Label xxx

Senin, 12 Oktober 2026

Rendah Hati – 03 BAB 06 – Hadzihi Akhlaquna

 

BAB 06

AKHLAK KITA DALAM PERASAAN – EMOSI

PASAL 03

التواضع

Rendah Hati

«وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ».

Dan tidaklah seseorang bertawaduk karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.

 

اَللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَزِيزٌ، وَيُرِيدُ لِعِبَادِهِ أَنْ يَكُونُوا أَعِزَّاءَ، عَلَى أَلَّا تَمْتَدَّ مِسَاحَةُ عِزَّتِهِمْ عَلَى إِخْوَانِهِمْ،

Allah Azza wa Jalla Maha Perkasa, dan Dia menginginkan hamba-hamba-Nya menjadi orang-orang yang perkasa, dengan syarat luas keperkasaan mereka tidak melampaui saudara-saudara mereka,

فَتَغْدُوَ عِنْدَئِذٍ إِعْجَابًا بِالنَّفْسِ، وَاسْتِعْلَاءً عَلَى الْآخَرِينَ، وَحَطًّا مِنْ شَأْنِهِمْ.

sehingga pada saat itu berubah menjadi kebanggaan diri, kesombongan atas orang lain, dan merendahkan kedudukan mereka.

وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَمُنُّ عَلَى عِبَادِهِ أَنْ هَدَاهُمْ لِلْإِيمَانِ، فَإِنْ أَبَوْا إِلَّا الضَّلَالَاتِ،

Dan Allah Azza wa Jalla menganugerahi hamba-hamba-Nya dengan membimbing mereka kepada iman, maka jika mereka enggan kecuali tetap dalam kesesatan,

فَهُوَ قَادِرٌ عَلَى الِاسْتِبْدَالِ بِهِمْ قَوْمًا يَعْتَزُّونَ بِإِيمَانِهِمْ، وَيَتَوَاضَعُونَ لِإِخْوَانِهِمْ.

Dia Mahakuasa untuk menggantikan mereka dengan kaum yang bangga dengan keimanan mereka dan bertawaduk kepada saudara-saudara mereka.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ﴾ [المائدة: ٥٤]،

Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang mencela.

فَهَذِهِ الذِّلَّةُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ صِفَةُ الْمُصْطَفَيْنَ لِحَمْلِ هَذَا الدِّينِ - حِينَ يَرْتَدُّ عَنْهُ الْمُرْتَدُّونَ.

Maka kerendahan hati terhadap orang-orang mukmin ini adalah sifat orang-orang yang dipilih untuk mengemban agama ini ketika orang-orang yang murtad berpaling darinya.

وَفِي تَفْسِيرِ الْآيَةِ: ﴿أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾؛ أَيْ: يَرْأَفُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ، وَيَرْحَمُونَهُمْ، وَيَلِينُونَ لَهُمْ، وَيُغْلِظُونَ عَلَى الْكُفَّارِ، وَيُعَادُونَهُمْ.

Dan dalam tafsir ayat yang artinya bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, maksudnya adalah mereka menyayangi orang-orang mukmin, mengasihi mereka, bersikap lembut kepada mereka, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, dan memusuhi mereka.

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هُمْ الْمُؤْمِنُونَ كَالْوَالِدِ لِلْوَلَدِ، وَالسَّيِّدِ لِلْعَبْدِ. وَهُمْ فِي الْغِلْظَةِ عَلَى الْكُفَّارِ، كَالسَّبُعِ عَلَى فَرِيسَتِهِ؛ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾ [الفتح: ٢٩]

Ibnu Abbas berkata: Mereka bagi orang-orang mukmin bagaikan orang tua kepada anaknya, dan tuan kepada hamba sahayanya. Sedangkan dalam ketegasan terhadap orang-orang kafir, mereka bagaikan binatang buas terhadap mangsanya. Allah Taala berfirman yang artinya bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an 6/220.

وَفِي تَعْلِيلِ اسْتِعْمَالِ حَرْفِ الْجَرِّ (عَلَى) فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾؛ تَفْسِيرَانِ:

Dan dalam menjelaskan penggunaan huruf jar ala pada firman Allah Taala yang artinya bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, terdapat dua penafsiran:

فَفِي قَوْلِ إِنَّهُ ضُمِّنَ مَعْنَى الْحُنُوِّ وَالْعَطْفِ كَأَنَّهُ قَالَ عَاطِفِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ عَلَى وَجْهِ التَّذَلُّلِ وَالتَّوَاضُعِ،

Pendapat pertama menyatakan bahwa kata tersebut mengandungi makna kasih sayang dan kelembutan seolah-olah Dia berfirman bersikap penuh kasih kepada orang-orang mukmin dalam bentuk kerendahan hati dan tawaduk.

وَفِي قَوْلٍ ثَانٍ أَنَّ (عَلَى) تَدُلُّ عَلَى عُلُوِّ مَقَامِهِمْ، وَأَنَّهُ رَغْمَ فَضْلِهِمْ وَارْتِفَاعِ مَنْزِلَتِهِمْ يَذِلُّونَ وَيَخْضَعُونَ لِمَنْ فُضِّلُوا عَلَيْهِمْ مَعَ شَرَفِهِمْ وَعُلُوِّ مَكَانِهِمْ (١).

Pendapat kedua menyatakan bahwa kata ala menunjukkan ketinggian kedudukan mereka, dan bahwa meskipun memiliki keutamaan dan derajat yang tinggi, mereka tetap merendahkan diri dan tunduk kepada orang-orang yang mereka diutamakan atasnya padahal mereka memiliki kemuliaan dan kedudukan yang tinggi. Tafsir al-Bahr al-Muhith karya Abu Hayyan al-Andalusi 3/412.

اَلْعِزَّةُ صِفَةٌ مَحْمُودَةٌ، وَالْكِبْرُ عَلَى النَّاسِ وَالْعُجْبُ بِالنَّفْسِ مَذْمُومَانِ، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَطَّ مِنْ قِيمَةِ الدُّنْيَا فِي نَظَرِ الْمُؤْمِنِ، وَبَيَّنَ هَوَانَهَا عَلَى اللَّهِ؛ لِيَعْلَمَ النَّاسُ جَمِيعًا أَنَّهُ

Kemuliaan adalah sifat yang terpuji, sedangkan kesombongan terhadap manusia dan kagum pada diri sendiri adalah sifat yang tercela. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah merendahkan nilai dunia di pandangan seorang mukmin, dan menjelaskan kehinaannya di sisi Allah, agar semua manusia mengetahui bahwa

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا﴾ [فاطر: ١٠]

barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah kemuliaan itu semuanya,

وَأَنَّ اللَّهَ يُكْرِمُ بِهَا أَوْلِيَاءَهُ حَتَّى وَهُمْ فِي ذِرْوَةِ الْمِحْنَةِ.

dan bahwa Allah memuliakan para wali-Nya dengan kemuliaan tersebut meskipun mereka berada di puncak ujian.

﴿وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾ [المنافقون: ٨],

Padahal milik Allah-lah kemuliaan, bagi rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.

مَعَ كُلِّ هَذِهِ الْعِزَّةِ، فَالْمَطْلُوبُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الشَّدِيدِ عَلَى الْكُفَّارِ، أَنْ يَتَرَاحَمَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ، وَاللَّائِقُ بِالْمُؤْمِنِ الْعَزِيزِ عَلَى الْكَافِرِينَ، أَنْ يَتَعَامَلَ بِالذُّلِّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ.

Bersamaan dengan semua kemuliaan ini, maka yang dituntut dari seorang mukmin yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir adalah agar ia saling mengasihi dengan sesama orang mukmin, dan yang pantas bagi seorang mukmin yang perkasa terhadap orang-orang kafir adalah agar ia memperlakukan orang-orang mukmin dengan kerendahan hati.

يَقُولُ ابْنُ قُدَامَةَ الْمَقْدِسِيُّ فِي حَدِيثِهِ عَنِ التَّوَاضُعِ:

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata dalam pembahasannya mengenai tawaduk:

(وَاعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْخُلُقَ كَسَائِرِ الْأَخْلَاقِ، لَهُ طَرَفَانِ وَوَسَطٌ: فَطَرَفُهُ الَّذِي يَمِيلُ إِلَى الزِّيَادَةِ يُسَمَّى تَكَبُّرًا، وَطَرَفُهُ الَّذِي يَمِيلُ إِلَى النُّقْصَانِ يُسَمَّى تَخَسُّسًا وَمَذَلَّةً. وَالْوَسَطُ يُسَمَّى تَوَاضُعًا - وَهُوَ الْمَحْمُودُ - وَهُوَ أَنْ يَتَوَاضَعَ مِنْ غَيْرِ مَذَلَّةٍ..)

Dan ketahuilah bahwa akhlak ini seperti akhlak-akhlak lainnya, memiliki dua ujung dan satu pertengahan: Ujungnya yang cenderung kepada kelebihan disebut takabur, dan ujungnya yang cenderung kepada kekurangan disebut merendahkan diri secara hina dan kehinaan. Sedangkan bagian tengahnya disebut tawaduk dan itulah yang terpuji, yaitu seseorang bertawaduk tanpa disertai kehinaan. Mukhtashar Minhaj al-Qashidin halaman 254.

إِنَّ مِنْ تَأْدِيبِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لِلْمُؤْمِنِينَ عَلَى خُلُقِ (الذِّلَّةِ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ) أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو:

Sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang-orang mukmin mengenai akhlak bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin adalah bahwa beliau biasa berdoa:

«اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ»

Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku di dalam golongan orang-orang miskin. Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/275 Kitab az-Zuhd - Bab 23 - Hadis 1917/2471.

يَقُولُ ابْنُ الْأَثِيرِ: (أَرَادَ بِهِ التَّوَاضُعَ وَالْإِخْبَاتَ، وَأَلَّا يَكُونَ مِنَ الْجَبَّارِينَ الْمُتَكَبِّرِينَ).

Ibnu Al-Atsir berkata: Beliau menghendaki dengannya tawaduk dan kerendahan hati, serta agar tidak menjadi bagian dari orang-orang yang sombong lagi takabur. Dari catatan pinggir Shahih al-Jami' 1/271 sebagai komentar atas hadis nomor 1261.

وَقَدْ كَانَ عُمَرُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - يُدَرِّبُ وُلَاتَهُ عَلَى الذِّلَّةِ عَلَى الرَّعِيَّةِ، وَيَنْهَاهُمْ عَنْ إِذْلَالِ النَّاسِ، كَمَا يُعَلِّمُ النَّاسَ حَقَّهُمْ فِي أَنْ يَعِيشُوا كِرَامًا، وَمِمَّا جَاءَ فِي خُطْبَةٍ لَهُ:

Dan Umar Radhiyallahu Anhu biasa melatih para gubernurnya untuk bersikap rendah hati kepada rakyat, serta melarang mereka dari menghinakan manusia, sebagaimana beliau mengajarkan kepada manusia hak mereka untuk hidup secara terhormat. Di antara yang terdapat dalam khotbah beliau:

(إِلَّا إِنِّي وَاللَّهِ مَا أُرْسِلُ عُمَّالِي إِلَيْكُمْ لِيَضْرِبُوا أَبْشَارَكُمْ، وَلَا لِيَأْخُذُوا أَمْوَالَكُمْ، وَلَكِنْ أُرْسِلُهُمْ إِلَيْكُمْ؛ لِيُعَلِّمُوكُمْ دِينَكُمْ وَسُنَّتَكُمْ، فَمَنْ فُعِلَ بِهِ شَيْءٌ سِوَى ذَلِكَ، فَلْيَرْفَعْهُ إِلَيَّ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِذًا لَأَقُصَّنَّهُ مِنْهُ... أَلَّا لَا تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ فَتُذِلُّوهُمْ..) (٢)،

Ingatlah, demi Allah, aku tidak mengutus para pegawaiku kepada kalian agar mereka memukul kulit kalian, dan tidak pula untuk mengambil harta kalian, tetapi aku mengutus mereka kepada kalian agar mereka mengajarkan agama dan sunnah kalian kepada kalian. Barangsiapa yang diperlakukan dengan sesuatu selain itu, maka hendaklah ia melaporkannya kepadaku, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan membalaskannya darinya. Ingatlah, janganlah kalian memukul kaum muslimin lalu kalian menghina mereka. Musnad Ahmad 1/41 dan Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata: Sanadnya hasan.

وَكَانَ عُمَرُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - يُوصِي وَالِيَهُ عَلَى الْحِمَى بِقَوْلِهِ: (اضْمُمْ جَنَاحَكَ عَنِ الْمُسْلِمِينَ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمُسْلِمِ فَإِنَّ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ)

Dan Umar Radhiyallahu Anhu biasa berpesan kepada gubernurnya di Hima dengan perkataannya: Rendahkanlah sayapmu terhadap kaum muslimin dan takutlah akan doa orang Islam, karena doa orang yang terzalimi itu dikabulkan. Shahih al-Bukhari - Kitab al-Jihad - Bab 180 - Hadis 3059.

الِاعْتِرَافُ بِالْخَطَأِ يَحْتَاجُ إِلَى شَجَاعَةٍ كَبِيرَةٍ، وَنَزَاهَةٍ عَالِيَةٍ، وَتَوَاضُعٍ جَمٍّ.

Pengakuan atas kesalahan membutuhkan keberanian yang besar, integritas yang tinggi, dan ketawadukan yang sangat.

وَإِنْ حَدَّثَتْكَ نَفْسُكَ أَنَّ اعْتِرَافَكَ قَدْ يَضَعُ مِنْ قَدْرِكَ فَأَحْرِصْ عَلَى سَلَامَةِ الْحَقِّ، أَكْثَرَ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى تَزَيُّنِ نَفْسِكَ، كَمَا أَنَّ قَبُولَ عُذْرِ الْمُعْتَذِرِ إِلَيْكَ تَوَاضُعٌ رَفِيعٌ، وَكَرَمٌ عَالٍ.

Dan jika jiwamu membisikkan kepadamu bahwa pengakuanmu dapat menurunkan kedudukanmu, maka berusahalah lebih keras demi keselamatan kebenaran daripada usahamu untuk mempercantik dirimu, sebagaimana menerima permintaan maaf dari orang yang meminta maaf kepadamu adalah ketawadukan yang luhur dan kemuliaan yang tinggi.

فَالنُّفُوسُ الْخَبِيثَةُ تَتَمَنَّى الزَّلَّةَ مِنَ الْآخَرِينَ؛ لِتَتَشَفَّى بِالنَّقْدِ وَالْمُحَاسَبَةِ وَالتَّشْهِيرِ..

Maka jiwa-jiwa yang buruk berharap adanya ketergelinciran dari orang lain untuk memuaskan diri dengan celaan, penghitungan, dan pencemaran nama baik.

وَيُعَبِّرُ ابْنُ الْقَيِّمِ عَنْ هَذَا الْمَعْنَى بِقَوْلِهِ:

Dan Ibnu Al-Qayyim mengungkapkan makna ini dengan perkataannya:

(مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ ثُمَّ جَاءَ يَعْتَذِرُ عَنْ إِسَاءَتِهِ، فَإِنَّ التَّوَاضُعَ يُوجِبُ عَلَيْكَ قَبُولَ مَعْذِرَتِهِ - حَقًّا كَانَتْ أَوْ بَاطِلًا - وَتَكِلُ سَرِيرَتَهُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى.. وَعَلَامَةُ الْكَرَمِ وَالتَّوَاضُعِ: أَنَّكَ إِذَا رَأَيْتَ الْخَلَلَ فِي عُذْرِهِ، لَا تُوقِفُهُ عَلَيْهِ، وَلَا تُحَاجُّهُ..) (٤)،

Barangsiapa yang berbuat buruk kepadamu kemudian ia datang meminta maaf atas keburukan yang dilakukannya, maka tawaduk mewajibkanmu untuk menerima alasannya baik itu benar maupun salah, dan menyerahkan urusan batinnya kepada Allah Taala. Tanda kemuliaan dan tawaduk adalah jika kamu melihat adanya kecacatan dalam alasannya, kamu tidak membeberkannya kepadanya, dan kamu tidak mendebatnya. Tahdzib Madarij as-Salikin halaman 433.

فَابْتَعِدْ عَنِ الْإِحْرَاجِ، وَاقْلِبِ الصَّفْحَةَ، وَابْدَأْ مِنْ جَدِيدٍ، وَسَيَكْبُرُ لَكَ صَاحِبُكَ حُسْنَ تَجَاوُزِكَ عَنْهُ، وَعَدَمَ التَّحْقِيقِ فِي عُذْرِهِ.

Maka jauhilah rasa canggung, baliklah lembarannya, mulailah dari awal, dan sahabatmu akan sangat menghargai kebaikanmu dalam memaafkannya serta ketidaktelitianmu dalam memeriksa alasannya.

وَإِذَا أَصْرَرْتَ عَلَى أَنْ تَضَعَ أَخَاكَ فِي مَوْقِفٍ تُذِلُّهُ فِيهِ وَتُحَاسِبُهُ مُحَاسَبَةَ الْأَرْبَابِ،

Dan jika kamu bersikeras untuk menempatkan saudaramu dalam posisi yang menghinakannya dan menghisabnya sebagaimana hisabnya para arbaab,

فَقَدْ تَجَرَّأْتَ عَلَى حَرْبِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَيْسَ لَكَ بِهِ طَاقَةٌ لِمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ: «مَنْ أَذَلَّ لِي وَلِيًّا فَقَدْ اسْتَحَلَّ مُحَارَبَتِي»

maka sungguh kamu telah berani memerangi Allah Azza wa Jalla, dan kamu tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi-Nya berdasarkan apa yang tersebut dalam hadis qudsi: Barangsiapa yang menghinakan wali-Ku maka sungguh ia telah menghalalkan peperangan dengan-Ku, Musnad Ahmad 6/256

وَاللَّهُ وَلِيُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ.

dan Allah adalah pelindung setiap orang mukmin.

إِنَّ الَّذِي يَتَصَدَّرُ لِقِيَادَةِ النَّاسِ وَتَوْجِيهِهِمْ، وَكَسْبِ قُلُوبِهِمْ، لَا بُدَّ أَنْ يَتَمَتَّعَ بِقَدْرٍ كَبِيرٍ مِنَ التَّوَاضُعِ، وَلِذَلِكَ أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِقَوْلِهِ:

Sesungguhnya orang yang tampil terdepan untuk memimpin manusia, mengarahkan mereka, dan merebut hati mereka, niscaya harus memiliki porsi tawaduk yang besar. Oleh karena itu Allah Azza wa Jalla memerintahkan Nabi-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan firman-Nya

﴿وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ﴾ [الشعراء: ٢١٥].

Dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang mengikutimu di antara orang-orang yang beriman.

فَمَا بَالُ أَكَابِرِ أُمَّتِهِ مِنْ بَعْدِهِ، وَهُمْ دُونَهُ فِي الْمَنْزِلَةِ وَالْخُلُقِ، لَا يَخْفِضُونَ جَنَاحَهُمْ؟!

Maka bagaimana pula dengan pembesar-pembesar umatnya setelah beliau, padahal kedudukan dan akhlak mereka berada di bawah beliau, mereka tidak merendahkan sayap mereka?

وَقَدْ جَاءَ فِي الْحِكَمِ: (مَنْ كَثُرَ تَوَاضُعُهُ كَثُرَ صَدِيقُهُ)،

Dan telah disebutkan dalam hikmah: Barangsiapa yang banyak ketawadukannya maka banyak pula temannya.

فِإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَكْسِبَ أَنْصَارًا لِدَعْوَتِكَ، فَعَلَيْكَ بِالتَّوَاضُعِ، وَاحْذَرِ الْعُجْبَ وَالْكِبْرَ، وَأَخْطَرُهُ عُجْبُ الطَّاعَةِ،

Maka jika kamu ingin mendapatkan penolong-penolong bagi dakwahmu, hendaklah kamu bertawaduk, dan berhati-hatilah terhadap sifat ujub dan sombong, yang paling berbahaya di antaranya adalah ujub dalam ketaatan,

الَّذِي يَجْعَلُكَ تَسْتَصْغِرُ النَّاسَ إِزَاءَ مَا تَقُومُ بِهِ أَنْتَ مِنْ طَاعَاتٍ، وَلِذَلِكَ يُرْوَى عَنْ مُطَرِّفٍ قَوْلُهُ:

yang membuatmu meremehkan manusia berkenaan dengan ketaatan-ketaatan yang kamu lakukan sendiri. Oleh karena itu diriwayatkan dari Mutharrif perkataannya:

(لَأَنْ أَبِيتَ نَائِمًا، وَأُصْبِحَ نَادِمًا، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَبِيتَ قَائِمًا، وَأُصْبِحَ مُعْجَبًا) (٢).

Sungguh aku tidur di malam hari lalu bangun di pagi hari dalam keadaan menyesal, lebih aku sukai daripada aku berdiri salat di malam hari lalu bangun di pagi hari dalam keadaan takjub pada diri sendiri. Mukhtashar Minhaj as-Shadikin halaman 254.

وَيُعَرِّفُ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ تَوَاضُعَ الْمُؤْمِنِ بِأَنَّهُ: (أَنْ يَخْضَعَ لِلْحَقِّ، وَيَنْقَادَ لَهُ، وَيَقْبَلَهُ مِمَّنْ قَالَهُ)

Dan Fudhail bin Iyadh mendefinisikan tawaduk seorang mukmin yaitu: Tunduk kepada kebenaran, patuh kepadanya, dan menerimanya dari siapapun yang mengucapkannya. Tahdzib Madarij as-Salikin halaman 429.

وَهَذَا الْخُضُوعُ لِلْحَقِّ هُوَ عَيْنُ الْعِزِّ؛ لِأَنَّ طَاعَةَ اللَّهِ، وَرُجُوعٌ إِلَى الصَّوَابِ، وَتَعْوِيدٌ لِلنَّفْسِ أَلَّا تُصِرَّ عَلَى بَاطِلٍ.

Dan ketundukan kepada kebenaran ini adalah hakikat kemuliaan itu sendiri, karena ketaatan kepada Allah, kembalinya seseorang kepada kebenaran, dan pembiasaan diri agar tidak bersikeras di atas kebatilan.

وَلِذَلِكَ يَقُولُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ، إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ»

Oleh karena itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Dan tidaklah seseorang bertawaduk karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya. Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi: Jami' al-Ushul 6/455 Hadis 4660.

وَمَنْ كَانَ قَصْدُهُ رِضَا اللَّهِ، هَانَ عَلَيْهِ الِانْقِيَادُ لِلْحَقِّ.

Dan barangsiapa yang tujuannya adalah keridaan Allah, maka menjadi mudah baginya untuk tunduk kepada kebenaran.

كَالَّذِي رُوِيَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ الْعَنْبَرِيِّ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ مَسْأَلَةٍ، فَغَلِطَ فِيهَا، فَلَمَّا نُبِّهَ إِلَى غَلَطِهِ، أَطْرَقَ سَاعَةً، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ:

Sebagaimana dikisahkan dari Ubaidullah bin Al-Hasan Al-Anbari bahwa beliau ditanya tentang suatu masalah, lalu beliau keliru di dalamnya. Ketika beliau diingatkan atas kekeliruannya, beliau menunduk sejenak, kemudian mengangkat kepalanya lalu berkata:

(إِذًا أَرْجِعُ وَأَنَا صَاغِرٌ، لَأَنْ أَكُونَ ذَنَبًا فِي الْحَقِّ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَكُونَ رَأْسًا فِي الْبَاطِلِ)

Kalau begitu aku kembali dan aku berada dalam keadaan hina, sungguh menjadi ekor dalam kebenaran lebih aku sukai daripada menjadi kepala dalam kebatilan. Tahdzib at-Tahdzib 7/7.

وَهَذَا الْأَصْلُ فِي الْعَالِمِ، أَنْ يَتَوَاضَعَ لِلَّهِ وَيَنْقَادَ لِلْحَقِّ؛ لِأَنَّهُ مَقْصُودُهُ،

Dan inilah prinsip dasar bagi seorang ulama, yaitu bertawaduk karena Allah dan tunduk kepada kebenaran karena itulah tujuannya,

وَإِنْ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَنْ ظَهَرَ الْحَقُّ عَلَى لِسَانِهِ أَيُّ نَوْعٍ مِنَ الْعَدَاوَةِ وَالِاخْتِلَافِ.

meskipun di antara dirinya dan orang yang kebenaran itu tampak melalui lisannya terdapat bentuk permusuhan atau perselisihan apapun.

وَعَدَمُ الْخُضُوعِ لِلْحَقِّ هُوَ عَيْنُ الْكِبْرِ وَالْبَغْيِ، وَلِذَلِكَ عَرَّفَ الرَّسُولُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الْكِبْرَ بِقَوْلِهِ: «اَلْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»

Dan ketidaktundukan kepada kebenaran adalah hakikat kesombongan dan kezaliman. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendefinisikan kesombongan dengan sabdanya: Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Shahih Muslim - Kitab al-Iman - Bab 39 - Hadis 147.

وَبِهَذَا نَرَى أَنَّ التَّوَاضُعَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى كَوْنِهِ خُلُقًا وِجْدَانِيًّا مَحْمُودًا، فَإِنَّهُ وِقَايَةٌ مِنَ الْوُقُوعِ فِي الظُّلْمِ، وَحِمَايَةٌ مِنَ التَّعَالِي وَالتَّفَاخُرِ عَلَى إِخْوَةِ الدِّينِ.

Dan dengan ini kita melihat bahwa tawaduk di samping sebagai akhlak batin yang terpuji, ia juga merupakan benteng dari terjerumus ke dalam kezaliman, dan pelindung dari sikap meninggikan diri serta membangga-banggakan diri atas saudara sesama agama.

وَفِي الْحَدِيثِ: «إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ: أَنْ تَوَاضَعُوا؛ حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ»

Dan dalam hadis disebutkan: Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawaduk, sehingga tidak ada seorang pun yang berbangga diri atas orang lain, dan tidak ada seorang pun yang melampaui batas atas orang lain. Shahih Muslim - Kitab al-Jannah - Bab 16 - Hadis 64.

وَمِنْ رِفْعَةِ مَقَامِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَإِنَّهُ حِينَ رَأَى رَجُلًا يَرْتَعِدُ مِنْهُ، وَكَأَنَّمَا كَانَ يَظُنُّهُ كَمُلُوكِ الْأَرْضِ، قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -:

Dan di antara keluhuran kedudukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ketika beliau melihat seorang pria gemetar ketakutan karena mengira beliau seperti raja-raja di bumi, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

«هَوِّنْ عَلَيْكَ فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ، إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ كَانَتْ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ»

Tenangkanlah dirimu, karena sesungguhnya aku bukanlah seorang raja, aku hanyalah anak dari seorang wanita dari Quraisy yang biasa memakan dendaan daging kering. Shahih Sunan Ibni Majah 2/232 Hadis 2677/3312.

وَإِقْرَارُهُ بِمَا كَانَتْ عَلَيْهِ أُمُّهُ مِنَ الْفَقْرِ أَوْ خُشُونَةِ الْعَيْشِ، يَزِيدُ مِنْ إِكْبَارِهِ فِي نَفْسِ سَامِعِهِ، وَلَا يَضِيرُهُ شَيْئًا،

Dan pengakuan beliau terhadap apa yang dialami ibunya berupa kemiskinan atau kesederhanaan hidup, justru semakin menambah rasa hormat di hati orang yang mendengarnya, dan hal itu sama sekali tidak merugikan beliau sedikit pun.

وَيُدَرِّبُ أَصْحَابَهُ بِذَلِكَ عَلَى عَدَمِ التَّعَالِي عَلَى الْخَلْقِ؛ بِاسْتِحْضَارِ جَوَانِبِ مِنْ بَشَرِيَّتِهِمْ، أَوْ سَابِقِ حَالِهِمْ، وَبِتَذَكُّرِ أَنَّهُمْ جَمِيعًا بَنُو آدَمَ،

Beliau melatih para sahabatnya dengan hal itu agar tidak merasa tinggi hati atas makhluk, dengan cara menghadirkan sisi-sisi kemanusiaan mereka atau keadaan mereka di masa lalu, serta mengingat bahwa mereka semua adalah anak cucu Adam,

وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ، وَأَنَّ الْكَرَمَ عِنْدَ اللَّهِ بِالتَّقْوَى، وَأَنَّ الْمُتَفَاخِرَ بِالْقِيَمِ الْجَاهِلِيَّةِ أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنَ الْجِعْلَانِ.

sedangkan Adam berasal dari tanah, dan bahwa kemuliaan di sisi Allah adalah dengan ketakwaan, serta orang yang membanggakan nilai-nilai jahiliah adalah lebih hina di sisi Allah daripada kumbang kotoran.

وَمَعَ مَا عُرِفَ عَنْ نَاقَةِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مِنَ السُّرْعَةِ، فَقَدْ سَبَقَهْتِهَا مَرَّةً نَاقَةُ أَعْرَابِيٍّ، وَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى الصَّحَابَةِ،

Dan meskipun telah diketahui tentang kecepatan unta Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, pernah suatu ketika unta seorang Badui mendahuluinya, dan hal itu terasa berat bagi para sahabat.

بَيْنَمَا تَلَقَّى رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الْأَمْرَ بِكُلِّ بَسَاطَةٍ، بَلِ اغْتَنَمَ الْفُرْصَةَ، وَعَمَّقَ فِي النُّفُوسِ سُنَّةً كَوْنِيَّةً، فَقَالَ:

Sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyikapi perkara tersebut dengan sangat santai, bahkan beliau memanfaatkan kesempatan tersebut dan menanamkan ke dalam jiwa sebuah sunnatullah dengan bersabda:

«حَقٌّ عَلَى اللَّهِ: أَلَّا يَرْتَفِعَ شَيْءٌ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ» (١)،

Menjadi hak Allah bahwa tidak ada sesuatu pun dari dunia ini yang meninggi melainkan Dia akan merendahkannya, agar orang-orang yang sombong jera dan orang yang membanggakan diri bertawaduk, Shahih al-Bukhari - Kitab al-Jihad - Bab 59 - Hadis 2872.

بِحَيْثُ يَرْتَدِعُ الْمُتَعَالُونَ وَيَتَوَاضَعُ الْمُتَفَاخِرُ؛ لِأَنَّهُ لَا يَدُومُ شَيْءٌ فِي الدُّنْيَا عَلَى حَالِهِ، فَقَدْ يَذِلُّ الرَّفِيعُ، وَيَرْتَفِعُ الْوَضِيعُ.

karena tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang kekal dalam keadaannya, kadang orang yang tinggi menjadi rendah, dan orang yang rendah menjadi tinggi.

وَمِنْ كَمَالِ مَا عُرِفَ عَنْ تَوَاضُعِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنَّكَ كَانَ يَخْدُمُ أَهْلَهُ - وَهُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَسْتَعِينَ بِالْخَدَمِ –

Dan di antara kesempurnaan tawaduk Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang dikenal adalah bahwa beliau biasa melayani keluarganya, padahal beliau mampu untuk mempekerjakan pelayan,

وَيُسَلِّمُ عَلَى الصِّبْيَانِ الَّذِينَ يَلْقَاهُمْ فِي الطَّرِيقِ - وَهُوَ الَّذِي تَهَابُهُ الْمُلُوكُ - وَحَتَّى حِينَ يَكُونُ فِي أَوْجِ قُوَّتِهِ وَانْتِصَارِهِ، لَا يَكُونُ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ.

dan beliau memberi salam kepada anak-anak kecil yang beliau temui di jalan, padahal beliau adalah orang yang disegani oleh para raja. Bahkan ketika beliau berada di puncak kekuatan dan kemenangannya, beliau tidak bersikap sewenang-wenang di muka bumi.

فَقَدْ كَانَ يَوْمَ غَزْوِ بَنِي قُرَيْظَةَ عَلَى حِمَارٍ مَخْطُومٍ بِحَبْلٍ مِنْ لِيفٍ، وَحِينَ دَخَلَ مَكَّةَ فَاتِحًا، دَخَلَ مُنَكَّسَ الرَّأْسِ، تَوَاضُعًا لِرَبِّهِ،

Maka pada hari perang Bani Quraizah beliau menaiki keledai yang tali kekangnya terbuat dari serabut kurma, dan ketika beliau memasuki Makkah sebagai seorang penakluk, beliau memasukinya dengan menundukkan kepala sebagai bentuk ketawadukan kepada Tuhannya,

وَحَذَرًا مِنْ تَسَلُّلِ مَشَاعِرِ الْكِبْرِ إِلَى نَفْسِ الْمُنْتَصِرِ، الَّذِي تُحَدِّثُهُ نَفْسُهُ بِأَنَّهُ هُوَ الَّذِي صَنَعَ النَّصْرَ، وَقَدْ يَنْسَى فَضْلَ اللَّهِ وَتَوْفِيقَهُ.

serta bentuk kehati-hatian dari menyusupnya perasaan sombong ke dalam jiwa seorang pemenang yang mungkin membisikkan pada dirinya bahwa dialah yang menciptakan kemenangan tersebut, sehingga ia melupakan karunia dan taufik Allah.

وَوَصَفَ ابْنُ تَيْمِيَةَ حَالَ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِقَوْلِهِ:

Dan Ibnu Taimiyah menyifatkan keadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan perkataannya:

(إِنَّهُ اخْتَارَ الْعُبُودِيَّةَ - وَالتَّوَاضُعَ وَإِنْ كَانَ هُوَ الْأَعْلَى وَهُوَ وَمَنْ اتَّبَعَهُ -.. وَلَمْ يُرِدِ الْعُلُوَّ، وَإِنْ كَانَ قَدْ حَصَلَ لَهُ).

Sesungguhnya beliau memilih sifat penghambaan dan ketawadukann padahal beliau dan orang-orang yang mengikutinya adalah yang paling tinggi, dan beliau tidak menginginkan ketinggian status duniawi, meskipun hal itu telah dianugerahkan kepadanya. Majmu' Fatawa Ibni Taimiyah 11/131.

وَيَكْفِي الْمُتَكَبِّرِينَ لِيَؤُوبُوا إِلَى رُشْدِهِمْ، أَنْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّهُمْ، وَيَصْرِفُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ، وَيَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، وَيَسْقِيهِمْ طِينَةَ الْخَبَالِ، وَتَوَعَّدَهُمْ بِأَنْ يَقِصْمَهُمْ.

Dan sudah cukup bagi orang-orang yang sombong agar mereka kembali kepada kesadaran mereka, yaitu dengan mengetahui bahwa Allah tidak mencintai mereka, memalingkan mereka dari ayat-ayat-Nya, menutup hati mereka, memberi mereka minum dari keringat atau nanah penduduk neraka, dan mengancam akan membinasakan mereka.

وَ«مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ أَكَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي النَّارِ»

Dan barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan, maka Allah akan melemparkannya tersungkur di atas wajahnya ke dalam neraka. Musnad Ahmad 2/215 dan para perawinya adalah perawi kitab Shahih.

 كُلُّ هَذَا الْجَزَاءِ مِنْ أَجْلِ مِثْقَالَ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ، فَكَمْ يَحْتَاجُ الْمَرْءُ إِلَى حِفْظِ قَلْبِهِ مِنْ مَشَاعِرِ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالغُرُورِ!

Semua balasan ini hanya karena seberat biji sawi dari kesombongan, maka betapa butuhnya seseorang untuk menjaga hatinya dari perasaan-perasaan sombong, ujub, dan tertipu!

وَلَا يَدْفَعُ الْمَرْءَ إِلَى الْكِبْرِ، إِلَّا حُبُّ التَّمَيُّزِ عَنِ الْآخَرِينَ، أَوْ الرَّغْبَةُ فِي عَدَمِ الْخُضُوعِ لِأَحَدٍ، أَوْ مُحَاوَلَةُ إِخْفَاءِ نَقْصٍ فِي ذَاتِهِ، وَكُلُّهَا مُهْلِكَةٌ لِلْمَرْءِ.

Dan tidak ada yang mendorong seseorang kepada kesombongan melainkan kecintaan untuk tampil berbeda dari orang lain, atau keinginan untuk tidak tunduk kepada siapapun, atau usaha untuk menyembunyikan kekurangan pada dirinya, dan semuanya itu adalah hal-hal yang membinasakan seseorang.

«.. فَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوَى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ»

Adapun perkara-perkara yang membinasakan adalah sifat bakhil yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri. Shahih al-Jami' - Hadis 3045.

كَمَا يَكْفِي الْمُتَوَاضِعَ أَنْ يَعْلَمَ: أَنَّ اللَّهَ يَرْفَعُهُ، وَأَنَّ عِبَادَ اللَّهِ تُحِبُّهُ، وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أُسْوَتُهُ، وَأَنَّهُ أَعْرَفُ بِقَدْرِ رَبِّهِ وَبِقَدْرِ نَفْسِهِ.

Sebagaimana sudah cukup bagi orang yang bertawaduk untuk mengetahui bahwa Allah mengangkat derajatnya, bahwa hamba-hamba Allah mencintainya, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah teladannya, dan bahwa ia adalah orang yang paling mengenal kadar Tuhannya dan kadar dirinya sendiri.

فَحَاذِرْ مِنَ الِانْزِلَاقِ مَعَ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ، وَأَهْوَاءِ النُّفُوسِ، لَعَلَّكَ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ يُحِبُّهُمْ اللَّهُ وَيُحِبُّونَهُ ﴿أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ﴾ [المائدة: ٥٤].

Maka berhati-hatilah dari tergelincir bersama bisikan-bisikan setan dan hawa nafsu, semoga kamu termasuk golongan orang-orang yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir.

 

خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ:

KESIMPULAN

·       اَلَّذِينَ يُحِبُّهُمْ اللَّهُ وَيُحِبُّونَهُ مُتَوَاضِعُونَ.

Orang-orang yang dicintai Allah dan mencintai-Nya adalah orang-orang yang bertawaduk.

·       لَا تَعَارُضَ بَيْنَ الْعِزَّةِ عَلَى الْكَافِرِينَ وَالذِّلَّةِ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ.

Tidak ada pertentangan antara bersikap perkasa terhadap orang-orang kafir dan bersikap rendah hati terhadap orang-orang mukmin.

·       عُمَرُ يُدَرِّبُ وُلَاتَهُ عَلَى الذِّلَّةِ لِرَعِيَّتِهِمْ.

Umar melatih para gubernurnya untuk bersikap rendah hati kepada rakyat mereka.

·       مِنَ التَّوَاضُعِ الِاعْتِرَافُ بِالْخَطَأِ وَقَبُولُ أَعْذَارِ النَّاسِ.

Di antara bentuk tawaduk adalah mengakui kesalahan dan menerima alasan-alasan orang lain.

·       خَفْضُ الْجَنَاحِ مِنْ صِفَاتِ مَنْ يَتَصَدَّرُ لِقِيَادَةِ النَّاسِ.

Merendahkan sayap adalah salah satu sifat orang yang tampil memimpin manusia.

·       مِنَ التَّوَاضُعِ الْخُضُوعُ لِلْحَقِّ وَالِانْقِيَادُ لَهُ.

Di antara bentuk tawaduk adalah tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya.

·       يُعِينُ عَلَى التَّوَاضُعِ تَذَكُّرُ الْأَصْلِ الْبَشَرِيِّ الْوَاحِدِ.

Hal yang membantu seseorang untuk bertawaduk adalah mengingat asal-usul manusia yang satu.

·       مِنْ أَعْظَمِ التَّوَاضُعِ مَا يَكُونُ فِي أَوْجِ الْقُوَّةِ وَالِانتِصَارِ.

Di antara bentuk tawaduk yang paling agung adalah tawaduk yang ditunjukkan saat berada di puncak kekuatan dan kemenangan.

·       يُعِينُ عَلَى التَّوَاضُعِ اسْتِحْضَارُ مَا فِيهِ مِنَ الْأَجْرِ وَمَا عَلَى الْمُتَكَبِّرِينَ مِنَ الْوِزْرِ.

Hal yang membantu untuk bertawaduk adalah menghadirkan pahala yang ada di dalamnya serta dosa yang ditanggung oleh orang-orang yang sombong.

·       يَكْفِي الْمُتَوَاضِعَ مَحَبَّةُ عِبَادِ اللَّهِ لَهُ وَرَفْعُ اللَّهِ إِيَّاهُ.

Cukuplah bagi orang yang bertawaduk kecintaan hamba-hamba Allah kepadanya dan pengangkatan derajat oleh Allah terhadap dirinya.


📙📙📙 Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan  : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. Dipersilahkan - share

Tidak ada komentar: