أَحْوَالُ النَّفْسِ وَمُحَاسَبَتُهَا
NAFSU
أَحْوَالُ النَّفْسِ وَمُحَاسَبَتُهَا
NAFSU
اتَّفَق السَّالِكُونَ إِلَى اللَّهِ عَلَى
اخْتِلَافِ طُرُقِهِمْ وَتَبَايُنِ سُلُوكِهِمْ عَلَى أَنَّ النَّفْسَ قَاطِعَةٌ
بَيْنَ الْقَلْبِ وَبَيْنَ الْوُصُولِ إِلَى الرَّبِّ
Para penempuh jalan menuju Allah dengan beragam
cara dan metode bersepakat bahwa nafsu adalah faktor yang menghalangi hati
untuk sampai kepada Allah.
وَأَنَّهُ لَا يُدْخَلُ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَلَا
يُوصَلُ إِلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ إِمَاتَتِهَا وَتَرْكِهَا بِمُخَالَفَتِهَا،
وَالظَّفَرِ بِهَا
Mereka juga bersepakat, tidak ada seorang pun yang
dapat masuk dan sampai kepada Allah kecuali jika sudah membunuh nafsu tersebut,
menyelisihi, memenangi pertarungan atasnya.
فَإِنَّ النَّاسَ عَلَى قِسْمَيْنِ: قِسْمٌ ظَفِرَتْ
بِهِ نَفْسُهُ: فَمَلَكَتْهُ وَأَهْلَكَتْهُ، وَصَارَ طَوْعًا لَهَا تَحْتَ
أَوَامِرِهَا
Begitulah, manusia itu ada dua kelompok. Pertama,
manusia yang dikalahkan, dikuasai dan dihancurkan oleh hawa nafsunya.
وَقِسْمٌ ظَفِرُوا بِنُفُوسِهِمْ: فَقَهَرُوهَا
فَصَارَتْ طَوْعًا لَهُمْ، مُنْقَادَةً لِأَوَامِرِهِمْ
Ia benar-benar tunduk di bawah perintahnya. Kedua,
manusia yang berhasil memenangi pertarungan melawannya. Ia mampu mengekang,
menundukkan, sehingga nafsu pun tunduk di bawah perintahnya.
قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: "انْتَهَى سَفَرُ
الطَّالِبِينَ إِلَى الظَّفَرِ بِأَنْفُسِهِمْ؛ فَمَنْ ظَفِرَ بِنَفْسِهِ أَفْلَحَ
وَأَنْجَحَ، وَمَنْ ظَفِرَتْ بِهِ نَفْسُهُ خَسِرَ وَهَلَكَ
Sebagian orang arif berkata, "Akhir dari
perjalanan para Thalibin (orang-orang yang mencari) adalah ketika mereka telah
berhasil menundukkan nafsunya. Siapa pun yang demikian keadaannya telah ber
jihasil dan sukses. Sebaliknya siapa saja yang dikalahkan nafsunya, berarti
telah gagal dan hancur.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ۞
وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۞ فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ ۞ وَأَمَّا
مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۞ فَإِنَّ
الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
Allah berfirman, Adapun orang yang durhaka, lagi
mengutamakan kehidupan dunia. Maka neraka Jahimlah tempat tinggalnya. Sedangkan
orang yang takut akan kebesaran Rabbnya, lagi menahan diri dari hawa nafsunya.
Maka surgalah tempat tinggalnya." An-Nâzi'at: 37-41
وَالنَّفْسُ تَدْعُو إِلَى الطُّغْيَانِ وَإِيثَارِ
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَالرَّبُّ يَدْعُو عَبْدَهُ إِلَى خَوْفِهِ وَنَهْيِ
النَّفْسِ عَنِ الْهَوَى، وَالْقَلْبُ بَيْنَ الدَّاعِيَيْنِ: يَمِيلُ إِلَى
هَٰذَا الدَّاعِي مَرَّةً وَإِلَى هَٰذَا مَرَّةً، وَهَٰذَا مَوْضِعُ الْمِحْنَةِ
وَالِابْتِلَاءِ
Nafsu itu menyeru kepada sikap durhaka dan
mendahulukan kehidupan dunia...
Sedangkan Allah merintahkan hambaNya agar takut
kepadaNya dan menahan diri dari hawa nafsunya. Jadi, hati manusia itu ada di
antara dua penyeru. Kadangkala ia condong kepada yang satu, dan kadang pula
condong kepada lainnya. Di sinilah ujian dan cobaan.
وَقَدْ وَصَفَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ النَّفْسَ فِي
الْقُرْآنِ بِثَلَاثِ صِفَاتٍ: الْمُطْمَئِنَّةِ، وَاللَّوَّامَةِ،
وَالْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ. فَاخْتَلَفَ النَّاسُ: هَلِ النَّفْسُ وَاحِدَةٌ
وَهَٰذِهِ أَوْصَافٌ لَهَا، أَمْ لِلْعَبْدِ ثَلَاثُ أَنْفُسٍ؟
Dalam Al-Qur'an, Allah menyebut nafsu dengan tiga
sifat; muthmainnah, lawwâmah dan ammarah bis-sû'. Selanjutnya manusia berbeda
pendapat; Apakah nafsu itu satu dan yang tiga adalah sifatnya? Ataukah setiap
manusia itu memiliki tiga nafsu.
فَالْأَوَّلُ: قَوْلُ الْفُقَهَاءِ وَالْمُفَسِّرِينَ
Pendapat pertama adalah pendapat fuqaha' dan para
mufassir.
وَالثَّانِي: قَوْلُ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ
التَّصَوُّفِ
Sedangkan pendapat kedua adalah pendapat mayoritas
ahli tashawwuf.
وَالتَّحْقِيقُ أَنَّهُ لَا نِزَاعَ بَيْنَ
الْفَرِيقَيْنِ؛ فَإِنَّهَا وَاحِدَةٌ بِاعْتِبَارِ ذَاتِهَا، وَثَلَاثَةٌ
بِاعْتِبَارِ صِفَاتِهَا.
Tetapi pada hakekatnya tidak ada pertentangan
antara dua pendapat ini ... Sebab memang nafsu itu hanya ada satu, jika
ditinjau dari sisi dzatnya; dan terbagi menjadi tiga, jika ditinjau dari sisi
sifatnya.
النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
Nafsul Muthmainnah
إِذَا سَكَنَتِ النَّفْسُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ وَاطْمَأَنَّتْ بِذِكْرِهِ، وَأَنَابَتْ إِلَيْهِ وَاشْتَاقَتْ إِلَى
لِقَائِهِ؛
Apabila nafsu tenang dan tentram dengan dzikrullah,
tunduk kepadaNya, rindu berjumpa denganNya, serta jinak kala dekat denganNya,
وَأَنِسَتْ بِقُرْبِهِ؛ فَهِيَ مُطْمَئِنَّةٌ، وَهِيَ
الَّتِي يُقَالُ لَهَا عِنْدَ الْوَفَاةِ: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ
الْمُطْمَئِنَّةُ ۞ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
maka ia disebut Nafsu Muthmainnah. Kepadanya
dikatakan-ketika menemui ajalnya, Wahai nafsu muthmainnah! Pulanglah kepada
Rabbmu dengan penuh ridla dan diridlai!, Al-Fajr : 27-28
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -:
الْمُطْمَئِنَّةُ: الْمُصَدِّقَةُ
Ibnu Abbas menafsirkan, muthmainnah dengan
mushaddiqah, yang membenarkan kebenaran.
وَقَالَ قَتَادَةُ: "هُوَ الْمُؤْمِنُ
اطْمَأَنَّتْ نَفْسُهُ إِلَى مَا وَعَدَ اللَّهُ
Qatadah berkata, "Yaitu seorang mukmin yang
nafsunya tenang dengan apa yang dijanjikan oleh Allah.
وَصَاحِبُهَا يَطْمَئِنُّ فِي بَابِ مَعْرِفَةِ
أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ إِلَى خَبَرِهِ الَّذِي أَخْبَرَ بِهِ عَنْ نَفْسِهِ
وَأَخْبَرَ بِهِ عَنْ رَسُولِهِ
Tenang di pintu ma'rifah terhadap asma' dan
shifatNya dengan berdasarkan kabar dariNya (Al-Qur'an) dan dari rasulNya
(As-Sunnah).
ثُمَّ يَطْمَئِنُّ إِلَى خَبَرِهِ عَمَّا بَعْدَ
الْمَوْتِ مِنْ أُمُورِ الْبَرْزَخِ وَمَا بَعْدَهُ مِنْ أَحْوَالِ الْقِيَامَةِ
حَتَّى كَأَنَّهُ يُشَاهِدُ ذٰلِكَ كُلَّهُ عِيَانًا
Tenang atas kabar yang datang tentang apa yang
terjadi setelah kematian, alam barzakh, dan kejadian dihari kiamat, seakan-akan
melihatnya dengan mata telanjang.
ثُمَّ يَطْمَئِنُّ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ فَيُسَلِّمُ لَهُ وَيَرْضَى؛ فَلَا يَسْخَطُ وَلَا يَشْكُو وَلَا
يَضْطَرِبُ إِيمَانُهُ؛
Tentram atas taqdir Allah, menerima dan
meridlainya, tidak benci dan berkeluh-kesah, tidak pula terguncang keimanannya,
فَلَا
يَأْسَى عَلَى مَا فَاتَهُ، وَلَا يَفْرَحُ بِمَا آتَاهُ؛ لِأَنَّ الْمُصِيبَةَ
فِيهِ مُقَدَّرَةٌ قَبْلَ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِ، وَقَبْلَ أَنْ تُخْلَقَ؛ قَالَ
تَعَالَى
tidak berputus asa atas sesuatu yang lepas darinya,
pun tidak berbangga atas apa yang dimilikinya. Sebab, semua musibah telah
ditakdirkan olehNya jauh sebelum musibah itu sampai kepadanya, bahkan sebelum
ia diciptakan.
مَا أَصَابَ مِن مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
Tidak ada musibah yang datang kecuali dengan izin
dari Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi
petunjuk kepada hatinya. Qs. 64 At-Taghabun: 11
قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ: "هُوَ
الْعَبْدُ تُصِيبُهُ الْمُصِيبَةُ فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
فَيَرْضَى وَيُسَلِّمُ
Tidak sedikit dari para salaf yang menafsirkannya
sebagai: seseorang yang ditimpa musibah, ia mengerti bahwa musibah itu datang
dari Allah sehingga ia ridha dan pasrah.
وَأَمَّا طُمَأْنِينَةُ الْإِحْسَانِ فَهِيَ
الطُّمَأْنِينَةُ إِلَى أَمْرِهِ امْتِثَالًا وَإِخْلَاصًا وَنُصْحًا
Adapun yang dimaksud dengan thuma'ninah ihsan
adalah ketenangan seseorang dalam melaksanakan perintah dengan ikhlas dan
setia.
فَلَا يُقَدِّمُ عَلَى أَمْرِهِ إِرَادَةً وَلَا
هَوًى وَلَا تَقْلِيدًا، وَلَا يُسَاكِنُ شُبْهَةً تُعَارِضُ خَبَرَهُ، وَلَا
شَهْوَةً تُعَارِضُ أَمْرَهُ
Tidak mendahuluinya dengan satu keinginan ataupun
hawa nafsu, juga bukan karena taklid. Ia tidak dihinggapi suatu syubhat yang
mengaburkan kabar-Nya, atau syahwat yang bertentangan dengan perintahNya.
بَلْ إِذَا مَرَّتْ بِهِ أَنْزَلَهَا مَنْزِلَةَ
الْوَسَاوِسِ الَّتِي لَأَنْ يَخِرَّ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ أَحَبُّ
إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَجِدَهَا
Bahkan jika suatu ketika syubhat dan syahwat itu
datang, ia akan menganggapnya sebagai gangguan yang baginya lebih baik terjun
dari langit ke bumi daripada mengecapnya, walau sesaat.
فَهَٰذَا كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَرِيحُ الْإِيمَانِ
Inilah yang dimaksud oleh Nabi sebagai sharihul
îmân (iman yang jelas).
وَكَذٰلِكَ يَطْمَئِنُّ مِنْ قَلَقِ الْمَعْصِيَةِ
وَانْزِعَاجِهَا إِلَى سُكُونِ التَّوْبَةِ وَحَلَاوَتِهَا
Nafsu Muthma'innah juga terjaga dari kegelisahan
untuk bermaksiat dan gejolaknya, menuju taubat dan kenikmatannya.
فَإِذَا اطْمَأَنَّ مِنَ الشَّكِّ إِلَى الْيَقِينِ
Bila diri tenang telah berpindah dari keraguan
kepada keyakinan;
وَمِنَ الْجَهْلِ إِلَى الْعِلْمِ، وَمِنَ
الْغَفْلَةِ إِلَى الذِّكْرِ، وَمِنَ الْخِيَانَةِ إِلَى التَّوْبَةِ، وَمِنَ
الرِّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَاصِ
Dari kebodohan kepada ilmu; dari kealpaan kepada
dzikir, dari khianat kepada taubat dari riya' kepada ikhlash;
وَمِنَ الْكَذِبِ إِلَى الصِّدْقِ، وَمِنَ الْعَجْزِ
إِلَى الْكَيْسِ، وَمِنْ صَوْلَةِ الْعُجْبِ إِلَى ذِلَّةِ الْإِخْبَاتِ، وَمِنَ
التِّيهِ إِلَى التَّوَاضُعِ؛ فَعِنْدَ ذٰلِكَ تَكُونُ نَفْسُهُ مُطْمَئِنَّةً
dari kedustaan kepada kejujuran; dari kelemahan
kepada semangat yang membaja; dari sifat 'ujub kepada ketundukan; dan dari
kesesatan kepada ketawadlu'an, ketika itulah nafsu telah tentram, muthmainnah.
وَأَصْلُ ذٰلِكَ كُلِّهِ هِيَ الْيَقَظَةُ؛
Pondasi dari itu semua adalah yaqzdhah (kesadaran).
الَّتِي كَشَفَتْ عَنْ قَلْبِهِ سِنَةَ الْغَفْلَةِ،
وَأَضَاءَتْ لَهُ قُصُورَ الْجَنَّةِ
Kesadaranlah yang menyibak kealpaan dan kelalaian
diri. Ia pulalah yang menampakkan baginya taman surga.
فَصَاحَ
قَائِلًا
bersenandung
أَلَا
يَا نَفْسُ وَيْحَكِ سَاعِدِينِي
Tahukah kau, duhai nafsu?
بِسَعْيٍ مِنْكِ فِي ظُلَمِ اللَّيَالِي
Celaka bila engkau bergembira
لَعَلَّكِ فِي الْقِيَامَةِ أَنْ تَفُوزِي
Bantu aku dalam pekatnya malam
بِطِيبِ الْعَيْشِ فِي تِلْكَ الْعَلَالِي
Moga cita nikmat hidup... dalam menjulang
فَرَأَى فِي ضَوْءِ هَٰذِهِ الْيَقَظَةِ مَا خُلِقَ
لَهُ
Di bawah cahaya kesadaraan, diri akan melihat semua
yang diciptakan untuknya.
وَمَا
سَيَلْقَاهُ بَيْنَ يَدَيْهِ مِنْ حِينِ الْمَوْتِ إِلَى دُخُولِ دَارِ الْقَرَارِ
Juga, apa yang akan ditemuinya di alam barzakh,
sampai memasuki negeri abadi.
وَرَأَى سُرْعَةَ انْقِضَاءِ الدُّنْيَا، وَقِلَّةَ
وَفَائِهَا لِبَنِيهَا
Ia juga melihat betapa cepat dunia berlalu, betapa
sedikit dunia memberikan kenikmatannya kepada anak-anak dan orang-orang yang
merindukannya,
وَقَتْلَهَا لِعُشَّاقِهَا، وَفِعْلَهَا بِهِمْ
أَنْوَاعَ الْمَثُلَاتِ؛
dan betapa dunia membunuh mereka dengan
belati-belatinya.
فَنَهَضَ فِي ذٰلِكَ الضَّوْءِ عَلَى سَاقِ عَزْمِهِ
قَائِلًا
Maka bangkitlah ia seraya berseru
يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ
Duhai, betapa ruginya aku atas keteledoranku di
sisi Allah. Qs. 39 Az-Zumar: 56
فَاسْتَقْبَلَ بَقِيَّةَ عُمُرِهِ مُسْتَدْرِكًا مَا
فَاتَ، مُحْيِيًا مَا أَمَاتَ
Selanjutnya, ia akan menggunakan sisa umurnya untuk
melengkapi kekurangan, menghidupkan yang telah ia matikan;
مُسْتَقْبِلًا مَا تَقَدَّمَ لَهُ مِنَ الْعَثَرَاتِ
membenahi puing-puing masa silam;
مُنْتَهِزًا فُرْصَةَ الْإِمْكَانِ - الَّتِي إِنْ
فَاتَتْ فَاتَهُ جَمِيعُ الْخَيْرَاتِ
dan memanfaatkan setiap kesempatan yang jika
terlewat, terlewat pulalah seluruh kebaikan-.
ثُمَّ يَلْحَظُ فِي نُورِ تِلْكَ الْيَقَظَةِ وَنُورِ
نِعْمَةِ رَبِّهِ عَلَيْهِ
Masih di bawah cahaya kesadaran dan cahaya nikmat
Rabbnya kepadanya,
وَيَرَى أَنَّهُ آيِسٌ مِنْ حَصْرِهَا وَإِحْصَائِهَا
ia melihat betapa ia tak mampu lagi menghitungnya,
عَاجِزٌ عَنْ أَدَاءِ حَقِّهَا
betapa ia tak mampu memenuhi haknya,
وَيَرَى
فِي تِلْكَ الْيَقَظَةِ عُيُوبَ نَفْسِهِ
dan dalam kesadaranya ia melihat dirinya penuh
dengan aib,
وَآفَاتِ عَمَلِهِ، وَمَا تَقَدَّمَ لَهُ مِنَ
الْجِنَايَاتِ وَالْإِسَاءَاتِ
juga amal-amalnya yang rusak, kejahatan dan
pelanggaran yang telah dilakukannya sebelumnya
وَالتَّقَاعُدِ عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الْحُقُوقِ
وَالْوَاجِبَاتِ
dan atas kelalaian yang tidak sedikit terhadap hak
dan kewajiban .
فَتَنَكْسِرُ نَفْسُهُ وَتَخْشَعُ جَوَارِحُهُ
Akhirnya luluh sudah nafsunya, khusyu'lah anggota
badannya,
وَيَسِيرُ
إِلَى اللَّهِ نَاكِسَ الرَّأْسِ بَيْنَ مُشَاهَدَةِ نِعَمِهِ
dan ia pun berjalan menuju Allah dengan kepala
tertunduk oleh banyaknya nikmat yang ia saksikan
وَمُطَالَعَةِ
جِنَايَاتِهِ وَعُيُوبِ نَفْسِهِ
serta kejahatan, aib dan dosa dirinya.
وَيَرَى أَيْضًا فِي ضَوْءِ تِلْكَ الْيَقَظَةِ
عِزَّةَ وَقْتِهِ وَخَطَرَهُ، وَأَنَّهُ رَأْسُ مَالِ سَعَادَتِهِ
Kini, ia tahu betapa berharga waktu yang
dimilikinya. Juga bahwa ia adalah modal utama kejayaannya.
فَيَبْخَلُ بِهِ فِيمَا لَا يُقَرِّبُهُ إِلَى
رَبِّهِ
Maka ia menjadi begitu pelit terhadap
waktu-terlebih jika waktu tersebut digunakan bukan untuk upaya mendekatkan diri
kepada Rabbnya.
فَإِنَّ فِي إِضَاعَتِهِ الْخُسْرَانَ وَالْحَسْرَةَ،
وَفِي حِفْظِهِ الرِّبْحَ وَالسَّعَادَةَ
Sungguh, membuang-buang waktu adalah kerugian,
sedangkan menjaganya adalah kemenangan dan keberuntungan.
فَهَٰذِهِ آثَارُ الْيَقَظَةِ وَمُوجَبَاتُهَا
Inilah buah dari yaqzhah dan implikasinya,
وَهِيَ أَوَّلُ مَنَازِلِ النَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ
الَّتِي يَنْشَأُ مِنْهَا سَفَرُهَا إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ
yang merupakan langkah awal dari nafsu muthmainnah
dalam perjalanannya menuju Allah dan negeri akhirat.
النَّفْسُ اللَّوَّامَةُ
Nafsu Lawwâmah
قَالَتْ طَائِفَةٌ: هِيَ الَّتِي لَا تَثْبُتُ عَلَى
حَالٍ وَاحِدَةٍ،
Beberapa pendapat mengatakan Ia adalah nafsu yang
selalu berubah keadaan;
فَهِيَ كَثِيرَةُ التَّقَلُّبِ وَالتَّلَوُّنِ؛
فَتَذْكُرُ وَتَغْفُلُ، وَتُقْبِلُ وَتُعْرِضُ، وَتُحِبُّ وَتُبْغِضُ، وَتَفْرَحُ
وَتَحْزَنُ، وَتَرْضَى وَتَغْضَبُ، وَتُطِيعُ وَتَتَّقِي
Ia adalah nafsu yang selalu sering berbalik,
berubah warna. Kadang ia ingat, kadang alpa. Kadang ia sadar, kadang berpaling.
Kadang ia cinta, kadang benci, Kadang ia gembira, kadang sedih, kadang ia
ridha, kadang murka. Kadang ia taat, dan kadang ia khianat.
وَقَالَتْ أُخْرَى: هِيَ نَفْسُ الْمُؤْمِنِ؛
Sebagian orang mendefinisikannya sebagai nafsu
seorang mukmin.
قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: "إِنَّ
الْمُؤْمِنَ لَا تَرَاهُ إِلَّا يَلُومُ نَفْسَهُ دَائِمًا يَقُولُ: مَا أَرَدْتُ
هَٰذَا؟ لِمَ فَعَلْتُ هَٰذَا؟ كَانَ هَٰذَا أَوْلَى مِنْ هَٰذَا؟ أَوْ نَحْوَ
هَٰذَا الْكَلَامِ
Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, Seorang mukmin itu
selalu mencela (lawwâmah artinya banyak mencela) dirinya. Ia terus berkata,
"Apa yang kau inginkan dari semua ini? mengapa kau lakukan ini? Sungguh
ini lebih baik daripada yang ini!, Atau yang semisalnya." (memilih
prioritas)
وَقَالَتْ أُخْرَى: اللَّوْمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؛
Ada juga yang mengartikannya lawwâmah dengan celaan
pada hari kiamat.
فَإِنَّ كُلَّ أَحَدٍ يَلُومُ نَفْسَهُ: إِنْ كَانَ
مُسِيئًا عَلَى إِسَاءَتِهِ، وَإِنْ كَانَ مُحْسِنًا عَلَى تَقْصِيرِهِ.
Pada hari itu setiap pribadi akan mencela dirinya
sendiri. Jika ia pendurhaka, atas kedurhakaannya, dan jika ia seorang yang
taat, atas keteledoran dan kekurangannya.
يَقُولُ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ: "وَهَٰذَا
كُلُّهُ حَقٌّ
Ibnul Qayyim berkata, Semua pengertian di atas
benar.
وَالَّلَوَّامَةُ نَوْعَانِ
Lawwamah itu ada dua.
لَوَّامَةٌ مَلُومَةٌ، وَلَوَّامَةٌ غَيْرُ مَلُومَةٍ
Lawwamah yang tercela dan lawwamah yang terpuji.
لَوَّامَةٌ مَلُومَةٌ: وَهِيَ النَّفْسُ الْجَاهِلَةُ
الظَّالِمَةُ، الَّتِي يَلُومُهَا اللَّهُ وَمَلَائِكَتُهُ
Yang pertama adalah nafsu yang dungu dan menganiaya
diri sendiri. Ia dicela oleh Allah dan para malaikat.
لَوَّامَةٌ غَيْرُ مَلُومَةٍ: وَهِيَ الَّتِي لَا
تَزَالُ تَلُومُ صَاحِبَهَا عَلَى تَقْصِيرِهِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ مَعَ بَذْلِهِ
جُهْدَهُ؛
Sedangkan yang kedua adalah nafsu yang selalu
mencela pemiliknya karena kekurangannya dalam ketaatan kepada Allah-padahal ia
sudah berusaha sekuatnya-.
فَهَٰذِهِ غَيْرُ مَلُومَةٍ
Nafsu ini tidak dicela.
وَأَشْرَفُ النُّفُوسِ مَنْ لَامَتْ نَفْسَهَا فِي
طَاعَةِ اللَّهِ وَاحْتَمَلَتْ مَلَامَ اللَّوَّامِ فِي مَرْضَاتِهِ
Bahkan nafsu yang paling utama adalah nafsu yang
mencela diri atas kekurang taatannya kepada Allah, dan ia siap menerima celaan
dalam menggapai ridlaNya.
فَلَا تَأْخُذُهَا فِي اللَّهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ؛
فَهَٰذِهِ قَدْ تَخَلَّصَتْ مِنْ لَوْمِ اللَّهِ
Demikianlah ia terbebas dari celaan Allah. Maka
dengannya kita tidak menyalahkan Allah...
وَأَمَّا مَنْ رَضِيَتْ بِأَعْمَالِهَا وَلَمْ تَلُمْ
نَفْسَهَا، وَلَمْ تَحْتَمِلْ فِي اللَّهِ مَلَامَ اللَّوَّامِ،
Berbeda dengan orang yang puas atas amal yang
dikerjakannya, dan ia tidak dicela oleh nafsunya, lalu tidak siap menerima
celaan dalam menggapai ridhaNya.
فَهِيَ الَّتِي يَلُومُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
Nafsu semacam inilah yang dicela oleh Allah.
النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ
Nafsu amarah
وَهَٰذِهِ النَّفْسُ الْمَذْمُومَةُ؛
Inilah nafsu yang tercela.
فَإِنَّهَا تَأْمُرُ بِكُلِّ سُوءٍ، وَهَٰذَا مِنْ
طَبِيعَتِهَا
Ia selalu mengajak kepada keburukan, dan itu memang
tabiatnya.
فَمَا تَخَلَّصَ أَحَدٌ مِنْ شَرِّهَا إِلَّا
بِتَوْفِيقِ اللَّهِ
Tidak ada seorang pun yang dapat selamat dari
kejahatannya selain orang-orang yang mendapatkan taufiq dari Allah.
كَمَا قَالَ تَعَالَى حَاكِيًا عَنِ امْرَأَةِ
الْعَزِيزِ: وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Allah berfirman tentang istri menteri Al-'Aziz,
"Dan aku tidak berlepas tangan dari nafsuku. Sesungguhnya nafsu itu selalu
menyeru kepada kejahatan. Kecuali yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya
Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" Qs. 12 Yusuf 53
وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا
Demikian pula dengan firmanNya, Sekiranya bukan
karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, niscaya tidak ada seorangpun
dari kalian yang bersih suci, selama-lamanya". Qs. 24 An-Nur 21
وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يُعَلِّمُهُمْ خُطْبَةَ الْحَاجَةِ
Rasulullah mengajarkan kepada para sahabat tentang
khutbah hajah (dibaca setiap akan berkhutbah)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ
سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَ
Segala puji bagi Allah. Kita memujiNya, memohon
pertolongan kepadaNya, dan memohon ampunan kepadaNya. Kita juga berlindung
kepada Allah dari kejahatan nafsu kita dan keburukan amal-amal kita.
فَالشَّرُّ كَامِنٌ فِي النَّفْسِ، وَهُوَ يُوجِبُ
سَيِّئَاتِ الْأَعْمَالِ
Kejahatan itu tersimpan di dalam nafsu. Ia akan
mengajak kepada amal-amal yang buruk.
فَإِذَا خَلَّى اللَّهُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ
نَفْسِهِ هَلَكَ بَيْنَ شَرِّهَا وَمَا تَقْتَضِيهِ مِنْ سَيِّئَاتِ الْأَعْمَالِ،
وَإِنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ وَأَعَانَهُ نَجَا مِنْ ذٰلِكَ كُلِّهِ
Apabila Allah membiarkan seorang hamba bersama
nafsunya, ia akan binasa di tengah-tengah kejahatan nafsu dan amal buruknya.
Apabila Allah memberikan taufiq dan memberikan pertolongan kepadanya, niscaya
selamatlah ia dari semuanya.
فَنَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ أَنْ يُعِيذَنَا مِنْ
شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
Oleh karenanya kita memohon kepada Allah yang maha
Agung untuk melindungi kita dari kejahatan nafsu dan amal buruk kita.
خُلَاصَةُ الْقَوْلِ
Ringkas kata
إِنَّ النَّفْسَ وَاحِدَةٌ؛ تَكُونُ أَمَّارَةً،
ثُمَّ لَوَّامَةً، ثُمَّ مُطْمَئِنَّةً (وَهِيَ غَايَةُ كَمَالِهَا وَصَلَاحِهَا)
Ringkas kata, nafsu itu satu saja. Ia bisa jadi
ammarah, lawwâmah atau muthma'innah, yang merupakan puncak kebaikan dan
kesempurnaannya.
النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ: قَرِينُهَا الْمَلَكُ؛
يَلِيهَا وَيُسَدِّدُهَا، وَيَقْذِفُ فِيهَا الْحَقَّ وَيُرَغِّبُهَا فِيهِ
وَيُرِيهَا حُسْنَ صُورَتِهِ
Nafsu muthmainnah itu temannya malaikat yang selalu
setia kepadanya, membimbingnya, menyampaikan kebenaran kepadanya, menjadikannya
cinta kepada kebenaran itu, dan menampakkan kepadanya akan keindahannya.
وَيَزْجُرُهَا عَنِ الْبَاطِلِ وَيُزَهِّدُهَا فِيهِ
وَيُرِيهَا قُبْحَ صُورَتِهِ
Juga memperingatkannya dari kebatilan,
menjadikannya benci kepadanya, dan menunjukkan kepadanya akan keburukannya.
وَبِالْجُمْلَةِ: فَمَا كَانَ لِلَّهِ وَبِاللَّهِ
فَهُوَ مِنْ عِنْدِ النَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ
Singkatnya, segala sesuatu yang diperuntukkan bagi
Allah dan denganNya pasti berasal dari nafsu muthmainnah.
وَأَمَّاالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ: جَعَلَ
الشَّيْطَانَ
Adapun nafsu ammarah, temannya adalah setan.
قَرِينَهَا وَصَاحِبَهَا الَّذِي يَلِيهَا؛ فَهُوَ
يَعِدُهَا وَيُمَنِّيهَا، وَيَقْذِفُ فِيهَا الْبَاطِلَ وَيَأْمُرُهَا بِالسُّوءِ
Setanlah yang selalu setia kepadanya, memberikan
janji-janji palsu, mengumbarkan angan-angan kosong, menyampaikan kepadanya
kebatilan, mengajaknya untuk berbuat jahat,
وَيُزَيِّنُهُ لَهَا، وَيُطِيلُ فِي الْأَمَلِ،
وَيُرِيهَا الْبَاطِلَ فِي صُورَةٍ تَقْبَلُهَا وَتَسْتَحْسِنُهَا
menghiasi kejahatan itu agar tampak indah baginya,
memanjangkan angan-angan , dan memperlihatkan kebathilan sebagai kebajikan dan
keindahan.
فَالنَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ وَالْمَلَكُ
يَقْتَضِيَانِ مِنَ الْعَبْدِ: التَّوْحِيدَ، وَالْإِحْسَانَ، وَالْبِرَّ،
وَالتَّقْوَى، وَالتَّوَكُّلَ، وَالتَّوْبَةَ، وَالْإِنَابَةَ
Nafsu muthma'innah dan malaikat akan menggiring
kepada tauhîd, ihsân, kebajikan, taqwa, tawakkal, taubat, inābah,
وَالْإِقْبَالَ عَلَى اللَّهِ، وَقَصْرَ الْأَمَلِ،
وَالِاسْتِعْدَادَ لِلْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ
keadaan selalu menghadap Allah, pendek angan-angan,
serta kesiapan menghadapi kematian dan apa yang terjadi sesudahnya.
وَالشَّيْطَانُ وَجُنْدُهُ مِنَ الْكَفَرَةِ
يَقْتَضِيَانِ مِنَ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ ضِدَّ ذٰلِكَ
Sedangkan setan dan pasukannya-yang terdiri dari
orang-orang kafir-, akan menggiring nafsu ammârah kepada kebalikannya.
وَأَصْعَبُ شَيْءٍ عَلَى النَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ
تَخْلِيصُ الْأَعْمَالِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَمِنَ الْأَمَّارَةِ؛
Dari semua itu, yang paling sulit bagi nafsu
muthma'in-nah adalah memurnikan amal, melepaskannya dari jerat setan dan nafsu
ammârah.
فَلَوْ وَصَلَ مِنْهَا عَمَلٌ وَاحِدٌ لَنَجَا بِهِ
الْعَبْدُ، وَلٰكِنْ أَبَتِ الْأَمَّارَةُ وَالشَّيْطَانُ أَنْ يَدَعَا لَهُ
عَمَلًا وَاحِدًا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ
Saking sulitnya, bila satu saja amalnya telah
sampai, diterima, niscaya selamatlah sang hamba. Tetapi memang setan dan nafsu
ammârah tidak membiarkan satu amal pun sampai kepada Allah.
كَمَا قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ بِاللَّهِ
وَبِنَفْسِهِ: "وَاللَّهِ لَوْ أَعْلَمُ أَنَّ لِي عَمَلًا وَاحِدًا وَصَلَ
إِلَى اللَّهِ لَكُنْتُ أَفْرَحَ بِالْمَوْتِ مِنَ الْغَائِبِ يَقْدَمُ عَلَى
أَهْلِهِ
Banyak orang arif berkata, "Demi Allah, jika
aku tahu bahwa satu saja amalku telah sampai kepada Allah, diterima, aku lebih
bahagia dengan kematian, melebihi kebahagiaan pengembara yang sampai kepada
keluarganya."
وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ - رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا -: "لَوْ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ قَبِلَ مِنِّي سَجْدَةً وَاحِدَةً
لَمْ يَكُنْ غَائِبٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الْمَوْتِ
Abdullah bin Umar berkata, "Andai aku tahu
bahwa Allah menerima salah satu sujudku, tidak ada barang ghaib yang lebih aku
dambakan daripada kematian."
وَقَدِ انْتَصَبَتِ الْأَمَّارَةُ فِي مُقَابَلَةِ
الْمُطْمَئِنَّةِ؛
Memang nafsu ammârah dipancang sebagai lawan nafsu
muthma'innah.
فَكُلَّمَا جَاءَتْ تِلْكَ بِخَيْرٍ ضَاهَتْهَا
هَٰذِهِ وَجَاءَتْ مِنَ الشَّرِّ بِمَا يُقَابِلُهُ حَتَّى تُفْسِدَهُ عَلَيْهَا
Setiap kali ia datang bersama satu kebaikan dengan
segera nafsu ammârah datang bersama satu kebali-kannya untuk selanjutnya ia
menipunya.
تُريِهَا حَقِيقَةَ الْجِهَادِ فِي صُورَةِ تَقْتِيلِ
النَّفْسِ، وَتَنْكِيحِ الزَّوْجَةِ، وَإِيتَامِ الْأَوْلَادِ، وَقِسْمَةِ
الْمَالِ
Ia menampakkan jihad sebagai tindakan bunuh diri,
membiarkan istri dinikahi orang lain, memperpanjang barisan anak yatim dan
mem-bagi-bagi harta kekayaan.
وَتُرِيهَا حَقِيقَةَ الزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ فِي
صُورَةِ مُفَارَقَةِ الْمَالِ وَنَقْصِهِ، وَخُلُوِّ الْيَدِ مِنْهُ،
وَاحْتِيَاجِهِ إِلَى النَّاسِ، وَمُسَاوَاتِهِ لِلْفَقِيرِ
Ia juga menampakkan zakat dan shadaqah sebagai
tindakan meninggalkan dan mengurangi harta kekayaan, menghabiskannya,
menjadikannya sebagai peminta-minta di kemudian hari, dan menjadi sama dengan
orang-orang fakir.
Sumber:
تزكية النفوس وتربيتها كما يقرره علماء السلف
Tazkiyatun Nafs konsep pensucian jiwa menurut ulama' salaf
Ibnu Qayyim Aljauziah - Ibnu Rajab Al Hambali - Imam Alghazali
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan - share - Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar