حَقِيقَةُ النِّيَّةِ وَفَضْلُهَا
Niat
النِّيَّةُ: لَيْسَتْ قَوْلَ الْقَائِلِ بِلِسَانِهِ
«نَوَيْتُ»،
Niat bukan sekadar ucapan nawaytu (saya berniat).
بَلْ هُوَ انْبِعَاثُ الْقَلْبِ يَجْرِي مَجْرَى
الْفُتُوحِ مِنَ اللَّهِ،
Lebih daripada itu, ia adalah dorongan hati seiring
dengan futuh (pembukaan) dari Allah.
فَقَدْ تَتَيَسَّرُ فِي بَعْضِ الأَوْقَاتِ، وَقَدْ
تَتَعَذَّرُ فِي بَعْضِهَا
Kadang-kadang ia mudah untuk dicapai, tetapi
kadang-kadang juga sulit.
وَمَنْ كَانَ الْغَالِبُ عَلَى قَلْبِهِ أَمْرَ
الدِّينِ تَيَسَّرَ عَلَيْهِ فِي أَكْثَرِ الأَحْوَالِ إِحْضَارُ النِّيَّةِ
لِلْخَيْرَاتِ،
Seseorang yang hatinya dipenuhi dengan urusan dîn,
akan mendapatkan kemudahan dalam menghadirkan niat untuk berbuat baik.
فَإِنَّ قَلْبَهُ مَائِلٌ بِالْجُمْلَةِ إِلَى أَصْلِ
الْخَيْرِ، فَيَنْبَعِثُ إِلَى التَّفَاصِيلِ غَالِبًا
Sebab ketika hati telah condong kepada pangkal
kebaikan, ia pun akan terdorong untuk cabang-cabang kebaikan.
وَمَنْ مَالَ قَلْبُهُ إِلَى الدُّنْيَا وَغَلَبَتْ
عَلَيْهِ؛ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ ذَلِكَ،
Sebaliknya, orang yang hatinya dipenuhi dengan
kecenderungan kepada gemerlap dunia, akan mendapatkan kesulitan besar untuk
mencapainya
بَلْ لَا يَتَيَسَّرُ لَهُ فِي الْفَرَائِضِ إِلَّا
بِجَهْدٍ جَهِيدٍ
Bahkan dalam mengerjakan yang wajib sekalipun.
Untuk "menghadirkan" niat dengan baik, ia harus bersusah-payah.
وَعَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ - رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ - عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Umar bin Khathab meriwayatkan, bahwa Rasulullah
bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا
لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ،
فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا
يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ
إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ». (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)
Hanyasanya amal-amal itu tergantung kepada niat.
Dan sese- orang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa niat
hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, hijrahnya pun kepada Allah dan RasulNya.
Barangsiapa niat hijrahnya kepada dunia yang diinginkannya atau wanita yang
akan dinikahinya, hijrahnya pun untuk apa yang ia niatkan." Hr.
Al-Bukhariy dalam Bad'ul Wahyi 1/9 dan Muslim dalam Al-Imarah XII/53
رُوِيَ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ قَالَ: هَذَا
الْحَدِيثُ ثُلُثُ الْعِلْمِ.
Imam Syafi'i berkata, "Hadits ini adalah
sepertiga dari ilmu."
قَوْلُهُ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ
بِالنِّيَّاتِ»
Kalimat "Hanyasanya amal-amal itu tergantung
kepada niat"
يَعْنِي أَنَّ صَلَاحَ الأَعْمَالِ الْمُوَافِقَةِ
لِلسُّنَّةِ بِصَلَاحِ النِّيَّةِ،
berarti, baiknya amal yang dikerjakan sesuai dengan
sunnah itu tergantung kepada kebaikan niatnya.
وَهُوَ كَقَوْلِهِ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ
بِالْخَوَاتِيمِ
Ini seperti sabda beliau, "Hanyasanya
amal-amal itu tergantung kepada akhirnya." Hr. Al-Bukhary dalam Al-Qadar
X1/499 dari sahabat Sahi bin Sa'd
وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
Kalimat "Dan seseorang itu akan mendapatkan
apa yang dia niatkan"
يَعْنِي ثَوَابَ الْعَامِلِ عَلَى عَمَلِهِ بِحَسَبِ
النِّيَّاتِ الصَّالِحَةِ الَّتِي يَجْمَعُهَا فِي الْعَمَلِ الْوَاحِدِ
berarti, pahala amal seorang itu tergantung kepada
kebaikan niatnya.
وَقَوْلُهُ: «فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى
اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ
هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ
إِلَى مَا
هَاجَرَ إِلَيْهِ»
Kalimat "Barangsiapa niat hijrahnya kepada
Allah dan RasulNya, hijrahnya pun kepada Allah dan RasulNya. Barangsiapa niat
hijrahnya kepada dunia yang diinginkannya atau wanita yang akan dinikahi-nya,
hijrahnya pun untuk apa yang ia niatkan"-
بَعْدَ إِرْسَاءِ الْقَاعِدَةِ الأُولَى ذَكَرَ
مِثَالًا لِلأَعْمَالِ الَّتِي صُورَتُهَا وَاحِدَةٌ وَتَخْتَلِفُ فِي صَلَاحِهَا
وَفَسَادِهَا
sesudah disebutkannya kaidah di atas adalah sebagai
contoh dari amalan-amalan yang memiliki kesamaan bentuk pelaksanaan tetapi
berbeda dalam hal hasil.
وَالنِّيَّةُ الصَّالِحَةُ لَا تُغَيِّرُ
الْمَعَاصِيَ عَنْ مَوْضِعِهَا،
Tetapi, niat baik tidak akan mengubah kemaksiatan
dari hakikatnya.
فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَفْهَمَ الْجَاهِلُ ذَلِكَ
مِنْ عُمُومِ قَوْلِهِ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ»، فَيَظُنُ أَنَّ
الْمَعْصِيَةَ تَصِيرُ طَاعَةً بِالنِّيَّةِ؛
Tidaklah pantas seorang yang jahil menafsirkan
keumuman sabda Rasul di atas, bahwa kemaksiatan itu berubah menjadi ketaatan
karena niat.
فَإِنَّ قَوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ» يَخُصُّ مِنْ أَقْسَامِ الْعَمَلِ
الثَّلَاثَةِ: الطَّاعَاتِ، وَالْمُبَاحَاتِ دُونَ الْمَعَاصِي،
Sabda Rasul itu hanya berlaku untuk ketaatan dan
perkara-perkara yang mubah.
إِذِ الطَّاعَةُ تَنْقَلِبُ مَعْصِيَةً
بِالْقَصْدِ،
Ketaatan bisa berubah menjadi kemaksiatan karena
niat.
وَالْمُبَاحُ يَنْقَلِبُ مَعْصِيَةً أَوْ طَاعَةً
بِالْقَصْدِ،
Begitu pun perkara yang mubah bisa menjadi
kemaksiatan dan bisa juga menjadi ketaatan karena niat.
أَمَّا الْمَعْصِيَةُ فَلَا تَنْقَلِبُ طَاعَةً
بِالْقَصْدِ،
Sedangkan kemaksiatan tidak akan berubah menjadi
ketaatan karena niat.
وَدُخُولُ النِّيَّةِ فِي الْمَعْصِيَةِ إِذَا
انْضَافَ إِلَيْهَا قُصُودٌ خَبِيثَةٌ تُضَاعِفُ وِزْرَهَا وَبَالَهَا
Tetapi justru masuknya niat ke dalam kemaksiatan
akan menambah berat dan dosa dari kemaksiatan itu.
وَالطَّاعَاتُ مُرْتَبِطَةٌ بِالنِّيَّاتِ فِي أَصْلِ
صِحَّتِهَا،
Pada dasarnya, keabsahan suatu ketaatan itu terikat
kepada niat.
وَفِي تَضَاعُفِ فَضْلِهَا،
Begitu pula dengan pelipatgandaan pahalanya.
فَأَمَّا الأَصْلُ فَهُوَ أَنْ يَنْوِيَ بِهَا
عِبَادَةَ اللَّهِ وَحْدَهُ،
Sehubungan dengan keabsahan, seseorang harus
meniatkan ketaatannya sebagai ibadah kepada Allah saja.
فَإِنْ نَوَى الرِّيَاءَ صَارَتْ مَعْصِيَةً،
Jika ia meniatkan riya', maka ketaatan yang ia
lakukan itu berubah menjadi kemaksiatan.
وَأَمَّا تَضَاعُفُ الْفَضْلِ فَبِكَثْرَةِ
النِّيَّاتِ الْحَسَنَةِ
Tentang dilipatgandakannya pahala, maka hal itu
tergantung kepada banyaknya niat baik dari suatu ketaatan.
أَمَّا الْمُبَاحَاتُ فَمَا مِنْ شَيْءٍ مِنْهَا
إِلَّا وَيَحْتَمِلُ نِيَّةً،
Perkara-perkara yang mubah, secara keseluruhannya
mengandung satu niat atau lebih.
أَوْ نِيَّاتٍ، يَصِيرُ بِهَا مِنْ مَحَاسِنِ
الْقُرُبَاتِ، وَيَنَالُ بِهَا مَعَالِيَ الدَّرَجَاتِ.
Karenanya ia bisa menjadi bentuk taqarrub yang
bernilai tinggi, dan disediakan pula derajat yang tinggi untuknya.
فَضْلُ النِّيَّةِ
Keutamaan Niat
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ - رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ - أَنَّهُ قَالَ:
Umar bin Khathab berkata,
أَفْضَلُ الأَعْمَالِ أَدَاءُ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ
تَعَالَى، وَالْوَرَعُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ، وَصِدْقُ النِّيَّةِ فِيمَا عِنْدَ
اللَّهِ تَعَالَى
Amal yang paling utama adalah melaksanakan
kewajiban dari Allah . bersikap wara" terhadap yang diharamkanNya, dan
meluruskan niat untuk mendapatkan pahala di sisi Allah.
َقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ
تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
Sebagian salaf berkata, "Betapa banyak amalan
kecil menjadi besar karena niat. Betapa banyak pula amalan besar menjadi kecil
karena niat.
وَعَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ: تَعَلَّمُوا
النِّيَّةَ؛ فَإِنَّهَا أَبْلَغُ مِنَ الْعَمَلِ
Yahya bin Abi Katsir berkata, "Pelajarilah
niat! Sesung- guhnya niat itu lebih dapat menyampaikan kepada tujuan daripada
amal."
وَصَحَّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ سَمِعَ رَجُلًا
عِنْدَ إِحْرَامِهِ يَقُولُ:
Suatu ketika Ibnu Umar mendengar seseorang berucap
di awal ihramnya,
اللَّهُمَّ إِنِّي أُرِيدُ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ»،
فَقَالَ لَهُ: أَتُعَلِّمُ النَّاسَ؟ أَوَلَيْسَ اللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي
نَفْسِكَ؟».
"Ya Allah sesungguhnya aku akan menunaikan
haji dan umrah." Ibnu Umar bertanya, "Apakah kamu sedang mengajari
orang-orang? Bukankah Allah mengetahui apa yang ada pada dirimu?"
Riwayat ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Rajab Al-Hambally dalam Jam Al Ulum wal
Hikam hal. 19
وَذَلِكَ لِأَنَّ النِّيَّةَ هِيَ: قَصْدُ الْقَلْبِ،
وَلَا يَجِبُ التَّلَفُظُ بِهَا فِي شَيْءٍ مِنَ الْعِبَادَاتِ.(١)
Yang demikian itu, karena niat adalah kehendak hati. Tidak diwajibkan melafalkannya dalam ibadah. Pendapat ini berbeda dengan pendapat beberapa ulama madzhab Hanafi dan Hambali.
Catatan:
وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ مَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي
صَحِيحِهِ (٧/٩١) مِنْ حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ مَرْفُوعًا
Dalilnya adalah hadits riwayat Muslim VII/91, dari
sahabat Abu Dzar: ... dan
وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
pada kemaluan (alat kelamin) salah seorang dari
kalian ada sedekah.
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا
شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟
Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah
jika salah seorang dari kami menggauli istrinya, lalu ia mendapat pahala?"
قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ
أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ
لَهُ أَجْرٌ
Beliau menjawab, "Bagaimana pendapat kalian,
jika ia memenuhi syahwatnya di jalan yang haram, apakah ia berdosa? Begitulah,
jika ia memenuhinya di jalan yang halal,ia pun mendapat pahala."
قَالَ النَّوَوِيُّ
Imam Nawawi berkata,
وَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْمُبَاحَاتِ
تَصِيرُ طَاعَاتٍ بِالنِّيَّاتِ الصَّادِقَاتِ،
Hadits ini menjadi dalil bahwa perkara-perkara yang
mubah bisa berubah menjadi ketaatan karena niat yang benar.
فَالْجِمَاعُ يَكُونُ عِبَادَةً إِذَا نُوِيَ بِهِ
قَضَاءُ حَقِّ الزَّوْجَةِ وَمُعَاشَرَتُهَا بِالْمَعْرُوفِ الَّذِي أَمَرَ
اللَّهُ تَعَالَى بِهِ،
Bersetubuh dapat menjadi satu bentuk ibadah jika
diniatkan untuk memenuhi hak istri dan mempergaulinya dengan baik-seperti yang
diperintahkan oleh Allah;
أَوْ طَلَبُ وَلَدٍ صَالِحٍ،
diniatkan untuk mendapatkan anak yang shalih;
أَوْ إِعْفَافُ نَفْسِهِ، أَوْ إِعْفَافُ
الزَّوْجَةِ،
menjaga diri dan istri dari kemaksiatan;
وَمَنْعُهُمَا جَمِيعًا مِنَ النَّظَرِ إِلَى
حَرَامٍ، أَوْ الْفِكْرِ فِيهِ،
mencegah dari memandang kepada yang haram, atau
memikirkannya,
أَوْ الْهَمِّ بِهِ، أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ
الْمَقَاصِدِ الصَّالِحَةِ
atau mengangan-angankannya, atau maksud-maksud lain
yang tidak baik.
وَسَيَأْتِي أَثَرُ مُعَاذٍ (ص ١٠٨): «إِنِّي
لَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي
Mu'adz berkata, Sungguh aku berharap tidurku
berpahala seperti halnya bangun (terjaga) ku.
Catatan 2
اُنْظُرْ وَرَعَ أَبِي إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيِّ:
Simak sikap wara' Abu Ishaq As-Syairazy.
دَخَلَ يَوْمًا الْمَسْجِدَ لِيَأْكُلَ فِيهِ شَيْئًا
عَلَى عَادَتِهِ،
Suatu hari ia memasuki masjid untuk makan seperti
biasanya.
فَنَسِيَ دِينَارًا،
Ia beranjak pergi dan uangnya tertinggal satu dinar
di sana.
فَذَكَرَهُ فِي الطَّرِيقِ فَرَجَعَ فَوَجَدَهُ،
فَتَرَكَهُ وَلَمْ يَمَسَّهُ
Di tengah jalan barulah ia ingat, dan la pun
kembali dan mendapati uang satu dinar,
وَقَالَ: «رُبَّمَا وَقَعَ مِنْ غَيْرِي وَلَا
يَكُونُ دِينَارِي»
Lalu ia meninggalkannya dan tidak menyentuhnya
sambil berkata Jangan-jangan ini dinar orang lain, dan bukan dinarku
كَذَا فِي «تَهْذِيبِ الأَسْمَاءِ» لِلنَّوَوِيِّ
(١/١٧٣).
Demikian termuat dalam Tahdzibul Asma nya An-Nawawiy 1/173
Sumber:
تزكية النفوس وتربيتها كما يقرره علماء السلف
Tazkiyatun Nafs konsep pensucian jiwa menurut
ulama' salaf
Ibnu Qayyim Aljauziah - Ibnu Rajab Al Hambali -
Imam Alghazali
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan : Silahkan bila ada masukan atau
kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan - share - Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar