BAB 05
AKHLAK KITA DALAM KETUHANAN
الثبات
Keteguhan
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى
دِينِكَ
"Wahai Zat yang memutar balik hati,
teguhkanlah hatiku pada agama-mu. " Shahih - Al Jami'ur Hadist 7987
كَثِيرًا مَا نَجِدُ شَبَابًا يَحِنُّونَ إِلَى
الْبِدَايَاتِ الَّتِي كَانُوا يَتَفَجَّرُونَ فِيهَا حَيَوِيَّةً،
وَيَتَدَفَّقُونَ حَمَاسًا، وَيُبَالِغُونَ فِي الْحِرْصِ عَلَى دَقَائِقِ
السُّنَنِ، نَاهِيكَ عَنِ الْبُعْدِ عَنْ دَائِرَةِ الْحَرَامِ وَالشُّبُهَاتِ.
ثُمَّ مَاذَا؟
Banyak sekali pemuda yang sangat bersemangat ketika
baru memasuki fase-fase permulaan. Mereka sangat antusias untuk mengetahui
sunnah secara detail, kemudian lihatlah apa yang terjadi?
كَلَّتِ النُّفُوسُ، وَفَتَرَتِ الْهِمَمُ،
وَاكْتَفَى كُلُّ شَابٍّ بِأَنْ يَكُونَ وَاحِدًا مِنْ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ
Jiwa mereka berubah menjadi lesu, semangat mereka
lemah dan setiap pemuda merasa cukup menjadi salah seorang dari masyarakat
muslim yang awam saja.
وَهَذَا أَحْسَنُ حَالًا مِمَّنُ انْقَلَبُوا عَلَى
أَعْقَابِهِمْ فَغَدُوا يُعَادُونَ الدَّعْوَةَ وَيَسْخَرُونَ مِنْ أَهْلِهَا
وَيُحَذِّرُونَ مِنْ سَبِيلِهَا، إِنَّهَا مَعْرَكَةُ تَقْرِيرِ الْمَصِيرِ بَيْنَ
الارْتِدَادِ عَلَى الْأَعْقَابِ وَالثَّبَاتِ
Ini masih lebih baik daripada mereka yang langsung
berpaling dari Islam lalu memerangi dakwah, menghina para Pendukungnya dan
menghalangi jalannya. Ini merupakan Pertarungan penentu antara kemurtadan dan
keteguhan.
نَعْنِي بِالثَّبَاتِ الاسْتِمْرَارَ فِي طَرِيقِ
الْهِدَايَةِ، وَالالْتِزَامَ بِمُقْتَضَيَاتِ هَذَا الطَّرِيقِ، وَالْمُدَاوَمَةَ
عَلَى الْخَيْرِ وَالسَّعْيَ الدَّائِمَ لِلاِسْتِزَادَةِ
Keteguhan yang kami maksud adalah terus-menerus di
jalan hidayah (benar), komitmen dengan tuntutan jalan ini, senantiasa bersama
kebaikan dan berusaha untuk lebih baik.
وَمَهْمَا فَتَرَ الْمَرْءُ، فَهُنَالِكَ مُسْتَوًى
مُعَيَّنٌ لَا يُقْبَلُ التَّنَازُلُ عَنْهُ أَوِ التَّقْصِيرُ فِيهِ، وَإِنْ
زَلَّتْ قَدَمُهُ فَلَا يَلْبَثُ أَنْ يَتُوبَ
Jika seseorang mengalami kelesuan, maka ada batas
tertentu yang tidak boleh diabaikan. Jika ia mengabaikan, maka ia harus
bertobat.
وَرُبَّمَا كَانَ بَعْدَ التَّوْبَةِ خَيْرًا مِمَّا
كَانَ قَبْلَهَا، ذَلِكَ هُوَ حَالُ الْمُتَّصِفِ بِخُلُقِ الثَّبَاتِ
Semoga keadaannya setelah bertobat lebih baik
daripada sebelumnya. Begitulah keadaan orang memiliki sikap teguh..
وَلِلثَّبَاتِ صُوَرٌ تَشْمَلُ عَدَدًا مِنْ
جَوَانِبِ حَيَاةِ الْمُسْلِمِ، مِنْهَا الثَّبَاتُ فِي الْمَعْرَكَةِ كَمَا
ثَبَتَ الرَّبُّونَ الْكَثِيرُ مَعَ أَنْبِيَائِهِمْ، وَكَانَ قَوْلُهُمْ
Ada bermacam-macam keteguhan pada berbagai sisi
kehidupan seorang muslim, di antaranya teguh dalam pertempuran seperti yang
dilakukan oleh pengikut-pengikut setia para nabi. Mereka berkata,
﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا
وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا﴾ [آل عمران: ١٤٧]،
"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan
tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah
(teguhkanlah) pendirian kami." (Ali Imran [3]: 147)
وَالْفِئَةُ الصَّابِرَةُ بِإِمْرَةِ طَالُوتَ
الَّذِينَ قَالَ اللَّهُ فِيهِمْ: ﴿وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ
قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا﴾ [البقرة:
٢٥٠]،
Begitu juga golongan yang sabar dengan perintah
Thalut yang dikisahkan oleh Allah swt., "Tatkala mereka tampak oleh Jalut
dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa, 'Ya Tuhan kami,
tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kokohkanlah (teguhkanlah) pendirian
kami..." al-Baqarah[2]: 250
وَفِي ذَلِكَ تَوْجِيهٌ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَلْتَجِئَ
إِلَى اللَّهِ طَالِبًا مِنْهُ التَّثْبِيتَ
Hal ini merupakan anjuran bagi setiap orang mukmin
untuk berlindung dan memohon keteguhan kepada Allah, Umat Islam diperintahkan
oleh Allah swt.,
وَخُوطِبَ أَبْنَاءُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بِأَمْرِ
اللَّهِ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً
فَاثْبُتُوا﴾ [الأنفال: ٤٥]
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
memerangi pasukan (musuh) maka berteguh hatilah kamu..." (al-Anfaal [8]:
45)
وَمِنَ الْكَبَائِرِ فِي دِينِنَا الْفِرَارُ مِنَ
الزَّحْفِ؛ وَلِذَلِكَ كَانَ مِنَ الْوَصَايَا الْعَشْرِ الَّتِي أَوْصَى بِهَا
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ
Lari pada saat pertempuran dalam agama kita
merupakan dosa besar. Oleh karena itu, di antara sepuluh wasiat Rasulullah saw.
kepada Mu'adz bin Jabal,
وَإِيَّاكَ وَالْفِرَارَ مِنَ الزَّحْفِ وَإِنْ
هَلَكَ النَّاسُ، وَإِذَا أَصَابَ النَّاسَ مَوْتَانُ وَأَنْتَ فِيهِمْ فَاثْبُتْ
"...Janganlah melarikan diri pada hari
pertempuran sekalipun kaum muslimin kalah. Jika kaum muslimin tertimpa dua
kematian, sedang kamu berada bersama mereka maka teguhlah (jangan melarikan
diri)." [[Musnad Ahmad 5/238 awalnya, "Rasulullah saw. berpesan
kepadaku dengan sepuluh kalimat, beliau bersabda, "Janganlah menyekutukan
Allah dengan suatu apa pun.." ]]
لِأَنَّ الثَّبَاتَ يَزِيدُ الْمُؤْمِنِينَ قُوَّةً،
وَيُوقِعُ فِي نُفُوسِ الْعَدُوِّ رَهْبَةً، وَتَزَعْزُعُ الْمَوَاقِفِ يُخْذِلُ
الصَّدِيقَ وَيُشَمِّتُ الْعَدُوَّ
Sebab, keteguhan akan menambah kekuatan kaum
muslimin dan menakutkan musuh, sedangkan rasa ketakutan (tidak teguh)
melemahkan semangat kawan dan membuat musuh senang.
وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَمِّقُ هَذَا
الْمَعْنَى يَوْمَ الْأَحْزَابِ وَهُوَ يَنْقُلُ التُّرَابَ وَقَدْ وَارَى
التُّرَابُ بَطْنَهُ
Pada Perang Ahzab (ketika menggali parit)
Rasulullah saw. menanamkan nilai mulia ini sedang dia memindahkan tanah dan
perutnya sudah kotor berdebu.
وَهُوَ يَقُولُ: «لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا،
وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَيْنَا،
وَثَبِّتِ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا،
إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا»
Beliau berdoa, Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu
niscaya kami tidak mendapat petunjuk, tidak bersedekah, dan tidak shalat. Maka
turunkanlah ketenangan pada kami, tetapkanlah kaki kami (teguhkanlah kami)
ketika berhadapan (dengan musuh). Mereka telah menzalimi kami, mereka ingin
menimpakan bencana pada bapak kami," Shahih Bukhari, kitab Jihad, bab 34
hadits 2837 (al-Fat-h 6/46).
وَلِأَنَّ مَسْأَلَةَ الثَّبَاتِ عَلَى الدِّينِ
قَضِيَّةٌ تَشْغَلُ فِكْرَ الْمُسْلِمِ فَإِنَّهُ يُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ بِهَا
Keteguhan pada agama merupakan masalah yang harus
dipikirkan oleh seorang muslim. la harus memperbanyak doa untuk memperoleh
keteguhan.
فَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُكْثِرُ مِنْ
قَوْلِهِ: «يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
Rasulullah saw. sering berdoa, "Wahai Zat yang
memutarbalikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu." Musnad Ahmad
3/112.
وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْشَى عَلَى
نَفْسِهِ فِي مُوَاجَهَةِ الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ يُدَاهِنَ أَوْ يَلِينَ،
وَلِذَلِكَ خَاطَبَهُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ بِفَضْلِهِ عَلَيْهِ بِأَنْ أَخْلَصَ
وَلَاءَهُ لِلَّهِ
Dalam menghadapi masyarakat jahiliah Rasulullah
saw. khawatir dirinya menjadi lemah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar
ia selalu setia kepada-Nya,
﴿وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ
تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا * إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ
وَضِعْفَ الْمَمَاتِ﴾ [الإسراء: ٧٤، ٧٥]
"Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu
niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi
demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan padamu (siksaan) berlipat ganda di
dunia ini dan (begitu pula) siksaan berlipat ganda sesudah meninggal
dunia..." (al-Israa [17]: 74-75)
فَلْيَحْذَرِ الدُّعَاةُ وَهُمْ يُوَاجِهُونَ
الطُّغَاةَ مِنْ زَلْزَلَةِ الْأَقْدَامِ وَزَعْزَعَةِ الْوَلَاءِ
Hendaklah para dai berhati-hati dalam menghadapi
orang-orang yang zalim, jangan sampai kaki mereka gemetar dan kesetiaannya
(kepada Allah) menjadi labil.
وَقَدْ حَذَّرَ حُذَيْفَةُ الْعُلَمَاءَ الْعُبَّادَ
لِأَنَّهُمْ قُدْوَةٌ: «يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ اسْتَقِيمُوا -
فَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا»
Khudzaifah mengingatkan para ulama karena mereka merupakan suri tauladan, "Wahai para ulama, istiqamahlah (tetaplah pada jalan yang lurus), jika kalian ke kiri dan ke kanan, maka sungguh, kalian telah jauh tersesat. " Shahih Bukhari, kitab al-l'tisham, bab 2, hadits 7282 (al-Fat-h.13/250).
وَلَوْ أَنَّ ضَلَالَ الْمُتَذَبْذِبِ يَمِينًا
وَشِمَالًا يَقْتَصِرُ عَلَيْهِ لَهَانَ الْأَمْرُ، وَلَكِنْ يُفْتَنُ بِضَلَالِهِ
آخَرُونَ
Jika ulama mengalami kesesatan, maka itu hanya
mem-bahayakan dirinya sendiri dan akibatnya tidak terlalu parah, tetapi sayang
kesesatannya sangat membahayakan orang banyak.
وَقَدْ كَانَ مِنْ وَسَائِلِ أَهْلِ الْكِتَابِ فِي
زَعْزَعَةِ صُفُوفِ الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَتَظَاهَرُوا بِالدُّخُولِ فِي
الْإِسْلَامِ، ثُمَّ يَرْتَدُّوا لِيَرْتَدَّ مَعَهُمْ آخَرُونَ
Yahudi dan Nasrani berusaha menggoyahkan barisan
kaum muslimin dengan cara berpura-pura masuk Islam kemudian mereka murtad agar
orang lain juga ikut murtad,
وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ:
﴿آمَنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ
وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾ [آل عمران: ٧٢]
"Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata
(kepada sesamanya), 'Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang
diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan
siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin)
kembali kepada (kekafiran)." (Ali Imran [3]: 72)
فَالسَّعِيدُ مَنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ لِلثَّبَاتِ،
وَخَتَمَ لَهُ بِخَيْرٍ وَمَاتَ وَهُوَ يَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِلَى
أَنْ يَرْزُقَهُ اللَّهُ التَّثْبِيتَ حِينَ يُسْأَلُ
Berbahagialah orang yang diberikan keteguhan oleh
Allah swt. dan mati dalam keadaan husnul khatimah, mengerjakan amal kebaikan
menuju surga hingga ia diberikan keteguhan pada saat menghadapi pertanyaan (di
alam kubur).
وَلَوْ تَأَمَّلْتَ فِي أَحَادِيثِ الْحَوْضِ مِنْ
صَحِيحِ مُسْلِمٍ لَوَجَدْتَ أُنَاسًا مُنِعُوا مِنْهُ وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ
يَقُولُ
Jika Anda memperhatikan hadits-hadits tentang
al-Haudh (telaga Rasulullah di akhirat) pada kitab Shahih Muslim, niscaya Anda
akan mendapatkannya karena banyak orang yang tidak bisa sampai ke telaga
tersebut sedang Rasulullah berkata,
يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ» فَيَدْعُو عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي
"Wahai Tuhan, mereka sahabatku." Lalu
dikatakan, "Engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (perbuat) setelah
kamu mati." Kemudian Rasulullah berkata, "Binasalah binasalah bagi
orang yang mengubah setelah aku mati."
وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى يُقَالُ لَهُ: «وَاللَّهِ
مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ»، فَكَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ
أَحَدُ رُوَاةِ هَذَا الْحَدِيثِ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ
نَرْجِعَ عَلَى أَعْقَابِنَا أَوْ نُفْتَنَ عَنْ دِينِنَا»
Dalam riwayat lain dikatakan kepada Nabi saw.,
"Demi Allah, mereka berpaling (menjadi murtad)." Ibnu Abu Malikah,
salah seorang perawi hadits berdoa, "Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu
dari kemurtadan." Shahih Muslim, kitab al-Fadhail, bab 9, hadits 2289 dan
2295 (Syarh an-Nawawi 8/58).
وَكَلِمَةُ «مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ» تُوحِي
بِالتَّرَاجُعِ الْبَطِيءِ الْمُتَوَاصِلِ الْمُؤَدِّي إِلَى الْهَاوِيَةِ.
وَرُبَّمَا يَصْعُبُ الرُّجُوعُ بَعْدَ طُولِ الاسْتِدْرَاجِ. فَهَنِيئًا لِمَنِ
اسْتَدْرَكَ نَفْسَهُ لِئَلَّا تَزِلَّ قَدَمُهُ بَعْدَ ثُبُوتِهَا
Kata "Maa barihuu yarji'uun"
meng-isyaratkan bahwa berpaling secara perlahan-lahan dan terus-menerus sampai
ke jurang yang dalam (neraka Hawiyah). Bahkan, sangat sulit untuk kembali.
Berbahagialah orang yang dapat mengendalikan dirinya sehingga imannya tidak
goyah.
نَجِدُ كَثِيرًا مِنَ الْأَدْعِيَةِ تَرْكِزُ عَلَى
مَعْنَى الثَّبَاتِ، وَمِنْ ذَلِكَ دُعَاءُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا لَا
يَنْفَدُّ»
Banyak doa-doa untuk memohon keteguhan, seperti doa Abdullah bin Mas'ud, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang tidak goyah dan nikmat yang tidak habis." Musnad Ahmad 1/400, dari doa Ibnu Mas'ud.
وَقَالَ شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ: «كَانَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ نَدْعُو بِهِنَّ فِي صَلَاتِنَا: اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَأَسْأَلُكَ عَزِيمَةَ الرُّشْدِ»
Syadad bin Aus berkata, "Rasulullah saw. telah
mengajarkan beberapa kata untuk kita pakai berdoa dalam shalat kita, 'Ya Allah,
aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam setiap masalah, dan aku memohon petunjuk
kepada-Mu." Musnad Ahmad 4/125 awalnya, "Jika seseorang beranjak ke
tempat tidurnya..."
وَمِنْ صُوَرِ الثَّبَاتِ فِي الْفِتَنِ: الصَّبْرُ
فِي أَيَّامِ الصَّبْرِ الَّتِي وَصَفَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِقَوْلِهِ
Di antara macam-macam keteguhan adalah bersabar
pada hari-hari seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya,
الصَّبْرُ
فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، وَفِي رِوَايَةٍ: «يَأْتِي عَلَى
النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ»
"Bersabar pada hari-hari itu bagai memegang
bara api."
Dalam riwayat lain, "Suatu zaman akan datang
kepada manusia, di mana orang yang bersabar mempertahankan agamanya pada waktu
itu bagaikan orang yang memegang bara api." [[Riwayat pertama oleh Abu
Daud dan at-Tirmidzi, sedangkan riwayat kedua oleh at-Tirmidzi saja. (Sanad
kedua hadits tersebut dinilai lemah oleh al-Arnauth, lalu ia menguatkannya
dengan beberapa syahid Jami' al-Ushul 10/403 hadits 7453 dan 7454).]]
وَمَنْ ذَا الَّذِي يَثْبُتُ قَابِضًا عَلَى
الْجَمْرِ؟! لِذَلِكَ بَشَّرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِأَنَّ الثَّابِتَ مِنْ
هَؤُلَاءِ لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ: «إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ
أَيَّامَ الصَّبْرِ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ
أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ»
Maką
siapakah yang tetap teguh memegang bara api? Oleh karena itu, Rasulullah saw.
memberi kabar gembira bahwa orang yang teguh (mempertahankan agamanya) mendapat
pahala seperti pahala lima puluh sahabat Rasul, Sesungguhnya akan datang
hari-hari kepada kalian agar bersabar, bagi seorang yang mempertahankan
agamanya maka pahalanya seperti pahala lima puluh orang.” Silsilah al-Ahadits
adh-Dha'ifah 1/812 hadits 494.
وَفِي أَشَدِّ مَا يَلْقَاهُ الْمُسْلِمُونَ مِنَ
الْفِتَنِ حِينَ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ وَيُعِيثُ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِنَّ
الْوَصِيَّةَ الْأَسَاسِيَّةَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ الَّتِي يُوصِي بِهَا أُمَّتَهُ
حِينَئِذٍ: «يَا عِبَادَ اللَّهِ اثْبُتُوا»
Malapetaka besar yang akan menimpa kaum muslimin
adalah ketika Dajjal keluar dan merusak di mana-mana. Wasiat Rasulullah saw.
untuk umatnya pada saat itu adalah, "Wahai hamba-hamba Allah, teguhlah
kalian." Shahih Sunan Ibnu Majah 2/386 hadits 3294/4075.
وَمِنْ أَهَمِّ صُوَرِ الثَّبَاتِ الْمُدَاوَمَةُ
عَلَى الطَّاعَاتِ: فَالْمَطْلُوبُ فِي بَعْضِهَا الْمُثَابَرَةُ عَلَيْهَا.
يَرْوِي التِّرْمِذِيُّ: «مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً
مِنَ السُّنَنِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي
الْجَنَّةِ»
Di antara macam-macam keteguhan yaitu senantiasa
me-ngerjakan amal-amal ketaatan. Dan hal ini membutuhkan ketekunan. At-Tirmidzi
meriwayatkan, "Barangsiapa senantiasa mengerjakan dua belas rakaat shalat
sunnah niscaya Allah membangun rumah untuknya di surga." Shahih al-Jami',
hadits 6183 (shahih),
وَفِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ تَقُولُ أُمُّ حَبِيبَةَ
رَاوِيَةُ الْحَدِيثِ، وَيَقُولُ كُلٌّ مِنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ وَالنُّعْمَانِ
بْنِ ثَابِتٍ مِنْ رِجَالِ السَّنَدِ: «مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ
سَمِعْتُهُنَّ»
Pada riwayat Muslim Ummu Habibah perawi hadits
berkata, ""Amr bin Aus, an-Nu'man bin Tsabit (para perawi hadits
tersebut) berkata, 'Aku tidak pernah meninggalkannya (shalat sunnah dua belas
rakaat) sejak aku mendengar hadits itu." Shahih Muslim, kitab
al-Musafirin, bab 15, hadits 728 (Syarh an-Nawawi 31 252).
وَتَقُولُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: «وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ
صَاحِبُهُ»
Aisyah r.a. bercerita tentang Rasulullah, "Ibadah yang paling dicintainya adalah ibadah yang dikerjakan dengan tekun oleh seseorang." Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 31, hadits 221, (Syarh an-Nawawi 31321).
وَعِنْدَ مُسْلِمٍ كَذَلِكَ: «وَكَانَتْ عَائِشَةُ
إِذَا عَمِلَتِ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ»
Demikian juga pada riwayat Muslim, "Dan
apabila Aisyah r.a. mengerjakan suatu pekerjaan maka ia menekuninya."
Shahih Muslim, kitab al-Musafirin, bab 30, hadits 218 (Syarh an-Nawawi 3/319).
وَحِينَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَيُّ الْعَمَلِ
أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟» قَالَ: «أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ»
Ketika Rasulullah saw. ditanya, "Perbuatan
seperti apa yang paling dicintai Allah?" Beliau bersabda, "Yang
ditekuni (senantiasa dilakukan) walaupun sedikit. Shahih Muslim, kitab
al-Musafirin, bab 30, hadits 216 (Syarh an-Nawawi 3/318).
وَكَانَ آلُ مُحَمَّدٍ ﷺ إِذَا عَمِلُوا عَمَلًا
أَثْبَتُوهُ ، يَقُولُ النَّوَوِيُّ: «أَيْ لَزِمُوهُ وَدَاوَمُوا عَلَيْهِ»
Keluarga Rasulullah saw. tekun jika mengerjakan
suatu pekerjaan. Ibid., hadits 215.
An-Nawawi menjelaskan, "Mereka senantiasa
menekuninya. " Syarh an-Nawawi li Shahih Muslim 3/319.
وَالثَّبَاتُ مَظْهَرٌ بَارِزٌ لِلاِسْتِقَامَةِ،
لِأَنَّ الْمُتَذَبْذِبَ الْمُتَقَلِّبَ لَا يَقْدِرُ عَلَى الثَّبَاتِ، وَلَا
يَقْوَى عَلَى الاسْتِقَامَةِ، فَقَدْ كَانَ الْوَاحِدُ مِنَ الصَّحَابَةِ
يَقُولُ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِعَمَلٍ أَسْتَقِيمُ عَلَيْهِ
وَأَعْمَلُهُ»، فَأَجَابَهُ بِأَوْجَبِ الْوَاجِبَاتِ وَقْتَهَا: «عَلَيْكَ
بِالْهِجْرَةِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهَا»
Keteguhan merupakan bentuk nyata keistiqamahan,
karena orang yang bimbang tidak bisa teguh dan istiqamah. Salah seorang sahabat
pernah berkata kepada Rasulullah saw. "Wahai Rasulullah, beri tahukan
kepadaku, suatu perbuatan yang dapat aku tekuni." Maka beliau memberi
tahunya suatu perbuatan yang paling wajib pada saat itu, "Engkau harus
berhijrah, karena hijrah merupakan (amalan) yang tiada bandingannya. "
Shahih Sunan an-Nasa'i, kitab Bai'at, bab 14 hadits 3885 (Hasan, Shahih).
وَكَانَ مِنْ دَقِيقِ مُلَاحَظَةِ الصَّحَابَةِ
لِظَاهِرَةِ الثَّبَاتِ فِي سُلُوكِ كُلِّ فَرْدٍ أَنَّ بُرَيْدَةَ بْنَ
الْحُصَيْبِ لَقِيَ سَلَمَةَ بْنَ الْأَكْوَعِ قَادِمًا مِنَ الْبَادِيَةِ فَظَنَّ
أَنَّهُ قَطَعَ هِجْرَتَهُ إِلَى الْمَدِينَةِ وَأَقَامَ خَارِجَهَا فَقَالَ لَهُ:
«ارْتَدَدْتَ عَنْ هِجْرَتِكَ يَا سَلَمَةُ؟!» فَقَالَ سَلَمَةُ: «مَعَاذَ اللَّهِ
إِنِّي فِي إِذْنٍ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ»
Karena para sahabat sangat memperhatikan fenomena
keteguhan pada setiap individu, Buraidah bin al-Hashib bertanya kepada Salamah
bin al-Aku'. Ketika Salamah baru datang dari suatu kampung, ia menyangka
Salamah tidak jadi hijrah ke Madinah tetapi justru tinggal di luar Madinah,
"Wahai Salamah, apakah engkau tidak jadi hijrah?" Salamah menjawab,
"Aku berlindung kepada Allah, aku sudah diizinkan oleh Rasulullah
saw," Musnad Ahmad 4/55.
وَمِنَ الْمَلْعُونِينَ عَلَى لِسَانِ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ: «الْمُرْتَدُّ أَعْرَابِيًّا بَعْدَ هِجْرَتِهِ»
Termasuk orang-orang yang dilaknat dengan lisan
Rasululah saw. adalah, "Orang Badui yang murtad setelah ia
berhijrah." Shahih al-Jami' hadits 5 (shahih).
هَذِهِ صُورَةُ الْجِيلِ الْفَرِيدِ كَيْفَ يَحْرِصُ
عَلَى الثَّبَاتِ وَيَتَوَاصَوْنَ بِهِ وَيَخْشَوْنَ الانْقِلَابَ عَلَى
الْأَعْقَابِ، وَإِلَى عَامِ «حَجَّةِ الْوَدَاعِ» وَالرَّسُولُ ﷺ يَدْعُو
لِلصَّحَابَةِ بِالثَّبَاتِ عَلَى هِجْرَتِهِمْ إِلَى الْمَدِينَةِ لِتَقْوَى
بِهِمُ الدَّوْلَةُ النَّاشِئَةُ: «اللَّهُمَّ أَمْضِ لِأَصْحَابِي هِجْرَتَهُمْ،
وَلَا تَرُدَّهُمْ عَلَى أَعْقَابِهِمْ»
Demikianlah sekilas gambaran kehidupan generasi
istimewa (generasi sahabat) yang sangat menjaga keteguhan, saling menasihati
dalam hal keteguhan itu dan sangat mengkhawatirkan kemurtadan. Hingga tahun
haji Wada' Rasulullah saw. senantiasa berdoa untuk para sahabatnya, agar mereka
tetap teguh dalam hijrahnya ke Madinah demi terwujudnya negara baru yang kuat,
"Ya Allah, langsungkanlah hijrah para sahabatku dan janganlah Engkau
kembalikan mereka ke belakang (kepada kemusyrikan). " Shahih Bukhari,
kitab al-Janaiz, bab 36, hadits 1295 (al-Fat-h3/164).
وَالْقَوْلُ الْجَامِعُ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي
بَيَانِ حَقِيقَةِ الْإِسْلَامِ: إِيمَانٌ وَثَبَاتٌ، فَقَدْ قِيلَ لَهُ: «قُلْ
لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ» قَالَ: «قُلْ
آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ»
Hadits Nabi yang mencakup arti luas dalam
menjelaskan bahwa hakikat Islam adalah merupakan keimanan dan keteguhan,
"(Seorang sahabat berkata, 'Wahai Rasul, beri tahukan aku suatu ucapan
yang tidak perlu aku tanya lagi pada orang lain selainmu."
Rasulullah saw. bersabda, "Katakan, 'Aku
beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah (teguhlah)." Shahih Muslim,
kitab Iman, bab Jami'u Aushaf al-Islam.
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN
-
أَكْثَرُ الشَّبَابِ قَدْ لَا يَسْتَمِرُّونَ عَلَى
حَمَاسِ الْبِدَايَاتِ
Kebanyakan pemuda tidak mempertahankan semangat
yang ada pada fase-fase permulaan.
مِنْ صُوَرِ الثَّبَاتِ
Macam-macam keteguhan, di antaranya adalah:
•
الثَّبَاتُ فِي مُوَاجَهَةِ الْعَدُوِّ
Teguh dalam menghadapi musuh.
•
الثَّبَاتُ عَلَى دِينِ اللَّهِ
Teguh pada agama Allah
•
الثَّبَاتُ عَلَى الاسْتِقَامَةِ
Teguh dalam beristiqamah.
•
الثَّبَاتُ فِي أَيَّامِ الْفِتَنِ
Teguh pada hari-hari fitnah (huru-hara menjelang
kiamat).
•
الْمُدَاوَمَةُ عَلَى فِعْلِ الطَّاعَاتِ
Tekun melaksanakan berbagai bentuk ketaatan.
الْمُتَذَبْذِبُ قَدْ يُفْتِنُ النَّاسَ بِعَدَمِ
ثُبُوتِهِ
Orang yang bimbang atau ragu dapat membingungkan
sebab ketidakteguhannya. at membingungkan masyarakat
-
الثَّبَاتُ مَظْهَرٌ بَارِزٌ لِلاِسْتِقَامَةِ
Keteguhan adalah bentuk nyata istiqamah.
-
مِمَّا يُعِينُ عَلَى الثَّبَاتِ التَّوَاصِي بِهِ
Saling menasihati dan mengingatkan dapat meneguhkan
seseorang.
-
حَقِيقَةُ الْإِسْلَامِ: إِيمَانٌ وَثَبَاتٌ
Hakikat Islam adalah merupakan keimanan dan
keteguhan.
📙📙📙
Sumber:
هذه
اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan Silahkan bila ada masukan atau
kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan - share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar