Label xxx

Senin, 30 September 2024

Memberi kemudahan - 06 - BAB 02 - Hadzihi Akhlaquna

 

BAB 02

AKHLAK YANG HARUS DIMILIKI DALAM BERDAKWAH

PASAL 06

التَّيْسِيرُ

Memberi Kemudahan

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا

"Berilah kemudahan dan janganlah mempersulitnya."

بِمَا أَنَّ الدَّاعِيَةَ لَابُدَّ أَنْ يَخْتَلِطَ بِالنَّاسِ

Karena seorang dai harus berinteraksi dengan masyarakat,

فَلَابُدَّ أَنْ يَصْبِرَ عَلَى أَذَاهُمْ، وَأَنْ يُجَنِّبَهُمْ أَذَاهُ

maka ia harus bersabar apabila masyarakat menyakitinya dan tidak membalas perlakuan mereka.

فَلَا يُعَسِّرُ عَلَيْهِمْ حَيْثُ يُمْكِنُ التَّيْسِيرُ

Janganlah mempersulit mereka selama kemudahan dapat diberikan untuk mereka,

وَلَا يَشُقُّ عَلَيْهِمْ حَيْثُ يُمْكِنُ التَّخْفِيفُ

dan jangan pula memberatkan mereka selama memungkinkan untuk diberi keringanan.

خُلُقُ التَّيْسِيرِ يَعْنِي

Yang dimaksud dengan akhlak memberi kemudahan adalah

قَابِلِيَّةَ الشَّخْصِ لِلتَّنَازُلِ وَالْأَخْذِ بِالْأَيْسَرِ، طَالَمَا أَنَّ التَّيْسِيرَ مُمْكِنٌ وَلَا حَرَجَ مِنْهُ شَرْعًا

Sikap seseorang yang mau mengalah dan mengambil hal yang paling mudah selama hal tersebut tidak bertentangan dengan syariat.

وَإِنَّ الْأُمَّةَ الَّتِي تُعِدُّ أَبْنَاءَهَا لِيَكُونُوا مُجَاهِدِينَ

Sesungguhnya umat yang mempersiapkan anak-anaknya untuk menjadi mujahidin,

تُعِدُّهُمْ أَيْضًا لِيَكُونُوا مُيَسِّرِينَ

maka mereka harus mempersiapkannya untuk menjadi orang yang dapat memberikan kemudahan.

لَا يَتَعَنَّتُونَ فِي طَرِيقِهِمْ إِلَى الْجِهَادِ بِمَا يُفْسِدُ عَلَيْهِمْ قُلُوبَهُمْ، أَوْ يُعَكِّرُ صَفْوَ عَلَاقَاتِهِمْ

Dan, jangan merusak jalan menuju jihad dengan hal-hal yang dapat menyakiti hati mereka, serta jangan pula merusak hubungan mereka.

وَلِذَلِكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : الغَزْوُ غَزْوَانِ

Untuk itu Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang berperang itu ada dua kelompok.

فَأَمَّا مَنْ ابْتَغَى وَجْهَ اللَّهِ، وَأَطَاعَ الْإِمَامَ، وَأَنْفَقَ الْكَرِيمَةَ، وَيَاسَرَ الشَّرِيكَ، وَاجْتَنَبَ الْفَسَادَ، فَإِنَّ نَوْمَهُ وَنَبْهَهُ أَجْرٌ كُلُّهُ

Ada orang yang perang dengan tujuan mencari ridha Allah, menaati pemimpin, menyedekahkan hartanya yang berharga, memberi kemudahan kepada kawannya dan menjauhi kerusakan, maka tidur dan bangunnya, seluruhnya, adalah pahala.

وَأَمَّا مَنْ غَزَا فَخْرًا وَرِيَاءً وَسُمْعَةً، وَعَصَى الْإِمَامَ، وَأَفْسَدَ فِي الْأَرْضِ، فَإِنَّهُ لَمْ يَرْجِعْ بِالْكَفَافِ

Adapun orang yang perang karena bangga, riya, dan mencari ketenaran, melanggar perintah pemimpin dan berbuat kerusakan di muka bumi ini, maka ia tidak akan kembali dengan berkecukupan." Tahzib Madarik as-Salikin Manjilat al-Himmah, hlm. 507.

يَقُولُ الْخَطَّابِيُّ فِي شَرْحِ الْحَدِيثِ

Al-Khatabi berkata dalam menerangkan hadits di atas,

يَاسَرَ الشَّرِيكَ : مَعْنَاهُ الْأَخْذُ بِالْيُسْرِ فِي الْأَمْرِ، وَالسُّهُولَةُ فِيهِ مَعَ الشَّرِيكِ وَالصَّاحِبِ وَالْمُعَاوَنَةُ لَهُمَا

"Memberi kemudahan kepada kawannya artinya mengambil cara paling mudah dalam melakukan sesuatu. Kemudahan di sini dilakukan bersama pasangan dan sahabat serta membantu keduanya." Musnad Ahmad 5/234. Shahih Sunan Abu Daud, kitab al-Jihad, bab 25, hadits no. 2195/2515 hasan

فَالْمُيَاسَرَةُ إِحْدَى الْأَخْلَاقِ الَّتِي تَجْعَلُ كُلَّ الْأَعْمَالِ الْمُبَاحَةِ لِلْمُجَاهِدِ مَأْجُورَةً

Memberi kemudahan merupakan salah satu akhlak yang menjadikan perbuatan (biasa) seorang mujahid menjadi perbuatan yang dapat memperoleh pahala.

وَلَفْظُ الْمُيَاسَرَةِ يُوحِي بِأَنَّ قَابِلِيَّةَ التَّيْسِيرِ قَائِمَةٌ فِي كِلَا الطَّرَفَيْنِ الْمُتَصَاحِبَيْنِ

Kata memberi kemudahan mengindikasikan bahwa kemudahan itu terjadi dari kedua belah pihak yang saling bersahabat.

وَلَمَّا لِشَخْصِيَّةِ الدَّاعِيَةِ الْمُيَسِّرِ مِنْ كَبِيرِ الْأَثَرِ فِي الْمَدْعُوِّينَ

Karena karakter seorang dai yang suka memberi kemudahan mempunyai pengaruh yang besar pada jiwa orang-orang yang diajaknya,

فَقَدْ حَمَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ هَذِهِ الْوَصِيَّةَ لِلصَّحَابِيَّيْنِ - أَبِي مُوسَى وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - قَبْلَ إِرْسَالِهِمَا إِلَى الْيَمَنِ

maka Rasulullah telah membebani wasiat ini kepada dua orang sahabatnya, yaitu Abu Musa dan Mu'adz bin Jabal r.a. sebelum mereka dikirim ke Yaman.

بَشِّرَا وَيَسِّرَا وَعَلِّمَا وَلَا تُنَفِّرَا - وَأَرَاهُ قَالَ - وَتَطَاوَعَا

Beliau berkata, "Berilah mereka kabar gembira, mudahkanlah urusannya, ajarkan mereka ilmu dan janganlah menakuti-nakuti mereka (dan aku melihat Rasulullah berkata pula) bantulah mereka." Ma'alim as-Sunan, al-Khatabi, 3/30.

وَفِي تَرْجَمَةِ بَابٍ عِنْدَ الْبُخَارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ ( كَانَ يُحِبُّ التَّخْفِيفَ وَالتَّسَرِّيَ عَلَى النَّاسِ )

Adapun keterangan bab ini dalam pandangan Imam Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau sangat suka memberi keringanan dan kemudahan kepada orang-orang." Shahih Muslim, kitab as-Syurbah, bab 7, hadits no. 70 (Syarh an-Nawawi, 71181).

وَلَمْ يَكُنْ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ يَقْبَلُ مِنْ أَصْحَابِهِ أَيَّ نَوْعٍ مِنَ الْغِلْظَةِ وَالْجَفَاءِ وَالْإِحْرَاجِ

Rasulullah ﷺ tidak pernah menerima sikap sahabatnya yang kasar, tidak sopan dan mengecewakan orang lain.

وَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُمْ كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ الْأَعْرَابِيِّ الَّذِي بَالَ فِي الْمَسْجِدِ

Beliau selalu berkata lembut kepada sahabatnya sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang seorang Badui yang buang air kecil di masjid.

فَثَارُوا عَلَيْهِ، وَكَادُوا يَقَعُونَ بِهِ

Ketika itu, para sahabat yang berada di masjid marah kepadanya dan hampir saja memukulnya. Namun, hal itu urung mereka lakukan karena Rasul bersabda,

دَعُوهُ، وَأَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ؛ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

"Biarkanlah. Siramlah air kencingnya dengan seember air. Sesungguhnya kalian dilahirkan untuk memberi kemudahan dan janganlah bersikap menyusahkan orang lain." Shahih Bukhari kitab al-Adab, penjelasan bab 80 (Fat-hu al-Baari, 10/524).

وَالرَّسُولُ ﷺ كَانَ أَكْبَرَ مَثَلٍ فِي التَّعَامُلِ بِالْيُسْرِ وَعَدَمِ الْأَخْذِ بِالشِّدَّةِ

Rasulullah saw. adalah contoh terbesar dalam memberi kemudahan dan tidak bersikap keras.

وَهَذَا مَا وَصَفَتْهُ بِهِ السَّيِّدَةُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا بِقَوْلِهَا

Dan ini adalah sifat yang diceritakan oleh Aisyah r.a.,

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ 

Jika Rasulullah saw. diberi dua pilihan dalam suatu masalah, maka beliau akan mengambil yang paling mudah selama hal itu tidak berdosa. Apabila hal tersebut merupakan dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhinya." Shahih Bukhari kitab al-Adab, bab 80, hadits no. 6128 (Fat-hu al-Baari, 10/525).

وَقَالَ عَنْ نَفْسِهِ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ

Begitu pula sabda beliau tentang dirinya,

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

"Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk menjadi orang yang susah dan menyusahkan, tetapi Allah mengutusku untuk memberi pengajaran (jalan) dan kemudahan." Shahih Bukhari kitab al-Adab, bab 80, hadits no. 6126 Fat-hu al-Baari, 10/524-525

وَلَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ فِي صَلَاتِهِ يَحْسُبُ حِسَابَ مَنْ يَأْتَمُّونَ بِهِ ؛

Begitulah akhlak Rasulullah ﷺ Hingga dalam melakukan shalat, beliau selalu mempertimbangkan kepentingan orang yang menjadi makmumnya.

أَلَّا يَشُقَّ عَلَيْهِمْ، وَإِذَا تَوَقَّعَ الْحَرَجَ وَلَوْ لِوَاحِدٍ مِمَّنْ خَلْفَهُ اخْتَصَرَ تَيْسِيرًا وَرَفْعًا لِلْحَرَجِ

Beliau tidak ingin memberatkan mereka. Apabila terjadi hal yang dapat memberatkan walaupun kepada salah seorang yang ada di belakangnya, maka beliau meringkas shalatnya sehingga tidak memberatkan makmum.

وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُهُ : « إِنِّي لَأَقُومُ إِلَى الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

Hal itu terlihat jelas dalam sabdanya, "Aku berniat untuk melakukan shalat dengan memanjangkan shalat (waktu), namun aku mendengar tangisan bayi, maka aku mempercepatnya karena aku tidak ingin memberatkan ibunya." Shahih Muslim, kitab at-Thalaq, bab 4, hadtis no. 29/1478.

وَكَانَ ﷺ يَغْضَبُ مِمَّنْ يُطِيلُ بِالنَّاسِ فِي الصَّلَاةِ، وَيَعْتَبِرُهُمْ مُنَفِّرِينَ، أَوْ فَتَّانِينَ

Rasulullah ﷺ akan marah kepada orang yang melaksanakan shalat dengan waktu yang panjang, karena hal itu dianggap akan membuat makmum lari dan menderita.

وَذَلِكَ لِيَتَشَرَّبُوا مِنْهُ خُلُقَ التَّيْسِيرِ، وَهُوَ مِنْ أَهَمِّ مَا يَتَحَلَّى بِهِ الدَّاعِيَةُ الْمُسْلِمُ

Hal ini dilakukan agar mereka mempunyai sikap yang selalu memberi kemudahan, karena sikap tersebut sangat penting yang harus dimiliki oleh seorang dai muslim.

وَقُدْوَتُنَا بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَقْتَضِي مِنَّا أَنْ نَخْتَارَ الْأَيْسَرِ لِلنَّاسِ، وَنَقْبَلَ بِهِ، وَإِنْ كَانَ فِيهِ تَنَازُلٌ عَنْ حَقٍّ مِنْ حُقُوقِنَا

Untuk mengambil contoh teladan dari Rasulullah ﷺ maka kita harus memilih yang termudah bagi masyarakat sehingga mereka dapat menerimanya walaupun dengan melepaskan sebagian hak kita.

فَتِلْكَ الْمُيَاسَرَةُ فِي الدُّنْيَا طَرِيقٌ لِتَحْصِيلِ التَّيْسِيرِ وَالْمَغْفِرَةِ مِنَ اللَّهِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ

Sikap memberi kemudahan di dunia adalah jalan untuk memperoleh kemudahan dan ampunan dari Allah di akhirat, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,

يُؤْتَى بِرَجُلٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ اللَّهُ : انْظُرُوا فِي عَمَلِهِ، فَيَقُولُ

"Didatangkanlah seorang laki-laki pada hari Kiamat, Allah berfirman' Lihatlah perbuatannya! Ia berkata,

رَبِّ مَا كُنْتُ أَعْمَلُ خَيْرًا، غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ لِي مَالٌ، وَكُنْتُ أُخَالِطُ النَّاسَ؛

Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku tidak melakukan perbuatan baik tetapi aku memiliki harta dan kupinjamkan kepada orang lain.

فَمَنْ كَانَ مُوسِرًا يَسَّرْتُ عَلَيْهِ، وَمَنْ كَانَ مُعْسِرًا أَنْظَرْتُهُ إِلَى مَيْسَرَةٍ

Barangsiapa di antara mereka yang mampu (bayar) maka aku ambil, tetapi barangsiapa yang berada dalam kesulitan (dalam membayar utang), maka aku tangguhkan pembayarannya sampai ia mampu.

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : أَنَا أَحَقُّ مَنْ يَسَّرَ فغَفَرَ لَهُ

Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku berhak untuk memberi kemudahan. Oleh karena itu, Allah memberi ampunan kepadanya. Shahih Sunan Abu Daud, kitab ash-Shalah, bab 127, hadits no. 798/789 (shahih).

لَمْ يَعْمَلْ مِنَ الْخَيْرِ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ مُيَاسِرًا لِلنَّاسِ، مُخَفِّفًا عَلَيْهِمْ، سَمْحًا مَعَهُمْ، فَنَالَ بِذَلِكَ الْمَغْفِرَةَ

Ia tidak pernah melakukan kebaikan tetapi ia suka membantu orang lain, meringankan mereka sehingga dengan hal itu ia mendapatkan ampunan dari Allah.

وَالتَّيْسِيرُ حَبِيبٌ إِلَى اللَّهِ، حَبِيبٌ إِلَى خَلْقِ اللَّهِ

Orang yang memberi kemudahan akan menjadi kekasih Allah dan kekasih makhluk-makhluk Allah.

وَقَدْ وَرَدَ فِي شَمَائِلِهِ ﷺ أَنَّهُ : كَانَ يُحِبُّ مَا خَفَّ عَلَى النَّاسِ

Telah disebutkan bahwa salah satu tabiat Rasulullah saw. adalah beliau menyukai sesuatu yang dapat meringankan masyarakat. [[Musnad Ahmad 5/407. Al-Bani telah menshahihkannya dalam kitabnya al- Jami', dengan hadits no. 2079. Kisah ini diriwayatkan juga dalam kitab Shahih Bukhari dan kitab Shahih Muslim.]]

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ؛ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ

Walaupun Rasulullah ﷺ meninggalkan suatu perbuatan dan beliau sengaja melakukannya, itu semata-mata dilakukan karena beliau takut orang-orang mengikutinya sehingga Allah mewajibkannya kepada mereka. [[Musnad Ahmad6/161. At-Turmudzi dan Baihaqi juga telah meriwayatkannya, dan Bukhari telah menjadikan hadits ini sebagai hadits hasan (Bulugh al-Amani, 15/23).]]

وَيَقُولُ الْبُخَارِيُّ : .. وَكَانَتِ الْأَئِمَّةُ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ يَسْتَشِيرُونَ الْأُمَنَاءَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْأُمُورِ الْمُبَاحَةِ لِيَأْخُذُوا بِأَسْهَلِهَا، فَإِذَا وَضَحَ الْكِتَابُ أَوِ السُّنَّةُ لَمْ يَتَعَدَّوْهُ إِلَى غَيْرِهِ اقْتِدَاءً بِالنَّبِيِّ ﷺ

Imam Bukhari berkata, "Setelah Rasulullah ﷺ para pemimpin selalu berkonsultasi kepada ulama-ulama yang jujur dalam menjalankan sesuatu dengan mengambil cara yang paling mudah, dan apabila Al-Qur'an dan As-Sunnah telah men- jelaskannya, maka mereka tidak mencari dari yang lainnya. Hal itu mengikuti apa yang telah dilakukan Rasulullah saw." Shahih Bukhari kitab at-Tahajjud, bab 5, hadits no. 1128 (Fat-hu al-Baari, 3/10).

وَمَنْ الْتَزَمَ التَّيْسِيرَ عَلَى النَّاسِ، وَرَفْعَ الْحَرَجِ عَنْهُمْ، فَقَدْ تَكَفَّلَ اللَّهُ لَهُ بِالْوِقَايَةِ مِنَ النَّارِ، وَبِغُفْرَانِ الذُّنُوبِ، كَمَا فِي قَوْلِهِ ﷺ : حُرِّمَ عَلَى النَّارِ كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ سَهْلٍ قَرِيبٍ مِنَ النَّاسِ

Barangsiapa yang terbiasa memberikan kemudahan kepada masyarakat dan mengangkat kesulitannya, maka Allah akan menjamin untuk mencegahnya dari neraka dan mengampuni dosanya, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya, "Telah diharamkan kepada neraka bagi orang yang bersikap lembut dan memberi kemudahan kepada sekelompok masyarakat." Shahih Bukhari kitab al-I'tisham, penjelasan bab 28 (Fat-hu al-Baari, 13/339)

وَغَفَرَ اللَّهُ لِرَجُلٍ كَانَ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ سَهْلًا إِذَا بَاعَ، سَهْلًا إِذَا اشْتَرَى، سَهْلًا إِذَا قَضَى، سَهْلًا إِذَا اقْتَضَى

Sabdanya pula, "Allah akan mengampuni seorang laki-laki pada umat sebelummu, karena ia mudah dalam berjualan, mudah dalam membeli, mudah dalam membayar (utang), dan mudah dalam meminta bayaran (menagih utang)." [[Musnad Ahmad, 1/415, al-Bani menshahihkannya dalam kitab Shahih al-Jami dengan hadits no. 3135]]

سِرُّ هَذِهِ الْمَغْفِرَةِ أَنَّ السُّهُولَةَ وَالْيُسْرَ طُبِعَتْ تَصَرُّفَاتُهُ كُلُّهَا. وَطَبِيعَةُ هَذَا الدِّينِ التَّيْسِيرُ، وَمِنْ قَوَاعِدِهِ الشَّرْعِيَّةِ رَفْعُ الْحَرَجِ، فَمَا كَانَ أَيْسَرَ كَانَ أَرْضَى لِلَّهِ، يَقُولُ الْإِمَامُ الشَّعْبِيُّ : ( إِذَا اخْتَلَفَ عَلَيْكَ أَمْرَانِ فَإِنَّ أَيْسَرَهُمَا أَقْرَبُهُمَا إِلَى الْحَقِّ ) ؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿ ... يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ .... [البقرة : ١٨٥]

Rahasia ampunan ini adalah kemudahan dan bantuan yang ia berikan telah ada dalam perbuatannya. Tabiat agama adalah memberikan kemudahan sedang di antara kaidah syariatnya adalah mengangkat kesulitan. Sesuatu yang lebih mudah, maka ia juga merupakan sesuatu yang lebih diridhai oleh Allah. Asy-Sya'bi berkata, "Apabila ada dua masalah saling bertentangan, maka yang paling mudah adalah yang paling mendekati kebenaran. Hal itu sesuai dengan firman-Nya, 'Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan." (al-Baqarah [2]: 185) Musnad Ahmad, 3/ 340, al-Bani menshahihkannya dalam kitab Shahih al-Jami' dengan hadits no. 4165.

وَلِأَنَّ دِينَنَا قَائِمٌ عَلَى رَفْعِ الْعَنَتِ : إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

Karena agama kita ini mempunyai prinsip mengangkat kesulitan yaitu, "Sesungguhnya agama itu mudah." Mahasin Ta'wil, al-Qasimi, al-Qasimi, 3/427.

وَمِنْ يُسْرِ الدَّاعِيَةِ مَعَ النَّاسِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِمَا يُطِيقُونَ

Satu dari sikap seorang dai yang memberi kemudahan kepada masyarakat adalah dengan memerintahkan mereka agar melakukan kewajiban sesuai dengan kemampuannya,

مِثْلَمَا كَانَ حَالُ النَّبِيِّ ﷺ، وَمِنْ يُسْرِ الْمُفْتِي مَعَ النَّاسِ أَلَّا يَقْصِدَ إِيقَاعَهُمْ فِيمَا يَشُقُّ عَلَيْهِمْ مِنْ خِلَالِ التَّنْقِيبِ وَالْمُسَاءَلَةِ

Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ Sikap seorang mufti (pemberi fatwa) yang memberi kemudahan kepada masyarakat adalah dengan tidak memberi fatwa yang memberatkan mereka dengan cara mencari tahu masalahnya dan menanyakan hal-hal lain.

وَفِي ذَلِكَ يَقُولُ ابْنُ الْعَرَبِيِّ فِي أَحْكَامِ الْقُرْآنِ : إِذَا جَاءَ السَّائِلُ عَنْ مَسْأَلَةٍ فَوَجَدْتُمْ لَهُ مَخْلَصًا فِيهَا فَلَا تَسْأَلُوهُ عَنْ شَيْءٍ، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا لَهُ مَخْلَصًا فَحِينَئِذٍ اسْأَلُوهُ عَنْ تَصَرُّفِ أَحْوَالِهِ وَأَقْوَالِهِ وَنِيَّتِهِ عَسَى أَنْ يَكُونَ لَهُ مَخْلَصٌ

Dalam hal ini, Ibnul Arabi menulis dalam kitabnya Ahkam Al-Qur'an, "Jika datang seorang penanya yang menanyakan sesuatu dengan ikhlas maksud baik), maka janganlah ditanya tentang masalah lain. Apabila penanya tersebut tidak bermaksud baik, bolehlah ditanyakan tentang kondisinya, perkataannya dan niatnya. Mungkin dengan hal itu ia dapat membuat dirinya menjadi ikhlas (berniat baik)." Shahih Bukhari kitab al-Iman, bab 29.

وَقَدْ وَصَفَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جِيلَ الصَّحَابَةِ بِأَنَّهُمْ تَمَيَّزُوا بِالْبُعْدِ عَنِ التَّكَلُّفِ، وَالْعَمَلِ بِمَا تَيَسَّرَ

Ibnu Mas'ud r.a. menggambarkan tentang kondisi generasi para sahabat bahwa mereka mempunyai karakter khusus, yaitu menjauhi hal-hal yang memberatkan dirinya dan melaksanakan dengan cara yang mudah.

أَفْضَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ : أَبَرُّهَا قُلُوبًا، وَأَعْمَقُهَا عِلْمًا، وَأَقَلُّهَا تَكَلُّفًا

Sebab, sebaik-baiknya umat adalah orang yang paling baik hatinya, paling mendalam ilmunya, dan paling tidak memberatkan diri. " Ahkam Al-Qur'an, al-Qurtubi, 4/1643.

وَالتَّيْسِيرُ خَيْرٌ، وَثِمَارُهُ بَرَكَةٌ، وَلِذَلِكَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ ﷺ أَنَّ الْخَيْرِيَّةَ وَالْبَرَكَةَ فِي الْمَرْأَةِ الَّتِي اتَّصَفَتْ بِهِ تَيْسِيرُ خِطْبَتِهَا وَتَيْسِيرُ صَدَاقِهَا

Memberikan kemudahan merupakan perbuatan baik dan hasilnya adalah berkah. Oleh karena itu, Rasulullah saw. memberitahukan bahwa kebaikan dan berkah seorang wanita adalah yang mempunyai sifat, "Memudahkan pertunangannya dan memudahkan maharnya". Ighasatul Lahfan, 1/159.

وَفِي رِوَايَةٍ : خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ

Dalam riwayat lain, "Nikah yang paling baik adalah nikah yang paling mudah." Musnad Ahmad, 6/77, dengan tambahan awal "Sesungguhnya wanita yang baik itu adalah." Al-Bani menshahihkan hadits ini dalam kitab a/-/am/ dengan hadits no. 2235

لِكَيْ يَمِيلَ النَّاسُ إِلَى الْبَسَاطَةِ، وَعَدَمِ الْمُبَالَغَةِ فِي الْمُهُورِ وَالْأَفْرَاحِ؛ بِمَا يُرْهِقُ الرَّاغِبِينَ فِي الْعِفَّةِ، وَيَسُدُّ أَبْوَابَ التَّحْصِينِ، وَيَفْتَحُ أَبْوَابَ الِانْحِرَافِ

Hal itu di maksudkan agar masyarakat terbiasa untuk bersikap sederhana, tidak berlebihan dalam meminta mahar dan pesta sehingga tidak memberatkan orang yang ingin menjaga diri, yang dapat menutup pintu bagi orang yang ingin menjaga kehormatannya serta menjauhkan diri dari hal yang menyimpang.

وَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ يَشُقُّ عَلَى نَفْسِهِ بِالْأَخْذِ بِالْعَزِيمَةِ؛ حَيْثُ تُبَاحُ لَهُ الرُّخْصَةُ، وَبِالْمُبَالَغَةِ فِي نَوَافِلِ الطَّاعَاتِ، ثُمَّ قَدْ يَنْفَرِطُ حَبْلُهُ، وَتَمَلُّ نَفْسُهُ، وَتَفْتُرُ هِمَّتُهُ، وَلَا يَدُومُ عَلَى عَمَلِهِ هَذَا، وَلِذَلِكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : ( إِنَّكُمْ لَنْ تَنَالُوا هَذَا الْأَمْرَ بِالْمُغَالَبَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْيَسَرَةُ )

Sebagian orang ada yang ingin memberatkan diri dengan melakukan ajimah (melakukan kewajiban sesuai aturan asal), padahal telah dibolehkan baginya untuk mengambil rukhsah (keringanan), atau berlebihan dalam melakukan hal-hal yang disunnahkan yang menyebabkan ia menjadi jenuh dan semangatnya menjadi lemah sehingga amalnya tidak kontinu. Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya kalian tidak akan memperoleh agama jika melakukannya secara berlebihan. Agama kalian yang paling baik adalah yang memberi kemudahan." Shahih Sunan Abu Daud, kitab an-Nikah, bab 32, hadits no. 1859/2117 (shahih)

وَفِي رِوَايَةٍ : « إِنَّ خَيْرَ دِينِكُمْ أَيْسَرُهُ إِنَّ خَيْرَ دِينِكُمْ أَيْسَرُهُ

Dalam riwayat lain, "Sebaik-baiknya agamamu adalah yang paling mudah. Sebaik-baiknya agamamu adalah yang paling mudah." [[Fat-hu al-Baari, 1/94. Musnad Ahmad, 4/337. Hadits ini dishahihkan oleh al-Bani dalam kitab al Jaminya dengan hadits no. 2311.]]

فَلَيْسَ خَيْرُ الدِّينِ مَا كَانَ فِيهِ التَّنَطُّعُ أَوِ الْغُلُوُّ أَوِ التَّعْنِيتُ، وَإِنَّمَا هُوَ الْيُسْرُ وَالسُّهُولَةُ وَالسَّمَاحَةُ

Agama yang paling baik bukanlah agama yang memberatkan, berlebihan dan menyusahkan, tetapi yang memberi kemudahan, keringanan dan pengertian.

وَمِنَ الصُّوَرِ الْعَمَلِيَّةِ الَّتِي تُبَيِّنُ أَثَرَ تَرْبِيَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لِصَحَابَتِهِ عَلَى خُلُقِ التَّيْسِيرِ : أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Dari bentuk nyata yang membuktikan tentang dampak pendidikan Rasulullah ﷺ, kepada sahabatnya dalam akhlak memberi kemudahan adalah Ibnu Abbas ra,

حِينَ رَأَى الْمَطَرَ مُتَوَاصِلًا وَغَزِيرًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ، خَشِيَ عَلَى النَّاسِ التَّخَبُّطَ فِي الطِّينِ، أَوِ الِانْزِلَاقَ بِسَبَبِهِ، فَقَالَ لِلْمُؤَذِّنِ أَنْ يَقُولَ بَدَلًا مِنْ ( حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ ) :( صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ )

ketika melihat hujan turun deras pada hari Jum'at, ia khawatir jika orang-orang jatuh ke tanah atau terpeleset karena tanahnya basah, Karena itu, ia menyuruh muazán untuk mengganti "hayya alas shalat" (mari laksanakan shalat) dengan kata-kata "shallu fi buyutikum" (shalatlah di rumahmu).

فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَلِكَ، وَاعْتَرَضُوا عَلَيْهِ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : ( فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي، إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ )

Orang-orang melakukan protes dan menentang hal itu. Ibnu Abbas menjawabnya, "Orang yang telah melakukannya berarti ja adalah orang yang lebih baik dariku, karena shalat jum'at adalah azimah. Aku khawatir kallan terjatuh di tanah dan lumpur." Musnad Ahmad, 5/479. Al Haisyamy berkata, "Perawinya orang shahih." Bulugh al-Ma'ani', 19/15

وَهَذَا شَأْنُ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ، وَلَا تَجِدُ التَّشْدِيدَ غَالِبًا إِلَّا مَعَ الْجَهْلِ وَالْجُهَّالِ . وَلِذَلِكَ قَالَ مَعْمَرٌ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ : إِنَّمَا الْعِلْمُ أَنْ تَسْمَعَ بِالرُّخْصَةِ مِنْ ثِقَةٍ، فَأَمَّا التَّشْدِيدُ فَيُحْسِنُهُ كُلُّ أَحَدٍ

Itulah kedudukan ilmu dan ulama, tidak ada hal yang memberatkan (pada umumnya), kecuali yang dilakukan oleh orang-orang bodoh. Oleh karena itu, Muammar dan Sufyan ats- Tsaury berkata, "Ilmu dapat memberikan keringanan dari hal-hal yang memberatkan. Adapun hal-hal yang memberatkan dapat dilakukan oleh siapa saja," Shahih Bukhari kitab al-Jum'ah, bab 14, hadits no. 901 (Fat-hu al-Baari 2/384)

وَالْقَصْدُ إِلَى التَّشْدِيدِ لَيْسَ مِنْ شَأْنِ النُّفُوسِ السَّوِيَّةِ، وَلَا يَكُونُ مِنْ مَطَالِبِ الشَّرْعِ وَلَا مِنْ مَقَاصِدِهِ

Keinginan untuk memberatkan bukanlah milik orang-orang yang berjiwa baik (lurus), bukan juga tuntutan syariat dan tujuannya.

وَلِذَلِكَ يَقُولُ الشَّاطِبِيُّ : الْمَشَقَّةُ : لَيْسَ لِلْمُكَلَّفِ أَنْ يَقْصِدَهَا .. وَلَهُ أَنْ يَقْصِدَ الْعَمَلَ الَّذِي يَعْظُمُ أَجْرُهُ لِعِظَمِ مَشَقَّتِهِ مِنْ حَيْثُ هُوَ عَمَلٌ

Oleh karena itu, asy-Syatibi berkata, "Memberatkan diri bukanlah tujuan seorang mukallaf (orang yang diberi kewajiban), la harus berniat melaksanakan perintah yang pahalanya semakin besar dengan besarnya beban pekerjaan.

فَإِذَا كَانَ قَصْدُ الْمُكَلَّفِ إِيقَاعَ الْمَشَقَّةِ فَقَدْ خَالَفَ قَصْدَ الشَّارِعِ، مِنْ حَيْثُ إِنَّ الشَّارِعَ لَا يَقْصِدُ بِالتَّكْلِيفِ نَفْسَ الْمَشَقَّةِ، وَكُلُّ قَصْدٍ يُخَالِفُ قَصْدَ الشَّارِعِ بَاطِلٌ

Dan apabila tujuannya untuk memberatkan diri, maka ia telah menyalahi tujuan pembuat syariat (Allah), karena sesungguhnya Allah tidaklah memberi taklif semata-mata untuk memberatkannya. Setiap tujuan yang menyalahi tujuan Allah maka perbuatannya batil (tidak sah). Jami Bayanil Ilmi wa Fadhihi, hlm. 285.

وَنَفْسُ الْمَعْنَى عَبَّرَ عَنْهُ - بِصُورَةٍ أُخْرَى - الْعِزُّ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ فَقَالَ : لَا يَصِحُّ التَّقَرُّبُ بِالْمَشَاقِّ، لِأَنَّ الْقُرَبَ كُلَّهَا تَعْظِيمٌ لِلرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَلَيْسَ عَيْنُ الْمَشَاقِّ تَعْظِيمًا وَلَا تَوْقِيرًا

Hal senada (dalam bentuk lain) diungkapkan pula oleh Izzudin bin Abdus Salam, "Tidaklah boleh mendekatkan diri kepada Allah (beribadah) dengan memberatkan diri, karena ibadah itu adalah mengagungkan Allah swt., dan memberatkan diri bukanlah termasuk bentuk pengagungan dan bukan pula penghormatan." Al-Muwafaqat, 2/128-129

وَبِذَلِكَ نَرَى أَنَّ اخْتِلَاقَ الْقُيُودِ لِلنَّاسِ، وَافْتِعَالَ الْعُقَدِ، وَإِلْزَامَ الْآخَرِينَ بِالْعَزَائِمِ، وَالْإِثْقَالَ بِالْمَوَاعِظِ، وَالْإِكْثَارَ مِنَ التَّكَالِيفِ .. فِيهِ مُجَانَبَةٌ لِطَبِيعَةِ الْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ، وَمُنَاقَضَةٌ لِمَا دَعَا إِلَيْهِ دِينُنَا مِنَ التَّيْسِيرِ، وَمُخَالَفَةٌ لِمَا تَمَيَّزَتْ بِهِ الشَّرِيعَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ مِنْ رَفْعِ الْحَرَجِ

Oleh karena itu, kami menilai bahwa orang yang membuat batasan-batasan bagi masyarakat, mempersulit masalah, mengharuskan orang lain dengan aziniah-azimah, memberatkan mereka dengan nasihat-nasihat dan memperbanyak beban kewajiban yang bertolak belakang dengan tabiat agama (yang lurus) dan toleran, maka hal itu bertentangan dengan segala sesuatu yang dianjurkan oleh agama kita untuk mencari kemudahan dan kontradiksi dengan syariat Islam yang tabiatnya menghindari kesulitan." Qawaid al-Ahkam, 1/26.

وَإِنَّهُ لَمِنْ عَوَامِلِ نَجَاحِ الدَّاعِيَةِ أَنْ يَجْنَحَ إِلَى التَّيْسِيرِ فِيمَا يَأْخُذُ بِهِ النَّاسَ، ثُمَّ لِيَأْخُذَ نَفْسَهُ بِمَا يُطِيقُ أَنْ يُدَاوِمَ عَلَيْهِ

Adapun yang menjadi faktor keberhasilan seorang dai adalah mengembangkan diri dengan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam melaksanakan kewajibannya dan melanggengkannya sesuai dengan kemampuannya.

خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN:

ـ التَّيْسِيرُ : تَنَازُلٌ إِلَى مَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَى النَّاسِ، فِيمَا يَرْضَى اللَّهُ

Memberikan kemudahan adalah rela untuk mengambil cara yang lebih mudah bagi masyarakat dalam hal yang diridhai oleh Allah.

ـ مِنْ صُوَرِ التَّيْسِيرِ

Bentuk-bentuk memberi kemudahan:

ـ مُيَاسَرَةُ الشَّرِيكِ فِي الْجِهَادِ

membantu saudara sesama muslim dalam berjihad,

ـ التَّيْسِيرُ عَلَى الْمَدْعُوِّينَ

memberi kemudahan bagi orang yang diajak,

التَّيْسِيرُ عَلَى الْجَاهِلِ حَتَّى يَتَعَلَّمَ -

memberikan kemudahan bagi orang bodoh sehingga ia menjadi tahu,

ـ التَّيْسِيرُ عَلَى الْمُؤْتَمِّ بِعَدَمِ التَّطْوِيلِ

memberikan keringanan kepada makmum dengan tidak memperpanjang shalat,

ـ التَّنَازُلُ عَنْ حَقٍّ شَخْصِيٍّ لِلتَّيْسِيرِ

merelakan hak pribadinya untuk kemudahan.

ـ اللَّهُ يُحِبُّ التَّيْسِيرَ، وَرَسُولُهُ كَذَلِكَ، وَالْخُلَفَاءُ مِنْ بَعْدِهِ

Allah itu menyukai kemudahan, begitu pula rasul-Nya dan khalifah-khalifah sesudahnya.

ـ التَّيْسِيرُ وِقَايَةٌ مِنَ النَّارِ، وَغُفْرَانٌ لِلذُّنُوبِ

Memberikan kemudahan dapat mencegah api neraka dan mengampuni dosa.

ـ التَّيْسِيرُ أَقْرَبُ إِلَى الْحَقِّ؛ لِأَنَّ اللَّهَ يُرِيدُهُ

Memberikan kemudahan lebih dekat pada kebenaran karena Allah menginginkan hal tersebut.

ـ مِنْ تَيْسِيرِ الدَّاعِيَةِ يُسْرُهُ فِي الْفَتْوَى، وَتَكْلِيفُ النَّاسِ بِمَا يُطِيقُونَ

Bentuk sikap memberi kemudahan yang dilakukan oleh seorang dai adalah memberikan kemudahan dalam berfatwa dan membebani masyarakat dalam batas kemampuannya.

ـ مِنْ بَرَكَةِ الْمَرْأَةِ يُسْرُ نِكَاحِهَا وَصَدَاقِهَا

Seorang wanita yang berkah adalah wanita yang memudahkan dalam pernikahan dan maharnya.

ـ التَّيْسِيرُ وِقَايَةٌ مِنَ الْغُلُوِّ ( وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْيَسَرَةُ )

Memberi kemudahan dapat mencegah dari sikap yang berlebihan atau melampaui batas (sebaiknya agamamu adalah yang memberi kemudahan).

ـ تَجِدُ التَّعْسِيرَ حَيْثُ وُجِدَ الْجَهْلُ

Kesulitan ada dalam kebodohan.

ـ تَعَمُّدُ الْمَشَقَّةِ خِلَافُ قَصْدِ الشَّرْعِ؛ فَلَا يَصِحُّ التَّقَرُّبُ بِالْمَشَاقِّ

Menyengajakan memberatkan diri bertentangan dengan tujuan syariat. Karena itu, tidak boleh beribadah kepada Allah dengan memberatkan diri.

ـ تَمَيَّزَتِ الشَّرِيعَةُ بِرَفْعِ الْحَرَجِ فَلِمَاذَا نَمِيلُ إِلَى التَّعَنُّتِ

Syariat Islam karakternya adalah mengangkat kesulitan. Lalu, mengapa kita harus cenderung untuk menyulitkan diri?

 

Sumber:

هَذِهِ أَخْلَاقُنَا حِينَ نَكُونُ مُؤْمِنِينَ

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan – share Semoga bermanfaat.


Tidak ada komentar: