BAB 01
AKHLAK YANG HARUS DIMILIKI PADA WAKTU BERJUANG
PASAL 03
النصرة
Memberikan Pertolongan
انصُرْ أخاك ظالمًا أو مظلومًا
"Tolonglah saudaramu, baik ia orang yang zalim
atau yang dizalimi."
كَمْ فِي الْمُسْلِمِينَ مِنْ ذَوِي الْحَاجَةِ
وَأَصْحَابِ الْهُمُومِ وَصَرْعَى الْمَظَالِمِ وَجَرْحَى الْقُلُوبِ!!
Berapa banyak umat Islam yang membutuhkan bantuan,
bersedih, tertindas, dan sakit hati?
الَّذِينَ لَمْ يَجِدُوا مَنْ يَطْرُقُ بَابَهُمْ،
أَوْ يَسْأَلُ عَنْ حَالِهِمْ، أَوْ يَسْعَى فِي كَشْفِ الْغَمِّ عَنْهُمْ
بِدَافِعٍ مِنْ خُلُقِ - (النُّـصْرَةِ)
Tidak ada uluran tangan yang akan membantunya,
mempedulikan kondisinya, dan berusaha mengangkat penderitaannya dengan
memberikan pertolongan.
نَعْنِي بِالنُّصْرَةِ تِلْكَ الْغِيرَةَ
الْإِيمَانِيَّةَ الَّتِي تَدْفَعُ الْمُسْلِمَ لِرَفْعِ الظُّلْمِ عَنْ أَخِيهِ
الْمُسْلِمِ الْمُسْتَضْعَفِ، أَوْ لِمَدِّ يَدِ الْعَوْنِ إِلَيْهِ
Yang dimaksud dengan pertolongan adalah semangat
keimanan seorang muslim untuk mengangkat kezaliman saudaranya yang lemah atau
mengulurkan tangan bantuan kepadanya.
وَبِقَدْرِ مَا تُمَارِسُ هَذَا الْخُلُقَ فِي
حَيَاتِكَ الْيَوْمِيَّةِ
Dengan kemampuannya menjalankan akhlak ini dalam
kehidupan sehari- hari,
تَكُونُ أَقْدَرَ عَلَى الِاسْتِجَابَةِ لِنِدَاءِ
دَاعِي الْجِهَادِ لِمُنَازَلَةِ الْبُغَاةِ أَوْ الْكَافِرِينَ
Maka kita akan lebih mampu memenuhi panggilan jihad
untuk melawan para pembangkang dan orang-orang kafir.
الْأُخُوَّةُ الْإِيمَانِيَّةُ ضَرِيبَتُهَا
النُّصْرَةُ
Persaudaraan seiman tebusannya adalah memberikan
pertolongan.
وَالْقَائِمُ بِحَقِّ النُّصْرَةِ أَوِ
الْمُتَخَاذِلُ عَنْهَا؛ كُلٌّ مِنْهُمَا يَلْقَى ثَمَرَةَ ذَلِكَ فِي الدُّنْيَا
قَبْلَ الْآخِرَةِ جَزَاءً وِفَاقًا كَمَا جَاءَ فِي قَوْلِهِ
Orang yang memberikan pertolongan atau enggan
memberikan pertolongan akan menuai hasilnya di dunia, sebelum di akhirat;
balasan yang layak, sebagaimana ada dalam sebuah sabdanya,
مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ
مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ، وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ
Tidaklah seseorang yang membiarkan kehormatan umat
Islam dicemari, dan harga dirinya dilangkahi,
إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ
يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ
Kecuali Allah akan membiarkan dirinya pada saat ia
membutuhkan pertolongan. Musnad Ahmad, 4/30, kemudian al-Bani menghasankan
hadits tersebut dalam kitabnya Shahih al-Jami' dengan hadits no. 5690
وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ امْرَأً مُسْلِمًا فِي
مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ، وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ
Dan tidaklah seseorang yang menolong seorang muslim
yang harga dirinya dilangkahi, dan kehormatannya dicemari,
إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ
نُصْرَتَهُ
Kecuali Allah akan menolongnya pada saat ia
membutuhkan pertolongan-Nya."
وَقَدْ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِسَبْعٍ كَانَ
مِنْهَا - نَصْرُ الْمَظْلُومِ ونصه
Rasulullahﷺ
telah memerintahkan kita dengan tujuh perkara, di antaranya yaitu, menolong
orang yang dizalimi." Adapun teks haditsnya adalah sebagai berikut
أَمَرَنَا النَّبِيُّ ﷺ : بِسَبْعٍ، وَنَهَانَا عَنْ
سَبْعٍ
Nabiﷺ memerintahkan dan
melarang kami dengan tujuh hal. Beliau menyebutkannya:
فَذَكَرَ عِيَادَةَ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعَ
الْجَنَائِزِ، وَتَشْمِيتَ الْعَاطِسِ، وَرَدَّ السَّلَامِ، وَنَصْرَ
الْمَظْلُومِ، وَإِجَابَةَ الدَّاعِي، وَإِبْرَارَ الْقَسَمِ
Melayat orang sakit, mengantar jenazah, mendoakan
orang yang bersin, menjawab salam, menolong orang yang dizalimi, menghadiri
undangan, dan menjauhi sumpah." Shahih Bukhari kitab al-Madhalim, bab 5,
hadits no. 2445 (Fat-hu al-Baari, 5/99)
وَيَصِفُ ابْنُ الْجَوْزِيِّ الظُّلْمَ
Ibnul-Jauzi memberikan gambaran tentang kezaliman
بِأَنَّ الْمَعْصِيَةَ فِيهِ أَشَدُّ مِنْ غَيْرِهَا
مِنَ الْمَعَاصِي مُعَلِّلًا ذَلِكَ
Bahwa "maksiat dengan kezaliman lebih besar
dosanya dibandingkan dengan kemaksiatan yang tidak diiringi dengan kezaliman.
بِقَوْلِهِ : لِأَنَّهُ لَا يَقَعُ غَالِبًا إِلَّا
بِالضَّعِيفِ الَّذِي لَا يَقْدِرُ عَلَى الِانْتِصَارِ
Alasannya, kezaliman biasanya tidak terjadi kecuali
pada orang lemah yang tidak dapat melawan." Diambil dari Fat-hu al-Baari,
5/100, kitab al-Madhalim, bab 8, dari penjelasan hadits no. 2447.
وَلَيْسَ مِنْ شَأْنِ الْمُسْلِمِ أَنْ يَرْتَضِيَ
لِنَفْسِهِ إِيقَاعَ الظُّلْمِ بِأَخِيهِ
Seorang muslim tidak akan rela apabila saudaranya
men- dapatkan kezaliman.
أَوْ أَنْ يَدَعَ أَخَاهُ فَرِيسَةً بِيَدِ ظَالِمٍ
يُذِلُّهُ
Atau, ia tidak akan rela membiarkan saudaranya ada
dalam penindasan orang-orang zalim.
وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ
Rasulullahﷺ
bersabda,
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا
يُسْلِمُهُ
Sesama muslim adalah saudara. Tidak boleh menzalimi
dan menyakitinya
وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي
حَاجَتِهِ
Barangsiapa selalu menolong saudaranya, maka Allah
akan menolongnya.
وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ
اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Dan barangsiapa meringankan penderitaan saudaranya,
maka Allah akan meringankan penderitaannya pada hari Kiamat.
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
Dan barangsiapa menutupi aib saudaranya, maka Allah
akan menutupi aibnya pada hari Kiamat." Shahih Bukhari kitab al-Madhalim,
bab 3, hadits no. 2442 (Fat-hu al-Baari, 5/97).
فَهَلْ بَعْدَ هَذَا تَرَى مُصِيبَةً وَاقِعَةً
بِأَخِيكَ وَتُسْلِمُهُ لَهَا وَتَخْذُلُهُ فِيهَا
Setelah membaca hadis tersebut, apakah reaksimu
apabila engkau melihat saudaramu dizalimi orang lain?
أَمْ تَحْتَقِنُ دِمَاؤُكَ فِي عُرُوقِكَ وَلَا
يَرُوقُ لَكَ نَوْمٌ حَتَّى تَبْذُلَ مَا تَسْتَطِيعُ مِنْ جَهْدٍ لِكَشْفِ مَا
نَزَلَ مِنْ ضُرٍّ بِأَخِيكَ ؟
Apakah engkau akan berdiam diri dan membiarkannya,
atau darahmu akan bergolak dan engkau tidak akan bisa tidur kecuali jika engkau
menolongnya untuk meringankan beban yang telah menimpa saudaramu?
لَقَدْ كَانَ أَبْنَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ
يَتَنَاصَرُونَ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ
Sesungguhnya, karakter penduduk jahiliah itu suka
saling menolong di antara mereka, baik dalam kebaikan maupun dalam keburukan.
وَأَرَادَ الْإِسْلَامُ لِهَذَا الْخُلُقِ أَنْ
يَسْتَمِرَّ بِوَجْهِهِ الْخَيِّرِ مُعْطِيًا لَهُ مَعْنًى جَدِيدًا
Islam menginginkan kebiasaan ini terus berlanjut,
namun hanya dalam kebaikan. Hal inilah yang diberikan makna baru oleh Islam.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : انْصُرْ أَخَاكَ
ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا
Untuk itu Rasulullah ﷺ bersabda, "Tolonglah saudaramu, baik yang zalim
maupun yang dizalimi."
فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ
إِذَا كَانَ مَظْلُومًا
Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, aku
akan menolongnya apabila ia dizalimi, tetapi bagaimana menolongnya jika ia
adalah orang zalim?"
أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ
؟ قَالَ : تَحْجُزُهُ - أَوْ تَمْنَعُهُ - مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ
Rasulullahﷺ
menjawabnya, "Engkau harus menahannya atau mencegahnya berbuat zalim.
Dengan hal itu, berarti engkau telah menolongnya," Shahih Bukhari kitab
al-Ikrah, bab 7, hadits 6952 (Fat-hu al-Baari, 12/323)
فَإِنْ كُنْتَ تَنْصُرُ قَوْمَكَ وَعَشِيرَتَكَ
وَعَصَبَتَكَ، وَتَمْنَعُهُمْ بِكُلِّ الْوَسَائِلِ مِنْ إِيقَاعِ ظُلْمٍ
بِمُسْلِمٍ
Apabila engkau menolong bangsamu, keluargamu dan
sukumu serta mencegah mereka dari perbuatan zalim terhadap seorang muslim
مِنْهُمْ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ
-
(baik dari kelompok mereka sendiri maupun orang
lain),
فَتِلْكَ هِيَ النُّصْرَةُ
Berarti engkau telah menolongnya (dari perbuatan
zalim).
وَإِلَّا فَهِيَ الْعَصَبِيَّةُ الْمَقِيتَةُ
الْمُنْتِنَةُ؛ الَّتِي أُمِرْنَا بِأَنْ نَدَعَهَا
Apabila engkau membiarkan mereka (berbuat zalim),
berarti engkau adalah orang yang fanatik buta, yang berbahaya dan diperintahkan
untuk meninggalkannya.
وَقَدْ قَالَ فِي ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
مُشَبِّهًا حَالَ صَاحِبِ الْعَصَبِيَّةِ بِبَعِيرٍ هَلَكَ
Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ mengibaratkan orang yang fanatik dengan keledai bodoh
(sesat), dalam sabdanya,
مَنْ نَصَرَ قَوْمَهُ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ، فَهُوَ
كَالْبَعِيرِ الَّذِي رُدِّيَ، فَهُوَ يَنْزِعُ بِذَنَبِهِ
"Barangsiapa yang menolong bangsanya tidak
dalam kebenaran, maka ia bagaikan seekor keledai yang berjalan mundur dengan
menggunakan petunjuk ekornya." Shahih Sunan Abu Daud, al-Bani dalam kitab
al-Adab, bab 121, hadits no. 4270/5117 (shahih)
وَالْقَادِرُ عَلَى النُّصْرَةِ لِأَخِيهِ
الْمُسْلِمِ بِكَلِمَةٍ أَوْ شَفَاعَةٍ أَوْ إِشَارَةٍ بِخَيْرٍ
Barangsiapa yang mampu menolong saudaranya, maka
lakukanlah, baik dengan lisan, nasihat, maupun isyarat yang baik.
إِنْ لَمْ يُقَدِّمْهَا مَعَ قُدْرَتِهِ عَلَى ذَلِكَ
وَهُوَ يَرَى بِعَيْنِهِ إِذْلَالَ أَخِيهِ
Dan apabila ia tidak menolongnya, padahal ia mampu
dan menyaksikannya dengan matanya sendiri atas penghinaan yang menimpa pada
saudaranya,
أَلْبَسَهُ اللَّهُ لِبَاسَ ذُلٍّ أَمَامَ الْخَلْقِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ؛
Maka Allah akan memakaikan baju kehinaan kepadanya
di depan makhluk-Nya pada hari kiamat,
لِتَقْصِيرِهِ فِي نُصْرَةِ أَخِيهِ وَرَفْعِ
الذُّلِّ عَنْهُ، وَفِي ذَلِكَ
Karena ia enggan menolong saudaranya dan tidak
ingin mengangkat kehinaannya.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : مَنْ أُذِلَّ عِنْدَهُ
مُؤْمِنٌ فَلَمْ يَنْصُرْهُ - وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَنْصُرَهُ – أَذَلَّهُ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang melihat seorang mukmin
dihina dan tidak menolongnya, padahal ia mampu menolongnya, maka Allah akan
menghinakannya diantara pemuka-pemuka manusia pada hari Kiamat." Musnad
Ahmad, 31 487, Abdurrahman al-Banna menilai hadits ini sebagai hadits hasan
(Bulugh al-Amani, 19/69)
لَا بُدَّ لِكُلِّ دَعْوَةٍ مِنْ رِجَالٍ
مُتَشَبِّعِينَ بِخُلُقِ النُّصْرَةِ
Dalam aktivitas dakwah harus ada orang yang
berkarakter penolong.
وَإِلَّا فَلَنْ تُكْتَبَ لَهَا الْحَيَاةُ
Jika tidak, dakwah tidak akan hidup (ada).
وَأَدْنَاهَا النُّصْرَةُ بِالْمَعُونَةِ وَرَفْعِ
الْمَظَالِمِ،
Minimal, memberikan bantuan dan menghilangkan
kezaliman.
وَأَعْلَاهَا النُّصْرَةُ فِي الْجِهَادِ
Maksimal, memberikan pertolongan ketika berada
dalam medan jihad.
وَحِينَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعْرِضُ دَعْوَتَهُ
فِي الْمَوَاسِمِ بِمَنًى كَانَ يَقُولُ
Ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan dakwahnya pada musim haji di Mina, beliau
bersabda,
مَنْ يُؤْوِينِي ؟ مَنْ يَنْصُرُنِي ؟
"Siapakah di antara kalian yang akan
melindungiku dan siapakah pula yang akan menolongku." Musnad Ahmad, 3/322,
al-Hakim telah menshahihkan sanad hadits ini, begitu pula az-Zahabi. Ibnu
Katsir berkata dalam kitab tarikhnya, "Hadits ini memiliki sanad shahih
dan memenuhi standar persyaratan hadits Muslim." (Bulugh Al-Mani, 20/270)
وَحِينَ بُويِعَ بَيْعَةَ الْعَقَبَةِ اشْتَرَطَ
النُّصْرَةَ
Ketika dibaiat pada baiat Aqabah, beliau
mensyaratkan harus menolong.
فَقَالَ: «... وَأَسْأَلُكُمْ لِنَفْسِي
وَلِأَصْحَابِي أَنْ تُؤْوُونَا، وَتَنْصُرُونَا وَتَمْنَعُونَا مِمَّا مَنَعْتُمْ
مِنْهُ أَنْفُسَكُمْ
Beliau bersabda, "Aku meminta kalian untuk
menolong dan melindungi diriku dan sahabat-sahabatku, serta membela kami
sebagaimana engkau membela dirimu sendiri." Musnad Ahmad, 4/ 119, Bulugh
al-Mani, 20/ 276 (para perawinya tepercaya)
وَحَتَّى وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ كَانَ يَقُولُ لَهُ
فِي مَطْلَعِ الرِّسَالَةِ
Bahkan, Waraqah
bin Naufal pun berkata sebelum risalah diturunkan,
وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا
مُؤَزَّرًا
"Apabila aku masih hidup saat engkau diangkat
menjadi Nabi, maka aku akan menolongmu dengan sekuatnya." Shahih Bukhari
kitab Bidil Wahyu, bab 3, hadits no. 3 (Fat-hu al-Baari, 1/ 23)
وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَنْصُرَ
رَسُولَهُ، وَلَكِنَّهُ تَرَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ حَظًّا فِي النُّصْرَةِ
يُؤَدُّونَهُ، وَيُسْأَلُونَ عَنْهُ وَيُؤْجَرُونَ عَلَيْهِ
Allah mampu menolong Rasul-Nya, tetapi Allah
memberikan kesempatan kepada orang mukmin untuk mengambil bagian dalam
memberikan pertolongan, mereka diminta untuk memberikan pertolongan hingga
Allah memberinya pahala.
قَالَ تَعَالَى : هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ
وَبِالْمُؤْمِنِينَ (الْأَنْفَالِ: ٦٢)
Allah berfirman, "Dialah yang memperkuat
engkau dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang yang beriman."
(an-Anfaal [8]: 62)
وَالْمُفْلِحُونَ هُمُ الَّذِينَ - آمَنُوا بِهِ
وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ - [الْأَعْرَافِ : ١٥٧]
Orang-orang yang beruntung adalah,
"...Orang-orang yang beriman kepada-Nya, memuliakan-Nya, dan
menolong-Nya..." (al-A'raaf [7]: 157)
وَقَدْ شُرِعَ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَدْعُوَ
بِالنُّصْرَةِ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ
Dan telah ditetapkan kepada orang mukmin untuk
meminta pertolongan, sebagaimana dalam sebuah hadits,
«رَبِّ
أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ، وَامْكُرْ
لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرِ الْهُدَى إِلَيَّ، وَانْصُرْنِي
عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ»
Ya Tuhanku, kuatkan aku dan janganlah Engkau
lemahkan aku. Tolonglah aku dan jangan Kau biarkan aku tidak Kau-tolong.
Berilah aku kemampuan agar aku tidak tertipu. Berilah aku petunjuk. Mudahkanlah
aku untuk mendapatkan hidayah dan tolonglah aku dari orang yang berbuat zalim
kepadaku." Shahih Sunan Ibnu Majah, al-Bani dalam kitab ad-Dua, bab 2,
hadits no. 3088/3830 (shahih)
وَلَكِنَّ هَذِهِ النُّصْرَةَ لَا تَكُونُ غَالِبًا
بِسَبَبٍ غَيْبِيٍّ
Tetapi biasanya, pertolongan tidak datang dengan
sebab yang ghaib.
وَإِنَّمَا بِتَسْخِيرِكَ يَا صَاحِبَ خُلُقِ
(النُّصْرَةِ) لِتُؤَدِّيَ دَوْرَكَ بِحَمِيَّتِكَ الْإِيمَانِيَّةِ، وَغَيْرَتِكَ
لِلْحَقِّ
Ia akan datang jika engkau berusaha sebagai orang
yang menolong, sehingga peranmu dan semangatmu akan kebenaran itulah yang akan
menyampaikan pada perlindungan keimananmu.
أَمَّا الْخِذْلَانُ فِي سَاعَةِ الْحَاجَةِ فَشَأْنُ
الْمُنَافِقِينَ مَعَ أَوْلِيَائِهِمْ
Adapun orang yang meremehkan saat dibutuhkan,
mereka tidak jauh berbeda kondisinya dengan orang-orang munafik dan para
walinya.
الَّذِينَ قَالَ اللَّهُ فِيهِمْ : لَئِنْ أُخْرِجُوا
لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِنْ قُوتِلُوا لَا يَنْصُرُونَهُمْ ... [الْحَشْرِ:
١٢]
Untuk menerangkan karakter mereka, Allah berfirman,
"Sesungguhnya, jika mereka diusir, (kaum munafik) itu tiada akan berangkat
bersama-sama dengan mereka. Kalau mereka diperangi, tiadalah kaum munafik itu
akan membantunya." (al-Hasyr [59]: 12)
وَقَدِ اشْتَرَطَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى
الْجَالِسِينَ عَلَى قَارِعَةِ الطَّرِيقِ أَنْ يَتَحَمَّلُوا ضَرِيبَةَ
جُلُوسِهِمْ
Rasulullahﷺ
telah mensyaratkan orang-orang yang duduk di pinggir jalan untuk melaksanakan
kewajibannya, yaitu dengan membayar pajak.
هَذَا، وَشُهُودُهُمْ لِمَوَاقِفَ تَقْتَضِي مِنْهُمُ
التَّدَخُّلَ وَأَدَاءَ الْوَاجِبِ
Sebab, mereka adalah saksi akan kejadian yang ada
di jalanan sehingga mereka diharuskan ikut turun tangan dan melaksanakan
kewajibannya.
فَقَالَ لَهُمْ: إِنْ أَبَيْتُمْ إِلَّا أَنْ
تَجْلِسُوا فَاهْدُوا السَّبِيلَ، وَرُدُّوا السَّلَامَ، وَأَعِينُوا الْمَظْلُومَ
Rasulullahﷺ
bersabda kepada mereka, "Jika masih tetap ingin duduk di sana, maka
berilah jalan (bagi yang ingin melewati). Jawablah salam (orang yang memberi
salam) dan bantulah orang yang dizalimi." Musnad Ahmad, 4/282, dan al-Bani
telah mengategorikan hadits ini sebagai hadits shahih dalam kitabnya Shahih
Jami', hadits no. 1407
وَالْمُبَادَرَةُ إِلَى نُصْرَةِ الْأَخِ فِي اللَّهِ
فِي الدُّنْيَا
Berinisiatif menolong seseorang karena Allah di
dunia,
وَخَاصَّةً فِي حَالِ غِيَابِهِ حَيْثُ تَسْقُطُ
الْمُجَامَلَاتُ وَتَظْهَرُ حَقِيقَةُ الْمَشَاعِرِ
Pada saat tidak ada orang yang melihatnya
membutuhkan pertolongan dan ikhlas karena Allah menolongnya,
وَتَخْلُصُ النُّصْرَةُ لِلَّهِ يَكُونُ مِنْ
ثَمَرَتِهَا أَنْ يُسَخِّرَ اللَّهُ لِلنَّاصِرِ مَنْ يَقِفُ إِلَى جَانِبِهِ
وَيَنْصُرُهُ فِي الدُّنْيَا وَيَتَوَلَّاهُ اللَّهُ فِي الْآخِرَةِ
Maka Allah akan menolong si penolong di dunia dan
akan menjadi Pelindungnya di akhirat nanti.
كَمَا فِي الْحَدِيثِ
Dalam sebuah hadits disebutkan,
مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، نَصَرَهُ
اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Barangsiapa yang menolong saudaranya tanpa dilihat
orang (semata-mata karena Allah), maka Allah akan menolongnya di dunia dan
akhirat. Shahih al-Jami'hadits no. 6574 (hasan)
وَأَوْجَبُ صُوَرِ النُّصْرَةِ مَا يَكُونُ فِيهِ
دَفْعُ أَذًى مِنْ أَمِيرٍ أَوْ ذِي سُلْطَانٍ أَوْ صَاحِبِ سَطْوَةٍ
Bentuk pertolongan yang lebih wajib dilakukan
adalah menolak penindasan yang dilakukan oleh raja atau penguasa atau orang
yang memiliki pengaruh.
لِأَنَّ هَؤُلَاءِ أَذَاهُمْ شَدِيدٌ
Sebab, penindasan yang dilakukan oleh mereka lebih
kejam.
وَنَاصِحُوهُمْ قَلِيلٌ وَالْمُتَمَلِّقُونَ لَهُمْ
كَثِيرٌ فَيَضِيعُ الْحَقُّ فِي غَمْرَةِ الْمُجَامَلَاتِ وَالْمُدَارَاةِ
Jika penasihatnya hanya sedikit dan para
penjilatnya banyak, maka kebenaran akan hilang ditelan oleh basa- basi dan
pemutarbalikkan fakta.
وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَتَبَرَّأُ مِمَّنْ يُعِينُهُمْ
عَلَى ظُلْمِهِمْ، وَلَا يَنْصُرُهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَأَهْوَائِهِمْ
بِرَدْعِهِمْ عَنِ الظُّلْمِ
Rasulullahﷺ
telah melepaskan diri dari orang yang melindungi kezaliman, dan tidak menolong
mereka dengan menahan dan melawan hawa nafsunya dari perbuatan zalim.
وَقَدْ جَاءَ هَذَا الْمَعْنَى فِي قَوْلِهِ ﷺ :
«إِنَّهُ سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ، مَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ،
وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ
Rasulullahﷺ
bersabda, "Suatu saat nanti, setelah aku meninggal, akan ada para penguasa
yang dibenarkan kebohongannya dan dibantu kezalimannya.
فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ
عَلَيَّ الْحَوْضَ
Maka, orang itu tidak termasuk umatku dan aku bukan
bagian darinya. Aku tidak akan memberikan pertolongan untuknya.
وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَلَمْ
يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ، وَهُوَ وَارِدٌ
عَلَيَّ الْحَوْضَ
Barangsiapa yang tidak membenarkan kebohongannya
dan tidak menolong kezalimannya, maka ia termasuk umatku dan aku bagian
darinya, dan aku akan memberikan pertolongan kepadanya. Shahih Sunan an-Nasa'i,
al-Bani dalam kitab al-Bai'ah, bab 35, hadits no. 3923 (shahih)
وَإِذَا كَانَ مَنْعُ ظُلْمِ الْمُلُوكِ بِنُصْرَةِ
الْمُسْتَضْعَفِينَ خُلُقًا يَتَجَمَّلُ بِهِ غَيْرُ الْمُسْلِمِينَ
Apabila mencegah kezaliman para penguasa dengan
menolong orang-orang yang lemah adalah akhlak yang dimiliki oleh orang selain
muslim,
فَالْمُسْلِمُونَ بِهِ أَوْلَى وَأَحْرَى، وَقَدْ
وَصَفَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ الرُّومَ بِخِصَالٍ اسْتَحْسَنَهَا فِيهِمْ
Maka umat Islam lebih berhak dan utama untuk
memilikinya, Amru bin Ash menggambarkan beberapa sikap orang Romawi yang
dikaguminya.
فَقَالَ : إِنَّ فِيهِمْ لَخِصَالًا أَرْبَعًا :
إِنَّهُمْ لَأَحْلَمُ النَّاسِ عِنْدَ فِتْنَةٍ، وَأَسْرَعُهُمْ إِفَاقَةً بَعْدَ
مُصِيبةٍ، وَأَوْشَكُهُمْ كَرَّةً بَعْدَ فَرَّةٍ، وَخَيْرُهُمْ
لِمِسْكِينٍ وَيَتِيمٍ وَضَعِيفٍ، وَخَامِسَةٌ
حَسَنَةٌ جَمِيلَةٌ : وَأَمْنَعُهُمْ مِنْ ظُلْمِ الْمُلُوكِ
Ia berkata, "Orang Romawi mempunyai empat
sifat. Mereka adalah orang yang paling bijak di saat terjadi fitnah
(huru-hara); orang yang paling cepat sadar di saat tertimpa bencana; orang yang
cepat bersatu setelah bercerai-berai; dan orang yang paling baik kepada orang
miskin, yatim piatu, dan orang lemah. Dan sifat kelimanya adalah sikap yang
baik dan mulia, yaitu mencegah kezaliman para penguasa." Shahih Muslim
kitab al-Fitan, bab 10, hadits no. 35/2898 (Syarh an-Nawawi, 9/239)
وَمَنْ كَانَتْ نُصْرَتُهُ بِصُورَتِهَا
الْجَاهِلِيَّةِ
Barangsiapa yang menolong seseorang dalam bentuk
jahiliah,
نُصْرَةً عَلَى الْبَاطِلِ، وَدَوْرَانًا مَعَ
الْعَصَبِيَّةِ، وَإِعَانَةً عَلَى الظُّلْمِ
Yaitu menolong dalam kebatilan untuk membela
fanatisme dan membantu orang zalim,
فَقَدْ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ، كَمَا فِي
الْحَدِيثِ
Maka Allah telah marah kepadanya, sebagaimana
disebutkan dalam sebuah hadits,
مَنْ أَعَانَ عَلَى خُصُومَةٍ بِظُلْمٍ أَوْ يُعِينُ
عَلَى ظُلْمٍ لَمْ يَزَلْ فِي سَخَطِ اللَّهِ حَتَّى يَنْزِعَ
Barangsiapa yang membantu pertengkaran dengan
kezaliman (membantu orang zalim), maka Allah akan marah kepadanya sampai ia
berhenti melakukannya. Shahih Sunan Ibnu Majah, al-Bani dalam kitab al-Ahkam,
bab 6, hadits no. 1878/2320 (shahih)
،فَكُنْ نَصِيرًا لِلْحَقِّ حَيْثُ كَانَ
Oleh karena itu, maka jadilah penolong dalam
kebenaran di mana pun engkau berada.
وَإِلَّا فَلَا تَطْمَعْ بِوِسَامِ الْجِهَادِ وَلَا
شَرَفِ الِاسْتِشْهَادِ
Jika tidak, engkau jangan berharap mendapat hadiah
jihad dan kemuliaan mati syahid.
:
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ:
KESIMPULAN
النُّصْرَةُ اسْتِعْدَادٌ لِنُصْرَةِ
الْمُسْتَضْعَفِ، وَهِيَ ضَرِيبةُ الْأُخُوَّةِ
Memberikan pertolongan adalah menyiapkan diri untuk
menolong orang yang lemah, dan hal itu menjadi bagian dari persaudaraan.
صَاحِبُ (النُّصْرَةِ) يَنْصُرُهُ اللَّهُ فِي
مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ
Orang yang suka menolong akan ditolong Allah pada
saat ia membutuhkan pertolongan.
الظُّلْمُ لَا يَقَعُ غَالِبًا - إِلَّا عَلَى
الضَّعِيفِ فَهَلْ تُسْلِمُهُ أَوْ تَخْذُلُهُ؟
Kezaliman biasanya tidak terjadi kecuali pada orang
lemah, apakah engkau akan menyelamatkannya atau membiarkannya.
الْجَاهِلِيُّونَ يَتَنَاصَرُونَ فَكَيْفَ تَكُونُ
النُّصْرَةُ لِلْمُسْلِمِ ؟
Orang-orang jahiliah itu suka saling menolong.
Maka, apakah pertolongan dapat diberikan kepada seorang muslim?
الدَّعَوَاتُ تَقْوَى بِالنُّصْرَةِ لِمَنْ يَقُومُ
بِتَبْلِيغِهَا
Dakwah akan kuat apabila orang yang sedang
melakukan dakwah dibantu.
يُشْرَعُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَدْعُوَ رَبَّهُ بِأَنْ
يَنْصُرَهُ
Telah ditetapkan bagi seorang mukmin untuk meminta
pertolongan kepada Tuhannya.
تَتَوَجَّبُ النُّصْرَةُ بِشُهُودِ مَوَاقِفِ
الظُّلْمِ أَوْ الْعِلْمِ بِهَا
Memberikan pertolongan terjadi apabila menyaksikan
fenomena-fenomena kezaliman atau mengetahui akan hal itu.
حَقِيقَةُ النُّصْرَةِ الْخَالِصَةِ نُصْرَتُكَ
لِأَخِيكَ فِي غَيْبَتِهِ
Hakikat pertolongan yang ikhlas adalah memberikan
pertolongan bagi saudaramu tanpa ada yang melihat.
أَوْجَبُ صُوَرِ النُّصْرَةِ بِدَفْعِ ظُلْمِ ذَوِي
السُّلْطَانِ
Bentuk pertolongan yang lebih wajib dilakukan
adalah menolak kezaliman yang dilakukan oleh para penguasa.
مِمَّا اسْتَحْسَنَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ فِي
الرُّومِ مَنْعُهُمْ ظُلْمَ الْمُلُوكِ
Sikap orang Romawi yang membuat kagum Amru bin Ash
adalah sikap mereka dalam mencegah kezaliman para penguasa.
فِي النُّصْرَةِ لِلْعَصَبِيَّةِ، وَالْإِعَانَةِ
عَلَى الْبَاطِلِ، سَخَطُ اللَّهِ
Menolong karena fanatisme atau membantu dalam
kebatilan dibenci Allah.
∷∷∷∷∷∷∷
Sumber:
هَذِهِ أَخْلَاقُنَا حِينَ نَكُونُ مُؤْمِنِينَ
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan Silahkan bila ada masukan atau kesalahan -
tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan share - Semoga bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar