BAB 02
AKHLAK YANG HARUS DIMILIKI DALAM BERDAKWAH
PASAL 07
تَقْدِيمُ النَّفْعِ
Mendahulukan yang Bermanfaat
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ
"Orang yang paling dicintai Allah adalah orang
yang paling banyak manfaatnya. " 246
نَرَى كَثِيرًا مِنَ الطَّاقَاتِ الْمَدْفُونَةِ
بَيْنَ جَوَانِحِ أَصْحَابِهَا،
Kita melihat banyak potensi tersembunyi dalam diri
pemiliknya
وَنَلْمَسُ جَوَانِبَ مِنَ الْخَيْرِ كَامِنَةً فِي
نُفُوسِ أَرْبَابِهَا
dan kita juga dapat merasakan banyak kebaikan
terselubung dalam jiwa pemiliknya.
وَلَكِنَّهَا غَيْرُ مُتَعَدِّيَةٍ إِلَى الآخَرِينَ
لَا بِنَفْعٍ وَلَا إِفَادَةٍ
Akan tetapi, sayang sekali, kebaikan itu tidak
dirasakan oleh orang lain, baik manfaatnya maupun petunjuknya.
وَكَمْ تَكُونُ الصُّورَةُ مُحْزِنَةً حِينَ تَجِدُ
فَقِيهًا بِصُحْبَةِ جَاهِلٍ لَمْ يُفِدْهُ مِنْ فِقْهِهِ
Berapa banyak contoh menyedihkan yang terjadi, di
mana seorang faqih (orang pintar) bergaul bersama orang bodoh namun orang bodoh
ini tidak mendapatkan manfaat kepandaian kawannya.
وَقَارِئًا بِرُفْقَةِ أُمِّيٍّ لَمْ يَنْفَعْهُ
بِحُسْنِ تِلَاوَتِهِ
Atau, seorang yang pandai membaca bergaul dengan
orang buta huruf, namun orang buta huruf tidak mendapatkan manfaat dari
kepandaian kawannya.
وَعَابِدًا بِجِوَارِ فَاسِقٍ وَلَمْ يَتَعَدَّ
إِلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ صَلَاحِهِ
Atau, seorang saleh yang bertetangga dengan orang
fasik, namun kebaikannya tidak dapat dicontoh oleh orang fasik
الدَّعْوَةُ نَفْسُهَا نَفْعٌ عَامٌّ
Dakwah pada intinya adalah memberi manfaat kepada
orang lain.
فَحِينَ دَخَلَ أَبُو ذَرٍّ فِي الْإِسْلَامِ كَانَ
مِنْ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مَعَهُ أَنْ قَالَ لَهُ
Ketika Abu Dzar masuk Islam, di antara
percakapannya bersama Rasulullah ﷺ
beliau berkata kepada Abu Dzar,
فَهَلْ أَنْتَ مُبَلِّغٌ عَنِّي قَوْمَكَ؛ لَعَلَّ
اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَنْفَعَهُمْ بِكَ، وَيَأْجُرَكَ فِيهِمْ
"Apakah engkau dapat menjadi utusanku kepada
kaummu. Semoga Allah memberi manfaat kepada mereka melalui dirimu, dan memberi
pahala kepadamu karena bersama mereka." Shahih al-Jami hadits no. 176
(hasan). Shahih al-Jami'hadits no. 176 (hasan).
وَكَانَتِ التَّرْبِيَةُ الْأُولَى لِحَدِيثِ
الدُّخُولِ فِي الْإِسْلَامِ تَرْبِيَةً عَلَى الدَّعْوَةِ، وَالْحِرْصِ عَلَى
تَعَدِّي نَفْعِهِ إِلَى الْآخَرِينَ
Pendidikan pertama bagi orang yang baru masuk Islam
adalah pendidikan dalam berdakwah dan usaha untuk memberikan manfaat kepada
orang lain.
وَكَانَ خَالُ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ يَرْقِي
مِنَ الْعَقْرَبِ، فَقَالَ
Paman Jabir bin Abdullah melakukan ruqyah
(pengobatan dengan membaca Al-Qur'an) karena terkena sengatan kalajengking.
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى،
وَإِنِّي أَرْقِي مِنَ الْعَقْرَبِ
Ia berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai
Rasulullah, engkau melarang untuk melakukan ruqyah, namun sesungguhnya aku
telah melakukannya karena terkena sengatan kalajengking."
وَكَأَنَّهُ يَسْتَأْذِنُ فِي ذَلِكَ
Ketika berkata seperti itu, ia seakan-akan meminta
izin untuk melakukan hal itu.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ
Rasulullah ﷺ
menjawab, "Barangsiapa yang dapat membantu saudaranya maka
lakukanlah." Shahih Muslim, kitab al-Fadhail, bab 28, hadits no. 132/ 2473
(Syarh an- Nawawi 8/260).
وَمَعَ التَّشْدِيدِ الْوَارِدِ بِشَأْنِ السِّحْرِ
فَقَدْ أَفْتَى سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ بِجَوَازِ
Walaupun ada larangan keras dalam hal yang
berkenaan dengan sihir, Sa'id bin Musayib telah berfatwa untuk membolehkan
meminta bantuan ahli sihir untuk mengobati orang yang terkena sihir.
الاسْتِعَانَةِ بِسَاحِرٍ فِي حَلِّ السِّحْرِ عَنِ
الْمُصَابِ بِهِ، وَقَالَ فِي ذَلِكَ : لَا بَأْسَ بِهِ، إِنَّمَا يُرِيدُونَ بِهِ
الْإِصْلَاحَ، فَأَمَّا مَا يَنْفَعُ فَلَمْ يُنْهَ عَنْهُ
Dalam hal itu ia berkata, "Tidak masalah
memakainya, karena tujuan mereka untuk kebaikan. Segala sesuatu yang dapat
memberi manfaat, maka tidak dilarang." Musnad Ahmad,3/ 302 Muslim juga
meriwayatkannya dalam kitab as-Salam, hadits no. 62/2199 (Syarh an-Nawawi,
7/437
فَالْأَصْلُ فِي الْمُسْلِمِ أَنَّهُ يَسْعَى لِنَفْعِ النَّاسِ لَا أَنَّهُ يَمْنَعُ النَّفْعَ عَنْهُمْ
Pada dasarnya, seorang muslim harus berusaha
memberi manfaat bagi orang lain, dan bukan menghalangi manfaat yang ada pada
mereka. Shahih Bukhari kitab ath-Thib, penjelasan bab 49 (Fat-hu al-Baari
10/233).
وَتَجِدُ بَعْضَ النُّفُوسِ أَحْيَانًا تَمْتَنِعُ
عَنِ الْإِقْدَامِ عَلَى أَعْمَالٍ لَا تَضُرُّهَا
Beberapa orang merasa enggan untuk melakukan
perbuatan yang tidak merugikannya padahal perbuatan tersebut dapat memberi
manfaat bagi orang lain,
مَعَ أَنَّ فِيهَا نَفْعًا لِغَيْرِهَا، اقْتِصَارًا
عَلَى مَصَالِحِهَا الشَّخْصِيَّةِ فِي حُدُودِ ذَوَاتِهَا وَاهْتِمَامَاتِهَا
dan hal itu disebabkan karena ia hanya melakukan
dan memperhatikan sesuatu yang dapat memberikan manfaat untuk kepentingan
pribadinya.
وَلَيْسَ هَذَا مِنْ شَأْنِ الْمُسْلِمِ
Hal inilah yang tidak termasuk karakter seorang
mukmin.
وَلِذَلِكَ عَنَّفَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ مُحَمَّدَ بْنَ مَسْلَمَةَ لَمَّا مَنَعَ الضَّحَّاكَبْنَ
خَلِيفَةَ مِنْ حَفْرِ سَاقِيَةِ مَاءٍ تَصِلُ إِلَى أَرْضِهِ مَارَّةً
بِأَرْضِ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْلَمَةَ
Oleh karena itu, Umar bin Khaththab r.a. mengecam
keras Muhammad bin Maslamah yang melarang Dhahak bin Khalifah untuk menggali
saluran air yang melewati tanah miliknya.
فَقَالَ عُمَرُ : لِمَ تَمْنَعُ أَخَاكَ مَا
يَنْفَعُهُ، وَهُوَ لَكَ نَافِعٌ، تَسْقِي بِهِ أَوَّلًا وَآخِرًا، وَهُوَ لَا
يَضُرُّكَ
Umar berkata, "Mengapa engkau melarang
saudaramu yang dapat memberi manfaat baginya? Bukankah itu juga bermanfaat
untukmu? Mengairi tanah pertama dan yang terakhir tidak akan merugikanmu.
وَاللَّهِ لَيَمُرَّنَّ بِهِ وَلَوْ عَلَى بَطْنِكَ
Demi Allah, ia boleh menggali saluran air walaupun
harus melewati perutmu."
[[= Catatan : Pembahasan tentang penghalalan sihir
secara mutlak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, untuk lebih jelasnya
silakan lihat buku "Peringatan yang gamblang untuk memperingatkan
orang-orang sakit dan yang berobat dengan menggunakan ruqyah dan
Al-Qur'an," karangan Fathi bin Fathi al-Jundi. Buku tersebut cetakan bar
Thaibah. Juga perlu melihat kitab Fat-hul Majid Syarah, Kitab at-Tauhid dalam
bab an-Nasrah=]]
إِنَّ الْأَصْلَ فِي الْمُسْلِمِ أَنَّهُ يَسْعَى
إِلَى تَقْدِيمِ الْخِدْمَةِ لِمَنْ يَحْتَاجُهَا وَالنَّصِيحَةِ لِمَنْ
يَجْهَلُهَا، وَالْمَنْفَعَةِ إِلَى مَنْ هُوَ أَهْلٌ لَهَا، بِمُبَادَرَةٍ مِنْهُ
وَحِرْصٍ مِنْ طَرَفِهِ
Pada dasarnya, seorang muslim harus mengulurkan
bantuan bagi siapa saja yang membutuhkan, memberikan petunjuk bagi orang yang
tidak tahu dan memberi bantuan kepada orang yang berhak. Namun, perbuatan itu
dilakukan karena inisiatif dan keinginannya sendiri.
