Label xxx

Senin, 24 Agustus 2026

ZUHUD - 05 - Tazkiyyatun nafs

 

Zuhud


الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا وَبَيَانُ حَقَارَتِهَا

Zuhud di dunia dan penjelasan tentang kehinaannya.

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: "يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ". فَقَالَ: «ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ» (حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ حَسَنَةٍ)

Sahl bin Sa'd As-Sa'idiy berkata, "Seseorang mendatangi Nabi bertanya Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal, jika aku mengerjakannya aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai pula oleh sekalian manusia!" Rasul menjawab, Zuhudlah terhadap dunia niscaya kamu dicintai oleh Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia niscaya kamu akan dicintai oleh manusia."

وَهَٰذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الزَّاهِدِينَ فِي الدُّنْيَا

Hadits ini memberitahukan bahwa Allah mencintai orang-orang yang zuhud terhadap dunia.

وَقَالُوا: إِذَا كَانَتْ مَحَبَّةُ اللَّهِ هِيَ أَفْضَلَ الْمَقَامَاتِ؛ فَالزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا هُوَ أَفْضَلُ الْأَحْوَالِ

Mereka berkata, "Jika kecintaan kepada Allah adalah tingkatan keimanan yang paling mulia, maka zuhud terhadap dunia adalah keadaan keimanan yang paling mulia pula."

وَالزُّهْدُ: هُوَ انْصِرَافُ الرَّغْبَةِ عَنِ الشَّيْءِ إِلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ

Pengertian zuhud adalah berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya.

وَأَمَّا الْعِلْمُ الْمُثْمِرُ لِهَٰذِهِ الْحَالِ: فَهُوَ الْعِلْمُ بِكَوْنِ الْمَتْرُوكِ حَقِيرًا بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْمَأْخُوذِ

Ilmu yang akan menghantarkan manusia ke gerbang zuhud adalah ilmu tentang betapa hinanya sesuatu yang ditinggalkan jika dibandingkan dengan sesuatu yang diambil.

فَمَنْ عَرَفَ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ، وَأَنَّ الْآخِرَةَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Siapapun yang mengerti bahwa apa yang ada di sisi Allah itu kekal dan bahwa akhirat itu lebih baik dan abadi, maka dialah orangnya.

كَمَا أَنَّ الْجَوْهَرَ خَيْرٌ وَأَبْقَى مِنَ الثَّلْجِ. فَالدُّنْيَا كَالثَّلْجِ الْمَوْضُوعِ فِي الشَّمْسِ لَا يَزَالُ فِي الذَّوَبَانِ إِلَى الْإِنْقِرَاضِ

Sebagaimana mengertinya ia bahwa batu permata itu lebih mulia daripada sebongkah batu es. Dunia ini ibarat sebongkah batu es yang diletakkan di bawah terik matahari. Ia akan terus meleleh sampai akhirnya hilang tak berbekas.

وَالْآخِرَةُ كَالْجَوْهَرِ الَّذِي لَا فَنَاءَ لَهُ. وَبِقَدْرِ الْيَقِينِ بِالتَّفَاوُتِ بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَقْوَى الرَّغْبَةُ فِي الْبَيْعِ

Sedangkan akhirat itu bagaikan batu permata yang tak akan hilang ditelan masa. Semakin yakin seseorang terhadap perbedaan antara dunia dan akhirat semakin kuat pulalah keinginannya untuk menukarnya.

وَقَدْ مَدَحَ الْقُرْآنُ الزُّهْدَ فِي الدُّنْيَا وَذَمَّ الرَّغْبَةَ فِيهَا؛ فَقَالَ تَعَالَى: بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۞ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Al-Qur'an memuji orang yang zuhud terhadap dunia dan mencela mereka yang mencintainya. sebagaimana firman Allah, akan tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia. Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (Al-A'la: 16-17)

وَقَالَ تَعَالَى: تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ

Allah berfirman ; Kalian menginginkan barang-barang kehidupan dunia, sedangkan Allah menghendaki akhirat (bagi kalian). (Al-Anfal: 67)

وَقَالَ تَعَالَى: وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

Dan mereka bangga dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu dibandingkan dengan akhirat hanyalah kesenangan (yang tidak berarti). (Ar-Ra'd: 26)

وَالْأَحَادِيثُ فِي ذَمِّ الدُّنْيَا وَبَيَانِ حَقَارَتِهَا عِنْدَ اللَّهِ كَثِيرَةٌ جِدًّا

Banyak hadits yang menjelaskan tentang celaan terhadap dunia dan kehinaannya, di antaranya:

فَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ جَابِرٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَيْهِ

Jabir meriwayatkan, bahwa suatu ketika, Nabi melewati sebuah pasar bersama beberapa sahabat,

فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ

Beliau melihat seekor kambing cacat yang telah menjadi bangkai, beliau mengambilnya, dan memegang telinganya.

ثُمَّ قَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَٰذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟

Beliau bertanya, "Siapa di antara kalian yang ingin menukar ini dengan satu dirham?"

فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ، وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟

Para sahabat menjawab, "Tidak ada seorang pun dari kami yang ingin menukarnya dengan apa pun, karena kami tidak dapat mengambil manfaat darinya sama sekali."

قَالَ: أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟

Rasulullah meneruskan, "Apakah ada yang ingin memilikinya?"

قَالُوا: وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ، فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟

Para sahabat menjawab, "Demi Allah, andaikan dia hidup, dia pun sudah cacat, apalagi ketika telah menjadi bangkai."

 فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَالدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَٰذَا عَلَيْكُمْ

Maka Rasulullah bersabda, "Demi Allah, dunia ini di hadapan Allah lebih hina daripada bangkai ini di hadapan kalian."

 وَفِيهِ أَيْضًا عَنِ الْمُسْتَوْرِدِ بْنِ شَدَّادٍ الْفِهْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

Al-Mustaurid bin Syaddad Al-Fihriy meriwayatkan Nabi bersabda,

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ. وَخَرَّجَ التِّرْمِذِيُّ

Bila dibandingkan dengan akhirat, dunia ini hanyalah air yang menempel di jari ketika salah seorang dari kalian mencelupkannya di laut.

مِنْ حَدِيثِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ» (وَصَحَّحَهُ)

Sahl bin Sa'ad meriwayatkan Nabi bersabda, Seandainya dunia ini senilai sayap seekor nyamuk, di sisi Allah, pastilah Dia tidak akan memberi minum setetes air dunia pun kepada orang kafir."

فَالزُّهْدُ: هُوَ الْإِعْرَاضُ عَنِ الشَّيْءِ لِاسْتِقْلَالِهِ، وَاحْتِقَارِهِ، وَارْتِفَاعِ الْهِمَّةِ عَنْهُ. يُقَالُ: "شَيْءٌ زَهِيدٌ" أَيْ: قَلِيلٌ حَقِيرٌ

Maka, zuhud adalah berpaling dari sesuatu karena keremehan dan kehinaannya, serta ketidakpantasannya untuk diperhatikan. Dikatakan barang itu zâhid, maksudnya sedikit dan tidak bernilai.

قَالَ يُونُسُ بْنُ مَيْسَرَةَ: "لَيْسَتِ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ، وَلَا إِضَاعَةِ الْمَالِ

Yunus bin Maisarah berujar, Zuhud terhadap dunia itu bukan dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan membuang harta.

وَلَٰكِنَّ الزَّهَادَةَ فِي الدُّنْيَا أَنْ تَكُونَ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِكَ

Tetapi zuhud terhadap dunia adalah kamu lebih yakin dan percaya kepada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu.

وَأَنْ تَكُونَ حَالُكَ فِي الْمُصِيبَةِ وَحَالُكَ إِذَا لَمْ تُصَبْ بِهَا سَوَاءً

Juga keadaan dan sikapmu sama, baik ketika ditimpa musibah ataupun tidak,

وَأَنْ يَكُونَ مَادِحُكَ وَذَامُّكَ فِي الْحَقِّ سَوَاءً

serta dalam pandanganmu, orang lain itu sama, baik yang memujimu atau yang mencelamu karena kebenaran, tetap sama.

فَفَسَّرَ الزُّهْدَ فِي الدُّنْيَا بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ كُلُّهَا مِنْ أَعْمَالِ الْقُلُوبِ لَا مِنْ أَعْمَالِ الْجَوَارِحِ

Beliau menafsirkan zuhud dengan tiga perkara. Ketiga-tiganya merupakan amalan hati, bukan amal jawarih (anggota badan).

وَلِهَٰذَا كَانَ أَبُو سُلَيْمَانَ يَقُولُ: "لَا تَشْهَدْ لِأَحَدٍ بِالزُّهْدِ

Lantaran itu, Abu Sulaiman berpesan, "Jangan sekali-kali kamu bersaksi bahwa seseorang itu telah zuhud!".

أَحَدُهَا : أَنْ يَكُونَ الْعَبْدُ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ أَوْثَقَ مِنْهُ بِمَا فِي يَدِ نَفْسِهِ

Pertama, hendaknya kamu lebih yakin dan percaya kepada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu.

وَهَٰذَا يَنْشَأُ مِنْ صِحَّةِ الْيَقِينِ وَقُوَّتِهِ

Ini adalah buah dari keyakinan yang benar dan kuat.

قِيلَ لِأَبِي حَازِمٍ الزَّاهِدِ: مَا مَالُكَ؟

Abu Hazim - yang terkenal dengan kezuhudannya - pernah ditanya, "Apa saja harta milik Anda?"

قَالَ: مَالَانِ لَا أَخْشَى مَعَهُمَا الْفَقْرَ: الثِّقَةُ بِاللَّهِ، وَالْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

Beliau menjawab, "Hartaku ada dua. Aku tidak pernah takut menjadi faqir selama memilikinya. Yaitu tsiqqah (yakin dan percaya) kepada Allah dan berputus asa (tidak mengharapkan) apa yang dimiliki oleh manusia."

وَقِيلَ لَهُ: "أَمَا تَخَافُ الْفَقْرَ؟" فَقَالَ: "أَنَا أَخَافُ الْفَقْرَ وَمَوْلَايَ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ، وَمَا فِي الْأَرْضِ، وَمَا بَيْنَهُمَا، وَمَا تَحْتَ الثَّرَى؟

Beliau juga pernah ditanya, "Apakah Anda tidak takut menjadi faqir?", Beliau menjawab, "Bagaimana aku takut menjadi faqir sedangkan Tuanku adalah pemilik segala yang ada di langit, di bumi, dan di antara keduanya, juga yang ada di bawah tanah?"


قَالَ الْفُضَيْلُ: أَصْلُ الزُّهْدِ: الرِّضَى عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ". وَقَالَ: "الْقَنُوعُ هُوَ الزَّاهِدُ، وَهُوَ الْغَنِيُّ

Fudhail bin 'Iyadh berkata, "Pondasi zuhud adalah ridha terhadap segala yang datang dari Allah." Juga berkata, "Orang yang selalu qana'ah adalah orang yang zuhud dan dialah orang yang (hakikatnya) kaya.

فَمَنْ حَقَّقَ الْيَقِينَ، وَثِقَ بِاللَّهِ فِي أُمُورِهِ كُلِّهَا، وَرَضِيَ بِتَدْبِيرِهِ لَهُ

Barangsiapa memiliki sifat "yakin" dan "percaya" kepada Allah ia akan tenang menyerahkan segala urusannya kepada Allah dan ridha kepada segala keputusan Allah baginya.

وَانْقَطَعَ عَنِ التَّعَلُّقِ بِالْمَخْلُوقِينَ رَجَاءً وَخَوْفًا

Juga akan memutuskan raja' (harapan) dan khauf (ketakutan) kepada makhluk.

وَوَضَعَهُ ذٰلِكُ عَنْ طَلَبِ الدُّنْيَا بِالْأَسْبَابِ الْمَكْرُوهَةِ

serta meninggalkan usaha mencari kekayaan dunia dengan cara-cara yang dibenci.

وَمَنْ كَانَ كَذٰلِكَ كَانَ زَاهِدًا حَقًّا، وَكَانَ مِنْ أَغْنَى النَّاسِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْءٌ مِنَ الدُّنْيَا

Maka, barangsiapa demikian keadaannya dia adalah seorang yang benar-benar zuhud dan orang terkaya, walaupun ia tidak memiliki sedikit pun harta dunia.

كَمَا قَالَ عَمَّارٌ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا، وَكَفَى بِالْيَقِينِ غِنًى، وَكَفَى بِالْعِبَادَةِ شُغْلًا

Seperti yang diungkapkan sahabat 'Ammar, Cukuplah kematian itu menjadi peringatan. Cukuplah keyakinan yang kukuh itu menjadi kekayaan. Dan cukuplah ibadah itu menjadi kesibukan."

وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Ibnu Mas'ud menjelaskan,

الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسَخَطِ اللَّهِ، وَلَا تَحْسُدَ أَحَدًا عَلَى رِزْقِ اللَّهِ، وَلَا تَلُومَ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ؛

Yang dimaksud dengan yakin adalah kamu tidak mencari ridha manusia diatas kemurkaan Allah; tidak dengki kepada seseorang karena rezki Allah atasnya; dan tidak mencela seseorang karena kamu tidak diberi sesuatu oleh Allah.

فَإِنَّ رِزْقَ اللَّهِ لَا يَسُوقُهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهِيَةُ كَارِهٍ

Sesungguhnya rezki Allah itu tidak dikendalikan oleh ketamakan orang yang tamak dan tidak pula dapat ditolak oleh ketidaksukaan seseorang.

فَإِنَّ اللَّهَ بِقِسْطِهِ وَعِلْمِهِ وَحِكْمَتِهِ جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَى، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي السَّخَطِ وَالشَّكِّ

Dengan keadilan, ilmu dan hikmah-Nya, Allah menjadikan ketenangan dan kegembiraan itu pada yakin dan ridha, serta menjadikan kegelisahan dan kesedihan pada kemarahan dan keraguan."

الثَّانِي  ; أَنْ يَكُونَ الْعَبْدُ إِذَا أُصِيبَ بِمُصِيبَةٍ فِي دُنْيَاهُ

Kedua, hendaknya seseorang itu lebih mengharapkan pahala atas musibah yang sedang menimpa:

مِنْ ذَهَابِ مَالٍ، أَوْ وَلَدٍ، أَوْ غَيْرِ ذٰلِكَ، أَرْغَبَ فِي ثَوَابِ ذٰلِكَ مِمَّا ذَهَبَ مِنْهُ مِنَ الدُّنْيَا أَنْ يَبْقَى لَهُ. وَهَٰذَا أَيْضًا يَنْشَأُ مِنْ كَمَالِ الْيَقِينِ

apakah itu kehilangan harta, anak, ataupun yang lain daripada tetap utuhnya barang-barang itu di tangannya. Ini juga merupakan buah dari kesempurnaan yakin.

قَالَ عَلِيٌّ - كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ -: مَنْ زَهِدَ فِي الدُّنْيَا هَانَتْ عَلَيْهِ الْمُصِيبَاتُ

Ali berkata, "Barangsiapa zuhud terhadap dunia akan terasa ringanlah segala musibah yang menimpa."

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: "لَوْلَا مُصَائِبُ الدُّنْيَا لَوَرَدْنَا الْآخِرَةَ مِنَ الْمَفَالِيسِ

Sebagian Salafus-Shalih bertutur, Kalaulah bukan karena musibah dunia yang menimpa, pastilah kita memasuki akhirat sebagai orang-orang yang pailit.

الثَّالِثُ ; أَنْ يَسْتَوِيَ عِنْدَ الْعَبْدِ حَامِدُهُ وَذَامُّهُ فِي الْحَقِّ

Ketiga, hendaknya memandang orang yang memuji dan mencelanya dengan sikap yang sama.

وَإِذَا عَظُمَتِ الدُّنْيَا فِي قَلْبِ الْعَبْدِ اخْتَارَ الْمَدْحَ وَكَرِهَ الذَّمَّ

Seseorang yang mengagungkan dunia, akan lebih memilih pujian dan membenci celaan.

 وَرُبَّمَا حَمَلَهُ ذٰلِكَ عَلَى تَرْكِ كَثِيرٍ مِنَ الْحَقِّ خَشْيَةَ الذَّمِّ

Dan mungkin, hal itu akan membuatnya meninggalkan banyak kebenaran karena takut dicela.

وَعَلَى فِعْلِ كَثِيرٍ مِنَ الْبَاطِلِ رَجَاءَ الْمَدْحِ

serta melakukan banyak kebatilan karena ingin dipuji.

فَمَنِ اسْتَوَى عِنْدَهُ حَامِدُهُ وَذَامُّهُ فِي الْحَقِّ دَلَّ عَلَى سُقُوطِ مَنْزِلَةِ الْمَخْلُوقِينَ مِنْ قَلْبِهِ

Nah, jika orang yang memuji dan yang mencelanya - karena kebenaran - ia anggap sama, dan sudah tidak menyediakan tempat lagi di hatinya bagi makhluk,

وَامْتِلَائِهِ مِنْ مَحَبَّةِ الْحَقِّ وَمَا فِيهِ رِضَى مَوْلَاهُ

berarti ketika itu ia telah mencintai kebenaran dan berusaha menggapai ridha Rabbnya.

كَمَا قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: "الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسَخَطِ اللَّهِ". وَقَدْ مَدَحَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

Ibnu Mas'ud berkata, "Yakin itu tidak mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah." Allah telah memuji orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dan tidak takut akan celaan orang lain.

وَقَدْ وَرَدَ عَنِ السَّلَفِ رِوَايَاتٌ أُخْرَى فِي تَفْسِيرِ الزُّهْدِ

Ada beberapa riwayat dari para Salaf seputar tafsiran zuhud.

قَالَ الْحَسَنُ: الزَّاهِدُ الَّذِي إِذَا رَأَى أَحَدًا قَالَ: هُوَ أَزْهَدُ مِنِّي

Al-Hasan Al-Bashri bertutur, "Seorang yang zuhud, adalah yang jika melihat seseorang, ia mengatakan, 'Dia lebih zuhud daripada diriku.'"

وَسُئِلَ بَعْضُهُمْ - أَظُنُّهُ الْإِمَامَ أَحْمَدَ - عَمَّنْ مَعَهُ مَالٌ هَلْ يَكُونُ زَاهِدًا؟ قَالَ: "إِنْ كَانَ لَا يَفْرَحُ بِزِيَادَتِهِ وَلَا يَحْزَنُ بِنَقْصِهِ فَهُوَ زَاهِدٌ

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki harta yang banyak, apakah orang itu bisa berzuhud?, Beliau menjawab, "Apabila ia tidak bangga ketika harta itu bertambah dan tidak bersedih ketika berkurang, maka dia adalah seorang yang zuhud."

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ: "الزُّهْدُ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ: فَزُهْدٌ فَرْضٌ، وَزُهْدٌ فَضْلٌ، وَزُهْدٌ سَلَامَةٌ

Ibrahim bin Adham berkata, "Zuhud itu ada tiga: Zuhud yang wajib, zuhud yang utama, dan zuhud yang selamat.

فَأَمَّا الزُّهْدُ الْفَرْضُ: فَالزُّهْدُ فِي الْحَرَامِ، وَالزُّهْدُ الْفَضْلُ: فَالزُّهْدُ فِي الْحَلَالِ، وَالزُّهْدُ السَّلَامَةُ: فَالزُّهْدُ فِي الشُّبُهَاتِ

Zuhud yang wajib adalah zuhud terhadap yang haram. Zuhud yang utama adalah zuhud terhadap yang halal. Dan zuhud yang selamat adalah zuhud terhadap yang syubhat."

وَكُلُّ مَنْ بَاعَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ فَهُوَ زَاهِدٌ فِي الدُّنْيَا، وَكُلُّ مَنْ بَاعَ الْآخِرَةَ بِالدُّنْيَا فَهُوَ زَاهِدٌ أَيْضًا، وَلٰكِنْ فِي الْآخِرَةِ

Siapa saja yang menjual dunianya dengan akhirat dia zuhud terhadap dunia. Siapa saja yang menjual akhiratnya dengan dunia dia juga zuhud, tetapi zuhud terhadap akhirat.

قَالَ رَجُلٌ لِأَحَدِ الصَّالِحِينَ: "مَا رَأَيْتُ أَزْهَدَ مِنْكَ!" قَالَ: أَنْتَ أَزْهَدُ مِنِّي! لَقَدْ زَهِدْتَ فِي دُنْيَا لَا بَقَاءَ لَهَا وَلَا وَفَاءَ، وَأَنْتَ زَهِدْتُ فِي الْآخِرَةِ، فَمَنْ أَزْهَدُ مِنْكَ؟

Seseorang berkomentar di hadapan seorang yang shalih, "Aku belum pernah mendapati orang yang lebih zuhud daripada dirimu." Orang shalih itu menjawab, "Bahkan kamu lebih zuhud daripada aku. Aku zuhud terhadap dunia yang tidak abadi. Tetapi kamu zuhud terhadap akhirat. Demikianlah, ada pula zuhud terhadap akhirat." "Jadi, siapa yang lebih zuhud darimu?"

وَلَٰكِنَّ الْعَادَةَ جَارِيَةٌ عَلَى تَخْصِيصِ اسْمِ الزُّهْدِ عَلَى الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا، وَالزُّهْدُ يَكُونُ فِيمَا هُوَ مَقْدُورٌ عَلَيْهِ

Namun, biasanya kata zuhud digunakan untuk zuhud terhadap dunia saja. Sebenarnya zuhud itu untuk perkara-perkara yang dimampui saja.

وَلِذَا قِيلَ لابْنِ الْمُبَارَكِ: "يَا زَاهِدُ!" قَالَ: الزَّاهِدُ هُوَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِذْ جَاءَتْهُ الدُّنْيَا رَاغِمَةً فَتَرَكَهَا، وَأَمَّا أَنَا فَفِي مَاذَا زَهِدْتُ؟

Abdullah bin Mubarak pernah dipanggil oleh seseorang, "Wahai orang yang zuhud!" Beliau menjawab, "Orang yang zuhud itu adalah Umar bin Abdul 'Aziz. Dunia datang berlimpah kepadanya tetapi ia meninggalkannya. Sedangkan aku, dalam hal apa aku ini zuhud?"

قَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: "أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا وَصَحِبْتُ طَوَائِفَ، مَا كَانُوا يَفْرَحُونَ بِشَيْءٍ مِنَ الدُّنْيَا أَقْبَلَ، وَلَا يَأْسَفُونَ عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا أَدْبَرَ، وَلَهِيَ كَانَتْ فِي أَعْيُنِهِمْ أَهْوَنَ مِنَ التُّرَابِ

Al-Hasan Al-Bashri berkisah, "Aku sempat bertemu dengan beberapa kaum dan beberapa kelompok. Mereka tidak pernah bersuka-cita atas melimpahnya dunia. Pun tidak pernah berduka cita atas kepergiannya. Di mata mereka, kekayaan dunia itu ibarat tanah.

كَانَ أَحَدُهُمْ يَعِيشُ سَنَةً أَوْ سِتِّينَ سَنَةً لَمْ يُطْوَ لَهُ ثَوْبٌ، وَلَمْ يُنْصَبْ لَهُ قِدْرٌ، وَلَمْ يَجْعَلْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْأَرْضِ شَيْئًا، وَلَا أَمَرَ مِنْ بَيْتِهِ بِصَنْعَةِ طَعَامٍ قَطُّ

Adalah seseorang di antara mereka selama satu tahun - bahkan ada yang enam puluh tahun - tidak berganti pakaian, tidak dimasakkan, tidak menaiki tunggangan, dan tidak pernah memesan makanan.

 فَإِذَا كَانَ اللَّيْلُ، فَقِيَامٌ عَلَى أَقْدَامِهِمْ، يَفْتَرِشُونَ وُجُوهَهُمْ، تَجْرِي دُمُوعُهُمْ عَلَى خُدُودِهِمْ

Bila malam tiba, mereka berdiri di atas kaki mereka, dan bersujud dengan wajah mereka. Sementara, pipi mereka berlinang air mata.

يُنَاجُونَ رَبَّهُمْ فِي فِكَاكِ رِقَابِهِمْ؛ كَانُوا إِذَا عَمِلُوا الْحَسَنَةَ دَأَبُوا فِي شُكْرِهَا، وَسَأَلُوا اللَّهَ أَنْ يَقْبَلَهَا

Mereka bermunajat kepada Rabb mereka dengan sepenuh hati; Jika mereka berbuat kebajikan dengan segera mereka bersyukur dan mengharap agar Allah menerimanya.

وَإِذَا عَمِلُوا السَّيِّئَةَ أَحْزَنَتْهُمْ، وَسَأَلُوا اللَّهَ أَنْ يَغْفِرَهَا، فَلَمْ يَزَالُوا عَلَى ذٰلِكَ. وَوَاللَّهِ؛ مَا سَلِمُوا مِنَ الذُّنُوبِ وَلَا نَجَوْا إِلَّا بِالْمَغْفِرَةِ؛ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَرِضْوَانُهُ

Dan jika berbuat suatu kejelekan mereka bersedih dan segera memohon ampunan kepada-Nya. Demikianlah keadaan mereka. Demi Allah, tidak ada yang menyelamatkan mereka dari dosa-dosa yang mereka kerjakan selain maghfirah dari Allah. Semoga Allah merahmati dan meridhai mereka."


دَرَجَاتُ الزُّهْدِ

Tingkatan Zuhud

الدَّرَجَةُ الْأُولَى: أَنْ يَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا وَهُوَ لَهَا مُشْتَهٍ، وَقَلْبُهُ إِلَيْهَا مَائِلٌ، وَنَفْسُهُ إِلَيْهَا مُلْتَفِتَةٌ، وَلَٰكِنْ يُجَاهِدُهَا وَيَكُفُّهَا، وَهَٰذَا يُسَمَّى مُتَزَهِّدًا

Pertama, Seseorang yang zuhud terhadap dunia tetapi sebenarnya ia menginginkannya Hatinya condong kepadanya. Jiwanya berpaling kepadanya. Namun, ia berusaha, bermujahadah untuk mencegahnya. Inilah seorang mutazahhid (orang yang berusaha zuhud).

الدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ: الَّذِي يَتْرُكُ الدُّنْيَا طَوْعًا لِاسْتِحْقَارِهِ إِيَّاهَا بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَا طَمِعَ فِيهِ، وَلَٰكِنَّهُ يَرَى زُهْدَهُ، وَيَلْتَفِتُ إِلَيْهِ؛ كَالَّذِي يَتْرُكُ دِرْهَمًا لِأَجْلِ دِرْهَمَيْنِ

Kedua, Seseorang meninggalkan dunia dalam rangka taat kepada Allah karena ia melihatnya sebagai sesuatu yang hina dina, jika dibandingkan dengan apa yang hendak digapainya. Orang ini sadar betul bahwa ia berzuhud. Pun ia memperhitungkannya. Keadaannya seperti orang yang meninggalkan sekeping dirham untuk mendapatkan dua keping.

الدَّرَجَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا طَوْعًا، وَيَزْهَدَ فِي زُهْدِهِ، فَلَا يَرَى أَنَّهُ تَرَكَ شَيْئًا، فَيَكُونُ كَمَنْ تَرَكَ خَزَفَةً وَأَخَذَ جَوْهَرَةً

Ketiga, Seseorang yang zuhud terhadap dunia dalam rangka taat kepada Allah dan dia berzuhud dalam kezuhudannya. Artinya ia melihat dirinya tidak meninggalkan sesuatupun. Keadaannya seperti orang yang membuang sampah, lalu mengambil mutiara.

وَيُمَثَّلُ صَاحِبُ هَٰذِهِ الدَّرَجَةِ بِمَنْ مَنَعَهُ مِنَ الدُّخُولِ عَلَى الْمَلِكِ كَلْبٌ عَلَى بَابِهِ

Perumpamaan lainnya, seperti seseorang yang ingin memasuki istana raja tetapi dihadang oleh seekor anjing di depan pintu gerbang.

فَأَلْقَى إِلَيْهِ لُقْمَةً مِنْ خُبْزٍ فَشَغَلَهُ بِهَا، وَدَخَلَ عَلَى الْمَلِكِ، وَنَالَ الْقُرْبَ مِنْهُ؛ فَالشَّيْطَانُ كَلْبٌ عَلَى بَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Lalu ia melemparkan sepotong roti untuk mengelabui anjing tadi. Dan ia pun masuk menemui sang raja. Begitulah, setan adalah anjing yang menggonggong di depan pintu gerbang menuju Allah.

يَمْنَعُ النَّاسَ مِنَ الدُّخُولِ، مَعَ أَنَّ الْبَابَ مَفْتُوحٌ، وَالْحِجَابَ مَرْفُوعٌ، وَالدُّنْيَا كَالُلُّقْمَةِ؛ فَمَنْ تَرَكَهَا لِيَنَالَ عِزَّ الْمَلِكِ فَكَيْفَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا؟

menghalangi manusia untuk memasukinya. Padahal pintu itu terbuka, hijabnya pun tersingkap. Dunia ini ibarat sepotong roti. Siapa yang melemparkannya agar berhasil menggapai kemuliaan Sang Raja, Bagaimana mungkin masih memperhitungkannya?


Sumber:

تزكية النفوس وتربيتها كما يقرره علماء السلف

Tazkiyatun Nafs konsep pensucian jiwa menurut ulama' salaf

Ibnu Qayyim Aljauziah - Ibnu Rajab Al Hambali - Imam Alghazali

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan  : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share - Semoga bermanfaat


Tidak ada komentar: