Label xxx

Minggu, 22 Oktober 2023

Memberikan Pertolongan - 03 - BAB 01 - Hadzihi Akhlaquna

BAB 01

AKHLAK YANG HARUS DIMILIKI PADA WAKTU BERJUANG

PASAL 03

النصرة

Memberikan Pertolongan

انصُرْ أخاك ظالمًا أو مظلومًا

"Tolonglah saudaramu, baik ia orang yang zalim atau yang dizalimi."

 

كَمْ فِي الْمُسْلِمِينَ مِنْ ذَوِي الْحَاجَةِ وَأَصْحَابِ الْهُمُومِ وَصَرْعَى الْمَظَالِمِ وَجَرْحَى الْقُلُوبِ!!

Berapa banyak umat Islam yang membutuhkan bantuan, bersedih, tertindas, dan sakit hati?

الَّذِينَ لَمْ يَجِدُوا مَنْ يَطْرُقُ بَابَهُمْ، أَوْ يَسْأَلُ عَنْ حَالِهِمْ، أَوْ يَسْعَى فِي كَشْفِ الْغَمِّ عَنْهُمْ بِدَافِعٍ مِنْ خُلُقِ - (النُّـصْرَةِ)

Tidak ada uluran tangan yang akan membantunya, mempedulikan kondisinya, dan berusaha mengangkat penderitaannya dengan memberikan pertolongan.

نَعْنِي بِالنُّصْرَةِ تِلْكَ الْغِيرَةَ الْإِيمَانِيَّةَ الَّتِي تَدْفَعُ الْمُسْلِمَ لِرَفْعِ الظُّلْمِ عَنْ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ الْمُسْتَضْعَفِ، أَوْ لِمَدِّ يَدِ الْعَوْنِ إِلَيْهِ

Yang dimaksud dengan pertolongan adalah semangat keimanan seorang muslim untuk mengangkat kezaliman saudaranya yang lemah atau mengulurkan tangan bantuan kepadanya.

وَبِقَدْرِ مَا تُمَارِسُ هَذَا الْخُلُقَ فِي حَيَاتِكَ الْيَوْمِيَّةِ

Dengan kemampuannya menjalankan akhlak ini dalam kehidupan sehari- hari,

تَكُونُ أَقْدَرَ عَلَى الِاسْتِجَابَةِ لِنِدَاءِ دَاعِي الْجِهَادِ لِمُنَازَلَةِ الْبُغَاةِ أَوْ الْكَافِرِينَ

Maka kita akan lebih mampu memenuhi panggilan jihad untuk melawan para pembangkang dan orang-orang kafir.

الْأُخُوَّةُ الْإِيمَانِيَّةُ ضَرِيبَتُهَا النُّصْرَةُ

Persaudaraan seiman tebusannya adalah memberikan pertolongan.

وَالْقَائِمُ بِحَقِّ النُّصْرَةِ أَوِ الْمُتَخَاذِلُ عَنْهَا؛ كُلٌّ مِنْهُمَا يَلْقَى ثَمَرَةَ ذَلِكَ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْآخِرَةِ جَزَاءً وِفَاقًا كَمَا جَاءَ فِي قَوْلِهِ

Orang yang memberikan pertolongan atau enggan memberikan pertolongan akan menuai hasilnya di dunia, sebelum di akhirat; balasan yang layak, sebagaimana ada dalam sebuah sabdanya,

مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ، وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ

Tidaklah seseorang yang membiarkan kehormatan umat Islam dicemari, dan harga dirinya dilangkahi,

إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ

Kecuali Allah akan membiarkan dirinya pada saat ia membutuhkan pertolongan. Musnad Ahmad, 4/30, kemudian al-Bani menghasankan hadits tersebut dalam kitabnya Shahih al-Jami' dengan hadits no. 5690

وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ امْرَأً مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ، وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ

Dan tidaklah seseorang yang menolong seorang muslim yang harga dirinya dilangkahi, dan kehormatannya dicemari,

إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ

Kecuali Allah akan menolongnya pada saat ia membutuhkan pertolongan-Nya."

وَقَدْ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِسَبْعٍ كَانَ مِنْهَا - نَصْرُ الْمَظْلُومِ ونصه

Rasulullahﷺ telah memerintahkan kita dengan tujuh perkara, di antaranya yaitu, menolong orang yang dizalimi." Adapun teks haditsnya adalah sebagai berikut

أَمَرَنَا النَّبِيُّ ﷺ : بِسَبْعٍ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ

Nabiﷺ memerintahkan dan melarang kami dengan tujuh hal. Beliau menyebutkannya:

فَذَكَرَ عِيَادَةَ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعَ الْجَنَائِزِ، وَتَشْمِيتَ الْعَاطِسِ، وَرَدَّ السَّلَامِ، وَنَصْرَ الْمَظْلُومِ، وَإِجَابَةَ الدَّاعِي، وَإِبْرَارَ الْقَسَمِ

Melayat orang sakit, mengantar jenazah, mendoakan orang yang bersin, menjawab salam, menolong orang yang dizalimi, menghadiri undangan, dan menjauhi sumpah." Shahih Bukhari kitab al-Madhalim, bab 5, hadits no. 2445 (Fat-hu al-Baari, 5/99)

وَيَصِفُ ابْنُ الْجَوْزِيِّ الظُّلْمَ

Ibnul-Jauzi memberikan gambaran tentang kezaliman

بِأَنَّ الْمَعْصِيَةَ فِيهِ أَشَدُّ مِنْ غَيْرِهَا مِنَ الْمَعَاصِي مُعَلِّلًا ذَلِكَ

Bahwa "maksiat dengan kezaliman lebih besar dosanya dibandingkan dengan kemaksiatan yang tidak diiringi dengan kezaliman.

بِقَوْلِهِ : لِأَنَّهُ لَا يَقَعُ غَالِبًا إِلَّا بِالضَّعِيفِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ عَلَى الِانْتِصَارِ

Alasannya, kezaliman biasanya tidak terjadi kecuali pada orang lemah yang tidak dapat melawan." Diambil dari Fat-hu al-Baari, 5/100, kitab al-Madhalim, bab 8, dari penjelasan hadits no. 2447.

وَلَيْسَ مِنْ شَأْنِ الْمُسْلِمِ أَنْ يَرْتَضِيَ لِنَفْسِهِ إِيقَاعَ الظُّلْمِ بِأَخِيهِ

Seorang muslim tidak akan rela apabila saudaranya men- dapatkan kezaliman.

أَوْ أَنْ يَدَعَ أَخَاهُ فَرِيسَةً بِيَدِ ظَالِمٍ يُذِلُّهُ

Atau, ia tidak akan rela membiarkan saudaranya ada dalam penindasan orang-orang zalim.

وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ

Rasulullahﷺ bersabda,

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ

Sesama muslim adalah saudara. Tidak boleh menzalimi dan menyakitinya

وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ

Barangsiapa selalu menolong saudaranya, maka Allah akan menolongnya.

وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Dan barangsiapa meringankan penderitaan saudaranya, maka Allah akan meringankan penderitaannya pada hari Kiamat.

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dan barangsiapa menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat." Shahih Bukhari kitab al-Madhalim, bab 3, hadits no. 2442 (Fat-hu al-Baari, 5/97).

فَهَلْ بَعْدَ هَذَا تَرَى مُصِيبَةً وَاقِعَةً بِأَخِيكَ وَتُسْلِمُهُ لَهَا وَتَخْذُلُهُ فِيهَا

Setelah membaca hadis tersebut, apakah reaksimu apabila engkau melihat saudaramu dizalimi orang lain?

أَمْ تَحْتَقِنُ دِمَاؤُكَ فِي عُرُوقِكَ وَلَا يَرُوقُ لَكَ نَوْمٌ حَتَّى تَبْذُلَ مَا تَسْتَطِيعُ مِنْ جَهْدٍ لِكَشْفِ مَا نَزَلَ مِنْ ضُرٍّ بِأَخِيكَ ؟

Apakah engkau akan berdiam diri dan membiarkannya, atau darahmu akan bergolak dan engkau tidak akan bisa tidur kecuali jika engkau menolongnya untuk meringankan beban yang telah menimpa saudaramu?

لَقَدْ كَانَ أَبْنَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ يَتَنَاصَرُونَ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ

Sesungguhnya, karakter penduduk jahiliah itu suka saling menolong di antara mereka, baik dalam kebaikan maupun dalam keburukan.

وَأَرَادَ الْإِسْلَامُ لِهَذَا الْخُلُقِ أَنْ يَسْتَمِرَّ بِوَجْهِهِ الْخَيِّرِ مُعْطِيًا لَهُ مَعْنًى جَدِيدًا

Islam menginginkan kebiasaan ini terus berlanjut, namun hanya dalam kebaikan. Hal inilah yang diberikan makna baru oleh Islam.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

Untuk itu Rasulullah ﷺ bersabda, "Tolonglah saudaramu, baik yang zalim maupun yang dizalimi."

فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا

Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, aku akan menolongnya apabila ia dizalimi, tetapi bagaimana menolongnya jika ia adalah orang zalim?"

أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ ؟ قَالَ : تَحْجُزُهُ - أَوْ تَمْنَعُهُ - مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

Rasulullahﷺ menjawabnya, "Engkau harus menahannya atau mencegahnya berbuat zalim. Dengan hal itu, berarti engkau telah menolongnya," Shahih Bukhari kitab al-Ikrah, bab 7, hadits 6952 (Fat-hu al-Baari, 12/323)

فَإِنْ كُنْتَ تَنْصُرُ قَوْمَكَ وَعَشِيرَتَكَ وَعَصَبَتَكَ، وَتَمْنَعُهُمْ بِكُلِّ الْوَسَائِلِ مِنْ إِيقَاعِ ظُلْمٍ بِمُسْلِمٍ

Apabila engkau menolong bangsamu, keluargamu dan sukumu serta mencegah mereka dari perbuatan zalim terhadap seorang muslim

مِنْهُمْ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ -

(baik dari kelompok mereka sendiri maupun orang lain),

فَتِلْكَ هِيَ النُّصْرَةُ

Berarti engkau telah menolongnya (dari perbuatan zalim).

وَإِلَّا فَهِيَ الْعَصَبِيَّةُ الْمَقِيتَةُ الْمُنْتِنَةُ؛ الَّتِي أُمِرْنَا بِأَنْ نَدَعَهَا

Apabila engkau membiarkan mereka (berbuat zalim), berarti engkau adalah orang yang fanatik buta, yang berbahaya dan diperintahkan untuk meninggalkannya.

وَقَدْ قَالَ فِي ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُشَبِّهًا حَالَ صَاحِبِ الْعَصَبِيَّةِ بِبَعِيرٍ هَلَكَ

Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ mengibaratkan orang yang fanatik dengan keledai bodoh (sesat), dalam sabdanya,

مَنْ نَصَرَ قَوْمَهُ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ، فَهُوَ كَالْبَعِيرِ الَّذِي رُدِّيَ، فَهُوَ يَنْزِعُ بِذَنَبِهِ

"Barangsiapa yang menolong bangsanya tidak dalam kebenaran, maka ia bagaikan seekor keledai yang berjalan mundur dengan menggunakan petunjuk ekornya." Shahih Sunan Abu Daud, al-Bani dalam kitab al-Adab, bab 121, hadits no. 4270/5117 (shahih)

وَالْقَادِرُ عَلَى النُّصْرَةِ لِأَخِيهِ الْمُسْلِمِ بِكَلِمَةٍ أَوْ شَفَاعَةٍ أَوْ إِشَارَةٍ بِخَيْرٍ

Barangsiapa yang mampu menolong saudaranya, maka lakukanlah, baik dengan lisan, nasihat, maupun isyarat yang baik.

إِنْ لَمْ يُقَدِّمْهَا مَعَ قُدْرَتِهِ عَلَى ذَلِكَ وَهُوَ يَرَى بِعَيْنِهِ إِذْلَالَ أَخِيهِ

Dan apabila ia tidak menolongnya, padahal ia mampu dan menyaksikannya dengan matanya sendiri atas penghinaan yang menimpa pada saudaranya,

أَلْبَسَهُ اللَّهُ لِبَاسَ ذُلٍّ أَمَامَ الْخَلْقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؛

Maka Allah akan memakaikan baju kehinaan kepadanya di depan makhluk-Nya pada hari kiamat,

لِتَقْصِيرِهِ فِي نُصْرَةِ أَخِيهِ وَرَفْعِ الذُّلِّ عَنْهُ، وَفِي ذَلِكَ

Karena ia enggan menolong saudaranya dan tidak ingin mengangkat kehinaannya.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : مَنْ أُذِلَّ عِنْدَهُ مُؤْمِنٌ فَلَمْ يَنْصُرْهُ - وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَنْصُرَهُ – أَذَلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang melihat seorang mukmin dihina dan tidak menolongnya, padahal ia mampu menolongnya, maka Allah akan menghinakannya diantara pemuka-pemuka manusia pada hari Kiamat." Musnad Ahmad, 31 487, Abdurrahman al-Banna menilai hadits ini sebagai hadits hasan (Bulugh al-Amani, 19/69)

لَا بُدَّ لِكُلِّ دَعْوَةٍ مِنْ رِجَالٍ مُتَشَبِّعِينَ بِخُلُقِ النُّصْرَةِ

Dalam aktivitas dakwah harus ada orang yang berkarakter penolong.

وَإِلَّا فَلَنْ تُكْتَبَ لَهَا الْحَيَاةُ

Jika tidak, dakwah tidak akan hidup (ada).

وَأَدْنَاهَا النُّصْرَةُ بِالْمَعُونَةِ وَرَفْعِ الْمَظَالِمِ،

Minimal, memberikan bantuan dan menghilangkan kezaliman.

وَأَعْلَاهَا النُّصْرَةُ فِي الْجِهَادِ

Maksimal, memberikan pertolongan ketika berada dalam medan jihad.

وَحِينَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعْرِضُ دَعْوَتَهُ فِي الْمَوَاسِمِ بِمَنًى كَانَ يَقُولُ

Ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan dakwahnya pada musim haji di Mina, beliau bersabda,

مَنْ يُؤْوِينِي ؟ مَنْ يَنْصُرُنِي ؟

"Siapakah di antara kalian yang akan melindungiku dan siapakah pula yang akan menolongku." Musnad Ahmad, 3/322, al-Hakim telah menshahihkan sanad hadits ini, begitu pula az-Zahabi. Ibnu Katsir berkata dalam kitab tarikhnya, "Hadits ini memiliki sanad shahih dan memenuhi standar persyaratan hadits Muslim." (Bulugh Al-Mani, 20/270)

وَحِينَ بُويِعَ بَيْعَةَ الْعَقَبَةِ اشْتَرَطَ النُّصْرَةَ

Ketika dibaiat pada baiat Aqabah, beliau mensyaratkan harus menolong.

فَقَالَ: «... وَأَسْأَلُكُمْ لِنَفْسِي وَلِأَصْحَابِي أَنْ تُؤْوُونَا، وَتَنْصُرُونَا وَتَمْنَعُونَا مِمَّا مَنَعْتُمْ مِنْهُ أَنْفُسَكُمْ

Beliau bersabda, "Aku meminta kalian untuk menolong dan melindungi diriku dan sahabat-sahabatku, serta membela kami sebagaimana engkau membela dirimu sendiri." Musnad Ahmad, 4/ 119, Bulugh al-Mani, 20/ 276 (para perawinya tepercaya)

وَحَتَّى وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ كَانَ يَقُولُ لَهُ فِي مَطْلَعِ الرِّسَالَةِ

Bahkan,  Waraqah bin Naufal pun berkata sebelum risalah diturunkan,

وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا

"Apabila aku masih hidup saat engkau diangkat menjadi Nabi, maka aku akan menolongmu dengan sekuatnya." Shahih Bukhari kitab Bidil Wahyu, bab 3, hadits no. 3 (Fat-hu al-Baari, 1/ 23)

وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَنْصُرَ رَسُولَهُ، وَلَكِنَّهُ تَرَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ حَظًّا فِي النُّصْرَةِ يُؤَدُّونَهُ، وَيُسْأَلُونَ عَنْهُ وَيُؤْجَرُونَ عَلَيْهِ

Allah mampu menolong Rasul-Nya, tetapi Allah memberikan kesempatan kepada orang mukmin untuk mengambil bagian dalam memberikan pertolongan, mereka diminta untuk memberikan pertolongan hingga Allah memberinya pahala.

قَالَ تَعَالَى : هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ (الْأَنْفَالِ: ٦٢)

Allah berfirman, "Dialah yang memperkuat engkau dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang yang beriman." (an-Anfaal [8]: 62)

وَالْمُفْلِحُونَ هُمُ الَّذِينَ - آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ - [الْأَعْرَافِ : ١٥٧]

Orang-orang yang beruntung adalah, "...Orang-orang yang beriman kepada-Nya, memuliakan-Nya, dan menolong-Nya..." (al-A'raaf [7]: 157)

وَقَدْ شُرِعَ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَدْعُوَ بِالنُّصْرَةِ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ

Dan telah ditetapkan kepada orang mukmin untuk meminta pertolongan, sebagaimana dalam sebuah hadits,

«رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ، وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرِ الْهُدَى إِلَيَّ، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ»

Ya Tuhanku, kuatkan aku dan janganlah Engkau lemahkan aku. Tolonglah aku dan jangan Kau biarkan aku tidak Kau-tolong. Berilah aku kemampuan agar aku tidak tertipu. Berilah aku petunjuk. Mudahkanlah aku untuk mendapatkan hidayah dan tolonglah aku dari orang yang berbuat zalim kepadaku." Shahih Sunan Ibnu Majah, al-Bani dalam kitab ad-Dua, bab 2, hadits no. 3088/3830 (shahih)

وَلَكِنَّ هَذِهِ النُّصْرَةَ لَا تَكُونُ غَالِبًا بِسَبَبٍ غَيْبِيٍّ

Tetapi biasanya, pertolongan tidak datang dengan sebab yang ghaib.

وَإِنَّمَا بِتَسْخِيرِكَ يَا صَاحِبَ خُلُقِ (النُّصْرَةِ) لِتُؤَدِّيَ دَوْرَكَ بِحَمِيَّتِكَ الْإِيمَانِيَّةِ، وَغَيْرَتِكَ لِلْحَقِّ

Ia akan datang jika engkau berusaha sebagai orang yang menolong, sehingga peranmu dan semangatmu akan kebenaran itulah yang akan menyampaikan pada perlindungan keimananmu.

أَمَّا الْخِذْلَانُ فِي سَاعَةِ الْحَاجَةِ فَشَأْنُ الْمُنَافِقِينَ مَعَ أَوْلِيَائِهِمْ

Adapun orang yang meremehkan saat dibutuhkan, mereka tidak jauh berbeda kondisinya dengan orang-orang munafik dan para walinya.

الَّذِينَ قَالَ اللَّهُ فِيهِمْ : لَئِنْ أُخْرِجُوا لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِنْ قُوتِلُوا لَا يَنْصُرُونَهُمْ ... [الْحَشْرِ: ١٢]

Untuk menerangkan karakter mereka, Allah berfirman, "Sesungguhnya, jika mereka diusir, (kaum munafik) itu tiada akan berangkat bersama-sama dengan mereka. Kalau mereka diperangi, tiadalah kaum munafik itu akan membantunya." (al-Hasyr [59]: 12)

وَقَدِ اشْتَرَطَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى الْجَالِسِينَ عَلَى قَارِعَةِ الطَّرِيقِ أَنْ يَتَحَمَّلُوا ضَرِيبَةَ جُلُوسِهِمْ

Rasulullahﷺ telah mensyaratkan orang-orang yang duduk di pinggir jalan untuk melaksanakan kewajibannya, yaitu dengan membayar pajak.

هَذَا، وَشُهُودُهُمْ لِمَوَاقِفَ تَقْتَضِي مِنْهُمُ التَّدَخُّلَ وَأَدَاءَ الْوَاجِبِ

Sebab, mereka adalah saksi akan kejadian yang ada di jalanan sehingga mereka diharuskan ikut turun tangan dan melaksanakan kewajibannya.

فَقَالَ لَهُمْ: إِنْ أَبَيْتُمْ إِلَّا أَنْ تَجْلِسُوا فَاهْدُوا السَّبِيلَ، وَرُدُّوا السَّلَامَ، وَأَعِينُوا الْمَظْلُومَ

Rasulullahﷺ bersabda kepada mereka, "Jika masih tetap ingin duduk di sana, maka berilah jalan (bagi yang ingin melewati). Jawablah salam (orang yang memberi salam) dan bantulah orang yang dizalimi." Musnad Ahmad, 4/282, dan al-Bani telah mengategorikan hadits ini sebagai hadits shahih dalam kitabnya Shahih Jami', hadits no. 1407

وَالْمُبَادَرَةُ إِلَى نُصْرَةِ الْأَخِ فِي اللَّهِ فِي الدُّنْيَا

Berinisiatif menolong seseorang karena Allah di dunia,

وَخَاصَّةً فِي حَالِ غِيَابِهِ حَيْثُ تَسْقُطُ الْمُجَامَلَاتُ وَتَظْهَرُ حَقِيقَةُ الْمَشَاعِرِ

Pada saat tidak ada orang yang melihatnya membutuhkan pertolongan dan ikhlas karena Allah menolongnya,

وَتَخْلُصُ النُّصْرَةُ لِلَّهِ يَكُونُ مِنْ ثَمَرَتِهَا أَنْ يُسَخِّرَ اللَّهُ لِلنَّاصِرِ مَنْ يَقِفُ إِلَى جَانِبِهِ وَيَنْصُرُهُ فِي الدُّنْيَا وَيَتَوَلَّاهُ اللَّهُ فِي الْآخِرَةِ

Maka Allah akan menolong si penolong di dunia dan akan menjadi Pelindungnya di akhirat nanti.

كَمَا فِي الْحَدِيثِ

Dalam sebuah hadits disebutkan,

مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، نَصَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Barangsiapa yang menolong saudaranya tanpa dilihat orang (semata-mata karena Allah), maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat. Shahih al-Jami'hadits no. 6574 (hasan)

وَأَوْجَبُ صُوَرِ النُّصْرَةِ مَا يَكُونُ فِيهِ دَفْعُ أَذًى مِنْ أَمِيرٍ أَوْ ذِي سُلْطَانٍ أَوْ صَاحِبِ سَطْوَةٍ

Bentuk pertolongan yang lebih wajib dilakukan adalah menolak penindasan yang dilakukan oleh raja atau penguasa atau orang yang memiliki pengaruh.

لِأَنَّ هَؤُلَاءِ أَذَاهُمْ شَدِيدٌ

Sebab, penindasan yang dilakukan oleh mereka lebih kejam.

وَنَاصِحُوهُمْ قَلِيلٌ وَالْمُتَمَلِّقُونَ لَهُمْ كَثِيرٌ فَيَضِيعُ الْحَقُّ فِي غَمْرَةِ الْمُجَامَلَاتِ وَالْمُدَارَاةِ

Jika penasihatnya hanya sedikit dan para penjilatnya banyak, maka kebenaran akan hilang ditelan oleh basa- basi dan pemutarbalikkan fakta.

وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَتَبَرَّأُ مِمَّنْ يُعِينُهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، وَلَا يَنْصُرُهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَأَهْوَائِهِمْ بِرَدْعِهِمْ عَنِ الظُّلْمِ

Rasulullahﷺ telah melepaskan diri dari orang yang melindungi kezaliman, dan tidak menolong mereka dengan menahan dan melawan hawa nafsunya dari perbuatan zalim.

وَقَدْ جَاءَ هَذَا الْمَعْنَى فِي قَوْلِهِ ﷺ : «إِنَّهُ سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ، مَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ

Rasulullahﷺ bersabda, "Suatu saat nanti, setelah aku meninggal, akan ada para penguasa yang dibenarkan kebohongannya dan dibantu kezalimannya.

فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Maka, orang itu tidak termasuk umatku dan aku bukan bagian darinya. Aku tidak akan memberikan pertolongan untuknya.

وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ، وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Barangsiapa yang tidak membenarkan kebohongannya dan tidak menolong kezalimannya, maka ia termasuk umatku dan aku bagian darinya, dan aku akan memberikan pertolongan kepadanya. Shahih Sunan an-Nasa'i, al-Bani dalam kitab al-Bai'ah, bab 35, hadits no. 3923 (shahih)

وَإِذَا كَانَ مَنْعُ ظُلْمِ الْمُلُوكِ بِنُصْرَةِ الْمُسْتَضْعَفِينَ خُلُقًا يَتَجَمَّلُ بِهِ غَيْرُ الْمُسْلِمِينَ

Apabila mencegah kezaliman para penguasa dengan menolong orang-orang yang lemah adalah akhlak yang dimiliki oleh orang selain muslim,

فَالْمُسْلِمُونَ بِهِ أَوْلَى وَأَحْرَى، وَقَدْ وَصَفَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ الرُّومَ بِخِصَالٍ اسْتَحْسَنَهَا فِيهِمْ

Maka umat Islam lebih berhak dan utama untuk memilikinya, Amru bin Ash menggambarkan beberapa sikap orang Romawi yang dikaguminya.

فَقَالَ : إِنَّ فِيهِمْ لَخِصَالًا أَرْبَعًا : إِنَّهُمْ لَأَحْلَمُ النَّاسِ عِنْدَ فِتْنَةٍ، وَأَسْرَعُهُمْ إِفَاقَةً بَعْدَ مُصِيبةٍ، وَأَوْشَكُهُمْ كَرَّةً بَعْدَ فَرَّةٍ، وَخَيْرُهُمْ لِمِسْكِينٍ وَيَتِيمٍ وَضَعِيفٍ، وَخَامِسَةٌ حَسَنَةٌ جَمِيلَةٌ : وَأَمْنَعُهُمْ مِنْ ظُلْمِ الْمُلُوكِ

Ia berkata, "Orang Romawi mempunyai empat sifat. Mereka adalah orang yang paling bijak di saat terjadi fitnah (huru-hara); orang yang paling cepat sadar di saat tertimpa bencana; orang yang cepat bersatu setelah bercerai-berai; dan orang yang paling baik kepada orang miskin, yatim piatu, dan orang lemah. Dan sifat kelimanya adalah sikap yang baik dan mulia, yaitu mencegah kezaliman para penguasa." Shahih Muslim kitab al-Fitan, bab 10, hadits no. 35/2898 (Syarh an-Nawawi, 9/239)

وَمَنْ كَانَتْ نُصْرَتُهُ بِصُورَتِهَا الْجَاهِلِيَّةِ

Barangsiapa yang menolong seseorang dalam bentuk jahiliah,

نُصْرَةً عَلَى الْبَاطِلِ، وَدَوْرَانًا مَعَ الْعَصَبِيَّةِ، وَإِعَانَةً عَلَى الظُّلْمِ

Yaitu menolong dalam kebatilan untuk membela fanatisme dan membantu orang zalim,

فَقَدْ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ

Maka Allah telah marah kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,

مَنْ أَعَانَ عَلَى خُصُومَةٍ بِظُلْمٍ أَوْ يُعِينُ عَلَى ظُلْمٍ لَمْ يَزَلْ فِي سَخَطِ اللَّهِ حَتَّى يَنْزِعَ

Barangsiapa yang membantu pertengkaran dengan kezaliman (membantu orang zalim), maka Allah akan marah kepadanya sampai ia berhenti melakukannya. Shahih Sunan Ibnu Majah, al-Bani dalam kitab al-Ahkam, bab 6, hadits no. 1878/2320 (shahih)

،فَكُنْ نَصِيرًا لِلْحَقِّ حَيْثُ كَانَ

Oleh karena itu, maka jadilah penolong dalam kebenaran di mana pun engkau berada.

وَإِلَّا فَلَا تَطْمَعْ بِوِسَامِ الْجِهَادِ وَلَا شَرَفِ الِاسْتِشْهَادِ

Jika tidak, engkau jangan berharap mendapat hadiah jihad dan kemuliaan mati syahid.

: خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ:

KESIMPULAN

النُّصْرَةُ اسْتِعْدَادٌ لِنُصْرَةِ الْمُسْتَضْعَفِ، وَهِيَ ضَرِيبةُ الْأُخُوَّةِ

Memberikan pertolongan adalah menyiapkan diri untuk menolong orang yang lemah, dan hal itu menjadi bagian dari persaudaraan.

صَاحِبُ (النُّصْرَةِ) يَنْصُرُهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ

Orang yang suka menolong akan ditolong Allah pada saat ia membutuhkan pertolongan.

الظُّلْمُ لَا يَقَعُ غَالِبًا - إِلَّا عَلَى الضَّعِيفِ فَهَلْ تُسْلِمُهُ أَوْ تَخْذُلُهُ؟

Kezaliman biasanya tidak terjadi kecuali pada orang lemah, apakah engkau akan menyelamatkannya atau membiarkannya.

الْجَاهِلِيُّونَ يَتَنَاصَرُونَ فَكَيْفَ تَكُونُ النُّصْرَةُ لِلْمُسْلِمِ ؟

Orang-orang jahiliah itu suka saling menolong. Maka, apakah pertolongan dapat diberikan kepada seorang muslim?

الدَّعَوَاتُ تَقْوَى بِالنُّصْرَةِ لِمَنْ يَقُومُ بِتَبْلِيغِهَا

Dakwah akan kuat apabila orang yang sedang melakukan dakwah dibantu.

يُشْرَعُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَدْعُوَ رَبَّهُ بِأَنْ يَنْصُرَهُ

Telah ditetapkan bagi seorang mukmin untuk meminta pertolongan kepada Tuhannya.

تَتَوَجَّبُ النُّصْرَةُ بِشُهُودِ مَوَاقِفِ الظُّلْمِ أَوْ الْعِلْمِ بِهَا

Memberikan pertolongan terjadi apabila menyaksikan fenomena-fenomena kezaliman atau mengetahui akan hal itu.

حَقِيقَةُ النُّصْرَةِ الْخَالِصَةِ نُصْرَتُكَ لِأَخِيكَ فِي غَيْبَتِهِ

Hakikat pertolongan yang ikhlas adalah memberikan pertolongan bagi saudaramu tanpa ada yang melihat.

أَوْجَبُ صُوَرِ النُّصْرَةِ بِدَفْعِ ظُلْمِ ذَوِي السُّلْطَانِ

Bentuk pertolongan yang lebih wajib dilakukan adalah menolak kezaliman yang dilakukan oleh para penguasa.

مِمَّا اسْتَحْسَنَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ فِي الرُّومِ مَنْعُهُمْ ظُلْمَ الْمُلُوكِ

Sikap orang Romawi yang membuat kagum Amru bin Ash adalah sikap mereka dalam mencegah kezaliman para penguasa.

فِي النُّصْرَةِ لِلْعَصَبِيَّةِ، وَالْإِعَانَةِ عَلَى الْبَاطِلِ، سَخَطُ اللَّهِ

Menolong karena fanatisme atau membantu dalam kebatilan dibenci Allah.

∷∷∷∷∷∷∷

Sumber:

هَذِهِ أَخْلَاقُنَا حِينَ نَكُونُ مُؤْمِنِينَ

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan share - Semoga bermanfaat


Tidak ada komentar: