Label xxx

Jumat, 13 Oktober 2023

07 Muhasabah (Introspeksi diri) - Tazkiyatun nafs



 مُحَاسَبَةُ النَّفْسِ

Muhasabah (Introspeksi diri)


وَعِلَاجُ اسْتِيلَاءِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ عَلَى قَلْبِ الْمُؤْمِنِ: مُحَاسَبَتُهَا وَمُخَالَفَتُهَا

Metode untuk mengatasi kekuasaan nafsu ammarah atas hati seorang mukmin adalah dengan selalu mengintrospeksi dan menyelisihinya.

كَمَا رَوَى الْإِمَامُ أَحْمَدُ: «الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ». وَدَانَ نَفْسَهُ: أَيْ حَاسَبَهَا

Imam Ahmad meriwayatkan, Orang yang berakal itu adalah orang yang mengendalikan nafsunya dan beramal sebagai persiapan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah itu adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah (bahwa Dia akan mengampuninya)

وَذَكَرَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنَّهُ قَالَ

Imam Ahmad meriwayatkan, Umar bin Khaththab berkata,

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا؛ فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

"Hisablah dirimu sebelum dihisab! Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang! Sesungguhnya berinstropeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan daripada hisab di kemudian hari. Begitu juga dengan hari 'aradl (penampakan amal) yang agung.", firman Allah

 يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنكُمْ خَافِيَةٌ

Pada hari itu akan tersingkap, tidak ada rahasiamu yang akan disembunyikan...

وَقَالَ الْحَسَنُ: "الْمُؤْمِنُ قَوَّامٌ عَلَى نَفْسِهِ، يُحَاسِبُ نَفْسَهُ لِلَّهِ؛ وَإِنَّمَا خَفَّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى قَوْمٍ حَاسَبُوا أَنْفُسَهُمْ فِي الدُّنْيَا

Hasan Al-Bashri berkata, Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia mengintrospeksi dirinya karena Allah, Sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan menjadi ringan, bagi mereka yang telah telah melakukan introspeksi di dunia.

وَإِنَّمَا شَقَّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى قَوْمٍ أَخَذُوا هَٰذَا الْأَمْرَ عَلَى غَيْرِ مُحَاسَبَةٍ

Sebaliknya, hisab akan terasa berat bagi mereka yang tak pernah berintrospeksi ...

 إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُفَاجِئُهُ الشَّيْءُ وَيُعْجِبُهُ

Seorang mukmin bisa saja dikejutkan oleh sesuatu dan ia takjub kepadanya.

 فَيَقُولُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأَشْتَهِيكِ، وَإِنَّكِ لَمِنْ حَاجَتِي

Lalu berkata, "Demi Allah, aku benar- benar menginginkanmu. Begitupun kamu adalah bagian dari kebutuhanku

وَلٰكِنْ وَاللَّهِ مَا مِنْ حِيلَةٍ إِلَيْكِ، هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ! حِيلَ بَيْنِي وَبَيْنَكِ. وَيَفْرُطُ مِنْهُ الشَّيْءُ فَيَرْجِعُ إِلَى نَفْسِهِ

Tetapi, Allah tidak memberi alasan bagiku untuk mencapaimu. Duhai, ada jurang diantara kau dan aku!' Maka sesuatu itupun lenyap dari hadapannya ...

فَيَقُولُ: مَا أَرَدْتُ إِلَى هَٰذَا؟! مَا لِي وَلِهَٰذَا؟! وَاللَّهِ لَا أَعُودُ إِلَى هَٰذَا أَبَدًا

Kemudian si mukmin akan kembali kepada dirinya dan berkata, Aku tidak menginginkan hal ini! Apa peduliku dengan semua ini! Demi Allah aku tidak akan mengulanginya selama-lamanya! ... 

إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ قَوْمٌ أَوْقَفَهُمُ الْقُرْآنُ، وَحَالَ بَيْنَ هَلَكَتِهِمْ

Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang ditopang oleh Al-Qur'an. Al-Qur'an menghalangi kehancurannya 

إِنَّ الْمُؤْمِنَ أَسِيرٌ فِي الدُّنْيَا يَسْعَى فِي فِكَاكِ رَقَبَتِهِ

Seorang mukmin adalah tawanan di dunia yang berusaha membebaskan diri (kembali menuju negerinya, akhirat).

لَا يَأْمَنُ شَيْئًا حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ، يَعْلَمُ أَنَّهُ مَأْخُوذٌ عَلَيْهِ فِي سَمْعِهِ، وَفِي بَصَرِهِ، وَفِي لِسَانِهِ، وَفِي جَوَارِحِهِ، مَأْخُوذٌ عَلَيْهِ فِي ذٰلِكِ كُلِّهِ

Dia tidak merasa aman sampai berjumpa dengan Allah. Dia tahu bahwa pendengaran, penglihatan, lisan, dan anggota badan, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban."

قَالَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ: "رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا قَالَ لِنَفْسِهِ

Malik bin Dinar bertutur, "Semoga Allah merahmati seseorang yang berkata kepada diri (nafsu)nya,

أَلَسْتِ صَاحِبَةَ كَذَا؟ أَلَسْتِ صَاحِبَةَ كَذَا؟ ثُمَّ ذَمَّهَا، ثُمَّ خَطَمَهَا، ثُمَّ أَلْزَمَهَا كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؛ فَكَانَ لَهَا قَائِدًا

Bukankah kamu pelaku ini? Bukankah kamu pelaku itu?", Lalu ia mencelanya dan mengalahkannya. Kemudian dia mengkonsistenkan dirinya kepada kitab Allah, sehingga menjadi pemimpinnya."

فَحَقٌّ عَلَى الْحَازِمِ الْمُؤْمِنِ بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ لَا يَغْفُلَ عَنْ مُحَاسَبَةِ نَفْسِهِ

Sudah menjadi keharusan bagi setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk tidak lupa mengintrospeksi nafsu;

وَالتَّضْيِيقِ عَلَيْهَا مِنْ حَرَكَاتِهَا وَسَكَنَاتِهَا وَخَطَرَاتِهَ

menyempitkan ruang geraknya, dan menahan gejolaknya.

فَكُلُّ نَفَسٍ مِنْ أَنْفَاسِ الْعُمُرِ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ يُمْكِنُ أَنْ يَشْتَرِيَ بِهَا كَنْزًا مِنَ الْكُنُوزِ لَا يَتَنَاهَى نَعِيمُهُ أَبَدَ الْآبَادِ

Sehingga, setiap hembusan nafas adalah mutiara bernilai tinggi, dapat ditukar dengan perbendaharaan yang kenikmatannya tak akan pernah sirna sepanjang masa.

فَإِضَاعَةُ هَٰذِهِ الْأَنْفَاسِ، أَوْ اشْتِرَاءُ صَاحِبِهَا بِهَا مَا يَجْلِبُ هَلَاكَهُ خُسْرَانٌ عَظِيمٌ

Menyia-nyiakan nafas ini, atau menukarnya dengan sesuatu yang mendatangkan kecelakaan adalah kerugian yang sangat besar.

لَا يَسْمَحُ بِمِثْلِهِ إِلَّا أَجْهَلُ النَّاسِ وَأَحْمَقُهُمْ وَأَقَلُّهُمْ عَقْلًا

Tidak dapat ditolerir, kecuali oleh manusia paling bodoh dan paling tolol.

وَإِنَّمَا يَظْهَرُ لَهُ حَقِيقَةُ هَٰذَا الْخُسْرَانِ يَوْمَ التَّغَابُنِ

Hanyasaja, hakekat kerugian ini baru benar-benar tampak nanti di hari kiamat.

قَالَ تَعَالَى: يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا

Pada hari setiap jiwa mendapati segala kebaikan yang dilakukannya dihadirkan dan juga segala kejahatan yang dilakukannya. Ia ingin ada penghalang masa yang panjang antara dia dan kejahatannya. Ali Imran : 30

وَمُحَاسَبَةُ النَّفْسِ نَوْعَانِ: نَوْعٌ قَبْلَ الْعَمَلِ، وَنَوْعٌ بَعْدَهُ

Muhasabah (mengintrospeksi diri) itu ada dua macam sebelum dan sesudah beramal.

أما الْنَّوْعُ الْأَوَّلُ: فَهُوَ أَنْ يَقِفَ عِنْدَ أَوَّلِ هَمِّهِ وَإِرَادَتِهِ، وَلَا يُبَادِرَ بِالْعَمَلِ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُجْحَانُهُ عَلَى تَرْكِهِ

Muhasabah sebelum beramal yaitu hendaknya seseorang berhenti sejenak, merenung di saat pertama munculnya keinginan untuk melakukan sesuatu. Tidak bersegera kepadanya sampai benar-benar jelas baginya bahwa melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya.

قَالَ الْحَسَنُ - رَحِمَهُ اللَّهُ -: "رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا وَقَفَ عِنْدَ هَمِّهِ؛ فَإِنْ كَانَ لِلَّهِ أَمْضَاهُ، وَإِنْ كَانَ لِغَيْرِهِ تَأَخَّرَ

Hasan Al-Bashriy berkata, Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berpikir di saat pertama ia ingin melakukan sesuatu. Jika itu karena Allah, ia lanjutkan, dan jika bukan karenaNya, ia menangguhkannya."


∷∷∷∷∷ catatan:

مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوعًا

'dari sahabat Abu Hurairah secara marfu

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam

قَالَ النَّوَوِيُّ

Imam Nawawi berkata

مَعْنَاهُ أَنَّهُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَتَكَلَّمَ فَإِنْ كَانَ مَا يَتَكَلَّمُ بِهِ خَيْرًا مُحَقَّقًا يُثَابُ عَلَيْهِ وَاجِبًا أَوْ مَنْدُوبًا فَلْيَتَكَلَّمْ

Artinya jika seseorang ingin berbicara dan pembicaraannya adalah sesuatu yang baik, benar, berpahala, baik wajib atau pun sunnah, maka silakan ia berbicara

وَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ لَهُ أَنَّهُ خَيْرٌ يُثَابُ عَلَيْهِ فَيُمْسِكْ عَنِ الْكَلَامِ سَوَاءٌ ظَهَرَ لَهُ أَنَّهُ حَرَامٌ أَوْ مَكْرُوهٌ أَوْ مُبَاحٌ مُسْتَوِي الطَّرَفَيْنِ

Tetapi jika belum jelas baginya bahwa pembicaraan itu baik dan berpahala, maka hendaknya la diam, baik itu pembicaraan yang haram, makruh, atau pun mubah

ثُمَّ قَالَ : وَقَدْ أَخَذَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ مَعْنَى الْحَدِيثِ فَقَالَ

Beliau melanjutkan, "Imam Syafi'i telah memahami makna hadits itu, berkata

إِذَا أَرَادَ أَنْ يَتَكَلَّمَ فَلْيُفَكِّرْ ، فَإِنْ ظَهَرَ لَهُ أَنَّهُ لَا ضَرَرَ عَلَيْهِ تَكَلَّمَ

Jika seseorang ingin berbicara hendaknya ia merenungkannya. Bila jelas tidak ada mudharatnya, ia berbicara

وَإِنْ ظَهَرَ لَهُ فِيهِ ضَرَرٌ أَوْ شَكَّ فِيهِ أَمْسَكَ

Sebaliknya bila jelas ada mudharatnya atau masih diragukan, hendaknya ia diam

∷∷∷∷∷

وَشَرَحَ بَعْضُهُمْ هَٰذَا فَقَالَ: إِذَا تَحَرَّكَتِ النَّفْسُ لِعَمَلٍ مِنَ الْأَعْمَالِ وَهَمَّ بِهِ الْعَبْدُ، وَقَفَ أَوَّلًا وَنَظَرَ

Sebagian ulama menjelaskan penuturan Al-Hasan ini dengan, "Apabila diri tergerak untuk melakukan sesuatu, pertama-tama ia harus merenung; 

هَلْ ذَلِكَ الْعَمَلُ مَقْدُورٌ عَلَيْهِ، أَوْ غَيْرُ مَقْدُورٍ، وَلَا مُسْتَطَاعٍ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَقْدُورًا لَمْ يُقْدِمْ عَلَيْهِ

apakah amalan itu mampu ia kerjakan atau tidak". Jika tidak ada kemampuan untuk itu hendaknya ia berhenti.

وَإِنْ كَانَ مَقْدُورًا عَلَيْهِ وَقَفَ وَقْفَةً أُخْرَى وَنَظَرَ: هَلْ فِعْلُهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ تَرْكِهِ، أَمْ تَرْكُهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ فِعْلِهِ؟ فَإِنْ كَانَ الثَّانِيَ تَرَكَهُ وَلَمْ يُقْدِمْ عَلَيْهِ

Tetapi jika ia mampu, hendaknya ia berpikir; apakah melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya, ataukah sebaliknya. Jika yang ada adalah kemungkinan yang kedua, maka ia mesti meninggalkannya.

وَإِنْ كَانَ الْأَوَّلَ وَقَفَ وَقْفَةً ثَالِثَةً: هَلِ الْبَاعِثُ عَلَيْهِ إِرَادَةُ وَجْهِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَثَوَابِهِ، أَمْ إِرَادَةُ الْجَاهِ وَالثَّنَاءِ وَالْمَالِ مِنَ الْمَخْلُوقِ؟

Tetapi jika yang pertama, hendaknya ia bertanya; apakah faktor pendorongnya adalah untuk mendapatkan keridhaan Allah dan pahalanya, ataukah untuk mendapatkan kehormatan, pujian, harta benda dan makhluq.

فَإِنْ كَانَ الثَّانِيَ لَمْ يُقْدِمْ، وَإِنْ أَفْضَى بِهِ إِلَى مَطْلُوبِهِ؛ لِئَلَّا تَعْتَادَ النَّفْسُ الشِّرْكَ، وَيَخِفَّ عَلَيْهَا الْعَمَلُ لِغَيْرِ اللَّهِ

Jika jawaban yang kedua yang muncul, hendaknya ia meninggalkannya. Meskipun jika ia melakukannya, ia akan mendapatkan apa yang dicarinya. Ini sebagai pelatihan bagi diri agar tidak terbiasa dengan kesyirikan dan supaya takut beramal untuk selain Allah.

فَبِقَدْرِ مَا يَخِفُّ عَلَيْهَا ذَلِكَ يَثْقُلُ عَلَيْهَا الْعَمَلُ لِلَّهِ تَعَالَى حَتَّى يَصِيرَ أَثْقَلَ شَيْءٍ عَلَيْهَا

Semakin takut seseorang untuk beramal karena selain Allah semakin ringan baginya untuk beramal karena Allah.

وَإِنْ كَانَ الْأَوَّلَ وَقَفَ وَقْفَةً أُخْرَى وَنَظَرَ: هَلْ هُوَ مُعَانٌ عَلَيْهِ وَلَهُ أَعْوَانٌ يُسَاعِدُونَهُ وَيَنْصُرُونَهُ إِذَا كَانَ الْعَمَلُ مُحْتَاجًا إِلَى ذَلِكَ أَمْ لَا؟

Tetapi jika yang muncul adalah jawaban yang pertama, sekali lagi ia harus bertanya, apakah ia mendapatkan bantuan untuk itu? Atau adakah teman-teman yang akan membantu dan menolongnya, jika amalan itu tidak bisa dikerjakan sendirian?

 فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَعْوَانٌ أَمْسَكَ عَنْهُ كَمَا أَمْسَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْجِهَادِ بِمَكَّةَ حَتَّى صَارَ لَهُ شَوْكَةٌ وَأَنْصَارٌ

Jika tidak ada, ia harus menahan diri sebagaimana Nabi telah menahan diri dari memerangi musyrikin Mekah sampai terkumpul kekuatan dan kaum penolong.

وَإِنْ وَجَدَهُ مُعَانًا عَلَيْهِ فَلْيُقْدِمْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْصُورٌ بِإِذْنِ اللَّهِ

Adapun jika ia dibantu, hendaknya ia maju beramal, dengan izin Allah ia akan mendapat kemenangan.

وَلَا يَفُوتُ النَّجَاحُ إِلَّا مَنْ فَوَّتَ خَصْلَةً مِنْ هَذِهِ الْخِصَالِ، وَإِلَّا فَمَعَ اجْتِمَاعِهَا لَا يَفُوتُهُ النَّجَاحُ

Dan kemenangan itu tidak akan terlepas kecuali jika salah satu dari perkara- perkara di atas terlepas. Sekali lagi, dengan mengadakan hal-hal di atas, kemenangan tidak akan terlepas.

فَهَذِهِ أَرْبَعَةُ مَقَامَاتٍ يَحْتَاجُ الْعَبْدُ إِلَى مُحَاسَبَةِ نَفْسِهِ عَلَيْهَا قَبْلَ الْعَمَلِ

Itulah perkara yang harus dicermati oleh seorang hamba sebelum ia beramal.


الْنَّوْعُ الثَّانِي: مُحَاسَبَةُ النَّفْسِ بَعْدَ الْعَمَلِ وَهُوَ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ

Muhasabah sesudah beramal itu ada tiga:

أحدها : الْمُحَاسَبَةُ عَلَى الطَّاعَةِ: أَنْ يُحَاسِبَهَا عَلَى طَاعَةٍ قَصَّرَتْ فِيهَا مِنْ حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى

1. Introspeksi diri atas berbagai ketaatan yang telah dilalaikan, yang itu adalah hak Allah.

فلم توقعها على الوجه الذي ينبغي

Bahwa ia telah melaksanakannya dengan serampangan, tidak semestinya.

فَلَمْ تُوقِعْهَا عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يَنبَغِي. وَحَقُّ اللَّهِ فِي الطَّاعَةِ سِتَّةُ أُمُورٍ وهي

Padahal hak Allah berkaitan dengan satu bentuk ketaatan itu ada enam, yaitu,

الْإِخْلَاصُ فِي الْعَمَلِ ,النَّصِيحَةُ لِلَّهِ فِيهِ ,مُتَابَعَةُ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ,شُهُودُ مَشْهَدِ الْإِحْسَانِ ,شُهُودُ مِنَّةِ اللَّهِ عَلَيْهِ ,شُهُودُ تَقْصِيرِهِ فِيهِ بَعْدَ ذٰلِكَ كُلِّهِ

Ikhlas dalam beramal, memberi nasehat kepada Allah di dalam dirinya; mengikuti Rasulullah; menyaksikannya dengan persaksian ihsân, menyaksikannya sebagai anugerah Allah baginya; dan menyaksikan kelalaian dirinya di dalam mengamalkannya.

فَيُحَاسِبُ نَفْسَهُ: هَلْ وَفَّى هَٰذِهِ الْمَقَامَاتِ حَقَّهَا؟ وَهَلْ أَتَى بِهَا فِي هَٰذِهِ الطَّاعَةِ؟

Demikianlah, ia harus melihat apakah dirinya telah memenuhi keseluruhannya, atau Apakah telah menghadirkan didalamnya ketaatan ?

الثَّانِي: أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ عَلَى كُلِّ عَمَلٍ كَانَ تَرْكُهُ خَيْرًا لَهُ مِنْ فِعْلِهِ

2. Introspeksi diri atas setiap amalan yang dikerjakan selain kepada Allah, yang lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan.

الثَّالِثُ: أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ عَلَى أَمْرٍ مُبَاحٍ لِمَ فَعَلَهُ

3. Introspeksi diri atas perkara yang mubah, atas dasar apa ia melakukannya.

وَهَلْ أَرَادَ بِهِ اللَّهَ تَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ؛ فَيَكُونَ رَابِحًا

Apakah dalam rangka mengharap Allah dan akhirat, sehingga ia beruntung?

أَوْ أَرَادَ بِهِ الدُّنْيَا وَعَاجِلَهَا؛ فَيَخْسَرَ ذَلِكَ الرِّبْحَ وَيَفُوتَهُ الظَّفَرُ بِهِ

 Ataukah untuk mengharapkan dunia dan kebinasaannya, sehingga ia merugi?

وَآخَرُ مَا عَلَيْهِ، الْإِهْمَالُ وَتَرْكُ الْمُحَاسَبَةِ، وَالِإسْتِرْسَالُ، وَتَسْهِيلُ الْأُمُورِ وَتَمْشِيَتُهَا، فَإِنَّ هَذَا يَؤُولُ بِهِ إِلَى الْهَلَاكِ

Akhir dari perkara yang dilalaikan, tidak disertai dengan muhasabah, dibiarkan begitu saja, dianggap mudah dan disepelekan adalah kehancuran.

وَهَذِهِ حَالُ أَهْلِ الْغُرُورِ

Ini adalah keadaan orang-orang yang tertipu.

يُغْمِضُ الْوَاحِدُ عَيْنَيْهِ عَنِ الْعَوَاقِبِ وَيَتَّكِلُ عَلَى الْعَفْوِ؛

Ia pejamkan matanya dari berbagai akibat kebejatannya sambil berharap Allah mengampuninya.

فَيُهْمِلُ مُحَاسَبَةَ نَفْسِهِ وَالنَّظَرَ فِي الْعَاقِبَةِ

Ia tidak pernah peduli kepada muhasabah dan akibat kejahatannya.

وَإِذَا فَعَلَ ذَلِكَ سَهُلَ عَلَيْهِ مُوَاقَعَةُ الذُّنُوبِ، وَأَنِسَ بِهَا وَعَسُرَ عَلَيْهِ فِطَامُهَا

Pun, jika ia melakukannya, dengan segera ia akan berbuat dosa, menekuninya dan ia akan sangat kesulitan meninggalkannya.

وَجِمَاعُ ذَلِكَ أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ أَوَّلًا عَلَى الْفَرَائِضِ

Kesimpulan dari uraian ini, hendaknya seseorang mengintrospeksi diri lebih dahulu pada hal-hal yang fardhu (wajib).

 فَإِنْ تَذَكَّرَ فِيهَا نَقْصًا تَدَارَكَهُ إِمَّا بِقَضَاءٍ أَوْ إِصْلَاحٍ

Bila ia melihat ada kekurangan padanya, ia akan melengkapinya dengan qadla' (penggantian) atau ishlah (perbaikan).

ثُمَّ يُحَاسِبُهَا عَلَى الْمَنَاهِي

Kemudian kepada hal-hal yang diharamkan.

 فَإِنْ عَرَفَ أَنَّهُ ارْتَكَبَ مِنْهَا شَيْئًا تَدَارَكَهُ بِالتَّوْبَةِ وَالِاسْتِغْفَارِ وَالْحَسَنَاتِ الْمَاحِيَةِ

Bila ia merasa pernah melakukannya, ia pun bersegera untuk bertaubat, beristighfar, dan mengamalkan perbuatan-perbuatan baik yang dapat menghapuskan dosa.

ثُمَّ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ عَلَى الْغَفْلَةِ

Kemudian kepada kealpaan.

فَإِنْ كَانَ قَدْ غَفَلَ عَمَّا خُلِقَ لَهُ تَدَارَكَهُ بِالذِّكْرِ وَالْإِقْبَالِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى

Bila ia mendapati dirinya telah alpa berkenaan dengan tujuan penciptaannya, maka ia segera memperbanyak dzikir dan menghadap Allah.

ثُمَّ يُحَاسِبُهَا بِمَا تَكَلَّمَ بِهِ، أَوْ مَشَتْ بِهِ رِجْلَاهُ، أَوْ بَطَشَتْ يَدَاهُ، أَوْ سَمِعَتْهُ أُذُنَاهُ

Lalu kepada ucapan-ucapannya, atau ke mana saja kakinya pernah berjalan, atau apa saja yang tangannya pernah memegang atau telinganya pernah mendengar.

مَاذَا أَرَدْتُ بِهَذَا؟ وَلِمَ فَعَلْتُهُ؟ وَلِمَنْ فَعَلْتُهُ؟ وَعَلَى أَيِّ وَجْهٍ فَعَلْتُهُ؟ وَيَعْلَمُ أَنَّهُ لَا بُدَّ

Apa yang diinginkan dari semua ini? Mengapa ia melakukannya? Untuk siapa beramal?, dan Dan dengan cara apa aku melakukannya? (sudah sesuaikah dengan petunjuk?), Dan dia tahu bahwa itu pasti 

أَنْ يُنْشَرَ لِكُلِّ حَرَكَةٍ وَكَلِمَةٍ دِيوَانَانِ

Sesungguhnya setiap gerakan atau ucapan itu akan dihadapkan pada dua pertanyaan;

لِمَنْ فَعَلْتَهُ؟ وَكَيْفَ فَعَلْتَهُ؟

Untuk siapa dikerjakan? Dan bagaimana cara pengerjaannya?

فَالْأَوَّلُ سُؤَالٌ عَنِ الْإِخْلَاصِ، وَالثَّانِي سُؤَالٌ عَنِ الْمُتَابَعَةِ

Pertanyaan pertama tentang ikhlas dan yang kedua tentang mutaba'ah (kesesuaian dengan sunnah).

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ

Allah berfirman, Supaya (Allah) memintai pertanggungjawaban orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka" Al-Ahzab 8

فَإِذَا سُئِلَ الصَّادِقُونَ عَنْ صِدْقِهِمْ، وَحُوسِبُوا عَلَى صِدْقِهِمْ، فَمَا الظَّنُّ بِالْكَاذِبِينَ؟

Apabila orang-orang yang benar saja dimintai pertanggungjawaban atas kebenarannya, dan dihisab atasnya, lalu bagaimana dengan orang-orang yang dusta?


فَوَائِدُ مُحَاسَبَةِ النَّفْسِ

Mengapa harus ber Muhasabah?

الْإِطِّلَاعُ عَلَى عُيُوبِ النَّفْسِ

1. Mengetahui aib diri.

وَمَنْ لَمْ يَطَّلِعْ عَلَى عُيُوبِ نَفْسِهِ لَمْ يُمْكِنْهُ إِزَالَتُه

Barangsiapa tidak mengetahui aib dirinya sendiri, tidak mungkin mampu membuangnya.

قَالَ يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ: "إِنِّي لَأَجِدُ مِائَةَ خَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ مَا أَعْلَمُ أَنَّ فِي نَفْسِي مِنْهَا وَاحِدَةً

Yunus bin Ubaid berkata,  "Aku benar-benar mendapati seratus bentuk kebajikan. Tetapi kulihat, tidak ada satu pun yang ada pada diriku."

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ: "لَوْ كَانَ لِلذُّنُوبِ رِيحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إِلَيَّ

Muhammad bin Wasi' berkata, Seandainya dosa-dosa itu mempunyai bau, sungguh tidak ada seorang pun yang sanggup duduk di dekatku.

وَرَوَى الْإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Imam Ahmad meriwayatkan, Abu Darda' berkata,

لَا يَفْقَهُ الرَّجُلُ كُلَّ الْفِقْهِ حَتَّى يَمْقُتَ النَّاسَ فِي جَنْبِ اللَّهِ، ثُمَّ يَرْجِعَ إِلَى نَفْسِهِ فَيَكُونَ أَشَدَّ لَهَا مَقْتًا

"Seseorang itu tidak memahami agama ini dengan baik sampai ia membenci orang lain karena Allah, kemudia ia kembali kepada nafsunya dan ia lebih membencinya lagi."

٢ - أَنْ يَعْرِفَ حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ؛

2. Mengetahui hak Allah terhadapnya.

فَإِنَّ ذَلِكَ يُورِثُهُ مَقْتَ نَفْسِهِ، وَالْإِزْرَاءَ عَلَيْهَا، وَيُخَلِّصُهُ مِنَ الْعُجْبِ وَرُؤْيَةِ الْعَمَلِ

Hal itu akan membuatnya mencela nafsunya sendiri serta membebaskannya dari ujub dan riya' dalam beramal.

وَيَفْتَحُ لَهُ بَابَ الْخُضُوعِ وَالذُّلِّ وَالِانْكِسَارِ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّهِ وَالْيَأْسِ مِنْ نَفْسِهِ

Juga membukakan pintu ketundukan, penghinaan diri, kepasrahan di hadapanNya, dan keputusasaan terhadap dirinya sendiri.

وَأَنَّ النَّجَاةَ لَا تَحْصُلُ لَهُ إِلَّا بِعَفْوِ اللَّهِ وَمَغْفِرَتِهِ وَرَحْمَتِهِ

Sesungguhnya keselamatan itu hanya dapat dicapai dengan ampunan dari Allah dan rahmatNya.

فَإِنَّ مِنْ حَقِّهِ أَنْ يُطَاعَ فَلَا يُعْصَى، وَيُذْكَرَ فَلَا يُنْسَى، وَأَنْ يُشْكَرَ فَلَا يُكْفَرَ

Merupakan hak Allah untuk ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak dikafiri.


Sumber:

تزكية النفوس وتربيتها كما يقرره علماء السلف

Tazkiyatun Nafs konsep pensucian jiwa menurut ulama' salaf

Ibnu Qayyim Aljauziah - Ibnu Rajab Al Hambali - Imam Alghazali

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan  : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share - Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar: