AKHLAK KITA DALAM ILAHIYAH
Kelima: Segera Bertaubat
فَخَيْرُهُمْ بَطِيءُ الْغَضَبِ سَرِيعُ الْفَيْئَةِ
"Yang terbaik di antara mereka adalah yang tidak mudah marah dan yang segera bertobat."
مَنْ يُرَاجِعْ سِيَرَةَ خَيْرِ الْقُرُونِ يَجِدُ أَنَّ صَحَابَةَ رَسُولِ اللهِ ﷺ لَمْ يَكُونُوا مُتَمَيِّزِينَ بِالْعِصْمَةِ مِنَ الْوُقُوعِ فِي الْخَطَإِ مَعَ الْخَلْقِ أَوِ الْخَالِقِ
Orang yang menelaah perjalanan hidup generasi pada abad terbaik (orang-orang terdahulu) akan mengetahui bahwa para sahabat Rasulullah saw. tidak memiliki keistimewaan berupa perlindungan dari kesalahan, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap Allah swt.
وَإِنَّمَا كَانُوا بَشَرًا تَمَيَّزُوا بِأَنَّهُمْ
Namun, mereka hanyalah orang-orang yang mempunyai keistimewaan,
«إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾» [آلُ عِمْرَانَ: ١٣٥]
"...Yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, kemudian mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, karena siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Ali Imran [3]: 135)
وَأَنَّهُمْ «إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ ﴿٢٠١﴾» [الْأَعْرَافِ: ٢٠١]
Mereka, "...Apabila mereka ditimpa waswas dari setan. Mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan- kesalahannya." al-A'raaf [7]: 201
هٰذِهِ الْمُبَادَرَةُ إِلَى التَّوْبَةِ وَتِلْكَ الْمُسَارَعَةُ إِلَى الرُّجُوعِ لِلْحَقِّ هِيَ مَا نَعْنِيهِ بِسُرْعَةِ الْفَيْئَةِ
Segera bertobat dan segera kembali kepada kebenaran, maka inilah yang kami maksud dengan Suratul Farah.
كَثِيرًا مَا تَكُونُ بَعْضُ الطَّبَائِعِ الَّتِي لَمْ تُهَذَّبْ سَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ زَلَّةِ الْقَدَمِ وَالْوُقُوعِ فِي بَعْضِ الْخُصُومَاتِ
Sebagian watak yang tidak terdidik dengan baik, maka akan sering menyebabkan kaki tergelincir dan terjatuh kepada pertengkaran.
وَقَدْ وَرَدَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ ذَكَرَ طَبَائِعَ النَّاسِ وَأَخْلَاقَهُمْ فِي إِحْدَى خُطَبِهِ فَقَالَ
Pada salah satu khotbah Rasulullah saw. menyebutkan watak-watak manusia dan perangai-perangai mereka. Beliau bersabda,
«يَكُونُ الرَّجُلُ سَرِيعَ الْغَضَبِ قَرِيبَ الْفَيْئَةِ فَهٰذِهِ بِهٰذِهِ، وَيَكُونُ بَطِيءَ الْغَضَبِ بَطِيءَ الْفَيْئَةِ فَهٰذِهِ بِهٰذِهِ. فَخَيْرُهُمْ بَطِيءُ الْغَضَبِ سَرِيعُ الْفَيْئَةِ، وَشَرُّهُمْ سَرِيعُ الْغَضَبِ بَطِيءُ الْفَيْئَةِ». (١)
"...Ada orang yang cepat marah dan cepat pula bertobat. 573 Dua hal ini seimbang. Ada yang tidak mudah marah dan lambat bertobat, dua hal ini juga seimbang. Yang terbaik di antara mereka adalah yang tidak mudah marah dan yang segera bertobat, sedangkan yang terburuk adalah orang yang mudah marah dan lambat bertobat. " [[Musnad Ahmad 3/61 dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam kitab al-Fitan Pada sebagian sanadnya terdapat perawi yang dan ia menilai hadits itu hasan. Pada sebagian dha'iif, sebagian kalimat hadits tersebut, memiliki banyak syahid (penguat). Jami' al-Ushul11/848. ]]
وَحَبْلُ الْخَيْرِيَّةِ بِيَدِكَ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُ، وَمَا عَلَيْكَ إِلَّا أَنْ تَضْبِطَ عَوَاطِفَكَ فَلَا تَغْضَبْ وَلَا تُسِيءْ
Wahai orang beriman, kendali kebaikan ada di tangan Anda, tugas pertama Anda hanya mengatur emosional sehingga Anda tidak menjadi pemarah dan menyakiti orang lain.
وَإِنْ لَمْ تَتَمَالَكْ نَفْسَكَ فَلَا يَطُلَّ عَلَيْكَ الْأَمَدُ وَيَتَرَاكَمْ عَلَى قَلْبِكَ الرَّانُ، وَإِنَّمَا تَفِيءُ إِلَى دَائِرَةِ الْحَقِّ بِسُرْعَةٍ، وَتَرْجِعُ إِلَى جَادَّةِ الصَّوَابِ عَلَى عَجَلٍ
Jika suatu saat Anda tidak menguasai diri, maka hendaklah jangan berlama-lama dalam keadaan seperti itu, dan segeralah kembali kepada kebenaran.
وَلَمْ يَخْلُ بَيْتٌ مِنْ بُيُوتِ رَسُولِ اللهِ ﷺ مِنْ خُصُومَاتٍ تَقَعُ بَيْنَ زَوْجَاتِهِ
Di rumah-rumah Nabi ﷺ juga tidak lepas dari pertengkaran yang terjadi antara istri-istri beliau.
وَلٰكِنِ انْظُرُوا إِلَى شَهَادَةِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِي ضَرَّتِهَا زَيْنَبَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، وَإِلَى مَا ذَكَرَتْ مِنْ خُلُقِ زَيْنَبَ
Tetapi lihatlah kesaksian Aisyah r.a. terhadap madunya, yaitu Zainab r.a. dan perangai Zainab yang disebutkannya,
«وَلَمْ أَرَ امْرَأَةً قَطُّ خَيْرًا مِنْ زَيْنَبَ، وَأَتْقَى لِلَّهِ، وَأَصْدَقَ حَدِيثًا، وَأَوْصَلَ لِلرَّحِمِ، وَأَعْظَمَ صَدَقَةً، وَأَشَدَّ ابْتِذَالًا لِنَفْسِهَا فِي الْعَمَلِ الَّذِي تَتَصَدَّقُ بِهِ وَتَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى، مَا عَدَا سُورَةً مِنْ حِدَّةٍ كَانَتْ فِيهَا، تُسْرِعُ مِنْهَا الْفَيْئَةُ». (١)
"...Aku tidak melihat perempuan yang lebih baik daripada Zainab. Ia sangat bertakwa, sangat jujur, selalu menyambung silaturahmi, selalu banyak bersedekah, sangat bersungguh-sungguh dalam bekerja untuk bersedekah dan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi ia (terkadang) marah lalu segera sadar kembali (segera bertobat)." Shahih Muslim, kitab Fadhai ash-Shahabah, bab 13, hadits 83 (Syarh an-Nawawi 15/215).
فَلَمْ تَكُنْ تُنْكِرُ عَلَيْهَا سِوَى حِدَّةً فِي طَبْعِهَا، وَلٰكِنَّهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهَا كَانَتْ تُسَارِعُ فَتَسْتَدْرِكُ وَتُصْلِحُ مَا نَتَجَ عَنْ حِدَّتِهَا
Aisyah r.a. tidak memungkiri Zainab r.a. kecuali kekerasan wataknya, namun ia segera sadar dan memperbaiki apa yang terjadi akibat kekerasannya itu.
وَلِذٰلِكَ، حِينَ تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَيِ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، يُغْفَرُ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ إِلَّا الْمُتَخَاصِمَيْنِ، فَيُقَالُ: «أَنْظِرُوا هٰذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا». (٢)
Oleh karena itu, ketika amal-amal perbuatan diserahkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis, maka Allah swt. mengampuni setiap orang mukmin kećuali dua orang yang bermusuhan. Dikatakan, "Tangguhkanlah dua orang ini sampai keduanya berdamai." Sunan Abu Daud, kitab Adab, bab 55, hadits 4916 (shahih).
وَفِي رِوَايَةٍ: «اتْرُكُوا هٰذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا». (٣)
Pada riwayat yang lain, "Biarkanlah dua orang ini hingga keduanya kembali sadar (bertobat)." Shahih Muslim, kitab al-Birr, bab 11, hadits 2565 (Syarh an-Nawawi 16/358).
وَ«خَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ». (٤)
"Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai salam." Shahih Bukhari, kitab Adab, bab 62, hadits 6077 (al-Fat-h1 (al-Fat-h 10/492).
وَالْمُتَوَقَّعُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الصَّادِقِ أَنَّهُ يُسْرِعُ الْفَيْئَةَ وَيُسَابِقُ إِلَى الصُّلْحِ. أَمَّا مَنْ يَلِجُّ فِي الْخُصُومَةِ وَيَغْرَقُ فِي التَّمَادِي، فَإِنَّ: «أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ». (٥)
Seorang mukmin sejati akan selalu segera kembali sadar dan berdamai, sedangkan orang yang tenggelam dalam pertengkaran maka sesungguhnya, "Orang yang sangat dibenci Allah adalah al-alalldul khashimi." Shahih Bukhari, kitab al-Ahkam, bab 34, hadits 7188 (al-Fat-h 13/180).
وَفَسَّرَهُ ابْنُ حَجَرٍ بِأَنَّهُ: «شَدِيدُ الْعِنَادِ، كَثِيرُ الْجَدَلِ وَالْخُصُومَةِ». (٦)
Artinya menurut Ibnu Hajar, "Sangat buruk perangainya dan sering bertengkar. Fat-hu al-Baari 8/188.
بَلْ إِنَّ مِنْ صِفَاتِ الْمُنَافِقِ أَنَّهُ إِذَا خَاصَمَ فَجَرَ. (١)
Di antara sifat-sifat orang munafik adalah, "Jika ia bertengkar, maka ia berbuat fujur." Shahih Bukhari, kitab Iman, bab 24, hadits 34.
يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ: «وَالْفُجُورُ: الْمَيْلُ عَنِ الْحَقِّ وَالِاحْتِيَالُ فِي رَدِّهِ». (٢)
Ibnu Hajar berpendapat, "Fujur adalah menyimpang dari kebenaran dan berupaya membuang kebenaran tersebut." Fat-hu al-Baari 1/90.
وَكَمْ يَكُونُ عَظِيمًا ذٰلِكَ الَّذِي يَذِلُّ لِلْمُؤْمِنِينَ، وَيَئُوبُ إِلَى الرُّشْدِ، وَيُعَجِّلُ إِلَى رَبِّهِ لِيَرْضَى عَنْهُ
Berapa banyak orang dapat menjadi agung karena bersikap rendah diri terhadap orang-orang beriman, segera kembali kepada petunjuk Tuhannya agar Dia meridhainya.
وَلَقَدْ ضَرَبَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَثَلًا رَفِيعًا فِي سُرْعَةِ الْفَيْئَةِ، حِينَ عَلِمَ أَنَّ مِسْطَحَ بْنَ أُثَاثَةَ — الَّذِي يَأْكُلُ مِنْ نَفَقَةِ أَبِي بَكْرٍ — كَانَ قَدْ شَارَكَ فِي اتِّهَامِ ابْنَتِهِ السَّيِّدَةِ عَائِشَةَ بِحَدِيثِ الْإِفْكِ، فَأَقْسَمَ أَبُو بَكْرٍ أَلَّا يُنْفِقَ عَلَيْهِ
Abu bakar ash-Shiddiq r.a. merupakan contoh yang mulia dalam hal bertobat, ketika ia tahu bahwa Misthah bin Atsatsah yang mendapat nafkah darinya ikut serta menuduh putrinya (Aisyah r.a.) dengan berita palsu (haditsul ifki), maka Abu Bakar bersumpah tidak memberinya nafkah lagi.
فَنَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۚ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ ۗ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ [النُّورِ: ٢٢]
Kemudian, turunlah firman Allah swt., "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" an-Nuur [24]: 22
فَمَا إِنْ سَمِعَ أَبُو بَكْرٍ خَاتِمَةَ الْآيَةِ حَتَّى صَاحَ: بَلَى وَاللهِ، إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لِي
Ketika mendengar akhir ayat itu Abu Bakar berkata dengan keras, "Ya, demi Allah, aku ingin sekali diampuni Allah."
وَتَغَلَّبَ عَلَى عَوَاطِفِهِ الَّتِي تَدْعُوهُ لِلثَّأْرِ لِعِرْضِ ابْنَتِهِ الْبَرِيئَةِ، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحَ النَّفَقَةَ الَّتِي كَانَ يُنْفِقُهَا عَلَيْهِ، وَقَالَ: «وَاللهِ لَا أَنْزَعُهَا مِنْهُ أَبَدًا». (٣)
Maka ia berhasil mengalahkan emosinya yang mengajaknya untuk menuntut balas demi kebersihan harga diri putrinya, "Maka ia kembali memberikan nafkah kepada Misthah dan berkata, 'Demi Allah, aku akan selalu menafkahkannya." Shahih Bukhari, kitab al-Maghazi, bab 34, hadits 4141 (al-Fat-h 7/434).
لَيْسَ الْعَيْبُ فِي الْوُقُوعِ فِي الْخَطَإِ، إِذْ: «كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ». (٤)
Bukan hal yang memalukan jika seseorang bersalah, karena "Setiap anak Adam berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertobat. " Shahih Sunan Ibnu Majah oleh al-Albani 2/418 hadits 3428 (hasan).
وَإِنَّمَا تَكْمُنُ الْمُصِيبَةُ فِي الْإِصْرَارِ عَلَى الْخَطَإِ وَالتَّمَادِي فِي الْبَاطِلِ. مَعَ أَنَّ أَبْوَابَ الرَّحْمَةِ مُفَتَّحَةٌ تَدْعُونَا لِسُرْعَةِ الْفَيْئَةِ
Yang menjadi musibah adalah jika terus-menerus bersalah dan melakukan kebatilan, padahal pintu-pintu rahmat Allah terbuka lebar mengajak kita segera bertobat,
«إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا». (١)
"Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berdosa di siang hari bertobat, dan Dia memberitangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit di tempat terbenamnya (di sebelah barat)." Shahih Muslim/kitab Taubat, bab 5 (Syarh an-Nawawi 17/83).
وَتَسْتَطِيعُ تَجَاوُزَ الْعَقَبَةِ بِأَنْ تَكُونَ صَرِيحًا مَعَ نَفْسِكَ وَتَعْتَرِفَ بِخَطَئِكَ، وَهٰذِهِ بِدَايَةُ طَرِيقِ التَّوْبَةِ وَالْفَيْئَةِ إِلَى اللهِ
Anda akan mampu melalui rintangan jika Anda bersikap jujur terhadap diri sendiri dan mengakui kesalahan Anda. Inilah awal jalan tobat kepada Allah,
«فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ، تَابَ اللهُ عَلَيْهِ». (٢)
"Jika seorang hamba mengakui dosanya kemudian ia bertobat, niscaya Allah menerima tobatnya." Shahih Bukhari, kitab Tafsir, bab 6, hadits 4750 (al-Fat-h 8/454).
وَإِذَا كَانَ رَبُّنَا يَدْعُونَا إِلَى سَعَةِ رَحْمَتِهِ وَيُقَابِلُ ضَعْفَنَا بِإِحْسَانِهِ، فَمَا الَّذِي يُبَطِّئُ بِنَا عَنْ إِصْلَاحِ أَنْفُسِنَا
Jika Allah telah mengajak kita kepada rahmat-Nya yang luas lagi yang membuat kita lamban dalam memperbaiki diri?
وَمَا الَّذِي يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْفَيْئَةِ السَّرِيعَةِ وَالرَّجْعَةِ النَّصُوحِ؟
Apa yang menghalangi kita untuk segera bertobat nasuha?
وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدسِيِّ
Disebutkan dalam sebuah hadits qudsi,
«.. وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً». (٣)
Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal niscaya Aku mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat kepada-Ku sehasta niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan niscaya Aku datang kepadanya dengan berlari." Shahih Bukhari, kitab Tauhid, bab 15, hadits 7405 (al-Fat-h.13/384).
فَاهْرُلْ أَيُّهَا الْعَبْدُ إِلَى رَحْمَةِ اللهِ، وَإِيَّاكَ وَالتَّسْوِيفَ
Wahai hamba, berlarilah menuju rahmat Allah dan hindar-kanlah kelalaian!
إِنَّ الَّذِي يَحُولُ دُونَ التَّعْجِيلِ بِالتَّوْبَةِ هُوَ الْوُقُوعُ فِي قَيْدِ الْإِصْرَارِ
Terus-menerus melakukan kesalahan akan membuat kita tidak segera bertobat.
وَلَقَدْ تَرْجَمَ الْبُخَارِيُّ أَحَدَ أَبْوَابِ كِتَابِ الْإِيمَانِ بِقَوْلِهِ
Bukhari membuat suatu judul bab pada kitab al-Iman,
«خَوْفُ الْمُؤْمِنِ مِنْ أَنْ يُحْبَطَ عَمَلُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ... وَمَا يُحْذَرُ مِنَ الْإِصْرَارِ عَلَى النِّفَاقِ وَالْمَعْصِيَةِ مِنْ غَيْرِ تَوْبَةٍ، لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى
"Seorang mukmin khawatir amalnya menjadi sia-sia tanpa disadarinya, dan sikap ishrar (menetap) pada kemunafikan dan kemaksiatan tanpa tobat yang ditakutkannya, karena firman Allah swt.,
. وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ [آلُ عِمْرَانَ: ١٣٥]». (٤)
Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui," (Ali 'Imran [3]: 135)588
وَيُعَلِّقُ ابْنُ حَجَرٍ عَلَى هٰذَا الْبَابِ: «... وَكَأَنَّ الْمُصَنِّفَ لَمَحَ بِحَدِيثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو الْمُخْرَجِ عِنْدَ أَحْمَدَ مَرْفُوعًا، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ
Ibnu Hajar menanggapi bab ini, "Sepertinya pengarang (Bukhari) mengisyaratkan kepada hadits Abdullah bin 'Amr yang diriwayatkan oleh Ahmad secara marfu Nabi bersabda,
«وَيْلٌ لِلْمُصِرِّينَ الَّذِينَ يُصِرُّونَ عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ»
Celakalah orang-orang yang tetap mengerjakan kesalahan padahal mereka mengetahui.'
أَيْ يَعْلَمُونَ أَنَّ مَنْ تَابَ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ لَا يَسْتَغْفِرُونَ». قَالَهُ مُجَاهِدٌ وَغَيْرُهُ. (١)
Artinya, mereka mengetahui bahwa barangsiapa bertobat niscaya Allah menerima tobatnya, tetapi mereka tidak meminta ampun. Dikatakan oleh Mujahid dan lainnya." Shahih Bukhari, pembukaan bab 36 kitab Iman, al-Fat-h 1/109.
وَصُورَةُ الْإِصْرَارِ كَمَا فَسَّرَهُ الشَّوْكَانِيُّ: «هُوَ الْعَزْمُ عَلَى مُعَاوَدَةِ الذَّنْبِ، وَعَدَمُ الْإِقْلَاعِ عَنْهُ بِالتَّوْبَةِ مِنْهُ». (٢)
Bentuk ishrar menurut asy-Syaukani adalah “Berniat mengulangi dosa dan tidak meninggalkan dosa tersebut dengan bertobat.“
Fat-hu al-Baari 1/112 penjelasan bab 36 kitab Iman, hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad di al-Musnad 2/165-dinilai Shahih oleh al-Albani.
فَهَلْ يَخْتَارُ الْمُؤْمِنُ مَصِيرَ الْوَيْلِ؟ أَمْ يُقَاوِمُ هَوَاهُ، وَيَسْتَعْلِي عَلَى نَزَوَاتِ الشَّيْطَانِ، لِيَنْطَلِقَ مِنْ قَيْدِهَا سَاعِيًا إِلَى رَحْمَةِ اللهِ؟
Apakah seorang mukmin memilih kecelakaan ataukah melawan hawa nafsunya, dan berusaha mengalahkan setan agar terlepas dari belenggunya menuju rahmat Allah?
إِنَّ خُلُقَ سُرْعَةِ الْفَيْئَةِ مِنْ أَوَّلِ مَا يُطَالِعُكَ فِي أَوَّلِ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، حَيْثُ تَأْتِيكَ الْبُشْرَى بِالْخَيْرِ، وَيَقُولُ لَكَ عَمَلُكَ
Segera bertobat merupakan perangai yang menemani Anda di persinggahan pertama akhirat (alam kubur). Di alam kubur akan datang kabar gembira kepadamu. Amalmu berkata,
«أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ، كُنْتُ وَاللهِ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ، بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا»
“Aku adalah amal salehmu. Demi Allah, engkau selalu taat kepada Allah dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Allah memberi balasan yang baik untukmu." Fat-hu al-Qadir oleh asy-Syaukani: 1/382
أَوْ تَأْتِيكَ الْبُشْرَى بِالشَّرِّ، وَيَقُولُ لَكَ عَمَلُكَ: «أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ، كُنْتُ بَطِيئًا عَنْ طَاعَةِ اللهِ، سَرِيعًا فِي مَعْصِيَةِ اللهِ، فَجَزَاكَ اللهُ شَرًّا». (٣)
Atau kabar buruk datang kepadamu dan amalmu berkata, "Akulah amalmu yang buruk. Engkau selalu lamban dalam menaati Allah, selalu bermaksiat kepada-Nya, maka Allah memberi balasan yang buruk pula untukmu." [[Musnad Ahmad 4/295-296 dari hadits yang panjang awalnya, "Sesungguhnya seorang mukmin ketika menghadap akhirat dan meninggalkan dunia....]]
فَإِذَا أَسَأْتَ فَأَحْسِنْ، وَإِذَا أَذْنَبْتَ فَاسْتَغْفِرْ؛ لَعَلَّ عَمَلَكَ يَشْهَدُ لَكَ بِالسُّرْعَةِ فِي طَاعَةِ اللهِ
Apabila Anda berbuat salah, maka iringilah dengan kebaikan. Apabila Anda berdosa, maka mintalah ampunan. Semoga amal Anda menjadi saksi bahwa Anda selalu segera menaati Allah.
خُلَاصَةُ هٰذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN
- تَمَيَّزَ الصَّحَابَةُ بِسُرْعَةِ فَيْئَتِهِمْ، لَا بِالْعِصْمَةِ
Para sahabat Rasulullah saw. memiliki keistimewaan, yaitu segera bertobat. Hal ini bukan karena mereka mendapat ishmah (perlindungan dari segala kesalahan).
- مِنْ أَسْبَابِ زَلَّةِ الْقَدَمِ: الِانْسِيَاقُ وَرَاءَ الطِّبَاعِ الْغَضَبِيَّةِ
Menuruti watak yang pemarah akan menyebabkan kaki tergelincir.
- بَيْتُ النُّبُوَّةِ لَمْ يَخْلُ مِنَ الْخُصُومَاتِ، وَلٰكِنَّ الْفَيْئَةَ كَانَتْ سَرِيعَةً
Ada pertengkaran dalam rumah Nabi saw. tetapi mereka segera bertobat.
- الْمُتَخَاصِمَانِ: إِنْ لَمْ يُسَارِعَا إِلَى الْفَيْئَةِ، حُرِمَا قَبُولَ الْعَمَلِ
Jika dua orang yang bertengkar tidak segera bertobat maka amalnya tidak diterima.
- مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَهُ، فَلْيُسْرِعْ بِالْفَيْئَةِ
Orang yang ingin mendapat ampunan Allah segera bertobat
مِمَّا يُعِينُ عَلَى سُرْعَةِ الْفَيْئَةِ
Hal-hal yang membantu untuk segera bertobat:
- الِاعْتِرَافُ بِالْخَطَإِ وَالصَّرَاحَةُ مَعَ النَّفْسِ
Mengakui kesalahan dan jujur terhadap diri sendiri.
- عَدَمُ الْإِصْرَارِ عَلَى الذَّنْبِ، وَالتَّعْجِيلُ بِالتَّوْبَةِ
Tidak terus-menerus melakukan kesalahan (ishran), dan segera bertobat.
- صَاحِبُ الْفَيْئَةِ السَّرِيعَةِ يَشْهَدُ لَهُ عَمَلُهُ فِي أَوَّلِ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ
Perbuatan orang yang segera bertobat akan menjadi saksi (yang membantunya) di alam kubur.
📙📙📙 Sumber:
هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan
Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan - share




