Label xxx

Minggu, 31 Mei 2026

Memperbaiki Makanan - 05 BAB 04 Hadzihi Akhlaquna -


AKHLAK KITA DALAM ILAHIYAH


Keempat

الطابة المطعم

Memperbaiki Makan

 



كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

"Makanlah makanan yang baik yang kami berikan kepadamu."


إِنَّ تَحَرِّيَ الرِّزْقِ الْحَلَالِ مَسْأَلَةٌ يَوْمِيَّةٌ

Memilih rezeki yang halal merupakan masalah kehidupan sehari-hari

تَقْتَضِي مِنْ كُلِّ مِنَّا أَنْ يُدِيمَ اسْتِحْضَارَهَا وَالتَّوَاصِي بِهَا

yang menuntut kita untuk selalu saling menasihati dan mengingatnya.

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَدَيْنَا كَوَابِحُ إِيمَانِيَّةٌ تُوقِفُنَا عَنِ الِانْسِيَاقِ وَرَاءَ شَهْوَةِ الْمَالِ

Seandainya kita tidak memiliki iman yang dapat mencegah kita dari ambisi pada harta,

وَقَعْنَا فِي الشُّبُهَاتِ ثُمَّ فِي الْحَرَامِ

niscaya kita akan terjerumus pada hal-hal yang syubhat kemudian yang haram.

وَالْخُطُورَةُ تَكْمُنُ فِي اسْتِمْرَاءِ النَّفْسِ لِلْحَرَامِ وَاعْتِيَادِهَا عَلَيْهِ

Yang sangat berbahaya adalah jika diri terbiasa mengerjakan hal-hal yang haram dan tidak meninggalkannya.

أَوْ عَدَمِ مُبَالَاتِهَا فِيهِ

atau bahkan tidak lagi peduli apakah sesuatu itu halal atau haram.

كَثِيرًا مَا أَوْصَى رَسُولُ اللهِ ﷺ بِتَحْلِيلِ الرِّزْقِ

Rasulullah ﷺ sering memerintahkan umatnya untuk mencari rezeki yang halal

وَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ

dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk melakukan sesuatu yang di-perintahkan-Nya kepada para rasul.

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا... [الْمُؤْمِنُونَ: ٥١] (١) 

Allah berfirman, "Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang saleh." al-Mu'minuun [23]: 51. Hadits diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi - Jami' al-Ushul 10/565 hadits 8131.

وَقَالَ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ... ﴾ [الْبَقَرَةِ: ١٧٢ ]

Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu." al-Baqarah [2]: 172

وَجَعَلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - عَدَمَ الْمُبَالَاةِ بِهَذَا الْأَمْرِ مِنْ صِفَاتِ شِرَارِ الْخَلْقِ فَقَالَ

Rasulullah ﷺ menganggap bahwa sikap yang tidak mengindahkan hal ini termasuk sifat-sifat manusia yang jahat, beliau bersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ، أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ

"Suatu masa aku datang menemui seseorang, di mana ia tidak lagi mengindahkan dari mana ia mencari rezeki, apakah dari yang halal atau haram, " Shahih Bukhari, kitab Jual Beli, bab 7, hadits 2059.

وَقَدْ وَرَدَ فِي خُطْبَةٍ لِعُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: (وَعِفُّوا إِذَا أَعْفَكُمُ اللهُ، وَعَلَيْكُمْ مِنَ الْمَطَاعِمِ بِمَا طَابَ مِنْهَا) (۳)

Utsman bin Affan r.a. pernah berkhotbah, "Allah menjadikan kalian sebagai hamba-hamba yang saleh, maka bersifat iffahlah dan makanlah makanan yang baik-baik saja. " Al-Muwaththa', kitab al-Isti'dzan, bab 16, hadits 42.

وَمِنْ أَبْرَزِ صُوَرِ الرِّزْقِ الطَّيِّبِ مَا كَانَ بِعَمَلِ الْيَدِ مَعَ اسْتِفْرَاغِ الْجُهْدِ وَالطَّاقَةِ فِي الْإِتْقَانِ وَالْإِحْسَانِ

Di antara bentuk-bentuk rezeki yang baik (halal) adalah yang dihasilkan oleh pekerjaan tangan sendiri dengan kesungguhan dalam menyempurnakan pekerjaannya itu dan baik.

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ. وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

"Seseorang tidak memakan makanan yang lebih baik daripada (makanan) hasil kerja tangannya sendiri. Nabi Daud a.s. makan dari hasil kerja tangannya sendiri." Shahih Bukhari, kitab al-Buyu, bab 15, hadits 2072.

وَإِذَا مَا أَرَدْتَ أَنْ تَأْوِيَ إِلَى مَضْجَعِكَ مُنْشَرِحَ الصَّدْرِ فَإِنَّ

Jika Anda ingin berbaring tidur dengan lapang dada, maka ke-tahuilah bahwa,

مَنْ بَاتَ كَالًّا مِنْ عَمَلِهِ بَاتَ مَغْفُورًا لَهُ

"Barangsiapa tidur di malam hari dengan keadaan letih karena pekerjaannya, maka ia tidur dalam keadaan diampuni (dosanya oleh Allah). " Disebutkan oleh Ibnu Hajar Hajar dalam kitab (al-Fat-h 4/306) ketika menjelaskan hadits 2072, dan menisbatkannya atas nama Hisyam bin 'Ammar.

وَلَا فَرْقَ بَيْنَ مِهْنَةٍ وَضِيعَةٍ وَمِهْنَةٍ رَفِيعَةٍ

Tidak ada bedanya antara pekerjaan yang sepele dengan pekerjaan yang terhormat,

الْمُهِمُّ أَنْ يَكُونَ الرِّزْقُ حَلَالًا

namun yang terpenting adalah rezekinya halal.

وَقَدْ كَانَ هَذَا شَأْنَ الْأَنْبِيَاءِ

Begitulah keadaan para nabi.

وَعَلَى ذَلِكَ رَبَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ صَحَابَتَهُ فَكَانَ يُخَاطِبُهُمْ بِكُلِّ وُضُوحٍ

Rasulullah ﷺ mendidik para sahabatnya atas dasar itu. Beliau bersabda,

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يُمْنَعَهُ

"Seseorang di antara kalian yang mencari kayu bakar dan memikulnya di atas pundaknya lebih baik daripada meminta-minta pada seseorang, namun orang itu belum tentu memberi atau tidak." Shahih Bukhari, al-Buyu, bab 15, hadits 2074.

وَالْمُصِيبَةُ الْكُبْرَى فِي سُؤَالِ النَّاسِ أَنَّ نَفْسِيَّةَ الْمَرْءِ تَعْتَادُ الِاتِّكَالَ عَلَى الْآخَرِينَ وَتَرْكَنُ إِلَى الْكَسْلِ

Bahaya besar akibat dari meminta-minta adalah menjadikan jiwa seseorang menjadi malas dan terbiasa bergantung pada orang lain.

وَالدِّينُ الَّذِي يَدْعُو إِلَى الْجِهَادِ لَا يَقْبَلُ لِأَتْبَاعِهِ أَنْ يَكُونُوا عَالَةً فِي أَرْزَاقِهِمْ

Dan agama yang menyeru kepada jihad tidak memperbolehkan pengikut-pengikutnya menjadi beban bagi orang lain dalam hal penghidupan mereka.

وَلَا مُتَطَفِّلِينَ عَلَى أَمْوَالِ غَيْرِهِمْ بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ

Dan janganlah menjadi orang yang menumpang hidup pada harta orang lain tanpa kerelaan hati mereka.

لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

"Harta seorang muslim tidak halal kecuali dengan kerelaan darinya." Shahih al-Jami' no. 7662 (shahih).

وَقَدْ طَلَبَ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي مَوْقِفٍ وَاحِدٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Hakim bin Hizam r.a. pernah meminta kepada Rasulullah tiga kali dalam satu kesempatan, 

وَرَسُولُ اللهِ ﷺ يُعْطِيهِ فِي كُلِّ مَرَّةٍ

kemudian Rasulullah memberinya setiap kali ia meminta. 

وَلَكِنَّهُ لَمْ يَتْرُكْهُ حَتَّى أَدَّبَهُ بِأَدَبِ الْإِسْلَامِ

Maka, beliau tidak mem-biarkannya begitu saja tetapi beliau mengajarkannya adab Islam,

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ. وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

"Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan kemurahan hati niscaya ia diberkahi pada rezekinya itu. Tetapi barangsiapa mengambilnya dengan keserakahan diri niscaya ia tidak diberkahi pada hartanya, seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang. Tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (menerima).'" Shahih Bukhari, kitab Fardhi al-Khumus, bab 19, no. 3143. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Zakat no. 1035.

فَأَقْسَمَ حَكِيمٌ أَلَّا يَطْلُبَ بَعْدَ ذَلِكَ شَيْئًا، وَوَفَى بِقَسَمِهِ إِلَى أَنْ مَاتَ 

Setelah itu, Hakim bersumpah tidak meminta lagi dan ia menepati sumpahnya hingga ia wafat.

وَذَلِكَ لِأَنَّ إِطَابَةَ الْمَطْعَمِ وَتَحْلِيلَ الرِّزْقِ تَبْدَأُ بِاجْتِنَابِ الشُّبُهَاتِ

Mencari makanan yang baik dan rezeki yang halal bermula dari menjauhkan hal-hal syubhat

وَتَنْتَهِي إِلَى عَدَمِ اسْتِشْرَافِ النَّفْسِ إِلَى مَا بِأَيْدِي النَّاسِ

dan berakhir hingga diri tidak serakah terhadap harta yang ada di tangan orang lain,

بِحَيْثُ تَعِفُّ الْيَدُ وَيَقْنَعُ الْقَلْبُ

sehingga tangan menjadi mulia dan hati menjadi puas.

وَقَدْ يَظُنُّ بَعْضُ النَّاسِ أَنَّ كَثْرَةَ الْجَدَلِ وَأَنَّ الْإِحْرَاجَ فِي تَحْصِيلِ شَيْءٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ عَلَامَاتِ الذَّكَاءِ وَالْفَطَانَةِ

Sebagian orang menyangka bahwa banyak berdebat dan menyulitkan dalam mencapai sesuatu merupakan tanda kecerdasan, 

وَقَدْ نَهَى عَنْ ذَلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ

padahal Rasulullah ﷺ melarang hal itu.

لَا تُلِحُّوا فِي الْمَسْأَلَةِ، فَوَاللهِ لَا يَسْأَلُنِي أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا فَتُخْرِجَ لَهُ مَسْأَلَتُهُ مِنِّي شَيْئًا وَأَنَا لَهُ كَارِهٌ فَيُبَارَكَ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتُهُ

"Jika meminta maka janganlah memaksa. Demi Allah, jika salah seorang di antara kalian yang meminta sesuatu kepadaku kemudian aku berikan apa yang dimintanya dengan rasa benci kepadanya, maka ia tidak diberkahi pada apa yang aku berikan itu." Shahih Muslim, kitab Zakat, bab 33, hadits 1038.

فَمَا أُخِذَ بِالْحَيَاءِ لَيْسَ بِالرِّزْقِ الطَّيِّبِ، وَمَا حُصِلَ بِالْإِحْرَاجِ عَدِيمُ الْبَرَكَةِ

Apa-apa yang diambil dengan rasa malu bukanlah rezeki yang baik, dan apa-apa yang dicapai dengan cara menyulitkan orang, maka tidak memiliki keberkahan.

وَمَنْ هَانَتْ عَلَيْهِ نَفْسُهُ الْيَوْمَ لِيَسْأَلَ النَّاسَ

Barangsiapa pada hari ini menghinakan dirinya dengan meminta-minta,

لَا يَبْعُدْ أَنْ يَصِلَ بِهِ الْهَوَانُ إِلَى عَدَمِ تَحَرِّي الْحَلَالِ

niscaya tidak lama lagi kehinaan membuatnya tidak mencari rezeki yang halal.

أَمَّا الرِّزْقُ الَّذِي يَسُوقُهُ اللهُ إِلَيْكَ، وَلَمْ تَتَلَهَّفْ إِلَيْهِ نَفْسُكَ، وَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ قَلْبُكَ فَخُذْهُ

Ambillah rezeki yang diberikan Allah kepadamu, yang dirimu tidak tamak terhadapnya dan hatimu tidak terpaku padanya.

وَقَدْ كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كُلَّمَا عُرِضَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَطَاءً يَقُولُ

Umar r.a. berkata setiap Rasulullah ﷺ memberikan sesuatu kepadanya, 

أَعْطِهِ مَنْ هُوَ أَفْقَرُ إِلَيْهِ مِنِّي فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ

"Berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkan." Maka, Rasulullah berkata kepadanya,

خُذْهُ إِذَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ شَيْءٌ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ. فَإِنْ شِئْتَ كُلْهُ وَإِنْ شِئْتَ تَصَدَّقْ بِهِ. وَمَا لَا فَلَا تَتْبَعْهُ نَفْسُكَ

"Ambillah pemberian itu. Jika suatu harta diberikan kepadamu sedang engkau tidak merasa tamak dan tidak memintanya, maka ambillah lalu simpanlah. Namun jika engkau menginginkannya maka makanlah atau sedekahkanlah. Dan harta yang tidak demikian janganlah engkau harapkan. " Shahih Bukhari, kitab Zakat, hadits 1473 Shahih Muslim, kitab Zakat, hadits 1045.

وَالرِّزْقُ الطَّيِّبُ مِنْ أَسْبَابِ قَبُولِ الدُّعَاءِ وَمِمَّا يُشْرَعُ طَلَبُهُ فِي الدُّعَاءِ 

Rezeki yang baik dianjurkan untuk diminta dalam berdoa, sebab diterimanya suatu doa.

وَالزَّكَاةُ تُطَهِّرُ مَا بَقِيَ مِنَ الْمَالِ

Zakat karena hal tersebut merupakan yang dikeluarkan berarti membersihkan harta yang tersisa,

إِنَّ اللهَ لَمْ يَفْرِضِ الزَّكَاةَ إِلَّا لِيُطَيِّبَ مَا بَقِيَ مِنْ أَمْوَالِكُمْ

"Sesungguhnya, Allah mewajibkan zakat untuk memperbaiki harta kalian yang tersisa." Sunan Abu Daud, kitab Zakat, bab 33, hadits 1664 (Sanadnya hasan Jami' al-Ushul 2/163).

ولا تَقْبَلُ الصَّدَقَةَ إِلَّا مِنَ الْمَالِ الطَّيِّبِ، وَلَا بَرَكَةَ إِلَّا فِيمَا كَانَ طَيِّبًا

Sedekah hanya diterima dari harta yang baik (halal) dan keberkahan hanya ada pada sesuatu yang baik,

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا.. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

"Sesungguhnya Allah itu baik dan hanya menerima yang baik, kemudian Rasulullah ﷺ menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan lusuh dan berdebu. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas seraya berkata, 'Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin permintaannya dikabulkan?" Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi (Jami' al-Ushu/10/565. hadits 8131).

وَمَنْ كَانَ تَحْتَ يَدِهِ أَمْوَالٌ عَامَّةٌ يَتَوَلَّى تَصْرِيفَهَا بِحُكْمِ مَسْؤُولِيَّتِهِ أَوْ مَكَانَتِهِ الْاجْتِمَاعِيَّةِ

Orang yang mengurusi harta karena sudah menjadi tanggung jawabnya atau karena kedudukan sosialnya kemudian dia berkonsentrasi pada tugasnya itu,

وَهُوَ مُتَفَرِّغٌ لِهَذَا الْأَمْرِ، فَمِنْ حَقِّهِ أَنْ يَأْخُذَ مَا يَكْفِيهِ وَأُسْرَتَهُ بِقَدْرِ حَاجَةِ مِثْلِهِ عُرْفًا

maka dia berhak mengambil secukupnya dari harta tersebut untuk diri dan keluarganya dengan ukuran yang wajar.

وَأَمَّا التَّوَسُّعُ فِيهِ فَوْقَ الْحَاجَةِ، وَالِاسْتِئْثَارُ بِهِ دُونَ النَّاسِ، وَالتَّبْذِيرُ فِي التَّوَافِهِ

Adapun terlalu banyak mengambil untuk melebihi kebutuhan hanya mengutamakan dirinya sendiri dan menghambur-hamburkan harta pada hal-hal yang tidak penting,

فَلَيْسَ مِنْ إِطَابَةِ الْمَطْعَمِ. وَإِلَى ذَلِكَ أَشَارَ ابْنُ حَجَرٍ بِقَوْلِهِ

maka hal itu tidak termasuk memperbaiki makanan. Ibnu Hajar mengisyaratkan hal tersebut dalam perkataannya,

أَنَّ لِلْعَامِلِ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ عَرْضِ الْمَالِ الَّذِي يَعْمَلُ فِيهِ قَدْرَ حَاجَتِهِ، إِذَا لَمْ يَكُنْ فَوْقَهُ إِمَامٌ يَقْطَعُ لَهُ أُجْرَةً مَعْلُومَةً

"Dibolehkan bagi seorang pegawai mengambil sebagian harta yang diurusinya dengan seperlunya, jika tidak ada pemimpin yang memberikan gaji kepadanya." Fat-hu al-Baari 4/35 dari penjelasan hadits 2070

وَالْمَرْأَةُ الَّتِي يَبْخَلُ عَلَيْهَا زَوْجُهَا، قَالَ لِمِثْلِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang istri yang memiliki suami yang kikir kepadanya,

خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

"Ambillah (sebagian harta) yang dapat mencukupi dirimu dan anakmu der dengan cara yang ma'ruf (sewajarnya)."

وَإِنْ كَانَ فِي نَفْسِ أَحَدِنَا شُبْهَةٌ

Jika salah seorang di antara kita masih merasa adanya sesuatu yang syubhat,

فَلْيُحَلِّلْ رِزْقَهُ بِبَذْلِ أَقْصَى الْجُهْدِ وَغَايَةِ الْوُسْعِ، إِلَى أَنْ يَشْعُرَ أَنَّهُ قَدْ أَحَلَّ مَطْعَمَهُ وَمَشْرَبَهُ؛

maka hendaklah dia mencari rezeki yang halal dengan mencurahkan segala kemampuan hingga ia merasa bahwa ia telah mengonsumsi makanan dan minuman yang halal.

فَالْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ

Kebaikan adalah sesuatu yang dapat menenangkan jiwa, sedangkan dosa adalah sesuatu yang tidak dapat menenangkan diri,

حِينَ تُخَلِّصُ نُفُوسَنَا لِلْحَقِّ، وَلَا تَسْتَعْبِدْهَا الشَّهَوَاتُ

ketika diri kita menjalankan kebenaran dan tidak menjadi budak hawa nafsu.


خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN

- إِطَابَةُ الْمَطْعَمِ سُنَّةُ الْمُرْسَلِينَ

Memperbaiki makanan merupakan sunnah (tradisi) para rasul.

- مِنْ أَطْيَبِ الطَّعَامِ مَا كَانَ مِنْ عَمَلِ الْيَدِ

Yang termasuk makanan yang baik adalah makanan yang dihasilkan oleh pekerjaan tangan sendiri.

- الْحَرِيصُ عَلَى إِطَابَةِ الْمَطْعَمِ لَا يَتَحَرَّجُ مِنْ أَيَّةِ مِهْنَةٍ

Orang yang berkeinginan memperbaiki makanan (rezekinya), maka jangan merasa malu pada pekerjaan apa pun (asalkan halal).

لَيْسَ مِنْ طِيبِ الْمَطْعَمِ مَا أُخِذَ مِنَ النَّاسِ بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ

Sesuatu yang diambil dari orang lain tanpa kerelaan darinya maka bukanlah makanan yang baik.

- مَا أُخِذَ بِالْإِلْحَاحِ فِي الْمَسْأَلَةِ لَا يُبَارَكُ فِيهِ

Sesuatu yang dihasilkan dari meminta-minta dengan cara paksa makä tidak diberkahi oleh Allah.

إِطَابَةُ الْمَطْعَمِ مِنْ أَسْبَابِ قَبُولِ الدُّعَاءِ

Memperbaiki makanan adalah sebab diterimanya suatu doa.

لَيْسَ مِنْ طِيبِ الْمَطْعَمِ التَّوَسُّعُ فِي الْمَالِ الْعَامِّ

Berlebihan dalam mengambil harta milik orang lain (yang berada di bawah tanggung jawabnya) maka bukanlah makanan yang baik.

ضَابِطُ إِطَابَةِ الْمَطْعَمِ اسْتِفْرَاغُ الْجُهْدِ فِي الْكَسْبِ

Mencurahkan segala kemampuan dalam bekerja merupakan prinsip dalam memperbaiki makanan (rezeki).


♥️♥️♥️

Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

 The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share

Senin, 11 Mei 2026

Wara' - Hati-hati - 05 BAB 03 - Hadzihi Akhlaquna

 AKHLAK KITA DALAM ILAHIYAH



Ketiga

الْوَرَعُ

Wara' - Hati-hati 


كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ

Jadilah Orang Wara', niscaya Engkau Menjadi Orang yang Paling banyak Ibadah


إِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ وَقَدَرَهُ حَقَّ قَدْرِهِ وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِ وَشَعَائِرَهُ

"Sesungguhnya barangsiapa yang mengenal Rabbnya dan memahami kedudukan-Nya sebagaimana mestinya, serta memuliakan hal-hal yang diharamkan-Nya dan syiar-syiar agama-Nya,

يَصِلُ بِهِ التَّعْظِيمُ إِلَى الْحَيْطَةِ وَالْحَذَرِ مِنْ كُلِّ مَا يَكُونُ مَظِنَّةَ غَضَبِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْحَالِ أَوْ فِي الْمَآلِ

maka rasa penghormatan itu akan membawanya kepada sikap hati-hati dan waspada dari segala sesuatu yang menjadi sebab datangnya murka Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang."

فَالْوَرَعُ عِنْدَهُ نَوْعٌ مِنَ الْخَشْيَةِ وَالرَّهْبَةِ تَجْعَلُهُ يَتْرُكُ كَثِيرًا مِنَ الْمُبَاحَاتِ

Maka, orang yang wara' memiliki rasa takut yang membuatnya meninggalkan hal-hal mubah (yang dibolehkan),

إِنِ الْتَبَسَتْ عَلَيْهِ مَعَ الْحَرَامِ لِئَلَّا يُجَازِفَ بِدِينِهِ؛

jika baginya hal-hal tersebut bercampur aduk dengan hal-hal haram, agar ia tidak mempertaruhkan agamanya.

وَلِهَذَا عَرَّفَ الْهَرَوِيُّ الْوَرَعَ بِقَوْلِهِ: (الْوَرَعُ تَوَقٍ مُسْتَقْصًى عَلَى حَذَرٍ، وَتَخَرُّجٌ عَلَى تَعْظِيمٍ)

Oleh karena itu, al-Harawi mendefinisikan kata wara' dengan ucapannya, "Wara' adalah menjauhi maksiat secara optimal dengan penuh hati-hati, dan menjauhi dosa dengan penuh takzim (pengagungan kepada Allah). " Tahdzib Madarij as-Salikin, hlm. 290.

وَمِنَ الْعَلَامَاتِ الْأَسَاسِيَّةِ لِلْوَرِعِينَ شِدَّةُ حَذَرِهِمْ مِنَ الْحَرَامِ وَضَعْفُ جُرْأَتِهِمْ عَلَى الْإِقْدَامِ إِلَى مَا قَدْ يَجُرُّ إِلَى الْحَرَامِ

Karakteristik dasar orang-orang yang wara' adalah mereka menjauhi perkara haram dan tidak berani melakukan suatu hal yang dapat membawa dirinya kepada perkara haram.

وَفِي ذَلِكَ يَقُولُ رَسُولُ اللهِ ﷺ

Ber-kaitan dengan hal tersebut Rasulullah ﷺ bersabda,

«الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ، فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ، وَمَنِ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيهِ مِنَ الْإِثْمِ أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ

"(Hukum) yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, sehingga di antara keduanya merupakan perkara-perkara yang syubhat. Barangsiapa meninggalkan dosa yang (hukumnya) masih samar, maka ia akan meninggalkan dosa yang (hukumnya) sudah jelas, dan barangsiapa berani melakukan dosa yang masih diragukan (samar) maka ia akan melakukan dosa yang (hukumnya) sudah jelas. "

Shahih Bukhari, kitab al-Buyu, bab 2, hadits 2051 al-Fath 4/290

فَمَنْ تَجَرَّأَ عَلَى مَوَاضِعِ الرِّيبَةِ وَالشَّكِّ تَزْدَادُ جُرْأَتُهُ عَلَى مَا هُوَ أَشَدُّ

Orang yang berani melakukan hal-hal yang (hukumnya) diragukan maka akan lebih berani melakukan perbuatan yang lebih buruk.

وَإِنَّهُ مَنْ يُخَالِطُ الرِّيبَةَ يُوشِكُ أَنْ يَجْسُرَ

"Barangsiapa menjerumuskan dirinya pada perbuatan yang diragukan maka ia akan menjadi lebih berani. " Sunan Abu Daud, kitab Jual Beli, bab 3, hadits 3329 dari berbagai riwayat hadits, "Yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas..."

فَالْوَرَعُ الْحَقِيقِيُّ كَمَا وَصَفَهُ يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ

Sifat wara' yang hakiki adalah sebagaimana yang di jelaskan oleh Yunus bin 'Ubaid,

(الْخُرُوجُ مِنْ كُلِّ شُبْهَةٍ وَمُحَاسَبَةُ النَّفْسِ فِي كُلِّ طَرْفَةِ عَيْنٍ)

"Meninggalkan dari setiap hal yang syubhat (hukumnya samar) dan menginstrospeksi diri setiap kejap mata." Tahdzib Madarij as-Salikin, hlm. 290 

وَرِحْلَةُ الِانْحِدَارِ تَبْدَأُ بِزَلَّةٍ وَاحِدَةٍ

Terperosok ke jurang yang dalam bermula dari sebuah ketergelinciran.

وَالْحَرِيصُ عَلَى آخِرَتِهِ يَجْعَلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الِانْزِلَاقِ وِقَايَاتٍ تَسْتُرُهُ وَتَحْمِيهِ

Orang yang senantiasa menginginkan (ke-bahagiaan) maka akhiratnya akan menjadikan sebagai pelindung dirinya dari ketergelinciran.

وَقَدْ أَشَارَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى الشَّيْخُ الْقَبَّارِيُّ بِقَوْلِهِ

Syekh al-Qabbari telah meng-isyaratkan hal ini dengan perkataannya,

(الْمَكْرُوهُ عَقَبَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَالْحَرَامِ؛ فَمَنْ اسْتَكْثَرَ مِنَ الْمَكْرُوهِ تَطَرَّقَ إِلَى الْحَرَامِ، وَالْمُبَاحُ عَقَبَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَكْرُوهِ؛ فَمَنْ اسْتَكْثَرَ مِنْهُ تَطَرَّقَ إِلَى الْمَكْرُوهِ)

"Perkara yang makruh merupakan penghalang antara seorang hamba dengan perkara yang haram. Barangsiapa sering melakukan hal yang makruh, maka ia akan masuk ke dalam hal yang haram. Sedangkan perkara yang mubah merupakan penghalang antara seorang hamba dengan perkara yang makruh. Barangsiapa sering melakukan hal yang mubah maka ia akan masuk ke dalam hal yang makruh." Fat-hu al-Baari 1/127 ketika menjelaskan hadits 52 al-Halalu Bayyinun pada kitab Iman, bab 39.

وَاسْتَحْسَنَ ابْنُ حَجَرٍ قَوْلَهُ هَذَا وَزَادَ عَلَيْهِ

Ibnu Hajar menganggap bahwa pendapatnya itu baik lalu menambahkan,

(أَنَّ الْحَلَالَ حَيْثُ يُخْشَى أَنْ يَؤُولَ فِعْلُهُ مُطْلَقًا إِلَى مَكْرُوهٍ أَوْ مُحَرَّمٍ يَنْبَغِي اجْتِنَابُهُ

"Melakukan hal yang halal yang dapat menyebabkan terjerumus kepada hal yang makruh atau haram, yang seharusnya dijauhi.

كَالْإِكْثَارِ - مَثَلًا - مِنَ الطَّيِّبَاتِ فَإِنَّهُ يُحْوِجُ إِلَى كَثْرَةِ الِاكْتِسَابِ الْمُوقِعِ فِي أَخْذِ مَا لَا يَسْتَحِقُّ

Seperti terlalu banyak memakan makanan, maka itu akan menyebabkan seseorang banyak bekerja sehingga menjadikan ia berani mengambil barang yang bukan haknya,

أَوْ يُفْضِي إِلَى بَطَرِ النَّفْسِ وَأَقَلُّ مَا فِيهِ الِاشْتِغَالُ عَنْ مَوَاقِفِ الْعُبُودِيَّةِ، وَهَذَا مَعْلُومٌ بِالْعَادَةِ، مُشَاهَدٌ بِالْعِيَانِ...)

atau dirinya menjadi sombong hingga tidak memperhatikan aktivitas ubudiyyah (ketundukan kepada Allah). Hal ini sudah menjadi kebiasaan dan dapat disaksikan oleh mata." Fat-hu al-Baari 1/127.

وَالْعَلَامَةُ الْأَسَاسِيَّةُ لِصَاحِبِ الْوَرَعِ قُدْرَتُهُ عَلَى تَرْكِ مَا فِيهِ مُجَرَّدُ الشَّكِّ أَوِ الشُّبْهَةِ كَمَا قَالَ الْخَطَّابِيُّ

Karakteristik dasar orang yang wara' adalah mampu me-ninggalkan sesuatu yang meragukan (syubhat), sebagaimana dijelaskan oleh al-Khaththabi,

(كُلُّ مَا شَكَكْتَ فِيهِ فَالْوَرَعُ اجْتِنَابُهُ)

"Jika ada sesuatu yang engkau ragukan, maka meninggalkannya merupakan sifat wara'." Fat-hu al-Baari 4/293, dari penjelasan bab 3, kitab Buyu'

 وَنَقَلَ الْبُخَارِيُّ عَنْ حَسَّانِ بْنِ أَبِي سِنَانٍ قَوْلَهُ

Bukhari mengutip perkataan Hasan bin Abu Sanan,

(مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَهْوَنَ مِنَ الْوَرَعِ: دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ)

"Aku tidak mendapatkan sesuatu yang lebih ringan (dilakukan) daripada wara, maka tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan beralihlah kepada apa yang tidak meragukanmu." Shahih Bukhari, dari pendahuluan bab 3, kitab Iman.

كَمَا وَرَدَ عَنِ الرَّسُولِ اللهِ أَنَّهُ قَالَ

Sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda,

(الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ - وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ)

"Kebaikan adalah sesuatu yang dapat menenangkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah sesuatu yang tidak dapat menenangkan jiwa dan hati-sekalipun para ahli fatwa memberikan fatwa kepadamu." Shahih al-Jami' no. 2881 (shahih). 

وَيُؤَكِّدُ ذَلِكَ مَا رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ مُرْسَلًا: (مَا أَنْكَرَهُ قَلْبُكَ فَدَعْهُ)

Hal itu dikuatkan juga oleh riwayat Ibnu 'Asakir secara mursal, "Apa yang diingkari oleh hatimu maka tinggalkanlah. " Shahih al-Jami' no. 5564 (shahih).

وَأَصْحَابُ الْمَرَاتِبِ الْعَالِيَةِ يَحْتَاطُونَ لِأَنْفُسِهِمْ بِالْحَذَرِ مِنْ بَعْضِ الْحَلَالِ الَّذِي قَدْ يُفْضِي إِلَى شَيْءٍ مِنَ الْمَكْرُوهِ أَوِ الْحَرَامِ، فَقَدْ وَرَدَ عَنِ الرَّسُولِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ

Orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi sangat berhati-hati dari sebagian hal yang halal yang dapat membawa kepada hal yang makruh atau haram. Rasulullah ﷺ bersabda,

«لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ الْبَأْسُ»

"Seorang hamba tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa, jika ia meninggalkan sesuatu yang dibolehkan karena khawatir terjerumus pada sesuatu yang tidak dibolehkan." Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dihasankan olehnya, dan ahli hadits lainnya Jami' Al-Ushul 4/682 hadits 2791).

وَيُؤَكِّدُهُ الْحَدِيثُ الْآخَرُ: «اجْعَلُوا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الْحَرَامِ سِتْرًا مِنَ الْحَلَالِ...»

Hal tersebut dikuatkan oleh hadits yang lain, "Buatlah perkara yang halal sebagai pembatas antara kalian dari perkara yang haram," Shahih al-Jami'no. 152 (shahih). 

وَمِنْ لَطِيفِ مَا حَدَّثَ بِهِ ابْنُ الْقَيِّمِ -رَحِمَهُ اللهُ- قَالَ: قَالَ لِي يَوْمًا شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللهُ رُوحَهُ فِي شَيْءٍ مِنَ الْمُبَاحِ

Perkataan Ibnu al-Qayyim yang sangat menarik adalah, "Pada suatu hari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (semoga Allah menyucikan ruhnya) berkata kepadaku mengenai suatu hal yang mubah,

«هَذَا يُنَافِي الْمَرَاتِبَ الْعَالِيَةَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَرْكُهُ شَرْطًا فِي النَّجَاةِ»

'Hal ini (sesuatu yang mubah) dapat menghilangkan kedudukan yang tinggi, walaupun meninggalkannya bukanlah merupakan syarat untuk menuju keselamatan." Tahdzib Madarij as-Salikin, hlm. 292.

وَكَمَا يَشْمَلُ الْوَرَعُ صُوَرَ الْكَسْبِ وَالْمُعَامَلَاتِ فَإِنَّهُ يَشْمَلُ اللِّسَانَ

Sebagaimana wara' berlaku pada pekerjaan, mu'amalah (interaksi sosial) dan lisan juga demikian.

فَقَدْ تَجِدُ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَنْدَفِعُونَ إِلَى الْفَتْوَى وَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ؛

Banyak sekali orang yang berani berfatwa sedangkan mereka tidak mengerti.

وَلِذَلِكَ عَقَدَ الدَّارِمِيُّ بَابًا فِي "التَّوَرُّعِ عَنِ الْجَوَابِ فِيمَا لَيْسَ فِيهِ كِتَابٌ وَلَا سُنَّةٌ"

Oleh karena itu, ad-Darimi membuat suatu bab dalam kitabnya, "Bersikap, wara jika dalam suatu masalah yang tidak ada jawabannya, maka dapat memberikan jawabannya pada Al-Qur'an dan Sunnah."

وَيَعْتَبِرُ إِسْحَاقُ بْنُ خَلَفٍ الْوَرَعَ فِي الْكَلَامِ أَشَدَّ مِنَ الْوَرَعِ فِي التَّعَامُلَاتِ الْمَالِيَةِ حَيْثُ يَقُولُ

Ishaq bin Khalaf berpendapat bahwa bersikap wara' dalam berbicara lebih diperlukan daripada bersikap wara' dalam urusan dagang. Ia berkata,

«الْوَرَعُ فِي الْمَنْطِقِ أَشَدُّ مِنْهُ فِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ...»

"Bersikap wara' dalam berbicara lebih diperlukan daripada bersikap wara dalam (urusan dagang) emas dan perak."

وَمِنْ تَأَمُّلِ ابْنِ الْقَيِّمِ فِي أَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَعْلَنَ أَنَّهُ

Setelah Ibnu al-Qayyim merenungkan hadits-hadits Nabi ﷺ beliau berpendapat,

(جَمَعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الْوَرَعَ كُلَّهُ فِي كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ فَقَالَ: «مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»)

"Rasulullah ﷺ menggabungkan wara' hanya dalam satu kalimat saja. Beliau bersabda, 'Seseorang yang Islamnya baik adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya." Tahdzibu Madariki as-Salikin hlm. 292.

وَمِنَ الثَّمَرَاتِ الْبَارِزَةِ لِخُلُقِ الْوَرَعِ أَنَّهُ يَعْصِمُ صَاحِبَهُ مِنَ الِاسْتِدْرَاجِ، لِذَلِكَ تَجِدُ

Buah (hasil dari akhlak wara adalah menjaga seseorang dari istidraj (penipuan). Oleh karena itu, kamu dapat menyaksikan, 

(مَنْ تَعَاطَى مَا نُهِيَ عَنْهُ يَصِيرُ مُظْلِمَ الْقَلْبِ لِفِقْدَانِ نُورِ الْوَرَعِ فَيَقَعُ فِي الْحَرَامِ وَلَوْ لَمْ يَخْتَرْ الْوُقُوعَ فِيهِ)

"Orang yang sibuk mengerjakan hal terlarang maka hatinya menjadi gelap karena kehilangan cahaya wara, sehingga ia terjerumus pada hal yang haram sekalipun ia tidak menghendakinya." Fat-hu al-Baari 1/127-128 dari penjelasan bab 39 kitab al-Iman.

كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرٍ. وَفِي حَدِيثِ الْإِفْكِ

Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar. Dalam hadits Al-Ifki (berita palsu),

تَقُولُ السَّيِّدَةُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ السَّيِّدَةِ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ حَيْثُ حَمَتْ سَمْعَهَا وَبَصَرَهَا مِنَ الْخَوْضِ فِيمَا لَا تَعْلَمُ

"Aisyah berbicara tentang Zainab binti Jahsy yang telah menjaga mata dan telinganya dari mencampuri perkara yang tidak diketahuinya, (Maksudnya, Zainab tidak mempercayai berita palsu itu-penerj.)

«فَعَصَمَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْوَرَعِ»

Allah telah melindunginya dengan wara." Shahih Bukhari, kitab al-Maghazi, bab 34, hadits 4141 (a/-Fat-h7/431).

كَمَا أَنَّ صَاحِبَ الْوَرَعِ يَحْمِي دِينَهُ وَعِرْضَهُ مِنَ الطَّعْنِ

Orang yang wara juga menjaga agama dan harga dirinya dari tuduhan,

(فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ)

"Barangsiapa menjauhi hal-hal syubhat maka agama dan harga dirinya telah bebas. " Shahih Bukhari, kitab al-Iman, bab 39, hadits 52 (al-Fat-h 1/126).

يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ: «وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَوَقَّ الشُّبُهَاتِ فِي كَسْبِهِ وَمَعَاشِهِ فَقَدْ عَرَّضَ نَفْسَهُ لِلطَّعْنِ فِيهِ، وَفِي هَذَا إِشَارَةٌ إِلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى أُمُورِ الدِّينِ وَمُرَاعَاةِ الْمُرُوءَةِ»

Ibnu Hajar berkomentar, "Hadits tersebut merupakan dalil bahwa orang yang melakukan hal-hal syubhat (samar) dalam pekerjaan dan kehidupannya sungguh telah menyerahkan dirinya untuk dituduh. Ini isyarat untuk menjaga perkara-perkara agama dan harga diri. " Fat-hu al-Baari 1/127.

فَإِذَا كَانَتْ أَعْلَى مَنَازِلِ الْعِبَادَةِ الْوَرَعُ

Maka, telah jelas bahwa kedudukan ibadah tertinggi adalah wara",

(كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ)

"Jadilah orang yang wara niscaya engkau menjadi orang yang paling beribadah, " Shahih al-Jami' no. 4580 (shahih).

وَإِنْ كَانَ أَفْضَلُ الدِّينِ التَّوَرُّعُ (خَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ)؛

dan telah jelas bahwa sebaik-baik aktivitas dalam beragama adalah wara', "Sebaik-baik aktivitas dalam agama kalian adalah bersikap wara." Shahih al-Jami' no. 3308.

أَفَلَا يَرْتَقِي الدَّاعِيَةُ الْمُؤْمِنُ إِلَى تِلْكَ الذِّرْوَةِ وَيَرْبَأُ بِنَفْسِهِمْ عَنِ السُّقُوطِ وَالِانْزِلَاقِ

Maka, bukankah seorang dai menaiki puncak tersebut dan menyelamatkan jiwanya dari ketergelinciran yang dapat menyebabkan dirinya menjadi jatuh (terjerumus).

وَهُوَ الْحَرِيُّ بِالْحَذَرِ وَالِاحْتِيَاطِ وَالْخَوْفِ مِنْ أَنْ يَحْبَطَ عَمَلُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ

Hal inilah yang perlu diwaspadai sebelum amalnya menjadi sia-sia tanpa disadarinya.

فَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الصَّحَابَةِ كَانُوا يَخَافُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ مِنَ النِّفَاقِ

Para sahabat merasa khawatir pada sifat munafik yang dapat menimpa diri mereka.

وَيُعَلِّلُ ابْنُ حَجَرٍ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ: «وَلَا يَلْزَمُ مِنْ خَوْفِهِمْ مِنْ ذَلِكَ - أَيِ النِّفَاقِ - وُقُوعُهُ مِنْهُمْ بَلْ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْمُبَالَغَةِ مِنْهُمْ فِي الْوَرَعِ وَالتَّقْوَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ

Ibnu Hajar mengemukakan sebab mengapa mereka-demikian, "Bukan berarti rasa khawatir mereka terhadap nifak itu menunjukkan bahwa mereka tertimpa nifak, namun perasaan tersebut ada karena mereka terlalu wara' dan bertakwa." Fat-hu al-Baari 1/111 dari penjelasan bab 36 kitab Iman.

هَكَذَا كَانُوا، فَلْنُرَاجِعْ أَنْفُسَنَا وَلْنُزِنْ أَعْمَالَنَا

Demikian keadaan para sahabat Rasul ﷺ, maka hendaklah kita menginstrospeksi diri dan menimbang amal-amal kita.


خَلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN

الْوَرَعُ: خَشْيَةٌ تَدْفَعُ إِلَى تَرْكِ كَثِيرٍ مِنَ الْمُبَاحَاتِ احْتِيَاطًا

Wara' adalah rasa takut yang dapat menyebabkan seseorang a meninggalkan hal-hal mubah karena berhati-hati.

مِنْ عَلامَاتِ الْوَرَعِ

Karakteristik orang yang wara

- شِدَّةُ الْحَذَرِ مِنَ الْحَرَامِ وَالشُّبُهَاتِ

Sangat berhati-hati dari hal-hal haram dan syubhat (yang samar, tidak jelas halal atau haramnya).

- اتِّخَاذُ وِقَايَةٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَنْهِيَّاتِ

Membuat pelindung yang dapat melindunginya dari hal-hal terlarang:

- اجْتِنَابُ كُلِّ مَا يَشُكُّ فِيهِ

Menjauhi hal-hal yang meragukan.

- عَدَمُ التَّوَسُّعِ فِي الْمُبَاحِ

Tidak berlebihan dalam melakukan hal-hal mubah.

- عَدَمُ الْفَتْوَى بِغَيْرِ عِلْمٍ

Tidak memberikan fatwa jika tidak tahu.

- تَرْكُهُ مَا لَا يُعِينُهُ

Meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.  

مِنْ ثَمَرَاتِ الْوَرَعِ

Hasil dari sifat wara

- تَحْصِينُ النَّفْسِ مِنَ الاسْتِدْرَاجِ

Menjaga diri dari istidraj (penipuan).

- حِمَايَةُ الدِّينِ وَالْعِرْضِ

Menjaga agama dan harga diri.

مِنْ وَرَعِ الصَّحَابَةِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَخْشَوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ مِنَ النِّفَاقِ

Karena para sahabat sangat wara', maka mereka merasa khawatir pada nifak yang dapat menimpa mereka.


♥♥♥

Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share Semoga bermanfaat


Senin, 26 Januari 2026

Perhatian terhadap Akhirat - 05 BAB 02 - Hadzihi Akhlaquna

AKHLAK KITA DALAM KETUHANAN


Kedua:

الإهتمام بالآخرة


Perhatian terhadap Akhirat



مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا، هَمَّ الْمَعَادِ، كَفَاهُ اللهُ سَائِرَ هُمُومِهِ.

"Barangsiapa menjadikan banyak tujuan menjadi satu tujuan saja, yaitu tujuan kepada akhirat maka Allah akan melindunginya dari berbagai tujuannya."

يَعِيشُ الْمُؤْمِنُ الدَّاعِيَةُ كَثِيرًا مِنَ الْهُمُومِ

Seorang dai mukmin memiliki banyak tujuan dalam hidupnya.

وَرُبَّمَا كَانَ تَكَاثُرُ الْهُمُومِ سَبَبًا لِتَشْتِيتِ الْقَلْبِ عَنِ الْهَدَفِ، وَلِصَرْفِ الْهِمَّةِ إِلَى مَشَاغِلِ أَهْلِ الدُّنْيَا

Terkadang tujuannya menyebabkan hati menjadi meleset dari target dan cita-cita yang terfokus pada kesibukan-kesibukan masyarakat dunia,

وَاهْتِمَامَاتِهِمْ فَتَزُولُ الْمِيزَةُ وَيَنْعَدِمُ التَّمَيُّزُ وَتَخْتَلِطُ الْمَوَازِينُ

sehingga keistimewaannya menghilang dan timbangan bercampur.

إِنَّ مِنْ هَوَانِ أَمْرِ الدُّنْيَا أَنْ جَعَلَهَا اللهُ لَا تَدُومُ لِأَحَدٍ

Di antara tanda-tanda keremehan perkara dunia adalah bahwa Allah menjadikan dunia tidak kekal bagi seseorang,

(إِنَّ حَقًّا عَلَى اللهِ تَعَالَى أَنْ لَا يَرْفَعَ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ)

"Sesungguhnya Allah tidak mengangkat sedikit pun perkara dunia kecuali Dia menjatuhkannya." Shahih al-Jami' no. 2057 (shahih).

وَإِنَّمَا هِيَ أَيَّامٌ يُدَاوِلُهَا اللهُ بَيْنَ النَّاسِ، فَيَرْفَعُ أَقْوَامًا وَيَضَعُ آخَرِينَ، وَيُعِزُّ أَقْوَامًا وَيُذِلُّ آخَرِينَ لِتَتَحَقَّقَ حِكْمَةُ اللهِ فِي ابْتِلَاءِ الْعِبَادِ

Dunia hanyalah perputaran hari oleh Allah di antara manusia. Dia mengangkat sebagian kaum dan menjatuhkan yang lain. Dia juga memuliakan sebagian kaum dan merendahkan yang lain agar terealisasi hikmah Allah dalam ujian yang ditimpakan kepada hamba-hamba-Nya.

إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا لِلْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ يُحِبُّ

Allah memberikan dunia kepada orang mukmin dan kafir, dan hanya memberikan agama kepada orang yang dicintai-Nya. 

وَقَدْ تَعَجَّبَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو حِينَ رَآهُ يُصْلِحُ جِدَارَ بَيْتِهِ

Rasulullah sangat heran ketika melihat Abdullah bin 'Amr memperbaiki dan memelester tembok rumahnya.

وَيُطَيِّنُهُ فَأَرَادَ أَنْ يُخْلِيَ قَلْبَهُ مِنَ التَّعَلُّقِ بِالدُّنْيَا وَأَنْ يُذَكِّرَهُ بِقُرْبِ الْأَجَلِ لِلِاسْتِعْدَادِ لَهُ فَقَالَ لَهُ

Beliau ingin membebaskan dirinya dari keterikatan dunia, dan mengingatkannya bahwa ajal telah dekat oleh karena itu ia harus segera bersiap-siap untuk menghadapinya, maka beliau bersabda,

(مَا أَرَى الْأَمْرَ إِلَّا أَعْجَلَ مِنْ ذَلِكَ)

"Aku tidak melihat perkara (ajal) kecuali ia lebih cepat dari hal itu." Shahih al-Jami' no. 5526 (shahih).

لِيَجْعَلَ الْآخِرَةَ هَمَّهُ وَالِاسْتِعْدَادَ لَهَا شُغْلَهُ. فَإِذَا بَالَغَ امْرُؤٌ فِي الِانْصِرَافِ عَنْ إِعْمَارِ الدُّنْيَا وَالسَّعْيِ فِيهَا فَيَحْتَاجُ إِلَى لَفْتَةٍ مِنْ نَوْعٍ آخَرَ

Agar Abdullah menjadikan akhirat sebagai tujuannya dan persiapan menghadapi akhirat sebagai kesibukannya. Tetapi jika seseorang telah berpaling dari perkara dunia maka perlu ditarik dengan cara lain,

{وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا} [القصص: ٧٧] بِحَيْثُ يَبْقَى عَلَى جَادَّةِ الْقَصْدِ وَالتَّوَازُنِ

"...Dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi..." (al-Qashash [28]: 77) Agar ia tetap berada dalam tujuan yang benar dan seimbang.

وَإِنَّ الْعَبْدَ الْمَحْفُوْفَ بِالنَّعِيْمِ قَدْ يَكُوْنُ مُسْتَدْرَجًا لِمَزِيْدٍ مِنَ الْمَسْؤُولِيَّةِ وَالْعَذَابِ وَهُوَ لَا يَدْرِيْ

Hamba yang bergelimang (penuh) dengan nikmat akan dituntut pertanggungjawabannya secara berangsur dan siksa sedangkan dia tidak menyadarinya,

(إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيْمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ)

"Jika engkau melihat Allah swt. memberikan apa saja dari perkara yang dicintainya kepada seorang hamba sedangkan dia tetap mengerjakan maksiat, maka sesungguhnya hal itu adalah istidraj (tipuan) dari-Nya." Shahih al-Jami', no. 561 (shahih). 

فَلَا تَحْزَنْ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنْهَا

Maka, jangan bersedih jika perkara dunia tidak dapat engkau raih.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا أُوْتِيَ النَّاسُ مِنَ الدُّنْيَا فَرُبَّمَا كَانُوْا لَا يُحْسَدُوْنَ عَلَيْهَا إِذَا لَمْ يُؤَدُّوْا حَقَّهَا

Janganlah engkau pandang kenikmatan dunia yang diberikan (dengan segera) kepada manusia, karena mungkin saja mereka tidak suka dengan kenikmatan itu jika mereka tidak menunaikan hak kenikmatan tersebut.

وَالْخُطُوْرَةُ فِي أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ النِّعَمُ الْأَجْرَ

Yang sangat berbahaya adalah jika berbagai kenikmatan tersebut merupakan pahala yang diberikan oleh Allah,

الْعَاجِلَ لِيُحْرَمَ صَاحِبُهَا الْأَجْرَ الْآجِلَ حَيْثُ يَكُوْنُ فِي أَشَدِّ الْحَاجَةِ لِمَا يُرَجِّحُ كِفَّةَ حَسَنَاتِهِ؛

namun di akhirat nanti pahalanya ditangguhkan sehingga orang itu tidak mendapatkannya, padahal pahala sangat diperlukan untuk memberatkan timbangan kebaikan- kebaikannya. 

وَلِذَلِكَ طَيَّبَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ خَاطِرَ أَصْحَابِهِ حِيْنَ ذَكَرُوْا نَعِيْمَ الرُّوْمِ وَالْفُرْسِ فَقَالَ

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ. memperbaiki apa yang terlintas dalam benak para sahabatnya ketika mereka menyebutkan kemegahan bangsa Romawi dan Persia. Beliau bersabda,

(أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا)

Mereka adalah kaum yang kenikmatannya disegerakan pada kehidupan dunia ini. " Shahihul Bukhari, Kitab al-Mazhalim, bab 25, hadits 2468 (al-Fat-h, 5/116)


وَغَالِبُ حَالِ النَّاسِ كَمَا قَالَ ﷺ: (أَكْثَرُ النَّاسِ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوْعًا فِي الْآخِرَةِ)

Kebanyakan keadaan manusia seperti apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah ﷺ., Manusia yang paling kenyang di dunia adalah manusia yang paling lapar di akhirat. " Shahih al-Jami' no. 1199 (hasan).

وَذَلِكَ لِقِلَّةِ الشَّاكِرِيْنَ، وَكَمَا قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ

Hal itu disebabkan karena sedikitnya orang-orang yang bersyukur. Sebagaimana firman-Nya, 

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيْهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُوْمًا مَدْحُوْرًا

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami Kehendaki dan Kami tentukan baginya Neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir." (al-Israa' [17]: 18)

وَكُلُّ نِعْمَةٍ مَهْمَا صَغُرَتْ عَلَيْهَا حِسَابٌ وَمَسْؤُوْلِيَّةٌ

Setiap nikmat walaupun kecil akan dihisab dan dipertanggung-jawabkan.

فَالْمِسْكِيْنُ مَنْ لَمْ يَقُمْ بِحَقِّهَا لَا مَنْ حُرِمَ مِنْهَا فِي الدُّنْيَا

Orang yang miskin (malang) adalah orang yang tidak menunaikan hak (kewajiban) nikmat tersebut kepada orang yang tidak mendapat nikmat tersebut di dunia,

(إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ النَّعِيْمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ: أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ، وَنُرْوِيَكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ؟)

 "Sesungguhnya kenikmatan yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari Kiamat adalah dikatakan kepadanya, 'Bukankah kami telah menyehatkan badanmu dan memberikan kamu air minum yang sejuk?!" Shahih al-Jami'no. 2022 (shahih).

وَلِذَلِكَ كَانَ مِنْ عَلَامَةِ طَرِيقِ الْجَنَّةِ أَنَّهُ مَحْفُوفٌ بِالْبَلَاءِ، وَلَا يَهُونُ الْبَلَاءُ إِلَّا عَلَى مَنْ جَعَلَ الْآخِرَةَ هَمَّهُ

Oleh karena itu, di antara tanda-tanda jalan menuju surga adalah jalan itu dikelilingi dengan ujian. Ujian akan menjadi ringan bagi orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya,

(حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ)

"Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak enak dan neraka dikelilingi dengan hal-hal yang menggiurkan (hawa nafsu)." Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi (Jami' al-Ushul 10/521).

وَإِنَّ مَسْؤُولِيَّةَ الْمُسْلِمِ الَّذِي يَقْدُرُ اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ أَنْ يُوَحِّدَ هَمَّهُ فَيُفَكِّرَ فِي الْمَآلِ وَالْمَصِيرِ

Sesungguhnya tugas seorang muslim yang dimuliakan oleh Allah adalah menyatukan tujuannya dengan memikirkan akhirat, 

لَا أَنْ يَصْرِفَ كُلَّ جُهْدِهِ وَفِكْرِهِ وَوَقْتِهِ فِي صَغَائِرِ الْأُمُورِ وَتَوَافِهِهَا

tidak mencurahkan upaya, pikiran dan waktunya untuk hal-hal kecil dan remeh.

وَبِقَدْرِ مَا يَكُونُ اللهُ فِي قَلْبِ الْعَبْدِ مِنْ تَوْقِيرٍ وَإِجْلَالٍ وَرَهْبَةٍ يَكُونُ لِلْعَبْدِ عِنْدَ اللهِ مِنَ الْأَجْرِ وَالْمَنْزِلَةِ

Pahala dan kedudukan bagi seorang hamba di sisi Allah tergantung pada rasa takut dan hormat di dalam hatinya terhadap Allah swt.,

(مَنْ أَرَادَ أَنْ يَعْلَمَ مَا لَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ مَا اللهُ عِنْدَهُ)

"Barangsiapa ingin mengetahui balasan baginya di sisi Allah, maka hendaklah ia mengetahui apa saja hak Allah di sisinya (yang telah ia tunaikan). " Shahih al-Jami' no. 6006 (hasan).

وَمَنْ كَانَ دَائِمَ التَّفْكِيرِ فِي رِضَى اللهِ فَإِنَّهُ لَا تَشْغَلُهُ النِّعْمَةُ وَلَا يُعْمِيهِ الْبَلَاءُ، وَمَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فِي الْيُسْرِ كَانَ اللهُ لَهُ فِي الْعُسْرِ

Barangsiapa yang selalu memikirkan keridhaan Allah maka ia tidak akan dilalaikan oleh kenikmatan dan tidak dibutakan oleh ujian. Barangsiapa yang bersama Allah pada saat senang maka Allah bersamanya pada saat susah,

(تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ)

"Kenalilah Allah di waktu senang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah." Shahih al-Jami' no. 2961 (shahih).

وَمِثْلُ هَذَا الْحَالِ يَقْتَضِي مِنَ الْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ دَائِمَ الرَّقَابَةِ لِلَّهِ وَالْحَيَاءِ مِنْهُ أَكْثَرَ مِمَّا يَحْتَاطُ وَيَسْتَحْيِي مِنَ الْبَشَرِ

Hal ini menuntut seorang mukmin untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dan lebih malu terhadap-Nya daripada terhadap manusia, 

(مَا كَرِهْتَ أَنْ يَرَاهُ النَّاسُ مِنْكَ فَلَا تَفْعَلْهُ بِنَفْسِكَ إِذَا خَلَوْتَ)

Suatu perbuatan yang engkau tidak inginkan dilihat oleh orang-orang, maka janganlah engkau kerjakan pada saat sendirian." Shahih al-Jami' no. 5659 (hasan).

وَ (اعْبُدِ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ)

Dan, "Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu." Shahih al-Jami' no. 1037 (hasan).

وَالْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ إِذَا ذُكِّرَ بِخَطَئِهِ سَرِيعُ الْفَيْئَةِ قَرِيبُ الرَّجْعَةِ

Orang yang memperhatikan akhirat jika diingatkan ke-salahannya maka akan segera bertobat,

(إِذَا ذُكِّرْتُمْ بِاللهِ فَانْتَهُوا)

"Jika kalian diingatkan akan Allah maka berhentilah." Shahih al-Jami' no. 546 (hasan).

وَالَّذِي يَخَافُ اللهَ فِي الدُّنْيَا وَيَحْذَرُ مَعْصِيَتَهُ وَيَحْتَاطُ لِأَمْرِ آخِرَتِهِ فَذَلِكَ هُوَ الْآمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Orang yang takut kepada Allah di dunia, tidak bermaksiat kepada-Nya dan berhati-hati dalam urusan akhiratnya maka itulah orang yang selamat pada hari Kiamat,

(قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَجْمَعُ لِعَبْدِي أَمْنَيْنِ وَلَا خَوْفَيْنِ. إِنْ هُوَ أَمِنَنِي فِي الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ عِبَادِي، وَإِنْ هُوَ خَافَنِي فِي الدُّنْيَا أَمَّنْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ عِبَادِي)

"Allah berfirman (dalam hadits qudsi), 'Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak menggabungkan dua ketakutan dan dua keamanan pada hamba-Ku. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka niscaya Aku jadikan ia ketakutan pada saat Aku kumpulkan hamba-hamba-Ku. Tetapi jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka niscaya Aku jadikan ia merasa aman pada saat Aku kumpulkan hamba-hamba-Ku." Shahih al-Jami'no. 4332 (hasan).

وَالْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ يُفَكِّرُ فِيمَا يُقَرِّبُهُ إِلَى الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُهُ مِنَ النَّارِ، وَقَدْ جَعَلَ اللهُ مَدَارَ الْمَسْؤُولِيَّةِ عَلَى انْبِعَاثِ إِرَادَةِ الْإِنْسَانِ إِلَى الطَّاعَةِ أَوِ الْمَعْصِيَةِ لِذَلِكَ قَالَ ﷺ

Orang yang memperhatikan akhirat maka berarti dia selalu memikirkan hal-hal yang dapat mendekatkannya kepada surga dan menjauhkannya dari neraka. Allah telah menjadikan pertanggungjawaban terhadap pada barigkitnya keinginan manusia untuk taat atau untuk bermaksiat. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ. bersabda,

(الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ)

"Surga lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya, begitu pula dengan neraka." Diriwayatkan oleh Bukhari (Jami' al-Ushul10/522 no. 8071).

وَإِذَا صَدَقَ الْمَرْءُ فِي مُجَاهَدَةِ نَفْسِهِ يَسَّرَ اللهُ لَهُ السَّبِيلَ

Jika seseorang benar-benar bersungguh-sungguh terhadap dirinya, maka Allah akan memudahkan jalan baginya,

{وَيَزِيدُ اللهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى} [مريم: ٧٦]

"Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk." (Maryam [19]: 76)

وَالْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ لَا يَرَى الدُّنْيَا دَارَ قَرَارٍ لِشُعُورِهِ بِقُرْبِ الرَّحِيلِ إِلَى دَارِ الْخُلُودِ، قَالَ ﷺ

Orang yang memperhatikan akhirat tidak akan menganggap dunia sebagai tempat menetap, karena dia selalu merasa akan segera pergi menuju kampung kekekalan (akhirat). Rasulullah ﷺ bersabda,

(قَالَ لِي جِبْرِيلُ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُلَاقِيهِ)

"Jibril a.s. berkata kepadaku, 'Wahai Muhammad, hiduplah dengan semaumu, sesungguhnya engkau akan mati. Cintailah siapa saja yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya, dan berbuatlah semaumu, sesungguhnya engkau akan bertemu dengan-Nya." Shahih al-Jami' no. 4355 (hasan).

وَلِذَلِكَ كَانَ مِمَّا تُعُجِّبَ مِنْهُ انْفِتَاحُ أَبْوَابِ الْخَيْرِ وَغَفْلَةُ الْإِنْسَانِ عَنْهَا وَمُلَاحَقَةُ الْفِتَنِ لِلْمَرْءِ وَعَدَمُ فِرَارِهِ مِنْهَا

Oleh sebab itu, Rasulullah merasa heran pada terbukanya pintu nikmat yang dapat melalaikan manusia dan berbagai cobaan yang menimpanya, namun tidak ada kemampuan untuk menyelamat-kan dirinya,

(مَا رَأَيْتُ مِثْلَ النَّارِ نَامَ هَارِبُهَا، وَلَا مِثْلَ الْجَنَّةِ نَامَ طَالِبُهَا)

"Aku heran melihat neraka, seseorang yang semestinya berlari darinya justru tertidur, dan (aku heran melihat) surga, seseorang yang semestinya menggapainya justru tertidur." Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (Jami' al-Ushul11/19 no. 8487).

بَيْنَمَا يَكُونُ الْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ شَدِيدَ الْحِرْصِ عَلَى اتِّقَاءِ الْمُنْكَرَاتِ، وَالْمُسَارَعَةِ فِي الْخَيْرَاتِ

Tetapi orang yang memperhatikan akhirat senantiasa berusaha keras meninggalkan berbagai kemungkaran, dan segera me-ngerjakan berbagai kebajikan.

وَحَالُ الْمُهْتَمِّ لِأَمْرِ آخِرَتِهِ التَّخَفُّفُ مِنَ الْعَلَائِقِ وَالزُّهْدُ بِالصَّوَارِفِ

Dan orang yang memperhatikan urusan akhiratnya, maka dia akan melepaskan dirinya dari segala ikatan, dan berzuhud dengan melakukan hal-hal yang dapat menyelamatkannya (dari kesibukan-kesibukan dunia),

(كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ)

"Jadilah kamu di dunia laksana orang asing atau orang yang sedang melintasi jalan." Diriwayatkan oleh Bukhari dan at-Tirmidzi (Jami' Al-Ushul 1/392 no. 185). 

وَالْجِدِّيَّةُ فِي الْحَيَاةِ عَلَامَةٌ مُمَيِّزَةٌ لِلرَّاغِبِ الرَّاهِبِ

Kesungguhan dalam menjalani kehidupan adalah karakter khusus orang yang menginginkan ridha Allah dan surga-Nya, serta takut akan siksa dan neraka-Nya,

(لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا)

"Andai kalian mengetahui apa yang Aku ketahui, maka niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Shahih Bukhari, kitab Tafsir, bab 12, hadits 4621 (al-Fat-h8/280).

وَالْهِمَّةُ فِي الْعَمَلِ عَلَامَةُ صِدْقِ الِاسْتِعْدَادِ لِلْآخِرَةِ وَالْخَوْفِ مِنَ اللهِ، وَذَلِكَ مَا مَثَّلَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِقَوْلِهِ

Semangat beramal merupakan tanda kesiapan menghadapi akhirat dan tanda takut kepada Allah. Hal itulah yang di-umpamakan oleh Rasulullah ﷺ. dengan sabdanya,

(مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ)

"Barangsiapa takut maka niscaya dia berjalan di awal malam (adlaja), dan barangsiapa yang berjalan di awal malam maka niscaya ia akan sampai pada tujuannya. Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal, maka dimaksud barang dagangan Allah adalah surga, " Shahih al-Jami' no. 6222 (shahih), arti adlaja adalah berjalan di awal malam. Yang dimaksud adalah bersiap sedia pada awal setiap urusan, karena orang yang memulai perjalanan dari awal malam selayaknyalah sampai ke tempat tujuannya. (Jami' al-Ushu/4/9/hadits 1981). 

أَمَّا مَنْ كَانَ سَفَرُهُ طَوِيلًا، وَانْطِلَاقُهُ مُتَأَخِّرًا، وَحَرَكَتُهُ بَطِيئَةً، وَهِمَّتُهُ ضَعِيفَةً؛ فَلَنْ يَبْلُغَ مُرَادَهُ، وَلَنْ يَصِلَ إِلَى مَقْصُودِهِ

Adapun orang yang perjalanannya sangat panjang, tetapi dia terlambat berangkat, geraknya lambat dan semangatnya lemah niscaya dia tidak akan sampai ke tempat tujuannya.

وَمِنْ أَهَمِّ مَا يُورِثُهُ الِاهْتِمَامُ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ أَنْ يُزِيحَ اللهُ بِهِ عَنِ الْقَلْبِ بَاقِيَ الْهُمُومِ لِيَصْفُوَ الْقَلْبُ لِلَّهِ وَإِنْ كَانَ فِي بَحْرٍ مِنَ الِابْتِلَاءَاتِ

Bersikap dengan memperhatikan akhirat akan memperoleh hasil, yaitu Allah akan menghilangkan bermacam-macam tujuan dari hatinya menjadi murni untuk Allah walaupun ia berada dalam cobaan. Rasulullah ﷺ. bersabda,

قَالَ ﷺ: (مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا، هَمَّ الْمَعَادِ، كَفَاهُ اللهُ سَائِرَ هُمُومِهِ، وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ مِنْ أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ)

"Barangsiapa menjadikan banyak tujuan menjadi satu tujuan saja, yaitu tujuan kepada akhirat niscaya Allah melindunginya dari berbagai tujuannya. Barangsiapa yang tujuannya bercabang-cabang pada urusan-urusan dunia, niscaya Allah membiarkannya binasa di lembah dunia mana saja. " Shahih al-Jami' no. 6189 (hasan).

وَ (مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ؛ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ. وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ؛ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ)

"Barangsiapa akhirat menjadi tujuannya niscaya Allah memberikan kekayaan dalam hatinya, menyatukan urusannya dan dunia akan datang kepadanya dengan keadaan hina. Barangsiapa dunia menjadi tujuannya niscaya Allah menjadikan kemiskinan di hadapannya, mengacaukan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sebagian yang telah ditentukan untuknya." Shahih al-Jami' no. 6510 (shahih).

فَتِجَارَةُ الْآخِرَةِ لَا تَبُورُ، وَالتَّهَافُتُ عَلَى الدُّنْيَا لَا يُغَيِّرُ الْمَقْدُورَ

Oleh karena itu, perniagaan akhirat tidak akan merugikan, sedangkan berlomba-lomba mendapatkan dunia tidak mengubah jatah (jumlah) yang telah ditetapkan.


خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN


مِنْ أَخْلَاقِنَا فِي الرَّبَّانِيَّةِ

Di antara akhlak kita dalam ketuhanan (rabbaniyyah):

مِنْ سُنَّةِ اللهِ فِي أُمُوْرِ الدُّنْيَا أَنَّهَا تُرْفَعُ وَتُوضَعُ

Sudah menjadi sunnatullah bahwa perkara-perkara dunia diangkat dan dijatuhkan.

مِنْ هَوَانِ الدُّنْيَا عَلَى اللهِ أَنَّهُ يَهَبُهَا لِلْكَافِرِ

Dunia amat hina bagi Allah sehingga Dia memberikannya kepada orang kafir.

كُلَّمَا زَادَتِ النِّعَمُ عَظُمَتِ الْمَسْؤُوْلِيَّةُ

Semakin banyak nikmat yang diperoleh, maka semakin besar pula pertanggungjawabannya.

قَدْ تَكُوْنُ النِّعَمُ عَاجِلَ الْأَجْرِ لِصَاحِبِهَا

Terkadang nikmat-nikmat itu merupakan pahala yang disegerakan kepada seseorang.

مِنْ عَلَامَةِ طَرِيْقِ الْجَنَّةِ أَنَّهُ مَحْفُوْفٌ بِالْبَلَاءِ

Jalan ke surga dikelilingi dengan berbagai ujian.

الْمُهْتَمُّ بِآخِرَتِهِ

Orang yang memperhatikan akhirat:

يَتَعَرَّفُ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ

Mengenal Allah pada waktu senang dan susah.

سَرِيْعُ الْفَيْئَةِ إِذَا أَخْطَأَ

Segera bertobat jika berbuat kesalahan.

يُفَكِّرُ فِيْمَا يُقَرِّبُهُ إِلَى الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُهُ مِنَ النَّارِ

Selalu memikirkan hal-hal yang dapat mendekatkannya ke surga dan menjauhkannya dari neraka.

لَا يَرَى الدُّنْيَا دَارَ قَرَارٍ

Tidak menganggap dunia sebagai tempat yang kekal.

يَتَخَفَّفُ مِنَ الدُّنْيَا وَيَزْهَدُ

Berzuhud dan melepaskan beban-beban dunia.

شَدِيْدُ الْهِمَّةِ وَالْخَوْفِ مِنَ اللهِ

Sangat bersemangat dan takut kepada Allah.

يَجْعَلُ هُمُوْمَهُ هَمًّا وَاحِدًا؛ هَمَّ الْمَعَادِ

Menjadikan berbagai tujuannya menjadi satu tujuan saja, yaitu tujuan akhirat.

غَنِيُّ الْقَلْبِ

Hatinya merasa kaya (lapang dada).

 

📙📙📙📙

Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share - Semoga bermanfaat

Jumat, 19 Desember 2025

ROBBANIYAH - 05 BAB 01 - Hadzihi Akhlaquna

 

AKHLAK KITA DALAM KETUHANAN


Pertama: ROBBANIYYAH


كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ


"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-kitab."

كَمْ يَنْشَرِحُ صَدْرُكَ حِينَ تَلْقَى قُوَّةَ الْمُؤْمِنِ وَصَلَابَتَهُ وَعَزِيمَتَهُ وَجِدِّيَّتَهُ.. مَشْفُوعَةً بِسَكِينَةٍ وَإِخْبَاتٍ وَرِقَّةٍ وَصَفَاءٍ

Betapa lapang dada anda ketika bertemu dengan kekuatan, kekerasan, dan kemauan yang kuat seorang mukmin, yang diterima syafaatnya dengan ketenangan, kekhusyuan, belas kasih, dan kemurnian.

وَهُوَ مَا يَتَمَثَّلُ فِي شَخْصِيَّةِ الْمُسْلِمِ بِخُلُقِ الرَّبَّانِيَّةِ

Itulah yang tergambar dalam karakter seorang muslim yang berakhlak dengan akhlak rabbani.

وَوُصِفَ الرَّبَّانِيُّونَ فِي الْقُرْآنِ بِأَوْصَافٍ عَدِيدَةٍ تَتَكَامَلُ بِهَا صِفَاتُهُمْ

Rabbaniyyuun dalam Al-Qur'an banyak digambarkan dengan berbagai macam sifat yang dapat menyempurnakan sifat-sifat mereka.

فَقَدْ وُصِفُوا بِالثَّبَاتِ فِي الْجِهَادِ وَالصَّبْرِ عَلَى الْبَلَاءِ

Salah satunya adalah digambarkan dengan teguh dalam berjihad dan sabar dalam menghadapi cobaan. Shahih al-Bukhari, Kitab ad-Da'awat Bab 66 hadits 6408, al-Fat-h, 11/208

﴿وَكَأَيِّنْ مِنْ نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146﴾ [آل عمران : ١٤٦ ]

Sebagaimana firman Allah, 

"Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali Imran [3]: 146)


وَالرِّبِّيُّونَ بِمَعْنَى الْجَمَاعَاتِ الْكَثِيرَةِ مِنَ الْعِبَادِ وَالْعُلَمَاءِ وَالرَّبَّانِيِّينَ - جَمْعًا بَيْنَ التَّفَاسِيرِ (1)

Ribbiyun adalah jamaah besar yang terdiri dari para hamba, ulama, dan orang-orang rabbani-menurut kategori ahli tafsir. (Orang-orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah swt. atau orang yang berakhlak dengan akhlak Allah. Lihat tafsir al-Qurtubi 4/230 pada tafsir ayat 146 surah Ali Imran)

وَمِنْ عَلَامَاتِ الرَّبَّانِيِّينَ أَنَّهُمْ يَحْرِصُونَ عَلَى تَحْكِيمِ الشَّرِيعَةِ وَإِقَامَةِ الدِّينِ

Di antara tanda-tanda orang-orang rabbani, yaitu mereka selalu menjaga hukum syariat dan menegakkan agama, sesuai dengan firman Allah swt.,

﴿إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ ... ﴾ [المائدة : ٤٤ ]

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka." (al-Maa'idah [5]: 44)

وَفِي مَوْضِعٍ آخَرَ وَصَفَهُمُ اللَّهُ بِأَنَّهُمُ الْمُرَشَّحُونَ لِلْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ

Dalam surah yang lain Allah swt. menggambarkan mereka (rabbaniyun) dengan orang-orang yang dipilih untuk me. merintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar ma'ruf nahi munkar) seperti dalam firman Allah swt.,

﴿لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَن قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ....﴾ [المائدة : ٦٣]

"Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?" (al-Maa'idah [5]: 63)

وَجَعَلَ اللَّهُ الْأَمْرَ بِالِاتِّصَافِ بِالرَّبَّانِيَّةِ عَلَى لِسَانِ مَنْ يُؤْتِيهِمُ اللَّهُ الْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ

Allah memerintahkan mereka untuk bersikap dengan sifat-sifat rabbaniyyah (ketuhanan) kepada seorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian.

وَجَعَلَ اللَّهُ مِيزَةَ الرَّبَّانِيِّينَ فِي قِيَامِهِمْ بِتَعْلِيمِ كِتَابِ رَبِّهِمْ وَحِرْصِهِمْ عَلَى الِاسْتِمْرَارِ فِي التَّعَلُّمِ

Allah swt. menjadikan ciri khusus rabbaniyah dalam melaksanakan dan mengajarkan Kitab Tuhan mereka dan selalu menjaga ke-langsungan pengajarannya itu. Allah swt. berfirman,

﴿مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللَّهِ وَلَكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ﴾ [آل عمران : ٧٩]

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, 'Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah. Akan tetapi, (dia berkata), 'Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (Ali Imran [3]: 79)

فَالرَّبَّانِيُّ يَبْنِي نَفْسَهُ وَيَبْنِي غَيْرَهُ، يَعْمَلُ بِمَا عَلِمَ وَيُعَلِّمُ مَا تَعَلَّمَ

Jadi, arRabbani membangun dirinya dan yang lain, meng-amalkan apa yang telah ia pelajari serta mengajarkan apa yang ia ketahui.

وَقَدْ حَوَتْ كُتُبُ التَّفْسِيرِ وَالسُّنَّةِ كَثِيرًا مِنَ الصِّفَاتِ الْمُمَيِّزَةِ لِلرَّجُلِ الرَّبَّانِيِّ، فَفِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ وَعِنْدَ تَرْجَمَةِ (بَابُ الْعِلْمِ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ)

Kitab-kitab tafsir dan hadits telah membuat kategori sifat-sifat istimewa dari orang-orang rabbani. Dalam shahih Bukhari dalam sebuah uraian (bab ilmu sebelum berkata dan berbuat),

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : كُونُوا رَبَّانِيِّينَ : حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ وَيُقَالُ : الرَّبَّانِيُّ الَّذِي يُرَبِّي النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ (1)

Ibnu Abbas berkata, "Jadilah kalian orang-orang rabbani, yaitu orang-orang yang murah hati, ahli ilmu, dikatakan: ar-Rabbani adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu yang kecil (ringan) sebelum mempelajari ilmu yang besar (berat). " Shahih al-Bukhari, kitab al-ilmu, uraian dari bab 10.

يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ : وَالْمُرَادُ بِصِغَارِ الْعِلْمِ مَا وَضَحَ مِنْ مَسَائِلِهِ، وَبِكِبَارِهِ مَا دَقَّ مِنْهَا

Ibnu Hajar berkata, "Maksud dari ilmu yang kecil adalah ilmu yang permasalahannya jelas, sedangkan ilmu yang besar adalah permasalahannya lebih mendalam dan luas.

وَقِيلَ : يُعَلِّمُهُمْ جُزْئِيَّاتِهِ قَبْلَ كُلِّيَّاتِهِ، أَوْ فُرُوعَهُ قَبْلَ أُصُولِهِ، أَوْ مُقَدِّمَاتِهِ قَبْلَ مَقَاصِدِهِ.. (2)

Dan dikatakan, "Ia (rabbani) yang mengajarkan manusia bagian dari ilmu sebelum keseluruhannya, atau cabang-cabangnya sebelum pokok-pokoknya, atau juga pendahuluannya sebelum pembahasan intinya. " Fat-hu al-Baari, 1/162 dalam syarah bab 10 dari kitab al-ilmu.

فَالرَّبَّانِيُّ صَاحِبُ حِكْمَةٍ وَصَاحِبُ فِقْهٍ

Ar-Rabbani berarti orang yang mempunyai hikmah dan orang alim.

وَمِنْ حِكْمَتِهِ أَنَّهُ يَتَدَرَّجُ بِالْمَدْعُوِّينَ وَيُيَسِّرُ عَلَيْهِمْ عَلَى عِلْمٍ وَبَصِيرَةٍ وَحُسْنِ عَمَلٍ

Dan di antara hikmah-hikmahnya adalah bahwa ia membimbing orang-orang yang ia beri dakwah dan memberikan kemudahan pada mereka tentang ilmu, bashirah (kebijaksanaan) dan perbuatan yang baik.

يَنْقُلُ ابْنُ حَجَرٍ عَنِ ابْنِ الْأَعْرَابِيِّ قَوْلَهُ : "لَا يُقَالُ لِلْعَالِمِ رَبَّانِيٌّ حَتَّى يَكُونَ عَالِمًا مُعَلِّمًا عَامِلًا " (3)

Ibnu Hajar menukil dari perkataan Ibnu Arabi, "Tidak dikatakan orang alim sehingga la menjadi alim, mualim, dan amil (ahli ilmu, yang mengajarkan ilmu, serta mengamalkan ilmunya), "

Fat-hu al-Baari, 1/162 dalam syarah bab 10 dari kitab al-ilmu.


وَأَسَاسُ الرَّبَّانِيَّةِ الْإِخْلَاصُ فِي ابْتِغَاءِ رِضَى الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ الْأَصْمَعِيُّ وَالْإِسْمَاعِيلِيُّ : ( الرَّبَّانِيُّ نِسْبَةٌ إِلَى الرَّبِّ أَيِ الَّذِي يَقْصِدُ مَا أَمَرَهُ الرَّبُّ بِقَصْدِهِ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ ) (1)

Dasar utama dari rabbaniyah adalah ikhlas dalam mengharap ridha Allah swt. Al-Ashma'i dan Isma'ili berkata, "Ar-rabbani adalah penisbatan (menyandarkan) pada ar-rabb, maksudnya sesuatu yang diperintahkan oleh ar-Rabb untuk dilaksanakan, yaitu ilmu dan amal." Fat-hu al-Baari, 1/161 dalam syarah bab 10 dari kitab al-ilmu.

وَقِيلَ إِنَّهُ مَنْسُوبٌ إِلَى التَّرْبِيَةِ وَالتَّرْبِيَةُ أَبْرَزُ مَا فِي حَالِ الرَّبَّانِيِّ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي وَصْفِ الرَّبَّانِيِّينَ قَوْلُهُ : "هُمُ الَّذِينَ يَغْذُونَ النَّاسَ بِالْحِكْمَةِ وَيُرَبُّونَهُمْ عَلَيْهَا " (2)

Dan ada yang berpendapat bahwa ar-rabbani disandarkan pada at-tarbiyah, dan tarbiyah merupakan hal terpenting bagi seorang rabbani. Diriwayatkan dari Ali r.a. berkaitan dengan sifat orang-orang rabbani, ia berkata, "Yaitu orang-orang yang mengasuh dan mendidik dengan penuh hikmah (kebijaksanaan)." Zaad al-Masir fi Ilmi at-tafsir, 1/413 pada tafsir ayat 79 dari surah Ali Imran.

كَمَا قِيلَ إِنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنْ قَوْلِهِمْ : رَبَّهُ يَرُبُّهُ فَهُوَ رَبَّانٌ إِذَا دَبَّرَهُ وَأَصْلَحَهُ. فَمَعْنَاهُ عَلَى هَذَا يُدَبِّرُونَ أُمُورَ النَّاسِ وَيُصْلِحُونَهَا " .(3)

Sebagaimana halnya kata ar-rabbani itu merupakan derivasi dari kata rabbahu-yarubbuhu fahuwa rabbaan yang berarti dabbarahu (mengurusnya) dan ashlihuhu (menjadikan baik). "Berdasarkan hal tersebut, maka maknanya ialah orang rabbani adalah mereka yang mengurus manusia dan membuatnya baik." Tafsir al-Qurtubi 4/122 pada tafsir ayat ke 79 dari surah Ali Imran.

وَفِي تَفْسِيرِ ابْنِ مَسْعُودٍ لِقَوْلِهِ تَعَالَى

Disebutkan dalam tafsir Ibnu Mas'ud berkenaan dengan firman Allah swt., "Akan tetapi (dia berkata),

. وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ

'Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani."

قَالَ : حُكَمَاءُ عُلَمَاءُ

Ibnu Mas'ud berkata, "Para ahli hikmah dan para ahli ilmu."

وَيَقُولُ ابْنُ جُبَيْرٍ : حُكَمَاءُ أَتْقِيَاءُ

Ibnu hajar berkata, "Para ahli hikmah dan orang yang bertakwa."

وَمِنَ اللَّفْتَاتِ الطَّرِيفَةِ فِي وَصْفِ الرَّبَّانِيِّ أَنَّهُ الَّذِي يَجْمَعُ إِلَى الْعِلْمِ الْبَصَرَ بِالسِّيَاسَةِ " (4)

Di antara hal yang menyimpang dari gambaran (sifat) rabbani, yaitu yang menggabungkan antara ilmu kepandaian dan strategi. Tafsir Al-Qurtubi 4/122.

وَهِيَ إِشَارَةٌ طَرِيفَةٌ تَنْفِي التَّصَوُّرَ الْمُتَفَشِّي عَنِ الْعَالِمِ الرَّبَّانِيِّ بِأَنَّهُ بَعِيدٌ عَنْ عَصْرِهِ، مُغَفَّلٌ فِي قَضَايَا الْحُكْمِ وَالسِّيَاسَةِ

Yakni, isyarat yang jarang tersebut menghilangkan gambaran yang lazim berlaku bagi orang alim yang rabbani bahwa ia jauh dari zamannya dan melenceng dari tatanan hukum dan siasat.

وَقَدْ أَكَّدَ هَذِهِ الْمِيزَةَ فِي الرَّبَّانِيِّ أَبُو عُبَيْدَةَ بِقَوْلِهِ

Ciri khusus tentang rabbani ini dikuatkan oleh Abu Ubaidah. Ia berkata,

"سَمِعْتُ عَالِمًا يَقُولُ : الرَّبَّانِيُّ الْعَالِمُ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ وَالْأَمْرِ وَالنَّهْيِ، الْعَارِفُ بِأَنْبَاءِ الْأُمَّةِ وَمَا كَانَ وَمَا يَكُونُ " (5)

"Aku mendengar orang alim berkata, 'Ar-rabbani adalah orang yang mengetahui halal dan haram, serta perintah dan larangan. Orang yang mengetahui nabi-nabi umat dan apa yang telah terjadi dan akan terjadi." Tafsir Al-Qurtubi 4/122.

فَهُوَ مُدْرِكٌ لِتَارِيخِ الْأُمَّةِ مُبْصِرٌ لِسُنَنِ اللَّهِ فِي خَلْقِهِ بَصَرًا يُتِيحُ لَهُ أَنْ يَتَوَقَّعَ مَا يَكُونُ حِينَ تَتَوَفَّرُ أَسْبَابُ مُضَاءِ السُّنَّةِ الْكَوْنِيَّةِ وَالاجْتِمَاعِيَّةِ

Hal itu dapat diketahui dari sejarah umat, dan diketahui melalui berbagai sunnatullah (hukum dan ketetapan Allah) dalam ciptaan-Nya, memberikan kesempatan padanya untuk menunggu beberapa penyebab berlalunya hukum alam dan sosial.

وَيَتَمَيَّزُ (الرَّبَّانِيُّ) بِأَنَّهُ الْكَامِلُ فِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ الشَّدِيدِ التَّمَسُّكِ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَدِينِهِ (1)

Ar-rabbani menjadi istimewa dengan kesempurnaan ilmu dan amal, berpegang teguh pada ketaatan kepada Allah swt. dan agama-Nya. Tafsir Abi as-Su'ud 1/379.

أَمَّا حِينَ يَغْفَلُ الْعُلَمَاءُ عَنْ مُجْتَمَعَاتِهِمْ أَوْ يَسْكُتُونَ عَمَّا يَجْرِي فِيهَا وَيَتَسَاهَلُونَ فَتِلْكَ ظَاهِرَةُ الْفَنَاءِ

Adapun pada saat ulama melalaikan masyarakatnya atau mereka diam tentang apa yang terjadi pada mereka dan menganggap remeh, maka hal tersebut merupakan fenomena kehancuran,

كَمَا يَقُولُ سَيِّدُ قُطْبٍ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تَعَالَى

sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyid Qutub rahimahullah dalam menafsirkan firman Allah swt.,

﴿لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ ...﴾ [المائدة : ٦٣ ]

"Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka..." (al-Maa'idah [5]: 63)

يَقُولُ : "فَهَذِهِ السِّمَةُ سِمَةُ سُكُوتِ الْقَائِمِينَ عَلَى أَمْرِ الشَّرِيعَةِ وَالْعِلْمِ الدِّينِيِّ عَمَّا يَقَعُ فِي الْمُجْتَمَعِ مِنْ إِثْمٍ وَعُدْوَانٍ هِيَ سِمَةُ الْمُجْتَمَعَاتِ الَّتِي فَسَدَتْ وَآذَنَتْ بِالِانْهِيَارِ " (2)

Beliau berkata, "Maka ini merupakan sebuah kepribadian-watak bersikap diam terhadap perkara syariat dan ilmu keagamaan dari sesuatu yang terjadi di masyarakat seperti perbuatan dosa dan permusuhan, yaitu pribadi masyarakat yang rusak dan di ambang kelemahan." Fi Fi Dzilali al-Quran 2/928 dalam menjelaskan ayat 63 dari surah al-Maa'idah.

وَيَتَمَيَّزُ سَيِّدُ قُطْبٍ رَحِمَهُ اللَّهُ غَيْظًا مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ الَّذِينَ انْزَلَقُوا إِلَى مَا وَقَعَ فِيهِ عُلَمَاءُ أَهْلِ الْكِتَابِ حَيْثُ يَقُولُ

Sayyid Qutub menentang ulama dari kaum muslimin yang terjerumus pada apa yang terjadi pada ulama ahli kitab saat ia berkata,

"وَمِثْلُ هَذَا الْفَرِيقِ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَرِيقٌ مِمَّنْ يَدَّعُونَ الْإِسْلَامَ وَيَدَّعُونَ الْعِلْمَ بِالدِّينِ.. وَهُمْ أَوْلَى بِأَنْ يُوَجَّهَ إِلَيْهِمْ

"Perumpamaan golongan orang ahli kitab seperti golongan yang melakukan propaganda Islam dan ilmu dengan agama, dan mereka berhak untuk menghadapkan Qur'an ini daripada mereka

 هَذَا الْقُرْآنُ الْيَوْمَ، وَهُمْ يَلْوُونَ النُّصُوصَ الْقُرْآنِيَّةَ لَيًّا لِإِقَامَةِ أَرْبَابٍ مِنْ دُونِ اللَّهِ فِي شَتَّى الصُّوَرِ

Mereka melunakkan (membelokkan) ayat Qur'an untuk meng-adakan tuhan-tuhan selain Allah dalam berbagai bentuk.

وَهُمْ يَتَصَيَّدُونَ مِنَ النُّصُوصِ مَا يَلْوُونَهُ لِتَمْوِيهِ هَذِهِ الْمُفْتَرَيَاتِ ..... وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

Mereka memburu nash-nash yang mereka belokkan untuk menyembunyikan kebohongan ini. Allah berfirman,

﴿وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾ [آل عمران : ٧٨] (3)

"Dan mereka mengatakan, 'Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui." (Ali Imran [3]: 78)515

فَلَا جِهَادَ بِلَا رَبَّانِيَّةَ، وَلَا رَبَّانِيَّةَ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَعَمَلٍ وَحِكْمَةٍ وَإِخْلَاصٍ وَصَبْرٍ وَتَرْبِيَةٍ وَبَصِيرَةٍ

Dengan demikian, tidak ada mujahid tanpa rabbaniyah, tidak ada rabbaniyah tanpa ilmu, amal, hikmah, ikhlas, sabar, tarbiyah, dan bashirah

وَالَّذِينَ يَتَبَوَّؤُونَ مَرَاكِزَ التَّوْجِيهِ وَيَتَصَدَّرُونَ سَاحَاتِ الْجِهَادِ

Dan orang-orang yang menempatkan posisinya sebagai pusat kontrol dan sumber medan jihad,

لَا بُدَّ أَنْ يَأْخُذُوا أَنْفُسَهُمْ بِالْعَزِيمَةِ لِيُحْسِنُوا أَدَاءَ دَوْرِهِمُ الْقُدْوَةَ

maka mereka harus mempunyai kemauan yang kuat untuk memperbagus dalam menunaikan perannya sebagai "teladan"

وَلِيَسْتَحِقُّوا مِنَ اللَّهِ تَبَوُّأَ "الْعِلِّيِّينَ" وَ "مَقْعَدِ صِدْقٍ" فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ 

dan untuk mewujudkan posisi "illiyyin" dari Allah swt. dan "kursi kejujuran" di alam akhirat,

وَلِيَنَالُوا وِسَامَ (الرَّبَّانِيَّةِ) بِمَا يَتَعَلَّمُونَهُ وَيُعَلِّمُونَهُ

agar mereka memperoleh medali "ar-rabbaniyah" dengan apa yang mereka pelajari dan mereka ajarkan.

خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN

مِنْ صِفَاتِ الرَّبَّانِيَّةِ

Di antara sifat-sifat Ar-rabbaniyah adalah sebagai berikut.

الثَّبَاتُ فِي الْجِهَادِ وَالصَّبْرُ عَلَى الْبَلَاءِ

Teguh dalam berjihad dan sabar dalam menghadapi cobaan.

تَحْكِيمُ الشَّرِيعَةِ وَإِقَامَةُ الدِّينِ

Menegakkan hukum syariat dan agama.

تَعَلُّمُ الْكِتَابِ وَتَعْلِيمُهُ

Pelajarilah Al-Qur'an dan mengajarkannya.

تَعْلِيمُ صِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

Mengajarkan ilmu ringan sebelum yang berat.

الْإِخْلَاصُ وَالْحِكْمَةُ

Ikhlas dan hikmah.

الْعِلْمُ مَعَ الْبَصَرِ بِالسِّيَاسَةِ

Ilmu disertai kepandaian dan strategi.

الْكَمَالُ فِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ

Kesempurnaan ilmu dan amal.

تَفْسُدُ الْمُجْتَمَعَاتُ حِينَ لَا يَقُومُ الرَّبَّانِيُّونَ بِدَوْرِهِمْ

Kerusakan masyarakat ketika orang-orang rabbani tidak melaksanakan sesuai dengan perannya.

إِذَا لَمْ يَتَمَيَّزِ الْعُلَمَاءُ بِالرَّبَّانِيَّةِ لَمْ يُؤْمَنْ عَلَيْهِمْ مِنْ لَيِّ النُّصُوصِ

Jika ulama tidak bertamayyuz (bersikap) dengan ar-rabbaniyyah maka orang yang membelokkan ayat tidak akan mem-percayainya.


📙📙📙📙📙

Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share

Semoga bermanfaat

 

Minggu, 23 November 2025

Memilih orang kepercayaan 04 Bab 05 Hadzihi Akhlaquna


AKHLAK KITA DALAM KEPEMIMPINAN

​اِصْطِفَاءُ الْبِطَانَةِ

Kelima: Memilih Orang-orang Kepercayaan


اَللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا

"Ya Allah, mudahkanlah bagiku bergaul dengan orang-orang, shaleh."


​سَوَاءٌ أَكُنْتَ رَئِيسًا أَمْ مَرْؤُوسًا، مَأْمُورًا أَمْ آمِرًا

Baik saat Anda menjadi seorang pemimpin maupun bawahan, orang yang diperintah maupun memerintah,

فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ لَكَ أَصْحَابٌ تُقَرِّبُهُمْ إِلَيْكَ

hendaklah Anda memiliki sahabat yang dapat mendekatkan Anda pada Allah swt.

وَتَسْتَأْنِسُ بِهِمْ وَتُشَاوِرُهُمْ فِي كَثِيرٍ مِنْ أُمُورِكَ

Bersikap lembutlah pada mereka, bermusyawarahlah dengan mereka dalam berbagai permasalahanmu,

وَهَؤُلَاءِ هُمْ بِطَانَتُكَ، وَقَدْ غَلَبَ اسْتِعْمَالُ

karena mereka adalah sahabat karibmu... (orang-orang kepercayaanmu (orang terdekatmu/pendamping setiamu), dan sungguh telah lazim/banyak digunakan istilah ini)"

لَفْظِ (اَلْبِطَانَةِ) مَعَ الْأُمَرَاءِ

 Kata "bithanah" banyak dipakai untuk para pemimpin.

وَقَدْ فَسَّرَ اِبْنُ حَجَرٍ اَلْبِطَانَةَ: بِـاَلدُّخَلَاءِ، جَمْعُ دَخِيلٍ

Ibnu Hajar menafsirkan "bithanah" dengan "ad-Dukhala" Para pendobrak, bentuk plural dari "ad-Dakhil".

(وَهُوَ الَّذِي يَدْخُلُ عَلَى الرَّئِيسِ فِي مَكَانِ خَلْوَتِهِ، يُفْضِي إِلَيْهِ بِسِرِّهِ

Yaitu, yang masuk menemui pemimpin pada tempat khalwat, kemudian menyebarkan rahasianya,

وَيُصَدِّقُهُ فِيمَا يُخْبِرُهُ بِهِ مِمَّا يَخْفَى عَلَيْهِ مِنْ أَمْرِ رَعِيَّتِهِ، وَيَعْمَلُ بِمُقْتَضَاهُ) (١)

kemudian mempercayainya akan apa-apa yang dikabarkannya dari sesuatu yang disembunyikan akan hal ihwal rakyatnya, kemudian bekerja sesuai dengan kebutuhan. Thabaqat Ibnu Sa'ad, 3/224, Sunan al-Baihaqi, 8/173.

​كَثِيرًا مَا نَرَى مِنْ أَهْلِ الصَّلَاحِ مَنْ يَزِلُّ زَلَّاتٍ

Sebagaimana yang telah kita lihat dari kaum pembaharu yang menghilangkan segala gangguan,

إِنَّمَا اسْتَدْرَجَتْهُ إِلَيْهَا بِطَانَةٌ فَاسِدَةٌ

hal itu terjadi karena perbuatan yang dilakukan oleh "tangari kanan yang jahat,"

زَيَّنَتْ لَهُ الْبَاطِلَ، وَحَجَبَتِ الْحَقَّ عَنْ عَيْنَيْهِ

yang menghiasi pada penguasa akan hal batil dengan sesuatu yang baik, kemudian menutupi kebenaran dari kedua pandangannya.

وَمَسْؤُولِيَّةُ أَحَدِنَا تَبْدَأُ مِنْ حُسْنِ الْاِخْتِيَارِ لِلْأَصْحَابِ

Tanggung jawab setiap diri kita diawali dengan bagaimana kita dalam memilih sahabat,

فَالصَّاحِبُ دَلِيلٌ عَلَى صَاحِبِهِ

karena seorang kawan adalah petunjuk bagi kawannya.

إِذْ أَنَّ النُّفُوسَ الْمُتَمَاثِلَةَ تَتَجَاذَبُ فِيمَا بَيْنَهَا

Dan, karena jiwa-jiwa saling berkaitan satu sama lain,

كَمَا بَيَّنَ رَسُولُ اللَّهِ بِقَوْلِهِ

sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah ﷺ dengan sabdanya,

(اَلْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ)

"Seseorang itu bergantung pada agama sahabatnya. Hendaklah setiap kalian melihat kepada siapa ia bersahabat." Fat-hu al-Baari, 13/190-Kitab al-Ahkam, Bab 42.

لِأَنَّ أَيَّةَ صُحْبَةٍ لَا تَخْلُو مِنْ تَأْثِيرٍ وَتَأَثُّرٍ

Segala bentuk persahabatan takkan lepas dari dampak yang akan ditimbulkannya.

وَقَدْ كَانَ سَلَفُ الْأُمَّةِ يَحْرِصُونَ عَلَى الْأُنْسِ بِالْجَلِيسِ الصَّالِحِ

Adalah umat terdahulu yang sangat teliti dalam memilih orang yang akan diajak bergaul dari kalangan orang saleh,

وَالصَّاحِبِ التَّقِيِّ الَّذِي يُعِينُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُزِيلُ وَحْشَةَ الْغُرْبَةِ

sahabat yang bertakwa, yang menolong dalam melakukan kebaikan, dan menghilangkan pedihnya keterasingan.

 وَقَدْ وَرَدَ عَنْ عَلْقَمَةَ أَنَّهُ حِينَ قَدِمَ الشَّامَ غَرِيبًا دَعَا

Telah diriwayatkan dari al-Qamah bahwa saat ia tiba di Syam dengan rasa terasing, ia berujar,

(اَللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا)

"Ya Allah, mudahkanlah aku untuk berjumpa dengan orang-orang saleh." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, isnadnya hasan, Jami al-Ushul, 6/667, hadits 4967.

لِأَنَّ الْجَلِيسَ الصَّالِحَ يُذَكِّرُكَ إِذَا غَفَلْتَ، وَيُعِينُكَ إِذَا تَذَكَّرْتَ

Kawan yang baik akan mengingatkanmu bila engkau lalai, dan akan menolongmu saat engkau ingat.

​وَرَسُولُ اللَّهِ بَيَّنَ أَنَّهُ مَا مِنْ نَبِيٍّ وَلَا خَلِيفَةٍ، إِلَّا وَيَقَعُ بَيْنَ دَوَاعِي بِطَانَتَيْنِ

Rasulullah ﷺ menerangkan bahwa tidak ada seorang Nabi pun ataupun khalifah, kecuali ia akan mempunyai dua orang kepercayaan,

(مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ

"Allah swt. tidak akan mengutus seorang Nabi ataupun khalifah kecuali mereka memiliki dua orang kepercayaan: 

بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ) (١)

orang kepercayaan yang memerintahkannya pada kebaikan dan orang kepercayaan yang memerintahkannya pada kejahatan." Shahih Bukhari Kitab Keutamaan Sahabat, Bab 20, hadits 3743, al-Fat-h7/91

وَفِي رِوَايَةٍ (وَبِطَانَةٌ لَا تَأْلُوهُ خَبَالًا) (٢)

Dalam riwayat lain "Orang kepercayaan yang suka berbuat kerusakan." Shahih Bukhari, Kitab al-Ahkam Bab 42, hadits 7198, al-Fat-h, 13/189. 

وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَحْتَاطَ لِأَمْرِ دِينِكَ

Bila engkau hendak membentengi agamamu,

فَمِنَ الْبِدَايَةِ خُذْ بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ لَهُ بِاِخْتِيَارِ صَالِحِي الْمُؤْمِنِينَ لِبِطَانَتِكَ

maka yáng pertama engkau lakukan adalah hendaknya engkau mengambil wasiat Rasulullah ﷺ dengan memilih orang-orang saleh dari kalangan mukminin sebagai orang-orang kepercayaanmu.

(لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا)

Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah bergaul kecuali dengan orang beriman." Musnad Ahmad 2/237, telah dishahihkan oleh Ahmad Syakir dengan isnadnya (7238).

ثُمَّ لَاحِظْ مَا تَرَاهُ: مِنْ حِرْصِ أَخِيكَ عَلَى جَلْبِ الْخَيْرِ إِلَيْكَ

Kemudian perhatikanlah apa yang diperbuat saudaramu dalam menganjurkan kebaikan kepadamu,

وَعَلَى اِتِّقَاءِ مَسَاءَتِكَ، فَإِنَّ أَفْضَلَهُمْ صُحْبَةً

dan takut akan kejahatanmu. Sesungguhnya, yang terbaik untuk dijadikan sahabat-

كَمَا فِي الْحَدِيثِ أَكْثَرُهُمْ حِرْصًا عَلَى جَلْبِ الْخَيْرِ إِلَيْكَ

sebagaimana yang dikatakan oleh hadits-adalah mereka yang sangat menganjurkan kebaikan pada dirimu.

(خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ)

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah mereka yang baik terhadap sahabatnya." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan isnadnya hasan, Jami al-Ushul, 6/666 hadits 4966.

​وَأَوْلَى النَّاسِ بِالتَّقْرِيبِ، هُمْ أَهْلُ الْعِلْمِ وَالصَّلَاحِ

Manusia yang paling utama untuk didekati adalah yang memiliki ilmu dan kebaikan.

وَلِذَلِكَ فَقَدْ كَانَتْ بِطَانَةُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنَ الْقُرَّاءِ

Oleh karena itu, orang-orang kepercayaan Umar bin Khaththab terdiri dari para Qari'.

رَوَى اِبْنُ عَبَّاسٍ أَنَّهُ: (كَانَ الْقُرَّاءُ أَصْحَابَ مَجَالِسِ عُمَرَ وَمُشَاوَرَتِهِ - كُهُولًا كَانُوا أَوْ شُبَّانًا) (٥)

Ibnu Abbas meriwayatkan, "Para Qari menjadi teman musyawarah Umar bin Khaththab r.a., baik yang tua maupun yang muda" Shahih Sunan Turmidzi, karya al-Bani 2/184, al-Hadits 1586 (shahih). 

وَكُلَّمَا كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالتَّقْوَى كُنْتَ أَبْعَدَ عَنِ الزَّلَلِ - بِإِذْنِ اللَّهِ

Selama mereka memiliki ilmu dan ketakwaan, mereka jauh dari kesesatan dengan izin Allah swt.

وَقَدْ تَوَّجَ الْبُخَارِيُّ أَحَدَ أَبْوَابِ صَحِيحِهِ بِقَوْلِهِ

Imam Bukhari menuliskan pada salah satu bab dalam kitab Shahihnya dengan ucapannya,

(وَكَانَتِ الْأَئِمَّةُ بَعْدَ النَّبِيِّ يَسْتَشِيرُونَ الْأُمَنَاءَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ..)

"Adalah para penguasa setelah Nabi Muhammad ﷺ bermusyawarah dengan orang-orang tepercaya dari para ulama." Shahih Bukhari Kitab at-Tafsir, Bab 5, hadits 4642, al-Fat-h 8/304.

وَفِي فَاتِحَةِ بَابٍ آخَرَ يَنْقُلُ عَنْ عَلِيٍّ وَشُرَيْحٍ قَوْلَهُمَا فِي الْمَرْأَةِ الَّتِي تَدَّعِي أَنَّهَا حَاضَتْ فِي شَهْرٍ ثَلَاثًا

Pada pembukaan bab lain dinukil dari Ali dan Syuraih, perkataan keduanya tentang wanita yang mengatakan bahwa dirinya haid selama tiga hari tiap bulan,

(إِنْ جَاءَتْ بِبَيِّنَةٍ مِنْ بِطَانَةِ أَهْلِهَا - مِمَّنْ يُرْضَى صَدَقَتْ)

"Bila ada keterangan dari keluarganya yang tepercaya-yang agamanya dapat dipercaya-maka ia dapat dipercaya." Shahih Bukhari Kitab al-Ithisham, dari terjemah bab 28, al-Fat-h, 13/239.

فَالْمِقْيَاسُ صَلَاحُ دِينِ الرَّجُلِ

Yang dijadikan ukuran adalah tingkat keberagamaan seseorang,

وَلَيْسَتْ مَعَايِيرَ الطِّينِ وَالْمَادَّةِ

dan bukannya berdasarkan pada standar pernampilanı, materiil,

وَالذَّوَبَانِ فِي شَخْصِيَّةِ الصَّاحِبِ

ataupun bersifat instan yang berada pada diri seseorang.

​وَإِنَّ كِتْمَانَ الْعُيُوبِ عَنِ الصَّاحِبِ خِيَانَةٌ

Sesungguhnya, menyembunyikan aib pada diri seorang sahabat adalah suatu pengkhianatan,

وَالْكَيْدَ لِوَقِيعَةِ مَنِ اِصْطَفَاكَ لِبِطَانَتِهِ جَرِيمَةٌ

kemudian mengabaikan kebajikannya adalah suatu kejahatan. 

وَرَسُولُنَا اللَّهِ اِسْتَعَاذَ مِنْ ذَلِكَ

Rasulullah ﷺ berlindung dari hal tersebut dengan doanya,

(.. وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ)

"Saya berlindung kepada-Mu dari sifat khianat karena hal itu seburuk-buruknya orang kepercayaan." Shahih Bukhari Kitab al-Haid, dari terjemahan bab 24, al-Fat-h, 1/424.

وَحِينَ سَأَلَ اِبْنُ مَسْعُودٍ عَنْ أَيَّامِ الْهَرْجِ مَتَى تَكُونُ؟

Saat Ibnu Mas'ud bertanya tentang hari-hari yang mem-bingungkan, kapankah akan terjadi?

أَجَابَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِأَبْرَزِ فِتَنِ هَذِهِ الْأَيَّامِ. فَقَالَ

Rasulullah ﷺ menjawab dengan menjelaskan fitnah terbesar yang terjadi pada hari-hari tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda,

(حِينَ لَا يَأْمَنُ الرَّجُلُ جَلِيسَهُ)

"Saat seseorang tidak percaya lagi pada teman dekatnya." HR Abu Dawud dan an-Nasa'i, Jami al-Ushul 4/357, hadits 2389.

فَهَذَا أَمْرٌ يَحْتَاجُ إِلَى التَّحَرِّي وَالْاِصْطِفَاءِ الْبَعِيدِ عَنِ الْهَوَى؛

Hal ini amat membutuhkan ketelitian dan menjauhkan diri dari hawa nafsu,

حَتَّى يَجِدَ الْمَرْءُ مَنْ يَأْمَنُهُ

sehingga seseorang mendapati orang yang dapat dipercayai,

وَمَنْ يَطْمَئِنُّ لِصُحْبَتِهِ

kemudian bersikap tenteram bersama sahabatnya.

​وَمِنْ مَزَايَا الْبِطَانَةِ - إِذَا صَلَحَتْ أَنَّهَا تَحُولُ دُونَ شَرٍّ كَبِيرٍ

Di antara keistimewaan orang kepercayaan apabila ia baik-dia akan membawa pada suatu kebaikan tanpa dampak yang besar.

وَتَحُضُّ عَلَى خَيْرٍ كَثِيرٍ

Juga akan memberikan pada kebaikan yang banyak.

وَمِنْ خُطُورَةِ الْبِطَانَةِ - إِذَا فَسَدَتْ أَنَّهَا قَدْ تُحَسِّنُ الْقَبِيحَ

Di antara bahayanya orang kepercayaan-bila ia jahat-ia akan membaguskan hal yang buruk,

أَوْ تُقَبِّحُ الْحَسَنَ بِالْوَسْوَسَةِ وَالتَّظَاهُرِ بِالْإِخْلَاصِ

ataupun memburukkan yang baik; dengan menimbulkan keresahan dan menampakkan dirinya seolah-olah dia adalah seorang yang ikhlas.

وَقَدْ وَصَفَ أَشْهَبُ بِطَانَةَ الْحَاكِمِ بِقَوْلِهِ

Asyhab, orang kepercayaan al-Hakim al-Ma'mun, berkata,

(وَلْيَكُنْ ثِقَةً مَأْمُونًا فَطِنًا عَاقِلًا

"Hendaklah yang menjadi orang kepercayaan Ma'muri adalah seorang yang berakal,

لِأَنَّ الْمُصِيبَةَ إِنَّمَا تَدْخُلُ عَلَى الْحَاكِمِ الْمَأْمُونِ مِنْ قَبُولِهِ قَوْلَ مَنْ لَا يُوثَقُ بِهِ

karena suatu musibah terjadi pada diri Ma'mun karena ia menerima perkataan orang yang tak dapat dipercaya.

إِذَا كَانَ هُوَ حَسَنَ الظَّنِّ بِهِ فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَثَبَّتَ فِي مِثْلِ ذَلِكَ) (٤)

Bilamana ia (khalifah) berbaik sangka padanya, hendaknya ia bersikap waspada dalam hal tersebut." Musnad Ahmad, 1/448 dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Syarh al-Musnad, 6/143 nomor 4286.


​وَقَدْ رَأَيْنَا فِي وَاقِعِنَا أُنَاسًا خَاصَمُوا وَفَجَرُوا وَقَاطَعُوا وَهَجَرُوا

Kita telah melihat dalam realitas kehidupan ini, orang-orang yang bermusuhan kemudian bertengkar lalu memutuskan tali silaturahmi kemudian berhijrah

بِتَحْرِيضِ بِطَانَةٍ حَرَّكَتِ الْغَضَبَ لِلذَّاتِ

karena provokasi yang dilakukan oleh orang-orang yang menyukai kebencian.

وَأَبْدَتِ الْحِرْصَ عَلَى صَاحِبِهَا، وَالْهِيَامَ فِيهِ

Pertama, ia meniupkan api permusuhan tersebut pada kawannya, kemudian mengacaukannya,

أَكْثَرَ مِنْ عَصَبِيَّتِهِ لِنَفْسِهِ

melebihi kecintaan pada dirinya sendiri, 

فَاسْتَعْظَمَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ، وَهَوَى فِي شِبَاكِ وَسَاوِسِ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ

sehingga ia merasa dirinya, besar, membuatnya was-was dengan gangguan setan manusia,

فَعَادَى النَّاسَ وَشَاتَمَهُمْ مَعَ مَا يُعْرَفُ مِنْ صَلَاحِهِ الشَّخْصِيِّ

hingga manusia akhirnya memusuhi mereka. Setelah itu, mencacinya sekalipun mereka mengetahui kebaikan pribadinya.

​فَالْجَلِيسُ الصَّالِحُ كَحَامِلِ الْمِسْكِ

Sahabat yang baik adalah seperti penjual parfum.

وَقَدْ تَكُونُ الرِّيحُ الطَّيِّبَةُ الَّتِي تَجِدُهَا مِنْهُ كَلِمَةَ حَقٍّ صَرِيحَةٍ

Bau harum semerbak didapatkannya dari kata-kata kebenaran yang meluncur dari mulutnya.

فَيَجِبُ أَنْ تَلْقَى مِنْكَ تَجَاوُبًا وَتَقْدِيرًا لِأَنَّ مَبْعَثَهَا الْإِخْلَاصُ لِلْحَقِّ

Karena itu, engkau harus memberinya jawaban dan penghargaan, karena hal tersebut muncul dari keikhlasan pada kebenaran.

وَمِنْ شَوَاهِدِ ذَلِكَ أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ حَدَّثَ بِحَدِيثٍ اِسْتَنْكَرَهُ مُعَاوِيَةُ؛

Di antara yang dapat dijadikan bukti akan hal itu adalah Ubadah bin Shamit berbicara tentang suatu pembicaraan yang kemudian diingkari oleh Mu'awiyah,

لِأَنَّهُ لَمْ يَسْمَعْهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ عُبَادَةُ

karena ia belum men-dengarnya dari Rasulullah ﷺ Maka, Ubadah berkata, 

(لَنُحَدِّثَنَّ بِمَا سَمِعْنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَإِنْ كَرِهَ مُعَاوِيَةُ)

"Kami akan mengatakan apa yang kami dengar dari Rasulullah ﷺ sekalipun tak disukai oleh Mu'awiyah." Fat-hu al-Baari, 13/190-Kitab al-Ahkam dari Syarh, Bab 42.

​وَمِنْ ثَمَرَاتِ الْبِطَانَةِ الصَّالِحَةِ

Di antara keuntungan dari memiliki sahabat yang baik adalah

الْمَشُورَةُ بِالرُّشْدِ وَالسَّدَادِ لِلرَّأْيِ

bermusyawarah dengan benar, mendapatkan ide yang cemerlang,

لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي الْمُسْتَشَارِ الْأَمَانَةُ، وَالْإِشَارَةُ بِالْأَصْلَحِ

karena asal dari penasihat adalah sifat amanah, bermusyawarah untuk mencapai yang terbaik,

 لِقَوْلِهِ ﷺ: (الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ) (٢)

 berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ "Para penasihat adalah orang yang tepercaya." Shahih Muslim, Kitab al-Masaqat, Bab Riba-Hadits 80, Syarh an-Nawawi, 11/14.

وَفِي الْحَدِيثِ: (مَنِ اِسْتَشَارَهُ أَخُوهُ الْمُسْلِمُ فَأَشَارَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ رُشْدٍ فَقَدْ خَانَهُ) (٣)

Dalam suatu hadits disebutkan, "Barangsiapa yang diminta pendapatnya oleh saudaranya, lalu dia memberi petunjuk yang tidak tepat, maka dia telah mengkhianatinya." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, dihasankan oleh al-Arnauth, Jami al-Ushul, 11/562 hadits 9172.

فَانْظُرْ فِيمَنْ وَثِقْتَ وَبِمَنِ اِسْتَرْشَدْتَ، فَكُلُّ اِمْرِئٍ يُحْشَرُ مَعَ بِطَانَتِهِ الْمُخْتَارَةِ، لِأَنَّ (الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ) (٤)

Maka lihatlah siapa yang engkau percayai, dan siapa yang engkau ajak berkonsultasi, karena setiap orang bergantung pada siapa yang ia percayai. Sebab, "Seseorang bersama dengan orang yang dicintainya. Musnad Ahmad, 2/321 lafal tersebut untuknya, diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad yang hasan, Jami al-Ushul, 11/562.

كَمَا أَخْبَرَ ﷺ وَمِنْ بَرَكَةِ الْبِطَانَةِ الصَّالِحَةِ أَنَّهُ تَعُمُّهُمْ الرَّحْمَةُ بَيْنَهُمْ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ بِمَنْزِلَتِهِمْ

Sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ di antara keberkahan memiliki orang kepercayaan yang baik adalah rahmat akan melingkupi mereka semuanya, sekalipun mereka tak pantas untuk mendapatkannya.

 فَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ اللَّهَ يُشْهِدُ مَلَائِكَتَهُ بِأَنَّهُ يَغْفِرُ لِقَوْمٍ جَلَسُوا يَذْكُرُونَ اللَّهَ

Telah diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa Allah swt. bersaksi kepada para malaikatnya bahwa la mengampuni suatu kaum yang duduk untuk berzikir kepada Allah swt.

فَيَقُولُ مَلَكٌ: فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ، وَإِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ

Malaikat berkata, "Di antara mereka terdapat seseorang yang tak ikut berzikir bersama mereka, namun ia datang untuk suatu keperluan,

فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: (هُمُ الْجُلَسَاءُ؛ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ) (١)

maka Allah swt. berfirman, 'Mereka adalah teman dekat yang tidak menyakiti perasaan saudaranya. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Jami al-Ushul, 6/558, hadits 4787.

وَتِلْكَ مِنْ بَرَكَاتِ صُحْبَةِ أَهْلِ الْخَيْرِ

Itu adalah salah satu dari keberkahan bergaul dengan orang baik.

​فَإِنْ كَانَتْ لَكَ بِطَانَةٌ فَأَحْسِنِ اِخْتِيَارَهَا

Bilamana engkau memiliki orang kepercayaan, maka telitilah dalam memilihnya,

وَاِعْمَلْ بِمَا يُشِيرُونَ عَلَيْكَ مِنَ الْخَيْرِ

kemudian lakukanlah kebaikan yang ditunjuki oleh mereka.

وَإِنْ كُنْتَ بِطَانَةً لِغَيْرِكَ فَكُنْ صَرِيحًا صَادِقًا أَمِينًا، وَأَشِرْ بِكُلِّ خَيْرٍ

Jika engkau adalah seorang kepercayaan bagi sahabatmu, bersikap terbukalah, jujur, dapat dipercaya. Tunjukilah ia pada kebaikan.

​وَبِالْتِزَامِ خُلُقِ (اِصْطِفَاءِ الْبِطَانَةِ) تَسْقُطُ الْأَقْنِعَةُ الْكَاذِبَةُ وَتَتَكَشَّفُ الْحَقَائِقُ

Dengan berkomitmen pada nilai-nilai akhlak (kemurnian orang kepercayaan), maka berjatuhanlah topeng-topeng kejahatan, dan tersingkaplah kebenaran.

 وَيَتَمَيَّزُ كُلُّ فَرِيقٍ بِأَهْلِ وُدِّهِ وَأَصْحَابِ خُلَّتِهِ، فَانْظُرْ مَنْ تُخَالِلْ

Tiap kelompok memiliki keistimewaan berdasarkan sahabat yang dimilikinya, maka lihatlah kepada siapa engkau bersahabat.


​خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُه

KESIMPULAN

​اَلْبِطَانَةُ تُؤَثِّرُ بِأَفْكَارِهَا وَأَخْبَارِهَا

→ Orang kepercayaan akan memberikan pengaruh pada pemikiran-pemikirannya juga berita-beritanya.

​حُسْنُ اِخْتِيَارِ الْبِطَانَةِ يُجَنِّبُ كَثِيرًا مِنَ الْمَفَاسِدِ

* Telitilah dalam memilih orang kepercayaan, karena hal itu akan menghindari banyak kerusakan.

​مَنْ أَرَادَ الْاِحْتِيَاطَ لِدِينِهِ يَخْتَارُ الصَّالِحِينَ لِصُحْبَتِهِ

Barangsiapa yang hendak dak membentengi agamanya, hendaklah ia memilih orang-orang saleh sebagai sahabatnya.

​أَهْلُ الْعِلْمِ هُمْ أَوْلَى النَّاسِ بِالتَّقْرِيبِ وَالْمَشُورَةِ

Ahli ilmu adalah manusia yang paling utama untuk didekati dan diajak bermusyawarah.

​فِي أَيَّامِ الْفِتَنِ لَا يَأْمَنُ الرَّجُلُ جَلِيسَهُ

Pada hari-hari terjadinya fitnah seseorang tak mempercayai kawan bicaranya.

​مِنْ خُطُورَةِ الْبِطَانَةِ الْفَاسِدَةِ

→ Di antara bahaya memiliki orang kepercayaan yang merusak adalah:

​أَنَّهَا تُحَسِّنُ الْقَبِيحَ

la akan membaguskan yang buruk. 

​تُسَبِّبُ الْخُصُومَاتِ

Menyebabkan terjadinya permusuhan.

​مِنْ ثَمَرَاتِ الْبِطَانَةِ الصَّالِحَةِ

Di antara buah dari memiliki orang kepercayaan yang baik adalah:

​حُسْنُ الْمَشُورَةِ.

Bijak dalam bermusyawarah.

​عُمُومُ الرَّحْمَةِ.

Memperoleh rahmat.


📙📙📙📙📙

Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share Semoga bermanfaat