وَرَسُولُنَا ﷺ كَانَ يَسْعَى إِلَى الْعَبَّاسِ
لِيَقُولَ لَهُ :يَا عَمِّ ! أَلَا أَحْبُوكَ ؟ أَلَا أَنْفَعُكَ ؟ أَلَا أَصِلُكَ
؟
Rasulullah ﷺ
telah menawarkan beberapa hal kepada Abbas. Beliau berkata kepadanya,
"Wahai paman, apakah engkau ingin aku mencintaimu? Apakah engkau ingin aku
memberi manfaat untukmu? Dan, apakah engkau ingin aku menguatkan silaturahmi
denganmu?" Muwatha', Imam Malik, kitab al-Aqdiyah, bab 26, hadits no. 33
وَعَلَّمَهُ صَلَاةَ التَّسْبِيحِ، وَهَكَذَا كَانَ
يَعْرِضُ نَفْسَهُ لِلنَّفْعِ
Beliau mengajarkan Abbas tentang shalat tasbih.
Demikianlah, beliau menawarkan dirinya untuk memberikan bantuan (manfaat),
وَيُعَلِّمُ النَّاسَ النَّفْعَ، وَكَانَ مِنْ
وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لِأَبِي بَرْزَةَ حِينَ جَاءَهُ يَقُولُ
mengajarkan orang lain tentang manfaat (yang dapat
diraihnya). Rasulullah ﷺ berwasiat kepada Abu
Barzah ketika ia mendatangi Rasulullah. Abu Barzah berkata, "
يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي شَيْئًا يَنْفَعُنِي
اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِهِ، قَالَ لَهُ
Wahai Rasulullah, ajarkan aku sesuatu yang dapat
memberikan manfaat bagiku dari Allah subhanallah wa ta'ala, Rasulullah ﷺ menjawab,
انْظُرْ مَا يُؤْذِي النَّاسَ فَاعْزِلْهُ عَنْ
طَرِيقِهِمْ
"Carilah hal-hal yang dapat membahayakan orang
banyak, lalu buanglah dari jalan mereka." Shahih Sunan Ibnu Majah, kitab
Shalat, bab 190, hadits no. 1138/1386 (shahih).
وَمِثْلُ هَذِهِ الْخِدْمَاتِ تُنَمِّي فِي نَفْسِ
الدَّاعِيَةِ التَّوَاضُعَ
Sikap membantu ini harus ditumbuhkan dalam jiwa
seorang dai yang tawadhu.
وَتُعَمِّقُ فِي نَفْسِهِ مَعَانِيَ الْخَيْرِ،
وَتَجْعَلُ الْمُجْتَمَعَ مِنْ حَوْلِهِ يَرَى فِيهِ حِرْصًا عَمَلِيًّا عَلَى
كُلِّ مَا يَعُودُ عَلَيْهِمْ بِنَفْعٍ، أَوْ يَدْفَعُ عَنْهُمْ ضَرَرًا
Harus ditanamkan nilai-nilai kebaikan di dalam
dirinya agar masyarakat dapat melihat, bahwa dalam diri seorang dai tertanam
keinginan untuk melakukan hal-hal yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat
umum atau dapat mencegah kerugian yang akan menimpa mereka.
وَإِذَا مَا تَذَكَّرَ الْمُؤْمِنُ نِعْمَةَ اللَّهِ
عَلَيْهِ بِالْهِدَايَةِ، وَذَاقَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَنَعِيمَ الطَّاعَةِ
Seorang mukmin, apabila ia ingat nikmat Allah dalam
bentuk hidayah yang diberikan kepadanya dan telah merasakan nikmatnya iman dan
indahnya ketaatan,
فَلَنْ يَبْخَلَ بِالْكَلِمَةِ الطَّيِّبَةِ؛
لِيَسْتَنْقِذَ بِهَا أُنَاسًا مَا زَالُوا مَحْرُومِينَ مِمَّا ذَاقَ،
وَمَحْجُوبِينَ عَمَّا عَرَفَ
maka ia tidak akan pelit untuk membagikan
nasihatnya yang baik untuk menyelamatkan manusia yang masih belum mendapatkan
apa yang telah ia rasakan dan terhalang dari apa yang telah ia ketahui.
وَلِذَلِكَ ضَرَبَ ﷺ مَثَلًا بِالْأَرْضِ
الطَّيِّبَةِ الَّتِي قَبِلَتِ الْغَيْثَ فَأَنْبَتَتْ
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mengumpamakannya
seperti tanah yang subur ketika ia menerima hujan, maka ia akan menumbuhkan
tanaman.
فَقَالَ : فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَنَفَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا بَعَثَنِي بِهِ،
وَنَفَعَ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ
Beliau bersabda, "Hal itu seperti orang yang
memahami agama dan Allah membantunya dengan ilmu yang diturunkan kepadaku
sehingga ia menikmati manfaatnya. Ia menjadi tahu dan mengajarkannya (kepada
orang lain). " Musnad Ahmad, 4/423. Imam Muslim juga meriwayatkan hal
senada dalam kitab al-Birr, hadits no. 132/1914.
وَالدَّاعِيَةُ الْحَرِيصُ هُوَ الْأَرْضُ
الطَّيِّبَةُ الَّتِي تَشَرَّبَتِ الْخَيْرَ وَجَادَتْ بِهِ
Seorang dai yang sungguh-sungguh ingin membantu,
seperti tanah subur yang menyerap kebaikan dan menggunakannya dengan baik.
وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِيَتْرُكَ فُرْصَةَ
رُكُوبِ غُلَامٍ - كَابْنِ عَبَّاسٍ -
Rasulullah ﷺ
tidak meninggalkan seorang anak yang menaiki kendaraan di belakangnya seperti
Ibnu Abbas,
خَلْفَهُ دُونَ أَنْ يَزِيدَهُ انْتِفَاعًا بِمَا
يُرَبِّيهِ وَيَمْلَأُ وَقْتَ الطَّرِيقِ، فَقَالَ لَهُ
kecuali beliau memberikan manfaat baginya melalui
pendidikannya dan mengisi waktu perjalanannya. Beliau bersabda,
أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ
بِهِنَّ .. احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
"Apakah engkau ingin aku ajarkan kalimat yang Allah akan menjadikannya bermanfaat bagimu; jagalah Allah maka Allah akan menjagamu." Shahih Bukhari kitab al-'Ilmu, bab 20, hadits no. 79 (Fat-hu al-Baari 1/175).
وَاصْطَبَغَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
بِهَذَا الْخُلُقِ، وَكَانَ هَذَا شَأْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ مَعَ أَنَسِ بْنِ
حَكِيمٍ حَيْثُ قَالَ لَهُ
Semua sahabat pun terwarnai oleh akhlak ini. Inilah
kondisi Abu Hurairah r.a. bersama Anas bin Hakim ketika ia berkata kepadanya,
يَا فَتَى ! أَلَا أُحَدِّثُكَ حَدِيثًا لَعَلَّ
اللَّهَ أَنْ يَنْفَعَكَ بِهِ ؟ .. إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلَاةُ ..
"Wahai pemuda, apakah engkau ingin aku
ceritakan sebuah hadits yang semoga Allah memberi manfaat bagimu? Sesungguhnya,
amal pertama yang akan dihisab pada hari Kiamat adalah shalat." Musnad
Ahmad, 1/307, al-Bani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami'hadits no. 7957.
وَنَفْعُ الْأَقْرَبِينَ أَكْثَرُ وُجُوبًا
وَأَعْظَمُ أَجْرًا . قَالَ أَبُو قِلَابَةَ
Membantu keluarga lebih wajib dan lebih banyak
pahalanya. Abu Qalabah berkata,
وَأَيُّ رَجُلٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ رَجُلٍ
يُنْفِقُ عَلَى عِيَالٍ صِغَارٍ؛ يُعِفُّهُمُ أَوْ يَنْفَعُهُمُ اللَّهُ بِهِ :
وَيُعِينُهُمُ اللَّهُ بِهِ وَيُغْنِيهِمْ !
"Seorang laki-laki yang paling banyak
pahalanya adalah laki-laki yang menginfakkan hartanya untuk keluarganya yang
masih anak-anak. Allah akan mencukupkan mereka atau membantunya melalui orang
ini dan Allah akan membantu mereka dan mencukupkannya melaluinya. Musnad Ahmad,
2/425. Dan hadits marfu ad Ahmad, yang ada dalam Shahih Abu Daud karangan
al-Bani, hadits no. 770/864 (shahih).
وَهَذَا الْاهْتِمَامُ بِالْأَقَارِبِ كَسْبٌ
لِقُلُوبِهِمْ، وَصِلَةُ رَحِمٍ، وَرَمْزُ وَفَاءٍ
Perhatian kepada keluarga akan menarik simpati hati
mereka, menyambungkan silaturahmi, simbol tanggung jawab,
وَعُنْوَانُ مَحَبَّةٍ، وَدَلِيلُ رَحْمَةٍ، خَاصَّةً
حِينَ يَكُونُ فِيهِمْ أَطْفَالٌ صِغَارٌ
tanda rasa cinta dan bukti kasih sayang, khususnya
ketika mereka masih anak- anak.
يَفْتَقِدُونَ الرِّعَايَةَ وَالْحَنَانَ وَأَهَمَّ
الْحَاجَاتِ الْبَشَرِيَّةِ
Anak-anak yang kehilangan pengawasan dan rasa kasih
sayang karena itu merupakan kebutuhan manusia yang paling penting.
إِنَّ أَبْوَابَ النَّفْعِ كَثِيرَةٌ، أَجْمَلَهَا
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِقَوْلِهِ
Sesungguhnya, banyak jalan (cara) yang dapat kita
lakukan untuk membantu. Rasulullah ﷺ
telah meringkasnya dalam sabdanya,
عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ ، وَضَرَبَ لَهَا
بَعْضَ الْأَمْثِلَةِ بِحَسَبِ الْقُدْرَةِ
"Setiap muslim berkewajiban untuk
bersedekah." Beliau memberi perumpamaan sesuai dengan kemampuannya,
فَيَعْمَلُ بِيَدَيْهِ، فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ
وَيَتَصَدَّقُ
"Bekerja dengan tangannya sendiri dapat
membantu dirinya untuk bersedekah.
فَيُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ
Ia juga dapat membantu orang yang sedang
membutuhkan.
وَإِنْ لَمْ : يَفْعَلِ الْمُسْلِمُ شَيْئًا مِنْ
ذَلِكَ : فَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ
Apabila ia tidak dapat melakukannya, maka jagalah
dirimu agar tidak melakukan kejahatan, karena hal itu juga termasuk
sedekah." Shahih Muslim, kitab az-Zakat, bab 12, hadits no. 38/1994 (Syarh
an-Nawawi, 4/85).
وَهَذِهِ أَدْنَى مَرَاتِبِ النَّفْعِ الَّتِي لَا
يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَنْزِلَ عَنْهَا، وَلَا يَلِيقُ بِدَاعِيَةٍ أَنْ
يَقِفَ عِنْدَهَا
Ini adalah tingkat bantuan yang paling kecil.
Seorang mukmin tidak layak melakukan yang lebih rendah dari itu dan tidak baik
jika tetap terus dalam tingkatan seperti itu.
وَالْجِهَادُ أَعْلَى مَرَاتِبِ النَّفْعِ
وَالْعُزْلَةُ أَدْنَاهَا
Jihad adalah tingkatan tertinggi dalam memberi
bantuan, sedang mengasingkan diri adalah tingkatan yang paling rendah.
سَأَلَ أَعْرَابِيٌّ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! أَيُّ
النَّاسِ خَيْرٌ؟
Seorang Badui bertanya pada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, orang apa yang
paling baik?"
قَالَ : رَجُلٌ جَاهَدَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، وَرَجُلٌ فِي شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ، يَعْبُدُ رَبَّهُ، وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ
Beliau menjawab, "Seorang laki-laki yang berjuang dengan jiwa dan hartanya dan seorang laki-laki yang memisahkan diri, ia menyembah Tuhannya dan meninggalkan kejahatan." Shahih Bukhari kitab al-Adab, bab 33, hadits no. 6022 (Fat-hu al-Baari 10/447).
فَالَّذِي جَاهَدَ نَفَعَ النَّاسَ بِتَضْحِيَتِهِ
بِرُوحِهِ وَجُودِهِ بِمَالِهِ لِحِمَايَتِهِمْ وَلإِرْهَابِ عَدُوِّهِمْ وَهَذَا
أَكْبَرُ الْخَيْرِ
Orang yang berjuang membantu masyarakat dengan
mengorbankan jiwanya dan menginfakkan hartanya untuk mereka dan menakut-nakuti
musuh-musuhnya, ini adalah tingkat kebaikan tertinggi.
وَالنَّاسُ يَتَفَاوَتُونَ فِي الْخَيْرِ مَا بَيْنَ
مَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ وَمَنْزِلَةِ الْمُعْتَزِلِ الْكَافِّ لِشَرِّهِ عَنِ
النَّاسِ
Manusia berbeda-beda dalam tingkat kebaikannya.
Tingkat seorang mujahid dengan tingkat seorang yang berkhalwat (menyendiri)
untuk menjaga dirinya dari kejahatan manusia juga berbeda.
وَتَعْظُمُ الْمَسْؤُولِيَّةُ وَيَثْقُلُ الْعِبْءُ
عَلَى مَنْ تَوَلَّى أَمْرَ بِضْعَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ؛ لِأَنَّهُ أَقْدَرُ
عَلَى دَفْعِ الضَّرَرِ أَوْ جَلْبِ النَّفْعِ بِمَا أُوتِيَ مِنْ
سُلْطَانِ إِمْرَةٍ وَحَقِّ الطَّاعَةِ
Orang yang mengurus sekelompok umat Islam tanggung
jawabnya semakin besar dan bebannya semakin berat, karena ia lebih mampu untuk
mencegah kemudharatan dan mendatangkan manfaat melalui kekuasaan dan hak taat
yang dimilikinya.
وَفِي ذَلِكَ يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : . . .
فَمَنْ وَلِيَ شَيْئًا مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ فَاسْتَطَاعَ أَنْ يَضُرَّ فِيهِ
أَحَدًا، أَوْ يَنْفَعَ فِيهِ أَحَدًا، فَلْيَقْبَلْ مِنْ
مُحْسِنِهِمْ، وَيَتَجَاوَزْ عَنْ مُسِيئِهِمْ
Dalam hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang mengurusi urusan umat Muhammad ﷺ, ia mampu untuk mencelakakan orang atau membantunya, maka terimalah kebaikannya dan maafkanlah kejahatannya." Shahih Bukhari kitab ar-Raqaiq, bab 34, hadits no. 6494 (Fat-hu al-Baari, 11/330).
بِحَيْثُ يَبْقَى أَمْرُهُ يَدُورُ بَيْنَ تَكْرِيمِ
مُحْسِنِهِمْ، وَالْعَفْوِ عَنْ مُسِيئِهِمْ
Dengan demikian, permasalahan ada di sekitar
penghargaan atas kebaikan dan pengampunan atas kejahatannya.
أَيْ بَيْنَ تَقْدِيمِ نَفْعٍ أَوْ دَفْعِ أَذًى؛
لِأَنَّ أَهْلَ الْإِمْرَةِ كَثِيرًا مَا يَجُورُونَ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
Atau, antara memberikan bantuan dan mencegah
kemudharatan karena orang yang berkuasa suka melakukan kejahatan dan mereka
tidak merasakannya.
فَإِذَا مَا وَضَعُوا نُصْبَ أَعْيُنِهِمْ مُهِمَّةَ
جَلْبِ الْمَنْفَعَةِ وَدَرْءِ الْأَذَى عَصَمُوا أَنْفُسَهُمْ مِنَ الزَّلَلِ
بِإِذْنِ اللَّهِ
Apabila perhatian para penguasa adalah menarik
manfaat dan menolak mudharat, maka mereka telah terjaga dari kehinaan dengan
izin Allah.
وَمِنَ الصُّوَرِ الْعَمَلِيَّةِ لِخُلُقِ النَّفْعِ
أَلَّا تَسْتَبْقِيَ أَرْضًا تَمْلِكُهَا دُونَ خِدْمَةٍ وَلَا زِرَاعَةٍ، مَعَ
وُجُودِ أَخٍ لَكَ عَاطِلٍ عَنِ الْعَمَلِ يَسْتَطِيعُ أَنْ
يَسْتَخْرِجَ خَيْرَ الْأَرْضِ
Salah satu bentuk nyata akhlak orang yang suka
membantu adalah tidak membiarkan tanah yang ia miliki tanpa dimanfaatkan
ataupun ditanami padahal masih ada saudaranya yang tidak mempunyai pekerjaan,
yang mampu mengelola tanah tersebut sehingga membuahkan hasil dan manfaat.
وَأَنْ يَنْتَفِعَ بِهَا، وَفِي ذَلِكَ يَقُولُ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : مَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا، فَإِنْ لَمْ
يَزْرَعْهَا فَلْيُزْرِعْهَا أَخَاهُ
Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang memiliki tanah maka tanamilah. Apabila tidak, maka biarkanlah saudaramu yang menanaminya." Shahih Bukharikitab al-Jum'at, bab 29, hadits no. 927 (Fat-hu al-Baari 2/404).
وَكَمْ لَدَى الْمُسْلِمِينَ مِنْ قُدُرَاتٍ
مُعَطَّلَةٍ، وَثَرِوَاتٍ مَكْنُوزَةٍ، وَطَاقَاتٍ مَهْدُورَةٍ وَلَا نَلْتَفِتُ
إِلَى التَّفْكِيرِ فِي اسْتِغْلَالِهَا ؛ فِيمَا يَعُودُ بِالنَّفْعِ عَلَى
الْمُسْلِمِينَ
Betapa banyak umat Islam yang kemampuannya
terbengkalai, hartanya terpendam, potensinya terbuang dan tidak terpikirkan
untuk dieksploitasi sehingga menghasilkan manfaat bagi orang lain.
أَفَلَا تَجُودُ بِعِلْمِكَ، وَتَتَصَدَّقُ
بِعَرَقِكَ، وَتُعِينُ بِسَعْيِكَ لِتَكُونَ دَائِمًا مِمَّنْ جَعَلَهُ اللَّهُ
مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ
Apakah engkau tidak ingin membantu dengan ilmumu?
Apakah engkau tidak ingin bersedekah dengan mengeluarkan keringatmu dan
membantu dengan usahamu, Sehingga apa yang diciptakan Allah ini menjadi kunci
kemakmuran dan kunci keburukan?
وَعِنْدَئِذٍ بُشْرَاكَ الْجَنَّةُ كَمَا فِي
الْحَدِيثِ
Jika engkau dapat melakukan hal ini, maka
berbahagialah dengan surgamu sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,
فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ
عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى
يَدَيْهِ
"Berbahagialah orang yang telah dijadikan
Allah sebagai kunci kebaikan, -dan celakalah orang yang telah dijadikan Allah
sebagai kunci keburukan." Shahih Muslim, kitab al-Buyu, bab 17, hadit no.
88 (Syarh an-Nawawi, 5/454).
وَلِدَوَامِ النَّفْعِ بِأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ
لَابُدَّ مِنْ تَعْزِيزِهِمْ بِالْمَالِ وَالسُّلْطَانِ
Untuk melanggengkan manfaat orang-orang seperti
mereka, maka mereka perlu dibantu dengan harta dan kekuasaan.
وَقَدْ ذَكَرَ النَّسَائِيُّ - عَقِبَ حَدِيثٍ فِي
كِتَابِ قَسْمِ الْفَيْءِ - طَرِيقَةَ قِسْمَةِ سَهْمِ النَّبِيِّ ﷺ مِنَ
الْغَنَائِمِ بَعْدَ وَفَاتِهِ، فَقَالَ
An-Nasa'i telah menyebutkan-setelah membahas kitab
pembagian fai (harta perang)-cara pembagian saham Nabi ﷺ dari harta pampasan perang setelah beliau wafat,
وَسَهْمُ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى الْإِمَامِ: يَشْتَرِي
الْكُرَاعَ مِنْهُمْ، وَالسِّلَاحَ، وَيُعْطِي مِنْهُ مَنْ رَأَى، مِمَّنْ رَأَى
فِيهِ غَنَاءً وَمَنْفَعَةً لِأَهْلِ الْإِسْلَامِ، وَمِنْ أَهْلِ
الْحَدِيثِ وَالْعِلْمِ وَالْفِقْهِ وَالْقُرْآنِ
"Saham Nabi diserahkan kepada imam, yaitu untuk keperluan membeli kuda perang dan senjata, yang akan diberikan kepada orang yang dapat membela dan bermanfaat untuk umat Islam, baik ahli hadits, orang yang berilmu, ahli fikih, maupun ahli tafsir." Shahih Sunan Ibnu Majah, al-Bani, muqadimah, bab 19, hadits no. 194/234 (hasan).
وَقَدْ جَعَلَ النَّبِيُّ ﷺ الْمُؤْمِنَ مَثَلًا فِي
دَوَامِ النَّفْعِ بِهِ، وَشَبَّهَ النَّخْلَةَ بِهِ لِدَوَامِ خُضْرَتِهَا
وَإِمْكَانِيَّةِ الِانْتِفَاعِ بِكُلِّ مَا فِيهَا، فَقَالَ: «إِنِّي لَأَعْلَمُ
شَجَرَةً يُنْتَفَعُ بِهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ
Nabi ﷺ
telah menjadikan seorang mukmin sebagai contoh orang yang konsisten dalam
memberi manfaat. Beliau telah mengumpamakannya (seperti) pohon kurma yang
selalu hijau sehingga dapat memanfaatkan semua yang ada pada pohon itu.
"Sesungguhnya aku ajarkan bahwa pohon yang selalu dapat dimanfaatkan itu
bagaikan seorang mukmin." Shahih Sunan an-Nasa'i, al-Bani, penjelasan
an-Nasa'i atas hadits no. 3866 dalam kitab pembagian fai.
وَالْمُؤْمِنُ يَحْرِصُ عَلَى تَقْدِيمِ خَيْرِهِ
إِلَى النَّاسِ لِوَجْهِ اللَّهِ، وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِهِ، وَلَا تَتَحَكَّمُ
بِهِ مَشَاعِرُ شَخْصِيَّةٌ، أَوْ مَوَاقِفُ عَارِضَةٌ
Seorang mukmin selalu berusaha untuk memberikan
manfaat kepada umat manusia dengan niat karena Allah untuk mencari ridha-Nya,
dan bukan karena untuk mencari kepentingan pribadi atau kepentingan sesaat.
وَقَدْ عَاتَبَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ أَبَا بَكْرٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَ حَلَفَ أَلَّا يُنْفِقَ عَلَى مِسْطَحِ بْنِ
أُثَاثَةَ لِمُشَارَكَتِهِ فِي حَدِيثِ الْإِفْكِ
Allah telah menegur Abu Bakar r.a. ketika ia
bersumpah untuk tidak bersedekah kepada Musthah bin Atsatsah karena
keterlibatannya dalam peristiwa haditsul Ifki fitnah yang menimpa Aisyah r.a.).
فَحَلَفَ أَبُو بَكْرٍ أَنْ لَا يَنْفَعَ مِسْطَحًا
بِنَافِعَةٍ أَبَدًا
Abu Bakar r.a. bersumpah untuk tidak memberi
bantuan lagi kepada Mustah untuk selamanya.
فَلَمَّا نَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى : وَيُبَيِّنُ
اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ [النور: ۱۸]
Ketika turun firman Allah, "Dan Allah
menjelaskan keterangan-keterangan kepada kamu. Dan Allah itu Maha Mengetahui
dan Mahabijaksana." an-Nuur [24] 18
قَالَ أَبُوبَكْرٍ : بَلَى وَاللَّهِ, إِنَّا
لَنُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ لَنَا
Abu Bakar berkata, "Kami terima. Demi Allah,
sesungguhnya kami lebih suka Allah mengampuni kami." Musnad Ahmad, 2/115.
Bukhari pun telah meriwayatkannya dalam kitab al- 'Ilmu, bab 5, hadits no. 62
(Fat-hu al-Baari 1/148).
وَأَعَادَ النَّفَقَةَ عَلَى مِسْطَحٍ
Kemudian Abu Bakar kembali membantu Musthah.
إِذَا كُنْتَ تُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكَ،
فَهَيَّا إِلَى مَزِيدٍ مِنَ الدَّعْوَةِ وَالنُّصْحِ وَالْإِفَادَةِ وَالنَّفْعِ،
وَاسْتِغْلَالِ الْأَوْقَاتِ وَالطَّاقَاتِ
Apabila engkau ingin Allah mengampunimu, maka
marilah kita lebih giat untuk melakukan dakwah, memberi nasihat, memberi
manfaat, membantu, memanfaatkan waktu dan menggunakan potensi,
فَإِنَّهُ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خَيْرُ
النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ "Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling banyak
manfaatnya." Musnad Ahmad, 6/59-61. Bukhari telah meriwayatkannya.
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN
·
إِذَا
لَمْ يَقُمْ الْمُؤْمِنُ بِتَقْدِيمِ النَّفْعِ لَمْ يَتَعَدَّ خَيْرُهُ إِلَى
غَيْرِهِ
→ Apabila seorang mukmin tidak
memberikan manfaatnya (kepada orang lain) maka kebaikannya tidak akan dapat
dirasakan oleh orang lain.
· مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ
فَلْيَفْعَلْ
→ Barangsiapa yang mampu melakukan
sesuatu yang bermanfaat bagi saudaranya, maka lakukanlah
· الْمُبَادَرَةُ بِتَقْدِيمِ النَّفْعِ
قَبْلَ طَلَبِهِ
→ Berinisiatiflah untuk berbuat
baik lebih dahulu sebelum diminta
· اغْتِنَامُ كُلِّ الْأَوْقَاتِ فِي
تَوْصِيلِ الْخَيْرِ
→ Memanfaatkan seluruh waktu untuk
menyampaikan kebaikan.
· أَوْجَبُ النَّفْعِ مَا كَانَ
لِلْأَقْرَبِينَ
→ Memberi manfaat lebih didahulukan
untuk keluarga.
· مَنْ لَمْ يَقْدِرْ أَنْ يَنْفَعَ،
فَلْيَحْرِصْ أَلَّا يَضُرَّ
→ Barangsiapa yang tidak dapat
memberi manfaat, maka usahakanlah untuk tidak merugikan orang lain.
· أَعْلَى النَّفْعِ : الْجِهَادُ،
وَأَدْنَاهُ : الْعُزْلَةُ
→ Derajat yang paling tinggi dalam
memberi manfaat adalah berjihad, sedang derajat yang paling rendah adalah
mengasingkan diri.
· يَعْظُمُ النَّفْعُ بِعِظَمِ
الْمَسْؤُولِيَّةِ، وَالضَّرَرُ كَذَلِكَ
→ Jika manfaat itu semakin besar,
maka semakin besar pula tanggung jawabnya. Begitu juga hal-hal yang dapat
merugikan orang lain.
· يَعْظُمُ النَّفْعُ بِتَأْيِيدِهِ
بِالْمَالِ وَالسُّلْطَانِ
→ Manfaat akan semakin besar bila dibantu dengan harta dan kekuasaan.
· فِي النَّفْعِ اغْتِنَامٌ لِلطَّاقَاتِ
الْمُهْدَرَةِ لِمَصْلَحَةِ مَنْ يَحْتَاجُهَا
→ Bagian dari memberi manfaat
adalah mengeksploitasi potensi yang terbengkalai untuk kepentingan orang yang
membutuhkan.
· مِنْ مَزَايَا الْمُؤْمِنِ : دَوَامُ
خَيْرِهِ وَكَثْرَةُ نَفْعِهِ
→ Karakter seorang beriman selalu
berbuat baik dan banyak memberi manfaat.
· النَّافِعُ خَيْرُ النَّاسِ
→ Orang yang bermanfaat itu adalah
orang yang paling baik.
❤️❤️❤️
246 Di antara artikel bagus yang bermanfaat dalam
hal ini adalah kitab Raful Haraj fisy Syariat al-Islamiyah, Dhawabit wa
Tatbiqatihi karangan Dr. Shalih bin Abdullah bin Hamid dari Univ. Umul Quro,
Fakultas Syariah wa Dirasat Islamiyah. Kami telah banyak mengambil faedah dari
pembahasan ini, semoga Allah balasan memberi pengarangnya yang setimpal.
Sumber:
هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan : Silahkan bila ada masukan atau kesalahan
- tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan – share - Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar