Label xxx

Senin, 09 September 2024

Optimis - 05 - BAB 02 - Hadzihi Akhlaquna


BAB 02

AKHLAK YANG HARUS DIMILIKI DALAM BERDAKWAH

PASAL 05

 

الْهِمَّةُ 

Optimis / Semangat Tinggi

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ 

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketidakberdayaan dan kemalasan."

لَقَدْ كَانَ جِيلُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ عَلَى دَرَجَةٍ عَالِيَةٍ مِنَ الْهِمَّةِ وَالنَّشَاطِ، 

Generasi sahabat r.a. mempunyai derajat semangat dan kerajinan yang tinggi,

اقْتَضَتْ مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنْ يَدْعُوَهُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْمَوَاقِفِ إِلَى الْحَدِّ مِنْ هَذَا النَّشَاطِ الزَّائِدِ، 

yang menuntut Rasulullah ﷺ untuk mengajak mereka dalam berbagai keadaan agar mereka tidak berlebihan dalam melakukan aktivitasnya,

وَإِلَى الْعَوْدَةِ إِلَى مُسْتَوَى الْقَصْدِ وَالاعْتِدَالِ وَالتَّوَازُنِ 

kembali pada tujuan utama, moderat, adil dan seimbang.

قَائِلًا لَهُمْ : اكْلَفُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ 

Sabdanya, "Bebanilah diri kalian dengan perbuatan yang kalian mampu."

وَيَقُولُ الْوَاحِدُ مِنْهُمْ : يَا رَسُولَ اللهِ ! إِنِّي أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ 

Kemudian salah satu di antara mereka menjawab, "Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mampu melakukan lebih dari itu."

وَحِينَ خَارَتِ الْقُوَى، وَضَعُفَتِ الْعَزَائِمُ، وَفَتَرَتِ الْهِمَمُ، صَارَ الْوَاحِدُ مِنَ النَّاسِ 

Ketika kekuatan melemah, niat yang kuat melemah, dan semangat semakin hambar,

حِينَ يُطَالَبُ بِأَدَاءِ بَعْضِ الْوَاجِبَاتِ يَكُونُ جَوَابُهُ 

maka seseorang apabila diminta untuk melaksanakan kewajiban, maka ia akan menjawab,

لَا أُطِيقُ ذَلِكَ-  وَأَصْبَحْنَا بِحَاجَةٍ كَبِيرَةٍ لِلِاسْتِعَاذَةِ بِاللهِ مِنْ هَذَا الْحَالِ :

 "Aku tidak mampu melakukannya." Oleh karena itu, kita perlu sekali untuk berlindung kepada Allah dari perbuatan ini:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketidakberdayaan dan kemalasan."

إِنَّ دِينًا يُخَاطِبُ أَتْبَاعَهُ بِقَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ : 

Sesungguhnya agama mengajak pengikut-pengikutnya untuk bersegera menuju ampunan Allah, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

﴿وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ﴾ [آل عمران : ١٣٣] 

"Dan cepatlah menuju ampunan Tuhanmu." (QS. Ali 'Imran [3]: 133)

﴿سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ﴾ [الحديد : ٢١] 

Firman-Nya lagi, "Berlombalah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu." (QS. Al-Hadid [57]: 21)

﴿فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ﴾ [الشرح : ٧] 

Firman-Nya yang lain, "Sebab itu, apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain)." (QS. Asy-Syarh [94]: 7)

﴿يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ﴾ [مريم : ١٢]

 Juga firman-Nya lagi, "Hai Yahya, peganglah kitab itu dengan sungguh-sungguh." (QS. Maryam [19]: 12)

إِنَّ دِينًا هَذَا شَأْنُهُ لَا يَقْبَلُ مِنْ أَتْبَاعِهِ الْكَسَلَ وَالْخُمُولَ، وَالْعَجْزَ وَالسُّكُونَ، 

Dan sesungguhnya agama tidak rela melihat pengikut-pengikutnya malas, lalai, tidak berdaya, diam (tidak bekerja),

وَالْفُتُورَ وَالتَّوَانِيَ، وَالِاسْتِرْخَاءَ وَضَعْفَ الْهِمَّةِ 

bersikap pasif, mengundur-undur, berleha-leha dan lemah semangat.

وَمِنَ الإِشَارَاتِ الطَّيِّبَةِ مَا جَاءَ فِي قَوْلِهِ ﷺ : أَحَبُّ الأَسْمَاءِ إِلَى اللهِ تَعَالَى : عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ، وَأَصْدَقُهَا : حَارِثٌ وَهَمَّامٌ 

Di antara petunjuk yang baik adalah apa yang ada dalam sabda Rasulullah ﷺ: "Nama-nama yang paling disukai Allah Ta'ala adalah Abdullah dan Abdurrahman, sedangkan nama-nama yang paling tepat/jujur menggambarkan hakikat manusia adalah Harits dan Hammam."

حَيْثُ يَصْدُقُ عَلَى الْمَرْءِ مِنْ وَاقِعِ حَالِهِ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ 

Manusia dinamai demikian karena realitas hidupnya:

أَنْ يُصِيبَهُ الْهَمُّ لأَمْرٍ، فَتَثُورُ فِيهِ الْهِمَّةُ إِلَيْهِ، فَيَسْعَى وَيَحْرُثُ وَيَكْتَسِبُ 

ketika ia menginginkan atau memikirkan sesuatu (hamma/hammam), bangkitlah semangatnya (himmah), lalu ia berusaha, bekerja keras (harits), dan mencari nafkah.

وَكِلَا الاسْمَيْنِ يَدُلاَّنِ عَلَى الْكَدْحِ وَتَجْدِيدِ الإِرَادَةِ وَمَوَاصَلَةِ الْعَمَلِ 

Kedua nama tersebut menunjukkan kerja keras, pembaruan tekad, dan kesinambungan dalam beramal.

إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ خُوطِبَ مِنْ بِدَايَاتِ الدَّعْوَةِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝ قُمْ فَأَنْذِرْ﴾ [المدثر : ١-٢] 

Rasulullah ﷺ pada awal dakwahnya diperintahkan oleh Allah: "Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan!" (QS. Al-Muddatsir [74]: 1-2)

﴿يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ۝ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا﴾ [المزمل : ١-٢] 

Firman-Nya lagi: "Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sedikit." (QS. Al-Muzzammil [73]: 1-2)

وَحِينَ كَانَ يُدْعَى بَعْدَهَا إِلَى النَّوْمِ يَقُولُ لِسَانُ حَالِهِ : مَضَى عَهْدُ النَّوْمِ 

Saat beliau diajak untuk tidur atau beristirahat setelah itu, lisan keadaan beliau seolah berkata: "Telah berlalu masa untuk tidur."

وَيَقُولُ صَاحِبُ «الظِّلَالِ» فِي ذَلِكَ : عِلْمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنَّهُ لَمْ يَعُدْ هُنَاكَ نَوْمٌ، وَأَنَّ هُنَاكَ تَكْلِيفًا ثَقِيلًا، وَجِهَادًا طَوِيلًا، 

Pengarang Tafsir Fi Zhilalil Qur'an mengomentari hal tersebut: "Rasulullah ﷺ menyadari bahwa tidak ada lagi waktu tidur, yang ada adalah beban tugas yang berat, perjuangan yang panjang,

وَأَنَّهُ الصَّحْوُ وَالْكَدُّ وَالْجَهْدُ 

serta kesiapsiagaan, kerja keras, dan kepayahan.

قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ : قُمْ ! فَقَامَ وَظَلَّ قَائِمًا بَعْدَهَا أَكْثَرَ مِنْ عِشْرِينَ عَامًا 

Diperintahkan kepada Rasulullah ﷺ: 'Bangkitlah!' Maka beliau pun bangkit dan terus berdiri berjuang selama lebih dari dua puluh tahun.

إِنَّ الَّذِي يَعِيشُ لِنَفْسِهِ قَدْ يَعِيشُ مُسْتَرِيحًا، وَلَكِنَّهُ يَعِيشُ صَغِيرًا، وَيَمُوتُ صَغِيرًا 

Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri mungkin bisa hidup tenang dan santai, tetapi ia hidup sebagai orang kecil dan mati sebagai orang kecil.

فَأَمَّا الْكَبِيرُ الَّذِي يَحْمِلُ هَذَا الْعِبْءَ فَمَا لَهُ وَالنَّوْمُ ؟ وَمَا لَهُ وَالرَّاحَةُ ؟ وَمَا لَهُ وَالْفِرَاشُ الدَّافِئُ، وَالْعَيْشُ الْهَادِئُ، وَالْمَتَاعُ الْمُرِيحُ ؟ 

Adapun jiwa yang besar yang memikul beban berat ini, apa urusannya dengan tidur? Apa urusannya dengan istirahat? Apa urusannya dengan kasur yang hangat, hidup yang tenang, dan kesenangan yang nyaman?"

إِذَا كَانَ قَوْمُ مُوسَى حِينَ دُعُوا لِلْجِهَادِ وَلِدُخُولِ الأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ الَّتِي كَتَبَ اللهُ لَهُمْ قَعَدَتْ بِهِمُ الْهِمَمُ فَقَالُوا : 

Ketika kaum Nabi Musa diajak untuk berjihad dan memasuki tanah suci yang telah ditetapkan Allah bagi mereka, semangat mereka lumpuh lalu berkata:

﴿فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ﴾ [المائدة : ٢٤] 

"Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini." (QS. Al-Ma'idah [5]: 24)

فَإِنَّ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ﷺ أَبَتْ هِمَّتُهَا إِلَّا أَنْ تَقُولَ : 

Maka semangat umat Muhammad ﷺ menolak sikap itu dan menegaskan:

اذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا مَعَكُمَا مُقَاتِلُونَ 

"Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami akan ikut berperang bersamamu!"

لَقَدْ كَانَ ضَعْفُ الْهِمَّةِ صِفَةً مُمَيِّزَةً لِلْمُنَافِقِينَ وَالْمُتَخَلِّفِينَ الَّذِينَ فَرِحُوا بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللهِ، 

Sesungguhnya lemahnya semangat merupakan ciri khas orang-orang munafik dan orang-orang yang enggan ikut berperang, yang merasa gembira dengan duduk-duduk di belakang Rasulullah,

وَقَالُوا : ﴿لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ﴾ [التوبة : ٨١] 

dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (berperang) dalam panas terik ini!" (QS. At-Taubah [9]: 81)

وَصَدَقَ سَيِّدُ قُطْبٍ حَيْثُ قَالَ : وَالصَّفُّ الَّذِي يَتَخَلَّلُهُ الضُّعَفَاءُ الْمُسْتَرْخُونَ لَا يَصْمُدُ؛ لِأَنَّهُمْ يَخْذُلُونَهُ فِي سَاعَةِ الشِّدَّةِ 

Benarlah Sayyid Qutb ketika menyatakan: "Barisan/shaf yang disusupi oleh orang-orang lemah dan berleha-leha tidak akan mampu bertahan kokoh, karena mereka akan membelot dan mengecewakan di saat genting."

فَلِذَلِكَ لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ الْهِمَّةُ صِفَةً أَصِيلَةً فِي أَخْلَاقِ أَبْنَاءِ هَذَا الدِّينِ؛ لِكَيْ يَكُونُوا أَقْدَرَ عَلَى الثَّبَاتِ وَالِاحْتِمَالِ وَالصُّمُودِ 

Oleh karena itu, semangat tinggi harus menjadi karakter dasar dalam akhlak pemeluk agama ini, agar mereka mampu bertahan, menanggung beban, dan tegak berdiri.

إِنَّ الْعَرَبَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ كَانَ عِنْدَهُمْ مِنَ الْهِمَّةِ فِي تَحَمُّلِ الْمَسْؤُولِيَّةِ مَا نَحْنُ بِحَاجَةٍ إِلَى إِحْيَائِهِ وَاسْتِنْهَاضِهِ 

Bangsa Arab pada zaman Jahiliah memiliki semangat yang tinggi dalam memikul tanggung jawab, yang mana kita sangat perlu untuk menghidupkan dan membangkitkan kembali semangat tersebut.

فَفِي قِصَّةِ بَيْعَةِ الْعَقَبَةِ الثَّانِيَةِ حِينَ اشْتَرَطَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : 

Dalam kisah Baiat Aqabah Kedua, ketika Rasulullah ﷺ mengajukan syarat:

«تُبَايِعُونِي عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي النَّشَاطِ وَالْكَسَلِ...» 

"Kalian membaiatku untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan penuh semangat maupun saat malas/lelah..."

فَبَايَعُوهُ عَلَى جَمِيعِ شُرُوطِ الْبَيْعَةِ 

Maka mereka membaiat beliau di atas seluruh syarat baiat tersebut.

فَقَامَ أَسْعَدُ بْنُ زُرَارَةَ وَهُوَ مِنْ أَصْغَرِهِمْ 

Lalu berdirilah As'ad bin Zurarah, dan ia adalah salah satu yang paling muda di antara mereka,

يُرِيدُ أَنْ يَسْتَوْثِقَ مِنْ هِمَّتِهِمْ، وَأَنْ يَلْفِتَ نَظَرَهُمْ إِلَى التَّضْحِيَاتِ الَّتِي تَنْتَظِرُهُمْ 

ia ingin memastikan keteguhan semangat mereka serta mengarahkan perhatian mereka pada pengorbanan besar yang menanti mereka.

فَقَالَ : رُوَيْدًا يَا أَهْلَ يَثْرِبَ ! فَإِنَّا لَمْ نَضْرِبْ أَكْبَادَ الإِبِلِ إِلَّا وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَأَنَّ إِخْرَاجَهُ الْيَوْمَ مُفَارَقَةُ الْعَرَبِ كَافَّةً، 

Ia berkata: "Pelan-pelan (tenanglah) wahai penduduk Yatsrib! Kita tidak memacu unta-unta ini melainkan karena kita yakin bahwa beliau adalah utusan Allah ﷺ. Mengajak beliau keluar (pindah) hari ini berarti mengumumkan permusuhan dengan seluruh orang Arab,

وَقَتْلُ خِيَارِكُمْ، وَأَنْ تَعَضَّكُمُ السُّيُوفُ 

terbunuhnya orang-orang terbaik di antara kalian, dan pedang-pedang akan menebas kalian.

فَإِمَّا : أَنْتُمْ قَوْمٌ تَصْبِرُونَ عَلَى ذَلِكَ وَأَجْرُكُمْ عَلَى اللهِ، وَإِمَّا أَنْتُمْ قَوْمٌ تَخَافُونَ مِنْ أَنْفُسِكُمْ جَبِينَةً 

Maka adakalanya kalian adalah kaum yang bersabar atas semua risiko itu dan pahala kalian di sisi Allah, atau kalian adalah kaum yang takut pada diri kalian sendiri karena pengecut,

فَبَيِّنُوا ذَلِكَ، فَهُوَ عُذْرٌ لَكُمْ عِنْدَ اللهِ

maka jelaskanlah hal itu sekarang, karena itu bisa menjadi alasan (pembelaan) bagi kalian di hadapan Allah."

قَالُوا : أَمِطْ عَنَّا يَا أَسْعَدُ ! فَوَاللهِ لَا نَتْرُكُ هَذِهِ الْبَيْعَةَ أَبَدًا... 

Mereka menjawab: "Singkirkan ungkapan itu dari kami wahai As'ad! Demi Allah, kami tidak akan pernah meninggalkan baiat ini selama-lamanya!"

وَإِنَّ السَّعْيَ فِي أَبْوَابِ الْخَيْرِ لَيَقْتَضِي هِمَّةً وَنَشَاطًا وَانْدِفَاعًا، وَعَبَّرَ 

Usaha untuk meniti pintu-pintu kebaikan menuntut semangat, kecerdasan, dan kesungguhan.

عَنْ ذَلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِقَوْلِهِ : وَتَسْعَى بِشِدَّةِ سَاقَيْكَ إِلَى اللَّهْفَانِ الْمُسْتَغِيثِ، وَتَرْفَعُ بِشِدَّةِ ذِرَاعَيْكَ مَعَ الضَّعِيفِ، كُلُّ ذَلِكَ مِنْ أَبْوَابِ الصَّدَقَةِ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ

Rasulullah ﷺ mengungkapkan hal tersebut dalam sabdanya: "Dan engkau berlari cepat dengan kedua kaki-Mu untuk menolong orang yang sedih dan memohon bantuan, serta engkau mengangkat beban dengan sekuat kedua lenganmu bersama orang yang lemah; semua itu termasuk pintu-pintu sedekah dari dirimu untuk dirimu sendiri."

وَصَاحِبُ الْهِمَّةِ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ يَنْصَبَ وَيَتْعَبَ فِي إِنْجَازِ مَا كُلِّفَ بِهِ، حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُ قَامَ بِوَاجِبٍ آخَرَ مِنَ الْوَاجِبَاتِ الْكَثِيرَةِ الَّتِي لَا تَجِدُ لَهَا حَمَلَةً، 

Orang yang memiliki semangat tinggi selalu bertekad untuk bekerja keras dan bersusah payah menyelesaikan tugas yang diembannya. Bahkan ketika telah selesai, ia langsung beranjak mengerjakan kewajiban lain yang menumpuk yang belum ada pemikulnya.

فَقَدْ قَامَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ حِينَ رَشَّحَهُ أَبُو بَكْرٍ لِجَمْعِ الْقُرْآنِ بِأَدَاءِ مَا طُلِبَ مِنْهُ، مَعَ أَنَّهُ قَالَ : 

Zaid bin Tsabit r.a. telah melaksanakan tugas tersebut ketika dicalonkan oleh Abu Bakar r.a. untuk mengumpulkan Al-Qur'an, padahal ia sempat berkata:

«فَوَاللهِ لَوْ كَلَّفَنِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنَ الْجِبَالِ مَا كَانَ أَثْقَلَ عَلَيَّ مِمَّا أَمَرَنِي بِهِ مِنْ جَمْعِ الْقُرْآنِ

"Demi Allah, sekiranya beliau membebaniku untuk memindahkan salah satu gunung di antara gunung-gunung yang ada, hal itu tidaklah lebih berat bagiku daripada perintah mengumpulkan Al-Qur'an."

وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. وَحِينَ كَلَّفَ رَسُولُ اللهِ ﷺ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ بِتَعَلُّمِ لُغَةِ الْيَهُودِ، تَدَفَّقَتْ فِيهِ الْهِمَّةُ 

Namun ia tetap menuntaskan tugas tersebut r.a. Dan ketika Rasulullah ﷺ menugaskan Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa orang-orang Yahudi, meluaplah semangat dalam dirinya,

فَكَانَ مِنْ ثِمَارِهَا مَا عَبَّرَ عَنْهُ بِقَوْلِهِ : فَتَعَلَّمْتُ كِتَابَهُمْ، مَا مَرَّتْ بِي خَمْسَ عَشْرَةَ لَيْلَةً حَتَّى حَذِقْتُهُ، وَكُنْتُ أَقْرَأُ لَهُ كُتُبَهُمْ إِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ، وَأُجِيبُ عَنْهُ إِذَا كَتَبَ

Maka di antara hasilnya adalah apa yang diungkapkannya: "Aku mempelajari tulisan (bahasa) mereka, dan belum berlalu lima belas malam hingga aku telah menguasainya dengan mahir. Aku membacakan surat-surat mereka untuk Rasulullah jika mereka berkirim surat, dan aku menuliskan jawaban atas nama beliau jika beliau hendak membalasnya."

وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى أَنَّهُ كُلِّفَ بِتَعَلُّمِ السُّرْيَانِيَّةِ، فَتَعَلَّمَهَا فِي سَبْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا 

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia ditugaskan mempelajari bahasa Suryani/Ibrani, maka ia menguasainya hanya dalam waktu tujuh belas hari.

وَمِثْلُ هَذِهِ الطَّاقَةِ لَا تَتَوَفَّرُ إِلَّا إِذَا كَانَ وَرَاءَهَا هِمَّةٌ قَوِيَّةٌ وَنَشَاطٌ عَالٍ 

Potensi besar seperti ini tidak akan terwujud kecuali jika di baliknya terdapat semangat yang kuat dan dorongan kerja yang tinggi.

وَمِنْ صُوَرِ الْهِمَّةِ : الثَّبَاتُ عَلَى الْخَيْرِ وَالاِسْتِمْرَارُ فِيهِ، وَالدَّوَامُ عَلَيْهِ، وَهَذَا شَأْنُ رِجَالِ الْقُدْوَةِ فِي كُلِّ زَمَانٍ، سُئِلَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنْ عَمَلِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَتْ : كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً، وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَسْتَطِيعُ ؟ 

Di antara bentuk semangat adalah istiqamah dalam kebaikan, melanggengkannya, dan kontinuitas di dalamnya. Inilah keadaan para teladan di setiap zaman. Aisyah r.a. pernah ditanya tentang amalan Rasulullah ﷺ, lalu ia menjawab: "Amalan beliau adalah dimah (kontinu/terus-menerus). Dan siapakah di antara kalian yang sanggup melakukan apa yang sanggup dilakukan Nabi ﷺ?"

وَالتَّأْخِيرُ وَالتَّسْوِيفُ صُورَةٌ مِنْ صُوَرِ الضَّعْفِ الْبَشَرِيِّ الَّتِي قَدْ تَعْتَرِي صَاحِبَ الْهِمَّةِ 

Menunda-nunda dan mengulur-ulur waktu adalah bentuk kelemahan manusia yang terkadang hinggap pada diri orang yang memiliki semangat,

فَيَفُوتُهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ، وَهَذَا مَا أَحْرَقَ قَلْبَ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ إِذْ فَاتَهُ الْغَزْوُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ 

sehingga ia kehilangan banyak kebaikan. Hal inilah yang menghancurkan/membakar hati Ka'ab bin Malik ketika ia tertinggal dari Perang Tabuk bersama Rasulullah ﷺ,

وَهُوَ مُطْمَئِنٌّ بِأَنَّهُ مُسْتَعِدٌّ وَمُتَجَهِّزٌ وَلَدَيْهِ عُدَّتُهُ، ثُمَّ وَهُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ بِأَنَّهُ يُمْكِنُ أَنْ يَلْحَقَ بِهِ وَيُدْرِكَهُ 

padahal ia merasa tenang karena sudah siap, peralatannya lengkap, dan ia terus membatin bahwa ia bisa menyusul dan mendapati pasukan di jalan.

ثُمَّ كَانَ أَنْ قَالَ : «وَتَفَارَطَ الْغَزْوُ - أَيْ فَاتَ وَقْتُهُ - وَهَمَمْتُ أَنْ أَرْتَحِلَ فَأُدْرِكَهُمْ - وَلَيْتَنِي فَعَلْتُ - فَلَمْ يُقَدَّرْ لِي ذَلِكَ...» 

Hingga akhirnya ia berkata: "Perang telah berlalu (waktunya habis), aku bertekad untuk berangkat menyusul mereka —duhai sekiranya aku lakukan— namun hal itu tidak ditakdirkan bagiku..."

وَعَاشَ بَعْدَهَا كَعْبٌ فَتْرَةً مِنَ الْعَذَابِ النَّفْسِيِّ حِينَمَا رَجَعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، ثُمَّ خَمْسِينَ يَوْمًا مِنَ الهَجْرَانِ... إِلَى أَنْ نَزَلَتْ تَوْبَتُهُ، عَاشَ كُلَّ ذَلِكَ الضِّيقِ نَتِيجَةَ تَبَاطُؤٍ وَقَعَ فِيهِ، أَوْ تَسْوِيفٍ انْزَلَقَ إِلَيْهِ 

Setelah itu Ka'ab mengalami penderitaan batin yang berat ketika Rasulullah ﷺ kembali, dilanjutkan dengan pengucilan selama 50 hari hingga tobatnya dikabulkan. Ia mengalami seluruh kesempitan itu akibat kelambatan yang dilakukannya atau sifat menunda-nunda yang membuatnya tergelincir.

وَصَاحِبُ الْهِمَّةِ سَبَّاقٌ إِلَى الْخَيْرَاتِ فِي أَغْلَبِ الأَوْقَاتِ، وَكَذَلِكَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَكُلَّمَا ضَعُفَ الإِيمَانُ ضَعُفَتْ مَعَهُ الْهِمَّةُ إِلَى الطَّاعَاتِ، 

Orang yang memiliki semangat tinggi selalu berlomba-lomba menuju kebaikan di setiap waktu, begitu pula para sahabat Rasulullah ﷺ. Setiap kali iman melemah, melemah pula semangat untuk melakukan ketaatan.

وَمِنْ تَصْوِيرِ سَيِّدِ قُطْبٍ لِلنَّفْسِيَّةِ الْمُنَافِقِينَ الْكُسَالَى قَوْلُهُ : إِنَّ هَؤُلَاءِ لَهُمْ نَمُوذَجٌ لِضَعْفِ الْهِمَّةِ، وَطَرَاوَةِ الإِرَادَةِ، وَكَثِيرُونَ هُمُ الَّذِينَ يُشْفِقُونَ مِنَ الْمَتَاعِبِ، وَيَنْفِرُونَ مِنَ الْجَهْدِ، وَيُؤْثِرُونَ الرَّاحَةَ الرَّخِيصَةَ عَلَى الْكَدْحِ الْكَرِيمِ، وَيُفَضِّلُونَ السَّلَامَةَ الذَّلِيلَةَ عَلَى الْخَطَرِ الْعَزِيزِ، وَهُمْ يَتَسَاقَطُونَ إِعْيَاءً خَلْفَ الصُّفُوفِ الْجَادَّةِ الزَّاحِفَةِ

Di antara penggambaran Sayyid Qutb mengenai kondisi psikologis orang-orang munafik yang malas adalah perkataannya: "Sesungguhnya mereka adalah contoh dari lemahnya semangat dan rapuhnya kemauan. Betapa banyaknya orang yang takut pada kesulitan, lari dari kerja keras, lebih memilih kenyamanan yang murah dibanding kerja keras yang mulia, dan lebih menyukai keselamatan yang hina dibanding risiko yang bermartabat. Mereka berjatuhan karena kelelahan di belakang barisan yang sungguh-sungguh berjuang."

وَيَحْدُو الْمُسْلِمَ وَيُجَدِّدُ هِمَّتَهُ تَذَكُّرُ مَا أَعَدَّهُ اللهُ لَهُ مِنَ الأَجْرِ وَالرِّضَا وَالنَّعِيمِ، وَهَذَا مَا عَبَّرَ عَنْهُ ابْنُ الْقَيِّمِ بِقَوْلِهِ : كُلَّمَا سَكَنَتْ نَفْسُهُ مِنْ كَلَالِ السَّيْرِ وَمَوَاصَلَةِ الشَّدِّ وَالرَّحِيلِ، وَعَدَهَا قُرْبَ التَّلَاقِي، وَبَرْدَ الْعَيْشِ عِنْدَ الْوُصُولِ، فَيُحْدِثُ لَهَا ذَلِكَ نَشَاطًا وَفَرَحًا وَهِمَّةً، فَهُوَ يَقُولُ : يَا نَفْسُ أَبْشِرِي فَقَدْ قَرُبَ الْمَنْزِلُ، وَدَنَا التَّلَاقِي، فَلَا تَنْقَطِعِي فِي الطَّرِيقِ دُونَ الْوُصُولِ، فَيُحَالَ بَيْنَكِ وَبَيْنَ مَنَازِلِ الأَحِبَّةِ... 

Seorang muslim akan terdorong dan terpanggil untuk memperbarui semangatnya dengan mengingat apa yang telah disiapkan Allah baginya berupa pahala, keridaan, dan kenikmatan. Hal ini sebagaimana diungkapkan Ibnul Qayyim: "Setiap kali jiwanya merasa letih karena perjalanan jauh serta keletihan menempuh marabahaya, ia menjanjikannya dengan dekatnya hari pertemuan dan sejuknya kehidupan saat sampai di tujuan. Maka timbullah semangat, kegembiraan, dan kebangkitan jiwa. Ia berkata: 'Wahai jiwa, bergembiralah! Sungguh tempat persinggahan sudah dekat, dan hari pertemuan makin hampir. Janganlah engkau terputus di tengah jalan sebelum sampai, sehingga engkau terhalang dari kedudukan para kekasih Allah...'"

وَلَا بُدَّ لِصَاحِبِ الْهِمَّةِ مِنْ أَنْ يَكُونَ مُعَلَّقَ الْقَلْبِ بِاللهِ، مُخْلِصًا لَهُ، فَنُفُوسُ الأَشْقِيَاءِ : ﴿عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ ۝ تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً﴾ [الغاشية : ٣-٤] 

Orang yang memiliki semangat tinggi harus menautkan hatinya kepada Allah dan ikhlas karena-Nya. Adapun jiwa orang-orang yang celaka dikabarkan dalam firman-Nya: "Bekerja keras lagi kepayahan, mereka memasuki api yang sangat panas (neraka)." (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 3-4)

وَتَكُونُ النَّارُ بَعْدَ كُلِّ السَّعْيِ وَالْجَهْدِ الْمَشُوبِ بِالرِّيَاءِ أَوِ الشِّرْكِ حَرْقَةً بَعْدَ حَرْقَةٍ 

Neraka menjadi tempat mereka setelah semua usaha dan kerja keras yang ternoda oleh riya atau syirik, sebagai penyesalan di atas penyesalan.

وَأَمَّا فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ أَهْلَ الْهِمَّةِ يَجِدُونَ أَنْفُسَهُمْ مَدْفُوعِينَ مِنْ دَاخِلِ قُلُوبِهِمْ إِلَى أَمْرٍ مَلَكَ عَلَيْهِمْ أَفْئِدَتَهُمْ 

Adapun di dunia, orang-orang yang bersemangat tinggi menemukan diri mereka terdorong dari dalam hati mereka menuju perkara besar yang menguasai jiwa mereka.

وَأَمْثَالُ هَؤُلَاءِ غَالِبًا يَظْفَرُونَ بِمَا سَعَوْا إِلَيْهِ، وَيُحَقِّقُونَ مَا حَرِصُوا عَلَيْهِ 

Orang-orang seperti inilah yang umumnya berhasil meraih apa yang mereka upayakan dan mewujudkan apa yang mereka cita-citakan.

وَيُعَبِّرُ عَنْ ذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ بِقَوْلِهِ : فَتِلْكَ هِيَ الْهِمَّةُ الْعَالِيَةُ الَّتِي لَا يُقْدَرُ مَعَهَا عَلَى الْمَهَلَةِ، وَلَا يَتَمَالَكُ صَبْرَهُ... وَلَا يَلْتَفِتُ عَنْهَا... وَصَاحِبُ هَذِهِ الْهِمَّةِ سَرِيعٌ وُصُولُهُ، وَظَفَرُهُ بِمَطْلُوبِهِ

Hal tersebut diungkapkan oleh Ibnul Qayyim: "Itulah semangat yang tinggi (al-himmatul 'aliyah), yang dengannya seseorang tidak lagi menunda-nunda, tidak bisa berdiam diri, dan tidak berpaling darinya... Orang yang memiliki semangat seperti ini akan sangat cepat sampai di tujuan dan berhasil meraih cita-citanya."

وَالدَّاعِيَةُ الْحَرِيصُ عَلَى سُرْعَةِ الْوُصُولِ وَالظَّفَرِ بِالْمَطْلُوبِ بَابُهُ الْهِمَّةُ 

Seorang dai yang berkeinginan cepat sampai pada tujuan dan meraih keberhasilan, kuncinya adalah semangat (himmah).

فَنَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَنَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ النَّشَاطَ لِمَا يُرْضِيهِ 

Maka kita berlindung kepada Allah dari ketidakberdayaan dan kemalasan, serta memohon kepada-Nya semangat untuk melakukan apa yang diridai-Nya.

خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ 

KESIMPULAN

ـ لِفَرْطِ هِمَّةِ الصَّحَابَةِ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَرُدُّهُمْ إِلَى مَا يُطِيقُونَ 

✓ Karena begitu tingginya semangat para sahabat, Rasulullah ﷺ mengarahkan mereka untuk beramal sesuai batas kemampuan mereka.

اسْتِعَاذَةُ رَسُولِ اللهِ ﷺ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ 

✓ Rasulullah ﷺ memohon perlindungan dari sifat tidak berdaya ('ajz) dan malas (kasal).

نُصُوصٌ كَثِيرَةٌ تَدْعُو إِلَى الْمُسَابَقَةِ وَالْمُسَارَعَةِ وَهَذَا لَا يَكُونُ بِغَيْرِ هِمَّةٍ 

✓ Banyak dalil yang mengajak untuk berlomba-lomba dan bersegera, dan hal ini tidak akan terwujud tanpa semangat tinggi (himmah).

مِنْ أَصْدَقِ الأَسْمَاءِ عِنْدَ اللهِ : حَارِثٌ، وَهَمَّامٌ 

✓ Di antara nama yang paling jujur/tepat menggambarkan hakikat manusia adalah Harits dan Hammam.

مِنْ بِدَايَةِ الدَّعْوَةِ كَانَتِ التَّكْلِيفَاتُ تَقْتَضِي هِمَّةً عَالِيَةً 

✓ Sejak awal dakwah, tugas-tugas agama sudah menuntut adanya semangat yang tinggi.

ضَعْفُ الْهِمَّةِ كَانَ صِفَةً مُمَيِّزَةً لِلْمُنَافِقِينَ 

✓ Lemahnya semangat merupakan ciri khas orang-orang munafik.

كَانَ لَدَى عَرَبِ الْجَاهِلِيَّةِ مِنَ الْهِمَّةِ مَا أَهَّلَهُمْ لِحَمْلِ الرِّسَالَةِ 

✓ Orang Arab Jahiliah memiliki semangat pantang menyerah yang menyiapkan mereka untuk memikul amanah risalah Islam.

أَعْمَالُ الْبِرِّ لَا تُنْجَزُ إِلَّا بِالْهِمَّةِ، وَالْهِمَّةُ تُوَلِّدُ الْقُدْرَةَ 

✓ Perbuatan baik tidak akan tuntas kecuali dengan semangat, dan semangat itu sendiri yang akan melahirkan kemampuan.

مِنْ صُوَرِ الْهِمَّةِ : 

✓ Di antara bentuk-bentuk semangat tinggi:

الدَّوَامُ عَلَى عَمَلِ الْخَيْرِ 

✓ Kontinu (istikamah) dalam berbuat kebaikan.

عَدَمُ التَّسْوِيفِ وَالتَّأْخِيرِ 

✓ Tidak menunda-nunda dan mengulur-ulur waktu.

عَدَمُ إِيثَارِ الرَّاحَةِ وَالسَّلَامَةِ 

✓ Tidak mengutamakan kenyamanan dan keselamatan yang hina.

مَعْرِفَةُ مَا أَعَدَّ اللهُ مِنَ الأَجْرِ، يَشْحَذُ الْهِمَّةَ لِلْعَمَلِ 

✓ Mengetahui pahala yang disiapkan Allah dapat membakar semangat untuk beramal.

الْهِمَّةُ بِغَيْرِ إِخْلَاصٍ شَقَاءٌ وَنَصَبٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ 

✓ Semangat tanpa keikhlasan hanya akan menjadi kesengsaraan dan kelelahan di dunia maupun akhirat.

 

Sumber:

هَذِهِ أَخْلَاقُنَا حِينَ نَكُونُ مُؤْمِنِينَ 

The Most Perfect Habit 

Mahmud Muhammad Al Hazandar 

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞ 

Catatan Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar: