Label xxx

Rabu, 27 Desember 2023

10 TAWAKKAL - Tazkiyyatun Nafs


التَّوَكُّلُ

Tawakal

 

التَّوَكُّلُ هُوَ صِدْقُ اعْتِمَادِ الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي اسْتِجْلَابِ الْمَصَالِحِ

Tawakal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah untuk mendapatkan kemaslahatan

وَدَفْعِ الْمَضَارِّ فِي أُمُورِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

serta mencegah kemudlaratan, menyangkut urusan dunia atau pun akhirat.

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : (۱)

Allah berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

"Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar dan memberi dia rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia itu cukup baginya" (Ath-Thalaq: 2 -3).

فَمَنْ حَقَّقَ التَّقْوَى وَالتَّوَكُّلَ؛ اكْتَفَى بِذَلِكَ فِي مَصَالِحِ دِينِهِ وَدُنْيَاهُ

Barangsiapa mewujudkan takwa dan tawakal akan dapat menggapai seluruh kebaikan din dan dunianya.

وَعَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ :

Dari Umar bin Khaththab dari Nabi bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ

Jikalau kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya

لَرَرَزَقَكُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

niscaya Allah akan memberikan rezki kepada kalian seperti seekor burung. Pagi-pagi ia pergi dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang".

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ، وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ : قَالَ أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ : هَذَا الْحَدِيثُ أَصْلٌ فِي التَّوَكُّلِ وَإِنَّهُ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

HR. At-Tirmidry As Zuhd V/8 la berkata, "Hasan Shabib Juga dinyatakan shahih oleh Al-Hakim IV/ 310 dan disepakati oleh Adz-dzahabi.

قَالَ أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ :

Abu Hatim Ar-Raziy berkata,

هَذَا الْحَدِيثُ أَصْلٌ فِي التَّوَكُّلِ وَإِنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الَّتِي يُسْتَجْلَبُ بِهَا الرِّزْقُ

Hadits ini merupakan tonggak tawakal. Tawakallah faktor terbesar dalam mencari rezki."

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ :

Sa'id bin Jubeir berkata,

التَّوَكُّلُ جِمَاعُ الْإِيمَانِ

Tawakal itu keseluruhan iman.

وَتَحْقِيقُ التَّوَكُّلِ لَا يُنَافِي الْأَخْذَ بِالْأَسْبَابِ

Mewujudkan tawakal bukan berarti meniadakan ikhtiar atau usaha.

الَّتِي قَدَّرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمَقْدُورَاتِ بِهَا؛ وَجَرَتْ سُنَّتُهُ فِي خَلْقِهِ بِذَلِكَ

Taqdir Allah dan sunnahNya sehubungan dengan makhluk berkait erat dengan ikhtiar.

فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ بِتَعَاطِي الْأَسْبَابِ، مَعَ أَمْرِهِ بِالتَّوَكُّلِ

Allah memerintahkan untuk berikhtiar sekaligus. bertawakal.

فَالسَّعْيُ فِي الْأَسْبَابِ بِالْجَوَارِحِ طَاعَةُ اللَّهِ

Berusaha dengan anggota badan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah,

وَالتَّوَكُّلُ بِالْقَلْبِ عَلَيْهِ إِيمَانٌ بِهِ

dan bertawakal dengan hati sebagai manifestasi iman kepadaNya.

قَالَ تَعَالَى : (۱)

Allah subhaanahu wata'ala berfirman,

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ خُذُواْ حِذْرَكُمْ ... الْآيَةَ

Wahai orang-orang yang beriman, waspadalah kalian! An- Nisa:71

قَالَ سَهْلٌ :

Sahl mengatakan,

مَنْ طَعَنَ فِي الْحَرَكَةِ يَعْنِي فِي السَّعْيِ وَالْكَسْبِ فَقَدْ طَعَنَ فِي السُّنَّةِ

Barangsiapa cacat dalam berikhtiar berarti cacat dalam sunnah.

وَمَنْ طَعَنَ فِي التَّوَكُّلِ فَقَدْ طَعَنَ فِي الْإِيمَانِ؛

Barangsiapa cacat dalam berta-wakkal berarti cacat dalam iman.

فَالْتَّوَكُّلُ حَالُ النَّبِيِّ ﷺ وَالْكَسْبُ سُنَّتُهُ

Tawakal adalah sikap Nabi dan ikhtiar adalah sunnahnya.

فَمَنْ عَمِلَ عَلَى حَالِهِ فَلَا يَتْرُكَنَّ سُنَّتَهُ

Barangsiapa bersikap seperti nabi, janganlah ia meninggalkan sunnahnya."

وَقِيلَ: عَدَمُ الْأَخْذِ فِي الْأَسْبَابِ طَعْنٌ فِي التَّشْرِيعِ

Disebutkan, "Tidak mengadakan ikhtiar dianggap cacat dalam hukum.

وَالِاعْتِقَادُ فِي الْأَسْبَابِ طَعْنٌ فِي التَّوْحِيدِ

Sedangkan mengandalkan usaha adalah cacat dalam tauhid."

وَالْأَعْمَالُ الَّتِي يَعْمَلُهَا الْعَبْدُ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ

Amalan yang dikerjakan oleh seorang hamba itu dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam;

أَحَدُهَا : الطَّاعَاتُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ بِهَا عِبَادَهُ

1. Bentuk-bentuk ketaatan, perintah Allah kepada hamba-hambaNya,

وَجَعَلَهَا سَبَبًا لِلنَّجَاةِ مِنَ النَّارِ وَدُخُولِ الْجَنَّةِ

Yang mana Allah menjadikannya sebagai sebab keselamatan dari neraka dan masuk surga.

فَهَذَا لَا بُدَّ مِنْ فِعْلِهِ مَعَ التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ، وَالِاسْتِعَانَةِ بِهِ عَلَيْهِ

Ini harus dikerjakan sambil bertawakal kepada Allah dan memohon pertolongan kepadaNya.

فَإِنَّهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ

Sesungguhnya seorang hamba tidak mempunyai daya dan kekuatan tanpaNya.

وَمَا شَاءَ سُبْحَانَهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ

Apa yang dikehendaki Allah terjadi, pasti terjadi. Dan apa yang dikehendaki Allah tidak terjadi, pasti tidak terjadi.

فَمَنْ قَصَّرَ فِي شَيْءٍ مِمَّا وَجَبَ عَلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ اسْتَحَقَّ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرْعًا وَقَدَرًا

Barangsiapa teledor terhadap salah satu kewajibannya, berhak untuk mendapatkan hukuman di dunia dan di akhirat, dari segi syar'iy maupun qadariy.

قَالَ يُوسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ :

Yusuf bin Asbath berkata,

يُقَالُ اعْمَلْ عَمَلَ رَجُلٍ لَا يُنْجِيهِ إِلَّا عَمَلُهُ

Seseorang bertutur, 'Beramallah seperti amalan seseorang yang tidak akan selamat tanpanya.

وَتَوَكَّلْ تَوَكُّلَ رَجُلٍ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

Dan bertawakallah seperti tawakkalnya seseorang yang tidak ditimpa sesuatu kecuali yang sudah ditulis baginya."

الْقِسْمُ الثَّانِي : مَا أَجْرَى اللَّهُ الْعَادَةَ بِهِ فِي الدُّنْيَا وَأَمَرَ عِبَادَهُ بِتَعَاطِيهِ

2. Amal yang telah dijadikan Allah sebagai hukum sebab akibat. Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk memenuhinya.

كَالْأَكْلِ عِنْدَ الْجُوعِ وَالشُّرْبِ عِنْدَ الْعَطَشِ

Seperti makan ketika lapar, minum ketika haus,

وَالِاسْتِظْلَالِ مِنَ الْحَرِّ

berteduh dari kepanasan,

وَالتَّدَفُّؤِ مِنَ الْبَرْدِ وَنَحْوِ ذَلِكَ ؛

menghangatkan badan dari kedinginan, dan lain sebagainya.

فَهَذَا أَيْضًا وَاجِبٌ عَلَى الْمَرْءِ تَعَاطِي أَسْبَابِهِ

Semua ini hukumnya wajib.

وَمَنْ قَصَّرَ فِيهِ حَتَّى تَضَرَّرَ بِتَرْكِهِ - مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى اسْتِعْمَالِهِ ـ

Barangsiapa mengabaikannya sehingga terkena marabahaya-padahal ia mampu untuk mengusahakannya

فَهُوَ مُفَرِّطٌ يَسْتَحِقُّ الْعُقُوبَةَ

maka ia berhak untuk mendapatkan hukuman.

الْقِسْمُ الثَّالِثُ : مَا أَجْرَى اللَّهُ الْعَادَةَ بِهِ فِي الدُّنْيَا فِي الْأَعَمِّ الْأَغْلَبِ وَقَدْ يَخْرِقُ الْعَادَةَ

3. Amal yang telah dijadikan oleh Allah subhaanahu wata'ala sebagai hukum sebab akibat pada kebanyakan dan keumumannya.

فِي ذَلِكَ لِمَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَهِيَ أَنْوَاعٌ كَالْأَدْوِيَةِ مَثَلًا

Kadang-kadang terjadi sesuatu di luar itu, bagi yang Allah subhaanahu wata'ala kehendaki. Misalnya obat-obatan.

وَقَدِ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ : هَلِ الْأَفْضَلُ لِمَنْ أَصَابَهُ الْمَرَضُ التَّدَاوِي أَمْ تَرْكُهُ لِمَنْ حَقَّقَ التَّوَكُّلَ عَلَى اللَّهِ ؟

Para ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama bagi yang ditimpa suatu penyakit dan benar-benar bertawakal kepada Allah, berobat, ataukah membiarkannya.

فِيهِ قَوْلَانِ مَشْهُورَانِ وَظَاهِرُ كَلَامِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ

Ada dua pendapat yang sama-sama masyhur, menurut Imam Ahmad,

أَنَّ التَّوَكُّلَ لِمَنْ قَوِيَ عَلَيْهِ أَفْضَلُ

bagi mereka yang kuat bertawakal lebih utama.

لِمَا صَحَّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ :

Sesuai dengan hadits Nabi.

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ ثُمَّ قَالَ : هُمُ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرِقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Ada tujupuluh ribu orang dari umatku yang masuk surga tanpa hisab. Lalu beliau melanjutkan, Mereka adalah yang tidak berta-thayyur (percaya pada ramalan nasib), tidak meminta diruqyah, tidak berobat dengan besi panas (digosokkan ke badan), dan hanya bertawakal kepada Rabb mereka".

وَمَنْ رَجَّحَ التَّدَاوِيَ قَالَ : إِنَّهُ حَالُ النَّبِيِّ ﷺ

Sementara mereka yang menguatkan pendapat untuk berobat beralasan bahwa itu adalah sikap Nabi.

الَّذِي كَانَ يُدَاوِمُ عَلَيْهِ - وَهُوَ لَا يَفْعَلُ إِلَّا الْأَفْضَلَ -

Beliau selalu berobat di kala sakit. Dan tentunya Nabi selalu memilih yang paling utama.

وَحُمِلَ الْحَدِيثُ عَلَى الرُّقَى الْمَكْرُوهَةِ، الَّتِي يُخْشَى مِنْهَا الشِّرْكُ

Mereka memahami hadits di atas dengan ruqyah yang makruh, yaitu yang mendekati perbuatan syirik.

بِدَلِيلِ أَنَّهُ قَرَنَهَا بِالْكَيِّ وَالطِّيَرَةِ وَكِلَاهُمَا مَكْرُوهٌ

Alasan mereka, ruqyah di situ disebut bersama-sama dengan al-kayy (berobat dengan besi panas) dan tathayyur yang keduanya adalah makruh.

قَالَ مُجَاهِدٌ، وَعِكْرِمَةُ وَالنَّخَعِيُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ :

Mujahid, Ikrimah, An-Nakha'iy dan tidak sedikit dari kalangan salaf bertutur,

لَا يُرَخَّصُ فِي تَرْكِ السَّبَبِ بِالْكُلِّيَّةِ إِلَّا لِمَنِ انْقَطَعَ قَلْبُهُ عَنِ الِاسْتِشْرَاقِ إِلَى الْمَخْلُوقِينَ بِالْكُلِّيَّةِ

"Rukhshah untuk meninggalkan ikhtiar sama sekali, hanya diberikan bagi mereka yang hatinya benar-benar sudah putus dari makhluk."

وُسُئِلَ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ

Ishaq bin Rahwaih ditanya,

هَلْ لِلرَّجُلِ أَنْ يَدْخُلَ الْمَغَازَةَ بِغَيْرِ زَادٍ؟

"Bolehkah seseorang masuk ke medan pertempuran tanpa bekal?"

فَقَالَ : إِنْ كَانَ الرَّجُلُ مِثْلَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُبَيْرٍ فَلَهُ أَنْ يَدْخُلَ الْمَغَازَةَ بِغَيْرِ زَادٍ وَإِلَّا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدْخُلَ

Beliau menjawab, "Jika orang itu sekaliber Abdullah bin Jubeir, maka boleh. Jika tidak, jangan sekali-kali melakukannya!"

 

Sumber:

تَزْكِيَةُ النُّفُوسِ وَتَرْبِيَتُهَا كَمَا يُقَرِّرُهُ عُلَمَاءُ السَّلَفِ

Tazkiyatun Nafs konsep pensucian jiwa menurut ulama' salaf

Ibnu Qayyim Aljauziah - Ibnu Rajab Al Hambali - Imam Alghazali

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share - Semoga bermanfaat 


Tidak ada komentar: