BAB 01
AKHLAK YANG HARUS DIMILIKI PADA WAKTU BERJUANG
PASAL 04
الانتصار
Melakukan perlawanan
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ
يَنْتَصِرُونَ
"Apabila mereka dianiaya, mereka dapat
mempertahankan (menolong) diri mereka sendiri."
إِنَّ صِفَةَ التَّوَازُنِ الَّتِي تَمَيَّزَ بِهَا
دِينُنَا
Bahwa sifat seimbang yang merupakan karakteristik
agama kita adalah
تَجْعَلُ الْمُؤْمِنَ فِي بَعْضِ الْمَوَاطِنِ
مُتَوَاضِعاً مُتَسَامِحاً؛ يَعْفُو وَيَصْفَحُ
menjadikan orang mukmin dalam kondisi-kondisi
tertentu untuk bersikap tawadhu dan toleran, memaafkan, dan memberi ampunan.
وَإِذَا مَا غَضِبَ يَغْفِرُ
Apabila marah, ia segera meminta ampun.
وَفِي مَوَاطِنَ أُخْرَى تَجِدُهُ أَبِيّاً حَرِيصاً
عَلَى مُرُوءَتِهِ
Dalam kondisi lain, mereka dapat menjadi orang yang
keras dan kuat dalam menjaga harga dirinya,
مُطَالِباً بِحَقِّهِ مُقْتَصّاً مِنْ ظَالِمِهِ
مُنْتَصِراً مِنَ الْمُسِيءِ إِلَيْهِ
gigih dalam memperjuangkan haknya, berusaha
menjauhi sifat kezalimannya, dan berusaha melawan orang yang menyakitinya.
فَمَتَى يَكُونُ الِانْتِصَارُ؟
Oleh karena itu, kapan kita harus melawan?
يُوَضِّحُ ابْنُ الْعَرَبِيِّ جَوَابَ هَذَا
التَّسَاؤُلِ بِقَوْلِهِ
Ibnu Arabi menjelaskan jawaban pertanyaan di atas
dengan berkata,
أَنْ يَكُونَ الْبَاغِي مُعْلِناً بِالْفُجُورِ،
وَقِحاً فِي الْجُمْهُورِ، مُؤْذِياً لِلصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ، فَيَكُونُ
الِانْتِقَامُ مِنْهُ أَفْضَلَ
Apabila penindas melakukan kejahatannya secara
terang- terangan, tidak malu terhadap masyarakat, dan menindas anak- anak serta
orang dewasa. Dalam kondisi itu. melawan mereka adalah lebih baik.
وَيَصِفُ الْحَالَةَ الْمُقْتَضِيَةَ لِلْعَفْوِ
فَيَقُولُ
Pilihan memaafkannya adalah lebih baik, apabila ia
menyesali perbuatannya.
أَنْ تَكُونَ الْفَلْتَةُ، أَوْ يَقَعَ ذَلِكَ
مِمَّنْ يَعْتَرِفُ بِالزَّلَّةِ وَيَسْأَلُ الْمَغْفِرَةَ، فَالْعَفْوُ هَاهُنَا
أَفْضَلُ
Jika orang yang melakukannya merasa bersalah atas
perbuatannya kemudian ia meminta ampunan, maka memaafkannya adalah lebih
baik."
وَأَكَّدَ هَذَا الْمَعْنَى الْكِيَا الطَّبَرِيُّ
فِي أَحْكَامِهِ
Kemudian Imam Thabari menegaskan makna yang
terperinci dalam kitab Ahkam-nya
وَوَافَقَ ابْنَ الْعَرَبِيِّ فِي أَنَّ
أَفْضَلِيَّةَ الِانْتِصَارِ
Hal senada juga diungkapkan oleh Ibnu Arabi bahwa
melawan mereka lebih baik.
تُفْهَمُ مِنْ قَوْلِ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ عَنِ
السَّلَفِ
Hal itu dipahami dari konteks perkataan Imam
an-Nakh'i yang meriwayatkan dari para salaf
كَانُوا يَكْرَهُونَ أَنْ يُذِلُّوا أَنْفُسَهُمْ
فَتَجْتَرِئَ عَلَيْهِمُ الْفُسَّاقُ
"Mereka tidak suka merendahkan dirinya
sehingga apabila dibiarkan, maka orang-orang fasik akan semakin berani
وَخَصَّصَ الْعَفْوَ فِيمَا إِذَا كَانَ الْجَانِي
نَادِماً مُقْلِعاً
Memaafkan mereka dapat dilakukan apabila si pelaku
menyesali perbuatannya dan menghentikannya.
وَقَدِ اسْتَحْسَنَ الْقُرْطُبِيُّ هَذَا
التَّفْصِيلَ وَأَقَرَّهُ
Imam Qurtubi merasa kagum dengan penjelasan
tersebut dan menyetujuinya.
وَحَمَلَ الْغُفْرَانَ عَلَى غَيْرِ الْمُصِرِّ
Adapun Imam al-Ghufran menafsirkan bahwa memaafkan
itu khusus bagi orang yang tidak terus-menerus melakukannya.
وَقَالَ: فَأَمَّا الْمُصِرُّ عَلَى الْبَغْيِ
وَالظُّلْمِ فَالْأَفْضَلُ الِانْتِصَارُ مِنْهُ
Ia berkata, "Orang yang selalu melakukan
penindasan dan kezaliman, maka melawan mereka adalah lebih baik." - Tafsir
Al Qurtubi 16/39
وَمِمَّا ذَكَرَهُ الْقُرْطُبِيُّ فِي تَفْسِيرِ
قَوْلِهِ تَعَالَى
Imam al-Qurtubi ketika menafsirkan firman-Nya,
وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ
يَنْتَصِرُونَ ﴾ [الشورى: ٣٩]
"Dan mereka apabila ditimpa aniaya, dapat
mempertahankan (menolong) diri sendiri." (asy-Syuraa [42]: 39)
هُوَ عَامٌّ فِي بَغْيِ كُلِّ بَاغٍ مِنْ كَافِرٍ
وَغَيْرِهِ
menjelaskan bahwa makna ayat tersebut adalah umum,
mencakup semua penindas, baik ia orang kafir maupun lainnya.
أَيْ إِذَا نَالَهُمْ ظُلْمٌ مِنْ ظَالِمٍ لَمْ
يَسْتَسْلِمُوا لِظُلْمِهِ
Artinya, apabila mereka mendapatkan kezaliman dari
seorang zalim, mereka tidak akan menyerah pada kezaliman tersebut."
وَبَعْدَ أَنْ عَرَضَ الْقُرْطُبِيُّ جُمْلَةً مِنَ
الْأَقْوَالِ عَلَّقَ قَائِلاً
Setelah Al-Qurtubi menyampaikan beberapa hadis,
beliau memberikan komentarnya, dengan mengatakan:
وَبِالْجُمْلَةِ الْعَفْوُ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ، ثُمَّ
قَدْ يَنْعَكِسُ الْأَمْرُ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ
Singkatnya, memaafkan diberikan kepadanya, dan
kemudian dalam keadaan tertentu keadaannya bisa terbalik,
فَيَرْجِعُ تَرْكُ الْعَفْوِ مَنْدُوباً إِلَيْهِ
maka tidak memaafkan diberikan kepadanya.
وَذَلِكَ إِذَا احْتِيجَ إِلَى كَفِّ زِيَادَةِ
الْبَغْيِ وَقَطْعِ مَادَّةِ الْأَذَى، وَعَنِ النَّبِيِّ ﷺ مَا يَدُلُّ عَلَيْهِ
Ini jika diperlukan untuk menghentikan pelanggaran
lebih lanjut dan menghilangkan zat berbahaya, dan ada bukti dari Nabi, damai
dan berkah Allah besertanya.
وَاسْتَدَلَّ بِحَدِيثِ انْتِصَارِ عَائِشَةَ مِنْ
زَيْنَبَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- وَسَيَأْتِي تَفْصِيلُهُ
Dia menggunakan hadits kemenangan Aisyah atas
Zainab - r.a senanglah dengan keduanya - dan detailnya akan muncul.
جَاءَ فِي تَفْسِيرِ الْآيَةِ ﴿ وَالَّذِينَ إِذَا
أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ
مِثْلُهَا .. [الشورى: ٣٩، ٤٠]
Dalam penafsiran ayat, "...Dan jika mereka
ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka
ingkar), karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat)." Qs.
42 Asy- Syuraa 39-40
أَيْ: يَنْتَقِمُونَ مِمَّنْ بَغَى عَلَيْهِمْ وَلَا
يَسْتَسْلِمُونَ لِظُلْمِ الْمُعْتَدِي
Disebutkan, berarti mereka melakukan pembalasan
kepada orang yang telah menindasnya dan tidak menyerah atas kezalimannya.
قَالَ أَبُو السُّعُودِ: هُوَ وَصْفٌ لَهُمْ
بِالشَّجَاعَةِ بَعْدَ وَصْفِهِمْ بِسَائِرِ الْفَضَائِلِ
Abu Su'ud berkata, "Ia menggambarkan mereka
sebagai orang-orang yang mempunyai keberanian selain sifat terpuji lainnya.
وَهَذَا لَا يُنَافِي وَصْفَهُمْ بِالْغُفْرَانِ
Ini tidak berarti bertentangan dengan sifat mereka
sebagai pemaaf,
فَإِنَّ كُلّاً فِي مَوْضِعِهِ مَحْمُودٌ
karena kedua sifat tersebut bila ada pada tempatnya
merupakan sifat terpuji.
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
Membalas suatu kesalahan hendaklah dengan seimbang.
أَيْ: وَجَزَاءُ الْعُدْوَانِ أَنْ يَنْتَصِرَ
مِمَّنْ ظَلَمَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَعْتَدِيَ بِالزِّيَادَةِ
Artinya, balasan penindasan adalah membalasnya
setimpal dengan kezaliman yang dilakukannya dan tidak boleh berlebihan.
قَالَ الْإِمَامُ الْفَخْرُ - لَمَّا قَالَ اللَّهُ
تَعَالَى
Imam Fahrudin ar-Razi berkata ketika mengomentari
ayat
وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ
يَنْتَصِرُونَ
"Dan mereka apabila ditimpa aniaya, dapat
mempertahankan (menolong) diri sendiri,"
أَرْدَفَهُ بِمَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ ذَلِكَ
الِانْتِصَارَ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ مُقَيَّداً بِالْمِثْلِ دُونَ زِيَادَةٍ
memberikan hal sama yang berarti bahwa perbalasan
harus dibatasi. Dengan syarat, setimpal dan tidak boleh melebihinya,
وَإِنَّمَا سَمَّى ذَلِكَ سَيِّئَةً لِأَنَّهَا
تَسُوءُ مَنْ تَنْزِلُ بِهِ
dan hal itu disebut sebagai keburukan karena
menyakiti orang yang telah melakukan kejahatan.
Tafsir As-shafwa At-tafasir 3/143
وَلَمَّا اسْتُفْتِيَ الْإِمَامُ مَالِكٌ فِي قَوْلِ
سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ: ( لَا أُحَلِّلُ أَحَداً)
Imam Malik ketika diminta fatwa tentang perkataan
Imam Sa'id bin Musayib "bahwa aku tidak menghalalkan siapa pun,"
وَجَّهَ هَذَا الْقَوْلَ فِي: عَدَمِ التَّجَاوُزِ
عَنِ الرَّجُلِ الظَّالِمِ
menjelaskan bahwa ucapan itu diarahkan pada
larangan membalas orang zalim secara berlebihan.
فَقَالَ: لَا أَرَى أَنْ يَجْعَلَهُ مَنْ ظَلَمَهُ
فِي حِلٍّ
Ia berkata, "Aku tidak melihat kezalimannya
untuk dibiarkan."
وَعَلَّلَ ابْنُ الْعَرَبِيِّ فَتْوَى مَالِكٍ
بِقَوْلِهِ
Ibnu Arabi memberikan alasan atas fatwa Imam Malik
tersebut,
إِنْ كَانَ ظَالِماً فَمِنَ الْحَقِّ أَلَّا
نَتْرُكَهُ لِئَلَّا تَغْتَرَّ الظَّلَمَةُ وَيَسْتَرِسِلُوا فِي أَفْعَالِهِمُ
الْقَبِيحَةِ
Apabila ia seorang zalim, maka sebaiknya jangan
dibiarkan agar kezalimannya tidak merajalela dan perbuatannya menebarkan akhlak
yang buruk. -Perkataan imam malik - Tafsir Al Qurtubi 16/42-43
وَيُؤَكِّدُ الصَّاوِيُّ فِي حَاشِيَتِهِ عَلَى
الْجَلَالَيْنِ هَذَا الْمَعْنَى فَيَقُولُ
Ashawi menegaskan makna ini dalam kitab Hasyiyah
Jalalain- nya,
مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ التَّجَاوُزُ
وَالْحِلْمُ عِنْدَ حُصُولِ الْغَرَضِ، وَلَكِنْ يُشْتَرَطُ أَنْ يَكُونَ
الْحِلْمُ غَيْرَ مُخِلٍّ بِالْمُرُوءَةِ
-
"Sebagian akhlak mulia adalah membiarkan dan
bersikap lembut ketika seseorang telah melakukan sesuatu, tetapi dengan syarat
sikap lembutnya tidak sampai merusak harga dirinya ...
وَأَمَّا إِذَا انْتُهِكَتْ حُرُمَاتُ اللَّهِ
فَالْوَاجِبُ حِينَئِذٍ الْغَضَبُ لَا الْحِلْمُ
Sebab, jika ia melanggar larangan Allah, maka sikap
yang wajib diambil adalah marah, bukan berlaku lemah lembut lagi."
وَعَلَيْهِ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ: مَنِ اسْتُغْضِبَ
فَلَمْ يَغْضَبْ فَهُوَ حِمَارٌ
Untuk hal ini Imam Syafi'i berkata,
"Barangsiapa yang dituntut marah tapi ia tidak marah, maka ia adalah
keledai."
وَقَالَ الشَّاعِرُ: وَحِلْمُ الْفَتَى فِي غَيْرِ
مَوْضِعِهِ جَهْلُ
Juga perkataan syair, "Bersikap lembut pada
seorang pemuda yang bukan pada tempatnya adalah kebodohan." Tafsir
As-shafwa At-tafasir 3/143
وَفِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تَعَالَى: لَا يُحِبُّ
اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ... [ النساء :
١٤٨]
Dalam menafsirkan firman Allah, "Allah tidak
menyukai berterus terang dengan perkataan yang buruk, kecuali dari orang-orang
yang teraniya." (an-Nisaa [4]: 148)
نَقَلَ الْقُرْطُبِيُّ فِي تَفْسِيرِ الْآيَةِ عَلَى
قِرَاءَةِ مَنْ قَرَأَ (إِلَّا مَنْ ظَلَمَ )
Al-Qurtubi telah menukil perkataan Abu Ishaq
az-Zujaz dalam menafsirkan ayat "Kecuali dari orang- orang yang
teraniya," dengan cara membaca lainnya.
قَوْلَ أَبِي إِسْحَاقَ الزَّجَّاجِ: يَجُوزُ أَنْ
يَكُونَ الْمَعْنَى: إِلَّا مَنْ ظَلَمَ فَقَالَ سُوءاً فَإِنَّهُ يَنْبَغِي أَنْ
تَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ
Dijelaskan bahwa makna ayat tersebut boleh juga
berarti, "Kecuali orang yang berbuat zalim kemudian ia berkata buruk, maka
sebaiknya kalian harus menghentikannya."
وَعَلَّقَ الْقُرْطُبِيُّ قَائِلاً: قُلْتُ:
وَيَدُلُّ عَلَى هَذَا أَحَادِيثُ مِنْهَا قَوْلُهُ ﷺ
Al-Qurtubi mengomentarinya, "Makna ini
diperkuat oleh hadits-hadits Nabi ﷺ
lainnya, antara lain,
خُذُوا عَلَى أَيْدِي سُفَهَائِكُمْ
Hentikanlah kezaliman yang dilakukan orang-orang
sufaha (bodoh).
وَقَوْلُهُ ( انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِماً أَوْ
مَظْلُوماً)
Sabda beliau yang lainnya, "Tolonglah
saudaramu, baik ia orang yang zalim maupun orang yang dizalimi.
قَالُوا: هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُوماً فَكَيْفَ
نَنْصُرُهُ ظَالِماً؟ قَالَ وَتَكُفُّهُ عَنِ الظَّلْمِ
Mereka bertanya, "Yang ini kami tolong karena
mereka dizalimi, tetapi bagaimana kami harus menolong orang yang zalim?,
Rasulullah menjawab, Engkau harus mencegahnya berbuat zalim. Hr. Bukhari -
tafsir Al Qurtubi 6/4
وَفِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ تَنْتَدِبُ نِسَاءُ النَّبِيِّ
ﷺ السَّيِّدَةَ زَيْنَبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا لِطَلَبِ مُسَاوَاتِهِنَّ
بِالسَّيِّدَةِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا؛
Dalam sebuah hadits panjang diceritakan bahwa
istri-istri Rasulullah membujuk Zainab r.a. untuk meminta disamakan dengan
Aisyah r.a.
إِذْ كُنَّ يَشْعُرْنَ أَنَّ لَهَا فِي قَلْبِهِ
مَنْزِلَةً لَيْسَتْ لِغَيْرِهَا
Mereka merasa bahwa Aisyah mendapatkan kedudukan
khusus dalam hati Rasulullah yang tidak didapatkan oleh yang lainnya.
وَكُنَّ يَرَيْنَ هَدَايَا النَّاسِ تَأْتِي أَكْثَرَ
مَا تَأْتِي حِينَ يَكُونُ فِي بَيْتِ عَائِشَةَ
Mereka melihat hadiah yang diberikan masyarakat
kepada beliau lebih banyak ketika berada di rumah Aisyah r.a.
وَاسْتَطَالَتْ زَيْنَبُ عَلَى عَائِشَةَ
بِالْكَلَامِ وَعَائِشَةُ تَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَقُولُ
Zainab berhasil memojokkan Aisyah dengan
perkataannya. Saat itu, Aisyah melihat Rasulullah, Ia berkata
حَتَّى عَرَفْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَا
يَكْرَهُ أَنْ أَنْتَصِرَ
"Agar aku tahu bahwa Rasulullah tidak membenci
jika aku melawan..." Hr. Muslim 83/2442
وَفِي رِوَايَةٍ حَتَّى قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (دُونَكِ
فَانْتَصِرِي) فَأَقْبَلْتُ عَلَيْهَا حَتَّى رَأَيْتُهَا وَقَدْ يَبِسَ رِيقُهَا
فِي فِيَهَا
Dalam riwayat lain, sehingga Nabi saw. bersabda,
"Belalah dirimu dan balaslah!" kemudian aku membalasnya sehingga aku
melihat Zainab telah basah dengan keringatnya.
مَا تَرُدُّ عَلَيَّ شَيْئاً، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ
ﷺ يَتَهَلَّلُ وَجْهُهُ
Ia tidak menjawab sedikit pun, dan aku melihat
Rasulullah saw. berseri wajahnya." Hr. Ibnu Majjah 1661/1981
وَلَا يَجُوزُ لِلْمُنْتَصِرِ أَنْ يَتَعَدَّى عَلَى
أَخِيهِ الْمُسْلِمِ بِأَكْثَرَ مِمَّا أَسَاءَ إِلَيْهِ، وَلَا يَحِقُّ لَهُ أَنْ
يَغْمِطَهُ حَقَّهُ
Orang yang ingin membalas saudaranya tidak boleh
melakukan pembalasannya itu melebihi penderitaan yang telah ia terima. Ia pun
tidak boleh mengingkari haknya.
فَفِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ لِحَدِيثِ عَائِشَةَ
السَّابِقِ تَقُولُ عَائِشَةُ وَفَاءً لِضَرَّتِهَا الَّتِي كَانَتْ تُسَامِيهَا
فِي الْمَنْزِلَةِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Dalam riwayat Muslim dari hadits Aisyah tadi
disebutkan, "Aisyah r.a. hanya membalas tuduhan yang menyebutkan bahwa ia
mempunyai kedudukan lebih dalam pandangan Rasulullah.
وَلَمْ أَرَ امْرَأَةً قَطُّ خَيْراً فِي الدِّينِ
مِنْ زَيْنَبَ؛
Ia berkata, 'Aku tidak melihat seorang wanita yang
sangat baik dalam agamanya selain Zainab.
وَأَتْقَى وَأَصْدَقَ حَدِيثاً، وَأَوْصَلَ
لِلرَّحِمِ، وَأَعْظَمَ صَدَقَةً، وَأَشَدَّ ابْتِذَالاً لِنَفْسِهَا فِي
الْعَمَلِ الَّذِي تَصَدَّقُ بِهِ وَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
Ia adalah wanita yang paling banyak sedekahnya.
Wanita yang paling rajin bekerja yang hasilnya untuk disedekahkan dan wanita
yang paling banyak mendekatkan diri kepada Allah,
مَا عَدَا سَوْرَةً مِنْ حِدَّةٍ كَانَتْ فِيهَا،
تُسْرِعُ مِنْهَا الْفَيْئَةُ
kecuali kemarahannya yang keras yang dimanfaatkan
oleh sebagian kelompok. Hr. Muslim 2442
وَذَلِكَ أَدَبُ النُّبُوَّةِ فَمَعَ مُبَادَأَتِهَا
بِالسِّبَابِ لَمْ تَتَجَاوَزْ حَدَّ الْعَدْلِ، وَلَمْ تَغْفُلْ عَنْ أَنْ
تَعْذُرَهَا
Begitulah etika kenabian, walaupun ia memakinya ia
tidak melewati batas keadilan dan tidak lupa untuk memaafkannya.
وَيَجِبُ أَنْ نُفَرِّقَ بَيْنَ انْتِصَارِنَا مِنْ
أَخِينَا الَّذِي غَلَبَ خَيْرُهُ وَالِانْتِصَارِ مِنَ الظَّالِمِ الْمُصِرِّ
أَوِ الْكَافِرِ الْمُسْتَكْبِرِ
Kita wajib membedakan antara melawan saudara kita
yang kebaikannya lebih dominan (dibanding keburukannya) dengan melawan orang
zalim yang bersikukuh pada kezalimannya atau orang kafir yang sombong.
وَإِذَا تَوَقَّعْتَ أَنَّ انْتِصَارَكَ مِنْ أَخِيكَ
الْمُسِيءِ إِلَيْكَ قَدْ يَزِيدُ الشَّرَّ
Apabila engkau mengira bahwa melawan saudaramu yang
telah menyakitimu itu akan menambah keburukan,
وَيُوغِلُ فِي التَّمَادِي وَتَفَاقُمِ الْخَطْبِ،
فَاسْدُدْ أَبْوَابَ الشَّيْطَانِ، وَقَدِّرِ الْمَصَالِحَ وَالْمَفَاسِدَ
membuat ia semakin menjadi-jadi, dan menambah
kejahatannya, maka engkau harus menutup celah setan dan mempertimbangkan
maslahat dan mudharatnya.
وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ حَدِيثٌ بِهَذَا
الْمَعْنَى، فَقَدْ وَرَدَ أَنَّ رَجُلاً وَقَعَ بِأَبِي بَكْرٍ
Dalam Sunan Abu Daud dijelaskan bahwa ada sebuah
hadits yang menjelaskan makna tersebut. Dijelaskan bahwa seorang lelaki telah
mendatangi Abu Bakar r.a.,
فَآذَاهُ بِحَضْرَةِ النَّبِيِّ ﷺ وَلَمَّا آذَاهُ
الثَّالِثَةَ انْتَصَرَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حِينَ
انْتَصَرَ أَبُو بَكْرٍ
kemudian ia menyakitinya padahal Rasulullah berada
di hadapannya. Pada saat ia menyakitinya untuk yang ketiga kali, Abu Bakar
melawannya.
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَوَجَدْتَ عَلَيَّ يَا
رَسُولَ اللَّهِ ! فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : وَنَزَلَ مَلَكٌ مِنَ السَّمَاءِ
يُكَذِّبُهُ بِمَا قَالَ لَكَ
Pada saat Abu Bakar melawan, Rasulullah saw.
berdiri. Abu Bakar bertanya, "Apakah engkau kecewa kepadaku, ya
Rasulullah?"
Rasulullah saw. menjawab, "Malaikat telah
turun dari langit mendustakan apa yang dikatakannya kepadamu.
فَلَمَّا انْتَصَرْتَ وَقَعَ الشَّيْطَانُ، فَلَمْ
أَكُنْ لِأَجْلِسَ إِذْ وَقَعَ الشَّيْطَانُ
Saat engkau melawan, setan datang (untuk
memperuncing masalah). Maka, tidak mungkin aku duduk apabila setan datang. Hr.
Abu Daud 4094/4897 hasan
قَالَ الْخَطَّابِيُّ فِي شَرْحِ الْحَدِيثِ:
إِنَّمَا وَقَعَ الشَّيْطَانُ حِينَ انْتَصَرَ أَبُو بَكْرٍ
Dalam menjelaskan hadits ini, al-Khatabi berkata,
"Se- sungguhnya, setan itu ikut masuk ketika Abu Bakar melawan,
لأَنَّ انْتِصَارَهُ يُغْرِي صَاحِبَهُ - سِيَّمَا
وَقَدْ بَدَا الشَّرُّ مِنْهُ بِتَكْرِيرِ الْإِسَاءَةِ بِالتَّزَيُّدِ
وَالتَّمَادِي
karena perlawanan Abu Bakar telah memancing
kawannya untuk menambah kejahatannya dan tidak ingin menghentikannya.
فَيَكُونُ ذَلِكَ سَبَباً فِي تَفَاقُمِ الْخَطْبِ
Hal itulah yang menyebabkan kejahatannya semakin
bertambah. Al Khatabi 5/204
وَالْمَغْلُوبُ عَلَى أَمْرِهِ يَتَأَسَّى بِنُوحٍ
عَلَيْهِ السَّلَامُ حِينَمَا عَجَزَ عَنْ قَوْمِهِ
Orang yang tidak berdaya untuk melawan, kondisinya
sama seperti Nabi Nuh a.s. ketika ia tidak berdaya menghadapi kaumnya,
﴿ فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ
فَانْتَصِرْ ﴾ [القمر: ١٠ ]
"Maka dia mengadu kepada Tuhannya, 'Bahwasanya
aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku)."
(al-Qamar [54]: 10)
أَمَّا الْقَادِرُ عَلَى الِانْتِصَارِ بِقُيُودِهِ
وَشُرُوطِهِ الشَّرْعِيَّةِ
Adapun orang yang mampu melawan dengan batasan dan
syarat-syaratnya yang sesuai dengan syariat",
[-Catatan: Kriteria dan syarat yang perlukan untuk
melakukan perlawanan pada orang muslim yang zalim adalah apabila menahan diri
itu dapat membuat ia semakin berani (berbuat jahat), atau apabila perbuatan
zalimnya dilakukan secara terang- terangan dan semakin menjadi-jadi. Syarat
lain adalah tidak boleh melebihi kejahatan yang telah ng telah dilakukannya dan
jangan sampai perlawanannya dapat menimbulkan kejahatan yang lebih besar
menurut perkiraan dan analisisnya-]
فَلَا عُذْرَ لَهُ فِي الْخُنُوعِ وَالِاسْتِكَانَةِ
لِلظَّالِمِينَ
maka ia tidak mempunyai alasan untuk tunduk dan
tidak melawan orang-orang zalim.
فَأَمَّا قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَلَمَنْ صَبَرَ
وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ ﴾ [الشورى: ٤٣]
Firman-Nya, "Tetapi orang yang bersabar dan
memaafkan, sesungguhnya, (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang
diutamakan." (asy-Syuraa [42]: 43)
فَقَدْ قَالَ فِيهِ الْقُرْطُبِيُّ: ( هُوَ مَحْمُولٌ
عَلَى الْغُفْرَانِ عَنْ غَيْرِ الْمُصِرِّ، فَأَمَّا الْمُصِرُّ عَلَى الْبَغْيِ
وَالظُّلْمِ فَالْأَفْضَلُ الِانْتِصَارُ مِنْهُ )
Imam al-Qurtubi mengatakan, "Hal itu berarti
dapat me- maafkan orang yang tidak bersikeras untuk melakukan kezaliman. Adapun
orang yang bersikeras untuk melakukan penindasan dan kezaliman, maka tindakan
yang lebih baik adalah melawannya." Tafsir Al Qurtubi 16/39
وَأَمَّا كَظْمُ الْغَيْظِ فَمُسْتَحْسَنٌ
وَمَنْدُوبٌ إِلَيْهِ بَعْدَ التَّمَكُّنِ مِنَ الظَّالِمِ وَالْقُدْرَةِ عَلَيْهِ
Sedang sikap menahan kemarahan sebaiknya memaafkan,
dan dianjurkan untuk dilakukan setelah orang zalim itu dikuasainya.
وَإِذَا عُلِمَ صِدْقُ تَوْبَتِهِ، وَنَدَمُهُ، أَوْ
أَنَّهَا زَلَّةٌ مِنْهُ لَمْ يُصِرَّ عَلَيْهَا، فَالْعَفْوُ عَنْهُ عِنْدَئِذٍ
هُوَ الْأَوْلَى
Apabila kesungguhan tobatnya jelas dan
penyesalannya sungguh- sungguh karena merasa hina dengan perbuatannya sehingga
ia berhenti, maka memaafkan (membiarkan)nya dalam kondisi seperti ini adalah
lebih baik.
أَمَّا عَفْوُ الضَّعِيفِ فَهُوَ عَفْوُ الْمُكْرَهِ
الْمُسْتَضْعَفِ وَلَا فَضِيلَةَ فِيهِ
Adapun memaafkan orang lemah, yaitu memaafkan orang
yang dipaksa dan tak berdaya, maka tidak ada manfaatnya.
إِنَّ إِحْيَاءَ خُلُقِ ( الِانْتِصَارِ) هَامٌّ
وَضَرُورِيٌّ؛ لئِلَّا تَعْتَادَ الْأُمَّةُ قَبُولَ الذُّلِّ
Bahwa melakukan perlawanan adalah penting dan
diperlukan agar umat tidak terbiasa mendapat perlakuan yang hina,
لَا مِنْ فَاسِقٍ يَقْهَرُهَا، وَلَا مِنْ كَافِرٍ
يَنْحَرُهَا
baik dari orang fasik yang ingin menguasai kita
maupun dari orang kafir yang ingin menghancurkan kita.
لِأَنَّ الْأُمَّةَ الَّتِي تَعْتَادُ السَّكِينَةَ
أَمَامَ الظُّلْمِ
Apabila umat Islam terbiasa diam di hadapan
kezaliman
وَالْوَدَاعَةَ أَمَامَ الْخَسْفِ وَالْعَسْفِ
تَفْقِدُ دَافِعِيَّةَ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ،
وَتَنْعَدِمُ فِيهَا رُوحُ الْجِهَادِ
dan tidak peduli atas penindasan serta
penganiayaan, maka motivasi untuk melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar akan
hilang Semangat jihad pun akan mati.
فَهَلْ نَحْنُ مُنْتَصِرُونَ حِينَ يَلْزَمُ
الِانْتِصَارُ مِمَّنْ لَا يَرْتَدِعُ إِلَّا بِالِانْتِصَارِ ؟
Apakah kita akan melakukan perlawanan ketika hal
itu diperlukan khususnya pada orang-orang yang tidak jera kecuali dengan adanya
perlawanan?
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN
· الِانْتِصَارُ تَكْمِيلٌ لِخُلُقِ
الْعَفْوِ وَالسَّمَاحَةِ حَيْثُ لَا يَنْبَغِي الْعَفْوُ
→ Melakukan perlawanan merupakan
penyempurna bagi sifat pemaaf, dan toleran yang perlu dilakukan pada saat-saat
berdiam diri tidak memiliki arti.
· الِانْتِصَارُ مِنَ الْبَاغِي
الْمُعْلِنِ الْمُصِرِّ أَوْلَى مِنَ الْعَفْوِ، وَالْعَفْوُ عَنِ النَّادِمِ
الْمُقْلِعِ أَوْلَى
→ Melawan para penindas yang
terang-terangan dan bersikeras melakukan kezaliman adalah lebih baik
dibandingkan membiarkannya. Namun, membiarkan mereka yang sudah berhenti dan
menyesali perbuatannya adalah lebih baik.
· الشَّجَاعَةُ فِي الِانْتِصَارِ لَا
تَتَنَافَى مَعَ قَابِلِيَّةِ الْعَفْوِ عَنْ صَاحِبِ الْفَلْتَةِ
→ Berani melawan tidak bertentangan
dengan sikap memaafkan orang yang telah menyesali perbuatannya.
· فَتْوَى مَالِكٍ بِالِانْتِصَارِ مِنَ
الظَّالِمِ لِئَلَّا يَغْتَرَّ وَيَسْتَرِسِلَ فِي ظُلْمِهِ
→ Fatwa Imam Malik untuk melawan
kezaliman bertujuan untuk membuat kezaliman itu tidak semakin kuat dan
merajalela.
· الْقَصْدُ فِي الِانْتِصَارِ أَنْ
يَكُونَ بِالْمِثْلِ وَأَلَّا يَزِيدَ عَنْ ظُلْمِ الْمُعْتَدِي
→ Tujuan melawan adalah memberikan
pembalasan secara setimpal dan tidak boleh melebihinya.
· يُشْتَرَطُ فِي الْحِلْمِ أَلَّا يُخِلَّ
بِالْمُرُوءَةِ، وَإِلَّا فَالِانْتِصَارُ أَوْلَى
→ Disyaratkan dalam bersikap
menahan diri (membiarkan) pada kezaliman adalah tidak boleh merusak (kewibawaan
atau harga diri). Apabila merusak, maka melawan adalah lebih baik.
· فِي تَفْسِيرِ -الْجَهْرَ بِالسُّوءِ
...- الْأَخْذُ عَلَى يَدِ السَّفِيهِ وَكَفُّهُ عَنِ الظُّلْمِ
→ Dalam penafsiran ayat,
"Berterus terang dengan perkataan buruk" berarti memusnahkannya dari
tangan orang zalim dan mencegah kezalimannya
· مَوْقِفُ انْتِصَارٍ بَيْنَ عَائِشَةَ
وَزَيْنَبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
→ Contoh sikap perlawanan antara
Aisyah dan Zaenab r.a.
· لَا يَجُوزُ لِلْمُنْتَصِرِ تَجَاوُزُ
حَدِّ الْعَدْلِ وَالْإِنْصَافِ
→ Orang yang melakukan perlawanan
tidak boleh melewati batas keadilan.
· الْمَغْلُوبُ عَلَى أَمْرِهِ يَدْعُو ،
وَالْقَادِرُ يَنْتَصِرُ وَلَا فَضِيلَةَ فِي عَفْوِ الضَّعِيفِ
→ Orang yang tidak berdaya
dianjurkan untuk meminta pertolongan. Adapun orang yang mampu dan kuat
dianjurkan untuk melawan, dan membiarkan kezaliman yang dilakukan oleh orang
lemah tidak ada manfaatnya.
· حَمَلَ الْقُرْطُبِيُّ آيَةَ - وَلَمَنْ
صَبَرَ وَغَفَرَ- عَلَى غَيْرِ
الْمُصِرِّ
→ Imam al-Qurtubi menafsirkan ayat
"Tetapi, siapa yang sabar dan suka memaafkan, "dikhususkan bagi orang
yang tidak bersikukuh dalam melakukan kezaliman.
· خُلُقُ ( الِانْتِصَارِ ) يُحْيِي فِي
الْأُمَّةِ رُوحَ الْجِهَادِ -
→ Dengan sikap melawan berarti
menghidupkan umat semangat jihad.
Sumber:
هَذِهِ أَخْلَاقُنَا حِينَ نَكُونُ مُؤْمِنِينَ
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan Silahkan bila ada masukan atau kesalahan -
tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan – share Semoga bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar