BAB 01
AKHLAK YANG HARUS DIMILIKI PADA WAKTU BERJUANG
PASAL 05
الشَّجَاعَةُ
Memiliki keberanian
وَإِنَّ الشَّجَاعَ مِنَّا لَلَّذِي يُحَاذِي بِهِ
"Dan
orang-orang yang berani di antara kami adalah orang yang berani maju."
حِينَ يَكُونُ دِينُ الْمَرْءِ أَعَزَّ مَا لَدَيْهِ
فِي هَذِهِ الدُّنْيَا يَكُونُ فِي الْمُنَافَحَةِ عَنْهُ بَالِغَ الشَّجَاعَةِ،
عَظِيمَ الْجُرْأَةِ، قَوِيَّ الْإِقْدَامِ
Ketika agama adalah sesuatu yang paling berharga di
dunia ini bagi seseorang, maka ia akan membelanya dengan penuh keberanian,
tanpa rasa takut, dan terus untuk maju.
تَنَبُعُ الشَّجَاعَةُ مِنْ غَرَائِزَ فِطْرِيَّةٍ،
وَتُقَوِّيهَا التَّرْبِيَةُ الْجِهَادِيَّةُ بِالْمِرَانِ وَالتَّدْرِيبِ
وَخَوْضِ الْمَوَاقِفِ؛
Keberanian itu lahir dari fitrah kemanusiaan dan
menjadi kuat dengan pendidikan jihad, baik dengan latihan, uji coba, maupun
terjun ke medan perjuangan
حَتَّى يَكْتَسِبَ الشَّابُّ هَذَا الْخُلُقَ
sehingga seorang pemuda dapat memperoleh sikap ini.
وَإِلَى ذَلِكَ أَشَارَ سَيِّدُنَا عُمَرُ - رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ - بِقَوْلِهِ
Dalam hal ini, Umar bin Khaththab ra. menggambarkan
tanda-tandanya,
وَالْجُرْأَةُ وَالْجُبْنُ غَرَائِزُ يَضَعُهَا
اللَّهُ حَيْثُ يَشَاءُ
"Sikap
berani dan sikap pengecut adalah fitrah yang diberikan Allah kepada siapa saja
yang dikehendaki.
فَالْجَبَانُ يَفِرُّ عَنْ أَبِيهِ وَأُمِّهِ
Orang yang pengecut adalah orang yang melarikan
diri, walaupun harus meninggalkan bapak dan ibunya.
وَالْجَرِيءُ يُقَاتِلُ عَمَّا لَا يَؤُوبُ بِهِ
إِلَى رَحْلِهِ، وَالْقَتْلُ حَتْفٌ مِنَ الْحُتُوفِ
Dan, orang yang pemberani adalah orang yang tetap
melawan dan tidak akan rela melarikan diri. Terbunuh dalam medan perang adalah
bagian dari cengkeraman kematian." Al-Muwaththa' - Kitab Jihad - Hadits no. 35.
وَيُعَلِّقُ فُؤَادٌ عَبْدُ الْبَاقِي عَلَى
الْفَقْرَةِ الْأَخِيرَةِ بِقَوْلِهِ
Fuad Abdul-Baqi mengomentari perkataan terakhir,
وَالْقَتْلُ حَتْفٌ مِنَ الْحُتُوفِ
"Terbunuh
dalam medan perang adalah bagian dari cengkeraman kematian".
أَيْ نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ الْمَوْتِ، كَالْمَوْتِ
بِمَرَضٍ أَوْ نَحْوِهِ، فَيَجِبُ أَلَّا يَرْتَاعَ مِنْهُ، وَلَا يَهَابَ
هَيْبَةً تُورِثُ الْجُبْنَ
berarti termasuk jenis kematian, seperti mati
karena terkena sakit atau mati lainnya. Karena itu, janganlah gentar dan takut
terbunuh seperti para pengecut." Dari catatan kaki Ustaz Fuad Abdul Baqi untuk hadits
sebelumnya dalam Al-Muwaththa'.
وَقَدْ جَعَلَ اللَّهُ أَمْرَ الدِّينِ لَا يَقُومُ
إِلَّا بِالشَّجَاعَةِ
Allah telah menjadikan masalah agama ini tidak akan
tegak kecuali dengan keberanian.
وَلِذَلِكَ إِنْ جَبُنَ أَهْلُ الْحَقِّ يَسْتَبْدِلْ
بِهِمْ قَوْماً غَيْرَهُمْ
Oleh karena itu, apabila kelompok yang benar
menjadi pengecut, maka Allah akan menggantinya dengan kelompok lain.
وَهَذَا مَا أَرَادَهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ بِقَوْلِهِ
Inilah yang dimaksud oleh Ibnu Taimiyah,
وَلَمَّا كَانَ صَلَاحُ بَنِي آدَمَ لَا يَتِمُّ فِي
دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ إِلَّا بِالشَّجَاعَةِ وَالْكَرَمِ، بَيَّنَ سُبْحَانَهُ
أَنَّ مَنْ تَوَلَّى عَنِ الْجِهَادِ بِنَفْسِهِ أَبْدَلَ اللَّهُ بِهِ مَنْ
يَقُومُ بِذَلِكَ
"Kemakmuran
manusia di dunia dan akhirat tidak akan tercapai kecuali dengan adanya sifat
berani dan dermawan. Oleh karena itu barangsiapa yang melarikan diri dari
jihad, maka Allah akan menggantikannya dengan kelompok lain." Fatawa Ibnu Taimiyah 28/157
وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يُعْتَمَدَ عَلَى
النَّفْعِيِّينَ وَالْمُنَافِقِينَ لِأَنَّهُمْ يَفْتَقِدُونَ حَرَارَةَ الْحِرْصِ
وَدَافِعِيَّةَ الِاهْتِمَامِ
Untuk hal itu tidak mungkin mengandalkan para
penjilat dan orang-orang munafik karena mereka tidak mempunyai semangat yang
tinggi dan tidak memiliki rasa peduli.
لِذَلِكَ وَصَفَهُمْ أَبُو طَلْحَةَ يَوْمَ أُحُدٍ
بِقَوْلِهِ
Oleh karena itu, Abu Thalhah menggambarkan mereka
saat Perang Uhud,
وَالطَّائِفَةُ الْأُخْرَى الْمُنَافِقُونَ، لَيْسَ
لَهُمْ هَمٌّ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ، أَجْبَنُ قَوْمٍ وَأَرْعَبُهُ، وَأَخْذَلُهُ
لِلْحَقِّ
"Adapun
kelompok lain adalah kelompok munafik. Mereka tidak mempunyai kepedulian
kecuali diri mereka sendiri. Mereka adalah kelompok paling pengecut. Paling
penakut dan yang paling menyepelekan kebenaran."
Shahih
Sunan At-Tirmidzi karya Al-Albani - Kitab Tafsir: Ali 'Imran - Hadits no.
2406/3208 (Shahih).
إِنَّ أَصْحَابَ الْمُرُوءَةِ مِنْ أَبْنَاءِ
الْجَاهِلِيَّةِ يَتَعَايَرُونَ بِالْجُبْنِ، وَيَتَفَاخَرُونَ بِالشَّجَاعَةِ
Para kesatria orang-orang jahiliah akan merasa
tercela dengan sifat pengecut dan merasa bangga dengan sifat berani.
وَيُمَثِّلُ هَذَا الْمَعْنَى الْحِوَارُ الَّذِي
دَارَ بَيْنَ أَبِي جَهْلٍ وَعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ يَوْمَ بَدْرٍ
Makna ini tecermin dalam dialog Abu Jahal dan Utbah
bin Rabiah pada Perang Badar.
حَيْثُ قَالَ عُتْبَةُ: يَا قَوْمِ إِنِّي أَرَى
قَوْماً مُسْتَمِيتِينَ لَا تَصِلُونَ إِلَيْهِمْ وَفِيكُمْ خَيْرٌ
Utbah berkata, "Wahai kaumku, aku melihat
suatu kaum yang ingin mencari kematian. Kalian tidak akan mampu melawan mereka,
walau di antara kalian ada orang-orang hebat.
يَا قَوْمِ اعْصِبُوهَا الْيَوْمَ بِرَأْسِي،
وَقُولُوا جَبُنَ عُتْبَةُ بْنُ رَبِيعَةَ وَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّي لَسْتُ
بِأَجْبَنِكُمْ
Wahai kaumku, mulai sekarang, lihatlah wajahku dan
katakanlah, 'Pengecutlah Utbah bin Rabiah.' Kalian sudah tahu bahwa aku
bukanlah orang yang paling pengecut di antara kalian."
فَسَمِعَ ذَلِكَ أَبُو جَهْلٍ فَقَالَ: أَنْتَ
تَقُولُ هَذَا ؟! وَاللَّهِ لَوْ غَيْرُكَ يَقُولُ هَذَا لَأَعْضَضْتُهُ، قَدْ
مَلَأَتْ رِئَتُكَ جَوْفَكَ رُعْباً
Ketika Abu Jahal mendengar perkataannya, ia
berkata, "Apakah engkau yang mengatakan hal itu?, Demi Allah, jika bukan
engkau yang mengatakan seperti itu pasti aku akan menggigitnya. Paru- parumu
telah memenuhi perutmu karena ketakutan."
فَقَالَ عُتْبَةُ: إِيَّايَ تُعَيِّرُ يَا مُصَفِّرَ
اسْتِهِ ؟! سَتَعْلَمُ الْيَوْمَ أَيُّنَا الْجَبَانُ
Utbah menjawab, "Janganlah sekali-kali engkau
mencelaku wahai pantat yang berbunyi. Engkau akan tahu siapa di antara kita
yang paling pengecut." Musnad Ahmad 1/117, dan dari Bulughul Amani 20/32:
(Al-Haitsami berkata: Dan para perawi Ahmad adalah perawi Shahih, selain
Haritsah bin Mudharrib dan dia adalah perawi tsiqah/terpercaya).
وَلِأَنَّ الْجُبْنَ شَرٌّ فَقَدِ اسْتَعَاذَ مِنْهُ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
Karena sifat pengecut itu membahayakan, maka
Rasulullah saw. meminta perlindungan untuk dijauhkan dari sifat tersebut,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ
"Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut..." Shahih Al-Bukhari
- Kitab Jihad - Bab 25 - Hadits no. 2822
وَلَقَدِ اعْتَبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ شَرَّ
صِفَاتِ الرِّجَالِ: شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ: شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ (٤)
Sebab, Rasulullah saw. menganggap bahwa sifat
pengecut merupakan sifat paling buruk bagi seorang laki-laki, "Sifat yang
paling buruk bagi seorang laki-laki adalah sifat kikir yang membelenggu dan
pengecut yang penakut..." Shahih Sunan Abi Dawud karya Al-Albani - Kitab
Jihad - Bab 22 - Hadits no. 2192/2511 (Shahih).
وَمِثْلُ هَذَا الْجُبْنِ الَّذِي يَخْلَعُ
الْقُلُوبَ إِنَّمَا يَنْشَأُ مِنْ طَبِيعَةِ التَّرْبِيَةِ وَآثَارِ الْبِيئَةِ،
وَأَمْثَالِ الْمُجْتَمَعِ وَقِيَمِهِ
Sifat pengecut seperti ini yang dapat melepaskan
hati karena ia tercipta dari karakter pendidikan, pengaruh lingkungan, suri
teladan masyarakat, dan nilai-nilainya.
وَلِذَلِكَ كَانَ لَابُدَّ مِنْ غَرْسِ الشَّجَاعَةِ
مُنْذُ الطُّفُولَةِ فِي نُفُوسِ الْأَبْنَاءِ لِإِعْدَادِهِمْ لِلْجِهَادِ
Oleh karena itu, diharuskan menanamkan keberanian
pada jiwa anak-anak sejak kecil untuk mempersiapkan mereka menghadapi jihad.
وَإِنَّ شِدَّةَ التَّعَلُّقِ بِالدُّنْيَا
وَزِينَتِهَا تَنقَلِبُ عَلَى صَاحِبِهَا دَاعِيَةً إِيَّاهُ إِلَى التَّخَوُّفِ
عَلَى مَصَالِحِهِ وَالْجُبْنِ عَنْ خَوْضِ الْغِمَارِ، وَلِذَلِكَ قَالَ ﷺ
Ketergantungan pada dunia dan hiasannya akan
melahirkan rasa takut kehilangan kepentingannya dan takut memasuki medan
perjuangan. Rasulullah saw. bersabda,
إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ (۱)
Watak anak kecil adalah kikir dan penakut." Shahih
Sunan Ibnu Majah karya Al-Albani - Kitab Adab - Bab 3 - Hadits no. 2957/3666
(Shahih).
وَالْفَرْقُ بَيْنَ نَفْسِيَّةِ الشَّجَاعِ
وَالْجَبَانِ مَلْحُوظٌ وَظَاهِرٌ
Perbedaan antara jiwa pemberani dengan jiwa penakut
akan terlihat dan tampak jelas.
وَفِي ذَلِكَ يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ: .. فَإِنَّ
الشَّجَاعَ مُنْشَرِحُ الصَّدْرِ وَالْجَبَانَ أَضْيَقُ النَّاسِ صَدْراً،
وَأَحْصَرُهُمْ قَلْباً، لَا فَرْحَةَ لَهُ وَلَا سُرُورَ، وَلَا لَذَّةَ
لَهُ وَلَا نَعِيمَ؛ إِلَّا مِنْ جِنْسِ مَا
لِلْحَيَوَانِ الْبَهِيمِيِّ
Dalam hal ini Ibnul Qayyim berkata, "Pemberani
itu adalah orang yang lapang dada, sedangkan penakut itu adalah orang yang
paling sesak dadanya, hatinya sempit, tidak ada kebahagiaan dan kesenangan,
tidak ada kenikmatan dan keindahan kecuali bagaikan hewan ternak." Zad
Al-Ma'ad 1/187
وَمَنْ يَتَصَدَّى لِإِمْرَةِ النَّاسِ
وَقِيَادَتِهِمْ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ قُدْوَةً فِي شَجَاعَتِهِ
Barangsiapa yang ingin menjadi penguasa dan
pemimpin umat,
maka ia harus menjadi teladan dalam keberaniannya.
فَقَدْ كَانَ ﷺ أَحْسَنَ النَّاسِ وَأَشْجَعَ
النَّاسِ وَأَجْوَدَ النَّاسِ (۳
Karena Rasulullah saw. adalah orang yang paling
baik, paling pemberani, dan paling dermawan. Shahih Al-Bukhari - Kitab Jihad -
Bab 24 - Hadits no. 2820
وَيَقُولُ لَوْ كَانَ لِي عَدَدُ هَذِهِ الْعِضَاهِ
نَعَماً لَقَسَمْتُهُ بَيْنَكُمْ، ثُمَّ لَا تَجِدُونِي بَخِيلاً وَلَا كَذُوباً
وَلَا جَبَاناً (٤)
"
Beliau
bersabda, Jika aku memiliki
sejumlah pohon yang besar yang merupakan anugerah, maka aku akan membagikannya
pada kalian kemudian kalian akan melihat bahwa aku bukan orang kikir, bukan
pendusta, dan bukan penakut." Shahih Al-Bukhari - Kitab Jihad - Bab 24 - Hadits no.
2821, dan diulang pada nomor 3148
وَفِي فَوَائِدِ الْحَدِيثِ يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ
Ibnu Hajar menerangkan faedah-faedah hadits
tersebut,
وَفِيهِ ذَمُّ الْخِصَالِ الْمَذْكُورَةِ وَهِيَ
الْبُخْلُ وَالْكَذِبُ وَالْجُبْنُ وَأَنَّ إِمَامَ الْمُسْلِمِينَ لَا يَصْلُحُ
أَنْ يَكُونَ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهَا
"Hadits
itu mencela sifat-sifat yang telah disebutkan tadi, yaitu sifat kikir, dusta,
dan pengecut. Seorang pemimpin umat tidak layak memiliki sifat tersebut." Fathul
Bari 6/254 - Kitab Fardhu Khumus - Bab 19 dalam penjelasan hadits no. 3148.
وَالْجُنُودُ يَفْخَرُونَ بِشَجَاعَةِ قَائِدِهِمْ،
وَيَزْدَادُونَ إِقْدَاماً
Para prajurit akan bangga memiliki pemimpin yang
pemberani dan maju paling dahulu.
لِذَلِكَ قَالَ الْبَرَاءُ فِي حَدِيثِهِ عَنْ يَوْمِ
حُنَيْنٍ
Oleh karena itu, al-Barra menceritakan kejadian
Perang Hunain,
كُنَّا وَاللَّهِ إِذَا احْمَرَّ الْبَأْسُ نَتَّقِي
بِهِ، وَإِنَّ الشَّجَاعَ مِنَّا لَلَّذِي يُحَاذِي بِهِ
"Ketika
kami dalam kondisi sangat kritis, kami berlindung di parit. Adapun orang yang
berani di antara kami adalah orang yang berani maju ke medan tempur," Shahih Muslim -
Kitab Jihad - Hadits no. 79
لِمَا كَانُوا يَرَوْنَ مِنْ شَجَاعَةِ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ
karena mereka melihat keberanian Rasulullah
وَلَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يُرِيَ عَدُوَّهُ
مِنْ نَفْسِهِ جُبْناً
Tidaklah layak seorang mukmin terlihat oleh
musuhnya sebagai seorang pengecut.
حَتَّى إِنَّ الصَّحَابِيَّ الشَّهِيدَ خُبَيْباً
لَمَّا صَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ قَتْلِهِ قَالَ لِلْمُشْرِكِينَ
Sahabat Nabi saw. Syahid Khabib ketika shalat dua
rakaat sebelum dibunuh, berkata kepada orang-orang musyrik,
وَاللَّهِ لَوْلَا أَنْ تَحْسَبُوا أَنَّ مَا بِي
جَزَعٌ لَزِدْتُ
"Demi
Allah, jika engkau mengira bahwa aku ini takut, maka akan kutambah keberanianku," Shahih Al-Bukhari
- Kitab Al-Maghazi - Bab 10 - Hadits no. 3989 (Fathul Bari 7/309).
وَهُوَ مُقْبِلٌ عَلَى الْمَوْتِ يَخْشَى أَنْ
يُلْصَقَ بِالْمُسْلِمِينَ شُبْهَةُ الْجَزَعِ وَالْجُبْنِ
padahal pada saat itu ia sedang menghadapi kematian
sehingga ia takut umat Islam diidentikkan dengan sifat penakut dan pengecut.
وَشَجَاعَةُ الْمُؤْمِنِ تَتَبَدَّى عَلَى
أَعْدَائِهِ، وَفِي جُرْأَتِهِ الْأَدَبِيَّةِ فِي نُصْحِ إِخْوَانِهِ، وَفِي
الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ
Keberanian seorang mukmin akan tampak di hadapan
musuh-musuhnya, sikap tegas yang sopan dalam menasihati saudara- saudaranya,
dan dalam melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar.
وَتَخْرُجُ الشَّجَاعَةُ عَنْ حَدِّ الْقَصْدِ حِينَ
تَكُونُ عَلَى الْإِخْوَةِ وَالْأَصْدِقَاءِ، وَعَلَى الْمَسَاكِينِ
وَالضُّعَفَاءِ
Keberaniannya akan menghilang dengan wajar ketika
ia bersama saudara-saudara dan sahabat-sahabatnya, serta ketika ia bersama
orang-orang miskin dan lemah.
أُمَّةُ الشَّهَادَةِ عَلَى النَّاسِ بِحَاجَةٍ إِلَى
أَصْحَابِ الشَّجَاعَةِ فِي حِمَايَةِ الْحَقِّ وَالْجُرْأَةِ الْأَدَبِيَّةِ فِي
الدَّعْوَةِ إِلَيْهِ
Umat Islam yang ingin berjihad membutuhkan
orang-orang yang pemberani dalam melindungi kebenaran dan berani dalam
melakukan dakwah.
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN
يَكُونُ الْمَرْءُ بَالِغَ الشَّجَاعَةِ إِذَا كَانَ
دِينُهُ أَعَزَّ مَا لَدَيْهِ
Seseorang akan mempunyai sifat pemberani jika ia
menjadikan agamanya sebagai sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
أَمْرُ الدِّينِ لَا يَقُومُ إِلَّا بِالشَّجَاعَةِ
Agama tidak akan tegak kecuali dengan keberanian.
لَا يُمْكِنُ أَنْ يُعْتَمَدَ عَلَى النَّفْعِيِّينَ
وَالْمُنَافِقِينَ
Agama tidak mungkin berjaya dengan mengandalkan
orang-orang penjilat dan munafik.
إِنَّ أَصْحَابَ الْمُرُوءَةِ مِنْ أَبْنَاءِ
الْجَاهِلِيَّةِ يَتَعَايَرُونَ بِالْجُبْنِ
Para kesatria jahiliah merasa tercela apabila ia
mempunyai sifat pengecut.
الْجُبْنُ شَرُّ صِفَاتِ الرِّجَالِ
Sifat pengecut adalah sifat paling buruk bagi
laki-laki.
إِنَّ شِدَّةَ التَّعَلُّقِ بِالدُّنْيَا تُؤَدِّي
إِلَى الْجُبْنِ
Cinta dunia dapat menyebabkan orang menjadi
pengecut.
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَحْسَنَ النَّاسِ، وَأَشْجَعَ
النَّاسِ، وَأَجْوَدَ النَّاسِ
Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik,
paling berani, dan paling dermawan.
Sumber:
هَذِهِ أَخْلَاقُنَا حِينَ نَكُونُ مُؤْمِنِينَ
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan : Silahkan
bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka
penyempurnaan.
Dipersilahkan – share - Semoga bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar