AKHLAK KITA DALAM ILAHIYAH
Keempat
الطابة المطعم
Memperbaiki Makan
كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ
"Makanlah makanan yang baik yang kami berikan kepadamu."
إِنَّ تَحَرِّيَ الرِّزْقِ الْحَلَالِ مَسْأَلَةٌ يَوْمِيَّةٌ
Memilih rezeki yang halal merupakan masalah kehidupan sehari-hari
تَقْتَضِي مِنْ كُلِّ مِنَّا أَنْ يُدِيمَ اسْتِحْضَارَهَا وَالتَّوَاصِي بِهَا
yang menuntut kita untuk selalu saling menasihati dan mengingatnya.
فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَدَيْنَا كَوَابِحُ إِيمَانِيَّةٌ تُوقِفُنَا عَنِ الِانْسِيَاقِ وَرَاءَ شَهْوَةِ الْمَالِ
Seandainya kita tidak memiliki iman yang dapat mencegah kita dari ambisi pada harta,
وَقَعْنَا فِي الشُّبُهَاتِ ثُمَّ فِي الْحَرَامِ
niscaya kita akan terjerumus pada hal-hal yang syubhat kemudian yang haram.
وَالْخُطُورَةُ تَكْمُنُ فِي اسْتِمْرَاءِ النَّفْسِ لِلْحَرَامِ وَاعْتِيَادِهَا عَلَيْهِ
Yang sangat berbahaya adalah jika diri terbiasa mengerjakan hal-hal yang haram dan tidak meninggalkannya.
أَوْ عَدَمِ مُبَالَاتِهَا فِيهِ
atau bahkan tidak lagi peduli apakah sesuatu itu halal atau haram.
كَثِيرًا مَا أَوْصَى رَسُولُ اللهِ ﷺ بِتَحْلِيلِ الرِّزْقِ
Rasulullah ﷺ sering memerintahkan umatnya untuk mencari rezeki yang halal
وَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ
dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk melakukan sesuatu yang di-perintahkan-Nya kepada para rasul.
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا... [الْمُؤْمِنُونَ: ٥١] (١)
Allah berfirman, "Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang saleh." al-Mu'minuun [23]: 51. Hadits diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi - Jami' al-Ushul 10/565 hadits 8131.
وَقَالَ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ... ﴾ [الْبَقَرَةِ: ١٧٢ ]
Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu." al-Baqarah [2]: 172
وَجَعَلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - عَدَمَ الْمُبَالَاةِ بِهَذَا الْأَمْرِ مِنْ صِفَاتِ شِرَارِ الْخَلْقِ فَقَالَ
Rasulullah ﷺ menganggap bahwa sikap yang tidak mengindahkan hal ini termasuk sifat-sifat manusia yang jahat, beliau bersabda,
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ، أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ
"Suatu masa aku datang menemui seseorang, di mana ia tidak lagi mengindahkan dari mana ia mencari rezeki, apakah dari yang halal atau haram, " Shahih Bukhari, kitab Jual Beli, bab 7, hadits 2059.
وَقَدْ وَرَدَ فِي خُطْبَةٍ لِعُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: (وَعِفُّوا إِذَا أَعْفَكُمُ اللهُ، وَعَلَيْكُمْ مِنَ الْمَطَاعِمِ بِمَا طَابَ مِنْهَا) (۳)
Utsman bin Affan r.a. pernah berkhotbah, "Allah menjadikan kalian sebagai hamba-hamba yang saleh, maka bersifat iffahlah dan makanlah makanan yang baik-baik saja. " Al-Muwaththa', kitab al-Isti'dzan, bab 16, hadits 42.
وَمِنْ أَبْرَزِ صُوَرِ الرِّزْقِ الطَّيِّبِ مَا كَانَ بِعَمَلِ الْيَدِ مَعَ اسْتِفْرَاغِ الْجُهْدِ وَالطَّاقَةِ فِي الْإِتْقَانِ وَالْإِحْسَانِ
Di antara bentuk-bentuk rezeki yang baik (halal) adalah yang dihasilkan oleh pekerjaan tangan sendiri dengan kesungguhan dalam menyempurnakan pekerjaannya itu dan baik.
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ. وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
"Seseorang tidak memakan makanan yang lebih baik daripada (makanan) hasil kerja tangannya sendiri. Nabi Daud a.s. makan dari hasil kerja tangannya sendiri." Shahih Bukhari, kitab al-Buyu, bab 15, hadits 2072.
وَإِذَا مَا أَرَدْتَ أَنْ تَأْوِيَ إِلَى مَضْجَعِكَ مُنْشَرِحَ الصَّدْرِ فَإِنَّ
Jika Anda ingin berbaring tidur dengan lapang dada, maka ke-tahuilah bahwa,
مَنْ بَاتَ كَالًّا مِنْ عَمَلِهِ بَاتَ مَغْفُورًا لَهُ
"Barangsiapa tidur di malam hari dengan keadaan letih karena pekerjaannya, maka ia tidur dalam keadaan diampuni (dosanya oleh Allah). " Disebutkan oleh Ibnu Hajar Hajar dalam kitab (al-Fat-h 4/306) ketika menjelaskan hadits 2072, dan menisbatkannya atas nama Hisyam bin 'Ammar.
وَلَا فَرْقَ بَيْنَ مِهْنَةٍ وَضِيعَةٍ وَمِهْنَةٍ رَفِيعَةٍ
Tidak ada bedanya antara pekerjaan yang sepele dengan pekerjaan yang terhormat,
الْمُهِمُّ أَنْ يَكُونَ الرِّزْقُ حَلَالًا
namun yang terpenting adalah rezekinya halal.
وَقَدْ كَانَ هَذَا شَأْنَ الْأَنْبِيَاءِ
Begitulah keadaan para nabi.
وَعَلَى ذَلِكَ رَبَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ صَحَابَتَهُ فَكَانَ يُخَاطِبُهُمْ بِكُلِّ وُضُوحٍ
Rasulullah ﷺ mendidik para sahabatnya atas dasar itu. Beliau bersabda,
لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يُمْنَعَهُ
"Seseorang di antara kalian yang mencari kayu bakar dan memikulnya di atas pundaknya lebih baik daripada meminta-minta pada seseorang, namun orang itu belum tentu memberi atau tidak." Shahih Bukhari, al-Buyu, bab 15, hadits 2074.
وَالْمُصِيبَةُ الْكُبْرَى فِي سُؤَالِ النَّاسِ أَنَّ نَفْسِيَّةَ الْمَرْءِ تَعْتَادُ الِاتِّكَالَ عَلَى الْآخَرِينَ وَتَرْكَنُ إِلَى الْكَسْلِ
Bahaya besar akibat dari meminta-minta adalah menjadikan jiwa seseorang menjadi malas dan terbiasa bergantung pada orang lain.
وَالدِّينُ الَّذِي يَدْعُو إِلَى الْجِهَادِ لَا يَقْبَلُ لِأَتْبَاعِهِ أَنْ يَكُونُوا عَالَةً فِي أَرْزَاقِهِمْ
Dan agama yang menyeru kepada jihad tidak memperbolehkan pengikut-pengikutnya menjadi beban bagi orang lain dalam hal penghidupan mereka.
وَلَا مُتَطَفِّلِينَ عَلَى أَمْوَالِ غَيْرِهِمْ بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ
Dan janganlah menjadi orang yang menumpang hidup pada harta orang lain tanpa kerelaan hati mereka.
لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ
"Harta seorang muslim tidak halal kecuali dengan kerelaan darinya." Shahih al-Jami' no. 7662 (shahih).
وَقَدْ طَلَبَ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي مَوْقِفٍ وَاحِدٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
Hakim bin Hizam r.a. pernah meminta kepada Rasulullah tiga kali dalam satu kesempatan,
وَرَسُولُ اللهِ ﷺ يُعْطِيهِ فِي كُلِّ مَرَّةٍ
kemudian Rasulullah memberinya setiap kali ia meminta.
وَلَكِنَّهُ لَمْ يَتْرُكْهُ حَتَّى أَدَّبَهُ بِأَدَبِ الْإِسْلَامِ
Maka, beliau tidak mem-biarkannya begitu saja tetapi beliau mengajarkannya adab Islam,
يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ. وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
"Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan kemurahan hati niscaya ia diberkahi pada rezekinya itu. Tetapi barangsiapa mengambilnya dengan keserakahan diri niscaya ia tidak diberkahi pada hartanya, seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang. Tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (menerima).'" Shahih Bukhari, kitab Fardhi al-Khumus, bab 19, no. 3143. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Zakat no. 1035.
فَأَقْسَمَ حَكِيمٌ أَلَّا يَطْلُبَ بَعْدَ ذَلِكَ شَيْئًا، وَوَفَى بِقَسَمِهِ إِلَى أَنْ مَاتَ
Setelah itu, Hakim bersumpah tidak meminta lagi dan ia menepati sumpahnya hingga ia wafat.
وَذَلِكَ لِأَنَّ إِطَابَةَ الْمَطْعَمِ وَتَحْلِيلَ الرِّزْقِ تَبْدَأُ بِاجْتِنَابِ الشُّبُهَاتِ
Mencari makanan yang baik dan rezeki yang halal bermula dari menjauhkan hal-hal syubhat
وَتَنْتَهِي إِلَى عَدَمِ اسْتِشْرَافِ النَّفْسِ إِلَى مَا بِأَيْدِي النَّاسِ
dan berakhir hingga diri tidak serakah terhadap harta yang ada di tangan orang lain,
بِحَيْثُ تَعِفُّ الْيَدُ وَيَقْنَعُ الْقَلْبُ
sehingga tangan menjadi mulia dan hati menjadi puas.
وَقَدْ يَظُنُّ بَعْضُ النَّاسِ أَنَّ كَثْرَةَ الْجَدَلِ وَأَنَّ الْإِحْرَاجَ فِي تَحْصِيلِ شَيْءٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ عَلَامَاتِ الذَّكَاءِ وَالْفَطَانَةِ
Sebagian orang menyangka bahwa banyak berdebat dan menyulitkan dalam mencapai sesuatu merupakan tanda kecerdasan,
وَقَدْ نَهَى عَنْ ذَلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ
padahal Rasulullah ﷺ melarang hal itu.
لَا تُلِحُّوا فِي الْمَسْأَلَةِ، فَوَاللهِ لَا يَسْأَلُنِي أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا فَتُخْرِجَ لَهُ مَسْأَلَتُهُ مِنِّي شَيْئًا وَأَنَا لَهُ كَارِهٌ فَيُبَارَكَ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتُهُ
"Jika meminta maka janganlah memaksa. Demi Allah, jika salah seorang di antara kalian yang meminta sesuatu kepadaku kemudian aku berikan apa yang dimintanya dengan rasa benci kepadanya, maka ia tidak diberkahi pada apa yang aku berikan itu." Shahih Muslim, kitab Zakat, bab 33, hadits 1038.
فَمَا أُخِذَ بِالْحَيَاءِ لَيْسَ بِالرِّزْقِ الطَّيِّبِ، وَمَا حُصِلَ بِالْإِحْرَاجِ عَدِيمُ الْبَرَكَةِ
Apa-apa yang diambil dengan rasa malu bukanlah rezeki yang baik, dan apa-apa yang dicapai dengan cara menyulitkan orang, maka tidak memiliki keberkahan.
وَمَنْ هَانَتْ عَلَيْهِ نَفْسُهُ الْيَوْمَ لِيَسْأَلَ النَّاسَ
Barangsiapa pada hari ini menghinakan dirinya dengan meminta-minta,
لَا يَبْعُدْ أَنْ يَصِلَ بِهِ الْهَوَانُ إِلَى عَدَمِ تَحَرِّي الْحَلَالِ
niscaya tidak lama lagi kehinaan membuatnya tidak mencari rezeki yang halal.
أَمَّا الرِّزْقُ الَّذِي يَسُوقُهُ اللهُ إِلَيْكَ، وَلَمْ تَتَلَهَّفْ إِلَيْهِ نَفْسُكَ، وَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ قَلْبُكَ فَخُذْهُ
Ambillah rezeki yang diberikan Allah kepadamu, yang dirimu tidak tamak terhadapnya dan hatimu tidak terpaku padanya.
وَقَدْ كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كُلَّمَا عُرِضَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَطَاءً يَقُولُ
Umar r.a. berkata setiap Rasulullah ﷺ memberikan sesuatu kepadanya,
أَعْطِهِ مَنْ هُوَ أَفْقَرُ إِلَيْهِ مِنِّي فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ
"Berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkan." Maka, Rasulullah berkata kepadanya,
خُذْهُ إِذَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ شَيْءٌ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ. فَإِنْ شِئْتَ كُلْهُ وَإِنْ شِئْتَ تَصَدَّقْ بِهِ. وَمَا لَا فَلَا تَتْبَعْهُ نَفْسُكَ
"Ambillah pemberian itu. Jika suatu harta diberikan kepadamu sedang engkau tidak merasa tamak dan tidak memintanya, maka ambillah lalu simpanlah. Namun jika engkau menginginkannya maka makanlah atau sedekahkanlah. Dan harta yang tidak demikian janganlah engkau harapkan. " Shahih Bukhari, kitab Zakat, hadits 1473 Shahih Muslim, kitab Zakat, hadits 1045.
وَالرِّزْقُ الطَّيِّبُ مِنْ أَسْبَابِ قَبُولِ الدُّعَاءِ وَمِمَّا يُشْرَعُ طَلَبُهُ فِي الدُّعَاءِ
Rezeki yang baik dianjurkan untuk diminta dalam berdoa, sebab diterimanya suatu doa.
وَالزَّكَاةُ تُطَهِّرُ مَا بَقِيَ مِنَ الْمَالِ
Zakat karena hal tersebut merupakan yang dikeluarkan berarti membersihkan harta yang tersisa,
إِنَّ اللهَ لَمْ يَفْرِضِ الزَّكَاةَ إِلَّا لِيُطَيِّبَ مَا بَقِيَ مِنْ أَمْوَالِكُمْ
"Sesungguhnya, Allah mewajibkan zakat untuk memperbaiki harta kalian yang tersisa." Sunan Abu Daud, kitab Zakat, bab 33, hadits 1664 (Sanadnya hasan Jami' al-Ushul 2/163).
ولا تَقْبَلُ الصَّدَقَةَ إِلَّا مِنَ الْمَالِ الطَّيِّبِ، وَلَا بَرَكَةَ إِلَّا فِيمَا كَانَ طَيِّبًا
Sedekah hanya diterima dari harta yang baik (halal) dan keberkahan hanya ada pada sesuatu yang baik,
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا.. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
"Sesungguhnya Allah itu baik dan hanya menerima yang baik, kemudian Rasulullah ﷺ menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan lusuh dan berdebu. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas seraya berkata, 'Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin permintaannya dikabulkan?" Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi (Jami' al-Ushu/10/565. hadits 8131).
وَمَنْ كَانَ تَحْتَ يَدِهِ أَمْوَالٌ عَامَّةٌ يَتَوَلَّى تَصْرِيفَهَا بِحُكْمِ مَسْؤُولِيَّتِهِ أَوْ مَكَانَتِهِ الْاجْتِمَاعِيَّةِ
Orang yang mengurusi harta karena sudah menjadi tanggung jawabnya atau karena kedudukan sosialnya kemudian dia berkonsentrasi pada tugasnya itu,
وَهُوَ مُتَفَرِّغٌ لِهَذَا الْأَمْرِ، فَمِنْ حَقِّهِ أَنْ يَأْخُذَ مَا يَكْفِيهِ وَأُسْرَتَهُ بِقَدْرِ حَاجَةِ مِثْلِهِ عُرْفًا
maka dia berhak mengambil secukupnya dari harta tersebut untuk diri dan keluarganya dengan ukuran yang wajar.
وَأَمَّا التَّوَسُّعُ فِيهِ فَوْقَ الْحَاجَةِ، وَالِاسْتِئْثَارُ بِهِ دُونَ النَّاسِ، وَالتَّبْذِيرُ فِي التَّوَافِهِ
Adapun terlalu banyak mengambil untuk melebihi kebutuhan hanya mengutamakan dirinya sendiri dan menghambur-hamburkan harta pada hal-hal yang tidak penting,
فَلَيْسَ مِنْ إِطَابَةِ الْمَطْعَمِ. وَإِلَى ذَلِكَ أَشَارَ ابْنُ حَجَرٍ بِقَوْلِهِ
maka hal itu tidak termasuk memperbaiki makanan. Ibnu Hajar mengisyaratkan hal tersebut dalam perkataannya,
أَنَّ لِلْعَامِلِ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ عَرْضِ الْمَالِ الَّذِي يَعْمَلُ فِيهِ قَدْرَ حَاجَتِهِ، إِذَا لَمْ يَكُنْ فَوْقَهُ إِمَامٌ يَقْطَعُ لَهُ أُجْرَةً مَعْلُومَةً
"Dibolehkan bagi seorang pegawai mengambil sebagian harta yang diurusinya dengan seperlunya, jika tidak ada pemimpin yang memberikan gaji kepadanya." Fat-hu al-Baari 4/35 dari penjelasan hadits 2070
وَالْمَرْأَةُ الَّتِي يَبْخَلُ عَلَيْهَا زَوْجُهَا، قَالَ لِمِثْلِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang istri yang memiliki suami yang kikir kepadanya,
خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ
"Ambillah (sebagian harta) yang dapat mencukupi dirimu dan anakmu der dengan cara yang ma'ruf (sewajarnya)."
وَإِنْ كَانَ فِي نَفْسِ أَحَدِنَا شُبْهَةٌ
Jika salah seorang di antara kita masih merasa adanya sesuatu yang syubhat,
فَلْيُحَلِّلْ رِزْقَهُ بِبَذْلِ أَقْصَى الْجُهْدِ وَغَايَةِ الْوُسْعِ، إِلَى أَنْ يَشْعُرَ أَنَّهُ قَدْ أَحَلَّ مَطْعَمَهُ وَمَشْرَبَهُ؛
maka hendaklah dia mencari rezeki yang halal dengan mencurahkan segala kemampuan hingga ia merasa bahwa ia telah mengonsumsi makanan dan minuman yang halal.
فَالْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ
Kebaikan adalah sesuatu yang dapat menenangkan jiwa, sedangkan dosa adalah sesuatu yang tidak dapat menenangkan diri,
حِينَ تُخَلِّصُ نُفُوسَنَا لِلْحَقِّ، وَلَا تَسْتَعْبِدْهَا الشَّهَوَاتُ
ketika diri kita menjalankan kebenaran dan tidak menjadi budak hawa nafsu.
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN
- إِطَابَةُ الْمَطْعَمِ سُنَّةُ الْمُرْسَلِينَ
Memperbaiki makanan merupakan sunnah (tradisi) para rasul.
- مِنْ أَطْيَبِ الطَّعَامِ مَا كَانَ مِنْ عَمَلِ الْيَدِ
Yang termasuk makanan yang baik adalah makanan yang dihasilkan oleh pekerjaan tangan sendiri.
- الْحَرِيصُ عَلَى إِطَابَةِ الْمَطْعَمِ لَا يَتَحَرَّجُ مِنْ أَيَّةِ مِهْنَةٍ
Orang yang berkeinginan memperbaiki makanan (rezekinya), maka jangan merasa malu pada pekerjaan apa pun (asalkan halal).
لَيْسَ مِنْ طِيبِ الْمَطْعَمِ مَا أُخِذَ مِنَ النَّاسِ بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ
Sesuatu yang diambil dari orang lain tanpa kerelaan darinya maka bukanlah makanan yang baik.
- مَا أُخِذَ بِالْإِلْحَاحِ فِي الْمَسْأَلَةِ لَا يُبَارَكُ فِيهِ
Sesuatu yang dihasilkan dari meminta-minta dengan cara paksa makä tidak diberkahi oleh Allah.
إِطَابَةُ الْمَطْعَمِ مِنْ أَسْبَابِ قَبُولِ الدُّعَاءِ
Memperbaiki makanan adalah sebab diterimanya suatu doa.
لَيْسَ مِنْ طِيبِ الْمَطْعَمِ التَّوَسُّعُ فِي الْمَالِ الْعَامِّ
Berlebihan dalam mengambil harta milik orang lain (yang berada di bawah tanggung jawabnya) maka bukanlah makanan yang baik.
ضَابِطُ إِطَابَةِ الْمَطْعَمِ اسْتِفْرَاغُ الْجُهْدِ فِي الْكَسْبِ
Mencurahkan segala kemampuan dalam bekerja merupakan prinsip dalam memperbaiki makanan (rezeki).
♥️♥️♥️
Sumber:
هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan
Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan - share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar