الألفة
Keempat: Saling Mengasihi
وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ وَلَا يُؤْلَفُ
"Tidak ada kebaikan terhadap orang yang tidak saling mengasihi dan tidak dikasihi."
أَنْ تَكُونَ مُتَّصِفًا بِخُلُقِ الأُلْفَةِ؛ أَمْرٌ يَقْتَضِي مِنْكَ مِنْ سَعَةِ الصَّدْرِ مَا تُحِبُّ بِهِ النَّاسَ
Memiliki sifat saling mengasihi adalah akhlak yang dapat melapangkan dada dan dicintai oleh orang.
وَمِنْ حُسْنِ الخُلُقِ مَا يَجْعَلُ النَّاسَ يُحِبُّونَكَ، فَتَكُونَ بِذَلِكَ سَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ اجْتِمَاعِ الكَلِمَةِ، وَوَحْدَةِ الصَّفِّ، وَتَرَابُطِ القُلُوبِ
Di antara akhlak yang baik adalah perbuatan yang menjadikan orang lain untuk cinta kepadanya, sehingga menjadi salah satu faktor untuk menyatukan perkataan, barisan, serta hati nurani.
وَعِنْدَئِذٍ تَكُونُ بِحَقٍّ أَلِيفًا وَمَأْلُوفًا
Sehingga dengan demikian akan terjalin persahabatan dan saling keterkaitan.
رَبَطَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُلُقَ (الأُلْفَةِ) بِالإِيمَانِ
Rasulullah saw. menghubungkan sifat al-ulfah (persahabatan) dengan al-iman (keimanan).
فَقَالَ: (المُؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ، وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ وَلَا يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ) (١)
Beliau bersabda, "Orang beriman saling mengasihi dan saling terikat. Tidak ada kebaikan terhadap orang yang tidak saling mengasihi dan tidak saling terikat. Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat terhadap orang lain. " Silsilah ahadits ash-Shahihah, hadits no. 426 (hadits hasan).
وَلِذَلِكَ فَإِنَّ عَدَمَ الأُلْفَةِ مِنْ صِفَاتِ المُنَافِقِينَ كَمَا جَاءَ فِي الحَدِيثِ
Dengan demikian, tidak adanya sifat saling mengasihi adalah sifat orang munafik, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits,
إِنَّ لِلْمُنَافِقِينَ عَلَامَاتٍ يُعْرَفُونَ بِهَا: ... مُسْتَكْبِرِينَ لَا يَأْلَفُونَ وَلَا يُؤْلَفُونَ (٢)
"Sesungguhnya, orang-orang munafik memiliki tanda yang dapat dikenal:...sombong dan tidak saling mengasihi dan tidak saling terikat."
Musnad Ahmad 2/293. Dalam sanadnya terdapat Abdul Malik Ibnu Qudamah Al
Jamhi yang ditsiqahkan oleh Ibnu 'Adi dan didhaifkan oleh ad-Daraquthni dan lainnya. Lihat catatan kaki Jam' al-Fawaid jilid II, hlm. 403
إِنَّ الِاجْتِمَاعَ عَلَى الحُبِّ فِي اللهِ، وَائْتِلَافَ القُلُوبِ عَلَى الطَّاعَةِ
Sesungguhnya bersatu terhadap cinta kepada Allah, dan penyatuan hati terhadap ketaatan,
وَخُلُوصَهَا مِنْ نَوَازِعِ الجَاهِلِيَّةِ، لَنِعْمَةٌ كَبِيرَةٌ تَسْتَحِقُّ لَفْتَ الأَنْظَارِ إِلَيْهَا؛ لِلمُحَافَظَةِ عَلَيْهَا، وَعَدَمِ التَّفْرِيطِ فِيهَا
dan menghilangkan kebiasaan jahiliah adalah nikmat yang besar yang memalingkan pandangan dari kejahiliahan, untuk menjaga dan tidak berlebih-lebihan padanya.
فَقَدْ قَالَ تَعَالَى
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا. [آل عمران: ١٠٣]
ويشير القرطبي إلى لَفْتَةٍ طَيِّبَةٍ حول مَطْلَعِ الآية
Al-Qurthubi menunjukkan isyarat yang baik seputar permulaan ayat,
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا آل عمران
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." Ali Imran [3]: 103
فَيَقُولُ: وَلَيْسَ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الِاخْتِلَافِ فِي الفُرُوعِ
Beliau berkata, "Tidak ada di dalamnya dalil bahwa perbedaan pendapat (ikhtilaaf) dalam masalah-masalah furuu (cabang) diharamkan.
فَإِنَّ ذَلِكَ لَيْسَ اخْتِلَافًا، إِذِ الِاخْتِلَافُ مَا يَتَعَذَّرُ مَعَهُ الِائْتِلَافُ وَالجَمْعُ
Hal itu bukanlah ikhtilaaf, sebab ikhtilaaf berarti tidak dapat bersatu.
وَمَا زَالَتِ الصَّحَابَةُ يَخْتَلِفُونَ فِي أَحْكَامِ الحَوَادِثِ وَهُمْ مَعَ ذَلِكَ مُتَآلِفُونَ (١)
Para sahabat saling berbeda pendapat mengenai hukum sesuatu yang baru terjadi. Meski demikian, mereka tetap bersatu (saling cinta). "Al Jami' li ahkam Alqur'an 4/159
فَلَا يَظُنَّ أَحَدُنَا أَنَّ الإِصْرَارَ عَلَى إِثْبَاتِ قَوْلٍ رَاجِحٍ أَوْلَى مِنَ الحِرْصِ عَلَى دَوَامِ الأُلْفَةِ
Janganlah salah seorang di antara kita mengira bahwa memegang teguh pendapat yang kuat (raajih) lebih utama daripada persatuan atau cinta kasih (ulfah).
وَيُؤَكِّدُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا الْمَعْنَى بِقَوْلِهِ
Rasulullah saw. menegaskan makna ini dengan sabdanya,
اقْرَؤُوا القُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ عَلَيْهِ قُلُوبُكُمْ، فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ فَقُومُوا (٢)
"Bacalah Al-Quran selama hati kalian bersatu. Jika kalian berbeda pendapat mengenainya, maka bangkitlah (pergilah)"
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Jami' al-Ushuul, 2/470 hadits 932.
سَوَاءٌ كَانَ الِاخْتِلَافُ فِي فَهْمِ مَعْنَاهُ أَوْ طَرِيقَةِ أَدَائِهِ
Baik berbeda pendapat dalam memahami artinya atau cara membacanya...
فَالقِيَامُ مِنْ مَجْلِسِ الخِلَافِ هُوَ اللَّائِقُ بِالْمُؤْمِنِينَ
Meninggalkan tempat perbedaan pendapat (khilaaf) itu lebih baik bagi kaum mukminin.
وَلَقَدْ كَانَ مِنْ أَكْبَرِ نِعَمِ اللهِ فِي بَعْثَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Termasuk nikmat Allah yang terbesar dalam pengutusan Rasulullah saw. ialah bahwa
أَنْ أَلَّفَ بِهِ بَيْنَ قَوْمٍ قَوِيَتْ بَيْنَهُمُ العَصَبِيَّاتُ، وَلِذَلِكَ قَالَ فِي خُطْبَتِهِ فِي الأَنْصَارِ بَعْدَ حُنَيْنٍ
Allah swt. menggabungkan hati-hati suatu kaum yang memiliki fanatisme kuat. Oleh sebab itu, beliau berkhotbah di hadapan kaum Anshar setelah Perang Hunain,
يَا مَعْشَرَ الأَنْصَارِ، أَلَمْ أَجِدْكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللهُ بِي، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللهُ بِي، وَمُتَفَرِّقِينَ فَأَلَّفَكُمُ اللهُ بِي (٣)
"Wahai kaum Anshar, bukankah aku mendapatkan kalian dalam keadaan sesat lalu Allah swt. memberi hidayah kepada kalian melalui aku; kalian miskin, lalu Allah swt. mencukupkan kalian dengan (mengutus) aku; dan kalian berpecah belah, lalu Allah menyatukan kalian melalui aku. "
Shahih hahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, bab 56, hadits 4330 (al-Fat-h 8/47).
وَهَكَذَا شَأْنُ المُسْلِمِ، يُؤَلِّفُ بَيْنَ المُتَفَرِّقِينَ، وَيَأْتَلِفُ حَوْلَهُ المُحِبُّونَ
Demikianlah seorang mukmin, ia menyatukan orang-orang yang berpecah belah dan orang-orang yang mencintai bersatu di sekelilingnya.
قَدْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَجْمَعَ النَّاسَ حَوْلَكَ بِعَرْضٍ مِنَ الدُّنْيَا
Mungkin Anda dapat mengumpulkan manusia di sekeliling Anda dengan menggunakan harta,
وَلَكِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَجْعَلَهُمْ لُحْمَةً وَاحِدَةً وَجَسَدًا مُتَمَاسِكًا إِلَّا بِتَوْفِيقٍ مِنَ اللهِ، يَسْكُبُ الأُلْفَةَ فِي القُلُوبِ، فَيَجْمَعُهَا عَلَى هَدَفٍ وَاحِدٍ
tetapi Anda tidak akan dapat menjadikan mereka (seperti) satu daging dan satu jasad kecuali dengan taufik dari Allah-yang menggabungkan mereka dalam satu tujuan yang sama.
وَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْۗ لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْۗ
Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka." (al-Anfaal [8]: 63)
وَيَرَى صَاحِبُ الظِّلَالِ صُورَةً مِنَ الإِعْجَازِ فِي التَّأْلِيفِ بَيْنَ قُلُوبِ الجِيلِ الأَوَّلِ
Pengarang Fii Zhilaal Al-Qur'an melihat mukjizat dalam persatuan hati generasi pertama,
وَلَقَدْ وَقَعَتِ المُعْجِزَةُ الَّتِي لَا يَقْدِرُ عَلَيْهَا إِلَّا اللهُ، وَالَّتِي لَا تَصْنَعُهَا إِلَّا هذِهِ العَقِيدَةُ، فَاسْتَحَالَتْ هذِهِ القُلُوبُ النَّافِرَةُ، وَهذِهِ الطِّبَاعُ الشُّمُوسُ، إِلَى هذِهِ الكُتْلَةِ المُتَرَاصَّةِ المُتَآخِيَةِ، الذَّلُولِ بَعْضُهَا لِبَعْضٍ، المُحِبِّ بَعْضُهَا لِبَعْضٍ، المُتَآلِفِ بَعْضُهَا مَعَ بَعْضٍ، بِهذَا المُسْتَوَى الَّذِي لَمْ يَعْرِفْهُ التَّارِيخُ (١)
"Telah terjadi suatu mukjizat yang tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah subhanallahu wa ta'ala, yang tidak dapat dibuat kecuali oleh akidah (Islam) ini. Mukjizat tersebut telah mengubah hati-hati mereka yang saling membenci dan watak-watak mereka yang keras menjadi satu himpunan yang tersusun rapi dan saling bersaudara, saling berkasih sayang, saling mencintai, dan saling berpadu untuk mencapai ketinggian yang belum digoreskan oleh sejarah. " Fii Zhilaal al-Qur'an, 3/1548.
وَصَاحِبُ الأُلْفَةِ بِمَا يَنَالُهُ مِنْ رِضَا اللهِ وَحُبِّ مَلَائِكَتِهِ (يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي الأَرْضِ) (٢)
Orang yang memiliki sifat ulfah selain mendapat ridha Allah dan cinta malaikat, juga akan "Diterima (oleh masyarakat) di muka bumi."
Shahih al-Bukhari, dalam Kitab Bad'i al-Khalqi, bab 6, Shahih Muslim, dalam Kitab 'al-Birri, 157.
وَقَدْ قِيلَ فِي شَرْحِ الحَدِيثِ: المُرَادُ بِالقَبُولِ الحُبُّ فِي قُلُوبِ أَهْلِ الدِّينِ وَالخَيْرِ لَهُ، وَالرِّضَا بِهِ، وَاسْتِطَابَةُ ذِكْرِهِ فِي حَالِ غَيْبَتِهِ
Dikatakan dalam penjelasan hadits tersebut, "Maksud 'diterima' ialah dicintai dan diridhai oleh ahli agama dan ahli kebaikan dan kebaikannya disebut-sebut ketika ia tidak ada,
كَمَا أَجْرَى اللهُ عَادَتَهُ بِذَلِكَ فِي حَقِّ الصَّالِحِينَ مِنْ سَلَفِ هذِهِ الأُمَّةِ وَمَشَاهِيرِ الأَئِمَّةِ (٣)
sebagaimana kebiasaan Allah terhadap orang-orang yang saleh dari kalangan pendahulu umat Islam ini dan imam-imam yang terkenal." Dalil al-Faalihiin, 2/269.
وَلَا تَعَارُضَ بَيْنَ تَأَلُّفِ النَّاسِ وَبَيْنَ المُحَافَظَةِ عَلَى الهَيْبَةِ وَالاحْتِرَامِ إِذَا أَحْسَنَ المُسْلِمُ التَّصَرُّفَ وَوَازَنَ بَيْنَ المَوَاقِفِ؛
Tidak ada pertentangan antara bersifat ulfah (mencintai) manusia dan menjaga kewibawaan serta rasa hormat jika seorang muslim dapat berlaku baik dan mampu menyeimbangkan sikap.
وَلِذَلِكَ نَجِدُ فِي وَصْفِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَنْ رَآهُ بَدِيهَةً هَابَهُ، وَمَنْ خَالَطَهُ مَعْرِفَةً أَحَبَّهُ)
Oleh karena itu kita mendapati sifat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, "Orang yang melihat beliau pasti akan merasakan kewibawaan beliau, dan orang yang bergaul dengan beliau pasti akan mencintai beliau. " Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam al-Manaaqib, no. 3641 dan 3642. Hadits hasan, Jami' al-Ushul, 11/225 no. 8784.
وَخِيَارُ النَّاسِ فِي نَظَرِ الشَّرْعِ هُمُ الَّذِينَ يَأْلَفُونَ وَيُؤْلَفُونَ، وَخَاصَّةً حِينَ يَكُونُونَ فِي مَنْصِبٍ أَوْ مَسْؤُولِيَّةٍ، إِذْ قَدْ يَنْزَلِقُونَ إِلَى صُوَرٍ مِنَ الغِلْظَةِ وَالجَفَاوَةِ حِينَ يَكُونُونَ مَطْلُوبِينَ لَا طَالِبِينَ
Sebaik-baik manusia ialah yang mencintai dan dicintai, khususnya ketika mereka menduduki suatu jabatan, sebab terkadang mereka terpeleset melakukan tindakan kasar ketika mereka dipinta.
وَلِذَلِكَ يَقُولُ لَهُ: خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ
Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik pemimpin kalian ialah yang kalian cintai dan mencintai kalian.
وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ (١)
Kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Dan sejahat-jahat pemimpin kalian ialah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, kalian mengutuk mereka dan mereka mengutuk kalian.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam al-Imaarah, bab Khiyaar al-Aimmah wa Syiraaruhum, no.1855 Jaami' al-Ushuul 4/66 no. 2048
وَفِي رِوَايَةٍ لِأَحْمَدَ: (خِيَارُكُمْ وَخِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ ..) (٢)
Dalam riwayat lain oleh Ahmad, Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik kalian dan sebaik-baik pemimpin kalian ialah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian." Musnad Ahmad, 6/28.
وَلِلْأُلْفَةِ أَسْبَابٌ تُقَوِّيهَا، وَصِفَاتٌ تُنَمِّيها، وَمِنْهَا حُسْنُ التَّعَارُفِ بِالْخُلْطَةِ وَالْمُعَاشَرَةِ
Ulfali (rasa cinta) memiliki beberapa faktor penguat dan beberapa sifat yang dapat menumbuhkannya, di antaranya berkenalan dengan baik dalam bergaul.
كَمَا أَنَّ مَشَاعِرَ الانْقِبَاضِ وَعَدَمِ الِارْتِيَاحِ قَدْ تَنشَأُ مِنَ الانْكِمَاشِ عَنْ النَّاسِ وَالفَتُورِ فِي مُعَامَلَتِهِمْ
Perasaan tidak enak dan tidak senang terjadi karena tidak adanya semangat untuk bergaul dengan masyarakat.
وَرُبَّمَا كَانَ هَذَا مَا أَرَادَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ
Barangkali inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya,
الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَتْ ائْتَلَفَتْ، وَمَا تَنَاكَرَتْ مِنْهَا اَخْتَلَفَتْ (٣)
"Jiwa-jiwa (ruh-ruh) bagaikan tentara yang direkrut. Jika saling mengenal, ia akan saling mencintai atau bersatu (ulfah), dan jika tidak saling mengenal, mereka akan berpecah."
Shahih al-Bukhari, dalam kitab al-Anbiyaa, bab 2 hadits 4330, Fat-hul-Bari, 8/47, diriwayatkan oleh Muslim no. 1061.
كَمَا أَنَّ إِشَاعَةَ البَسْمَةِ وَإِفْشَاءَ السَّلاَمِ مِنْ عَوَامِلِ قُوَّةِ الأُلْفَةِ وَزِيَادَةِ المُحَبَّةِ كَمَا فِي الحَدِيثِ: (أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمْهُ تَحَابَبْتُمْ، أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
Menabur senyum dan menyebar salam termasuk faktor penguat ulfah (rasa cinta) sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, "Maukah kalian aku tunjukkan suatu perbuatan yang jika kalian laksanakan maka kalian akan saling mencintai, sebarkanlah salam di antara kalian."
Shahih Muslim, dalam Kitab al-Iman, bab 22, hadits 54.
وَفِي التَّعَفُّفِ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ كَسْبٌ لِقُلُوبِهِمْ وَضَمَانٌ لِلْخُلُوصِ فِي مُحَبَّتِهِمْ: (وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكُ النَّاسُ (٥)
Bersikap iffah (tidak serakah) terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain juga dapat mengambil hati mereka dan dapat menjamin kemurnian cinta mereka. Rasulullah saw. bersabda, "Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia niscaya engkau akan dicintai oleh mereka."
Shahih Sunan Ibnu Majah, oleh al-Albani no. 3310/4102 (shahih).
إِنَّ الإِحْسَانَ إِلَى غَيْرِ المُسْلِمِينَ مِنْ (المُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ) إِنَّمَا شُرِعَ لِتَحْبِيبِهِمْ فِي الإِسْلَامِ وَجَذْبِهِمْ إِلَيْهِ، وَاسْتِنْقَاذِهِمْ مِنْ دَائِرَةِ الشِّرْكِ
Berbuat baik kepada masyarakat nonmuslim yang termasuk golongan müallaf disyariatkan untuk menarik mereka dan menjadikan mereka cinta kepada Islam serta untuk menyelamatkan mereka dari kemusyrikan.
وَالإِحْسَانُ إِلَى أَخِيكَ وَتَأْلِيفُ قَلْبِهِ أَوْلَى وَأَجْدَرُ لِتُحَافِظَ عَلَى مَنْ دَخَلُوا فِي الإِسْلَامِ أَلَّا يَنْفِرُوا مِنْهُ وَيَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ. وَقَدْ تُحَاوِلُ أَنْ تَتَأَلَّفَهُ بَعْدَ نُفُورِهِ فَلَا يَسْتَجِيبُ، فَتَبُوءَ بِإِثْمِكَ وَإِثْمِهِ. وَقَدْ تَرْجَمَ البُخَارِيُّ لِبَابٍ: (الدُّعَاءِ لِلْمُشْرِكِينَ بِالهُدَى لِيَتَأَلَّفَهُمْ) (١)
Berbuat baik kepada saudara Anda dan mengambil hatinya lebih utama dan lebih layak Anda lakukan untuk menjaga orang-orang yang baru masuk Islam agar mereka tidak murtad. Lalu, Anda berusaha lagi mengambil hatinya setelah mereka murtad dan mereka tidak mau sehingga Andalah yang menanggung dosa Anda dan dosanya. Bukhari membuat suatu pembukaan bab "Memohonkan Hidayah untuk Orang-orang Musyrik, untuk Mengambil Hati Mereka"
Shahih Bukhari, Kitab al-Jihad, bab 100, dalam 100, dalam Far-hul-Bari, 6/107.
وَكُلَّمَا ازْدَادَتِ الأُلْفَةُ ارْتَفَعَتِ الكُلْفَةُ، وَقَوِيَتِ الرَّابِطَةُ بَيْنَ أَبْنَاءِ الجَسَدِ الوَاحِدِ وَأُمَّةِ البُنْيَانِ المَرْصُوصِ، وَنَكُونُ عِندَئِذٍ أَقْدَرَ عَلَى دَفْعِ الأَهْوَاءِ، وَنَبْذِ الخِلَافَاتِ، وَصَدِّ مَكَائِدِ الكَائِدِينَ
Jika ulfah (rasa cinta) bertambah, maka terangkatlah beban dan menguatlah ikatan kaum muslimin. Mereka bagaikan satu tubuh dan bagaikan bangunan yang kokoh. Saat itu, kita menjadi lebih sanggup melawan hawa nafsu, membuang perselisihan, dan mematahkan tipu daya orang-orang yang membuat tipu daya.
خُلاَصَةُ هَذَا الفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN
الأُلْفَةُ حُبٌّ لِلنَّاسِ وَتَحَبُّبٌ إِلَيْهِمْ
Ulfah ialah mencintai manusia dan memperlihatkan cinta kepada mereka.
المُنَافِقُونَ لَا يَأْلَفُونَ وَلَا يُؤْلَفُونَ
Orang-orang munafik tidak mencintai dan mereka tidak dicintai.
الخِلَافَاتُ الفِقْهِيَّةُ لَا تَنْقُضُ الأُلْفَةَ
Perbedaan pendapat dalam masalah fikih tidak bertentangan dengan ulfah.
الدَّاعِيَةُ يُؤَلِّفُ بَيْنَ المُتَفَرِّقِينَ، وَيَأْتَلِفُ حَوْلَهُ المُحِبُّونَ
Seorang dai menyatukan orang-orang yang berpecah belah, dan orang-orang yang mencintai bersatu di sekitarnya.
إِنْ لَمْ تَكُنِ الأُلْفَةُ بِاللهِ وَلِلَّهِ فَلَنْ تَدُومَ
Jika sifat ulfah dilakukan tanpa bantuan Allah dan bukan karena Allah, maka sifat itu tidak akan langgeng.
لَا تَعَارُضَ بَيْنَ تَأَلُّفِ النَّاسِ وَالمُحَافَظَةِ عَلَى الهَيْبَةِ
Bersifat ulfah dengan masyarakat tidak bertentangan dengan menjaga kewibawaan.
خَيْرُ الأُمَرَاءِ مَنْ يُحِبُّ رَعِيَّتَهُ وَتُحِبُّهُ
Sebaik-baik pemimpin ialah yang mencintai rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya.
تَأْلِيفُ القُلُوبِ مَطْلُوبٌ مَعَ غَيْرِ المُسْلِمِينَ
Menyatukan hati masyarakat nonmuslim juga diperintahkan.
بِازْدِيَادِ الأُلْفَةِ تَرْتَفِعُ الكُلْفَةُ
Dengan bertambahnya ulfah, beban akan terangkat.
📙📙 Sumber:
هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan
Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.
Dipersilahkan - share
Semoga bermanfaat ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar