزِلَةَ الْوَسَاوِسِ الَّتِي لَأَنْ يَخِرَّ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَجِدَهَا

Bahkan jika suatu ketika syubhat dan syahwat itu datang, ia akan menganggapnya sebagai gangguan yang baginya lebih baik terjun dari langit ke bumi daripada mengecapnya, walau sesaat.

فَهَٰذَا كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَرِيحُ الْإِيمَانِ

Inilah yang dimaksud oleh Nabi sebagai sharihul îmân (iman yang jelas).

وَكَذٰلِكَ يَطْمَئِنُّ مِنْ قَلَقِ الْمَعْصِيَةِ وَانْزِعَاجِهَا إِلَى سُكُونِ التَّوْبَةِ وَحَلَاوَتِهَا

Nafsu Muthma'innah juga terjaga dari kegelisahan untuk bermaksiat dan gejolaknya, menuju taubat dan kenikmatannya.

فَإِذَا اطْمَأَنَّ مِنَ الشَّكِّ إِلَى الْيَقِينِ

Bila diri tenang telah berpindah dari keraguan kepada keyakinan;

وَمِنَ الْجَهْلِ إِلَى الْعِلْمِ، وَمِنَ الْغَفْلَةِ إِلَى الذِّكْرِ، وَمِنَ الْخِيَانَةِ إِلَى التَّوْبَةِ، وَمِنَ الرِّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَاصِ

Dari kebodohan kepada ilmu; dari kealpaan kepada dzikir, dari khianat kepada taubat dari riya' kepada ikhlash;

وَمِنَ الْكَذِبِ إِلَى الصِّدْقِ، وَمِنَ الْعَجْزِ إِلَى الْكَيْسِ، وَمِنْ صَوْلَةِ الْعُجْبِ إِلَى ذِلَّةِ الْإِخْبَاتِ، وَمِنَ التِّيهِ إِلَى التَّوَاضُعِ؛ فَعِنْدَ ذٰلِكَ تَكُونُ نَفْسُهُ مُطْمَئِنَّةً

dari kedustaan kepada kejujuran; dari kelemahan kepada semangat yang membaja; dari sifat 'ujub kepada ketundukan; dan dari kesesatan kepada ketawadlu'an, ketika itulah nafsu telah tentram, muthmainnah.

وَأَصْلُ ذٰلِكَ كُلِّهِ هِيَ الْيَقَظَةُ؛

Pondasi dari itu semua adalah yaqzdhah (kesadaran).

الَّتِي كَشَفَتْ عَنْ قَلْبِهِ سِنَةَ الْغَفْلَةِ، وَأَضَاءَتْ لَهُ قُصُورَ الْجَنَّةِ

Kesadaranlah yang menyibak kealpaan dan kelalaian diri. Ia pulalah yang menampakkan baginya taman surga.

 فَصَاحَ قَائِلًا

bersenandung

 أَلَا يَا نَفْسُ وَيْحَكِ سَاعِدِينِي

Tahukah kau, duhai nafsu?

بِسَعْيٍ مِنْكِ فِي ظُلَمِ اللَّيَالِي

Celaka bila engkau bergembira

لَعَلَّكِ فِي الْقِيَامَةِ أَنْ تَفُوزِي

Bantu aku dalam pekatnya malam

بِطِيبِ الْعَيْشِ فِي تِلْكَ الْعَلَالِي

Moga cita nikmat hidup... dalam menjulang

فَرَأَى فِي ضَوْءِ هَٰذِهِ الْيَقَظَةِ مَا خُلِقَ لَهُ

Di bawah cahaya kesadaraan, diri akan melihat semua yang diciptakan untuknya.

 وَمَا سَيَلْقَاهُ بَيْنَ يَدَيْهِ مِنْ حِينِ الْمَوْتِ إِلَى دُخُولِ دَارِ الْقَرَارِ

Juga, apa yang akan ditemuinya di alam barzakh, sampai memasuki negeri abadi.

وَرَأَى سُرْعَةَ انْقِضَاءِ الدُّنْيَا، وَقِلَّةَ وَفَائِهَا لِبَنِيهَا

Ia juga melihat betapa cepat dunia berlalu, betapa sedikit dunia memberikan kenikmatannya kepada anak-anak dan orang-orang yang merindukannya,

وَقَتْلَهَا لِعُشَّاقِهَا، وَفِعْلَهَا بِهِمْ أَنْوَاعَ الْمَثُلَاتِ؛

dan betapa dunia membunuh mereka dengan belati-belatinya. 

فَنَهَضَ فِي ذٰلِكَ الضَّوْءِ عَلَى سَاقِ عَزْمِهِ قَائِلًا

Maka bangkitlah ia seraya berseru

يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ

Duhai, betapa ruginya aku atas keteledoranku di sisi Allah. Qs. 39 Az-Zumar: 56

فَاسْتَقْبَلَ بَقِيَّةَ عُمُرِهِ مُسْتَدْرِكًا مَا فَاتَ، مُحْيِيًا مَا أَمَاتَ

Selanjutnya, ia akan menggunakan sisa umurnya untuk melengkapi kekurangan, menghidupkan yang telah ia matikan;

مُسْتَقْبِلًا مَا تَقَدَّمَ لَهُ مِنَ الْعَثَرَاتِ

membenahi puing-puing masa silam;

مُنْتَهِزًا فُرْصَةَ الْإِمْكَانِ - الَّتِي إِنْ فَاتَتْ فَاتَهُ جَمِيعُ الْخَيْرَاتِ

dan memanfaatkan setiap kesempatan yang jika terlewat, terlewat pulalah seluruh kebaikan-.

ثُمَّ يَلْحَظُ فِي نُورِ تِلْكَ الْيَقَظَةِ وَنُورِ نِعْمَةِ رَبِّهِ عَلَيْهِ

Masih di bawah cahaya kesadaran dan cahaya nikmat Rabbnya kepadanya,

وَيَرَى أَنَّهُ آيِسٌ مِنْ حَصْرِهَا وَإِحْصَائِهَا

ia melihat betapa ia tak mampu lagi menghitungnya,

عَاجِزٌ عَنْ أَدَاءِ حَقِّهَا

betapa ia tak mampu memenuhi haknya,

 وَيَرَى فِي تِلْكَ الْيَقَظَةِ عُيُوبَ نَفْسِهِ

dan dalam kesadaranya ia melihat dirinya penuh dengan aib,

وَآفَاتِ عَمَلِهِ، وَمَا تَقَدَّمَ لَهُ مِنَ الْجِنَايَاتِ وَالْإِسَاءَاتِ

juga amal-amalnya yang rusak, kejahatan dan pelanggaran yang telah dilakukannya sebelumnya

وَالتَّقَاعُدِ عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الْحُقُوقِ وَالْوَاجِبَاتِ

dan atas kelalaian yang tidak sedikit terhadap hak dan kewajiban .

فَتَنَكْسِرُ نَفْسُهُ وَتَخْشَعُ جَوَارِحُهُ

Akhirnya luluh sudah nafsunya, khusyu'lah anggota badannya,

 وَيَسِيرُ إِلَى اللَّهِ نَاكِسَ الرَّأْسِ بَيْنَ مُشَاهَدَةِ نِعَمِهِ

dan ia pun berjalan menuju Allah dengan kepala tertunduk oleh banyaknya nikmat yang ia saksikan

 وَمُطَالَعَةِ جِنَايَاتِهِ وَعُيُوبِ نَفْسِهِ

serta kejahatan, aib dan dosa dirinya.

وَيَرَى أَيْضًا فِي ضَوْءِ تِلْكَ الْيَقَظَةِ عِزَّةَ وَقْتِهِ وَخَطَرَهُ، وَأَنَّهُ رَأْسُ مَالِ سَعَادَتِهِ

Kini, ia tahu betapa berharga waktu yang dimilikinya. Juga bahwa ia adalah modal utama kejayaannya.

فَيَبْخَلُ بِهِ فِيمَا لَا يُقَرِّبُهُ إِلَى رَبِّهِ

Maka ia menjadi begitu pelit terhadap waktu-terlebih jika waktu tersebut digunakan bukan untuk upaya mendekatkan diri kepada Rabbnya.

فَإِنَّ فِي إِضَاعَتِهِ الْخُسْرَانَ وَالْحَسْرَةَ، وَفِي حِفْظِهِ الرِّبْحَ وَالسَّعَادَةَ

Sungguh, membuang-buang waktu adalah kerugian, sedangkan menjaganya adalah kemenangan dan keberuntungan.

فَهَٰذِهِ آثَارُ الْيَقَظَةِ وَمُوجَبَاتُهَا

Inilah buah dari yaqzhah dan implikasinya,

وَهِيَ أَوَّلُ مَنَازِلِ النَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ الَّتِي يَنْشَأُ مِنْهَا سَفَرُهَا إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ

yang merupakan langkah awal dari nafsu muthmainnah dalam perjalanannya menuju Allah dan negeri akhirat.

 

النَّفْسُ اللَّوَّامَةُ

Nafsu Lawwâmah

قَالَتْ طَائِفَةٌ: هِيَ الَّتِي لَا تَثْبُتُ عَلَى حَالٍ وَاحِدَةٍ،

Beberapa pendapat mengatakan Ia adalah nafsu yang selalu berubah keadaan;

فَهِيَ كَثِيرَةُ التَّقَلُّبِ وَالتَّلَوُّنِ؛ فَتَذْكُرُ وَتَغْفُلُ، وَتُقْبِلُ وَتُعْرِضُ، وَتُحِبُّ وَتُبْغِضُ، وَتَفْرَحُ وَتَحْزَنُ، وَتَرْضَى وَتَغْضَبُ، وَتُطِيعُ وَتَتَّقِي

Ia adalah nafsu yang selalu sering berbalik, berubah warna. Kadang ia ingat, kadang alpa. Kadang ia sadar, kadang berpaling. Kadang ia cinta, kadang benci, Kadang ia gembira, kadang sedih, kadang ia ridha, kadang murka. Kadang ia taat, dan kadang ia khianat.

وَقَالَتْ أُخْرَى: هِيَ نَفْسُ الْمُؤْمِنِ؛

Sebagian orang mendefinisikannya sebagai nafsu seorang mukmin.

قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: "إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا تَرَاهُ إِلَّا يَلُومُ نَفْسَهُ دَائِمًا يَقُولُ: مَا أَرَدْتُ هَٰذَا؟ لِمَ فَعَلْتُ هَٰذَا؟ كَانَ هَٰذَا أَوْلَى مِنْ هَٰذَا؟ أَوْ نَحْوَ هَٰذَا الْكَلَامِ

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, Seorang mukmin itu selalu mencela (lawwâmah artinya banyak mencela) dirinya. Ia terus berkata, "Apa yang kau inginkan dari semua ini? mengapa kau lakukan ini? Sungguh ini lebih baik daripada yang ini!, Atau yang semisalnya." (memilih prioritas)

وَقَالَتْ أُخْرَى: اللَّوْمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؛

Ada juga yang mengartikannya lawwâmah dengan celaan pada hari kiamat.

فَإِنَّ كُلَّ أَحَدٍ يَلُومُ نَفْسَهُ: إِنْ كَانَ مُسِيئًا عَلَى إِسَاءَتِهِ، وَإِنْ كَانَ مُحْسِنًا عَلَى تَقْصِيرِهِ.

Pada hari itu setiap pribadi akan mencela dirinya sendiri. Jika ia pendurhaka, atas kedurhakaannya, dan jika ia seorang yang taat, atas keteledoran dan kekurangannya.

يَقُولُ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ: "وَهَٰذَا كُلُّهُ حَقٌّ

Ibnul Qayyim berkata, Semua pengertian di atas benar.

وَالَّلَوَّامَةُ نَوْعَانِ

Lawwamah itu ada dua.

لَوَّامَةٌ مَلُومَةٌ، وَلَوَّامَةٌ غَيْرُ مَلُومَةٍ

Lawwamah yang tercela dan lawwamah yang terpuji.

لَوَّامَةٌ مَلُومَةٌ: وَهِيَ النَّفْسُ الْجَاهِلَةُ الظَّالِمَةُ، الَّتِي يَلُومُهَا اللَّهُ وَمَلَائِكَتُهُ

Yang pertama adalah nafsu yang dungu dan menganiaya diri sendiri. Ia dicela oleh Allah dan para malaikat.

لَوَّامَةٌ غَيْرُ مَلُومَةٍ: وَهِيَ الَّتِي لَا تَزَالُ تَلُومُ صَاحِبَهَا عَلَى تَقْصِيرِهِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ مَعَ بَذْلِهِ جُهْدَهُ؛

Sedangkan yang kedua adalah nafsu yang selalu mencela pemiliknya karena kekurangannya dalam ketaatan kepada Allah-padahal ia sudah berusaha sekuatnya-.

فَهَٰذِهِ غَيْرُ مَلُومَةٍ

Nafsu ini tidak dicela.

 

وَأَشْرَفُ النُّفُوسِ مَنْ لَامَتْ نَفْسَهَا فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَاحْتَمَلَتْ مَلَامَ اللَّوَّامِ فِي مَرْضَاتِهِ

Bahkan nafsu yang paling utama adalah nafsu yang mencela diri atas kekurang taatannya kepada Allah, dan ia siap menerima celaan dalam menggapai ridlaNya.

فَلَا تَأْخُذُهَا فِي اللَّهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ؛ فَهَٰذِهِ قَدْ تَخَلَّصَتْ مِنْ لَوْمِ اللَّهِ

Demikianlah ia terbebas dari celaan Allah. Maka dengannya kita tidak menyalahkan Allah...

وَأَمَّا مَنْ رَضِيَتْ بِأَعْمَالِهَا وَلَمْ تَلُمْ نَفْسَهَا، وَلَمْ تَحْتَمِلْ فِي اللَّهِ مَلَامَ اللَّوَّامِ،

Berbeda dengan orang yang puas atas amal yang dikerjakannya, dan ia tidak dicela oleh nafsunya, lalu tidak siap menerima celaan dalam menggapai ridhaNya. 

فَهِيَ الَّتِي يَلُومُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Nafsu semacam inilah yang dicela oleh Allah.

 

النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ

Nafsu amarah

وَهَٰذِهِ النَّفْسُ الْمَذْمُومَةُ؛

Inilah nafsu yang tercela.

فَإِنَّهَا تَأْمُرُ بِكُلِّ سُوءٍ، وَهَٰذَا مِنْ طَبِيعَتِهَا

Ia selalu mengajak kepada keburukan, dan itu memang tabiatnya.

فَمَا تَخَلَّصَ أَحَدٌ مِنْ شَرِّهَا إِلَّا بِتَوْفِيقِ اللَّهِ

Tidak ada seorang pun yang dapat selamat dari kejahatannya selain orang-orang yang mendapatkan taufiq dari Allah.

كَمَا قَالَ تَعَالَى حَاكِيًا عَنِ امْرَأَةِ الْعَزِيزِ: وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Allah berfirman tentang istri menteri Al-'Aziz, "Dan aku tidak berlepas tangan dari nafsuku. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyeru kepada kejahatan. Kecuali yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" Qs. 12 Yusuf 53

وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا

Demikian pula dengan firmanNya, Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, niscaya tidak ada seorangpun dari kalian yang bersih suci, selama-lamanya". Qs. 24 An-Nur 21

وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ خُطْبَةَ الْحَاجَةِ

Rasulullah mengajarkan kepada para sahabat tentang khutbah hajah (dibaca setiap akan berkhutbah)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَ

Segala puji bagi Allah. Kita memujiNya, memohon pertolongan kepadaNya, dan memohon ampunan kepadaNya. Kita juga berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu kita dan keburukan amal-amal kita.

فَالشَّرُّ كَامِنٌ فِي النَّفْسِ، وَهُوَ يُوجِبُ سَيِّئَاتِ الْأَعْمَالِ

Kejahatan itu tersimpan di dalam nafsu. Ia akan mengajak kepada amal-amal yang buruk.

فَإِذَا خَلَّى اللَّهُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ نَفْسِهِ هَلَكَ بَيْنَ شَرِّهَا وَمَا تَقْتَضِيهِ مِنْ سَيِّئَاتِ الْأَعْمَالِ، وَإِنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ وَأَعَانَهُ نَجَا مِنْ ذٰلِكَ كُلِّهِ

Apabila Allah membiarkan seorang hamba bersama nafsunya, ia akan binasa di tengah-tengah kejahatan nafsu dan amal buruknya. Apabila Allah memberikan taufiq dan memberikan pertolongan kepadanya, niscaya selamatlah ia dari semuanya.

فَنَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ أَنْ يُعِيذَنَا مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

Oleh karenanya kita memohon kepada Allah yang maha Agung untuk melindungi kita dari kejahatan nafsu dan amal buruk kita.

خُلَاصَةُ الْقَوْلِ

Ringkas kata

 

إِنَّ النَّفْسَ وَاحِدَةٌ؛ تَكُونُ أَمَّارَةً، ثُمَّ لَوَّامَةً، ثُمَّ مُطْمَئِنَّةً (وَهِيَ غَايَةُ كَمَالِهَا وَصَلَاحِهَا)

Ringkas kata, nafsu itu satu saja. Ia bisa jadi ammarah, lawwâmah atau muthma'innah, yang merupakan puncak kebaikan dan kesempurnaannya.

النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ: قَرِينُهَا الْمَلَكُ؛ يَلِيهَا وَيُسَدِّدُهَا، وَيَقْذِفُ فِيهَا الْحَقَّ وَيُرَغِّبُهَا فِيهِ وَيُرِيهَا حُسْنَ صُورَتِهِ

Nafsu muthmainnah itu temannya malaikat yang selalu setia kepadanya, membimbingnya, menyampaikan kebenaran kepadanya, menjadikannya cinta kepada kebenaran itu, dan menampakkan kepadanya akan keindahannya.

وَيَزْجُرُهَا عَنِ الْبَاطِلِ وَيُزَهِّدُهَا فِيهِ وَيُرِيهَا قُبْحَ صُورَتِهِ

Juga memperingatkannya dari kebatilan, menjadikannya benci kepadanya, dan menunjukkan kepadanya akan keburukannya.

وَبِالْجُمْلَةِ: فَمَا كَانَ لِلَّهِ وَبِاللَّهِ فَهُوَ مِنْ عِنْدِ النَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ

Singkatnya, segala sesuatu yang diperuntukkan bagi Allah dan denganNya pasti berasal dari nafsu muthmainnah.

وَأَمَّاالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ: جَعَلَ الشَّيْطَانَ

Adapun nafsu ammarah, temannya adalah setan.

قَرِينَهَا وَصَاحِبَهَا الَّذِي يَلِيهَا؛ فَهُوَ يَعِدُهَا وَيُمَنِّيهَا، وَيَقْذِفُ فِيهَا الْبَاطِلَ وَيَأْمُرُهَا بِالسُّوءِ

Setanlah yang selalu setia kepadanya, memberikan janji-janji palsu, mengumbarkan angan-angan kosong, menyampaikan kepadanya kebatilan, mengajaknya untuk berbuat jahat,

وَيُزَيِّنُهُ لَهَا، وَيُطِيلُ فِي الْأَمَلِ، وَيُرِيهَا الْبَاطِلَ فِي صُورَةٍ تَقْبَلُهَا وَتَسْتَحْسِنُهَا

menghiasi kejahatan itu agar tampak indah baginya, memanjangkan angan-angan , dan memperlihatkan kebathilan sebagai kebajikan dan keindahan.

فَالنَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ وَالْمَلَكُ يَقْتَضِيَانِ مِنَ الْعَبْدِ: التَّوْحِيدَ، وَالْإِحْسَانَ، وَالْبِرَّ، وَالتَّقْوَى، وَالتَّوَكُّلَ، وَالتَّوْبَةَ، وَالْإِنَابَةَ

Nafsu muthma'innah dan malaikat akan menggiring kepada tauhîd, ihsân, kebajikan, taqwa, tawakkal, taubat, inābah,

وَالْإِقْبَالَ عَلَى اللَّهِ، وَقَصْرَ الْأَمَلِ، وَالِاسْتِعْدَادَ لِلْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ

keadaan selalu menghadap Allah, pendek angan-angan, serta kesiapan menghadapi kematian dan apa yang terjadi sesudahnya.

وَالشَّيْطَانُ وَجُنْدُهُ مِنَ الْكَفَرَةِ يَقْتَضِيَانِ مِنَ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ ضِدَّ ذٰلِكَ

Sedangkan setan dan pasukannya-yang terdiri dari orang-orang kafir-, akan menggiring nafsu ammârah kepada kebalikannya.

وَأَصْعَبُ شَيْءٍ عَلَى النَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ تَخْلِيصُ الْأَعْمَالِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَمِنَ الْأَمَّارَةِ؛

Dari semua itu, yang paling sulit bagi nafsu muthma'in-nah adalah memurnikan amal, melepaskannya dari jerat setan dan nafsu ammârah. 

فَلَوْ وَصَلَ مِنْهَا عَمَلٌ وَاحِدٌ لَنَجَا بِهِ الْعَبْدُ، وَلٰكِنْ أَبَتِ الْأَمَّارَةُ وَالشَّيْطَانُ أَنْ يَدَعَا لَهُ عَمَلًا وَاحِدًا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ

Saking sulitnya, bila satu saja amalnya telah sampai, diterima, niscaya selamatlah sang hamba. Tetapi memang setan dan nafsu ammârah tidak membiarkan satu amal pun sampai kepada Allah.

كَمَا قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ وَبِنَفْسِهِ: "وَاللَّهِ لَوْ أَعْلَمُ أَنَّ لِي عَمَلًا وَاحِدًا وَصَلَ إِلَى اللَّهِ لَكُنْتُ أَفْرَحَ بِالْمَوْتِ مِنَ الْغَائِبِ يَقْدَمُ عَلَى أَهْلِهِ

Banyak orang arif berkata, "Demi Allah, jika aku tahu bahwa satu saja amalku telah sampai kepada Allah, diterima, aku lebih bahagia dengan kematian, melebihi kebahagiaan pengembara yang sampai kepada keluarganya."

وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: "لَوْ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ قَبِلَ مِنِّي سَجْدَةً وَاحِدَةً لَمْ يَكُنْ غَائِبٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الْمَوْتِ

Abdullah bin Umar berkata, "Andai aku tahu bahwa Allah menerima salah satu sujudku, tidak ada barang ghaib yang lebih aku dambakan daripada kematian."

وَقَدِ انْتَصَبَتِ الْأَمَّارَةُ فِي مُقَابَلَةِ الْمُطْمَئِنَّةِ؛

Memang nafsu ammârah dipancang sebagai lawan nafsu muthma'innah. 

فَكُلَّمَا جَاءَتْ تِلْكَ بِخَيْرٍ ضَاهَتْهَا هَٰذِهِ وَجَاءَتْ مِنَ الشَّرِّ بِمَا يُقَابِلُهُ حَتَّى تُفْسِدَهُ عَلَيْهَا

Setiap kali ia datang bersama satu kebaikan dengan segera nafsu ammârah datang bersama satu kebali-kannya untuk selanjutnya ia menipunya. 

تُريِهَا حَقِيقَةَ الْجِهَادِ فِي صُورَةِ تَقْتِيلِ النَّفْسِ، وَتَنْكِيحِ الزَّوْجَةِ، وَإِيتَامِ الْأَوْلَادِ، وَقِسْمَةِ الْمَالِ

Ia menampakkan jihad sebagai tindakan bunuh diri, membiarkan istri dinikahi orang lain, memperpanjang barisan anak yatim dan mem-bagi-bagi harta kekayaan.

وَتُرِيهَا حَقِيقَةَ الزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ فِي صُورَةِ مُفَارَقَةِ الْمَالِ وَنَقْصِهِ، وَخُلُوِّ الْيَدِ مِنْهُ، وَاحْتِيَاجِهِ إِلَى النَّاسِ، وَمُسَاوَاتِهِ لِلْفَقِيرِ

Ia juga menampakkan zakat dan shadaqah sebagai tindakan meninggalkan dan mengurangi harta kekayaan, menghabiskannya, menjadikannya sebagai peminta-minta di kemudian hari, dan menjadi sama dengan orang-orang fakir.

 



Sumber:

تزكية النفوس وتربيتها كما يقرره علماء السلف

Tazkiyatun Nafs konsep pensucian jiwa menurut ulama' salaf

Ibnu Qayyim Aljauziah - Ibnu Rajab Al Hambali - Imam Alghazali

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan  : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share - Semoga bermanfaat