Label xxx

Minggu, 23 November 2025

Memilih orang kepercayaan 04 Bab 05 Hadzihi Akhlaquna


AKHLAK KITA DALAM KEPEMIMPINAN

​اِصْطِفَاءُ الْبِطَانَةِ

Kelima: Memilih Orang-orang Kepercayaan


اَللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا

"Ya Allah, mudahkanlah bagiku bergaul dengan orang-orang, shaleh."


​سَوَاءٌ أَكُنْتَ رَئِيسًا أَمْ مَرْؤُوسًا، مَأْمُورًا أَمْ آمِرًا

Baik saat Anda menjadi seorang pemimpin maupun bawahan, orang yang diperintah maupun memerintah,

فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ لَكَ أَصْحَابٌ تُقَرِّبُهُمْ إِلَيْكَ

hendaklah Anda memiliki sahabat yang dapat mendekatkan Anda pada Allah swt.

وَتَسْتَأْنِسُ بِهِمْ وَتُشَاوِرُهُمْ فِي كَثِيرٍ مِنْ أُمُورِكَ

Bersikap lembutlah pada mereka, bermusyawarahlah dengan mereka dalam berbagai permasalahanmu,

وَهَؤُلَاءِ هُمْ بِطَانَتُكَ، وَقَدْ غَلَبَ اسْتِعْمَالُ

karena mereka adalah sahabat karibmu... (orang-orang kepercayaanmu (orang terdekatmu/pendamping setiamu), dan sungguh telah lazim/banyak digunakan istilah ini)"

لَفْظِ (اَلْبِطَانَةِ) مَعَ الْأُمَرَاءِ

 Kata "bithanah" banyak dipakai untuk para pemimpin.

وَقَدْ فَسَّرَ اِبْنُ حَجَرٍ اَلْبِطَانَةَ: بِـاَلدُّخَلَاءِ، جَمْعُ دَخِيلٍ

Ibnu Hajar menafsirkan "bithanah" dengan "ad-Dukhala" Para pendobrak, bentuk plural dari "ad-Dakhil".

(وَهُوَ الَّذِي يَدْخُلُ عَلَى الرَّئِيسِ فِي مَكَانِ خَلْوَتِهِ، يُفْضِي إِلَيْهِ بِسِرِّهِ

Yaitu, yang masuk menemui pemimpin pada tempat khalwat, kemudian menyebarkan rahasianya,

وَيُصَدِّقُهُ فِيمَا يُخْبِرُهُ بِهِ مِمَّا يَخْفَى عَلَيْهِ مِنْ أَمْرِ رَعِيَّتِهِ، وَيَعْمَلُ بِمُقْتَضَاهُ) (١)

kemudian mempercayainya akan apa-apa yang dikabarkannya dari sesuatu yang disembunyikan akan hal ihwal rakyatnya, kemudian bekerja sesuai dengan kebutuhan. Thabaqat Ibnu Sa'ad, 3/224, Sunan al-Baihaqi, 8/173.

​كَثِيرًا مَا نَرَى مِنْ أَهْلِ الصَّلَاحِ مَنْ يَزِلُّ زَلَّاتٍ

Sebagaimana yang telah kita lihat dari kaum pembaharu yang menghilangkan segala gangguan,

إِنَّمَا اسْتَدْرَجَتْهُ إِلَيْهَا بِطَانَةٌ فَاسِدَةٌ

hal itu terjadi karena perbuatan yang dilakukan oleh "tangari kanan yang jahat,"

زَيَّنَتْ لَهُ الْبَاطِلَ، وَحَجَبَتِ الْحَقَّ عَنْ عَيْنَيْهِ

yang menghiasi pada penguasa akan hal batil dengan sesuatu yang baik, kemudian menutupi kebenaran dari kedua pandangannya.

وَمَسْؤُولِيَّةُ أَحَدِنَا تَبْدَأُ مِنْ حُسْنِ الْاِخْتِيَارِ لِلْأَصْحَابِ

Tanggung jawab setiap diri kita diawali dengan bagaimana kita dalam memilih sahabat,

فَالصَّاحِبُ دَلِيلٌ عَلَى صَاحِبِهِ

karena seorang kawan adalah petunjuk bagi kawannya.

إِذْ أَنَّ النُّفُوسَ الْمُتَمَاثِلَةَ تَتَجَاذَبُ فِيمَا بَيْنَهَا

Dan, karena jiwa-jiwa saling berkaitan satu sama lain,

كَمَا بَيَّنَ رَسُولُ اللَّهِ بِقَوْلِهِ

sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah ﷺ dengan sabdanya,

(اَلْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ)

"Seseorang itu bergantung pada agama sahabatnya. Hendaklah setiap kalian melihat kepada siapa ia bersahabat." Fat-hu al-Baari, 13/190-Kitab al-Ahkam, Bab 42.

لِأَنَّ أَيَّةَ صُحْبَةٍ لَا تَخْلُو مِنْ تَأْثِيرٍ وَتَأَثُّرٍ

Segala bentuk persahabatan takkan lepas dari dampak yang akan ditimbulkannya.

وَقَدْ كَانَ سَلَفُ الْأُمَّةِ يَحْرِصُونَ عَلَى الْأُنْسِ بِالْجَلِيسِ الصَّالِحِ

Adalah umat terdahulu yang sangat teliti dalam memilih orang yang akan diajak bergaul dari kalangan orang saleh,

وَالصَّاحِبِ التَّقِيِّ الَّذِي يُعِينُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُزِيلُ وَحْشَةَ الْغُرْبَةِ

sahabat yang bertakwa, yang menolong dalam melakukan kebaikan, dan menghilangkan pedihnya keterasingan.

 وَقَدْ وَرَدَ عَنْ عَلْقَمَةَ أَنَّهُ حِينَ قَدِمَ الشَّامَ غَرِيبًا دَعَا

Telah diriwayatkan dari al-Qamah bahwa saat ia tiba di Syam dengan rasa terasing, ia berujar,

(اَللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا)

"Ya Allah, mudahkanlah aku untuk berjumpa dengan orang-orang saleh." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, isnadnya hasan, Jami al-Ushul, 6/667, hadits 4967.

لِأَنَّ الْجَلِيسَ الصَّالِحَ يُذَكِّرُكَ إِذَا غَفَلْتَ، وَيُعِينُكَ إِذَا تَذَكَّرْتَ

Kawan yang baik akan mengingatkanmu bila engkau lalai, dan akan menolongmu saat engkau ingat.

​وَرَسُولُ اللَّهِ بَيَّنَ أَنَّهُ مَا مِنْ نَبِيٍّ وَلَا خَلِيفَةٍ، إِلَّا وَيَقَعُ بَيْنَ دَوَاعِي بِطَانَتَيْنِ

Rasulullah ﷺ menerangkan bahwa tidak ada seorang Nabi pun ataupun khalifah, kecuali ia akan mempunyai dua orang kepercayaan,

(مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ

"Allah swt. tidak akan mengutus seorang Nabi ataupun khalifah kecuali mereka memiliki dua orang kepercayaan: 

بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ) (١)

orang kepercayaan yang memerintahkannya pada kebaikan dan orang kepercayaan yang memerintahkannya pada kejahatan." Shahih Bukhari Kitab Keutamaan Sahabat, Bab 20, hadits 3743, al-Fat-h7/91

وَفِي رِوَايَةٍ (وَبِطَانَةٌ لَا تَأْلُوهُ خَبَالًا) (٢)

Dalam riwayat lain "Orang kepercayaan yang suka berbuat kerusakan." Shahih Bukhari, Kitab al-Ahkam Bab 42, hadits 7198, al-Fat-h, 13/189. 

وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَحْتَاطَ لِأَمْرِ دِينِكَ

Bila engkau hendak membentengi agamamu,

فَمِنَ الْبِدَايَةِ خُذْ بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ لَهُ بِاِخْتِيَارِ صَالِحِي الْمُؤْمِنِينَ لِبِطَانَتِكَ

maka yáng pertama engkau lakukan adalah hendaknya engkau mengambil wasiat Rasulullah ﷺ dengan memilih orang-orang saleh dari kalangan mukminin sebagai orang-orang kepercayaanmu.

(لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا)

Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah bergaul kecuali dengan orang beriman." Musnad Ahmad 2/237, telah dishahihkan oleh Ahmad Syakir dengan isnadnya (7238).

ثُمَّ لَاحِظْ مَا تَرَاهُ: مِنْ حِرْصِ أَخِيكَ عَلَى جَلْبِ الْخَيْرِ إِلَيْكَ

Kemudian perhatikanlah apa yang diperbuat saudaramu dalam menganjurkan kebaikan kepadamu,

وَعَلَى اِتِّقَاءِ مَسَاءَتِكَ، فَإِنَّ أَفْضَلَهُمْ صُحْبَةً

dan takut akan kejahatanmu. Sesungguhnya, yang terbaik untuk dijadikan sahabat-

كَمَا فِي الْحَدِيثِ أَكْثَرُهُمْ حِرْصًا عَلَى جَلْبِ الْخَيْرِ إِلَيْكَ

sebagaimana yang dikatakan oleh hadits-adalah mereka yang sangat menganjurkan kebaikan pada dirimu.

(خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ)

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah mereka yang baik terhadap sahabatnya." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan isnadnya hasan, Jami al-Ushul, 6/666 hadits 4966.

​وَأَوْلَى النَّاسِ بِالتَّقْرِيبِ، هُمْ أَهْلُ الْعِلْمِ وَالصَّلَاحِ

Manusia yang paling utama untuk didekati adalah yang memiliki ilmu dan kebaikan.

وَلِذَلِكَ فَقَدْ كَانَتْ بِطَانَةُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنَ الْقُرَّاءِ

Oleh karena itu, orang-orang kepercayaan Umar bin Khaththab terdiri dari para Qari'.

رَوَى اِبْنُ عَبَّاسٍ أَنَّهُ: (كَانَ الْقُرَّاءُ أَصْحَابَ مَجَالِسِ عُمَرَ وَمُشَاوَرَتِهِ - كُهُولًا كَانُوا أَوْ شُبَّانًا) (٥)

Ibnu Abbas meriwayatkan, "Para Qari menjadi teman musyawarah Umar bin Khaththab r.a., baik yang tua maupun yang muda" Shahih Sunan Turmidzi, karya al-Bani 2/184, al-Hadits 1586 (shahih). 

وَكُلَّمَا كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالتَّقْوَى كُنْتَ أَبْعَدَ عَنِ الزَّلَلِ - بِإِذْنِ اللَّهِ

Selama mereka memiliki ilmu dan ketakwaan, mereka jauh dari kesesatan dengan izin Allah swt.

وَقَدْ تَوَّجَ الْبُخَارِيُّ أَحَدَ أَبْوَابِ صَحِيحِهِ بِقَوْلِهِ

Imam Bukhari menuliskan pada salah satu bab dalam kitab Shahihnya dengan ucapannya,

(وَكَانَتِ الْأَئِمَّةُ بَعْدَ النَّبِيِّ يَسْتَشِيرُونَ الْأُمَنَاءَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ..)

"Adalah para penguasa setelah Nabi Muhammad ﷺ bermusyawarah dengan orang-orang tepercaya dari para ulama." Shahih Bukhari Kitab at-Tafsir, Bab 5, hadits 4642, al-Fat-h 8/304.

وَفِي فَاتِحَةِ بَابٍ آخَرَ يَنْقُلُ عَنْ عَلِيٍّ وَشُرَيْحٍ قَوْلَهُمَا فِي الْمَرْأَةِ الَّتِي تَدَّعِي أَنَّهَا حَاضَتْ فِي شَهْرٍ ثَلَاثًا

Pada pembukaan bab lain dinukil dari Ali dan Syuraih, perkataan keduanya tentang wanita yang mengatakan bahwa dirinya haid selama tiga hari tiap bulan,

(إِنْ جَاءَتْ بِبَيِّنَةٍ مِنْ بِطَانَةِ أَهْلِهَا - مِمَّنْ يُرْضَى صَدَقَتْ)

"Bila ada keterangan dari keluarganya yang tepercaya-yang agamanya dapat dipercaya-maka ia dapat dipercaya." Shahih Bukhari Kitab al-Ithisham, dari terjemah bab 28, al-Fat-h, 13/239.

فَالْمِقْيَاسُ صَلَاحُ دِينِ الرَّجُلِ

Yang dijadikan ukuran adalah tingkat keberagamaan seseorang,

وَلَيْسَتْ مَعَايِيرَ الطِّينِ وَالْمَادَّةِ

dan bukannya berdasarkan pada standar pernampilanı, materiil,

وَالذَّوَبَانِ فِي شَخْصِيَّةِ الصَّاحِبِ

ataupun bersifat instan yang berada pada diri seseorang.

​وَإِنَّ كِتْمَانَ الْعُيُوبِ عَنِ الصَّاحِبِ خِيَانَةٌ

Sesungguhnya, menyembunyikan aib pada diri seorang sahabat adalah suatu pengkhianatan,

وَالْكَيْدَ لِوَقِيعَةِ مَنِ اِصْطَفَاكَ لِبِطَانَتِهِ جَرِيمَةٌ

kemudian mengabaikan kebajikannya adalah suatu kejahatan. 

وَرَسُولُنَا اللَّهِ اِسْتَعَاذَ مِنْ ذَلِكَ

Rasulullah ﷺ berlindung dari hal tersebut dengan doanya,

(.. وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ)

"Saya berlindung kepada-Mu dari sifat khianat karena hal itu seburuk-buruknya orang kepercayaan." Shahih Bukhari Kitab al-Haid, dari terjemahan bab 24, al-Fat-h, 1/424.

وَحِينَ سَأَلَ اِبْنُ مَسْعُودٍ عَنْ أَيَّامِ الْهَرْجِ مَتَى تَكُونُ؟

Saat Ibnu Mas'ud bertanya tentang hari-hari yang mem-bingungkan, kapankah akan terjadi?

أَجَابَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِأَبْرَزِ فِتَنِ هَذِهِ الْأَيَّامِ. فَقَالَ

Rasulullah ﷺ menjawab dengan menjelaskan fitnah terbesar yang terjadi pada hari-hari tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda,

(حِينَ لَا يَأْمَنُ الرَّجُلُ جَلِيسَهُ)

"Saat seseorang tidak percaya lagi pada teman dekatnya." HR Abu Dawud dan an-Nasa'i, Jami al-Ushul 4/357, hadits 2389.

فَهَذَا أَمْرٌ يَحْتَاجُ إِلَى التَّحَرِّي وَالْاِصْطِفَاءِ الْبَعِيدِ عَنِ الْهَوَى؛

Hal ini amat membutuhkan ketelitian dan menjauhkan diri dari hawa nafsu,

حَتَّى يَجِدَ الْمَرْءُ مَنْ يَأْمَنُهُ

sehingga seseorang mendapati orang yang dapat dipercayai,

وَمَنْ يَطْمَئِنُّ لِصُحْبَتِهِ

kemudian bersikap tenteram bersama sahabatnya.

​وَمِنْ مَزَايَا الْبِطَانَةِ - إِذَا صَلَحَتْ أَنَّهَا تَحُولُ دُونَ شَرٍّ كَبِيرٍ

Di antara keistimewaan orang kepercayaan apabila ia baik-dia akan membawa pada suatu kebaikan tanpa dampak yang besar.

وَتَحُضُّ عَلَى خَيْرٍ كَثِيرٍ

Juga akan memberikan pada kebaikan yang banyak.

وَمِنْ خُطُورَةِ الْبِطَانَةِ - إِذَا فَسَدَتْ أَنَّهَا قَدْ تُحَسِّنُ الْقَبِيحَ

Di antara bahayanya orang kepercayaan-bila ia jahat-ia akan membaguskan hal yang buruk,

أَوْ تُقَبِّحُ الْحَسَنَ بِالْوَسْوَسَةِ وَالتَّظَاهُرِ بِالْإِخْلَاصِ

ataupun memburukkan yang baik; dengan menimbulkan keresahan dan menampakkan dirinya seolah-olah dia adalah seorang yang ikhlas.

وَقَدْ وَصَفَ أَشْهَبُ بِطَانَةَ الْحَاكِمِ بِقَوْلِهِ

Asyhab, orang kepercayaan al-Hakim al-Ma'mun, berkata,

(وَلْيَكُنْ ثِقَةً مَأْمُونًا فَطِنًا عَاقِلًا

"Hendaklah yang menjadi orang kepercayaan Ma'muri adalah seorang yang berakal,

لِأَنَّ الْمُصِيبَةَ إِنَّمَا تَدْخُلُ عَلَى الْحَاكِمِ الْمَأْمُونِ مِنْ قَبُولِهِ قَوْلَ مَنْ لَا يُوثَقُ بِهِ

karena suatu musibah terjadi pada diri Ma'mun karena ia menerima perkataan orang yang tak dapat dipercaya.

إِذَا كَانَ هُوَ حَسَنَ الظَّنِّ بِهِ فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَثَبَّتَ فِي مِثْلِ ذَلِكَ) (٤)

Bilamana ia (khalifah) berbaik sangka padanya, hendaknya ia bersikap waspada dalam hal tersebut." Musnad Ahmad, 1/448 dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Syarh al-Musnad, 6/143 nomor 4286.


​وَقَدْ رَأَيْنَا فِي وَاقِعِنَا أُنَاسًا خَاصَمُوا وَفَجَرُوا وَقَاطَعُوا وَهَجَرُوا

Kita telah melihat dalam realitas kehidupan ini, orang-orang yang bermusuhan kemudian bertengkar lalu memutuskan tali silaturahmi kemudian berhijrah

بِتَحْرِيضِ بِطَانَةٍ حَرَّكَتِ الْغَضَبَ لِلذَّاتِ

karena provokasi yang dilakukan oleh orang-orang yang menyukai kebencian.

وَأَبْدَتِ الْحِرْصَ عَلَى صَاحِبِهَا، وَالْهِيَامَ فِيهِ

Pertama, ia meniupkan api permusuhan tersebut pada kawannya, kemudian mengacaukannya,

أَكْثَرَ مِنْ عَصَبِيَّتِهِ لِنَفْسِهِ

melebihi kecintaan pada dirinya sendiri, 

فَاسْتَعْظَمَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ، وَهَوَى فِي شِبَاكِ وَسَاوِسِ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ

sehingga ia merasa dirinya, besar, membuatnya was-was dengan gangguan setan manusia,

فَعَادَى النَّاسَ وَشَاتَمَهُمْ مَعَ مَا يُعْرَفُ مِنْ صَلَاحِهِ الشَّخْصِيِّ

hingga manusia akhirnya memusuhi mereka. Setelah itu, mencacinya sekalipun mereka mengetahui kebaikan pribadinya.

​فَالْجَلِيسُ الصَّالِحُ كَحَامِلِ الْمِسْكِ

Sahabat yang baik adalah seperti penjual parfum.

وَقَدْ تَكُونُ الرِّيحُ الطَّيِّبَةُ الَّتِي تَجِدُهَا مِنْهُ كَلِمَةَ حَقٍّ صَرِيحَةٍ

Bau harum semerbak didapatkannya dari kata-kata kebenaran yang meluncur dari mulutnya.

فَيَجِبُ أَنْ تَلْقَى مِنْكَ تَجَاوُبًا وَتَقْدِيرًا لِأَنَّ مَبْعَثَهَا الْإِخْلَاصُ لِلْحَقِّ

Karena itu, engkau harus memberinya jawaban dan penghargaan, karena hal tersebut muncul dari keikhlasan pada kebenaran.

وَمِنْ شَوَاهِدِ ذَلِكَ أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ حَدَّثَ بِحَدِيثٍ اِسْتَنْكَرَهُ مُعَاوِيَةُ؛

Di antara yang dapat dijadikan bukti akan hal itu adalah Ubadah bin Shamit berbicara tentang suatu pembicaraan yang kemudian diingkari oleh Mu'awiyah,

لِأَنَّهُ لَمْ يَسْمَعْهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ عُبَادَةُ

karena ia belum men-dengarnya dari Rasulullah ﷺ Maka, Ubadah berkata, 

(لَنُحَدِّثَنَّ بِمَا سَمِعْنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَإِنْ كَرِهَ مُعَاوِيَةُ)

"Kami akan mengatakan apa yang kami dengar dari Rasulullah ﷺ sekalipun tak disukai oleh Mu'awiyah." Fat-hu al-Baari, 13/190-Kitab al-Ahkam dari Syarh, Bab 42.

​وَمِنْ ثَمَرَاتِ الْبِطَانَةِ الصَّالِحَةِ

Di antara keuntungan dari memiliki sahabat yang baik adalah

الْمَشُورَةُ بِالرُّشْدِ وَالسَّدَادِ لِلرَّأْيِ

bermusyawarah dengan benar, mendapatkan ide yang cemerlang,

لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي الْمُسْتَشَارِ الْأَمَانَةُ، وَالْإِشَارَةُ بِالْأَصْلَحِ

karena asal dari penasihat adalah sifat amanah, bermusyawarah untuk mencapai yang terbaik,

 لِقَوْلِهِ ﷺ: (الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ) (٢)

 berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ "Para penasihat adalah orang yang tepercaya." Shahih Muslim, Kitab al-Masaqat, Bab Riba-Hadits 80, Syarh an-Nawawi, 11/14.

وَفِي الْحَدِيثِ: (مَنِ اِسْتَشَارَهُ أَخُوهُ الْمُسْلِمُ فَأَشَارَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ رُشْدٍ فَقَدْ خَانَهُ) (٣)

Dalam suatu hadits disebutkan, "Barangsiapa yang diminta pendapatnya oleh saudaranya, lalu dia memberi petunjuk yang tidak tepat, maka dia telah mengkhianatinya." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, dihasankan oleh al-Arnauth, Jami al-Ushul, 11/562 hadits 9172.

فَانْظُرْ فِيمَنْ وَثِقْتَ وَبِمَنِ اِسْتَرْشَدْتَ، فَكُلُّ اِمْرِئٍ يُحْشَرُ مَعَ بِطَانَتِهِ الْمُخْتَارَةِ، لِأَنَّ (الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ) (٤)

Maka lihatlah siapa yang engkau percayai, dan siapa yang engkau ajak berkonsultasi, karena setiap orang bergantung pada siapa yang ia percayai. Sebab, "Seseorang bersama dengan orang yang dicintainya. Musnad Ahmad, 2/321 lafal tersebut untuknya, diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad yang hasan, Jami al-Ushul, 11/562.

كَمَا أَخْبَرَ ﷺ وَمِنْ بَرَكَةِ الْبِطَانَةِ الصَّالِحَةِ أَنَّهُ تَعُمُّهُمْ الرَّحْمَةُ بَيْنَهُمْ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ بِمَنْزِلَتِهِمْ

Sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ di antara keberkahan memiliki orang kepercayaan yang baik adalah rahmat akan melingkupi mereka semuanya, sekalipun mereka tak pantas untuk mendapatkannya.

 فَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ اللَّهَ يُشْهِدُ مَلَائِكَتَهُ بِأَنَّهُ يَغْفِرُ لِقَوْمٍ جَلَسُوا يَذْكُرُونَ اللَّهَ

Telah diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa Allah swt. bersaksi kepada para malaikatnya bahwa la mengampuni suatu kaum yang duduk untuk berzikir kepada Allah swt.

فَيَقُولُ مَلَكٌ: فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ، وَإِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ

Malaikat berkata, "Di antara mereka terdapat seseorang yang tak ikut berzikir bersama mereka, namun ia datang untuk suatu keperluan,

فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: (هُمُ الْجُلَسَاءُ؛ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ) (١)

maka Allah swt. berfirman, 'Mereka adalah teman dekat yang tidak menyakiti perasaan saudaranya. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Jami al-Ushul, 6/558, hadits 4787.

وَتِلْكَ مِنْ بَرَكَاتِ صُحْبَةِ أَهْلِ الْخَيْرِ

Itu adalah salah satu dari keberkahan bergaul dengan orang baik.

​فَإِنْ كَانَتْ لَكَ بِطَانَةٌ فَأَحْسِنِ اِخْتِيَارَهَا

Bilamana engkau memiliki orang kepercayaan, maka telitilah dalam memilihnya,

وَاِعْمَلْ بِمَا يُشِيرُونَ عَلَيْكَ مِنَ الْخَيْرِ

kemudian lakukanlah kebaikan yang ditunjuki oleh mereka.

وَإِنْ كُنْتَ بِطَانَةً لِغَيْرِكَ فَكُنْ صَرِيحًا صَادِقًا أَمِينًا، وَأَشِرْ بِكُلِّ خَيْرٍ

Jika engkau adalah seorang kepercayaan bagi sahabatmu, bersikap terbukalah, jujur, dapat dipercaya. Tunjukilah ia pada kebaikan.

​وَبِالْتِزَامِ خُلُقِ (اِصْطِفَاءِ الْبِطَانَةِ) تَسْقُطُ الْأَقْنِعَةُ الْكَاذِبَةُ وَتَتَكَشَّفُ الْحَقَائِقُ

Dengan berkomitmen pada nilai-nilai akhlak (kemurnian orang kepercayaan), maka berjatuhanlah topeng-topeng kejahatan, dan tersingkaplah kebenaran.

 وَيَتَمَيَّزُ كُلُّ فَرِيقٍ بِأَهْلِ وُدِّهِ وَأَصْحَابِ خُلَّتِهِ، فَانْظُرْ مَنْ تُخَالِلْ

Tiap kelompok memiliki keistimewaan berdasarkan sahabat yang dimilikinya, maka lihatlah kepada siapa engkau bersahabat.


​خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُه

KESIMPULAN

​اَلْبِطَانَةُ تُؤَثِّرُ بِأَفْكَارِهَا وَأَخْبَارِهَا

→ Orang kepercayaan akan memberikan pengaruh pada pemikiran-pemikirannya juga berita-beritanya.

​حُسْنُ اِخْتِيَارِ الْبِطَانَةِ يُجَنِّبُ كَثِيرًا مِنَ الْمَفَاسِدِ

* Telitilah dalam memilih orang kepercayaan, karena hal itu akan menghindari banyak kerusakan.

​مَنْ أَرَادَ الْاِحْتِيَاطَ لِدِينِهِ يَخْتَارُ الصَّالِحِينَ لِصُحْبَتِهِ

Barangsiapa yang hendak dak membentengi agamanya, hendaklah ia memilih orang-orang saleh sebagai sahabatnya.

​أَهْلُ الْعِلْمِ هُمْ أَوْلَى النَّاسِ بِالتَّقْرِيبِ وَالْمَشُورَةِ

Ahli ilmu adalah manusia yang paling utama untuk didekati dan diajak bermusyawarah.

​فِي أَيَّامِ الْفِتَنِ لَا يَأْمَنُ الرَّجُلُ جَلِيسَهُ

Pada hari-hari terjadinya fitnah seseorang tak mempercayai kawan bicaranya.

​مِنْ خُطُورَةِ الْبِطَانَةِ الْفَاسِدَةِ

→ Di antara bahaya memiliki orang kepercayaan yang merusak adalah:

​أَنَّهَا تُحَسِّنُ الْقَبِيحَ

la akan membaguskan yang buruk. 

​تُسَبِّبُ الْخُصُومَاتِ

Menyebabkan terjadinya permusuhan.

​مِنْ ثَمَرَاتِ الْبِطَانَةِ الصَّالِحَةِ

Di antara buah dari memiliki orang kepercayaan yang baik adalah:

​حُسْنُ الْمَشُورَةِ.

Bijak dalam bermusyawarah.

​عُمُومُ الرَّحْمَةِ.

Memperoleh rahmat.


📙📙📙📙📙

Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share Semoga bermanfaat


 

Senin, 27 Oktober 2025

Etika dalam ketaatan 04 Bab 04 Hadzihi Akhlaquna

AKHLAK KITA DALAM KEPEMIMPINAN

أَدَبِ المُطَاوَعَةِ

Keempat

Etika dalam Melakukan Ketaatan

وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا

"Saling menaatilah dan jangan saling berselisih!"

كُلَّمَا كَانَ المُسْلِمُونَ أَقْرَبَ إِلَى قَطْفِ الثَّمَرَةِ

Setiap kaum muslimin dekat untuk memetik buah.

كَانُوا أَحْوَجَ إِلَى تَقْدِيمِ مَصْلَحَةِ الأُمَّةِ عَلَى الأَهْوَاءِ الشَّخْصِيَّةِ

Mereka diharapkan dapat memberikan kebaikan kepada umat daripada memuaskan nafsu pribadi.

فَلَا بُدَّ أَنْ يَتَنَازَلَ أَحَدُ الأَطْرَافِ المُخْتَلِفَةِ؛

Hendaknya, salah satu pihak yang bertikai mau mengalah,

لِيُطَاوِعَ الطَّرَفَ الآخَرَ، مُؤْثِراً رِضَى اللهِ

untuk kemudian menaati pihak yang lain, karena mengharapkan ridha Allah swt.,

وَجَلْبَ الخَيْرِ العَمِيمِ، وَدَفْعَ الشَّرِّ العَظِيمِ

dan untuk memperoleh kebaikan secara umum, serta mencegah kejahatan yang besar.

اَلْمُطَاوَعَةُ - فِي حَقِيقَتِهَا

Suatu ketaatan hakikatnya adalah

اِسْتِعْدَادٌ مِنْ كُلِّ طَرَفٍ لِلتَّنَازُلِ لِلطَّرَفِ الآخَرِ، إِذَا وَقَعَ اِخْتِلَافٌ عَلَى أَمْرٍ مَا

kesiapan dari seluruh pihak untuk mengalah pada pihak yang lain, jika terjadi perbedaan atas suatu permasalahan.

وَلَيْسَ المَقْصُودُ بِهَذَا التَّنَازُلِ الرُّجُوعَ عَنْ حَقٍّ صَرِيحٍ وَاضِحٍ

Bukanlah yang dimaksud dengan mengalah ini adalah berpaling dari kebenaran yang telah jelas.

وَإِنَّمَا هُوَ لِينُ جَانِبٍ حِينَما يَكُونُ الِاخْتِلَافُ بَيْنَ الحَسَنِ وَالأَحْسَنِ

Akan tetapi, mengalah adalah bersikap lembut jika terjadi perbedaan antara sesuatu yang baik dengan yang terbaik,

أَوْ إِرْجَاءُ المُنَاظَرَةِ فِي الأَمْرِ المُخْتَلَفِ فِيهِ؛ إِبْقَاءً عَلَى المَوَدَّةِ

atau menghindari perdebatan atas sesuatu yang tak disepakati, dan tetap dalam kasih sayang.

وَإِيْثَاراً لِصَفَاءِ القَلْبِ، فَكُلٌّ مِنْهُمَا طَيِّعٌ فِي يَدِ أَخِيهِ، يَتَنَازَلُ هَذَا تَارَةً

Hal itu ditujukan untuk membersihkan hati. Keduanya bersifat fleksibel pada dirinya.

وَيَتَنَازَلُ ذَاكَ أُخْرَى

Terkadang yang ini mengalah dan terkadang yang itu mengalah.

وَهَذَا الأَدَبُ كَانَ وَاضِحاً بَيْنَ صَحَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَاصَّةً إِذَا خَفِيَ وَجْهُ الحَقِّ فِي مَسْأَلَةٍ اجْتِهَادِيَّةٍ

Etika ini jelas terlihat pada diri sahabat Rasulullah ﷺ khususnya saat suatu kebenaran tersembunyi pada hal-hal yang bersifat ijtihad.

وَلِأَنَّنَا بَشَرٌ، فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقْطَعَ لِأَنْفُسِنَا بِصَوَابِ الرَّأْيِ

Karena kita semua adalah manusia, maka kita tak dapat memonopoli kebenaran, kemudian menutup mata.

وَسَدَادِ البَصِيرَةِ، وَلَا بُدَّ مِنَ التَّوَجُّهِ إِلَى اللَّهِ؛ لِيُسَدِّدَ الخُطَا، وَيُثَبِّتَ عَلَى الحَقِّ

Kita harus menghadap kepada Allah swt. agar dapat menutupi kesalahan, kemudian berpegang teguh pada kebenaran.

وَقَدْ كَانَ مِنْ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قِيَامِهِ

Di antara doa Rasulullah ﷺ saat beliau berdiri adalah,

اِهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

"Tunjukilah aku pada sesuatu kebenaran yang diperdebatkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya, engkau menunjuki orang yang engkau inginkan ke jalan yang lurus. 

Mukhtashar Minhaj Qashidin, hlm. 190.

وَأَخْطَرُ مَا يَكُونُ التَّنَازُعُ فِي مَوَاقِفِ الجِهَادِ وَالدَّعْوَةِ

Saya tegaskan di sini pertentangan yang mungkin timbul disebabkan oleh sikap yang diambil untuk jihad dan dakwah.

وَلَقَدْ تَرْجَمَ البُخَارِيُّ بَاباً بِقَوْلِهِ

Imam Bukhari menulis suatu bab yang menyebutnya sebagai 

بَابُ مَا يُكْرَهُ مِنَ التَّنَازُعِ وَالِاخْتِلَافِ فِي الحَرْبِ

"Bab yang Dibenci dari Pertikaian dan Perbedaan Pendapat dalam Berperang."

وَاسْتَشْهَدَ بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ وَأَبِي مُوسَى قَبْلَ إِرْسَالِهِمَا إِلَى اليَمَنِ

Ia bersaksi dengan sebuah wasiat Rasulullah ﷺ kepada Muadz bin Jabal r.a. dan Abu Musa al-Asy'ari r.a. sebelum keduanya dikirim ke negeri Yaman,

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا 

"Mudahkanlah dan jangan dipersulit. Gembirakanlah dan jangan ditakut-takuti. Taatlah dan jangan berbeda pendapat." Shahih Muslim, Kitab al-Musafirin, Bab 26, hadits 770 (Syarh Nawawi 3/203).

وَكَمْ يَكُونُ مُحْرِجاً؛ حِينَ يَتَنَازَعُ دَاعِيَانِ فَاضِلَانِ حَوْلَ مَسْأَلَةٍ شَرْعِيَّةٍ، وَالنَّاسُ بِأَعْيُنِهِمْ يَنْظُرُونَ

Betapa membingungkannya, saat dua orang juru dakwah terkenal berbeda pendapat pada suatu permasalahan syar'i, dan seluruh manusia menyaksikan perdebatan tersebut. 

وَإِنَّمَا يَحْتَاجُ المُؤْمِنُ لِشَجَاعَةِ التَّرَاجُعِ عَنِ الرَّأْيِ المُفَرِّقِ، وَالْتِزَامِ الرَّأْيِ الجَامِعِ

Seorang n untuk meralat suatu mukmin memerlukan suatu keberanian untuk pendapat yang menyebabkan perpecahan, berkomitmen dengan pendapat umum.

وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ حَجَرٍ أَنَّ عَلِيّاً وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَا يُفْتِيَانِ بِالِاتِّبَاعِ أُمَّ الوَلَدِ

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Ali dan Umar r.a. berfatwa agar Ummu Walad tidak dijual.

فَقَالَ (عُبَيْدَةُ) لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: (رَأْيُكَ وَرَأْيُ عُمَرَ فِي الجَمَاعَةِ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ رَأْيِكَ وَحْدَكَ فِي الفُرْقَةِ)

Lalu, Ubaidah r.a. berkata pada Ali ra, "Pendapatmu dan pendapat Umar dalam jamaah lebih saya sukai, daripada pendapat pribadimu dalam kelompok." Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ijtihad, Bab 164, hadits 3038, al-Fat-h, 6/126.

فَتَرَاجَعَ عَلِيٌّ عَنْ فَتْوَاهُ، وَقَالَ: (اقْضُوا كَمَا كُنْتُمْ تَقْضُونَ، فَإِنِّي أَكْرَهُ الِاخْتِلَافَ) (3)

Maka, Ali bin Abu Thalib r.a. meralat fatwanya tersebut, kemudian ia berkata, "Berhukumlah sebagaimana kalian mengambil suatu hukum, karena sesungguhnya saya membenci perbedaan pendapat." Fat-hu al-Baari, 7/73.

وَنَبْذُ الخِلَافِ مُقَدَّمٌ عَلَى الإِصْرَارِ عَلَى تَثْبِيتِ رَأْيٍ أَوْ وُجْهَةِ نَظَرٍ اجْتِهَادِيَّةٍ

Menghindari perbedaan lebih diutamakan daripada berpegang teguh dalam suatu pendapat atau ijtihad.

وَأَمَّا الحَقُّ المَقْطُوعُ فِيهِ، فَيَقْدِرُ الدَّاعِيَةُ الحَكِيمُ عَلَى إِيصَالِهِ بِحِكْمَتِهِ، بَعِيداً عَنِ المُشَاجَرَةِ وَالخُصُومَاتِ

Adapun untuk suatu kebenaran yang terputus, maka seorang juru dakwah yang bijaksana sanggup menyambungkannya kembali dengan kebijakannya, jauh dari pertengkaran dan permusuhan.

وَلَوْ أَنَّنَا نَتَذَكَّرُ حَالَ المُؤْمِنِينَ فِي الجَنَّةِ لَسَعَيْنَا لِأَنْ نَجْعَلَ رِحْلَتَنَا فِي الدُّنْيَا صُورَةً عَنْ حَيَاةِ أَهْلِ الجَنَّةِ

Seandainya kita mengingat kondisi kaum mukminin di surga, maka niscaya kita berusaha agar menjadikan rihlah kita di dunia sebagai gambaran akan kehidupan penduduk surga,

الَّذِينَ وَصَفَهُمُ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ

yang digambarkan oleh Rasulullah ﷺ dalam suatu haditsnya,

(لَا اخْتِلَافَ بَيْنَهُمْ وَلَا تَبَاغُضَ قُلُوبُهُمْ قَلْبٌ وَاحِدٌ) 

"Tak ada perbedaan di antara mereka dan tak ada juga permusuhan. Sesungguhnya, hati mereka satu." Shahih al-Bukhari, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab 9, hadits 3707, al-Fat-h, 7/71.

وَلِذَلِكَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَذِّرُ مِنَ الوُقُوعِ فِي دَوَاعِي الِاخْتِلَافِ؛

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ memperingatkan kita agar tidak terperosok pada hal-hal yang menyebabkan perbedaan 

حَتَّى لَا تَتَنَافَرَ نُفُوسُ الأُمَّةِ

hingga tidak menakutkan jiwa manusia.

(لَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ)

"Janganlah kalian berbeda pendapat yang menyebabkan hatimu nanti akan berbeda juga." Shahih al-Bukhari, Kitab Permulaan Penciptaan, Bab 8, hadits 3245, al-Fat-h, 6/318.

وَلِذَلِكَ كَانَ كَثِيرٌ مِنَ العُلَمَاءِ يَحْتَفِظُونَ لِأَنْفُسِهِمْ بِفَتَاوَى لَا يُشِيعُونَهَا بَيْنَ النَّاسِ؛

Oleh karena itu, mayoritas ulama menyimpan berbagai fatwa untuk dirinya sendiri dan tidak menyebarluaskannya di tengah-tengah manusia.

لِتَفَرُّدِهِمْ بِهَا، وَلِخُرُوجِهَا عَمَّا اُشْتُهِرَ فِي المَسْأَلَةِ حَذَراً مِنْ فِتْنَةِ العَامَّةِ أَوْ تَشْوِيشِ طَلَبَةِ العِلْمِ

Ia tidak mengeluarkan fatwanya tentang satu masalah populer agar tidak menjadi fitnah umum ataupun gangguan dari para penuntut ilmu.

وَكَانَ مِنْ وَصِيَّتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَمَا يُسَوِّي صُفُوفَ الصَّلَاةِ أَنْ يَقُولَ

Di antara wasiat Rasulullah ﷺ saat meluruskan barisan shalat adalah

(اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ)

"Luruskanlah, dan janganlah kalian berbeda pendapat, maka hati kalian nanti akan berbeda. " Shahih Muslim, Kitab ash-Shalat, Bab 28, hadits 432, Syarh an-Nawawi, 2/398.

حَتَّى الِاخْتِلَافُ فِي صَفِّ الصَّلَاةِ قَدْ يَنْعَكِسُ أَثَرُهُ عَلَى تَأْجِيجِ اخْتِلَافِ القُلُوبِ

Hingga perbedaan dalam barisan shalat, pengaruhnya akan berdampak pada perbedaan hati. 

فَلِينُوا فِي أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ

Karena itu, bersikap lembutlah terhadap saudaramu.

وَسَوُّوا صُفُوفَكُمْ، وَاتَّبِعُوا إِمَامَكُمْ، لَعَلَّهُ يَتَرَشَّحُ مِنْ ذَلِكَ ائْتِلَافُ قُلُوبِكُمْ

Luruskanlah barisan kalian. Ikutilah imam kalian. Semoga hal itu akan menyatukan hati kalian.

وَكُلَّمَا كَانَ احْتِكَامُنَا لِلشَّرْعِ خَالِصاً نَكُونُ أَبْعَدَ عَنْ مَهَاوِي الفُرْقَةِ

Setiap kita bersikap ikhlas dalam mengambil suatu hukum, maka kita akan jauh dari perbedaan.

وَهَذَا مَا يُذَكِّرُ المُسْلِمُ بِهِ نَفْسَهُ، وَهُوَ يَدْعُو فِي تَهَجُّدِهِ

Hal inilah yang mengingatkan jiwa seorang muslim, dan itulah doa yang diucapkannya dalam shalat tahajjud,

 اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ

"Ya Allah, untuk-Mu aku menyerahkan diri, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu aku bertobat. Dengan-Mu aku mengadu, dan kepada-Mu aku berhukum."

وَيَجِبُ عَلَى عُقَلَاءِ الأُمَّةِ أَنْ يَكُونُوا عَوْناً فِي دَفْعِ كُلِّ خِلَافٍ

Maka, diwajibkan bagi para intelektual dari kalangan umat ini untuk memberikan pertolongannya dalam menolak segala perbedaan,

وَفَضِّ كُلِّ نِزَاعٍ، وَالمُبَادَرَةِ إِلَى الأَخْذِ بِمَا يُوَحِّدُ الصُّفُوفَ

dan memecahkan segala pertengkaran, dengan segera mengambil langkah yang dapat menyatukan barisan.

وَقَدْ وَصَفَ سَيِّدُنَا عُمَرُ اخْتِلَافَ النَّاسِ فِيمَنْ يُبَايِعُونَ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Umar bin Khaththab r.a. telah menggambarkan perbedaan yang terjadi di kalangan manusia tentang siapa yang akan mereka bai'at sepeninggal Rasulullah ﷺ

إِلَى أَنْ قَالَ

Sampai-sampai Umar bin Khaththab berkata,

فَكَثُرَ اللَّغَطُ وَارْتَفَعَتِ الأَصْوَاتُ، حَتَّى فَرِقْتُ مِنَ الِاخْتِلَافِ فَقُلْتُ

"Teruslah berbantah-bantahan ! Keraskanlah suara kalian hingga saya memisahkan diri dari perbedaan." Melihat hal itu, Umar bin Khaththab berkata,

ابْسُطْ يَدَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ، فَبَسَطَ يَدَهُ، فَبَايَعْتُهُ

"Ulurkanlah tanganmu, wahai Abu Bakar." Kemudian Abu Bakar mengulurkan tangannya.

وَبَايَعَهُ المُهَاجِرُونَ، ثُمَّ بَايَعَتْهُ الأَنْصَارُ (1)

Umar kemudian membai'atnya, lalu kaum Muhajirin ikut membai'atnya, diiringi oleh kaum Anshar. Shahih Muslim, Kitab ash-Shalat, Bab 28, hadits 432, Syarh an-Nawawi, 2/398.

 وَبِهَذَا المَوْقِفِ الجَرِيءِ قَضَى عَلَى فِتْنَةٍ كَانَ مِنَ المُمْكِنِ أَنْ تُصَدِّعَ صُفُوفَ المُسْلِمِينَ

Dengan sikap berani ini Umar bin Khaththab r.a. telah berhasil mengatasi fitnah yang mungkin akan mengacaukan barisan kaum muslimin.

وَيُعِينُ عَلَى خَلْقِ المُطَاوَعَةِ: الْتِزَامُ حُدُودِ الشَّرْعِ، وَطَاعَةُ الأَمِيرِ، وَهَذَا مَا وَجَّهَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالَ

Ketaatan ini membantu dalam berkomitmen dengan batasan-batasan syar'i, dan menaati penguasa. Inilah yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ saat ia berkata,

وَمَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافاً كَثِيراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ.. (2)

"Barangsiapa yang hidup di antara kalian maka ia akan melihat perbedaan yang banyak. Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin yang mendapati petunjuk. Peganglah dengan erat." 

Shahih Bukhari Kitab al-Hudud, Bab 31, hadits 6830, al-Fat-h, 21/144.

وَكَثِيراً مَا يَكُونُ أَمْرُ أَمِيرِكَ فِي عَمَلٍ أَوْ سَفَرٍ – 

Sering kita jumpai bahwa perintah seorang penguasa dalam suatu pekerjaan ataupun perjalanan

مُخَالِفاً لِمَا تَمِيلُ إِلَيْهِ، فَإِنْ ذَهَبَ كُلُّ امْرِئٍ حَسَبَ هَوَاهُ 

bertentangan dengan apa yang engkau inginkan bila tiap orang pergi menuruti hawa nafsunya,

فَسَنَرَى اخْتِلَافاً كَثِيراً، وَإِنْ تَطَاوَعَ كُلُّ امْرِئٍ مَعَ أَمِيرِهِ، وَتَنَازَلَ لِرَأْيِهِ، فَتِلْكَ هِيَ السُّنَّةُ

maka kalian akan melihat banyak perbedaan. Bila tiap orang menaati penguasa dan meninggalkan pendapatnya, maka itulah sunnah."

وَلَا بُدَّ أَنْ يَتَنَادَى المُخْلِصُونَ لِلْقَضَاءِ عَلَى أَيِّ فِتْنَةٍ عِنْدَ بَوَادِرِ أَيِّ اخْتِلَافٍ

Hendaknya orang-orang yang ikhlas membentengi hukum dari segala fitnah saat mengatasi berbagai perbedaan.

وَهَذَا مَا كَانَ مِنْ حُذَيْفَةَ حِينَ أَخْبَرَ عُثْمَانَ بِاخْتِلَافِ النَّاسِ فِي قِرَاءَةِ القُرْآنِ، فَقَالَ لَهُ

Inilah yang terjadi pada saat Hudzaifah mengabarkan Utsman bin Affan tentang perbedaan kaum muslimin dalam pembacaan Al-Qur'an al-Karim. Hudzaifah berkata,

أَدْرِكْ هَذِهِ الأُمَّةَ قَبْلَ أَنْ يَخْتَلِفُوا فِي الكِتَابِ اخْتِلَافَ اليَهُودِ وَالنَّصَارَى

"Beri tahulah umat ini sebelum mereka berbeda pendapat tentang Al-Qur'an sebagaimana yang terjadi pada kaum Yahudi dan Nasrani." Shahih Sunan Ibnu Majah, karya al-Bani, Muqaddimah bab 6, hadits 40/42 (shahih).

وَلَعَلَّ مِمَّا يُحَبِّبُ فِي المُطَاوَعَةِ، وَيُنَفِّرُ مِنَ الخُصُومَةِ، اِسْتِحْضَارُ مَا وَرَدَ فِي التَّرْهِيبِ مِنَ اللَّجَاجَةِ وَالمِرَاءِ وَالتَّنَازُعِ

Kemungkinan apa yang disukai dari suatu ketaatan, menjauhinya dari permusuhan, dengan menghadirkan apa yang terdapat dalam hal yang menakutkan dari sikap keras kepala, perdebatan dan perkelahian.

فَقَدْ جَاءَ فِي صِفَاتِ المُنَافِقِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ مِنْهَا

Terdapat banyak hadits tentang sifat-sifat kaum munafik, di antaranya adalah yang berbunyi,

(.. وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ)

"Apabila mereka bermusuhan, ia bersikap jahat. " Shahih Bukhari Fadhail Al-Qur'an al-Karim, Bab 3, hadits 4987.

وَ (إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الخَصِمُ) (5)

"Orang yang paling dibenci oleh Allah swt. adalah yang suka bermusuhan." Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab 24, hadits 34 (al-Fat-h 1/89). 

وَقَدْ تَعَهَّدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الجَنَّةِ لِمَنْ يَتْرُكُ المِرَاءَ وَالجَدَلَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ عَلَى حَقٍّ وَصَوَابٍ

Rasulullah ﷺ telah menjanjikan dengan suatu rumah di surga bagi mereka yang mau meninggalkan perdebatan dan saling berbantahan sedangkan ia tahu bahwa dirinya adalah benar.

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الجَنَّةِ، لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقّاً

Rasulullah ﷺ bersabda, "Saya adalah pemimpin di surga, bagi mereka yang mau meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar." Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ahkam, Bab 3, hadits 7188, al-Fat-h, 13/180.

وَهَذِهِ أَعْلَى دَرَجَاتِ المُطَاوَعَةِ

Ini adalah derajat ketaatan yang paling tinggi.

وَإِنَّمَا يَكُونُ هَلَاكُ الأُمَّةِ بِاخْتِلَافِهَا كَمَا جَاءَ فِي الحَدِيثِ

Kehancuran suatu umat disebabkan oleh perdebatan yang terjadi di dalamnya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits

فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

"Sesungguhnya, orang-orang yang sebelum kamu telah berbeda pendapat, maka mereka pun dihancurkan." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Isnadnya shahih, Jami al-Ushul, 11/734 dengan nomor 9414. 

وَلَوْ تَنَازَلَ بَعْضُهُمْ لَمَا اخْتَلَفُوا، وَلَمَا هَلَكُوا

Sekiranya sebagian dari mereka mengalah, maka tak terjadi perbedaan pendapat, dan mereka tak akan dihancurkan.

وَقَدْ كَانَ القَرْنُ الأَوَّلُ فِي أَسْمَى صُوَرِ المُطَاوَعَةِ

Periode awal Islam menggambarkan bentuk ketaatan yang paling luhur,

وَمِنْ ذَلِكَ مَا وَرَدَ أَنَّ عُثْمَانَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - صَلَّى فِي مِنًى أَرْبَعاً

di antaranya adalah apa yang diriwayatkan bahwa Utsman bin Affan r.a. melakukan shalat empat rakaat di Mina,

فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ مَسْعُودٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - فَأَزْعَجَهُ مَا سَمِعَ، وَمَعَ ذَلِكَ صَلَّى مَعَهُ أَرْبَعاً

lalu hal tersebut sampai ke telinga Ibnu Mas'ud. Hal tersebut membuatnya kaget, namun Ibnu Mas'ud tetap shalat bersamanya empat rakaat,

فَلَمَّا سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ قَالَ: (الخِلَافُ شَرٌّ) (3)

saat hal itu ditanyakan padanya, Ibnu Mas'ud berkata, "Perbedaan itu suatu keburukan."

وَلَمَّا نُوقِشَتِ البَيْعَةُ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ

Saat dibahas suatu bai'at setelah wafatnya Rasulullah ﷺ berkatalah seseorang dari kaum Anshar,

مِنَّا رَجُلٌ وَمِنْكُمْ رَجُلٌ فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: (سَيْفَانِ فِي غِمْدٍ وَاحِدٍ؟! إِذاً لَا يَصْطَلِحَانِ) (4)

"Kalian punya calon, kami pun punya calon." Lalu Umar bin Khaththab r.a. berkata, "Dua pedang dalam satu sarung? Keduanya takkan bisa baik." Shahih al-Bukhari, Kitab al-Khushumat, Bab 1, hadits, 2410, al-Fat-h5/70.

وَهَذَا مِنْ فِقْهِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Ini adalah di antara pemahaman Umar bin Khaththab r.a.

وَإِنَّ النُّفُوسَ العَالِيَةَ لَتَمْلِكُ أَنْ تُعَامِلَ بِسَلَامَةِ الصَّدْرِ مَهْمَا عَظُمَ الخِلَافُ فَقَدْ

Sesungguhnya, sebuah jiwa yang agung memiliki sifat untuk berinteraksi dengan dada yang lapang, sebesar apa pun perbedaan tersebut.

قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي حَقِّ مَنْ خَرَجُوا عَلَيْهِ يَوْمَ الجَمَلِ حِينَ سُئِلَ عَنْهُمْ

Ali bin Abu Thalib r.a. telah berkata kepada mereka yang keluar melarikan diri saat terjadi Perang Jamal. Saat ia ditanyakan akan keadaan mereka,

أَكُفَّارٌ هُمْ؟ أَمْ مُنَافِقُونَ؟ أَمْ مَاذَا؟ فَقَالَ: (إِخْوَانُنَا بَغَوْا عَلَيْنَا) (5)

"Apakah mereka kafir, munafik, atau bagaimana?" Ali bin Abu Thalib r.a. berkata, "Saudara-saudara kita telah membangkang kita." Hayat ash-Sahabat 2/9, dinukil dari al-Kanz 4/242.

وَلَمْ يَقْبَلْ أَنْ يَتَّهِمَهُمْ بِكُفْرٍ أَوْ نِفَاقٍ، وَقَدْ كَانَ مِمَّنْ قَاتَلَهُ فِي مَعْرَكَةِ الجَمَلِ الصَّحَابِيُّ طَلْحَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Ali bin Abu Thalib r.a. tidak dapat menuduh mereka dengan kafir atau munafik. Di antara yang terbunuh saat Perang Jamal adalah Thalhah bin Ubaidillah r.a.

فَكَانَ يَقُولُ لِعِمْرَانَ بْنِ طَلْحَةَ

Ali bin Abu Thalib r.a. berkata kepada Imran bin Thalhah,

إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَنِي اللَّهُ وَأَبَاكَ مِنَ الَّذِينَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِمْ

"Sesungguhnya, aku amat berharap agar Allah swt. menjadikan aku dan ayahmu seperti apa yang difirmankan oleh Allah swt.,

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَاناً عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ [الحجر: 47] (1)

"Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan." (al-Hijr [15]: 47). Sunan al-Baihaqi, 8/172.

أَفَلَا نَتَخَلَّقُ بِالمُطَاوَعَةِ، وَالنُّفُورِ مِنَ الِاخْتِلَافِ؛

Tidakkah lebih baik bila kita berakhlak dengan ketaatan, menghindar dari segala perbedaan,

لِنَكُونَ إِخْوَاناً فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

agar kita bersaudara baik didunia maupun di akhirat,

وَلِتَسْلَمَ صُدُورُنَا مِنْ تَحْرِيشِ الشَّيْطَانِ، وَلِتَقُومَ لِلْأُمَّةِ دَوْلَةٌ وَسُلْطَانٌ

agar hati kita selamat dari gangguan setan, agar umat ini memiliki negara dan penguasa.


خُلَاصَةُ هَذَا الفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN

اَلْمُطَاوَعَةُ اِسْتِعْدَادٌ لِلتَّنَازُلِ عِنْدَ الِاخْتِلَافِ

Ketaatan adalah persiapan untuk mengalah.

لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقْطَعَ بِصَوَابِ رَأْيٍ اِجْتِهَادِيٍّ

Kita tak dapat memonopoli kebenaran suatu ijtihad.

مِنْ أَوْجَبِ المَوَاطِنِ لِلْمُطَاوَعَةِ مَوَاقِفُ الجِهَادِ وَالدَّعْوَةِ

Diwajibkan untuk taat dalam jihad dan dakwah.

نَبْذُ الخِلَافِ مُقَدَّمٌ عَلَى الإِصْرَارِ عَلَى إِثْبَاتِ رَأْيِنَا

Menghindari perdebatan lebih diutamakan daripada memaksakan pendapat pribadi.

لِئَلَّا يَقَعَ الخِلَافُ نَتَجَنَّبُ دَوَاعِيَهُ

Agar kita tak terperosok dalam perdebatan hendaknya kira menghindari hal-hal yang menyebabkan terjadinya suatu perdebatan.

مِنْ صُوَرِ المُطَاوَعَةِ اللِّينُ فِي تَسْوِيَةِ صُفُوفِ الصَّلَاةِ

Di antara bentuk ketaatan adalah bersikap lembut dalam merapatkan barisan.

يُقْضَى عَلَى الخِلَافِ بِاتِّخَاذِ رَأْيٍ حَازِمٍ وَالشُّرُوعِ فِيهِ

Yang dapat mengatasi suatu perdebatan adalah mengambil suatu keputusan yang tepat.

اَلْمُخْلِصُونَ يَتَنَادَوْنَ لِلْقَضَاءِ عَلَى أَيِّ خِلَافٍ

Orang-orang ikhlas kembali pada hukum dalam mengatasi suatu perbedaan.

مِنْ عَوَاقِبِ البُعْدِ عَنِ المُطَاوَعَةِ الوُقُوعُ فِي الخُصُومَاتِ وَالجَدَلِ

Di antara akibat yang paling fatal karena tak mau taat adalah terjatuh ke dalam permusuhan dan pertengkaran.

اَلْخِلَافُ مِنْ أَسْبَابِ هَلَاكِ الأُمَّةِ

Perdebatan menjadi penyebab kehancuran suatu umat.

مَهْمَا عَظُمَ الخِلَافُ فَلَا يَنْبَغِي الخُرُوجُ عَنِ الإِنْصَافِ

Sekalipun besar suatu perdebatan janganlah keluar dari barisan.


📙📙📙📙📙

Sumber:

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞


Catatan 

Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share

Semoga bermanfaat


Senin, 22 September 2025

Sikap Hati-hati 04 BAB 03 Hadzihi Akhlaquna

AKHLAK KITA DALAM KEPEMIMPINAN




Ketiga: Sikap Hati-hati




... إن جاءكم فاسق بنبأ فتبينوا
"Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti."

​قَدْ انْقَطَعَ الْوَحْيُ الَّذِي يَكْشِفُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَاذِبِينَ 
Wahyu yang dapat menyingkap orang-orang munafik dan pendusta telah terputus.
وَلَكِنْ لَمْ تَنْقَطِعْ الضَّوَابِطُ الشَّرْعِيَّةُ وَالْأُصُولُ الْإِسْلَامِيَّةُ لِلتَّبَيُّنِ وَالتَّثَبُّتِ
Namun, kaidah-kaidah syar'i dan dasar-dasar keislaman belum terputus untuk memerintahkan sikap tabayyun (pemeriksaan kebenaran dan kejelasan suatu berita, pentj) dan sikap hati-hati.
وَمَا أَحْوَجَ الْمُؤْمِنِينَ وَالدُّعَاةَ قَادَةً وَجُنُودًا لِأَنْ يَتَدَبَّرُوهَا وَيَتَخَلَّقُوا بِهَا
Betapa perlunya orang-orang yang beriman dan para du'at-baik pemimpin maupun prajurit-untuk merenungkan dan mengamalkannya.
​مِنْ أَوَّلِ مَزَالِقِ عَدَمِ التَّثَبُّتِ سُوءُ الظَّنِّ
Salah satu permulaan ketergelinciran dari ketidakhati-hatian adalah berprasangka buruk. 
وَلِذَلِكَ يَقُولُ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ
Karena itulah Imam Ghazali berkata,
 لَيْسَ لَكَ أَنْ تَعْتَقِدَ فِي غَيْرِكَ سُوءًا إِلَّا إِذَا انْكَشَفَ لَكَ بِعَيَانٍ لَا يَقْبَلُ التَّأْوِيلَ
"Kamu tidak boleh meyakini orang lain dengan buruk, kecuali jika tersingkap oleh matamu sendiri yang tidak memerlukan penafsiran lagi." Hayah ash-Shahabah, 2/108, al-Bidayah wa an-Nihayah, 4/199. Qasimi 15/0363.

​ثُمَّ يَنْحَدِرُ الظَّانُّ إِلَى مَزْلَقٍ آخَرَ، وَهُوَ إِشَاعَةُ ظَنِّهِ ذَاكَ
Kemudian orang yang berprasangka buruk pun akan cenderung tergelincir lagi untuk menyebarluaskan prasangka buruknya itu.
وَقَدْ نَقَلَ الشَّوْكَانِيُّ عَنْ مُقَاتِلِ بْنِ حَيَّانَ قَوْلَهُ
Asy-Syaukani menukil dari Muqatil bin Hayan,
 فَإِنْ تَكَلَّمَ بِذَلِكَ الظَّنِّ وَأَبْدَاهُ أَثِمَ
"Jika dia membicarakan prasangka buruk itu dan menyebarkannya maka dia berdosa." Mahasin at-Ta'wil, karya al-Qasim

وَحَكَى الْقُرْطُبِيُّ عَنْ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ
Al-Qurthubi juga berkata dari mayoritas ulama,
 أَنَّ الظَّنَّ الْقَبِيحَ بِمَنْ ظَاهِرُهُ الْخَيْرُ لَا يَجُوزُ
"Sesungguhnya, prasangka buruk terhadap seseorang yang secara lahir baik, tidak boleh." Fat-h al-Qadir, karya as-Syaukani 5/64.

وَقَالَ الْغَزَالِيُّ: ( اعْلَمْ أَنَّ سُوءَ الظَّنِّ حَرَامٌ مِثْلُ سُوءِ الْقَوْلِ .. فَلَا يُسْتَبَاحُ ظَنُّ السُّوءِ إِلَّا بِمَا يُسْتَبَاحُ بِهِ الْمَالُ، وَهُوَ بِعَيْنٍ مُشَاهَدَةٍ أَوْ بَيِّنَةٍ عَادِلَةٍ ) (4)
Al-Ghazali berkata, "Ketahuilah bahwa prasangka buruk adalah haram seperti juga perkataan buruk... Maka, prasangka buruk tidak diperbolehkan kecuali dalam soal harta, dengan mata sendiri atau keterangan yang nyata yang adil." Fat-h al-Qadir, karya as-Syaukani 5/64.-ibid-

​يَقُولُ ابْنُ قُدَامَةَ: فَلَيْسَ لَكَ أَنْ تَظُنَّ بِالْمُسْلِمِ شَرًّا
Ibnu Qudamah berkata, "Kamu tidak boleh berburuk sangka terhadap muslim,
إِلَّا إِذَا انْكَشَفَ أَمْرٌ لَا يَحْتَمِلُ التَّأْوِيلَ، فَإِنْ أَخْبَرَكَ بِذَلِكَ عَدْلٌ
kecuali jika sesuatu yang tidak perlu ditafsirkan lagi telah tersingkap. Jika seseorang yang adil memberitahukannya kepadamu,
فَمَالَ قَلْبُكَ إِلَى تَصْدِيقِهِ، كُنْتَ مَعْذُورًا
dan kamu condong untuk membenarkannya, maka kamu bersalah."
وَلَكِنْ أَشَارَ إِلَى قَيْدٍ مُهِمٍّ فَقَالَ. : ( ​بَلْ يَنْبَغِي أَنْ تَبْحَثَ هَلْ بَيْنَهُمَا عَدَاوَةٌ وَحَسَدٌ ؟ ) (۱)
Namun, jika dia mengisyaratkan pada suatu pengikat yang penting dan berkata, "Hendaknya engkau mencari apakah di antara keduanya terdapat permusuhan ataupun kedengkian?" Dari Mahasin at-Ta'wil, 15/5463.

وَيُرْوَى أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ لِرَجُلٍ
Diriwayatkan bahwa Sulaiman bin Abdul Malik berkata kepada seorang laki-laki, 
بَلَغَنِي أَنَّكَ وَقَعْتَ فِيَّ وَقُلْتَ: كَذَا وَكَذَا

"Ada informasi yang datang kepadaku bahwa engkau telah menghina diriku, dan engkau mengatakan, 'Begini dan begitu."
فَقَالَ الرَّجُلُ: مَا فَعَلْتُ. فَقَالَ سُلَيْمَانُ: إِنَّ الَّذِي أَخْبَرَنِي صَادِقٌ
Maka, lelaki tersebut berkata, "Saya tak melakukan hal tersebut." Lalu, Sulaiman berkata, "Sesungguhnya, apa yang disampaikan padaku berasal dari orang yang tepercaya,"
فَقَالَ الرَّجُلُ: لَا يَكُونُ النَّمَّامُ صَادِقًا. فَقَالَ سُلَيْمَانُ: (صَدَقْتَ، اذْهَبْ بِسَلَامٍ.) (2)
Orang itu kembali berkata, "Tukang fitnah tidak akan berkata dengan jujur." Sulaiman berkata, "Benar apa yang kau katakan. Pergilah dengan tenang." Mukhtashar minhaj Qasidhin, hlm. 172.

وَالْفَطِنُ مَنْ يُمَيِّزُ بَيْنَ خَبَرِ الْفَاسِقِ وَخَبَرِ الْعَدْلِ
Fitnah adalah yang membedakan antara berita miring dengan berita akurat (adil),
وَمَنْ يُفَرِّقُ بَيْنَ خَبَرِ عَدْلٍ عَنْ نِدٍّ لَهُ
dan yang dapat membedakan kabar yang akurat dari orang yang memusuhinya,
أَوْ عَمَّنْ يَحْمِلُ لَهُ حِقْدًا، وَبَيْنَ شَهَادَةِ الْعَدْلِ الْمُبَرَّأَةِ مِنْ حَظِّ النَّفْسِ
atau dari orang yang membawa kedengkian terhadapnya. Juga antara kesaksian orang yang adil yang terbebas dari kebahagian diri.
وَمَنْ يُمَيِّزُ بَيْنَ خَبَرِ الْعَدْلِ وَظَنِّ الْعَدْلِ
Atau, kabar yang adil dengan persangkaan yang adil.
وَالظَّنُّ لَا يُغْنِي شَيْئًا
Persangkaan tak ada gunanya sama sekali.
وَمَنْ يُفَرِّقُ بَيْنَ خَبَرٍ دَافِعُهُ التَّقْوَى وَخَبَرٍ غَرَضُهُ الْفَضِيحَةُ أَوِ التَّشْهِيرُ
Juga yang dapat membedakan antara kabar yang didasari atas ketakwaan dengan kabar yang bertujuan membuat sensasi atau untuk membuatnya terkenal.
وَالَّذِي لَمْ يَتَخَلَّقْ بِخُلُقِ (التَّثَبُّتِ) تَجِدُهُ مُبْتَلًى بِالْحُكْمِ عَلَى الْمَقَاصِدِ وَالنَّوَايَا وَالْقُلُوبِ، وَذَلِكَ مُخَالِفٌ لِأُصُولِ التَّثَبُّتِ
Orang yang belum memiliki sikap hati-hati atau waspada, maka Anda akan mendapatinya diuji dengan hukum-hukum yang berkaitan dengan berbagai tujuan, niat, dan hati-hati. Hal tersebut bertentangan dengan pokok-pokok kewaspadaan.
يَقُولُ الشَّافِعِيُّ وَوَافَقَهُ الْبُخَارِيُّ
Imam Syafi'i berkata-dan disepakati oleh Imam Bukhari-
(الْحُكْمُ بَيْنَ النَّاسِ يَقَعُ عَلَى مَا يُسْمَعُ مِنَ الْخَصْمَيْنِ، بِمَا لَفَظُوا بِهِ
"Suatu hukum untuk manusia berdasarkan atas apa yang didengar dari kedua belah pihak yang berselisih, dengan apa-apa yang mereka ucapkan.
وَإِنْ كَانَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ فِي قُلُوبِهِمْ غَيْرُ ذَلِكَ (3)
Sekalipun mungkin apa yang ada di dalam hatinya bertentangan dengan apa yang dikatakannya. " Mukhtashar minhaj Qasidhin, hlm.175.

وَمِنْ أَخْطَرِ الْمَزَالِقِ أَنْ يُحْسِنَ الْأَمِيرُ الظَّنَّ بِرَجُلٍ مِنَ النَّاسِ لَيْسَ أَهْلًا لِلثِّقَةِ
Keterpelesetan yang amat berbahaya adalah seorang penguasa berprasangka baik terhadap seseorang yang tak dapat dipercaya,
ثُمَّ يَكُونُ أَسِيرًا لِأَخْبَارِهِ، أُذُنًا لِأَقْوَالِهِ، يُصْغِي إِلَيْهِ وَيُصَدِّقُهُ
kemudian ia terpengaruh dengan berita orang yang tak dapat dipercaya tersebut, menjadi pendengar setia akan apa yang disampaikannya, memperhatikan dan mempercayainya.
يَقُولُ ابْنُ حَجَرٍ: (الْمُصِيبَةُ إِنَّمَا تَدْخُلُ عَلَى الْحَاكِمِ الْمَأْمُونِ مِنْ قَبُولِهِ قَوْلَ مَنْ لَا يُوثَقُ بِهِ، إِذَا كَانَ هُوَ حَسَنَ الظَّنِّ بِهِ)
Ibnu Hajar berkata, "Suatu musibah terjadi saat seorang hakim yang tepercaya menerima perkataan seseorang yang tak dapat dipercaya. Bila ia berprasangka baik terhadapnya,
فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَثَبَّتَ فِي مِثْلِ ذَلِكَ (1)
maka hendaknya ia bersikap hati-hati akan permasalahan tersebut. " Fat-hu al-Baari, 13/175 dari keterangan bab 29 Kitab al-Ahkam. 13/190, Kitab al-Ahkam, Bab 42.

وَمِنْ أُصُولِ التَّثَبُّتِ أَلَّا يُؤْخَذَ أَحَدٌ بِالْقَرَائِنِ، طَالَمَا هُوَ يُنْكِرُ وَلَا يُقِرُّ
Di antara pokok-pokok kehati-hatian adalah seseorang tidak mengambil berbagai perbandingan, selama ia mengingkarinya dan tak memutuskannya.
وَشَوَاهِدُ ذَلِكَ فِي السُّنَّةِ كَثِيرَةٌ، وَمِنْهَا مَا رَوَاهُ ابْنُ مَاجَةَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
Kesaksian akan hal tersebut dalam Sunnah Rasulullah ﷺ, sangat banyak, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang sahih dari Ibnu Abbas.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (لَوْ كُنْتُ رَاجِمًا أَحَدًا بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ لَرَجَمْتُ فُلَانَةَ، فَقَدْ ظَهَرَ فِيهَا الرِّيبَةُ، فِي مَنْطِقِهَا وَهَيْئَتِهَا وَمَنْ يَدْخُلُ عَلَيْهَا) (2) 
Rasulullah ﷺ, bersabda, "Seandainya aku merajam seseorang dengan tanpa bukti, maka aku akan merajam wanita ini. Telah tampak di dalam kasusnya tersebut sesuatu yang meragukan, dalam logika dan bentuknya, serta pelakunya," Fat-hu hu al-Baari, 13/190, tab al-Hudud, bab 11-hadits 2073/2559

وَمَعَ ذَلِكَ فَلَمْ يَرْجُمْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لِأَنَّهَا لَمْ تُقِرَّ، وَلَمْ يَقْذِفْهَا بِلَفْظِ الزِّنَا
Rasulullah ﷺ. tidak merajam wanita tersebut, karena ia tidak mengakuinya, dan Rasulullah ﷺ, tidak menuduhnya dengan kalimat zina.
وَأَكَادُ أَجْزِمُ أَنَّ أَهَمَّ أُصُولِ التَّثَبُّتِ فِيمَا يُنْقَلُ مِنْ أَخْبَارٍ: السَّمَاعُ مِنَ الطَّرَفَيْنِ
Saya beranggapan bahwa pokok terpenting dari sikap hati-hati adalah apa-apa yang disampaikan dari beberapa kabar, yakni mendengar dari kedua belah pihak.
فَقَدْ أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَرْسَلَ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الْيَمَنِ قَاضِيًا، فَأَوْصَاهُ
Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Imam Nasa'i bahwa Rasulullah saw, mengutus Ali bin Abu Thalib r.a. ke Yaman untuk menjadi seorang hakim. Lalu, Rasulullah saw. memberi wasiat kepadanya,
 فَإِذَا جَلَسَ بَيْنَ يَدَيْكَ الْخَصْمَانِ، فَلَا تَقْضِيَنَّ حَتَّى تَسْمَعَ مِنَ الْآخَرِ، كَمَا سَمِعْتَ مِنَ الْأَوَّلِ، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ الْقَضَاءُ
"Bila datang kepadamu dua orang yang bertikai, maka janganlah engkau mengambil suatu keputusan sebelum engkau mendengar alasan dari pihak lain sebagaimana engkau mendengarnya dari pihak pertama. Karena hal itu sesungguhnya lebih aman untukmu dalam, mengambil suatu keputusan." Shahih Sunan Ibnu Majah, 2/82, Kitab (shahih) baris pertama diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

يَقُولُ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: (مَا شَكَكْتُ فِي قَضَاءٍ بَعْدُ)
Ali bin Abu Thalib r.a. berkata, "Setelah itu, aku tak ragu-ragu lagi dalam mengambil suatu keputusan.
فَكَانَ الصَّوَابُ حَلِيفَهُ بِالتَّثَبُّتِ، وَكَمْ زَلَّتْ أَقْدَامٌ، وَوَقَعَتْ فِتَنٌ بِسَبَبِ عَدَمِ التَّثَبُّتِ
Yang benar adalah melakukan suatu sumpah dengan kewaspadaan. Betapa sering kaki ini tergelincir, kemudian banyak terjadi fitnah karena ketiadaan kewaspadaan."
يَقُولُ الشَّوْكَانِيُّ: (الْخَطَأُ مِمَّنْ لَمْ يَتَبَيَّنِ الْأَمْرَ، وَلَمْ يَتَثَبَّتْ فِيهِ، هُوَ الْغَالِبُ، وَهُوَ جَهَالَةٌ ..)
Asy-Syaukani berkata, "Kesalahan bagi mereka yang tak memahami suatu permasalahan, juga tak bersikap waspada, inilah yang biasanya terjadi, dan ia ini merupakan suatu kebodohan."

وَكَمْ تَجِدُ مِنَ النَّاسِ مَنْ يُسَارِعُ لِلشَّهَادَةِ عَلَى أَمْرٍ لَمْ يَفْقَهْهُ، فِي حَقِّ امْرِئٍ لَا يَعْرِفُهُ
Berapa banyak kita jumpai orang-orang yang terburu-buru memberi kesaksian atas suatu perkara yang belum mereka mengerti dalam hak seseorang yang tak dikenalnya.
وَلِذَلِكَ أَفْتَى الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ تَحَرِّيًا لِلتَّثَبُّتِ
Oleh karena itu, Hasan Al-Bashri berfatwa tentang pentingnya kewaspadaan atau kehati-hatian, 
لَا تَشْهَدْ عَلَى وَصِيَّةٍ حَتَّى تُقْرَأَ عَلَيْكَ، وَلَا تَشْهَدْ عَلَى مَنْ لَا تَعْرِفُ
"Jangan bersaksi atas suatu wasiat hingga dibacakan kepadamu, dan jangan bersaksi atas seseorang yang tak diketahui." Shahih Ibnu Abu Dawud, 2/684 hadits 3057 (hasan).

وَلَيْسَ مِنْ خُلُقِ الْمُتَثَبِّتِ التَّسَرُّعُ وَالْعَجَلَةُ
Bukanlah termasuk akhlak orang yang berhati-hati bila kemudian ia terburu-buru ataupun tergesa-gesa.
وَإِنَّ اللَّهَ، حِينَ أَرْسَلَ خَالِدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لِلتَّحَقُّقِ مِنْ عَدَاوَةِ بَنِي الْمُصْطَلَقِ (أَمَرَهُ أَنْ يَتَثَبَّتَ وَلَا يَعْجَلَ) (2)
Sesungguhnya, saat mengutus Khalid r.a. untuk meneliti permusuhan bani Mushthaliq, Rasulullah saw. memerintahkannya untuk bersikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa. Fat-hu al-Baari, 13/144, Kitab al-Ahkam, Bab 15. 

وَلَمَّا أَرْسَلَهُ إِلَى بَنِي جُذَيْمَةَ، لِلتَّحَقُّقِ مِنْ إِسْلَامِهِمْ، فَتَعَجَّلَ فِي الْقَتْلِ، قَالَ اللَّهُ
Saat Rasulullah saw. mengutusnya ke bani Judzaimah untuk membuktikan keislaman mereka, Khalid terburu-buru mem-bunuhnya. Lalu, Rasulullah saw. bersabda,
(اللَّهُمَّ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ)
"Ya Allah aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh Khalid, " Dari Tafsir Al-Qurthubi 16/205, saat menafsirkan ayat keenam dari surah al Hujurat

بَلْ إِنَّ مِمَّا ذَكَرَ الْقَاضِي شِهَابُ الدِّينِ الشَّافِعِيُّ، فِي كِتَابِهِ (آدَابُ الْقَضَاءِ)
Bahkan disebutkan pula oleh Qadhi Syihabuddin asy-Syafi'i dalam kitabnya Adab al-Qadhi,
وَعَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَتَّضِحْ لَهُ الْحَقُّ تَأْخِيرُ الْحُكْمِ إِلَى أَنْ يَتَّضِحَ
"Hal yang harus dilakukannya-bila belum jelas kebenaran adalah menunda keputusan hukum hingga mendapatkan kejelasan." Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ahkam, Bab 35, hadits 7189.

قَالَ الشَّوْكَانِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ لِآيَةِ التَّبَيُّنِ
Asy-Syaukani berkata, saat menafsirkan ayat tentang Tabayyun,
وَمِنَ التَّثَبُّتِ: الْأَنَاةُ، وَعَدَمُ الْعَجَلَةِ، وَالتَّبَصُّرُ فِي الْأَمْرِ الْوَاقِعِ وَالْخَبَرِ الْوَارِدِ، حَتَّى يَتَّضِحَ وَيَظْهَرَ
"Di antara kewaspadaan adalah bersikap sabar dan tidak tergesa-gesa, teliti terhadap permasalahan yang sedang terjadi dan berita yang datang, hingga seluruhnya menjadi jelas dan akurat." Adabul Qadhi, hlm. 110.

وَإِنَّ سُؤَالَ الْعُلَمَاءِ وَمَشْوَرَتَهُمْ يُسَدِّدُ الْمُتَثَبِّتَ، وَقَدْ نَقَلَ ابْنُ حَجَرٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ بِسَنَدٍ جَيِّدٍ - قَوْلُهُ
Pertanyaan para ulama dan diskusi mereka mendukung orang yang berhati-hati. Ibnu Hajar menukil pernyataan asy-Sya'bi-dengan sanad yang baik,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَأْخُذَ بِالْوَثِيقَةِ مِنَ الْقَضَاءِ، فَلْيَأْخُذْ بِقَضَاءِ عُمَرَ فَإِنَّهُ كَانَ يَسْتَشِيرُ
"Barangsiapa yang hendak mengambil suatu keputusan peradilan, hendaknya ia mengambil keputusan peradilan layaknya yang dilakukan oleh Umar r.a., karena Umar bin Khaththab r.a. memutuskan hal tersebut dengan ber-musyawarah. Fat-hul-Qadir, 5/60, saat menafsirkan ayat keenam dari surah al-Hujurat. 

وَلَا تَخَافُوا مِنَ الْمَشُورَةِ فَإِنَّهَا تُقَرِّبُكُمْ إِلَى الْحَقِّ
Janganlah kalian takut untuk melakukan musyawarah, karena hal tersebut sesungguhnya mendekatkan pada kebenaran." Fathul-Baari, 13/149, dari penjelasan bab ke 16 dari Kitab al-Ahkam.

وَكَثِيرًا مَا يُتَّهَمُ شَخْصٌ بِتُهْمَةٍ، فَيَنْفِيهَا، أَوْ يُبَيِّنُ عُذْرَهُ فِيهَا
Sering terjadi seseorang dituduh dengan suatu tuduhan, kemudian hal tersebut dicabut, karena tampak alasan yang terdapat di dalamnya.
ثُمَّ يَسْتَمِرُّ الْحَدِيثُ عَنْهُ وَالتَّحْذِيرُ مِنْهُ، فَهَلْ هَذَا مِنَ التَّثَبُّتِ؟
Kemudian, pembicaraan tersebut berkelanjutan dan juga diperingatkan, apakah hal ini termasuk daripada kehati-hatian?
إِنَّ حَاطِبَ بْنَ أَبِي بَلْتَعَةَ حِينَ صَدَرَ مِنْهُ إِفْشَاءُ سِرٍّ، طَلَبَ عُمَرُ أَنْ تُقْطَعَ عُنُقُهُ، غَيْرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَمَعَ إِلَيْهِ، حَتَّى إِذَا انْتَهَى قَالَ: (صَدَقَ. لَا تَقُولُوا لَهُ إِلَّا خَيْرًا) (1)
Diceritakan tatkala Hatib bin Abi Balta'ah saat digosipkan bahwa ia menyebarkan rahasia Rasulullah saw., ia meminta Umar bin Khaththab agar memotong lehernya, namun Rasulullah saw. mendengarkan hal tersebut. Ketika Hathib bin Abi Balta'ah mengakhiri pembicaraannya, Rasulullah saw. bersabda, "Benar, janganlah kalian mengatakan padanya kecuali dengan sesuatu yang baik."459 Fat-hu al-Baari, 13/149 dari penjelasan Bab ke 16 dari kitab Al Ahkam 

وَكُلُّ مُسْلِمٍ ظَاهِرُهُ الصَّلَاحُ صَادِقٌ وَلَا نَقُولُ لَهُ إِلَّا خَيْرًا
Setiap muslim pada tampilan luarnya adalah seorang yang saleh dan jujur, dan kita tak boleh mengatakan padanya kecuali dengan sesuatu yang baik.
وَإِلَّا فَإِنَّ الِاتِّهَامَ بِغَيْرِ تَثَبُّتٍ سَبَبٌ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْمَظَالِمِ
Jika tidak, sesungguhnya kebanyakan tuduhan yang tanpa ketelitian menyebabkan banyak kezaliman.
وَلِذَلِكَ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى أَحَدِ أُمَرَائِهِ -عَدِيِّ بْنِ أَرْطَأَةَ أَمِيرِ الْبَصْرَةِ
Oleh karena itu, Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada salah satu pejabatnya, Uday bin Artha'ah, Gubernur Bashrah,
فِي قَتِيلٍ وُجِدَ عِنْدَ بَيْتٍ وَلَمْ يُعْرَفْ قَاتِلُهُ
tentang seorang mayat yang ditemukan pada sebuah rumah namun tak diketahui siapa yang membunuhnya.
إِنْ وُجِدَ أَصْحَابُهُ بَيِّنَةً، وَإِلَّا فَلَا تَظْلِمِ النَّاسَ، فَإِنَّ هَذَا لَا يُقْضَى فِيهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Umar bin Abdul Aziz menuliskan, "Bila engkau mengetahui siapa yang melakukannya, telitilah terlebih dahulu. Kalau tidak, janganlah engkau melakukan suatu kezaliman pada manusia, karena hal ini sesungguhnya tak bisa diadili hingga hari Kiamat." Shahih al-Bukhari, Kitab alstitabat al-Murtadin, Bab 9 hadist 6939

بَلْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ: (لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ، لَذَهَبَ دِمَاءُ قَوْمٍ وَأَمْوَالُهُمْ) (3)
Bahkan dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, "Seandainya manusia dihukum hanya berdasarkan tuduhan mereka, maka akan hilanglah darah dan harta dari suatu kaum. " Shahih al-Bukhari, al-Bukhari, Kitab ad-Diyat, dari bab 22

وَإِنَّ الْوَاحِدَ مِنَ الصَّحَابَةِ عَلَى عَدَالَتِهِ كَانَ يُطَالَبُ -فِي الْخُصُومَاتِ- بِإِحْضَارِ شُهُودٍ أَوْ الْإِدْلَاءِ بِبَيِّنَاتٍ، أَوِ الْقَسَمِ
Sesungguhnya, para sahabat Rasulullah saw. sekalipun mereka diakui keadilannya, mereka diharapkan-dalam suatu pertikaian-untuk menghadirkan saksi-saksi, memberikan berbagai penjelasan, atau sumpah.
وَلَمْ تَكُنْ عَدَالَتُهُ لِتَشْفَعَ لَهُ فِي اسْتِقْطَاعِ شَيْءٍ مِنْ حُقُوقِ النَّاسِ، أَوْ مَسِّ أَعْرَاضِهِمْ
Keadilan seorang sahabat tak bisa memberikan syafaat kepadanya untuk mengambil suatu keputusan dari hak-hak manusia, ataupun mengganggu kehormatan mereka.
وَقَدِ اشْتَرَطَ الشَّرْعُ الْبَيِّنَةَ دَفْعًا لِلِاتِّهَامَاتِ الرَّخِيصَةِ -غَيْرِ الْمَسْؤُولَةِ-، لِئَلَّا يُبَادِرَ أَحَدٌ إِلَى اتِّهَامِ أَحَدٍ إِلَّا عَنْ يَقِينٍ
Sungguh, syariat telah mensyaratkan bukti-bukti agar dapat membantah berbagai tuduhan miring yang tak bertanggung jawab, agar seseorang tak terburu-buru menuduh yang lain kecuali dengan keyakinan.
وَلِذَلِكَ حِينَ قُتِلَ صَحَابِيٌّ وُجِدَ بَيْنَ بُيُوتِ الْيَهُودِ فِي خَيْبَرَ، اتَّهَمَ أَصْحَابُهُ الْيَهُودَ فِي قَتْلِهِ، فَطَالَبَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَيِّنَةِ
Oleh karena itu, saat seorang sahabat terbunuh yang ditemukan di antara perumahan Yahudi di Khaibar, para sahabat menuduh kaum Yahudi yang melakukannya. Namun, Rasulullah saw. meminta mereka untuk mengumpulkan bukti-bukti.
(قَالُوا: مَا لَنَا بَيِّنَةٌ، قَالَ: فَيَحْلِفُونَ)
Mereka berkata, "Kami tak memiliki bukti." Rasulullah saw. bersabda, "Hendaklah kalian bersumpah.”
قَالُوا: لَا نَرْضَى بِأَيْمَانِ الْيَهُودِ (1)
 Mereka berkata lagi, “Kami tak rela dengan sumpah kaum Yahudi." Shahih al-Bukhari, Kitab Tafsir, Bab 3, hadits 4552.

 فَاضْطُرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَدْفَعَ دِيَتَهُ مِائَةً مِنَ الْإِبِلِ، وَلَمْ يَتَّهِمِ الْيَهُودَ بِلَا بَيِّنَةٍ
Maka hal tersebut mendorong Rasulullah saw. membayarkan diatnya sebanyak seratus unta. Beliau tak mau menuduh kaum Yahudi tanpa bukti.
وَلَمْ يَجْعَلِ الشَّرْعُ لِفَاقِدِ الْبَيِّنَةِ إِلَّا يَمِينَ خَصْمِهِ - وَلَوْ كَانَ الْخَصْمُ غَيْرَ ثِقَةٍ عِنْدَ الْمُدَّعِي
Bagi mereka yang tak memiliki bukti, maka syariat me-merintahkannya untuk melakukan sumpah-sekalipun sumpah tersebut tak dapat dipercaya oleh si penggugat.
وَيُؤَيِّدُ ذَلِكَ مَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي قِصَّةِ الْحَضْرَمِيِّ الْمُدَّعِي عَلَى كِنْدِيٍّ بِأَنَّهُ غَصَبَهُ أَرْضَهُ
Hal tersebut didukung oleh hadits yang diriwayatkan Muslim dalam kisah al-Hadhrami yang menggugat al-Kindi, Dalam hadits itu disebutkan bahwa ia menyerobot tanahnya,
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْحَضْرَمِيِّ: (أَلَكَ بَيِّنَةٌ؟)
maka Rasulullah saw. bersabda kepada orang Hadhrami tersebut, "Apakah engkau memiliki bukti?"
قَالَ: لَا. قَالَ: (فَلَكَ يَمِينُهُ)
Hadhrami menjawab, "Tidak," Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Hendaknya kamu bersumpah."
قَالَ: (يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ الرَّجُلَ فَاجِرٌ، لَا يُبَالِي عَلَى مَا حَلَفَ عَلَيْهِ، وَلَيْسَ يَتَوَرَّعُ مِنْ شَيْءٍ)
Lalu orang Hadhrami tadi berkata, "Wahai Rasulullah saw. sesungguhnya orang tersebut jahat, tidak peduli akan sumpah yang diucapkannya, dan sama sekali tidak bersikap wara'."
فَقَالَ: (لَيْسَ لَكَ مِنْهُ إِلَّا ذَلِكَ) (2)
Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Engkau tak memiliki sesuatu selain itu." Shahih al-Bukhari, Kitab ad-Diyat, Bab 22, hadits no. 6898.

وَلَمْ يَعْتَرِضْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى اتِّهَامِ الرَّجُلِ لِخَصْمِهِ بِعَدَمِ التَّوَرُّعِ فِي الْحَلِفِ؛
Rasulullah saw. tak membantah tuduhan orang Hadhrami tersebut atas ketiadaan sifat wara' dalam sumpah yang di-ucapkannya,
لِأَنَّهُ مِنْ كَلَامِ الْخُصُومِ بَعْضِهِمْ فِي بَعْضٍ
karena itu adalah ucapan orang yang bermusuhan antara satu dengan yang lainnya-
كَمَا بَوَّبَ الْبُخَارِيُّ فِي الْخُصُومَاتِ
sebagaimana yang himpun dalam bab kitab Bukhari tentang orang yang bermusuhan.
وَعَقَّبَ ابْنُ حَجَرٍ بِقَوْلِهِ: (أَيْ فِيمَا لَا يُوجِبُ حَدًّا وَلَا تَعْزِيرًا فَلَا يَكُونُ ذَلِكَ مِنَ الْغِيبَةِ الْمُحَرَّمَةِ) (3)
Ibnu Hajar berkata tentang hal tersebut, "Sesuatu yang tak diwajibkan had atau ta'zir, maka hal tersebut tak termasuk ghibah yang diharamkan." Irwa al-Ghalil, 8/257 dari riwayat Muslim, Kitab al-Iman, Bab 61 hadits 139.

كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: (يَمِينُ الْفَاجِرِ تُسْقِطُ عَنْهُ الدَّعْوَى... وَلَوْلَا ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ لِلْيَمِينِ مَعْنًى) (4)
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar, "Sumpah orang yang jahat menjatuhkan tuduhan, kalau tidak maka sumpah tersebut tak memiliki arti. " Fat-hu al-Baari, 5/73 Kitab al-khushumat, Bab Ucapan permusuhan antara yang satu dengan yang lain. 

وَإِنَّ مِنْ التَّثَبُّتِ: أَنْ تَرْفُضَ الِاسْتِمَاعَ إِلَى النَّمَّامِ، فَقَدْ جَاءَ فِي مُسْنَدِ أَحْمَدَ
Yang termasuk kewaspadaan adalah dengan menolak perkataan penebar fitnah, telah disebutkan dalam Musnad Ahmad,
لَا يَبْلُغْنِي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِي شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ
"Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan sesuatu pun tentang sahabatku, karena aku ingin keluar dari sini dengan hati yang lapang." Fat-hu al-Baari, 11/563, Kitab Iman dan Nudzur, Bab 17.

فَلَا تَجْعَلُوا بِطَانَتَكُمْ مِنَ النَّمَّامِينَ
Janganlah engkau menjadikan orang terdekatmu terdiri dari para penebar fitnah.
فَإِنَّ مَنْ وَشَى إِلَيْكُمْ الْيَوْمَ يَشِي بِكُمْ غَدًا
Sesungguhnya, orang yang mengadu padamu hari ini, akan mengadukanmu esok hari.
وَمِثْلُهُ لَيْسَ أَهْلًا لِلثِّقَةِ - لِفِسْقِهِ بِالنَّمِيمَةِ
Orang seperti itu tak dapat dipercaya disebabkan kefasikannya dan karena ia suka merigadu domba.
وَفِي ذَلِكَ يَقُولُ ابْنُ قُدَامَةَ الْمَقْدِسِيُّ
Dalam hal tersebut Ibnu Qudamah al-Muqaddasi berkata,
لَا تُصَدِّقِ النَّاقِلَ، لِأَنَّ النَّمَّامَ فَاسِقٌ، وَالْفَاسِقَ مَرْدُودُ الشَّهَادَةِ
"Janganlah kamu mempercayai orang yang suka menukil suatu omongan, karena penyebar fitnah adalah orang fasik, sedangkan orang fasik tertolak kesaksiannya." Musnad Ahmad, 1/396 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud, Jami' al-Ushul, 8/452 Hadits 6222, al-Arnauth melemahkan Isnadnya, Ibnu Asyir mengisyaratkan bahwa Syaikhani meriwayatkan maknanya.

فَإِنْ رَكَنْتُمْ إِلَى النَّمَّامِينَ، وَأَصَبْتُمْ إِخْوَانَكُمْ بِجَهَالَةٍ فَلَا تَنْسَوْا أَنْ تُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Jika sekiranya kalian memilih para pengadu domba, kemudian membenarkan saudara kalian dengan kebodohan, maka janganlah lupa bahwa apa yang kalian lakukan nanti akan berbuah penyesalan.

خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ
KESIMPULAN

بَعْدَ انْقِطَاعِ الْوَحْيِ لَا بُدَّ مِنْ ضَوَابِطَ لِلتَّبَيُّنِ
Setelah terputusnya wahyu maka diharuskan untuk memiliki bukti-bukti yang akurat.
مِنْ مُنْزَلِقَاتِ عَدَمِ التَّثَبُّتِ
Di antara penyebab hilangnya kehati-hatian adalah:
سُوءُ الظَّنِّ بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ
Berburuk sangka tanpa bukti.
إِشَاعَةُ هَذَا الظَّنِّ
Menyebarkan prasangka.
الْحُكْمُ عَلَى الْمَقَاصِدِ وَالنَّوَايَا
Menghukumi atas maksud dan niat.

عَدَمُ التَّمْيِيزِ بَيْنَ خَبَرِ الْفَاسِقِ وَخَبَرِ الْعَادِلِ
→ Tak dapat membedakan antara kabar yang berasal dari orang fasik dan kabar yang berasal dari orang yang adil.
إِحْسَانُ الظَّنِّ فِيمَنْ لَا يُوثَقُ بِهِ
→ Berbaik sangka terhadap orang yang tak dapat dipercaya.
مِنْ أُصُولِ التَّثَبُّتِ
Di antara pokok-pokok kewaspadaan adalah:
الِاعْتِمَادُ عَلَى إِقْرَارِ الْمُتَّهَمِ وَلَيْسَ عَلَى الْقَرَائِنِ
Bersandar pada pengakuan yang tertuduh dan bukan berdasarkan pada perbandingan.
الِاسْتِمَاعُ إِلَى الطَّرَفَيْنِ
Mendengarkan ucapan kedua belah pihak.
اسْتِشَارَةُ أَهْلِ الْعِلْمِ
Bermusyawarah dengan mereka yang memiliki ilmu.
عَدَمُ الشَّهَادَةِ عَلَى مَا لَا نَعْلَمُ بِيَقِينٍ
Tak memberikan kesaksian pada sesuatu yang tak kita yakini.
عَدَمُ التَّسَرُّعِ حَتَّى يَتَّضِحَ الْأَمْرُ
Tak bersikap terburu-buru, sebelum permasalahan menjadi jelas.
لَا يَجُوزُ التَّحَدُّثُ عَنْ شَخْصٍ بِتُهْمَةٍ لَمْ تَثْبُتْ عَلَيْهِ
Tak dibolehkan untuk membicarakan seseorang dengan suatu tuduhan yang belum terbukti.
الِاتِّهَامُ بِغَيْرِ تَثَبُّتٍ سَبَبٌ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمَظَالِمِ
Tuduhan yang tak disertai dengan penyelidikan yang mendalam, menyebabkan terjadinya kezaliman.
الصَّحَابَةُ رَغْمَ عَدَالَتِهِمْ كَانُوا مُطَالَبِينَ بِالشُّهُودِ وَالْبَيِّنَاتِ
Para sahabat adalah orang-orang yang adil, namun mereka diminta untuk memberikan kesaksian dan bukti.
يَمِينُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ يَدْفَعُ عَنْهُ التُّهْمَةَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ ثِقَةً
Sumpah orang yang dituduh melindunginya dari tuduhan, sekalipun ia tidak bisa dipercaya.
مِنْ التَّثَبُّتِ عَدَمُ الِاسْتِمَاعِ إِلَى النَّمَّامِ
Di antara kewaspadaan adalah tidak mendengarkan perkataan orang-orang yang suka menyebarkan fitnah.

➖➖➖➖
 
📙📙📙 Sumber :
 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit
Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share

Senin, 25 Agustus 2025

KEADILAN 04 - BAB 02 - Hadzihi Akhlaquna

 

العدل

Kedua: Keadilan


 اعدلوا هو أقرب للتقوى

"Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat pada takwa."

مِنْ أَغْرَاضِ الْجِهَادِ فِي الْإِسْلَامِ: إِخْرَاجُ النَّاسِ مِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ

Salah satu tujuan jihad dalam Islam, adalah mengeluarkan manusia dari kedzaliman agama-agama kepada keadilan Islam.

وَمِنْ دَوَافِعِ الْهِجْرَةِ إِلَى الْحَبَشَةِ: أَنَّ (فِيهَا مَلِكًا لَا يُظْلَمُ عِنْدَهُ أَحَدٌ)، (۱)

Salah satu pendorong dilakukannya hijrah ke negeri Habasyah adalah, "Di sana terdapat seorang raja yang tidak menzalimi, seorang rakyat pun." Thabaqat asy-Syafi'iyyah, 1/275 dari biografi Yusuf bin Yahya al-Buwaithi.

وَمِنْ أَهَمِّ مَزَايَا دَعْوَةِ الْإِسْلَامِ أَنَّهَا نَشَرَتِ الْعَدْلَ وَعَمَّمَتْهُ

Dan, salah satu kelebihan dakwah Islam yang terpenting adalah tersebar luasnya keadilan.

بِالرُّجُوعِ إِلَى كَثِيرٍ مِنْ نُصُوصِ الْقُرْآنِ الَّتِي تَتَحَدَّثُ عَنِ الظُّلْمِ وَالظَّالِمِينَ

Ketika kita merujuk kepada teks-teks ayat suci Al-Quran yang membicarakan tentang kezaliman dan orang-orang yang zalim,

نَجِدُ أَنَّهَا: نَفَتْ عَنْهُمُ الْفَلَاحَ، وَاسْتَبْعَدَتْهُمْ مِنْ أَنْ يَنَالَهُمْ عَهْدُ اللَّهِ، وَبَشَّرَتْهُمْ بِأَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّهُمْ

kita temukan ayat-ayat itu menjelaskan bahwa kesuksesan akan pergi meninggalkan mereka dan mereka juga terjauhkan dari datangnya janji Allah swt. Ayat-ayat itu juga mengabarkan bahwa Allah swt. tidak mencintai mereka

وَلَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا خَسَارًا، وَحَكَمَتْ عَلَيْهِمْ بِالْخَيْبَةِ وَسُوءِ الْعَاقِبَةِ. (٢)

dan hanya akan menambahkan kerugian bagi mereka. Mereka akan senantiasa frustrasi dan mendapat akhir yang buruk. As-Sirah an-Nabawiyyah, karya Ibnu Hisyam 1/321.

وَفِي مُقَابِلِ ذَلِكَ فَإِنَّ اللَّهَ اسْمًا مُشْتَقًّا مِنَ الْعَدْلِ، وَهُوَ الَّذِي لَا يَظْلِمُ النَّاسَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ، وَأَمَرَ رَسُولَهُ بِالْعَدْلِ، وَعَمَّمَ الْأَمْرَ بِالْعَدْلِ عَلَى جَمِيعِ عِبَادِهِ، (۳)

Sebaliknya, Allah swt. memiliki sebuah nama yang lekat dengan keadilan. Dialah yang tidak pernah berbuat zalim kepada manusia walaupun sebesar biji sawi dan telah memerintahkan Rasul-Nya untuk berbuat adil dan secara umum juga memerintahkan keadilan kepada seluruh hamba-hamba-Nya.

@ Sebagai isyarat dari ayat-ayat berikut ini, "sesungguhnya orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan." (al-An'aam [6]: 21), "...Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang zalim." (al-Baqarah [2]: (2): 124) "...dan dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim." (Ali 'Imran [3]: 57)

وَجَعَلَ فِي مُقَدِّمَةِ السَّبْعَةِ الَّذِينَ يُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ (إِمَامٌ عَادِلٌ) (٤)

Dia juga telah menjadikan pendahulu dari ketujuh golongan yang mendapatkan naungan pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu "Pemimpin yang adil."

Sebagai isyarat dari firman-Nya, "...dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. "(as-Syura [42]: 15), "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan." (an-Nahl [16]: 90)


كَمَا جَعَلَ الْإِمَامَ الْعَادِلَ مِنَ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ

Sebagaimana juga Dia telah menjadikan pemimpin yang adil sebagai salah satu dari tiga golongan yang doanya tidak ditolak. Shahih al-Jami', nomor 3603 (shahih) terdapat di Shahihain.


وَلِكَيْ تَقُومَ حَيَاةُ النَّاسِ عَلَى الْعَدْلِ، فَقَدْ ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمُسْلِمَ بِأَنَّهُ: (كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ يَعْدِلُ بَيْنَ النَّاسِ صَدَقَةٌ) (۲)

Agar kehidupan manusia berdiri tegak atas keadilan, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan orang Islam, "Selama matahari masih terbit setiap hari berbuat adil merupakan suatu sedekah."  Shahih al-Jami', nomor 3064 (hasan) teksnya, "Tiga golongan yang Allah tidak menolak doanya: orang yang banyak mengingat Allah, orang yang dizalimi, dan pemimpin yang adil."

وَرَبَطَ عَدْلَهُ فِي الدُّنْيَا بِمَصِيرِهِ فِي الْآخِرَةِ، حَيْثُ يُوضَعُ الْمِيزَانُ، وَيُحَاسَبُ النَّاسُ بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ، فَأَخْبَرَ اللَّهُ بِأَنَّ مِنَ الْمُنْجِيَاتِ: (الْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا) (۳)

Dan, mengaitkan keadilannya di dunia dengan perjalanannya di akhirat, yaitu ketika dihadirkan timbangan dan manusia dihisab dengan timbangan yang lurus, Rasulullah ﷺ memberitahukan bahwa yang termasuk orang-orang yang lolos adalah: "Adil di waktu marah dan di waktu senang."  Shahih al-Bukhari, Kitab as-Shulh, bab 11, hadits 2707, al-Fat-h 5/309).

وَهَذِهِ أَعْلَى مَرَاتِبِ الْعَدْلِ، إِذْ قَدْ يَعْدِلُ الْمَرْءُ فِي حَالِ الرِّضَا، وَلَكِنْ يَنْدُرُ أَنْ يَعْدِلَ وَهُوَ غَاضِبٌ أَوْ سَاخِطٌ أَوْ كَارِهٌ

Inilah martabat keadilan yang tertinggi, yaitu seseorang berbuat adil dalam keadaan senang, namun yang langka adalah berbuat adil sewaktu sedang marah atau murka ataupun membenci.

وَقَدْ خَصَّ اللَّهُ أَهْلَ الْعَدْلِ فِي الدُّنْيَا، بِإِعْلَاءِ شَأْنِهِمْ فِي الْآخِرَةِ، وَتَقْرِيبِهِمْ مِنْهُ سُبْحَانَهُ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ

Allah swt. telah mengkhususkan orang yang berlaku adil di dunia dengan ketinggian kedudukannya di akhirat dan kedekatannya dengan Allah swt. sebagaimana tersebut dalam hadits,

(إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ: الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِهِمْ وَمَا وَلَّوْا) (٤)

"Sesungguhnya, orang-orang yang adil di sisi Allah swt. berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya dari tangan kanan ar-Rahman kedua tangan-Nya adalah kanan-yaitu orang-orang yang berbuat adil terhadap hukum, keluarga dan orang-orang yang dipimpinnya." Silsilah al-Hadits, 4/316 hadits 1802 (hasan).


وَالْأُمَّةُ الْمُسْلِمَةُ لَا يَشْفَعُ لَهَا إِسْلَامُهَا فِي اسْتِحْقَاقِ التَّأْيِيدِ مِنَ اللَّهِ إِذَا كَانَتْ ظَالِمَةً

Keislaman umat Islam tidak akan menolong mereka untuk mewujudkan penguatan dari Allah swt. jika mereka zalim.

فَمِنْ أَسْبَابِ التَّمْكِينِ فِي الْأَرْضِ، وَالتَّأْيِيدِ مِنَ اللَّهِ، أَنْ يُحَالَ دُونَ تَفَشِّي الْمَظَالِمِ، وَأَنْ يَعُمَّ الْعَدْلُ حَيَاةَ الْمُسْلِمِينَ

Karena salah satu penyebab kokohnya kedudukan mereka di muka bumi dan penguatan Allah swt. bagi mereka adalah pencegahan merajalelanya kezaliman dan penyebarluasan keadilan dalam kehidupan umat Islam.

وَلِذَلِكَ يَقُولُ ابْنُ تَيْمِيَةَ: (إِنَّ اللَّهَ يُقِيمُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً، وَلَا يُقِيمُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً) (٥)

Karena itulah Ibnu Taimiyah berkata, "Sesungguhnya, Allah swt, menegakkan negara yang adil -meskipun kafir-dan tidak menegakkan negara yang zalim-meskipun beriman. " Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, bab 5, hadits 1827 (6/352).


وَكَذَلِكَ فَإِنَّ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا؛

Demikian pula bahwa doa orang yang terzalimi dikabulkan walaupun dia adalah pendosa,

لِأَنَّ فُجُورَهُ لَا يَقْتَضِي التَّعَدِّيَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، وَلَا غَمْطَ حَقٍّ مِنْ حُقُوقِهِ، كَمَا فِي قَوْلِهِ ﷺ

karena dosanya tidak menuntutnya untuk mendapatkan pelanggaran hak dan tidak pula merendahkan satu pun haknya, sebagaimana sabda beliau ﷺ

دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ، وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ

"Doa orang yang terzalimi mustajab, walaupun dia adalah pendosa karena dosanya itu atas dirinya sendiri." Majmu' Fatawa, Ibnu Taimiyah 28/146. 433 Shahih al-Jami' nomor 3382 (hasan).

إِنَّ عَدْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَسَعُ الْبَهَائِمَ مِثْلَمَا يَسَعُ النَّاسَ

Sesungguhnya, keadilan Allah swt. mencakup hewan-hewan sebagaimana halnya mencakup manusia.

وَمِنَ الْخَيْرِ لِلْعَبْدِ أَلَّا يَظْلِمَ مَخْلُوقًا فِي الدُّنْيَا مِنْ إِنْسَانٍ أَوْ حَيَوَانٍ

Salah satu kebaikan seorang hamba adalah tidak menzalimi suatu makhluk di dunia, baik manusia maupun hewan,

وَأَنْ يُبَادِرَ إِلَى أَدَاءِ الْحُقُوقِ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا مُخْتَارًا، قَبْلَ أَنْ يُقَادَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

serta senantiasa bergegas menunaikan hak-hak di dunia ini secara terpilih sebelum dituntut oleh yang berhak pada hari Kiamat.

وَلِذَلِكَ يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: (لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؛ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ) (۲)

Mengenai hal ini Rasulullah ﷺ bersabda, "Kamu benar-benar menunaikan hak-hak kepada yang berhak pada hari Kiamat sampai-sampai dituntut karena hewan ternak yang tidak bertanduk dari yang bertanduk." Shohih Aljami' nomor 3382 Hasan

وَلِذَلِكَ فَإِنَّ (مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ: مِنْ عِرْضِهِ، أَوْ شَيْءٍ مِنْهُ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، مِنْ قَبْلِ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ، فَحُمِلَ عَلَيْهِ) (۳)

Karena itulah, "Barangsiapa memiliki dosa menzalimi saudaranya, dari segi kehormatannya, atau sesuatu miliknya, hendaknya meminta kehalalannya pada hari itu juga, sebelum tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika dia memiliki amal saleh, maka akan diambil sesuai tindak kezalimannya. Jika dia tidak memiliki kebaikan, maka sebagian keburukan orang yang dizalimi itu akan diambil dan ditimpakan kepadanya." Dikeluarkan oleh Imam Muslim dan at-Turmudzi, Jami' al-Ushul, 10/432 nomor 7960.


كَمَا فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ

Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang shahih juga,

وَمَهْمَا يَكُنِ الْمَظْلُومُ ضَعِيفًا، فَإِنَّ اللَّهَ نَاصِرُهُ، وَمَنْ لَهُ بِاللَّهِ طَاقَةٌ حَتَّى يَتَجَرَّأَ عَلَى ظُلْمِ الْعِبَادِ؟

Walaupun orang yang terzalimi menjadi lemah, namun Allah swt. akan menolongnya. Siapakah yang memiliki kemampuan lebih dari Allah swt. hingga berani menzalimi para hamba-Nya?

فَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ: (...وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ، وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ، وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ) (٤)

Telah disebutkan dalam hadits, dan doa orang yang terzalimi akan diangkat oleh Allah swt. ke. atas awan dan dibukakan pintu-pintu langit, dan Tuhan berfirman, Demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku akan benar-benar menolongmu meskipun setelah beberapa saat." Dikeluarkan oleh Bukhari, Jami' al-Ushul, 10/431 nomor 7958.

فَلَا يَتَجَرَّأَنَّ ظَالِمٌ إِنْ أَمْهَلَهُ اللَّهُ؛ لِأَنَّ اللَّهَ نَاصِرُ كُلِّ مَظْلُومٍ - وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ - قَالَ تَعَالَى

Karena itulah jangan sekali-kali orang yang zalim berani, meskipun Allah swt. memberinya penangguhan. Sebab, Allah swt. akan menolong orang yang terzalimi, meskipun setelah beberapa saat. Allah swt. berfirman,

﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ﴾ [إبراهيم: ٤٢]

"Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah swt. lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya, Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak." (Ibrahim [14]: 42)

إِنَّ اللَّهَ لِيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ

"Sesungguhnya, Allah swt. memberi tangguh kepada orang-orang yang zalim sampai Dia mengazabnya dan tidak akan melepaskannya."

ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ﴿وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ﴾ [هود: ۱۰۲]۱

Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah swt., "Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya, azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Huud [11]: 102)

وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ أَنْ يَدْعُوا رَبَّهُمْ بِدَفْعِ الظُّلْمِ عَنْهُمْ

Rasulullah ﷺ telah mengajarkan para sahabat beliau untuk berdoa kepada Tuhan mereka untuk mencegah kezaliman yang berasal dari diri mereka sendiri

وَوِقَايَتِهِمْ مِنْ شُرُورِ كُلِّ ظَالِمٍ؛ لِيُنَمِّيَ فِي نُفُوسِهِمْ بُغْضَ الظُّلْمِ وَالظَّالِمِينَ، وَلِيَزْرَعَ فِي قُلُوبِهِمْ مَشَاعِرَ الْعِزَّةِ وَالْكَرَامَةِ

dan melindungi mereka dari kejahatan semua orang yang zalim agar di dalam jiwa mereka tumbuh rasa benci terhadap kezaliman dan orang-orang yang zalim dan serta agar mekar dalam hati mereka rasa kemuliaan dan kebaikan.

وَقَلَّمَا كَانَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ لِأَصْحَابِهِ بِمِثْلِ قَوْلِهِ

Yakni, ketika beliau berdiri dari suatu majelis sampai mendoakan para sahabatnya dengan sabda beliau,

وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا. وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

"Dan jadikanlah penuntutan balas kami atas orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang yang memusuhi kami, dan janganlah orang yang tidak menyayangi kami menguasai kami." Dikeluarkan oleh Imam Turmudzi dan dihasankan dan disepakati oleh Ibnu Hajar dan al-Arnauth, Jami' al-Ushul, 4/145.

وَفِي حَدِيثٍ آخَرَ دُعَاؤُهُ: (رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرِ الْهُدَى إِلَيَّ، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ...) (۳)

Dan dalam hadits yang lain disebutkan doa beliau, "Ya Tuhanku bantulah aku dan janganlah Engkau bantu musuh terhadapku.. Tolonglah aku dan janganlah Engkau tolong musuh terhadapku. Berikanlah aku petunjuk serta mudahkanlah petunjuk kepadaku, dan tolonglah aku atas orang yang membangkang atasku..." Shahih Sunan Turmudzi lil Albani, 3/168 nomor 2783/2739 (hasan).

أَفَلَا يَرْتَجِفُ قَلْبُ الظَّالِمِ مِنْ دَعْوَةِ مَظْلُومِيهِ؟

Apakah hati orang yang zalim tidak gemetar mendengar doa orang-orang yang telah dizaliminya?

أَوَلَا تَنْبَعِثُ فِي نُفُوسِنَا دَوَافِعُ رَفْعِ الظُّلْمِ وَإِنْشَاءِ الْعَدْلِ وَالتَّوَاصِي بِهِ؟

Dan, apakah tidak tumbuh dalam jiwa kita semangat untuk melenyapkan kezaliman dan menyebarluaskan keadilan serta saling menasihati tentangnya?

وَمِمَّا يُفْتَنُ بِهِ الظَّالِمُ الْوَجِيهُ فِي قَوْمِهِ أَنَّهُ لَا يَرَى مَنْ يَزْجُرُهُ

Salah satu fitnah dari orang yang zalim yang memiliki kedudukan adalah dia tidak memandang siapa yang dia caci.

بَلْ قَدْ يَجِدُ مَنْ يُحَسِّنُ لَهُ عُدْوَانَهُ، وَيُبَرِّرُهُ لَهُ بِأَنَّهُ عَيْنُ الْحِكْمَةِ

Bahkan, terkadang dia mendapati orang yang berbuat baik kepadanya adalah musuhnya dan berbuat baik untuknya karena dia adalah mata air kebijaksanaan

كَمَا هُوَ شَأْنُ بِطَانَةِ السُّوءِ فِي كُلِّ زَمَانٍ - فَلْيُرَاجِعْ كُلُّ ظَالِمٍ نَفْسَهُ إِذَا كَانَ حَرِيصًا عَلَى نَجَاتِهِ

sebagaimana halnya orang-orang kepercayaan atau para pembantu keburukan pada setiap masa-hendaklah semua orang zalim menginstrospeksi diri jika dia berambisi untuk sukses.

فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: (يَكُونُ أُمَرَاءُ فَلَا يُرَدُّ عَلَيْهِمْ قَوْلُهُمْ، يَتَهَافَتُونَ فِي النَّارِ يَتْبَعُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا) (٤)

Sebab, Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Terdapat para pemimpin yang tidak pernah disanggah perkataannya, Mereka akan berdesak-desakan di neraka dan akan susul menyusul." Shahih Sunan Turmudzi lil Albani, 3/178 nomor 2816/3803 (hasan). 

وَأَوْلَى بِالْبِطَانَةِ أَنْ تَحُضَّ عَلَى الْخَيْرِ، وَتَقِفَ مَعَ صَاحِبِ الْحَقِّ

Yang seharusnya dilakukan oleh para pembantu atau orang kepercayaan adalah mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan membela yang benar,

كَمَا كَانَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حِينَ انْتَهَرَ الصَّحَابَةُ أَعْرَابِيًّا اشْتَدَّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ فِي طَلَبِ دَيْنِهِ

sebagaimana telah terjadi atas Rasulullah ﷺ ketika para sahabat memarahi seorang Badui yang bersikap keterlaluan dalam menagih utang pada Rasulullah ﷺ

فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: (هَلَّا مَعَ صَاحِبِ الْحَقِّ كُنْتُمْ) (۱)

Ketika itu, Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka, "Mengapa kalian tidak membela yang benar?. Silsilah al-Ahadits as-Shahihah, 4/398 nomor 179 (hasan).

وَمَصْدَاقِيَّةُ الدَّاعِينَ إِلَى الْإِسْلَامِ أَمَامَ أَتْبَاعِهِمْ، لَا تَكُونُ إِلَّا بِإِشَاعَةِ رُوحِ الْعَدْلِ، وَمُنَاصَرَةِ الْمَظْلُومِينَ، وَقَدْ قَالَ أَحَدُ الدُّعَاةِ مُعَبِّرًا عَنْ هَذَا الْمَعْنَى

Kredibilitas para dai Islam di depan para pengikutnya tidak akan ada tanpa penyebarluasan semangat keadilan dan pertolongan atas orang-orang yang terzalimi.

Seorang dai telah berkata sebagai ungkapari atas arti ini,

لَمْ نَسْمَعْ مِنَ الدُّعَاةِ وَلَا مِنَ الْمُتَمَسْلِمِينَ.. صَيْحَاتٍ مُدَوِّيَةً تَشُقُّ آذَانَ الظَّلَمَةِ، وَتُنَادِي بِإِنْصَافِ الْعَامِلِ الْمَفْصُولِ بِغَيْرِ حَقٍّ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ أَخْشَى عَلَى الْإِسْلَامِ مِنَ الْمُنْتَسِبِينَ إِلَيْهِ نِفَاقًا، وَالْمَحْسُوبِينَ عَلَيْهِ صُورَةً، أَكْثَرَ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْهِ مِنْ أَعْدَائِهِ الْمُجَاهِرِينَ بِرَفْضِهِ وَالْمُعْلِنِينَ الْحَرْبَ عَلَى أَهْلِهِ

"Kami tidak akan mendengar dari para dai' teriakan-teriakan yang bergema membelah kumandang suara kezaliman dan menyerukan keadilan bagi orang yang terzalimi."

Karena itulah saya lebih mengkhawatirkan Islam dimasuki orang-orang munafik sebagai kedok daripada mengkhawatirkan para musuh Islam yang terang-terangan menolaknya dan orang-orang yang mengumumkan perang saudara. Shahih Sunan Ibnu Majah, 2/55/nomor 1969/2426 (shahih).

وَلِذَلِكَ تَبَرَّأَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنَ الشَّيَاطِينِ الْخُرْسِ؛ الَّذِينَ يُعِينُونَ عَلَى الظُّلْمِ بِسُكُوتِهِمْ عَنْهُ

Karena itulah Rasulullah saw. lepas diri dari setan-setan yang bisu yang melakukan kezaliman dengan cara mendiamkannya.

إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ، فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ


"Akan ada sepeninggalku para pemimpin. Barangsiapa memasuki istana mereka dan membenarkan kebohongan mereka serta membantu kezaliman mereka, maka dia tidak termasuk dari golonganku dan aku pun tidak termasuk golongannya dan dia tidak akan mendatangi telaga (al-Haudh)..." As-Suluk al-Ijtima'i fi al-Islam, hlm. 108.

وَتَمَامُ الْعَدْلِ حِينَ يَكُونُ مَعَ الصَّدِيقِ وَالْعَدُوِّ، كَمَا عَلَّمَنَا الْقُرْآنُ

Menyempurnakan keadilan ketika bersama orang yang benar dan musuh seperti yang telah Al-Quran ajarkan kepada kita,

﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى...﴾ [المائدة: ۸]

"...Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..." (al-Maidah [5]: 8)

وَقَدْ فَقِهَ يَهُودُ أَنَّ هَذَا الْعَدْلَ بِهِ تَقُومُ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ

Salah satu satu suku Yahudi telah memahami bahwa dengan keadilan inilah langit dan bumi berdiri,

حِينَ جَاءَهُمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ مَبْعُوثًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ؛ لِتَقْدِيرِ مَحْصُولِهِمْ مِنَ الثِّمَارِ وَالزُّرُوعِ، وَتَقَاسُمِهَا حَسَبَ مَا تَمَّ الِاتِّفَاقُ عَلَيْهِ بَعْدَ فَتْحِ خَيْبَرَ

yaitu ketika mereka didatangi oleh Abdullah bin Rawahah sebagai utusan dari Rasulullah saw. untuk menarik pajak hasil perkebunan dan pertanian mereka sebagai realisasi kesepakatan dengan mereka setelah penaklukan Khaibar.

فَحَاوَلُوا رَشْوَةَ ابْنِ رَوَاحَةَ لِيَرْفُقَ بِهِمْ

Pada saat itu, mereka mencoba menyogok Abdullah bin Rawahah agar bersikap lemah lembut terhadap mereka. 

فَقَالَ لَهُمْ: (وَاللَّهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ أَحَبِّ الْخَلْقِ إِلَيَّ، وَلَأَنْتُمْ أَبْغَضُ إِلَيَّ مِنْ أَعْدَادِكُمْ مِنَ الْقِرَدَةِ وَالْخَنَازِيرِ، وَمَا يَحْمِلُنِي حُبِّي إِيَّاهُ وَبُغْضِي لَكُمْ عَلَى أَنْ لَا أَعْدِلَ فِيكُمْ. فَقَالُوا: بِهَذَا قَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ) (1)

Maka, dia berkata kepada mereka, "Demi Allah, aku telah diutus kepada kalian oleh makhluk yang paling aku cintai, dan kalian benar-benar orang-orang yang paling aku benci karena bilangan kalian dari monyet-monyet dan babi-babi. Namun kecintaanku kepada beliau dan kebencianku kepada kalian tidak akan menghalangiku untuk bertindak adil atas kalian." Maka mereka pün berkata, "Dengan inilah langit dan bumi berdiri." At-Tarbiyah al-Islamiyyah Turmudzi dan an-Nasa', dan dihasankan oleh al-Arnauth, Jami' al-Ushul, 4/75 nomor 2061.


خُلَاصَةُ هَذَا الْفَصْلِ وَعَنَاصِرُهُ

KESIMPULAN


اخْتِيَارُ الْهِجْرَةِ إِلَى الْحَبَشَةِ لِأَنَّهُ لَا يُظْلَمُ فِيهَا أَحَدٌ

Terpilihnya negeri Habasyah sebagai tempat untuk berhijrah karena rajanya tidak menzalimi siapa pun.

الْإِمَامُ الْعَادِلُ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُ وَيُظِلُّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّ عَرْشِهِ

Pemimpin yang adil doanya tidak tertolak dan Allah swt. akan menaunginya dalam naungan 'Arsy-Nya.

مِنْ أَعْلَى مَرَاتِبِ الْعَدْلِ أَنْ يَكُونَ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَى

Salah satu martabat keadilan tertinggi adalah berbuat adil di waktu marah dan senang.

يَنْصُرُ اللَّهُ الدَّوْلَةَ الْكَافِرَةَ الْعَادِلَةَ عَلَى ظَلَمَةِ الْمُسْلِمِينَ

Allah swt. akan memenangkan negeri kafir yang adil atas negeri mukmin yang zalim.

الظُّلْمُ مُسْتَقْبَحٌ حَتَّى مَعَ الْبَهَائِمِ

Kezaliman dipandang buruk meskipun terhadap hewan-hewan.

التَّحَلُّلُ مِنَ الْمَظْلُومِ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ يَوْمِ الْحِسَابِ

Meminta kehalalan dari orang yang dizalimi dilakukan di dunia sebelum hari perhitungan.

اللَّهُ يَسْتَدْرِجُ الظَّالِمِينَ فَإِذَا أَخَذَهُمْ لَمْ يُفْلِتْهُمْ

Allah swt. memberikan penangguhan orang-orang yang zalim dari jika Dia mengazab mereka Dia tidak akan melepaskan mereka.

كَثِيرٌ مِنَ الْأَدْعِيَةِ تَحْمِلُ النَّفْرَةَ مِنَ الظُّلْمِ

Banyak dari para dai yang membawa kezaliman.

إِذَا لَمْ يَجِدِ الظَّالِمُ مَنْ يَأْخُذُ عَلَى يَدَيْهِ تَمَادَى

Jika orang yang zalim tidak menemukan siapa yang mencelanya, maka dia akan terus melakukannya.

مِنَ الْعَدْلِ الْوُقُوفُ مَعَ صَاحِبِ الْحَقِّ وَإِنْ كَانَ وَضِيعًا

Termasuk keadilan, yaitu membela kebenaran meskipun menjadi terhina.

تَمَامُ الْعَدْلِ أَنْ يَكُونَ مَعَ الصَّدِيقِ وَالْعَدُوِّ

Sempurnanya keadilan adalah ketika diterapkan kepada orang kawan maupun lawan.

➖➖➖➖

 

📙📙📙 Sumber :

 هذه اخلاقنا حين نكون مؤمنين

The Most Perfect Habit

Mahmud Muhammad Al Hazandar

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Catatan Silahkan bila ada masukan atau kesalahan - tinggalkan di kolom komentar dalam rangka penyempurnaan.

Dipersilahkan - share