BAB 04
AKHLAK KITA DALAM KEPEMIMPINAN
PASAL 02
العدل
Keadilan
اعدلوا
هو أقرب للتقوى
"Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat
pada takwa."
مِنْ أَغْرَاضِ الْجِهَادِ فِي الْإِسْلَامِ:
إِخْرَاجُ النَّاسِ مِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ
Salah satu tujuan jihad dalam Islam, adalah
mengeluarkan manusia dari kedzaliman agama-agama kepada keadilan Islam.
وَمِنْ دَوَافِعِ الْهِجْرَةِ إِلَى الْحَبَشَةِ:
أَنَّ (فِيهَا مَلِكًا لَا يُظْلَمُ عِنْدَهُ أَحَدٌ)،
Salah satu pendorong dilakukannya hijrah ke negeri
Habasyah adalah, "Di sana terdapat seorang raja yang tidak menzalimi,
seorang rakyat pun." Thabaqat asy-Syafi'iyyah, 1/275 dari biografi Yusuf
bin Yahya al-Buwaithi.
وَمِنْ أَهَمِّ مَزَايَا دَعْوَةِ الْإِسْلَامِ
أَنَّهَا نَشَرَتِ الْعَدْلَ وَعَمَّمَتْهُ
Dan, salah satu kelebihan dakwah Islam yang
terpenting adalah tersebar luasnya keadilan.
بِالرُّجُوعِ إِلَى كَثِيرٍ مِنْ نُصُوصِ الْقُرْآنِ
الَّتِي تَتَحَدَّثُ عَنِ الظُّلْمِ وَالظَّالِمِينَ
Ketika kita merujuk kepada teks-teks ayat suci
Al-Quran yang membicarakan tentang kezaliman dan orang-orang yang zalim,
نَجِدُ أَنَّهَا: نَفَتْ عَنْهُمُ الْفَلَاحَ،
وَاسْتَبْعَدَتْهُمْ مِنْ أَنْ يَنَالَهُمْ عَهْدُ اللَّهِ، وَبَشَّرَتْهُمْ
بِأَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّهُمْ
kita temukan ayat-ayat itu menjelaskan bahwa
kesuksesan akan pergi meninggalkan mereka dan mereka juga terjauhkan dari
datangnya janji Allah swt. Ayat-ayat itu juga mengabarkan bahwa Allah swt.
tidak mencintai mereka
وَلَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا خَسَارًا، وَحَكَمَتْ
عَلَيْهِمْ بِالْخَيْبَةِ وَسُوءِ الْعَاقِبَةِ.
dan hanya akan menambahkan kerugian bagi mereka.
Mereka akan senantiasa frustrasi dan mendapat akhir yang buruk. As-Sirah
an-Nabawiyyah, karya Ibnu Hisyam 1/321.
وَفِي مُقَابِلِ ذَلِكَ فَإِنَّ اللَّهَ اسْمًا
مُشْتَقًّا مِنَ الْعَدْلِ، وَهُوَ الَّذِي لَا يَظْلِمُ النَّاسَ مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ، وَأَمَرَ رَسُولَهُ بِالْعَدْلِ، وَعَمَّمَ الْأَمْرَ بِالْعَدْلِ عَلَى
جَمِيعِ عِبَادِهِ،
Sebaliknya, Allah swt. memiliki sebuah nama yang
lekat dengan keadilan. Dialah yang tidak pernah berbuat zalim kepada manusia
walaupun sebesar biji sawi dan telah memerintahkan Rasul-Nya untuk berbuat adil
dan secara umum juga memerintahkan keadilan kepada seluruh hamba-hamba-Nya.
@ Sebagai isyarat dari ayat-ayat berikut ini,
"sesungguhnya orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan."
(al-An'aam [6]: 21), "...Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang
zalim." (al-Baqarah [2]: (2): 124) "...dan dan Allah tidak menyukai
orang-orang yang zalim." (Ali 'Imran [3]: 57)
وَجَعَلَ فِي مُقَدِّمَةِ السَّبْعَةِ الَّذِينَ
يُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ (إِمَامٌ عَادِلٌ)
Dia juga telah menjadikan pendahulu dari ketujuh
golongan yang mendapatkan naungan pada hari di mana tidak ada naungan selain
naungan-Nya, yaitu "Pemimpin yang adil."
Sebagai isyarat dari firman-Nya, "...dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. "(as-Syura [42]: 15), "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan." (an-Nahl [16]: 90)
كَمَا جَعَلَ الْإِمَامَ الْعَادِلَ مِنَ
الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ
Sebagaimana juga Dia telah menjadikan pemimpin yang
adil sebagai salah satu dari tiga golongan yang doanya tidak ditolak. Shahih
al-Jami', nomor 3603 (shahih) terdapat di Shahihain.
وَلِكَيْ تَقُومَ حَيَاةُ النَّاسِ عَلَى الْعَدْلِ،
فَقَدْ ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمُسْلِمَ بِأَنَّهُ: (كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ
فِيهِ الشَّمْسُ يَعْدِلُ بَيْنَ النَّاسِ صَدَقَةٌ)
Agar kehidupan manusia berdiri tegak atas keadilan,
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan orang Islam,
"Selama matahari masih terbit setiap hari berbuat adil merupakan suatu
sedekah." Shahih al-Jami', nomor 3064 (hasan) teksnya, "Tiga
golongan yang Allah tidak menolak doanya: orang yang banyak mengingat Allah,
orang yang dizalimi, dan pemimpin yang adil."
وَرَبَطَ عَدْلَهُ فِي الدُّنْيَا بِمَصِيرِهِ فِي
الْآخِرَةِ، حَيْثُ يُوضَعُ الْمِيزَانُ، وَيُحَاسَبُ النَّاسُ بِالْقِسْطَاسِ
الْمُسْتَقِيمِ، فَأَخْبَرَ اللَّهُ بِأَنَّ مِنَ الْمُنْجِيَاتِ:
(الْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا)
Dan, mengaitkan keadilannya di dunia dengan
perjalanannya di akhirat, yaitu ketika dihadirkan timbangan dan manusia dihisab
dengan timbangan yang lurus, Rasulullah ﷺ
memberitahukan bahwa yang termasuk orang-orang yang lolos adalah: "Adil di
waktu marah dan di waktu senang." Shahih al-Bukhari, Kitab as-Shulh,
bab 11, hadits 2707, al-Fat-h 5/309).
وَهَذِهِ أَعْلَى مَرَاتِبِ الْعَدْلِ، إِذْ قَدْ
يَعْدِلُ الْمَرْءُ فِي حَالِ الرِّضَا، وَلَكِنْ يَنْدُرُ أَنْ يَعْدِلَ وَهُوَ
غَاضِبٌ أَوْ سَاخِطٌ أَوْ كَارِهٌ
Inilah martabat keadilan yang tertinggi, yaitu
seseorang berbuat adil dalam keadaan senang, namun yang langka adalah berbuat
adil sewaktu sedang marah atau murka ataupun membenci.
وَقَدْ خَصَّ اللَّهُ أَهْلَ الْعَدْلِ فِي
الدُّنْيَا، بِإِعْلَاءِ شَأْنِهِمْ فِي الْآخِرَةِ، وَتَقْرِيبِهِمْ مِنْهُ
سُبْحَانَهُ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ
Allah swt. telah mengkhususkan orang yang berlaku
adil di dunia dengan ketinggian kedudukannya di akhirat dan kedekatannya dengan
Allah swt. sebagaimana tersebut dalam hadits,
(إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى
مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ:
الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِهِمْ وَمَا وَلَّوْا)
"Sesungguhnya, orang-orang yang adil di sisi
Allah swt. berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya dari tangan
kanan ar-Rahman kedua tangan-Nya adalah kanan-yaitu orang-orang yang berbuat
adil terhadap hukum, keluarga dan orang-orang yang dipimpinnya." Silsilah
al-Hadits, 4/316 hadits 1802 (hasan).
وَالْأُمَّةُ الْمُسْلِمَةُ لَا يَشْفَعُ لَهَا
إِسْلَامُهَا فِي اسْتِحْقَاقِ التَّأْيِيدِ مِنَ اللَّهِ إِذَا كَانَتْ ظَالِمَةً
Keislaman umat Islam tidak akan menolong mereka
untuk mewujudkan penguatan dari Allah swt. jika mereka zalim.
فَمِنْ أَسْبَابِ التَّمْكِينِ فِي الْأَرْضِ،
وَالتَّأْيِيدِ مِنَ اللَّهِ، أَنْ يُحَالَ دُونَ تَفَشِّي الْمَظَالِمِ، وَأَنْ
يَعُمَّ الْعَدْلُ حَيَاةَ الْمُسْلِمِينَ
Karena salah satu penyebab kokohnya kedudukan
mereka di muka bumi dan penguatan Allah swt. bagi mereka adalah pencegahan
merajalelanya kezaliman dan penyebarluasan keadilan dalam kehidupan umat Islam.
وَلِذَلِكَ يَقُولُ ابْنُ تَيْمِيَةَ: (إِنَّ اللَّهَ
يُقِيمُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً، وَلَا يُقِيمُ
الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً)
Karena itulah Ibnu Taimiyah berkata,
"Sesungguhnya, Allah swt, menegakkan negara yang adil -meskipun kafir-dan
tidak menegakkan negara yang zalim-meskipun beriman. " Shahih Muslim,
Kitab al-Imarah, bab 5, hadits 1827 (6/352).
وَكَذَلِكَ فَإِنَّ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ
مُسْتَجَابَةٌ وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا؛
Demikian pula bahwa doa orang yang terzalimi
dikabulkan walaupun dia adalah pendosa,
لِأَنَّ فُجُورَهُ لَا يَقْتَضِي التَّعَدِّيَ
عَلَيْهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، وَلَا غَمْطَ حَقٍّ مِنْ حُقُوقِهِ، كَمَا فِي قَوْلِهِ
ﷺ
karena dosanya tidak menuntutnya untuk mendapatkan
pelanggaran hak dan tidak pula merendahkan satu pun haknya, sebagaimana sabda
beliau ﷺ
دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ، وَإِنْ كَانَ
فَاجِرًا فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ
"Doa orang yang terzalimi mustajab, walaupun
dia adalah pendosa karena dosanya itu atas dirinya sendiri." Majmu'
Fatawa, Ibnu Taimiyah 28/146. 433 Shahih al-Jami' nomor 3382 (hasan).
إِنَّ عَدْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَسَعُ
الْبَهَائِمَ مِثْلَمَا يَسَعُ النَّاسَ
Sesungguhnya, keadilan Allah swt. mencakup
hewan-hewan sebagaimana halnya mencakup manusia.
وَمِنَ الْخَيْرِ لِلْعَبْدِ أَلَّا يَظْلِمَ
مَخْلُوقًا فِي الدُّنْيَا مِنْ إِنْسَانٍ أَوْ حَيَوَانٍ
Salah satu kebaikan seorang hamba adalah tidak
menzalimi suatu makhluk di dunia, baik manusia maupun hewan,
وَأَنْ يُبَادِرَ إِلَى أَدَاءِ الْحُقُوقِ فِي
هَذِهِ الدُّنْيَا مُخْتَارًا، قَبْلَ أَنْ يُقَادَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
serta senantiasa bergegas menunaikan hak-hak di
dunia ini secara terpilih sebelum dituntut oleh yang berhak pada hari Kiamat.
وَلِذَلِكَ يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: (لَتُؤَدُّنَّ
الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؛ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ
الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ)
Mengenai hal ini Rasulullah ﷺ bersabda, "Kamu benar-benar menunaikan hak-hak kepada yang
berhak pada hari Kiamat sampai-sampai dituntut karena hewan ternak yang tidak
bertanduk dari yang bertanduk." Shohih Aljami' nomor 3382 Hasan
وَلِذَلِكَ فَإِنَّ (مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ
مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ: مِنْ عِرْضِهِ، أَوْ شَيْءٍ مِنْهُ فَلْيَتَحَلَّلْهُ
مِنْهُ الْيَوْمَ، مِنْ قَبْلِ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ
كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ
يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ، فَحُمِلَ عَلَيْهِ)
Karena itulah, "Barangsiapa memiliki dosa
menzalimi saudaranya, dari segi kehormatannya, atau sesuatu miliknya, hendaknya
meminta kehalalannya pada hari itu juga, sebelum tidak ada lagi dinar dan
dirham. Jika dia memiliki amal saleh, maka akan diambil sesuai tindak
kezalimannya. Jika dia tidak memiliki kebaikan, maka sebagian keburukan orang
yang dizalimi itu akan diambil dan ditimpakan kepadanya." Dikeluarkan oleh
Imam Muslim dan at-Turmudzi, Jami' al-Ushul, 10/432 nomor 7960.
كَمَا فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ
Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang shahih
juga,
وَمَهْمَا يَكُنِ الْمَظْلُومُ ضَعِيفًا، فَإِنَّ
اللَّهَ نَاصِرُهُ، وَمَنْ لَهُ بِاللَّهِ طَاقَةٌ حَتَّى يَتَجَرَّأَ عَلَى
ظُلْمِ الْعِبَادِ؟
Walaupun orang yang terzalimi menjadi lemah, namun
Allah swt. akan menolongnya. Siapakah yang memiliki kemampuan lebih dari Allah
swt. hingga berani menzalimi para hamba-Nya?
فَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ: (...وَدَعْوَةُ
الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ، وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ
السَّمَاءِ، وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَأَنْصُرَنَّكَ
وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ)
Telah disebutkan dalam hadits, dan doa orang yang
terzalimi akan diangkat oleh Allah swt. ke. atas awan dan dibukakan pintu-pintu
langit, dan Tuhan berfirman, Demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku akan
benar-benar menolongmu meskipun setelah beberapa saat." Dikeluarkan oleh
Bukhari, Jami' al-Ushul, 10/431 nomor 7958.
فَلَا يَتَجَرَّأَنَّ ظَالِمٌ إِنْ أَمْهَلَهُ
اللَّهُ؛ لِأَنَّ اللَّهَ نَاصِرُ كُلِّ مَظْلُومٍ - وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ - قَالَ
تَعَالَى
Karena itulah jangan sekali-kali orang yang zalim
berani, meskipun Allah swt. memberinya penangguhan. Sebab, Allah swt. akan
menolong orang yang terzalimi, meskipun setelah beberapa saat. Allah swt.
berfirman,
﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا
يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ
الْأَبْصَارُ﴾ [إبراهيم: ٤٢]
"Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad)
mengira, bahwa Allah swt. lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang
zalim. Sesungguhnya, Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada
waktu itu mata (mereka) terbelalak." (Ibrahim [14]: 42)
إِنَّ اللَّهَ لِيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا
أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
"Sesungguhnya, Allah swt. memberi tangguh
kepada orang-orang yang zalim sampai Dia mengazabnya dan tidak akan
melepaskannya."
ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ﴿وَكَذَلِكَ أَخْذُ
رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ﴾
[هود: ۱۰۲]۱
Kemudian Rasulullah ﷺ
membaca firman Allah swt., "Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia
mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya, azab-Nya itu
adalah sangat pedih lagi keras." (Huud [11]: 102)
وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَلِّمُ
أَصْحَابَهُ أَنْ يَدْعُوا رَبَّهُمْ بِدَفْعِ الظُّلْمِ عَنْهُمْ
Rasulullah ﷺ
telah mengajarkan para sahabat beliau untuk berdoa kepada Tuhan mereka untuk
mencegah kezaliman yang berasal dari diri mereka sendiri
وَوِقَايَتِهِمْ مِنْ شُرُورِ كُلِّ ظَالِمٍ؛
لِيُنَمِّيَ فِي نُفُوسِهِمْ بُغْضَ الظُّلْمِ وَالظَّالِمِينَ، وَلِيَزْرَعَ فِي
قُلُوبِهِمْ مَشَاعِرَ الْعِزَّةِ وَالْكَرَامَةِ
dan melindungi mereka dari kejahatan semua orang
yang zalim agar di dalam jiwa mereka tumbuh rasa benci terhadap kezaliman dan
orang-orang yang zalim dan serta agar mekar dalam hati mereka rasa kemuliaan
dan kebaikan.
وَقَلَّمَا كَانَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى
يَدْعُوَ لِأَصْحَابِهِ بِمِثْلِ قَوْلِهِ
Yakni, ketika beliau berdiri dari suatu majelis
sampai mendoakan para sahabatnya dengan sabda beliau,
وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا،
وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا. وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا
يَرْحَمُنَا
"Dan jadikanlah penuntutan balas kami atas
orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang yang memusuhi kami,
dan janganlah orang yang tidak menyayangi kami menguasai kami."
Dikeluarkan oleh Imam Turmudzi dan dihasankan dan disepakati oleh Ibnu Hajar
dan al-Arnauth, Jami' al-Ushul, 4/145.
وَفِي حَدِيثٍ آخَرَ دُعَاؤُهُ: (رَبِّ أَعِنِّي
وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرِ
الْهُدَى إِلَيَّ، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ...)
Dan dalam hadits yang lain disebutkan doa beliau,
"Ya Tuhanku bantulah aku dan janganlah Engkau bantu musuh terhadapku..
Tolonglah aku dan janganlah Engkau tolong musuh terhadapku. Berikanlah aku
petunjuk serta mudahkanlah petunjuk kepadaku, dan tolonglah aku atas orang yang
membangkang atasku..." Shahih Sunan Turmudzi lil Albani, 3/168 nomor
2783/2739 (hasan).
أَفَلَا يَرْتَجِفُ قَلْبُ الظَّالِمِ مِنْ دَعْوَةِ
مَظْلُومِيهِ؟
Apakah hati orang yang zalim tidak gemetar
mendengar doa orang-orang yang telah dizaliminya?
أَوَلَا تَنْبَعِثُ فِي نُفُوسِنَا دَوَافِعُ رَفْعِ
الظُّلْمِ وَإِنْشَاءِ الْعَدْلِ وَالتَّوَاصِي بِهِ؟
Dan, apakah tidak tumbuh dalam jiwa kita semangat
untuk melenyapkan kezaliman dan menyebarluaskan keadilan serta saling
menasihati tentangnya?
وَمِمَّا يُفْتَنُ بِهِ الظَّالِمُ الْوَجِيهُ فِي
قَوْمِهِ أَنَّهُ لَا يَرَى مَنْ يَزْجُرُهُ
Salah satu fitnah dari orang yang zalim yang
memiliki kedudukan adalah dia tidak memandang siapa yang dia caci.
بَلْ قَدْ يَجِدُ مَنْ يُحَسِّنُ لَهُ عُدْوَانَهُ،
وَيُبَرِّرُهُ لَهُ بِأَنَّهُ عَيْنُ الْحِكْمَةِ
Bahkan, terkadang dia mendapati orang yang berbuat
baik kepadanya adalah musuhnya dan berbuat baik untuknya karena dia adalah mata
air kebijaksanaan
كَمَا هُوَ شَأْنُ بِطَانَةِ السُّوءِ فِي كُلِّ
زَمَانٍ - فَلْيُرَاجِعْ كُلُّ ظَالِمٍ نَفْسَهُ إِذَا كَانَ حَرِيصًا عَلَى
نَجَاتِهِ
sebagaimana halnya orang-orang kepercayaan atau
para pembantu keburukan pada setiap masa-hendaklah semua orang zalim
menginstrospeksi diri jika dia berambisi untuk sukses.
فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: (يَكُونُ
أُمَرَاءُ فَلَا يُرَدُّ عَلَيْهِمْ قَوْلُهُمْ، يَتَهَافَتُونَ فِي النَّارِ
يَتْبَعُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا)
Sebab, Rasulullah ﷺ
telah bersabda, "Terdapat para pemimpin yang tidak pernah disanggah
perkataannya, Mereka akan berdesak-desakan di neraka dan akan susul
menyusul." Shahih Sunan Turmudzi lil Albani, 3/178 nomor 2816/3803
(hasan).
وَأَوْلَى بِالْبِطَانَةِ أَنْ تَحُضَّ عَلَى
الْخَيْرِ، وَتَقِفَ مَعَ صَاحِبِ الْحَقِّ
Yang seharusnya dilakukan oleh para pembantu atau
orang kepercayaan adalah mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan membela yang
benar,
كَمَا كَانَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حِينَ انْتَهَرَ
الصَّحَابَةُ أَعْرَابِيًّا اشْتَدَّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ فِي طَلَبِ دَيْنِهِ
sebagaimana telah terjadi atas Rasulullah ﷺ ketika para sahabat memarahi seorang Badui
yang bersikap keterlaluan dalam menagih utang pada Rasulullah ﷺ
فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: (هَلَّا مَعَ
صَاحِبِ الْحَقِّ كُنْتُمْ)
Ketika itu, Rasulullah ﷺ
bersabda kepada mereka, "Mengapa kalian tidak membela yang benar?.
Silsilah al-Ahadits as-Shahihah, 4/398 nomor 179 (hasan).
وَمَصْدَاقِيَّةُ الدَّاعِينَ إِلَى الْإِسْلَامِ
أَمَامَ أَتْبَاعِهِمْ، لَا تَكُونُ إِلَّا بِإِشَاعَةِ رُوحِ الْعَدْلِ،
وَمُنَاصَرَةِ الْمَظْلُومِينَ، وَقَدْ قَالَ أَحَدُ الدُّعَاةِ مُعَبِّرًا عَنْ
هَذَا الْمَعْنَى
Kredibilitas para dai Islam di depan para
pengikutnya tidak akan ada tanpa penyebarluasan semangat keadilan dan
pertolongan atas orang-orang yang terzalimi.
Seorang dai telah berkata sebagai ungkapari atas
arti ini,
لَمْ نَسْمَعْ مِنَ الدُّعَاةِ وَلَا مِنَ
الْمُتَمَسْلِمِينَ.. صَيْحَاتٍ مُدَوِّيَةً تَشُقُّ آذَانَ الظَّلَمَةِ،
وَتُنَادِي بِإِنْصَافِ الْعَامِلِ الْمَفْصُولِ بِغَيْرِ حَقٍّ، مِنْ أَجْلِ
ذَلِكَ أَخْشَى عَلَى الْإِسْلَامِ مِنَ الْمُنْتَسِبِينَ إِلَيْهِ نِفَاقًا،
وَالْمَحْسُوبِينَ عَلَيْهِ صُورَةً، أَكْثَرَ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْهِ مِنْ
أَعْدَائِهِ الْمُجَاهِرِينَ بِرَفْضِهِ وَالْمُعْلِنِينَ الْحَرْبَ عَلَى
أَهْلِهِ
"Kami tidak akan mendengar dari para dai'
teriakan-teriakan yang bergema membelah kumandang suara kezaliman dan
menyerukan keadilan bagi orang yang terzalimi."
Karena itulah saya lebih mengkhawatirkan Islam
dimasuki orang-orang munafik sebagai kedok daripada mengkhawatirkan para musuh
Islam yang terang-terangan menolaknya dan orang-orang yang mengumumkan perang
saudara. Shahih Sunan Ibnu Majah, 2/55/nomor 1969/2426 (shahih).
وَلِذَلِكَ تَبَرَّأَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنَ
الشَّيَاطِينِ الْخُرْسِ؛ الَّذِينَ يُعِينُونَ عَلَى الظُّلْمِ بِسُكُوتِهِمْ
عَنْهُ
Karena itulah Rasulullah saw. lepas diri dari
setan-setan yang bisu yang melakukan kezaliman dengan cara mendiamkannya.
إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ، فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ
"Akan ada sepeninggalku para pemimpin.
Barangsiapa memasuki istana mereka dan membenarkan kebohongan mereka serta
membantu kezaliman mereka, maka dia tidak termasuk dari golonganku dan aku pun
tidak termasuk golongannya dan dia tidak akan mendatangi telaga
(al-Haudh)..." As-Suluk al-Ijtima'i fi al-Islam, hlm. 108.
وَتَمَامُ الْعَدْلِ حِينَ يَكُونُ مَعَ الصَّدِيقِ
وَالْعَدُوِّ، كَمَا عَلَّمَنَا الْقُرْآنُ
Menyempurnakan keadilan ketika bersama orang yang
benar dan musuh seperti yang telah Al-Quran ajarkan kepada kita,
﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى
أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى...﴾ [المائدة: ۸]
"...Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..." (al-Maidah [5]: 8)
وَقَدْ فَقِهَ يَهُودُ أَنَّ هَذَا الْعَدْلَ بِهِ
تَقُومُ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
Salah satu satu suku Yahudi telah memahami bahwa
dengan keadilan inilah langit dan bumi berdiri,
حِينَ جَاءَهُمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ
مَبْعُوثًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ؛ لِتَقْدِيرِ مَحْصُولِهِمْ مِنَ الثِّمَارِ
وَالزُّرُوعِ، وَتَقَاسُمِهَا حَسَبَ مَا تَمَّ الِاتِّفَاقُ عَلَيْهِ بَعْدَ
فَتْحِ خَيْبَرَ
yaitu ketika mereka didatangi oleh Abdullah bin
Rawahah sebagai utusan dari Rasulullah saw. untuk menarik pajak hasil
perkebunan dan pertanian mereka sebagai realisasi kesepakatan dengan mereka
setelah penaklukan Khaibar.
فَحَاوَلُوا رَشْوَةَ ابْنِ رَوَاحَةَ لِيَرْفُقَ
بِهِمْ
Pada saat itu, mereka mencoba menyogok Abdullah bin
Rawahah agar bersikap lemah lembut terhadap mereka.
فَقَالَ لَهُمْ: (وَاللَّهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ مِنْ
عِنْدِ أَحَبِّ الْخَلْقِ إِلَيَّ، وَلَأَنْتُمْ أَبْغَضُ إِلَيَّ مِنْ
أَعْدَادِكُمْ مِنَ الْقِرَدَةِ وَالْخَنَازِيرِ، وَمَا يَحْمِلُنِي حُبِّي
إِيَّاهُ وَبُغْضِي لَكُمْ عَلَى أَنْ لَا أَعْدِلَ فِيكُمْ. فَقَالُوا: بِهَذَا
قَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ)
Maka, dia berkata kepada mereka, "Demi Allah,
aku telah diutus kepada kalian oleh makhluk yang paling aku cintai, dan kalian
benar-benar orang-orang yang paling aku benci karena bilangan kalian dari
monyet-monyet dan babi-babi. Namun kecintaanku kepada beliau dan kebencianku
kepada kalian tidak akan menghalangiku untuk bertindak adil atas kalian."
Maka mereka pün berkata, "Dengan inilah langit dan bumi berdiri."
At-Tarbiyah al-Islamiyyah Turmudzi dan an-Nasa', dan dihasankan oleh al-Arnauth,
Jami' al-Ushul, 4/75 nomor 2061.
خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN
اخْتِيَارُ الْهِجْرَةِ إِلَى الْحَبَشَةِ لِأَنَّهُ
لَا يُظْلَمُ فِيهَا أَحَدٌ
Terpilihnya negeri Habasyah sebagai tempat untuk
berhijrah karena rajanya tidak menzalimi siapa pun.
الْإِمَامُ الْعَادِلُ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُ
وَيُظِلُّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّ عَرْشِهِ
Pemimpin yang adil doanya tidak tertolak dan Allah
swt. akan menaunginya dalam naungan 'Arsy-Nya.
مِنْ أَعْلَى مَرَاتِبِ الْعَدْلِ أَنْ يَكُونَ فِي
الْغَضَبِ وَالرِّضَى
Salah satu martabat keadilan tertinggi adalah
berbuat adil di waktu marah dan senang.
يَنْصُرُ اللَّهُ الدَّوْلَةَ الْكَافِرَةَ
الْعَادِلَةَ عَلَى ظَلَمَةِ الْمُسْلِمِينَ
Allah swt. akan memenangkan negeri kafir yang adil
atas negeri mukmin yang zalim.
الظُّلْمُ مُسْتَقْبَحٌ حَتَّى مَعَ الْبَهَائِمِ
Kezaliman dipandang buruk meskipun terhadap
hewan-hewan.
التَّحَلُّلُ مِنَ الْمَظْلُومِ فِي الدُّنْيَا
قَبْلَ يَوْمِ الْحِسَابِ
Meminta kehalalan dari orang yang dizalimi
dilakukan di dunia sebelum hari perhitungan.
اللَّهُ يَسْتَدْرِجُ الظَّالِمِينَ فَإِذَا
أَخَذَهُمْ لَمْ يُفْلِتْهُمْ
Allah swt. memberikan penangguhan orang-orang yang
zalim dari jika Dia mengazab mereka Dia tidak akan melepaskan mereka.
كَثِيرٌ مِنَ الْأَدْعِيَةِ تَحْمِلُ النَّفْرَةَ
مِنَ الظُّلْمِ
Banyak dari para dai yang membawa kezaliman.
إِذَا لَمْ يَجِدِ الظَّالِمُ مَنْ يَأْخُذُ عَلَى
يَدَيْهِ تَمَادَى
Jika orang yang zalim tidak menemukan siapa yang
mencelanya, maka dia akan terus melakukannya.
مِنَ الْعَدْلِ الْوُقُوفُ مَعَ صَاحِبِ الْحَقِّ
وَإِنْ كَانَ وَضِيعًا
Termasuk keadilan, yaitu membela kebenaran meskipun
menjadi terhina.
تَمَامُ الْعَدْلِ أَنْ يَكُونَ مَعَ الصَّدِيقِ
وَالْعَدُوِّ
Sempurnanya keadilan adalah ketika diterapkan
kepada orang kawan maupun lawan.
➖➖➖➖
📙📙📙
Sumber :
هذه
اخلاقنا حين نكون مؤمنين
The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞
Catatan Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan. Dipersilahkan - share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar